HASIL PENELITIAN
1) Cara Pemakaian
5.6 Aspek Auditif Dalam tari Saman
Bahagian bawah dalam busana Saman terdiri dari celana (seruel), kain sarung (Upuk Pawak). Seruel yang dipakai sepanjang mata kaki dari kain hitam yang diberi hiasan pada ujung bawah kakinya dengan bentuk tiang pada posisi bahagian tengah samping luar diberi motif Krawang Gayo.
d) Bahagian Asesoris
Asesoris juga diberikan untuk memperindah pemakaian busana Saman yang terdiri dari sapu tangan pumu yang diikatkan di pergelangan tangan sebelah kanan. Pumu terbuat dari kain merah yang dilipat segi tiga dengan ujung lipatan ke arah jari-jari tangan. Sapu tangan rongok terbuat dari kain berwarna merah yang dilipat segi tida dan diikatkan ke leher dengan ujung lipatan menghadap ke bawah.
Asesoris yang lain yaitu Sensip ketip atau cicin yang juga dijadikan hiasan memperindah busana yang terbuat dari perak atau kuningan.
5.6 Aspek Auditif Dalam tari Saman
Pertunjukan tari Saman menggunakan tubuh sebagai media ungkap atau disebut juga dengan muzik internal, tanpa menggunakan alat/instrument dalam iringannya. Tubuh sebagai media menjadi irama dalam mengiringi dengan bunyi yang dihasilkan dari tepukan tangan, tepukan dada yang dominan ditambah vocal atau nyanyian. Sebagai pengiring pada tari ini dipakai 2 materi iaitu:
1. Bunyi yang diciptakan oleh penari Saman dari tepukan tangan mereka di saat menari, penari Saman menciptakan sendiri bunyi-bunyian dari tepukan tangan dan badan mereka dengan pola ritma yang diawalai oleh séh Saman yang berada pada duduk no 9.
a. Bunyi dihasilkan oleh tepukan kedua belah tangan, bunyi tepukan tangan penari ini ada yang bertempo cepat dan ada yang bertempo sedang
b. Bunyi pukulan kedua tangan ke dada. Bunyi kedua telapak tangan kedada umumnya bertempo cepat
c. Bunyi tepukan sebelah telapak tangan ke dada. Bunyi ini pada umumnya bertempo sedang
d. Bunyi kertip atau memetik. Bunyi kertip ini adalah bunyi yang dihasilkan oleh gesekan ibu jari dengan jari tengah. Bunyi ini selalu bertempo sedang.
54
Bunyi-bunyian tersebut di atas mulai ditampilkan pada tahap kedua, iaitu pada tahap uluni lagu sampai dengan tahap ke empat, iaitu tahap penutup secara berselang seling.
5.6.1 Vokal.
Vocal dibawakan oleh penari yang dimulai oleh sék sebagai pemimpin dalam tarian, kemudian diikuti penari lainnya sebagai chorus. Nyanyian11 sebagai pengiring tari Saman terbagi dalam 5 cara menyanyikan iaitu: rengum12, Dering,
Redet, Seh, dan Saur. Dari kelima cara menyanyikan ini, hanya rengum yang
dinyanyikan secara tetap. Untuk keempat cara lagi dinyanyikan dengan cara berbeza baik syair mahupun iramanya, bisa dinyanyikan berubah-ubah sesuai dengan séh dalam membawakan awal lagu. Adakalanya lagu dan syair diciptakan pada saat acara berlangsung secara spontanitas oleh pengangkat, terutama pada pertunjukan Saman jalu.
Cara menyanyikan syair dalam tari Saman terbagi dalam 5 teknik, iaitu :
1. Rengeum, iaitu auman yang diawali oleh pengangkat. Suara yang dihasilkan
dalam bentuk mengeluarkan suara dengan mulut tertutup (bergumam) yang diawakan secara bersama-sama. Gumaman merupakan aba-aba untuk memusatkan pikiran atau konsentrasi untuk dimulainya tarian. Rengum dibawakan berkali-kali sesuai dengan kesepakatan awal dalam kumpulan. gumaman yang dibawakan, iaitu “mmmm....mmmm”.
2. Dering, iaitu regman (bunyi) yang segera diikuti oleh semua penari. Dering
dinyanyikan setelah rengum, berisi kalimat penghayatan yang berhubungan dengan ketauhidan sebagai penyerahan diri pada sang khalik. Kata-kata dalam dering boleh berbeza, salah satu contoh iaitu:
11 Nyanyian yang dibawakan oleh seseorang atau beberapa orang berirama khas Gayo Lues disebut dengan jangin. Namun ada juga yang mengatakan jangin dalam Saman merupakan nyanyian tersendiri dalam tarian, kerana ekspresi Saman dalam menyampaikan perasaan. Janing dalam Saman disebut dengan Sék, redet, dan saur. Isi dari jangin ini biasanya berupa nasihat agama dan adat, pendidikan, dengan syair yang bertemakan kisah kasih muda mudi, dan lainnya.
12 Rengum dilakukan pada pembukaan atau mukadimah dalam tari Saman setelah keketer berpidato pembukaan). Rengum adalah tiruan bunyi, yang dibawakan oleh seh Saman dalam satu syair kalimat, kemudian disambung langsung oleh penari lainnya secara bersamaan dengan syair berikutnya.
55
“laila alla ahu, lahoya sarééé hala lemhalaha lahoya hélé Lem héhélé, le enyan enyan ho lean laho”
3. Redet, iaitu lagu singkat dengan suara pendek yang dinyanyikan oleh seorang
penari pada bahagian tengah tari. Redet merupakan nyanyian solo dan merupakan tanggungjawab pimpinan tarian (penangkat). Namun adakalanya redet sering diwakilkan kepada penari yang memiliki suara yang bagus, merdu, dan juga mampu menciptakan syair atau pantun secara improvisasi.
Untuk mengiringi gerakan, penangkat membawakan syair yang kemudian diikuti oleh penari lainnya, sementara apabila penangkat membawakan syair lain, namun penari (saur) tetap membawakan syair yang pertama.
4. Sek, iaitu lagu yang dinyanyikan oleh seorang penari dengan suara panjang,
tinggi, dan melengking, berirama khas Gayo Lues. Sék dalam Saman mempunyai dua fungsi, pertama bahagian yang tidak terpisahkan dari tarian berupa lagu. Kedua sék berfungsi sebahagai aba-aba atau perintah kepada semua penari, biasanya digunakan sebagai tanda perubahan gerak.
5. Saur, iaitu lagu yang diulang bersama oleh seluruh penari setelah dinyanyikan
oleh penari solo (pengangkat). Saur dinyanyikan untuk meningkatkan konsentrasi pemain agar tidak lupa dengan gerakan dan irama dalam tarian. Selain itu saur juga dapat memeriahkan persembahan.
5.6.2 Syair
Syair menjadi penting dalam pertunjukan Saman, Syair dalam tarian Saman menjadi hal yang harus ada, kerana syair menjadi inti cerita yang di visualisai ke dalam bentuk gerak. Pada awalnya Syair yang dibawakan berisi ajaran-ajaran tentang Islam, untuk membawa manusia percaya pada sang khalik. Menggunakan bahasa daerah (Gayo) bercampur dengan bahasa Arab, dan menggunakan puisi tradisional Gayo. Syair dalam Saman bentuknya tidak teratur yang ertinya bersajak bebas, sesuai dengan kemampuan séh dalam menciptakan syair-syair baik yang sudah ada mahupun secara spontan. Melalui syair terjadi komunikasi antara seniman dengan penonton dengan berbagai interpretasi terhadap pertunjukan.
Syair-syair ini kemudian dinyanyikan oleh séh yang kemudian diikuti oleh penari lainnya secara chorus. Pada awal tarian, syair hanya berupa gumaman seperti mmm…….mmm…yang kemudian dilanjutkan dengan ucapan laillaha..illahu…
56
Syair yang dinyanyikan membuat para penari semakin bersemangat dalam mengungkapkan pesan yang mau disampaikan melalui gerak, dan membuat tari Saman semakin harmonis dan dinamis.
Syair dalam Saman Gayo sebagai sebuah komunikasi dalam pertunjukan memiliki 1) lirik atau teks lagu-lagu Saman Gayo yang memiliki cirri-ciri khusus dibandingkan komunikasi verbal dengan bahasa seharian, 2) adanya interaksi atau kata-kata seru untuk memperkuat suasana pertunjukan, 3) kata-kata pengantar dalam setiap pertunjukan, dengan menggunakan berbagai gaya bahasa (metafora, aliterasi, perulangan, hiperbola, repetisi, dan lain sebagainya).
Komunikasi lisan ini menjadi daya tarik sendiri bagi penonton, lewat tema-tema yang disampaikan berdasarkan pola-pola budaya Gayo yang sudah hidup berabad lamanya, kemudian distilisasi untuk menambah unsur estetika pertunjukan. Akhirnya tari Saman Gayo menjadi sebuah tontonan yang menghibur sekaligus media dakwah dalam mengajarkan ajaran dalam Islam sebahagai penghayatan terhadap kalimat tauhid dan sebagai pembawa pesan dalam menyampaikan informasi-informasi yang ditujukan. Seperti contoh di bawah ini:
Kadang bedosapé kite ken Tuhen, néngon perbueten iwasni ingi ini Ike gere becaya ko kén Tuhen, rui wasni uten sahan keta nejeme I akherat kahé dedete reman kerna tukang saman atasni denie I denie enti ko jengkat, i akhérat kona sikse
Artinya:
Mungkin berdosa kita kepada tuhan, melihat tingkah laku pada malam ini Kalau kamu tidak percaya kepada tuhan, duri di hutan siapa yang menajamnya
Di akhirat nanti dada kita lebam, kerana bermain saman di dunia Di dunia kamu jangan sombong di akhirat kena siksa
Syair yang dinyanyikan dalam saman tidak hanya untuk komunikasi pada Tuhan dalam menjalani kehidupan, tetapi juga berisi pesan-pesan lainnya seperti pesan pembangunan, nasihat yang mudah dipahami dan dilaksanakan. Contoh pesan dalam syair nyanyian.