• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3. Aspek Finansial Kelayakan Usaha

Analisa aspek finansial kelayakan usaha digunakan untuk menganalisis kelayakan suatu proyek usaha dari segi keuangan. Kelayakan tersebut dapat dilihat dari kriteria penilaian kelayakan investasi yang meliputi NPV, Net B/C, IRR, PBP dan BEP. Untuk dapat menguji kriteria itu PT CTN perlu mengetahui arus kas untuk mengetahui besarnya biaya dan manfaat yang akan diterima selama batasan umur usaha. Arus kas dapat diketahui setelah perincian kebutuhan biaya dan rencana pendanaan telah ditetapkan.

4.3.1 Penetapan Asumsi

PT CTN menetapkan asumsi sebagai dasar perhitungan biaya dalam analisa finansial berikut :

a. Batasan umur usaha yang ditetapkan adalah 10 tahun, atau didasarkan pada usia bangunan, yang merupakan biaya investasi terbesar setelah tanah

b. Biaya-biaya operasional yang dikeluarkan akan ditetapkan sesuai dengan informasi yang didapatkan dari pihak calon pemasok dan perkiraan kondisi ketika usaha berjalan.

c. Biaya investasi awal adalah biaya yang diperlukan untuk membeli peralatan, perlengkapan, asset tetap dan biaya lain yang dikeluarkan selama proses pra operasi untuk mendukung dilaksanakannya proses produksi. Total biaya investasi Rp. 1.331.600.000. Keseluruhan rincian biaya investasi, reinvestasi dan penyusutan dapat dilihat pada Lampiran 3.

d. Biaya operasional merupakan keseluruhan biaya tetap dan variabel yang merupakan modal kerja untuk melakukan poses produksi. Rincian biaya opersional dapat dilihat pada Lampiran 4.

e. Beberapa asumsi yang digunakan dalam penyusunan kebutuhan modal kerja adalah :

1) Kebutuhan tenaga kerja sebanyak 26 orang sesuai Tabel 5. dianggap tetap, tanpa adanya kenaikan jumlah karyawan dengan kenaikan gaji tenaga kerja per tahun 10% dimulai pada tahun ke- 2.

2) Biaya gaji tenaga kerja tahun pertama Rp. 784.800.000. Rincian biaya gaji terdapat pada Lampiran 5.

3) Penyusutan gedung, fasilitas dan peralatan dihitung dengan metode garis lurus berdasarkan nilai ekonomis sesuai golongan harta.

4) Biaya pemeliharaan per tahun ditetapkan 10% dari nilai alat. 5) Biaya tahunan anggota barcode disesuaikan dengan kondisi pada

awal pendaftaran, yaitu USD. 125 atau setara Rp.1.250.000 dengan kurs acuan Rp. 10.000.

6) Biaya promosi dan pemasaran ditetapkan sama dari tahun pertama hingga tahun ke-10 sebesar Rp. 1.000.000.000 per tahun.

7) Kebutuhan bahan baku didasarkan pada perhitungan produksi 35% untuk tahun pertama, 40% untuk tahun ke-2 dan ke-3, 45% tahun ke-4, 55% tahun kel-5, 60% tahun ke-6, 65% tahun ke-7, 75% tahun ke-8, 85% tahun ke-9 dan 100% tahun ke-10.

8) Biaya listrik per bulan Rp. 3.000.000 dengan pertimbangan kenaikan 5% per tahun dimulai pada tahun ke-2.

9) Biaya transportasi per bulan Rp.5.000.000, dengan pertimbangan kenaikan 10% per tahun dimulai pada tahun ke-2.

10) Biaya telepon per bulan Rp. 3.000.000, dengan pertimbangan kenaikan 5% per tahun dimulai pada tahun ke-2.

f. Total kebutuhan modal merupakan keseluruhan biaya yang diperlukan untuk tahun pertama perusahaan melakukan proses produksi, yaitu

biaya pembelian aset, biaya pra operasional, dan modal kerja tahun pertama. Rencana pendanaan terhadap kebutuhan modal diperoleh dari modal disetor pemegang saham 30% dan kredit usaha industri dari bank 70%. Rincian rencana pendanaan terdapat pada Tabel 6.

Tabel 6. Rincian Kebutuhan Modal

No Deskripsi Jumlah (Rp) Modal Pribadi (Rp) Modal Pinjaman (Rp) A Aset Tetap 1. Lahan 200.000.000,00 60.000.000,00 140.000.000,00 2. Bangunan 317.500.000,00 95.250000,00 222.250.000,00 3. Peralatan 235.600.000,00 70.680.000,00 164.920.000,00 4. Fasilitas 48.500.000,00 14.550.000,00 33.950.000,00 5. Kendaraan 350.000000,00 105.000.000,00 245.000.000,00 Sub Total (A) 1.151.600.000,00 345.480.000,00 806.120.000,00

B Pengeluaran Pra Operasi (B) 180.000.000,00 54.000.000,00 126.000.000,00 C Modal Kerja 1. Biaya Tetap 1.647.585.000,00 494.275.500,00 1.153.309.500,00 2. Biaya Variabel 5.341.411.500,00 1.602.423.450,00 3.738.988.050,00 Sub Total (C) 6.988.996.500,00 2.096.698.950,00 4.892.297.550,00 Total (A+B+C) 8.320.596.500,00 2.496.178.950,00 5.824.417.550,00 Presentase (%) 100 30 70

g. Discount rate ditetapkan 14,5% berdasarkan bunga pinjaman yang diperoleh dari bank.

h. Harga jual produk ditetapkan berdasarkan perhitungan harga pokok produksi pada kondisi maksimum produksi tahun ke sepuluh, dengan tingkat margin diharapkan 15% dengan pertimbangan kenaikan harga 5% pertahun.

i. Tingkat penjualan didapatkan dari hasil perkalian jumlah produk yang diproduksi dengan harga yang akan ditetapkan. Proyeksi tingkat penjualan tahun pertama hingga kesepuluh terdapat pada Lampiran 6.

j. Besarnya pajak yang ditanggung perusahaan sesuai dengan ketentuan UU no 17 tahun 2000 tentang tarif umum pajak penghasilan untuk wajib pajak dalam negeri dan usaha tetap, yaitu :

1) Penghasilan ≤ Rp.50.000.000 tarif pajak 10%

2) Penghasilan Rp. 50.000.000 – Rp.100.000.000 tarif pajak 15% 3) Penghasilan ≥ Rp. 100.000.000 tarif pajak 30%

4.3.2 Aliran kas

Aliran kas merupakan perbandingan jumlah kas masuk (inflow) dan kas dikeluarkan (outflow). Aliran kas disusun untuk menunjukkan perubahan kas selama satu periode tertentu serta memberikan alasan mengenai perubahan kas tersebut dengan menunjukkan dari mana sumber- sumber kas dan penggunaannya. Aliran kas masuk dimulai dari tahun ke- 0, yaitu tahun sebelum dimulainya kegiatan produksi. Pada tahun ke-0 Jumlah kas masuk bersumber dari modal sendiri Rp. 2.496.178.950,00 dan modal pinjaman dari bank Rp. 5.824.417.550,00. Aliran kas masuk tahun

ke-2 dan seterusnya bersumber dari proyeksi pendapatan hasil penjualan produk sedangkan untuk tahun ke-10 nilai kas masuk ditambah dengan nilai sisa dari harta yang dimiliki.

Pada tahun pertama penjualan ditetapkan 35% dari target produksi maksimum, yaitu 4.287.825 sachet. Hal itu dikarenakan produk garam bumbu rendah sodium merupakan produk baru dengan kalangan konsumen tertentu sehingga diperkirakan memerlukan waktu pengenalan lebih lama. Pada tahun ketiga sampai kesepuluh jumlah produksi akan naik antara 5-10% setiap tahunnya. Dengan mempertimbangkan kemungkinan kenaikan harga jual 5% per tahun, maka aliran kas masuk dapat dirincikan seperti Tabel 7.

Tabel 7. Perkiraan jumlah penjualan dan pendapatan

Arus kas keluar pada tahun ke-0 berupa total biaya investasi Rp. 1.331.600.000,00. pada tahun ke-2 hingga ke-10 aliran kas keluar adalah gabungan dari cicilan bunga dan pokok pinjaman bank serta total biaya operasi tahun berjalan. PT CTN diperkirakan mengalami arus kas negatif pada tahun pertama hingga ketiga. Hal itu dikarenakan pada tahun tersebut biaya tetap masih tinggi untuk ditopang dari hasil penjualan produk sebanyak 40% dari target produksi optimum. Meski demikian, secara keseluruhan mulai tahun ke-1 hingga tahun ke-10 PT CTN memiliki arus kas positif kumulatif Rp. 25.136.502.888,86 Perhitungan aliran kas analisis kelayakan usaha garam bumbu rendah sodium terdapat pada Lampiran 7.

4.3.3 Pengujian kelayakan investasi

Berdasarkan data yang didapatkan dari perkiraan arus kas, dapat ditentukan nilai kelayakan investasi meliputi NPV, Net B/C,IRR, PBP dan BEP. Hasil analisa menunjukkan bahwa nilai NPV usaha garam bumbu rendah sodium dalam kemasan sachet lebih > 0, Rp. 6.768.697.444,00. Hal

Tahun ke

Jumlah penjualan

(sachet)

Harga / unit (Rp) Total pendapatan (Rp) 1 4.287.825 1.603 6.872.673.348 2 4.900.371 1.683 8.247.208.018 3 4.900.371 1.767 8.659.568.419 4 5.512.918 1.855 10.229.115.195 5 6.738.011 1.948 13.127.364.500 6 7.350.557 2.046 15.036.799.337 7 7.963.104 2.148 17.104.359.245 8 9.188.196 2.255 20.722.589.086 9 10.413.289 2.368 24.659.881.012 10 12.250.929 2.487 30.462.205.956 Total penerimaan selama 10 tahun 155.121.764.117

ini menunjukkan bahwa usaha yang akan dijalankan PT CTN memberikan manfaat bersih Rp. 6.768.697.444,00 selama masa usaha 10 tahun, dengan kapasitas maksimum 12.250.929 sachet.

Nilai IRR didapatkan pada tingkat 43,75%, menunjukkan bahwa IRR lebih besar dari discount factor (DF) yang berlaku (14,5%). Nilai itu menceminkan tingkat pengembalian yang mampu diberikan usaha dari modal yang telah diinvestasikan, berarti usaha yang dijalankan akan mendatangkan keuntungan. Umar (2007) menyatakan bahwa jika IRR yang didapat lebih besar dari DF yang ditentukan, maka investasi dapat diterima.

Net B/C diperoleh 4,11, berarti setiap Rp. 1 biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan manfaat bersih Rp. 4,11. Hal ini juga menunjukkan bahwa pendapatan bersih yang diperoleh adalah 4,11 dari biaya. Dengan Nilai Net B/C yang > 1 menunjukkan bahwa usaha produksi garam bumbu rendah sodium layak untuk dilaksanakan.

Perhitungan terhadap nilai PBP memperoleh hasil 6,25 tahun yang menunjukkan bahwa usaha yang akan dijalankan mampu mengembalikan nilai investasi sebelum umur usaha berakhir, yaitu dalam masa 6 tahun 3 bulan. Dari keseluruhan analisa kelayakan investasi menunjukkan bahwa usaha produksi garam bumbu rendah sodium layak untuk dilaksanakan. Hasil analisa kelayakan investasi dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Hasil Kelayakan Investasi

BEP menunjukkan nilai dan kapasitas minimum yang harus dicapai untuk mencapai titik impas berdasarkan biaya variabel. Pada tahun pertama hasil perhitungan BEP didapatkan pada angka produksi 4.613.551,99 sachet/tahun. Dengan demikian, rencana kapasitas produksi

Kriteria kelayakan investasi Jumlah

NPV Rp. 6.768.697.444,00

IRR 43,75%

Net B/C 4,11

tahun pertama 4.287.285 sachet/tahun belum dapat memenuhi titik impas yang diharapkan. BEP dapat dicapai mulai tahun ke-2, dimana kapasitas produksi mencapai 4.900.371,43 sachet/tahun lebih besar dari jumlah sachet yang seharusnya diproduksi pada titik impas yaitu 3.803.746,93 sachet. Perhitungan BEP dari tahun ke tahun terlihat pada Lampiran 8.

4.3.4 Analisa nilai pengganti (switching value)

Analisis nilai pengganti (switching value) digunakan untuk mengetahui seberapa besar perubahan maksimal pada biaya variabel dan penerimaan penjualan yang masih dapat ditolerir, sehingga usaha masih dapat dilaksanakan. Switching value ditentukan dengan melakukan simulasi terhadap parameter biaya input ataupun output hingga menghasilkan keuntungan normal, yaitu NPV=0, IRR mendekati atau sama dengan tingkat suku bunga dan Net B/C =1.

Dalam usaha produksi garam bumbu rendah sodium harga bahan baku merupakan faktor utama yang mempengaruhi output biaya variabel, hal itu dikarenakan bahan baku yang digunakan sebagian besar merupakan bahan baku impor yang sangat rentan dengan kenaikan harga. Penurunan volume penjualan atau tidak tercapainya target penjualan sebagai bagian dari faktor input merupakan peubah yang sangat penting mengingat garam bumbu rendah sodium merupakan produk baru yang belum dikenal masyarakat dan memerlukan waktu pengenalan lebih lama. Hasil simulasi analisis switching value dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Hasil analisis switching value

Berdasarkan hasil analisa switching value menunjukkan bahwa perusahaan masih mampu beroperasi pada kondisi mendekati keuntungan normal dengan kenaikan harga bahan baku maksimal 35,67%. Hal itu ditunjukkan dengan aliran kas perusahaan masih mampu menghasilkan

Uraian Switching value

Kenaikan harga bahan baku Naik maksimal hingga 35,67 % Penurunan volume penjualan Turun maksimal hingga 12,66%

nilai Net B/C = 1, NPV bernilai positif (Rp. 2.115.636,79) dan IRR (14,51%) mendekati tingkat DF (14,5%).

Pada peubah penurunan volume penjualan menunjukkan bahwa tingkat penurunan penjualan yang masih dapat diterima perusahaan untuk beroperasi pada keuntungan normal adalah 12,66%. Pada tingkat penurunan itu, perusahaan masih memiliki nilai NPV bernilai positif Rp. 3.214.598,41, nilai Net B/C = 1, dan IRR = 14,51% mendekati DF (14,5%).

Usaha produksi garam bumbu rendah sodium PT CTN menjadi tidak layak untuk beroperasi pada tingkat kenaikan bahan baku melebihi 35,67% dan penurunan volume penjualan melebihi 12,66%, yang ditunjukkan dengan nilai NPV yang bernilai negatif. Rincian perhitungan arus kas dengan adanya switching value dapat dilihat pada Lampiran 9-10.

Dokumen terkait