• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.1 Higiene Sanitasi Pekerja Peternakan

Ketiga peternakan yang diamati belum menerapkan higiene pekerja dan tidak memiliki peraturan terkait higiene personal. Pekerja kandang biasanya adalah penduduk sekitar dan kurang memiliki pengetahuan tentang higiene-sanitasi dan biosekuriti peternakan. Perilaku bersih pekerja tidak diterapkan saat berkontak dengan ayam. Belum adanya pengawas di depan pintu masuk menyebabkan status kesehatan serta pakaian pekerja tidak teramati.

Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pemilik aupun pekerja peternakan sehubungan dengan penerapan higiene sanitasi adalah:

1. Tidak diperbolehkan mempunyai/merawat unggas lain, babi, lembu/sapi, segala sesuatu hewan yang berbulu, dan juga segala hewan yang bisa menimbulkan bahaya yang sama (bahaya terhadap ayam ternak).

2. Hal yang sama berlaku untuk seluruh anggota keluarga di rumah tersebut. 3. Tidak boleh memiliki burung sebagai hewan peliharaan.

4. Tidak boleh melakukan aktivitas yang menyertakan unggas, babi, atau spesies sejenis tanpa pernyataan tertulis.

5. Melakukan pencegahan khusus setelah melakukan berbagai kemungkinan kontak dengan semua spesies yang dimaksud (EF 2003).

Menurut Soeroso (komunikasi pribadi, 14 Juli 2007), hal-hal yang perlu diperhatikan oleh setiap pekerja dan manajer dalam peternakan:

1. Hanya pekerja yang sehat yang bisa memasuki area peternakan, dan kesehatan pekerja harus diperiksa secara rutin minimum 1 tahun sekali 2. Setiap pekerja memakai pakaian kerja dan sepatu bot yang bersih, dan

sepatu bot harus kerap didisinfeksi sebelum dan setelah masuk kandang 3. Perhiasan seperti cincin, gelang, kalung, jam tangan harus dilepas dan

disimpan dengan baik (misalnya di locker pribadi)

4. Disinfeksi terhadap seluruh tubuh (fogging) dengan disinfektan yang tidak berbahaya (mengiritasi) tubuh.

Setelah memasuki peternakan, pekerja diharuskan menjaga kebersihan diri, misalnya dengan senantiasa mencuci tangan sebelum dan setelah melakukan pekerjaan (Stanton 2004).

2.2 Higiene Sanitasi Pengunjung/Tamu

Ketiga peternakan yang diamati kurang melakukan penerapan higiene sanitasi terhadap pengunjung. Peternakan A melakukan prosedur ini hanya dengan merendam sepatu bot yang digunakan tamu, selebihnya tidak ada prosedur lanjut. Peternakan B dan C yang tidak memiliki fasilitas sanitasi sehingga tidak menerapkan prosedur higiene sanitasi terhadap pengunjung.

Dalam suatu peternakan, dikenal ada tiga area, area kotor, area “buffer”, dan area bersih. Area kotor merupakan area yang masih bisa ditemukan mikroorganisme dan bahan-bahan pengotor lainnya. Pada area kotor ini digunakan untuk segala tindakan pencegahan terhadap segala aspek yang berbahaya sebelum memasuki area buffer. Area buffer adalah area peralihan antara area kotor dengan area bersih. Area buffer dibersihkan jika dibutuhkan, namun paling tidak dua tahun sekali (EF 2003). Area bersih adalah area yang bebas dari segala bahan-bahan pengotor dan mikroorganisme. Pada area bersih inilah letak dari kandang ayam layer sehingga kandang akan terbebas dari segala mikroorganisme dan bahan pengotor yang bisa menyebabkan ayam-ayam sakit (Soeroso AW 14 Juli 2007).

Antara area buffer dan area bersih harus ada batas higienis (hygiene lock) yang berfungsi sebagai batas kotor dan bersih yang jelas bahwa area bersih haruslah benar-benar bebas dari segala mikroorganisme yang membahayakan ayam di kandang tersebut. Antara batas area kotor dan area buffer terdapat fasilitas untuk datangnya pakan (truk pakan dari luar hanya boleh masuk sampai di sini), penyimpanan ayam yang mati (untuk segera diperiksa), disinfeksi untuk segala peralatan yang datang, ganti baju dan mandi (sebelum memasuki daerah bersih), sanitasi dan penyimpanan telur (EF 2003).

Ada beberapa hal yang harus diterapkan terhadap pengunjung ketika akan memasuki suatu peternakan (EF 2003), yaitu:

1. Pengunjung hanya boleh masuk sampai ke area yang dianggap bersih bagi kesehatan ayam kandang (tidak boleh sampai masuk ke dalam area kandang).

2. Ahli-ahli dalam industri unggas dianggap dan diperlakukan sebagai salah satu faktor bahaya yang paling besar sehubungan kemungkinan membawa mikroorganisme ke dalam kandang sehat atau area bersih lainnya, dan harus memenuhi beberapa ketentuan jika akan memasuki area peternakan:

• Terutama harus menjadi kunjungan pertama dalam minggu tersebut (misalnya Senin pagi).

• Dua hari sebelum kedatangan, jangan melakukan kegiatan yang status higienenya tidak diketahui.

• Jangan memelihara hewan yang dapat berbahaya bagi kesehatan ayam ternak.

Pengunjung yang datang ke area peternakan dapat digolongkan menjadi tiga kelompok, yaitu:

1. Kelompok pengunjung umum, berasal dari area urban (low risk visitor). Kelompok ini tidak pernah berhubungan dengan hewan ternak lainnya, sehingga kemungkinan terpapar oleh mikroorganisme yang berbahaya bagi ternak juga sangat kecil.

2. Kelompok pengunjung bahaya sedang (moderate risk visitor). Biasanya orang-orang ini rutin mengunjungi peternakan tersebut, namun tidak sampai masuk ke area kandang sehingga tidak terlalu membahayakan bagi

ternak. Misalnya: sales, pengantar pakan dan bahan bakar, dan tukang-tukang.

3. Kelompok pengunjung bahaya tinggi (high risk visitor) adalah orang-orang yang biasanya mengunjungi banyak peternakan dan biasanya berhubungan langsung (close contact) dengan populasi ayam dari peternakan yang berbeda. Orang-orang ini harus diberi perhatian khusus sebelum masuk dengan cara seperti yang telah dipaparkan di atas. Contoh orang-orang kategori ini adalah dokter hewan, konsultan peternakan, dan pemilik peternakan lainnya (Shulaw dan Bowman 2001).

2.3 Sanitasi Kandang

Penerapan sanitasi kandang yang dilakukan pada ketiga peternakan adalah mengosongkan kandang dari ayam periode sebelumnya, lalu membersihkannya dari segala jenis kotoran yang berasal dari periode sebelumnya (misalnya: feses, bulu-bulu ayam, debu). Selanjutnya, kandang diberi insektisida untuk membasmi kutu-kutu kandang, didisinfeksi menggunakan sprayer, kemudian mengapur alas kandang. Untuk DOC, alas kandang brooder ditaburi sekam. Alat-alat kandang (tempat pakan, tempat minum, dan sebagainya) didisinfeksi.

Pada peternakan A, alas brooder setelah ditaburi sekam diberi anti-koksidia (bahan aktif: cresylic acid, o-phenylphenol, o-benzyl-p chlorophenol,

tributylin neodecanoate). Sedangkan, peternakan B dan C tidak melakukan.

Ketiga peternakan tidak menerapkan program kebersihan lingkungan sekitar kandang secara teratur.

Menurut Jeffrey (1997) prosedur penerapan sanitasi kandang yang baik memiliki beberapa tahapan, yaitu:

1. Mengosongkan kandang dari ayam periode sebelumnya

2. Membersihkan kandang dari segala jenis kotoran yang berasal dari periode sebelumnya (misalnya: feses, bulu-bulu ayam, debu, dsb.). Hal ini menjadi sangat penting karena kotoran dari periode sebelumnya banyak mengandung mikroorganisme dan akan sangat rentan terpapar ayam yang baru masuk, apalagi ayam tersebut masih DOC yang imunitasnya rendah.

3. Segera setelah kandang bersih sepenuhnya dari kotoran, dilakukan pembasmian kutu-kutu kandang dengan insektisida, perendaman dengan disinfektan, kemudian dilakukan pengapuran.

4. Untuk DOC, kandang berupa brooder, alas ditaburi sekam/serutan kayu (litter). Setelah ditaburi didisinfeksi dengan antikoksidia.

5. Disinfeksi juga dilakukan terhadap alat-alat kandang (tempat pakan, tempat minum, dan sebagainya).

6. Layar penutup juga dilakukan disinfeksi (mencegah kotoran dari lalat/hama yang hinggap pada layar).

7. Terakhir jaga kebersihan lingkungan sekitar kandang dengan melakukan penyemprotan disinfektan secara berkala.

Prinsip all-in all-out harus diperhatikan. Maksudnya adalah satu kandang hanya untuk satu jenis umur, tidak boleh dicampur-campur dengan berbagai umur lainnya. Seperti diketahui bahwa umur ayam yang masih muda dan yang sangat tua sangat rentan terkena penyakit. Oleh karena itu, jika seorang pekerja akan masuk ke dalam suatu kandang, diwajibkan dari umur yang termuda menuju umur yang lebih tua (McGuire dan Scheideler 2005).

2.4 Gudang Penyimpanan Telur

Pada ketiga peternakan yang diamati, kondisi higiene sanitasi gudang penyimpanan telur yang kurang memadai. Lantai terbuat dari semen yang tidak halus. Dinding semen yang tidak dicat. Pertemuan dinding dengan lantai membentuk sudut siku-siku. Tidak terdapat langit-langit (kecuali peternakan B). Ventilasi udara kurang baik, suhu dalam ruang 20°C-27°C dengan kelembaban yang tinggi. Cahaya kurang memadai. Peti telur langsung diletakkan di atas lantai tanpa menggunakan palet. Fasilitas sanitasi pekerja tidak ada. Pada ketiga peternakan ini, tidak dilakukan program pembersihan dan desinfeki gudang secara rutin.

Menurut PCFS (1999), gudang telur yang baik memiliki beberapa kriteria, seperti: lantai dan dinding terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan dan didisinfeksi, pertemuan dinding dengan lantai cekung sehingga memudahkan pembersihan, adanya langit-langit yang terbuat dari bahan yang tidak mengelupas,

ventilasi yang baik untuk menjaga aliran udara di dalam ruang yang baik, serta penerangan yang memadai (minimum 220 luks). Kelembaban gudang telur perlu dijaga tidak lebih dari 70-80%. Suhu sebaiknya dijaga antara 12°C-15°C (Sudaryani 2003).

Tersedia pula fasilitas cuci tangan dan sanitasi dalam gudang. Peti telur diletakkan di atas palet untuk menjaga aliran udara yang baik pada telur. Penerapan program kebersihan dan disinfeksi secara rutin yang terus diawasi oleh pengawas (Shulaw dan Bowman 2001). Pada gudang penyimpanan telur, praktek higiene sanitasi harus diterapkan dengan baik dan konsisten (Soeroso, komunikasi pribadi, 14 Juli 2007).

2.5 Gudang Pakan

Gudang pakan pada ketiga peternakan yang diamati memiliki kondisi yang hampir sama dengan gudang telur. Struktur bangunan dan fasilitas tidak memenuhi persyaratan higiene sanitasi, serta tidak adanya program penerapan kebersihan dan disinfeksi secara rutin.

Hal utama yang perlu diperhatikan pada gudang pakan adalah suhu (12°C -15°C) dan kelembaban (tidak boleh lebih dari 40%). Hal ini untuk mengendalikan pertumbuhan kapang. Pembelian pakan dari pabrik harus memperhatikan program quality assurance (QA) dari pabrik pakan tersebut agar menjaga standar kualitas pakan (Grimes 2001). Pakan yang tercecer di atas lantai tidak boleh digunakan, sebaiknya dikumpulkan dan dibuang.

Menurut Soeroso (komunikasi pribadi, 14 Juli 2007) proses yang paling baik adalah dengan membawa truk pakan peternakan sendiri yang telah didisinfeksi sebelumnya untuk mengambil pakan dari pabrik. Kemudian sebelum masuk area peternakan, roda truk dicelup (dipping) terlebih dahulu dan diisolasikan untuk difumigasi. Truk tidak boleh sampai masuk ke area kandang. Pakan diturunkan ketika berada di ruang isolasi untuk mencegah kontaminan dari truk pakan menyebar ke daerah peternakan. Kemudian dengan truk khusus pakan (tidak boleh keluar dari area peternakan), pakan diangkut dan ditempatkan di gudang pakan.

Untuk penanganan pakan yang tercecer, sebaiknya pakan dikumpulkan lalu dibuang dan tidak dipakai lagi. Meskipun peternak/pekerja ternak sudah melakukan pembersihan dengan disinfeksi terhadap lantai gudang, tidak menutup kemungkinan masih banyaknya mikroorganisme yang dapat mencemari ceceran pakan tersebut. Selain itu, ceceran pakan yang tidak segera dibersihkan dan dibuang akan mengundang datangnya lalat dan tikus.

2.6 Higiene PenangananTelur

Pada ketiga peternakan yang diamati, tidak tampak adanya prosedur higiene penanganan telur yang ditetapkan oleh peternakan. Pada ketiga peternakan, telur yang retak dan telur yang kotor dicampur dengan telur yang bersih dan baik dalam satu tempat.

Menurut PCFS (1999), sebaiknya saat pengumpulan telur di kandang, telur yang utuh dan baik dikumpulkan dengan menggunakan baki telur plastik yang dipisahkan dengan telur yang retak/kotor. Hal ini dilakukan untuk mencegah telur baik terkontaminasi agen patogen yang mungkin terdapat pada telur kotor/retak perlakuan untuk telur yang kotor adalah dengan cara dilap, tanpa dicuci terlebih dahulu. Hal ini dilakukan agar telur tersebut bersih tanpa menghilangkan lapisan kutikulanya. Kutikula adalah lapisan lilin yang menyelimuti cangkang luar telur yang berfungsi mencegah mikroorganisme patogen menembus pori-pori telur.

Pada gudang telur, telur disimpan pada egg tray terbuat dari plastik yang telah dibersihkan dan didisinfeksi, atau jika tidak ada, telur dapat diletakkan di dalam peti kayu baru dengan sekam yang telah didisinfeksi, terpisah dengan telur yang retak/rusak. Telur yang retak harus segera digunakan. Egg tray atau peti telur diletakkan di atas palet plastik (setinggi minimum 15 cm dari permukaan lantai) yang ditujukan untuk memberi aliran udara yang baik. Menurut Sudaryani (2003), telur boleh disimpan dalam gudang tidak lebih dari dua minggu.

Telur yang telah disimpan pada egg tray atau peti telur didistribusikan menggunakan kendaraan boks tertutup untuk mencegah cemaran lebih lanjut selama transportasi.

2.7 Sanitasi Peternakan

Ketiga peternakan ini menggunakan air tanah sebagai sarana sumber air bersih. Peternakan A, B, dan C menggunakan klorin (2 ppm) untuk perlakuan air minum untuk ayam. Namun, hal ini tidak ditunjang dengan pengujian di laboratorium. Pada ketiga peternakan tersedia pula penampungan sementara untuk feses dan sampah, yang secara berkala sampah dan feses tersebut diangkut.

Menurut Smith (2000), air yang digunakan untuk minum untuk manusia dan ayam, serta membersihkan peralatan dan kandang harus memenuhi persyaratan air bersih. Jika digunakan air tanah atau dari sumber lain, maka air harus diperlakukan sedemikian rupa sehingga memenuhi persyaratan air bersih. Salah satu perlakuan air yang umum dilakukan adalah dengan menambahkan klorin 2 ppm. Untuk menjamin bahwa air tersebut memenuhi syarat air bersih, maka perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium secara berkala, minimum 1 tahun sekali. Klorin berguna untuk mematikan mikroorganisme yang terkandung dalam sumber air (Watkins 2004).

Intensitas pengambilan sampah dan limbah peternakan (kotoran ayam) dilakukan pada periode tertentu secara teratur, karena dapat mengundang lalat atau insekta lain serta tumpukan sampah dapat menjadi sumber pencemaran di peternakan.

Dokumen terkait