BAB IV ANALISIS DATA
6. Aspek Kesehatan yang Ditimbulkan Akibat Pengelolaan Sampah
Sistem manajemen pengelolaan sampah di desa Kuta Dalom masih jauh dari standar yang ada. Contohnya saja adalah pada aspek teknik operasional sampah di desa Kuta Dalom belum memilah sampah antara organik dan anorganik sehingga sampah yang dibuang ke TPSS bercampur, sehingga tidak dapat didaur ulang lagi. Kemudian dalam sistem pengangkutan sampah, kendaraan yang di gunakan untuk mengangkut sampah terbilang kurang layak, karena motor tosa roda tiga yamg di gunakan tersbut sudah tidak terawat dan terbilang kecil dan juga pada saat mengangkut sampah motor tossa tersebut tidak menggunakan jaring-jaring sampah seperti yang dianjurkan dalam peraturan pemerintah. Oleh karena itu terjadi pencemaran
udara saat motor tersebut melintas di antara pemukiman warga. Terlebih lagi lokasi TPS yang berada sangat dekat dengan pemukiman warga. Mengakibatkan AKL (Angka Kepadatan Lalat) di sekitar TPS tersebut sanga padat sehingga dapat menyebabkan gangguan kesehatan terutama penyakit diare.
a) Peran Pemerintah Dalam Pelaksanaan Kebijakan Meningkatkan Pendapatan Asli Desa
Pemerintah adalah orang yang langsung berhadapan dengan masyarakat, dan tentunya diharapkan dapat memberikan peran yang nyata dalam setiap pelaksanaanya. Upaya yang dilakukan pemerintah seperti melakukan koordinasi dengan pemerintah kecamatan dengan harapan mendapat perhatian dari pemerintah kecamatan bahkan pemerintah daerah sehingga bank sampah ini lebih berkembang dan bermanfaat juga bagi peningkatan pembangunan desa kedepan. Untuk peran pemerintah, dapat disimpulkan belum begitu maksimal, diharapkan pemerintah bisa menciptakan komunikasi yang lebih baik dengan pemerintah kecamatan agar kondisi bank sampah mendapat kemajuan dari segi pengelolaannya.
b) Pelaksanaan Kebijakan Pemerintah Mengenai Bank Sampah
Pelaksanaan kebijakan pemerintah desa kuta dalaom mengenai bank sampah sejauh ini belum bisa dikata baik, berdasarkan hasil observasi peneliti, peneliti belum menemukan kemajuan yang signifikan dalam pengelolaan
sampah. untuk segi pendapatan yang di hasilkan dari pengelolaan sampah pun terbilang kecil, sehingga dapat di simpulkan pengelolan sampah yang ada di desa kuta dalom belum bisa di katakan meningkatakan pendapatan desa. c) Evaluasi Kebijakan Pemerintah
Hasil dari pelaksanaan suatu kebijakan bisa mempengaruhi apakah kebijakan tersebut dapat dilanjutkan atau tidak. Dimana setelah ada pelaks anaan yang dilakukan, pemerintah juga dapat melihat berbagai kekurangan atau hambatan yang bisa mempersulit untuk lebih mengembangkan lagi kondisi bank sampah yang ada. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, masih banyak kekuranagan dan juga masalah yang dijumpai untuk pengelolaan bank sampah ini, seperti :
1) Kurang nya dukungan dari masyarakat untuk terlibat dalam pengelolaan sampah.
2) kurang koordinasi antara anggota pengurus unit bank sampah yang telah dibentuk dengan kepala desa.
3) Kurang nya bantuan modal baik dari luar maupun dari desa Tabel 1.16
Kebijakan Pemerintah
Kebijakan Pemerintah Alternatif jawaban Jumlah
Iya Tidak
Pertanyaan 1 4 20 24
(%) 17% 83% 100%
Pertanyaan 2 8 16 24
(%) 33% 67% 100%
Berdasar kan dari tabel di atas dapat diketahui bahwa, angket pengelola mengenai kebijakan pemerintah desa dalam pengelolaan sampah dari pertanyaan ke 1 ( kebijakan pengelolaan sampah sudah efektif ? )sebanyak 4 orang (17%) menjawab setuju, 20 orang (83%) menjawab tidak setuju. Untuk pertanyaan ke 2 (kebijakan pengeloalan sampah sudah menjawab permasalahan yang ada?) sebanyak 8 orang (33%) menjawab setuju, 16 orang (67%) menjawab tidak setuju.
Berdasarkan hasil kuisioner kepada nasabah bank sampah diatas maka dapat di simpulkan bahwa kebijakan pengelolaaan sampah di desa Kuta Dalom belum efektif atau belum berjalan dengan baik. Dari data yang di peroleh dari bank sampah Kuta Dalom, sejauh ini masyarakat yang terlibat dalam kegiatan pengelolaah sampah berjumlah 117 kk dari 846 kk jumlah keseluruhan masyarakat Pekon Kuta Dalom, artinya hanya 13,82% dukungan dari masyarakat Kuta Dalom terhadap kebijakan pengelolaan sampah.
Tabel 1.17 Indikator Pendapatan
Indikator pendapatan Alternatif jawaban Jumlah
Ya Tidak Pertanyaan 1 10 5 17 (%) 58% 30% 100% Pertanyaan 2 8 4 17 (%) 48% 23% 100% Pertanyaan 3 5 - 17 (%) 30% - 100%
Berdasar kan dari tabel di atas dapat diketahui bahwa, angket pengelola mengenai indikator pendapatan desa dalam pengelolaan sampah dari pertanyaan ke 1 (Apakah pengelolaan sampah sudah bisa dikatakan meningkatkan pendapatan asli desa?) sebanyak 0 orang (0%) menyatakan iya, dan 24 orang (100%) menyatakan tidak. Pertanyaan ke 2 (Apakah anda tahu penghasilan bank sampah yang di dapat setiap bulannya?) sebanyak 0 orang (0%) menyatakan iya dan 24 orang (100%) menyatakan tidak. Pertanyaan ke 3 (Apakah pendapatan dari pengelolaan sampah sudah bisa untuk membantu dalam pembangunan desa?) sebanyak 0 orang (0%) menyatakan iya, dan 24 orang (100%) menyatakan tidak.
Berdasarkan hasil uraian diatas peneliti menyimpulkan dari hasil kuisioner bahwa pendapatan yang di hasilkan dari pengelolaan sampah belum meningkatkan pendapatan asli desa, dari 24 responden tidak satu pun responden yang menjawab bahwa pendapatan desa sudah meningkat setelah adanya usaha pengelolaan sampah. Untuk pertanyaan yang kedua tentang pendapatan yang di peroleh dalam setiap bulannya responden juga tidak satupun yang menjawab iya atau mengetahui pendapatan yang di peroleh dalam setiap bulannya. Sedangkan pada pertanyaan yang ketiga, arah pertanyaan yang peneliti ajukan kepada responden lebih kepada dampak dari pendapatan yang di hasilkan dari pengelolaan sampah itu sendiri, namun setelah di teliti dengan cara mengajukan kuisioner kepada 24 responden,
dampak dalam bentuk pembangunan untuk desa belum berdampak sedikpun, dimana 24 menyatakan bahwa pendapatan dari pengelolaan sampah belum bisa untuk membantu dalam membangun desa sebab tingkat pendapatan perbulannya masih sangat rendah. Berdasarkan hasil data yang di ambil dari bank sampah, dapat di ketahui bahwa pendapatan tetap yang di hasilkan dari iuran nasabah yaitu Rp.3.360.000. Berikut ini tabel uraian pendapatan tetap bank sampah.
Tabel 1.18
Pendapatan Tetap Desa
Nasabah Jumlah nasabah Iuran per bulan Pendapatan tetap Per bulan Nasabah tani 34 Rp. 50.000/bln Rp. 1.700.000/bln Nasabah biasa 83 Rp. 20.000/bln Rp. 1660.000/bln Jumlah 117 - Rp. 3.360.000/bln
Sumber : data di peroleh dari bank sampah tahun 2018
Sedangkan untuk pendapatan tidak tetap yang di hasilkan dari penjualan hasil olahan sampah terbilang tidak menentu dalam setiap bulannya, tergantung dari hasil produksi sampah yang di angkut dari rumah nasabah.
Tabel 1.19
Pendapatan tidak tetap dalam 3 bulan terahir
Bulan Pendapatan
Januari Rp. 2.350.000
Februari Rp. 1.630.000
Maret Rp. 2.020.000
Dapat di lihat pada tabel di atas bahwa pendapatan tidak tetap dalam 3 bulan terahir yang di hasilkan dari pengelolaan sampah dalam setiap bulan nya terbilang tidak stabil, dimana pada bulan januari bank sampah menghasilkan pendapatan Rp. 2.350.000, sedangkan di bulan berikutnya pada bulan februari pendapatan yang di hasilkan bank sampah menurun menjadi Rp. 1.630.000, namun untuk di bulan maret pendapatan kembali meningkat menjadi Rp. 2.020.000. Jika hasil pendapatan tetap di tambahkan dengan pendapatan yang tetap, maka pengahasilan bank sampah dalm setiap bulannya hanya berkisar 4 juta - 6 juta, sedangkan untuk tingkat pengeluaran bank sampah dalam setiap bulan sebesar Rp. 4.473.000 yang terdiri dari: 1) biaya transport pengangkutan sampah sebesar Rp. 400.000. 2) biaya belanja karung dalam 1 bulan sebesar Rp. 573.000 dan 3) biaya upah/gaji untuk 7 karyawan sebesar Rp. 3.500.000. jika dilihat dari tingkat pendapatan dan tingkat pengeluaran dari bank sampah, tentu keuntungan yang di dapatkan oleh bank sampah dalam setiap bulannya sangatlah kecil, oleh sebabnya dalam hal ini pemerintah desa dan pihak pengelola bank sampah masih perlu banyak evaluasi kembali dalam segi manajemen pengelolaan sampah, agar kedepannya hasil dari pengelolaan sampah ini dapat meningkat dengan baik dan desa bisa lebih mandiri lagi dengan usaha yang di kelola oleh masyarakat itu sendiri.
Dapat disimpulkan Pemerintah membuat desain kebijakan dalam suatu perencanaan bagaimana kebijakan itu dibuat, selanjutnya implementasi kebijakan tentang bagaimana pelaksanaan kebijakan pemerintah membuka bank sampah dalam upaya meningkatkan pendapatan di desa, dan selanjutnya evaluasi kebijakan itu sendiri apakah berjalan maksimal, dan melalui penelitian ini dapat dilihat bahwa kebijakan yang dibuat pemerintah desa Kuta Dalom ternyata belum maksimal dalam mencapai tujuan karena belum meningkatkan pendapatan asli desa. Karena itu pemerintah harus lebih berperan dan fokus lagi untuk pengembangan dan pengelolaan bank sampah agar kedepannya Pembangunan boleh meningkat karena adanya sumber pendapatan yang memadai, sehingga pemerintahan berjalan baik dan masyarakat sejahtera.
B. Faktor-faktor penghambat dalam mengimplementasikan kebijakan