• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENURUT PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN (Studi Kecelakaan Pesawat Hercules A-1310)

E. Aspek Keselamatan Penerbangan Sipil dan Militer

1. Standart Operasi Prosedur Penerbangan Sipil Dan Militer

Pesawat udara militer mempunyai peran yang sangat penting di dalam

dunia kemiliteran. Pesawat angkut ini sangat memudahkan segala kegiatan yang

dilakukan oleh dunia militer, baik itu dalam kondisi perang maupun dalam kondisi

damai. Pesawat udara angkut militer dalam hal ini pesawat militer mempunyai

berbagai macam fungsi secara umum, yaitu untuk perpindahan pasukan, untuk

hujan buatan, untuk dropping pasukan atau terjun, untuk dropping barang, dan

untuk pengisian bahan bakar.103

Sebagai catatan bahwa apabila menyebut pesawat udara angkut militer ini

dengan sebutan pesawat kargo adalah tidak tepat, karena pesawat udara angkut

militer juga mengangkut paratroopers dan anggota militer lainnya. Di tingkat

internasional, hukum udara yang mengatur penerbangan militer dan sipil paling

tidak sudah dijadikan landasan hukum yang utama bagi terciptanya keselamatan Dalam pengertian yang tercantum tersebut dapat diartikan bahwa pesawat

angkut militer biasa digunakan untuk transportasi pasukan dan peralatan perang,

kargo dapat ditambahkan pada palet yang mudah dimuat, terjamin untuk

penerbangan dan dapat dibongkar dengan cepat untuk pengiriman, kargo juga

dapat dikeluarkan atau dijatuhkan dari pesawat angkut militer dengan dikaitkan

dengan parasut. Juga termasuk dalam kategori pesawat angkut milter adalah

tanker udara yang berfungsi untuk pengisian bahan bakar sementara pesawat

lainnya dalam penerbangan.

103

Bernadus Ardian Ricky M, Penggunaan Pesawat Udara Militer (Hercules) Sebagai Pesawat Udara Sipil Untuk Alat Transportasi Penduduk Sipil Ditinjau Dari Segi Hukum Udara Internasional Dan Nasional, Jurnal, Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, 2013, hal. 6

pemanfaatan ruang udara. Ketentuan hukum udara yang mengatur navigasi dan

transportasi udara, baik untuk saat ini maupun pada masa lampau selalu diarahkan

penerbangan sipil komersial atau sipil lainnya, di luar penerbangan oleh pesawat

udara militer.

Pada hakikatnya, hukum udara adalah keseluruhan peraturan hukum

tertulis atau tidak tertulis yang merupakan tatanan satu kesatuan sistem yang

terdiri atas pemanfaatan wilayah udara, pesawat udara, bandar udara, angkutan

udara, navigasi penerbangan, keselamatan dan keamanan, lingkungan hidup serta

fasilitas penunjang dan fasilitas umum lainnya yang terkait dengan penerbangan.

Hukum udara mengatur penerbangan pesawat udara berdasarkan pada paradigma

konseptual yang harus mampu menciptakan perbedaan pengaturan bagi

penerbangan pesawat udara sipil dan penerbangan udara militer, dimana pada saat

ini landasan hukum bagi penerbangan militer tetap mengacu pada undang-undang

penerbangan dan, peraturan pemerintah, peraturan menteri serta ketentuan

ketentuan hukum lain yang terkait dengan penerbangan sipil dan penerbangan

militer nasional.104

Pengangkutan warga sipil dalam penerbangan militer terdapat dalam

undang-undang penebangan yang menyatakan bahwa “dalam keadaan tertentu

pesawat udara negara dapat dipergunakan untuk keperluan angkutan udara sipil

dan sebaliknya.”105

104

Agus Pramono, Dasar-Dasar Hukum Udara Dan Ruang Angkasa, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2011), hal. 7

105

Pasal 68 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan

Yang dimaksudkan dengan keadaan tertentu adalah apabila

pemerintah memerlukan transportasi untuk angkutan udara, sedangkan yang

udara negara. Pemerintah dapat menggunakan pesawat udara negara menjadi

pesawat udara sipil sesuai dengan persyaratan pesawat udara sipil. begitu juga

sebaliknya apabila pemerintah memerlukan pesawat udara untuk kegiatan negara

sedangkan yang tersedia hanya pesawat udara sipil, maka pesawat udara sipil

dapat diubah menjadi pesawat udara negara sesuai dengan persyaratan pesawat

udara negara.

Mengingat pesawat udara militer merupakan salah satu bagian dari

pesawat udara negara, maka penggunaan pesawat udara ini haruslah mendapatkan

ijin dari pihak atau instansi yang berwenang dengan melengkapi rencana kegiatan.

Rencana kegiatan angkutan udara yang diselenggarakan oleh pemerintah haruslah

memuat data tentang jenis dan jumlah pesawat udara yang dioperasikan, pusat

kegiatan operasi penerbangan, sumber daya manusia yang terdiri dari teknisi dan

personel pesawat udara, serta kesiapan dan kelayakan operasi.106

Pesawat udara angkut militer ini digunakan secara operasional, dalam

artian pesawat militer akan beroperasi disaat dibutuhkan. Penerbangan dari

pesawat militer sendiri ada 2 (dua) macam, yaitu penerbangan yang berjadwal

dan penerbangan tidak berjadwal. Penerbangan berjadwal dari peswat militer

terbatas pada latihan terbang dan pengiriman logistic secara rutin untuk keperluan

militer sendiri, sedangkan penerbangan yang tidak berjadwal sesuai kebutuhan,

keperluan dan atas perintah dari pemegang komando militer. Menjadi sebuah

catatan dalam penggunaan sebuah pesawat udara harus memperhatikan beberapa

hal yaitu:

106

H.K. Martono, Hukum Udara Nasional Dan Internasional Publik, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012), hal. 245

1. Status pesawat udara, yakni apakah dimiliki oleh negara, perorangan atau badan swasta.

2. Tujuan penggunaan atau bentuk kegiatan-kegiatan pesawat udara itu

sendiri.

3. Kepentingan kegiatannya, yakni apakah digunakan untuk kepentingan

negara yang bersangkutan itu sendiri ataukah digunakan untuk kepentingan suatu organisasi internasional.

4. Kemudian perlu diteliti pula apakah penggunaan tersebut bersangkut paut dengan kepentingan perdamaian atau kepentingan di luar itu.107

Dalam penggunaan pesawat udara negara dalam hal ini penggunaan

pesawat udara militer juga harus memperhatikan hal-hal tersebut diatas. Dimana

semua pesawat udara militer yang akan beroperasi atau digunakan haruslah jelas

bentuk tujuan dari penggunaan atau bentuk-bentuk kegiatan pesawat udara militer

tersebut, kepentingan dari kegiatan pengangkutan yang kemudian diteliti apakah

penggunaan dari pesawat udara militer ini untuk penggunaan kepentingan

perdamaian ataupun di luar kepentingan perdamaian itu.

2. Ketentuan Dasar Hukum Dan Peraturan Pengangkutan Penumpang

Menurut Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 77 Tahun 2011 Tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara

Peraturan menteri ini berkaitan dengan tanggung jawab pengangkut

terhadap penumpang yang meninggal, cacat atau luka-luka akibat kejadian

pengangkutan udara di dalam pesawat dan/atau naik turun pesawat udara adalah

dengan sejumlah ganti rugi yang merujuk kepada Peraturan Menteri Perhubungan

Nomor PM 77 Tahun 2011 Tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan

Udara. Pasal 2 Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 77 Tahun 2011

Tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara, menyatakan bahwa:

“Pengangkut yang mengoperasikan pesawat udara wajib bertanggung jawab atas kerugian terhadap penumpang yang meninggal dunia, cacat tetap atau

luka-luka, hilang atau rusaknya bagasi kabin, hilang musnah atau rusaknya bagasi tercatat, hilang musnah atau rusaknya kargo, keterlambatan angkutan udara, dan kerugian yang diderita oleh pihak ketiga.”108

1. Penumpang yang meninggal dunia di dalam pesawat udara karena akibat

kecelakaan pesawat udara atau kejadian yang semata-mata ada hubungannya

dengan pengangkutan udara diberikan ganti kerugian sebesar Rp.

1.250.000.000 (satu miliar dua ratus lima puluh juta rupiah) per penumpang. Jumlah ganti kerugian terhadap penumpang yang meninggal dunia, cacat

tetap atau luka-luka ditetapkan sebagai berikut:

2. Penumpang yang meninggal dunia akibat suatu kejadian yang semata-mata

ada hubungannya dengan pengangkutan udara pada saat proses meninggalkan

ruang tunggu bandar udara menuju pesawat udara atau pada saat proses turun

dari pesawat udara menuju ruang kedatangan di bandar udara tujuan dan/atau

bandar udara persinggahan (transit) diberikan ganti kerugian sebesar Rp.

500.000.000 (lima ratus juta rupiah) per penumpang.

3. Penumpang yang mengalami cacat tetap, meliputi penumpang yang

dinyatakan cacat tetap total oleh dokter dalam jangka waktu paling lambat 60

(enam puluh) hari kerja sejak terjadinya kecelakaan diberikan ganti kerugian

sebesar Rp. 1.250.000.000 (satu miliar dua ratus lima puluh juta rupiah) per

penumpang. Cacat tetap total yaitu kehilangan penglihatan total dari 2 (dua)

mata yang tidak dapat disembuhkan, atau terputusnya 2 (dua) tangan atau 2

(dua) kaki atau satu tangan dan satu kaki pada atau di atas pergelangan tangan

atau kaki, atau Kehilangan penglihatan total dari 1 (satu) mata yang tidak

108

Pasal 2 Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 77 Tahun 2011 Tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara.

dapat disembuhkan dan terputusnya 1 (satu) tangan atau kaki pada atau di

atas pergelangan tangan atau kaki.

4. Penumpang yang mengalami luka-luka dan harus menjalani perawatan di

rumah sakit, klinik atau balai pengobatan sebagai pasien rawat inap dan/atau

rawat jalan, akan diberikan ganti kerugian sebesar biaya perawatan yang

nyata paling banyak Rp. 200.000.000 (dua ratus juta rupiah) per

penumpang.109

Berdasarkan Pasal 14 Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 77

Tahun 2011 Tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara, bentuk ganti

kerugian untuk pihak ketiga yang meninggal dunia, cacat tetap, luka-Iuka dan

kerugian harta benda sebagai akibat dari peristiwa pengoperasian pesawat udara,

kecelakaan pesawat udara atau jatuhnya benda-benda dari pesawat udara yang

dioperasikan ditetapkan sebagai berikut:

1. Meninggal dunia diberikan ganti rugi sebesar Rp. 500.000.000 (lima ratus

juta rupiah) per orang.

2. Pihak ketiga yang mengalami cacat tetap total oleh dokter dalam jangka

waktu paling lambat 60 (enam puluh) hari kerja sejak terjadinya kecelakaan diberikan ganti kerugian sebesar Rp. 750.000.000 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah) per orang.

3. Jumlah ganti kerugian untuk pihak ketiga yang menderita luka-Iuka dan harus menjalani perawatan di rumah sakit, klinik atau balai pengobatan sebagai pasien rawat inap dan/atau rawat jalan ditetapkan paling banyak Rp. 100.000.000 (seratus juta rupiah) per orang.

4. Jumlah ganti kerugian untuk kerusakan barang milik pihak ketiga hanya

terhadap kerugian yang secara nyata diderita berdasarkan penilaian yang layak, sebagai berikut:

a. Untuk pesawat udara dengan kapasitas sampai dengan 30 (tiga puluh)

tempat duduk, paling banyak Rp. 50.000.000.000 (lima puluh miliar rupiah).

109

Pasal 3 Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 77 Tahun 2011 Tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara.

b. Untuk pesawat udara dengan kapasitas lebih dari 30 (tiga puluh) tempat duduk sampai dengan 70 (tujuh puluh) tempat duduk, paling banyak Rp. 100.000.000.000 (seratus miliar rupiah).

c. Untuk pesawat udara dengan kapasitas lebih dari 70 (tujuh puluh) tempat duduk sampai dengan 150 (seratus lima'puluh) tempat duduk, paling banyak Rp. 175.000.000.000 (seratus tujuh puluh lima miliar rupiah). d. Untuk pesawat udara dengan kapasitas lebih dari 150 (seratus lima puluh)

tempat duduk, paling banyak Rp. 250.000.000.000 (dua ratus lima puluh miliar rupiah).

Bentuk ganti rugi yang diberikan pelaku usaha dalam hal bagasi tercatat

hilang, musnah atau rusak yaitu ditetapkan sebagai berikut:

1. Kehilangan bagasi tercatat atau isi bagasi tercatat atau bagasi tercatat musnah diberikan ganti kerugian sebesar Rp. 200.000 (dua ratus ribu rupiah) per kg dan paling banyak Rp. 4.000.000 (empat juta rupiah) per penumpang,

2. Kerusakan bagasi tercatat, diberikan ganti kerugian sesuai jenisnya bentuk, ukuran dan merk bagasi tercatat.

3. Bagasi tercatat dianggap hilang apabila tidak diketemukan dalam waktu 14

(empat belas) hari kalender sejak tanggal dan jam kedatangan penumpang di bandar udara tujuan.

4. Pengangkut wajib memberikan uang tunggu kepada penumpang atas bagasi

tercatat yang belum ditemukan dan, belum dapat dinyatakan hilang sebesar Rp. 200.000 (dua ratus ribu rupiah) per hari paling lama untuk 3 (tiga) hari kalender.110

Pengangkut dapat dibebaskan dari tuntutan ganti kerugian terhadap

hilangnya barang berharga atau barang yang berharga milik penumpang yang

disimpan di dalam bagasi tercatat, kecuali pada saat pelaporan keberangkatan

(check-in),penumpang telah menyatakan dan menunjukkan bahwa di dalam bagasi

tercatat terdapat barang berharga atau barang yang berharga, dan pengangkut

setuju untuk mengangkutnya.

Pasal 172 UUP menjelaskan mengenai besaran ganti rugi, yang mana hal

ini memberikan perlindungan terhadap penumpang yaitu. Pasal ini menegaskan

110

Pasal 5 Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 77 Tahun 2011 Tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara.

bahwa besaran ganti rugi dievaluasi paling sedikit satu kali dalam satu tahun oleh

menteri berdasarkan pada tingkat hidup yang layak masyarakat, kelangsungan

hidup badan usaha angkutan udara niaga, tingkat inflasi kumulatif, pendapatan per

kapita, dan perkiraan usia harapan hidup.

F. Pelaksanaan Tanggung Jawab Penyedia Jasa Angkutan Bagi Warga

Sipil Atas Keselamatan Dan Keamanan Penerbangan Militer

Keselamatan dan keamanan penerbangan nasional merupakan aspek yang

paling penting dalm setiap penerbangan, dimana dalam pelaksanaannya menteri

bertanggung jawab terhadap keamanan penerbangan nasional. Untuk

melaksanakan tanggung jawab tersebut, maka menteri berwenang untuk

membentuk komite nasional keamanan penerbangan, menetapkan program

keamanan penerbangan nasional, dan mengawasi pelaksanaan program keamanan

penerbangan nasional.111 Pembentukan komite nasional keamanan penerbangan

dimaksudkan untuk bertugas mengkoordinasikan pelaksanaan program keamanan

penerbangan nasional.112

1. Peraturan keamanan penerbangan.

Program keamanan penerbangan nasional tersebut

paling sedikit harus memuat:

2. Sasaran keamanan penerbangan.

3. Personel keamanan penerbangan.

4. Pembagian tanggung jawab keamanan penerbangan.

5. Perlindungan bandar udara, pesawat udara, dan fasilitas navigasi

penerbangan.

111

Pasal 323 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan

112

6. Pengendalian dan penjaminan keamanan terhadap orang dan barang di pesawat udara.

7. Penanggulangan tindakan melawan hukum.

8. Penyesuaian sistem keamanan terhadap tingkat ancaman keamanan.

9. Pengawasan keamanan penerbangan.113

Pemerintah dalam melaksanakan program keamanan penerbangan

nasional, dapat melakukan kerja sama dengan negara lain, dimana kerja sama

tersebut meliputi pertukaran informasi, pendidikan dan pelatihan, peningkatan

kualitas keamanan, serta permintaan keamanan tambahan. Selain itu setiap badan

usaha angkutan udara wajib membuat, melaksanakan, mengevaluasi, dan

mengembangkan program keamanan angkutan udara dengan berpedoman pada

program keamanan penerbangan nasional.114

Sehubungan dengan keamanan penerbangan juga diperlukan keamanan

bandar udara, dimana orang perseorangan, kendaraan, kargo, dan pos yang akan

memasuki daerah keamanan terbatas wajib memiliki izin masuk daerah terbatas

atau tiket pesawat udara bagi penumpang pesawat udara, dan dilakukan

pemeriksaan keamanan yang dilakukan oleh personel yang berkompeten di bidang

keamanan penerbangan.115 Penumpang, personel pesawat udara, bagasi, kargo, dan pos yang akan diangkut harus dilakukan pemeriksaan dan memenuhi

persyaratan keamanan penerbangan.116

Penumpang pesawat udara yang membawa senjata wajib melaporkan dan

menyerahkannya kepada badan usaha angkutan udara yang akan mengangkut

penumpang tersebut, dimana badan usaha angkutan udara bertanggung jawab atas

113

Pasal 325 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan

114

Pasal 329 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan

115

Pasal 334 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan

116

keamanan senjata yang diterima sampai dengan diserahkan kembali kepada

pemiliknya di bandar udara tujuan.117

1. Pemeriksaan keamanan pesawat udara sebelum pengoperasian berdasarkan

penilaian risiko keamanan (check and search).

Faktor keamanan juga sangat diperlukan

pada saat pengoperasian pesawat udara, dimana badan usaha angkutan udara

bertanggung jawab terhadap keamanan pengoperasian pesawat udara di bandar

udara dan selama terbang.

Tanggung jawab terhadap keamanan pengoperasian pesawat udara di

bandar udara meliputi:

2. Pemeriksaan terhadap barang bawaan penumpang yang tertinggal di

pesawat.

3. Pemeriksaan terhadap semua petugas yang masuk pesawat udara.

4. Pemeriksaan terhadap peralatan, barang, makanan, dan minuman yang

akan masuk pesawat udara.118

Tanggung jawab terhadap keamanan pengoperasian pesawat udara selama

terbang paling sedikit meliputi:

1. Mengambil tindakan yang diperlukan untuk menjamin keamanan

penerbangan.

2. Memberitahu kepada kapten penerbang apabila ada petugas keamanan dalam

penerbangan (air marshal) di pesawat udara.

3. Memberitahu kepada kapten penerbang adanya muatan barang berbahaya di

dalam pesawat udara.119

Terselenggaranya suatu pengangkutan udara dalam kegiatan penerbangan

komersil tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya penumpang, dimana dalam

industri penerbangan, penumpang merupakan salah satu aset penting yang patut

diperhitungkan bagi maskapai penerbangan untuk mencapai keuntungan. Lebih

lanjut dikatakan bahwa perjanjian pengangkutan yang telah disepakati antara

117

Pasal 337 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan

118

Pasal 340 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan

119

pihak pengangkut dan penumpang dibuktikan dengan tiket penumpang.120

1. Pertanggungjawaban atas dasar kesalahan, yang dapat lahir karena

terjadinya wanprestasi, timbulnya perbuatan melawan hukum, tindakan yang kurang hati-hati.

Secara

teoritis pertanggungjawaban yang terkait dengan hubungan hukum yang timbul

antara pihak yang menuntut pertanggungjawaban dengan pihak yang dituntut

untuk bertanggung jawab dapat dibedakan menjadi:

2. Pertanggungjawaban atas dasar risiko, yaitu tanggung jawab yang harus

dipikul sebagai risiko yang harus diambil oleh seorang pengusaha atas kegiatan usahanya.121

Menurut Abdulkadir Muhammad teori tanggung jawab dalam perbuatan

melanggar hukum (tort liability) dibagi menjadi beberapa teori, yaitu:

1. Tanggung jawab akibat perbuatan melanggar hukum yang dilakukan

dengan sengaja (intertional tort liability), tergugat harus sudah melakukan perbuatan sedemikian rupa sehingga merugikan penggugat atau mengetahui bahwa apa yang dilakukan tergugat akan mengakibatkan kerugian.

2. Tanggung jawab akibat perbuatan melanggar hukum yang dilakukan

karena kelalaian (negligence tort lilability), didasarkan pada konsep kesalahan (concept of fault) yang berkaitan dengan moral dan hukum yang sudah bercampur baur (interminglend).

3. Tanggung jawab mutlak (absolute liability) akibat perbuatan melanggar

hukum tanpa mempersoalkan kesalahan, didasarkan pada perbuatannya

baik secara sengaja maupun tidak sengaja, artinya meskipun bukan kesalahannya tetap bertanggung jawab atas kerugian yang timbul akibat perbuatannya.122

Terdapat 3 (tiga) macam konsep dasar tanggung jawab hukum dalam

transportasi udara yaitu konsep tanggung jawab hukum atas dasar kesalahan

(based on fault liability), konsep tanggung jawab hukum atas dasar praduga

120

H.K. Martono, Kamus Hukum Dan Regulasi Penerbangan, Loc. Cit.

121

Yusuf Shofie, Perlindungan Konsumen Dan Instrumen-Instrumen Hukumnya, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2003), hal. 8

122

Abdulkadir Muhammad, Hukum Perusahaan Indonesia, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2010), hal. 503

bersalah (presumption of liability), dan konsep tanggung jawab hukum tanpa

bersalah (liability without fault) atau tanggung jawab mutlak (absolute liability

atau strict liability).123

1. Konsep Tanggung Jawab Hukum Atas Dasar Kesalahan (Base On Fault

Liability)

Sehubungan dengan tanggung jawabpengangkut terhadap

penumpang seperti yang telah disebutkan, di bawah ini membahas konsep

tanggung jawab pengangkut yang diterapkan dalam undang-undang penerbangan.

Berdasarkan konsep tanggung jawab hukum atas dasar kesalahan (based

on fault liability), kelalaian atau kesalahan produsen yang berakibat pada

timbulnya kerugian konsumen merupakan faktor penentu hak konsumen untuk

mengajukan tuntutan ganti rugi kepada produsen. Tuntutan ganti rugi berdasarkan

kelalaian produsen diajukan dengan bukti-bukti lain yaitu:

1. Pertama,pihak tergugat merupakan produsen yang benar-benar mempunyai

kewajiban untuk melakukan tindakan yang dapat menghindari terjadinya kerugian konsumen.

2. Kedua,produsen tidak melaksanakan kewajibannya untuk menjamin

kualitas produknya sesuai dengan standar yang aman untuk digunakan.

3. Ketiga,konsumen menderita kerugian.

4. Keempat,kelalaian produsen merupakan faktor yang mengakibatkan

adanya kerugian pada konsumen (hubungan sebab akibat antara kelalaian dan kerugian konsumen).124

Tuntutan ganti rugi konsumen kepada produsen, berlaku juga terhadap

tuntutan penumpang dalam jasa penerbangan kepada maskapai penerbangan.

Tanggung jawab atas dasar kesalahan terdapat dalam Pasal 1365 KUH Perdata

yang lebih dikenal dengan perbuatan melawan hukum (onrechtsmatigedaad),

berlaku umum terhadap siapapun termasuk maskapai penerbangan. Ketentuan

123

HK. Martono, Op. Cit., hal. 145

124

pasal tersebut menegaskan bahwa setiap perbuatan melawan hukum yang

menimbulkan kerugian terhadap orang lain mewajibkan orang yang karena

perbuatannya menimbulkan kerugian itu mengganti kerugian (to compensate

thedamage). Dengan demikian jika pihak maskapai penerbangan merugikan

penumpang, maka maskapai penerbangan harus bertanggung jawab untuk

membayar kerugian yang diderita.

Tanggung jawab hukum kepada orang yang menderita kerugian tidak

hanya terbatas kepada perbuatan sendiri, melainkan juga perbuatan karyawan,

pegawai, agen, perwakilannya apabila menimbulkan kerugian kepada orang lain,

sepanjang orang tersebut bertindak sesuai dengan tugas dan kewajiban yang

dibebankan kepada orang tersebut. Tanggung jawab yang telah disebutkan ini

sesuai dengan isi ketentuan Pasal 1367 KUH Perdata, dimana tanggung jawab

semacam ini juga dikenal dalam common law system.125

Apabila penumpang ingin memperolehganti rugi atas kerugian yang

dideritanya, maka penumpang wajib membuktikan kesalahan maskapai

penerbangan tersebut. Ketentuan ini senada dengan bunyi Pasal 143 UUP, yang

menyebutkan bahwa “pengangkut tidak bertanggung jawab untuk kerugian karena

hilang atau rusaknya bagasi kabin, kecuali apabila penumpang dapat

membuktikan bahwa kerugian tersebut disebabkan oleh tindakan pengangkut atau

orang yang dipekerjakannya.” Dengan demikian dapat diketahui bahwa terhadap

kerugian bagasi kabin, untuk mengajukan klaim, penumpang harus membuktikan

bahwa kerugian tersebut akibat kesalahan tindakan pengangkut atau orang yang

125

dipekerjakannya. Tanggung jawab atas dasar kesalahan harus memenuhi

unsur-unsur yakni adanya kekhilafan, kerugian, dan kerugian tersebut ada hubungan

dengan kekhilafan.

Konsep tanggung jawab atas dasar kesalahan melemahkan hak-hak

penumpang, karena penumpang tidak punya keahlian untuk membuktikan

kesalahan pengangkut. Maskapai penerbangan menguasai teknologi tinggi,

sementara itu tidak demikian pada penumpang, yang tidak menguasai teknologi

tinggi, kalaupun penumpang dapat membuktikan kesalahan pengangkut, maka

tanggung jawab pengangkut terbatas setinggi-tingginya sebesar kerugian

penumpang. Konsep tanggung jawab atas dasar kesalahan dirasakan adil apabila

kedudukan kedua belah pihak (penumpang dan maskapai penerbangan)

mempunyai kemampuan yang sama sehingga mereka dapat saling membuktikan

kesalahan. Konsep tanggung jawab atas dasar kesalahan ini tidak boleh digunakan

dalam pengangkutan udara karena kedudukan penumpang dan pengangkutan tidak

berimbang.126

2. Konsep Tanggung Jawab Hukum Praduga Bersalah (Presumption Of Liability

Concept)

Konsep tanggung jawab praduga bersalah (presumption of liability

concept), penumpang atau pengirim barang tidak perlu membuktikan kesalahan

pengangkut (maskapai penerbangan), sebab maskapai penerbangan telah dianggap

bersalah. Dalam konsep tanggung jawab praduga bersalah, yang harus

membuktikan adalah perusahaan penerbangan yang disebut dengan pembuktian

terbalik (burden of proof) atau disebut juga dengan pembuktian negatif. Jadi

126

maskapai penerbangan harus membuktikan bahwa dia tidak bersalah, apabila

maskapai penerbangan (termasuk karyawan, pegawai, agen atau perwakilannya)

dapat membuktikan bahwa dia tidak bersalah, maka maskapai penerbangan bebas

dari tanggung jawab untuk membayar ganti rugi kepada penumpang atau pengirim

barang.

Pasal 146 UUP menyebutkan bahwa “pengangkut bertanggung jawab atas

kerugian yang diderita karena keterlambatan pada angkutan penumpang, bagasi,

atau kargo, kecuali apabila pengangkut dapat membuktikan bahwa keterlambatan

Dokumen terkait