Pada dasarnya tidak terdapat persyaratan khusus dalam menentukan letak lokasi usaha pengasinan ikan teri. Lokasi pengasinan ikan teri yang baik tentunya adalah lokasi usaha yang dekat dengan sumber bahan baku utama, yakni ikan teri basah, dan memiliki akses yang luas terhadap sumber air dan garam sebagai bahan pembantu.
Berdasarkan hal di atas maka lokasi pengasinan ikan teri sebaiknya tidak jauh dari pantai, karena ikan teri yang termasuk jenis ikan kecil akan cepat membusuk jika tidak segera diolah setelah ditangkap. Kemudian, pengasinan ikan teri yang membutuhkan banyak garam dalam pengolahannya juga tepat diolah disekitar pantai yang umumnya juga memiliki banyak usaha pengolahan garam.
b. Fasilitas Produksi dan Peralatan
Peralatan dan perlengkapan yang digunakan dalam pengolahan ikan teri harus dipastikan tidak mengandung karat, tidak merupakan sumber zat renik, tidak sedang mengalami kerusakan dan mudah dibersihkan.
Peralatan utama yang umum digunakan untuk pengasinan ikan teri dikelompokkan menurut tahap kegiatannya, yakni:
Tahap Alat Fungsi
Persiapan Pompa air/sumur Sebagai sumber air untuk pencucian dan perebusan ikan teri Timbangan Dipakai untuk menimbang ikan
dan garam
Tong Dipakai sebagai wadah ikan teri setelah selesai ditimbang
Ember Dipakai sebagai wadah pencucian ikan teri sebelum diolah
Keranjang plastik Dipakai sebagai wadah merebus ikan dan meniriskan ikan setelah direbus
Penggaraman Bak plastik Dipakai untuk tempat penggaraman
Bak air Dipakai untuk tempat
penggaraman ikan teri dalam jumlah besar
Perebusan Kompor Sebagai sumber api untuk
Tungku Dipakai untuk merebus air dan garam
Pengaduk Terbuat dari bahan kayu atau plastik atau bahan lain yang tidak mencemari ikan teri. Pengaduk dipakai untuk mengaduk ikan dan garam serta air dengan garam Keranjang plastik Tempat ikan teri yang akan
direbus, keranjang ini digunakan agar ikan teri tidak berserak waktu masuk ke tungku perebusan
Seser Alat yang digunakan untuk
mengambil kotoran-kotoran yang terdapat dalam air rebusan
Pengeringan/ Penjemuran
Ayak Alat ini digunakan untuk
meratakan sebaran ikan teri sebelum dikeringkan
Blower/kipas angin Dipakai untuk mendinginkan ikan teri yang baru diangkat dari perebusan, sebelum dimasukkan ke cold storage (banyak digunakan bila ikan teri ditujukan untuk diekspor)
Pepean* Digunakan untuk tempat pengeringan/penjemuran
Widig/kledet Alat ini dipakai untuk menjemur ikan teri di bawah sinar matahari setelah diolah
Penyimpanan dan
Pengemasan
Plastik Sebagai tempat penyimpanan ikan teri yang sudah dijemur untuk kelompok kemasan kecil
Kardus Sebagai tempat penyimpanan ikan teri yang sudah diolah untuk kelompok kemasan besar Sealer Dipakai untuk menutup plastik Basket Dipakai sebagai wadah ikan teri
yang sudah diolah dan disimpan ke cold storage sebelum dikirim ke eksportir
Cold storage Sebagai lemari
penyimpanan/pendingin ikan teri yang sudah diolah sebelum dikirim dan siap dipasarkan
Sumber: Data primer, diolah
c. Bahan Baku 1. Bahan Utama
Bahan baku yang digunakan untuk ikan teri nasi asin adalah ikan teri nasi yang masih mentah dan basah. Umumnya semua jenis ikan teri nasi dapat digunakan sebagai bahan baku.
2. Bahan Pembantu dan Tambahan a) Air
Air digunakan untuk mencuci ikan teri sebelum diolah. Air yang dipakai untuk kegiatan pengolahan ikan teri hendaknya memenuhi persyaratan air minum. Untuk jenis ikan teri asin mentah, air digunakan untuk perendaman ikan teri dengan air garam dan membilas ikan teri setelah diangkat dari rendaman. Untuk pengolahan ikan teri asin rebus, air digunakan sebagai bahan perebusan. Air untuk penanganan atau pengolahan ikan teri harus saniter, berasal dari sumber air yang diijinkan dengan angka coliform (Angka Paling Memungkinkan - APM) maksimum 2 untuk 100 ml air. Air tersebut bertekanan minimal 145,26 gr/cm (20 pound per square inchi).
Air untuk pencucian ikan teri harus disalurkan terpisah dan tidak berhubungan silang dengan sistem saluran air kotor. Air untuk tujuan pencucian dan pengolahan, sebelum dipakai harus disaring atau dengan perlakuan lain sehingga air menjadi bersih (Dewan Standarisasi Nasional, 1994).
b) Garam
Dalam pengolahan ikan teri, garam digunakan untuk menurunkan kadar air dalam ikan sehingga dapat menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk. Sebagai bahan pengawet, kemurnian garam sangat mempengaruhi mutu ikan yang akan diasinkan. Bila digunakan garam (NaCl) murni, ikan akan berwarna putih kekuningan dan lunak. Garam yang digunakan harus bermutu baik yang ditandai dengan warna garam putih dan bersih, garam ini sebaiknya terhindar dari zat-zat lain yang tercampur, kotoran-kotoran dan benda asing lainnya.
Disamping kemurnian garam, ukuran kristal (butiran) garam juga mempengaruhi mutu penggaraman, terutama bila menerapkan metoda penggaraman basah. Kristal garam hendaknya berukuran sedang, tidak terlalu halus dan tidak terlalu besar. Bila kristal garam terlalu besar, pembentukan brine (air asin) terlalu lambat, sehingga memperlambat peresapan garam ke daging ikan. Akibatnya, ikan sudah membusuk sebelum terendam larutan garam. Bila kristal garam terlalu halus, pembentukan larutan garam terlalu cepat dan cepat pula mengalir habis ke bawah. Hal ini mengakibatkan lapisan ikan bagian atas belum terendam larutan garam dan akan membusuk.
Sebaiknya kristal garam yang digunakan bergaris tengah kira-kira 1-5 mm. Untuk ikan-ikan kecil seperti ikan teri nasi, kristal garam yang digunakan harus lebih halus, supaya ikan tidak rusak dan garam lebih mudah meresap. Disamping sebagai bahan pengawet, garam juga berfungsi sebagai pemberi rasa enak. (Moeljanto,1982)
c) Es
Tubuh ikan mengandung kadar air yang tinggi (80%) dan pH tubuh mendekati netral sehingga kondisi seperti ini menjadi media yang baik untuk pertumbuhan bakteri pembusuk. Selain itu, karena daging ikan mengandung tenunan pengikat yang sangat sedikit, maka daging ikan menjadi sangat lunak sehingga mikroorganisme cepat berkembang biak. (Santoso, 1998). Ikan teri setelah ditangkap pada umumnya tidak langsung diolah, karena lokasi penangkapan ikan dilaut yang jauh dari pengolahan yang umumnya ada di darat, sehingga terdapat tenggang waktu antara pasca penangkapan dengan pengolahan. Untuk mencegah kerusakan dan pembusukan ikan teri sebelum ke pengolahannya, maka digunakan es sebagai bahan pembantu pencegahan pembusukan.
Es harus dibuat dari air bersih yang memenuhi syarat air minum dan dalam penggunaannya es harus disimpan di tempat yang bersih dan terhindar dari kontaminasi dari luar.
d. Tenaga Kerja dan Upah
Tenaga kerja yang terlibat dalam pengasinan ikan teri tidak perlu memiliki ketrampilan khusus. Tenaga kerja laki-laki maupun perempuan umumnya mampu mengerjakan tahap-tahap pengasinan ikan teri.
Berdasarkan informasi yang diperoleh pada saat survey lapangan di Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon dan di Desa Dadap Baru, Kecamatan Juntinyuwat, Kabupaten Indramayu, diperoleh keterangan bahwa jumlah tenaga kerja tetap biasanya lebih sedikit dari tenaga tidak tetap karena faktor tangkapan ikan teri yang tergantung pada musim. Pada saat tangkapan ikan teri meningkat, para pengusaha akan menambah tenaga
kerjanya, umumnya tenaga kerja tambahan ini banyak dipekerjakan pada saat perebusan dan penjemuran. Tenaga kerja tetap maupun tidak tetap yang bekerja di pengasinan ikan teri umumnya adalah masyarakat sekitar lokasi pengasinan.
Upah tenaga kerja pada usaha pengasinan ikan teri ini bervariasi di masing-masing daerah. Upah ditentukan berdasarkan pengalaman dan jenis pekerjaan yang dilakukan. Di Medan, tenaga kerja tetap yang sudah berpengalaman mendapat upah antara Rp 20.000,- hingga Rp 40.000,- per hari, sedangkan tenaga kerja tidak tetap dibayar antara Rp 6.000,- hingga Rp 7.000,- per hari. Di Indramayu, tenaga kerja tetap mendapat upah sebesar Rp 20.000,- per hari, tenaga kerja tidak tetap laki-laki yang tergolong remaja mendapat upah sebesar sebesar Rp 10.000,- per hari dan tenaga tidak tetap wanita mendapat upah sebesar Rp 12.000,- per hari. Sistem pengupahan yang diterapkan salah satu responden di Kecamatan Gebang dan yang umumnya berlaku di wilayah sekitar memiliki perbedaan dengan pengupahan di lokasi survey lain. Di wilayah ini, sistem pengupahan dikenal dengan istilah tonase, di mana besarnya upah untuk sekelompok pekerja ditentukan berdasarkan jumlah ikan teri yang akan diasinkan. Misalkan sekelompok tenaga kerja tetap sebanyak 4 orang yang mengasinkan ikan teri sebanyak 1 ton ikan teri maka upah keempat tenaga kerja adalah Rp 100.000, apabila terdapat tenaga kerja tambahan, maka tenaga kerja tambahan ini akan mendapat upah sebesar 25% dari Rp 100.000 untuk setiap 1 ton ikan teri basah yang akan diasinkan. Sistem pengupahan seperti ini membuat pendapatan pekerja berfluktuasi menurut tinggi rendahnya hasil tangkapan ikan teri, dan dari sisi pengusaha, kerugian untuk membayar upah pekerja pada saat hasil tangkapan ikan teri menurun dapat diminimalisir.
e. Teknologi
Usaha pengasinan ikan teri nasi ini menggunakan teknologi sederhana karena dalam proses pengasinannya belum menggunakan mesin-mesin dan peralatan berat, canggih dan komputer. Pengasinan ikan teri nasi ini menggunakan peralatan yang dapat diperoleh dengan mudah dan tersedia di dalam negeri.
Salah satu peralatan yang digunakan adalah lemari pendingin (cold storage) yang berfungsi mencegah kerusakan ikan. Demikian pula pada waktu pengiriman ikan teri nasi ke negara tujuan ekspor, ikan teri tersebut harus dikirim dengan kontainer yang dilengkapi lemari pendingin.
f. Proses dan Metode Produksi
Metode pengasinan ikan teri yang umum dilakukan dibagi menjadi dua. Pertama, pengasinan ikan teri dengan cara perebusan (outputnya disebut ikan teri asin rebus), dan kedua pengasinan ikan teri dengan cara
penggaraman (outputnya disebut ikan teri asin mentah). Dari hasil survey lapangan diketahui bahwa sebagian besar pengasinan ikan teri dilakukan dengan perebusan. Pengasinan ikan teri dengan kedua cara di atas umumnya masih menggunakan teknologi sederhana dan tradisional.
Bagan 4.1. Metode Pengasinan Ikan Teri
A. Tahap-tahap kegiatan pengasinan ikan teri nasi adalah: 1). Persiapan (metoda penggaraman dan perebusan)
a. Penimbangan
Penimbangan dilakukan dengan menggunakan timbangan gantung. Ikan yang akan ditimbang ditempatkan dalam keranjang plastik. Setelah dilakukan penimbangan, ikan teri nasi ditempatkan dalam bak penampungan yang diberi es untuk dibawa ke pencucian.
Foto 4.1. Penimbangan Ikan Teri Nasi
b. Pencucian dan Pemilihan
Sebelum ikan teri nasi diolah, terlebih dahulu dipilih ikan teri yang masih dalam kondisi bagus. Ikan teri nasi yang sudah membusuk sebaiknya tidak diasinkan. Setelah pemilihan selesai, kemudian ikan teri dicuci dengan air dingin untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang tercampur dengan ikan, menghilangkan darah dan lendir. Isi perut dan insang ikan teri yang dicuci ini tidak perlu dibuang. Setelah pencucian pertama dilakukan, kemudian dilakukan pencucian ulang atau pembilasan dengan menggunakan air bersih untuk menghilangkan air laut atau menurunkan kadar garam dalam ikan. Sebelum dilakukan perebusan, ikan teri nasi terlebih dahulu direndam dalam air es kurang lebih 10 menit.
Foto 4.2. Ikan Teri Nasi Sebelum diolah Dicuci dan Direndam Es
Sumber: Rosdiana Sijabat, PSEKP - UGM, 2004 2). Kegiatan inti
a. Metoda Perebusan
Setelah pencucian, proses selanjutnya adalah perebusan. Perebusan dilakukan agar ikan menjadi matang. Pada proses perebusan digunakan garam dengan kadar 5% sampai 6%. Bak perebusan diletakkan pada tungku yang terbuat dari tembok semen. Api yang digunakan bersumber dari kompor bertekanan dengan bahan bakar minyak tanah. Minyak tanah dari drum akan dipompa oleh dinamo ke kompor. Sebelum perebusan, air terlebih dahulu dididihkan setelah ditambahkan garam. Setelah air mendidih, ikan teri yang sudah dimasukkan ke dalam keranjang plastik kemudian dimasukkan ke dalam rebusan air dan suhu perebusan sekitar 100oC sampai 103oC dan dibiarkan kurang lebih 5-7 menit. Selama dalam air rebusan, dilakukan pengadukan untuk meratakan panas dan menghilangkan busa pada keranjang perebusan. Kemudian, ikan teri yang sudah
matang yang ditandai dengan warnanya yang putih dan mengambang dipermukaan air diangkat dan ditiriskan. Dengan menggunakan alat bantu ikan teri tersebut diratakan dan diletakkan di atas pepean.
Foto 4.3. Tungku Perebusan Ikan Teri
Sumber: Rosdiana Sijabat, PSEKP - UGM, 2004 Foto 4.4. Proses Perebusan Ikan Teri
b. Metoda Penggaraman
Penggaraman hanya dilakukan pada pengasinan ikan teri mentah. Penggaraman cara ini dikenal dengan penggaraman kering, dilakukan dengan melumuri ikan dengan garam.
Prosedur yang dilakukan pada metoda ini adalah sebagai berikut. Setelah ikan teri basah dicuci, kemudian diletakkan pada wadah yang sesuai dengan jumlah ikan, ikan teri ini kemudian ditaburi garam. Bagian atas ikan teri ini diberi garam lebih banyak. Karena garam bersifat menarik air dan dengan terdapatnya lapisan air di permukaan ikan, maka akan terbentuk larutan garam yang dapat merendam seluruh tumpukan ikan. Jumlah garam biasanya berkisar antara 20% -30%. Informasi yang diperoleh dari pengasin ikan teri mentah di Kabupaten Cirebon menunjukkan bahwa 1 kwintal ikan teri basah biasanya membutuhkan sekitar 30 kilogram garam. Ukuran ikan teri menentukan jangka waktu penggaraman, namun kisaran jangka waktu penggaraman tersebut adalah sekitar 5 - 15 jam. Selain dengan cara melumuri ikan teri dengan garam, penggaraman ikan teri juga dapat dilakukan dengan cara merendam ikan teri dalam air garam.
Foto 4.5. Bak Perendaman Ikan Teri Dengan Garam
Sumber: Rosdiana Sijabat, PSEKP - UGM, 2004
c. Penirisan (Metoda Perebusan dan Penggaraman)
Setelah ikan teri nasi direbus atau digarami, langkah berikutnya adalah pengipasan dengan menggunakan kipas angin. Ikan teri nasi dalam keranjang plastik diletakkan di pepean dan didinginkan dengan menggunakan blower atau kipas angin selama 5-10 menit. Tujuan
pengipasan ini adalah untuk mengurangi kadar air teri nasi setelah direbus sehingga mempercepat proses pengeringan. Pengipasan juga dapat menurunkan panas pada ikan teri nasi setelah dari perebusan.
Foto 4.6. Ikan Teri Nasi Diletakkan Merata di atas Pepean
Sumber: Rosdiana Sijabat, PSEKP - UGM, 2004 d. Pengeringan
Tujuan pengeringan adalah mengurangi kadar air dalam daging ikan sampai batas tertentu, agar menghambat perkembangan mikroorganisme dan juga perubahan-perubahan yang merugikan dalam daging ikan akibat enzim-enzim. Setelah melalui pengeringan, ikan dapat disimpan lebih lama.
Pengeringan/penjemuran ikan teri asin yang dijual di pasar dalam negeri dan pasar luar negeri memiliki perbedaan. Ikan teri asin yang
direncanakan dijual di dalam negeri harus dikeringkan sampai benar-benar kering dan harus dijemur di sinar matahari. Setelah ikan teri direbus, diletakkan di atas pepean, dan dijemur di bawah sinar matahari. Selama penjemuran, ikan senantiasa dibalik-balik secara berkala agar pengeringan merata pada seluruh permukaan ikan. Durasi penjemuran ikan teri ini tergantung dari kondisi cuaca. Jika sinar matahari tinggi, ikan teri selesai dijemur dalam waktu kurang dari setengah hari. Namun jika panas matahari tidak begitu tinggi, ikan teri, terutama ikan teri jenis besar perlu dijemur sampai 2 hari. Ikan teri yang rencananya dipasarkan ke luar negeri, tidak perlu dikeringkan melalui penjemuran menggunakan sinar matahari. Pengeringan ikan teri untuk seperti ini biasanya hanya dengan penirisan. Setelah ikan teri nasi selesai direbus dan diangin-anginkan, ikan teri nasi ini disimpan ke dalam cold storage.
Foto 4.7. Penjemuran Ikan Teri Nasi
Foto 4.8. Ikan Teri Nasi Dijemur
Sumber: Rosdiana Sijabat, PSEKP - UGM, 2004
e. Sortasi (Metoda Perebusan dan Penggaraman)
Sortasi dilakukan untuk memisahkan ikan teri nasi berdasarkan mutu dan ukurannya. Sortasi ini juga bertujuan membersihkan ikan teri nasi dari ikan lain yang masuk ke pengolahan ikan teri nasi serta kotoran yang ikut tertangkap. Sortasi biasanya dibagi 2, yakni sortasi jenis dan sortasi ukuran. Sebelum memasuki sortasi ini, ikan teri nasi terlebih dahulu diayak. Pengayakan dilakukan untuk memisahkan ikan teri yang rusak selama perebusan dan penjemuran, tetapi sulit untuk dikeluarkan pada tahap penyortiran karena biasanya pecahan-pecahan ikan teri ini berada pada bagian bawah tumpukan ikan.
Foto 4.9. Setelah Dijemur, Ikan Teri Nasi Diayak
Sumber: Rosdiana Sijabat, PSEKP - UGM, 2004
Sortasi Jenis
Sortasi jenis bertujuan memisahkan ikan teri nasi dari campuran ikan jenis lain yang tergabung dengan teri nasi, seperti ikan buntal, ikan layur, dll. Sortasi dilakukan secara manual dengan menggunakan tenaga kerja wanita.
Sortasi Ukuran
Teri nasi yang telah disortir kemudian dibawa keruangan ber-AC untuk melalui sortasi tahap berikutnya dengan menggunakan kipas angin. Sortasi ukuran bertujuan untuk memisahkan ikan teri nasi menjadi beberapa kelompok dengan ukuran yang berbeda. Caranya dengan menjatuhkan ikan teri nasi di depan kipas angin, sehingga teri nasi tertiup jatuh ke bawah dengan jarak dari kipas angin sekitar 0,5 meter. Ikan yang berukuran besar akan jatuh di dekat kipas angin, ikan yang berukuran sedang dan kecil akan jatuh agak jauh dari kipas angin.
3). Pengemasan (Metoda Perebusan dan Penggaraman)
Kemasan mempunyai peranan penting dalam mempertahankan mutu bahan. Adanya pengemasan akan mencegah terjadinya kerusakan yang disebabkan
oleh mikroba, fisik, kimia dan perubahan suhu; Syarief dkk, 1988 dalam (Priyastanto, Tjahjono dan Riniwati, 1998, hal. 69).
Pengemasan dilakukan dengan memasukkan ikan teri ke dalam kantong plastik. Tiap kantong misalnya diisi dengan ikan teri sebanyak 1 kg, kemudian kantong plastik ditutup rapat dengan alat penutup plastik yang dinamakan sealer. Udara di dalam kantong diupayakan seminimum mungkin untuk menghindari terjadinya pencemaran udara.
Bahan kemasan teri harus kuat, mempunyai permeabilitas yang rendah terhadap uap, air, gas dan bau, tidak mudah ditembus lemak dan minyak dan tidak menulari produk. Karton (kardus) yang digunakan untuk ikan teri yang siap dipasarkan harus kuat, kedap air, dan tahan kotor. Karton sebaiknya dilapisi lilin, plastik, kombinasi lilin dengan plastik atau vernish, baik pada salah satu atau kedua permukaannya. Karton harus mempunyai bentuk dan ukuran yang cukup untuk produk yang dibungkusnya. Master karton untuk pengemasan dalam perdagangan besar harus ringan dan kuat dan memberikan perlindungan. Contoh yang baik misalnya; paperboard dan corrugated paperboard. Master karton harus diikat dengan pita plastik atau tali untuk memberikan kekuatan tambahan, (Dewan Standarisasi Nasional, 1994).
Untuk ikan teri yang dikemas dalam bungkusan plastik, pengemasan harus dilakukan dengan kuat agar tidak terdapat kerusakan pada plastik, kemudian kemasan plastik ini ditutup dengan sealer.
Foto 4.10. Ikan Teri Nasi Dikemas
4). Penyimpanan
Ikan teri yang ditujukan untuk ekspor membutuhkan media penyimpanan yang dapat mencegah kerusakan dini ikan tersebut. Setelah melalui seluruh proses pengolahan, ikan teri yang akan diekspor dimasukkan ke dalam karton, kemudian ditutup dengan baik dan dimasukkan ke cold storage. Penyimpanan dalam cold storage menggunakan suhu -18oC sampai -20oC dan suhu maksimal -25oC. Tumpukan karton ikan teri di lemari pendingin harus tersusun rapi agar sirkulasi udara dingin dapat merata ke seluruh karton yang berisi ikan teri.
Foto 4.11. Ikan Teri Nasi Disimpan di Cold Storage
Sumber: Rosdiana Sijabat, PSEKP - UGM, 2004
g. Jumlah, Jenis dan Mutu Produksi
Menurut Djuhanda (1981), spesies ikan teri sangat banyak di antaranya adalah Stolephorus celebicus, Stolephorus baganensis, Stolephorus insularis, Stolephorus zollingeri dan spesies lainnya.
Jumlah produksi ikan teri tergantung pada ketersediaan bahan baku utama, yaitu ikan teri basah. Ikan teri yang umum dikenal di Indonesia adalah ikan teri nasi dan ikan teri besar, seperti teri pulau dan teri jengki. Setiap 1 kg ikan teri nasi basah yang diasinkan akan menghasilkan 0,5 kg teri nasi asin. Mutu produksi ikan teri di Indonesia umumnya sudah baik, khususnya ikan teri yang diekspor. Ikan teri ekspor tersebut umumnya harus mendapatkan pengujian mutu dan standar kelayakan ekspor dari instansi yang berwenang. Agar memiliki sertifikat kelayakan ekspor, maka proses pengolahan ikan teri harus sesuai dengan kriteria yang sudah ditentukan.
h. Produksi Optimum
Kendala yang mungkin timbul dalam usaha pengasinan ikan teri adalah ketergantungan ketersediaan bahan baku terhadap pemberian alam. Hasil tangkapan ikan teri sangat dipengaruhi oleh musim. Pada bulan-bulan tertentu seperti bulan April hingga Oktober tangkapan ikan teri nasi menurun. Pada saat pasang mati di laut dan musim penghujan tangkapan ikan teri juga menurun, bahkan sangat sedikit. Kondisi seperti ini menyebabkan kontinuitas produksi tidak bisa berlangsung dengan baik sepanjang tahun.
Selain itu, perkembangan hasil tangkapan dewasa ini menunjukkan adanya penurunan hasil tangkapan ikan teri nasi. Penurunan ini disebabkan beberapa faktor, antara lain semakin maraknya penggunaan bom peledak untuk menangkap ikan, adanya tumpang tindih tangkapan ikan teri nasi dengan stok ikan lain, dan maraknya penangkapan ikan oleh nelayan asing di perairan Indonesia.
Dari sisi produsen, produksi ikan teri nasi pada usaha skala kecil yang masih banyak dilakukan di Indonesia sebagian besar masih bersifat tradisional dengan mutu produk yang masih rendah.
Melihat kendala-kendala yang umumnya ditemui pada usaha pengasinan ikan teri nasi ini, maka sebaiknya pengusaha perlu memperbaiki pola produksi baik dengan mempergunakan alat produksi atau teknologi yang lebih maju