• Tidak ada hasil yang ditemukan

6.1 Analisis Aspek Non Finansial

6.1.4 Aspek Sosial

Analisis terhadap aspek sosial dilakukan untuk mempelajari keberadaan peternakan ulat sutera ini dilihat dari sisi sosialnya. Faktor lingkungan juga dapat memberikan pengaruh positif maupun negatif pada peternakan ini. Berdasarkan hasil observasi, keberadaan peternakan ulat sutera di Desa Karyasari memberikan pengaruh yang positif bagi masyarakat dan lingkungan sekitar. Beberapa pengaruh yang diberikan peternakan diantaranya:

1) Kesempatan kerja

Berdirinya peternakan ulat sutera di Desa Karyasari telah membuka kesempatan kerja bagi penduduk sekitar. Lima orang penduduk sekitar telah mendapat kepercayaan untuk mengelola lahan murbei milik Bapak Baidin.

59 Penduduk sekitar juga dilibatkan dalam pengerjaan kandang untuk pemeliharaan ulat sutera.

2) Pemanfaatan lahan tidur

Ketersediaan pakan tanaman murbei untuk ulat sutera ternyata tidak selamanya dapat terpenuhi bila hanya mengandalkan hasil dari lahan milik Bapak Baidin saja. Untuk itu, dilakukan kemitraan dengan 10 orang penduduk sekitar yang memiliki lahan yang tidak produktif di pekarangan rumahnya untuk ditanami tanaman murbei. Setelah tanaman tersebut memasuki masa panen, hasilnya akan dibeli dengan harga Rp 300,- per rantingnya, sehingga selain untuk memanfaatkan lahan yang tidak produktif, dengan adanya peternakan ulat sutera ini juga mendatangkan penghasilan tambahan bagi penduduk sekitar. Namun kemitraan ini hanya bertahan satu tahun karena mitra yang dibina Bapak Baidin tidak melakukan pemeliharaan terhadap tanaman murbei yang ada.

3) Ramah lingkungan

Keberadaan peternakan ulat sutera juga memberikan pengaruh yang positif bagi lingkungan. Lahan yang ditanami tanaman murbei akan terjaga kesuburannya karena sifat dari tanaman murbei yang mampu mengikat oksigen dalam tanah. Selain itu lahan yang ditanami tanaman murbei dapat ditumpangsarikan sehingga dapat lebih memaksimalkan potensi lahan.

Pemeliharaan ulat sutera tidak menghasilkan limbah yang merugikan bagi lingkungan. Kotoran yang dihasilkan ulat sutera bahkan dapat dijadikan pupuk organik kualitas baik dan untuk pakan ikan.

Berdasarkan hasil analisis terhadap aspek sosial, keberadaan peternakan ulat sutera di Desa Karyasari banyak memberikan manfaat bagi penduduk dan lingkungan sekitar yang sifatnya intangible benefit dan tidak menimbulkan efek negatif, sehingga jika dilihat dari aspek sosial usaha ini layak untuk dilaksanakan.

6.2 Analisis Aspek Finansial

Analisis kelayakan finansial dilakukan pada penelitian ini untuk mengetahui kelayakan usaha peternakan ulat sutera dari sisi finansial menguntungkan atau tidak. Dalam penelitian ini, analisis kelayakan finansial

60 menggunakan 4 kriteria kelayakan usaha yaitu Net Present Value (NPV), Net B/C,

Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Period. Untuk melakukan

perhitungan, digunakan beberapa asumsi, yaitu:

1. Umur proyek peternakan ulat sutera di Desa Karyasari, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor diperoleh berdasarkan umur ekonomis dari tanaman murbei. Penetapan tanaman murbei sebagai variabel yang dijadikan lamanya umur proyek karena usaha peternakan ulat sutera sangat bergantung pada keadaan tanaman murbei. Tanaman murbei memiliki umur ekonomis selama 15 tahun.

2. Kandang pemeliharaan ulat sutera merupakan variabel yang memiliki umur ekonomis terlama dalam proyek yaitu 20 tahun. Namun demikian, umur ekonomis kandang pemeliharaan tidak dijadikan batasan umur proyek karena dalam usaha peternakan ulat sutera, faktor yang paling mempengaruhi adalah ketersediaan dan keadaan tanaman murbei sebagai pakan ulat sutera.

3. Biaya investasi dikeluarkan pada tahun pertama usaha, karena persiapan pemeliharaan hanya membutuhkan waktu 6 bulan dan diasumsikan awal investasi berada pada bulan pertama di tahun yang pertama.

4. Dalam 1 tahun terdapat 12 kali musim pemeliharaan ulat sutera, artinya peternakan ini mampu berproduksi kokon setiap satu bulan sekali.

5. Modal yang digunakan dalam usaha ini berasal dari modal sendiri.

6. Penentuan harga yang digunakan dalam perhitungan adalah harga yang berlaku pada saat penelitian dilakukan dan diasumsikan konstan hingga umur proyek berakhir.

7. Lahan murbei merupakan lahan pribadi sehingga dalam analisis digunakan pendekatan sewa lahan sebagai opportunity cost sebesar Rp 5.000.000,-/Ha/tahun.

61 9. Harga bibit ulat sutera ukuran instar III yang diperoleh diasumsikan tetap sebesar Rp 105.000,- per boks. Jumlah harga pembelian ini sudah termasuk pembelian dus sebagai wadah bibit ulat sutera. Dus yang ada akan dipakai kembali untuk membawa kokon hasil produksi ke CV Batu Gede.

10.Penyusutan barang investasi menggunakan metode garis lurus. Perhitungan beban penyusutan dilakukan untuk perhitungan laba-rugi yang akan menghasilkan besarnya pajak penghasilan yang harus dibayar oleh pemilik usaha setiap tahunnya.

11.Perhitungan besarnya pajak penghasilan berdasarkan Pasal 17 Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000 tentang Tarif Umum PPh Wajib Pajak Badan Dalam Negeri dan Bentuk Usaha Tetap.

12.Tingkat keberhasilan pemeliharaan ulat sutera sebesar 80% dari jumlah bibit awal. Penentuan besarnya tingkat keberhasilan berdasarkan pengalaman usaha selama ini.

13.Tingkat suku bunga yang digunakan dalam analisis adalah tingkat suku bunga deposito rata-rata Bank Indonesia pada tahun 2008, yaitu sebesar 9%. Tingkat suku bunga diasumsikan konstan selama masa umur proyek. 14.Harga jual kokon rata-rata per musim pemeliharaan yang dipakai adalah

Rp 23.000,- per Kg. Kokon yang dihasilkan pada usaha kondisi saat ini adalah kokon grade B.

15.Upah tenaga kerja per harinya adalah sebesar Rp 20.000,- per orang. 16.Pada analisis finansial skenario II, jumlah bibit ulat sutera yang dipelihara

dalam satu musim pemeliharaan menjadi 4 boks dan diasumsikan konstan hingga akhir umur proyek.

17.Pada analisis finansial skenario III, jumlah bibit ulat sutera yang dipelihara dalam satu musim pemeliharaan menjadi 12 boks dan diasumsikan konstan hingga akhir umur proyek.

62 Analisis kelayakan finansial pada penelitian ini akan dibagi menjadi 3 skenario berdasarkan kegiatan usaha yang telah dilakukan dan rencana pengembangan usaha ini ke depan. Pada skenario I, analisis kelayakan finansial yang dilakukan berdasarkan pada kenyataan di lapangan saat ini, dimana usaha belum berproduksi kokon secara optimal. Sedangkan untuk skenario II dan III, analisis kelayakan finansial yang dilakukan berdasarkan rencana pengembangan usaha di masa datang. Pada skenario II, optimalisasi produksi kokon akan dilakukan dengan memanfaatkan luasan lahan murbei yang ada saat ini dan pada skenario III, akan dilakukan analisis kelayakan finansial pada perluasan lahan murbei dan kapasitas produksi kokon.

6.2.1 Analisis Kelayakan Finansial Skenario I (Kondisi Usaha Saat ini,