DAFTAR PUSTAKA
III. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian
4.3 Aspek sosial .1 Aspek budaya
Sebagian besar penduduk daerah Rejang Lebong adalah bersuku Rejang. Suku Rejang ini memiliki budaya yang dapat menjadi daya tarik wisata. Terutama produk-produk budaya yang menjadi ciri Khas kabupaten Rejang Lebong, antara lain: Rumah Adat Rejang, Tarian Daerah, Batik Kaganga, Kerajinan Tangan, dan Makanan Khas Daerah Rejang.
4.3.2 Aspek ekonomi
Sebagian besar penduduk di sekitar kawasan adalah petani palawija. Hal ini menyebabkan sebagian besar lahan di sekitar kawasan dimanfaatkan sebagai lahan perkebunan palawija. Komoditas utama dari kawasan ini adalah tanaman sayuran, cabai, dan stroberi.
Hubungan antara masyarakat sekitar dengan kawasan wisata DMHB cukup erat. Sebagaian masyarakat memanfaatkan kawasan sebagai tempat untuk berdagang terutama untuk menjual hasil bumi daerah setempat kepada pengunjung seperti stroberi, dan arbei. Sebagian penduduk juga memanfaatkan
danau sebagai tempat memancing atau menjala ikan. Keberadaan kawasan wisata DMHB juga memberikan sumber pendapatan tambahan bagi penduduk setempat. Kegiatan ekonomi yang dilakukan penduduk di sekitar kawasan DMHB antara lain: menjual stroberi kepada pengunjung, membuka rumah makan, membuat seran rekreasi seperti penginapan dan kolam pemancingan, dan lain-lain.
Gambar 14: Produk budaya khas Suku Rejang
4.4 Aspek pengunjung
Kawasan DMHB termasuk salah satu kawasan wisata yang menjadi tujuan wisata utama di Kabupaten Rejang Lebong. Para wisatawan yang mengunjungi kawasan ini berasal dari Kota Curup, Lubuk Linggau, Bengkulu, Kepahiang, dan beberapa daerah lain yang ada disekitar Kabupaten Rejang Lebong.
Menurut Dinas Kepariwisataan dan Kebudayaan (2005) rata-rata pengunjung yang mengunjungi kawasan DMHB pada tahun 2005 adalah antara
(b) Rumah Adat Rejang (a) Tarian daerah
1.500–1.750 pengunjung setiap bulannya. Terjadi perkembangan jumlah wisatawan yang mengunjungi kawasan DMHB sejak tahun 1999 hingga tahun 2006 seperti yang tertera pada diagram berikut :
Gambar 15. Grafik jumlah pengunjung kawasan wisata DMHB Tahun 2004-2011 (BPS, 2011)
Menurut hasil wawancara dengan pihak pengelola didapatkan informasi bahwa jumlah pengunjung terbanyak yang datang di kawasan adalah pada hari libur bahkan saat libur lebaran jumlah pengunjung bisa mencapai 2500 orang. Hal ini membuktikan bahwa kawasan DMHB memerlukan perluasan agar kawasan dapat menampung pengunjung yang lebih banyak dan mencegah terjadinya kerusakan sebagai akibat dari pengunjung yang melebihi daya dukung kawasan.
4.4.1 Aktivitas pengunjung
Pengunjung yang datang ke kawasan biasanya melakukan beberapa aktivitas rekreasi. Dari data yang didapat di lapangan ada beberapa aktivitas yang biasanya dilakukan pengunjung di kawasan wisata DMHB ini antara lain:
0 10000 20000 30000 40000 50000 60000 70000 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Jumlah pengu njung (orang) Tahun
(a) (b)
Gambar 16: Kegiatan Pengunjung di Kawasan DMHB (a. berbelanja di kios, b. Melakukan outbond)
• Piknik
Kawasan Wisata DMHB merupakan salah satu tempat wisata keluarga. Banyak pengunjung yang datang merupakan keluarga yang menghabiskan waktu luang untuk menikmati suasana di kawasan DMHB ini. Pada umumnya mereka melakukan piknik di kawasan DMHB ini. Kegiatan ini didukung dengan tersedianya lapangan rumput yang banyak terdapat di kawasan DMHB. Terdapat beberapa titik yang menjadi tempat favorit bagi pengunjung untuk berpiknik terutama di tepi danau.
Gambar 17: Kegiatan Piknik di kawasan DMHB • Memancing
Danau yang terdapat di kawasan DMHB memiliki daya tarik tersendiri bagi peminat olah raga pancing. Kondisi alam yang masih alami dan danau yang memiliki banyak ikan menjadi nilai lebih kawasan ini. Namun sayangnya kegiatan pemancingan ini tidak dikelola oleh pengelola kawasan.
• Berperahu
Berperahu mengarungi danau merupakan kegiatan utama bagi pengunjung. Ada beberapa pilihan yang dapat diambil oleh pengunjung untuk mengarungi danau yaitu perahu motor, sepeda air dan rakit.
Gambar 18. Kegiatan Berperahu di kawasan DMHB • Bermain
Kegiatan bermain adalah kegiatan yang dilakukan oleh pengunjung usia anak-anak dan remaja. Hal ini didukung dengan adanya arena bermain yang tersebar di kawasan wisata DMHB ini.
Gambar 19. Kegiatan Bermain di kawasan DMHB
4.7 Status kawasan
Berdasarkan SK Bupati No.461 Tahun 2002 menetapkan kawasan DMHB sebagai Kawasan Otorita Khusus Wisata. Hal ini berarti kawasan DMHB menjadi kawasan yang diperuntukkan untuk kegiatan kepariwisataan dan Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong terus melakukan pembangunan fasilitas pendukung dan infrastruktur lainnya untuk pengembangan objek wisata tersebut. Dengan dikeluarkannya SK tersebut maka kawasan DMHB menjadi kawasan wisata yang
pengelolaannya diatur oleh Pemerintah Daerah (Pemda) kabupaten Rejang Lebong dan menjadi salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Rejang Lebong. Dalam pengelolaannya kawasan DMHB ini dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Rejang Lebong.
4.5 Aspek pengelola
Kawasan DMHB merupakan Kawasan Otorita Khusus Wisata yang merupakan milik Pemkab Rejang Lebong. Pengelolaan kawasan ini ditangani oleh Disbudpar Kabupaten Rejang Lebong, namun sejak tahun 2008 dilakukan kerja sama dengan pihak swasta dalam mengelola kawasan DMHB. Bentuk kerjasama ini ialah berupa kontrak kerja. Dalam kontrak tersebut pihak swasta diberikan kuasa untuk mengelola kawasan DMHB dan harus membayar uang sewa yang telah ditetapkan dalam kontrak ke Disbudpar Kabupaten Rejang Lebong. Pada tahun 2010 jumlah uang sewa yang harus diberikan ialah sebesar Rp. 31.500.000,- setahun dan uang tersebut menjadi PAD Kabupaten Rejang Lebong.
Pihak swasta yang mengelola kawasan DMHB ialah Bapak Budi Prayitno. Beliau menggunakan 12 karyawan tetap untuk mengelola kawasan DMHB ini. Namun pada hari libur jumlah karyawan dapat bertambah terutama karena beberapa atraksi yang hanya ditawarkan pada hari libur seperti banana boat dan flying fox. Pengelolaan yang dilakukan belum terorganisir dengan baik dan bersifat insidentil sehingga kondisi kawasan tidak terawat dengan baik.
Adapun pembagian kerja karyawan dalam mengelola kawasan DMHB adalah sebagai berikut:
• Penjaga loket
Loket penjualan tiket yang terletak di pintu gerbang memiliki fungsi ganda yaitu sebagai tempat penjualan tiket masuk sekaligus menjadi pos penjagaan pintu masuk. Hal ini menambah rasa aman kepada pengunjung yang datang ke kawasan DMHB. Selain itu petugas yang menjual tiket juga melakukan penghitungan jumlah pengunjung harian yang datang mengunjungi kawasan DMHB.
• Penjaga lapangan parkir
Kawasan DMHB memiliki lapangan parkir yang cukup luas. Hal ini disebabkan oleh pengunjung yang kebanyakan menggunakan kendaraan pribadi untuk mencapai kawasan wisata ini. Penjagaan dilakukan dengan sistem tiket sehingga keamanan kendaraan lebih terjamin dan mengurangi kemungkinan terjadinya pencurian kendaraan. Adapun tugas dari penjaga lapangan parkir adalah mengatur keluar masuknya kendaraan, mengatur posisi parkir kendaraan untuk memudahkan jalur keluar masuk kendaraan, membantu pengunjung dalam memarkirkan kendaraannya, menjaga keamanan kendaraan yang diparkirkan. Tarif yang dikenakan lebih tinggi daripada tarif parkir rata-rata di sekitar kawasan yaitu Rp. 2.000 untuk kendaraan roda dua dan Rp. 3.000 untuk kendaraan roda empat.
• Petugas kebersihan
Petugas kebersihan bertugas untuk menjaga kebersihan kawasan. Hal tersebut dilakukan dengan mengadakan penyapuan kawasan pada pagi dan sore hari dan pengosongan kotak sampah setiap sore hari.
• Pengemudi perahu motor
Petugas ini bertugas untuk mengoperasikan perahu motor dan membawa pengunjung mengelilingi danau sesuai dengan jalur yang telah ditentukan.
• Petugas penjaga sepeda air
Petugas penjaga sepeda air bertugas untuk menyewakan sepeda air. Apabila penyewa menginginkan maka petugas dapat menjadi pengemudi sepeda air yang mereka sewa. Selain itu petugas ini juga mengawasi penggunaan sepeda air agar penyewa tetap berada pada daerah perairan yang aman untuk bersepeda air. Petugas ini juga berkewajiban untuk memperhatikan kondisi sepeda air dan merawatnya agar tigak membahayakan pengunjung.
• Operator Banana Boat
Operator Banana Boat ini bertugas untuk mengemudikan Speed Boat yang menarik Banana Boat dan memastikan penyewa menggunakan peralatan keamanan seperti tali pengaman dan pelampung.
• Operator Flying Fox
Tugas yang dilakukan oleh operator Flying Fox ini berupa memasang peralatan keselamatan seperti helm, pelindung siku dan lutut, dan tali pengaman. Ada juga petugas yang bertugas untuk mengoperasikan Flying Fox, dan ada petugas yang meredam laju pengunjung yang meluncur ketika ia sampai agar tidak menabrak pohon.
Tabel 7. Jumlah karyawan berdasarkan pembagian kerja.
No Jenis pekerjaan Jumlah karyawan
1. Penjaga loket 1
2. Penjaga lapangan parkir 3
3. Petugas kebersihan 3
4. Pengemudi perahu motor 3
5. Petugas penjaga sepeda air 2
6. Operator Banana Boat* 2
7. Operator Flying Fox* 3
Jumah 17 Ket: * hanya bertugas saat hari libur.
V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Analisis
5.1.1 Aspek fisik
5.1.1.1 Lokasi dan aksesibilitas tapak
Terdapat dua akses utama yang dapat digunakan sebagai akses menuju kawasan DMHB. Hal tersebut sering menimbulkan kesulitan terutama dalam mengatur lalu lintas pengunjung. Hal ini dapat diatasi dengan membuat jalur akses yang lebih lebar atau dengan mengubah arah lalu lintas keluar masuk kawasan menjadi satu arah dengan menjadikan satu pintu masuk dan satu keluar. Hal ini akan memudahkan pengaturan lalu-lintas menuju kawasan.
Keberadaan signage (penanda) di sekitar pintu masuk perlu ditambah. Hal ini dilakukan untuk menambah daya tarik kawasan dan serta memberi identitas bagi kawasan. Selain itu keberadaan signage juga memberi peringatan kepada pengguna jalan agar lebih berhati-hati karena mendekati pintu masuk kawasan DMHB.
Keberadaan pintu masuk kawasan yang berada tepat di area cekungan dan jalan disekitar kawasan ialah jalan menikung cukup membahayakan pengunjung yang ingin masuk menuju kawasan DMHB. Selain itu gerbang yang sekaligus berfungsi sebagai tempat pembelian karcis posisinya terlalu dekat dengan jalan raya sehingga antrian yang terbentuk dapat menimbulkan kemacetan. Untuk itu perlu diadakan pengubahan letak pintu masuk kawasan.
5.1.1.2 Tanah
Tanah andosol yang memiliki tekstur gembur sangat mudah diolah dan dimanfaatkan untuk bercocok tanam BAPEDDA (2007). Namun teksturnya ini juga menyebabkan tanah andosol rentan terhadap erosi. Untuk itu perlu diadakan perlindungan terhadap erosi terutama pada area dengan kemiringan >15% terutama pada bagian tepi danau. Hal ini dilakukan untuk mencegah erosi yang dapat mengurangi kesuburan tanah sekaligus mencegah sedimentasi yang dapat mengakibatkan pendangkalan danau.
5.1.1.3 Topografi
Kawasan DMHB dengan topografi perbukitannya memiliki kemiringan yang bervariasi mulai dari datar (0-5%), landai (5-15%), miring (15-40%), dan curam (>40%). Kondisi topografi yang bervariasi ini menjadi daya tarik tersendiri karena bentukan lereng dengan ketinggian bervariasi dapat menjadi potensi estetika secara visual dan menghilangkan kesan monoton pada tapak. Karena itu pemanfaatan tapak harus mempertimbangkan kemiringan agar tidak merusak estetika yang telah terbentuk secara alami.
1. Daerah yang relatif datar (kemiringan 0-8%) terdapat pada bagian hulu danau (barat laut). Daerah ini dapat dimanfaatkan secara optimal untuk berbagai macam aktifitas. Daerah ini dapat dimanfaatkan sebagai area rekreasi utama dan dapat dimanfaatkan sebagai area dengan aktifitas padat seperti area parkir dan bangunan-bangunan yang cukup berat. Namun pemanfaatan juga harus mempertimbangkan daya dukung tapak agar tidak memberikan efek negatif bagi lingkungan. Saat ini daerah ini dimanfaatkan sebagai lahan pertanian oleh penduduk setempat.
2. Daerah yang landai (kemiringan 8-15%) menempati daerah hulu dan sebagian di daerah hilir tapak terutama di bagian tepi danau. Daerah ini cukup sesuai untuk kegiatan rekreasi dengan intensitas sedang. Pemanfaatan seperti pembangunan fasilitas penunjang rekreasi dapat dilakukan namun perlu mempertimbangkan keberadaan daerah yang dekat dengan tepi danau
3. Daerah yang miring (kemiringan >15%) tersebar di seluruh bagian tapak. Area ini hanya dapat dimanfaatkan sebagai area rekreasi dengan intensitas rendah karena mempertimbangkan potensi terjadinya erosi dan longsor. Pemanfaatan yang dilakukan haruslah bersifat konservatif seperti area terbuka hijau alami atau kegiatan rekreasi tertentu yang memiliki intensitas rendah seperti penjelajahan (cross country) dan pendakian (hiking). Fasilitas penunjang rekreasi yang dapat dibangun hanya yang bersifat ringan dan terbatas seperti jalur tracking dan lain-lain.
5.1.1.4 Tata guna lahan
Sebagian besar kawasan di sekitar DMHB merupakan kawasan perkebunan palawija. Hal ini meningkatkan kemungkinan terjadinya erosi dan tanah longsor. Selain itu penggunaan pupuk dan pestisida juga dapat berdampak pada pencemaran air danau dan mengganggu keseimbangan ekosistem alami di kawasan wisata DMHB. Karena itu perlu diadakan penataan ulang untuk menjaga kelestarian kawasan DMHB sendiri.
Penataan ulang yang dilakukan harus mempertimbangkan pada aspek fisik dan ekologis tapak. Pada bagian kritis seperti area dengan kemiringan curam dialih fungsikan menjadi area konservasi. Lalu pada bagian sempadan danau penggunaan lahan dibatasi sebagai area rekreasi dan konservasi sehingga kegiatan rekreasi yang dikembangkan di area sempadan berupa kegiatan rekreasi alam atau kegiatan rekreasi lain yang bersifat ringan seperti tracking.
5.1.1.5 Hidrologi
Ketinggian air DMHB sangat dipengaruhi oleh iklim, sehingga di saat musim kering permukaan air danau menjadi surut. Pembentukan ruang terbuka hijau yang berfungsi sebagai area resapan sekaligus penyimpanan air tanah sangat membantu mempertahankan ketinggian permukaan air danau. Selain itu perlu diadakan penanaman di sempadan danau untuk mencegah terjadinya pendangkalan serta bila perlu diadakan pengerukan untuk memperdalam danau.
Kualitas air danau yang tidak jernih dikarenakan banyaknya bahan organik yang terkandung dalam air danau. Hal ini membutuhkan tindakan jangka panjang untuk memperbaiki kualitas air danau. Tindakan yang dilakukan dapat bersifat preventif seperti melaksanakan peraturan tentang larangan membuang sampah di sekitar kawasan, penanaman semapadan danau dengan tanaman yang memiliki rhizopus pada akarnya sehingga mampu menyerap zat N yang terkadung di dalam air sekaligus menjadi pelindung dari erosi, dan menanam tumbuhan air yang dapat menyerap zat pencemar di dalam air seperti Eceng Gondok (Ecchhornia crasippes). Namun populasinya harus tetap dikontrol agar tidak mengganggu kegiatan wisata air seperti berperahu.
Danau memiliki arus yang cukup tenang meski ada beberapa bagian danau yang memiliki arus yang berpusar sehingga berbahaya untuk diarungi. Oleh karena itu perlu adanya peringatan seperti rambu-rambu dan perencanaan ruang wisata perairan agar kenyamanan dan keselematan pengunjung dapat terjaga.
5.1.1.6 Iklim
Kawasan DMHB memiliki iklim pegunungan dengan suhu rata-rata kawasan cukup dingin. Untuk itu perlu adanya ruang-ruang yang terbuka dan mendapat sinar matahari untuk meningkatkan suhu di kawasan. Selain itu penggunaan wana-warna panas seperti merah dapat meningkatkan suhu karena memantulkan hawa panas. Namun penggunaaannya harus dijaga agar tidak berlebihan karena warna panas memantulkan cahaya lebih banyak dari warna sejuk dan dapat menyilaukan pandangan. Perkerasan juga mampu meningkatkan suhu udara kawasan namun untuk penggunaanya harus tetap terkontrol sehingga tidak menyebabkan resapan air tanah menjadi sedikit. Oleh karena itu perkerasan yang digunakan ialah perkerasan yang memiliki pori-pori sehingga dapat memberi jalan masuk bagi air menuju ke lapisan dibawahnya. Penggunaan perkerasan seperti Paving blok dan Turflbok juga dapat digunakan karena perkerasan ini memiliki celah yang dapat dilalui air untuk menyerap ke tanah.
Angin yang bertiup di kawasan DMHB cukup kencang. Hal ini diakibatkan oleh keadaan topografi yang berupa cekungan, badan air yang cukup luas, dan kondisi kawasan yang terbuka tanpa adanya tanaman yang mampu menjadi penahan angin. Penanaman tanaman dapat mengurangi kecepatan angin hingga 50% dan dapat memperbaiki kualitas udara karena dapat berfungsi sebagai penyaring udara. Selain itu gerakan tanaman yang tertiup angin mampu memberikan kesan dinamis dan suara desiran angin.
5.1.1.7 Vegetasi dan Satwa
• Vegetasi
Vegetasi pada tapak sebagian besar berupa tanaman pertanian. Tanaman pertanian yang terdapat di kawasan sebagian besar berupa tanaman palawija seperti tanaman sayur-mayur dan tanaman bumbu. Hal tersebut
dapat menimbulkan bahaya erosi terutama pada area pertanian yang memiliki kemiringan >15%. Kendala lain selain bahaya erosi dan longsor pengolahan tanah berlebihan dapat menyebabkan pencemaran air danau dan merusak lingkungan. Namun, lahan pertanian ini juga dapat menjadi salah satu potensi wisata sebagai kawasan wisata pertanian.
• Satwa
Ada terdapat banyak jenis satwa yang berada di kawasan ini. Satwa yang ada antara lain berupa beberapa jenis burung dan ikan. Sebagian besar satwa berada pada bagian tepi danau yang dangkal dan jauh dari area yang dikunjungi manusia. Keberadaan satwa ini dapat menjadi atraksi wisata bagi kawasan DMHB dengan aktifitas wisata seperti bird watching dan memancing namun sayangnya saat ini belum dikelola dengan baik sehingga tidak terkontrol. Untuk itu perlu diadakan perlindungan pada habitat satwa dan pengawasan terhadap populasi satwa yang ada di kawasan DMHB.
5.1.2Aspek Wisata 5.1.2.1 Objek wisata
Objek wisata utama pada kawasan DMHB adalah danau beserta lingkungan alami. Keberadaan danau ini menjadi daya tarik utama karena danau sangat jarang dijumpai di Kabupaten Rejang Lebong dan sekitarnya. Karena itu perlu diadakan perlindungan terhadap keberadaan danau ini agar terjaga kelestariannya dan tetap terjaga kealamiannya.
Objek wisata eksisting yang dimiliki kawasan DMHB dapat dibagi menjadi dua jenis atraksi wisata yaitu wisata air dan wisata darat. Pembagian ini dimaksudkan untuk mempermudah proses perencanaan pengembangan wisata kawasan DMHB.
Wisata darat yang ada di kawasan kurang dikembangkan dengan optimal. Jenis objek wisata darat yang ditawarkan kawasan DMHB saat ini ialah playground dan Flying Fox. Kedua objek wisata darat yang ada di kawasan saat ini dinilai kurang menarik dan belum dikelola dengan baik. Untuk itu perlu
diadakan pengembangan wisata di kawasan DMHB yang sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
Objek wisata air yang ditawarkan di Kawasan DMHB berupa Banana Boat, Sepeda Air, dan Perahu Motor. Ketiga jenis objek yang ditawarkan ini dinilai kurang maksimal karena jumlah perahu yang sedikit dan kondisinya yang kurang nyaman untuk digunakan. Untuk itu perlu diadakan penambahan jumlah perahu dan perlu dicari bentuk alternatif objek wisata air yang lain untuk mampu menambah daya tarik terhadap kawasan.
Tabel 8. Analisis objek wisata berserta kondisi dan solusinya
No Jenis Objek Wisata Kondisi Solusi
1 Wisata Darat.
Playground 1. Struktur bangunan
sudah rapuh dan bisa membahayakan pengguna. 2. Keberadaan arena
bermain yang tersebar di kawasan memberi kesan sedikit dan membuat pengunjung kawsan tidak terlalu tertarik untuk menggunakannya.
1. Perbaikan pada struktur yang sudah rapuh. 2. Perlu adanya pembagian ruang sehingga arena bermain menjadi lebih terpusat.
Flying Fox 1. Hanya difungsikan pada
hari libur saja. 2. Jumlah unit terlalu
sedikit
3. Kondisi masih baik
1. Menambah hari operasional. 2. Menambah jumlah
unit Flying Fox 2. Wisata Air Banana Boat 1. Kondisi masih baik
2. Aktif hanya pada hari libur besar.
Menambah hari operasional Sepeda Air 1. Kondisi kurang baik
karena perawatan yang kurang memadai 2. Jumlah yang sedikit
sehingga pengunjung harus mengantri untuk menaikinya.
Perbaikan dan penambahan unit sepeda air.
Perahu Motor 1. Jumlah hanya sedikt. 2. Kondisi perahu yang
kurang nyaman sehingga mengurangi nilai kepuasan saat mengelilingi danau.
Perbaikan dan penambahan jumlah unit perahu motor.
Selain objek wisata yang telah ada, salah satu potensi wisata tapak adalah pemandangan alamnya yang masih alami. Pada tapak terdapat view yang indah pada beberapa sudut pandang oleh karena itu diperlukan pembentukan vista yang
baik dan pengaturan koridor sirkulasi agar agar keindahan view menjadi semakin menonjol. Objek view yang menarik antara lain:
1. Pemandangan danau dengan pulaunya terutama apabila dilihat dari dataran yang lebih tinggi yaitu bagian timur danau sehingga keseluruhan bentuk danau dapat terlihat dengan jelas.
2. Pemandangan tebing dengan pepohonannya. Pemandangan ini terdapat pada sebelah timur tapak dengan pandangan terbaik apabila dilihat dari sebelah barat tapak. Pemandangan ini berupa barisan pepohonan yang seolah-olah membentuk dinding yang mengarahkan pandangan ke arah langit sekaligus menjadi transisi antara danau dengan langit. Apabila keadaan danau cukup tenang maka pantulan pepohonan pada permukaan danau juga dapat menambah keindahan view.
3. Pemandangan area pertanian. Kawasan pertanian dengan barisan tanamannya pada bagian utara danau juga memiliki nilai view yang bagus pada tapak. View ini memiliki kualitas pemandangan yang indah dan dapat menambah kualitas view pada tapak.
(a) (b)
(c) (d)
Gambar 22. View menarik yang ada di tapak (a. danau dari sebelah timur kawasan; b. pepohonan di pinggir danau; c pepohonan dan d. kawasan pertanian)
5.1.2.2 Fasilitas wisata
Fasilitas yang terdapat di kawasan masih dinilai kurang memberikan kenyamanan kepada pengunjung kawasan. Untuk itu fasilitas wisata yang ada di kawasan perlu ditambahkan dan diperbaiki kondisinya. Selain itu ada juga fasilitas yang belum ada di tapak namun dirasa perlu untuk diadakan seperti pusat informasi, kantin, dan fasilitas tambahan lain yang mampu menunjuang akifitas wisata dan menambah kenyamanan bagi pengguna.
Desain fasilitas wisata pada kawasan masih terkesan fungsional tanpa memiliki kesan estetis untuk itu perlu penambahan elemen-elemen dekoratif untuk memberikan nilai tambah pada keindahan tapak. Desain fasilitas seharusnya sesuai dengan identitas tapak dan lingkungan sekitarnya agar tidak menimbulkan kontras yang memberikan kesan negatif pada tapak.
5.1.3 Aspek budaya
Kebudayaan penduduk setempat merupakan salah satu potensi wisata yang bisa dikembangkan pada kawasan DMHB. Selain menambah daya tarik nilai budaya ini juga dapat memberikan indentitas pada kawasan. Bentuk nilai budaya yang bisa dikembangkan dapat berupa pengadakan event-event budaya pada