• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2. Kondisi Masyarakat di Wilayah Studi

4.2.2. Aspek Teknis

H. Interaksi Sosial Masyarakat

Interaksi sosial adalah peristiwa saling mempengaruhi antar pribadi dan

saling berkomunikasi antar pribadi atau dalam masyarakat secara dinamis (Haryanto, 2011). Kegiatan seperti penyuluhan/pemicuan khususnya tentang pemanfaatan jamban/penampung tinja yang benar dan tanpa adanya pencemaran lingkungan jarang dilakukan oleh kedua Kelurahan tersebut.

4.2.2. Aspek Teknis

Persoalan dan kendala terkait sanitasi dalam aspek teknis, antara lain

sebagai berikut:

A. Kondisi Lingkungan

Kondisi lingkungan menjadi salah satu persoalan dan kendala dalam pemenuhan kebutuhan sanitasi masyarakat di Kelurahan Jambangan dan Karah. Kondisi lingkungan ini meliputi wilayah dikelilingi sungai, kelayakan tangki septik/ cubluk (Jarak tangki septik/cubluk terhadap sumur gali), akses masyarakat terhadap sanitasi (sistem pengurasan dan jenis penampung tinja tangki septik/cubluk), muka air tanah dan permeabilitas tanah.

a) Wilayah dikelilingi Sungai

Masyarakat di Kelurahan Jambangan dan Karah sudah melakukan ODF (Open Defication Free) yang memiliki penampung tinja sejenis tangki septik/cubluk. Mayoritas responden di Kelurahan Jambangan khususnya di daerah bantaran sungai sebagaian besar menggunakan jenis penampung tinja cubluk sebanyak 73,75 % dengan total 80 responden. Jenis penampung tinja cubluk yang digunakan untuk responden dimana air nya yang dibuang langsung ke sungai tanpa pengelolaan lebih lanjut dan tanpa adanya resapan.

Sedangkan permasalahan di Kelurahan Karah yang di bantaran sungai, sebagian besar responden melakukan sistem pengurasan dilakukan dengan gotong-royong antar warga namun hasil pengurasan tersebut langsung dibuang ke sungai, hal ini dilakukan yang bertujuan untuk menghemat biaya pemeliharaan. Prilaku responden di Kelurahan Jambangan dan Karah yang sudah melakukan

41

BAB di tempat tetapi masih mencemari lingkungan sekitar, maka perlu dilakukan tindak lanjut bagi warga yang dibantaran sungai tersebut.

Menurut Permenkes 3 tahun (2014) definisi dari jamban sehat yaitu memutus mata rantai penularan penyakit yang artinya pembuatan tangksi septik/ cubluk yang berfungsi sebagai penampung limbah kotoran manusia (tinja dan urine). Bagian padat dari kotoran manusia akan tertinggal dalam tangki septik, sedangkan bagian cairnya akan keluar dari tangki septik dan diresapkan melalui bidang/sumur resapan. Jika tidak memungkinkan dibuat resapan maka dibuat suatu filter untuk mengelola cairan tersebut tanpa harus membuang langsung ke sungai atau selokan.

b) Kelayakan Tangki septik/cubluk

Kelayakan Tangki septik/cubluk yang ditinjau dari jarak sumur dengan tangki septik. Sebagian besar responden di Kelurahan Jambangan dan Karah menggunakan sumur gali untuk keperluan keperluan mencuci piring, cuci pakaian dan siram-siram tanaman.

Jarak tangki septik dengan sumur gali sebagian kecil masih belum memenuhi standart yang ditetapkan. Jarak tangki tangki septik ke sumur gali di Kelurahan Jambangan yang berjarak < 5 meter sebesar 5,4 %, jarak tangki septik ke sumur gali 5 – 10 meter sebesar 36,49 % sedangkan yang berjarak 10 meter sebesar 35,59 %. Di Kelurahan Karah Jarak tangki tangki septik ke sumur gali yang berjarak < 5 meter sebesar 5,71 %, jarak tangki septik ke sumur gali 5 – 10 meter sebesar 23,67 % sedangkan yang berjarak 10 meter sebesar 24,49 %.

Jarak tangki septik terhadap sumur gali harus sesuai dengan SNI 03-2398-2002 tentang cara perencanaan tangki septik dengan sistem resapan air adalah > 10 meter. Apabila tidak memenuhi standart jarak tangki septik hal ini akan mengakibatkan pencemaran air tanah yang mengakibatkan penularan penyakit yang disebabkan oleh E.coli, merupaka hasil dari bakteri yang dihasilkan oleh tinja. Hasil jarak sumur terhadap tangki septik /cubluk dapat dilihat pada Gambar 4.11 dan 4. 12 sebagai berikut.

42

Gambar 4.11. Jarak tangki septik/cubluk dengan Sumur Gali di Kelurahan Jambangan

Gambar 4.12. Jarak tangki septik/cubluk dengan Sumur Gali di Kelurahan Karah

c) Akses Masyarakat Terhadap Sanitasi

Parameter dari indikator akses masyarakat terhadap sanitasi yaitu sarana pemeliharaan (pengurasan).

Penyedotan tinja yang dilakukan di Kelurahan Jambangan dan kelurahan karah menggunakan sedot tinja. Periode untuk tiap pengurasan penampung tinja di tiap Kelurahan memiliki periode pengurasan tangki penampung tinja yang berbeda - beda. Komposisi periode pengurusan terakhir di Kelurahan Jambangan dan Karah dapat dilihat pada Gambar 4.13 dan 4.14 sebagai berikut.

0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 Tak punya sumur < 5 m 5- 10 m Lebih dari 10 m Jum la h R e spo nde n ( o ra ng )

Jarak Tangki Septik/Cubluk Dengan Sumur (m) Area I Area II Area III 0 5 10 15 20 25 30 35 Tak punya sumur < 5 m 5- 10 m Lebih dari 10 m Jum la h R e spo nde n (o ra ng )

Jarak Tangki Septik/Cubluk Dengan Sumur (m)

Area I Area II Area III

43

Gambar 4.13. Periode Pengurasan tangki septik/cubluk Responden di Kelurahan Jambangan

Gambar 4.14. Periode Pengurasan tangki septik/cubluk Responden di Kelurahan Karah

Dari hasil survey yang di dapatkan periode pengurasan di Kelurahan Jambangan perlakukan tidak pernah dilakukan pengurasan di Area I sebanyak 41,25 % dari total keselurahan 80 responden. Perlakuan ini terjadi di area I dikarenakan masa kepimilikan jamban masih 2 tahun, dengan adanya program bantuan dari KOPWAN (Koperasi Wanita) di Kelurahan untuk membangun jenis penampung tinja cubluk, bantuan ini dilakukan merata bagi penduduk yang di dekat bantaran sungai yang memiliki ekonomi rendah/tinggi. Dana yang dipinjamkan untuk pembangunan penampung tinja sebesar Rp.750.000, dengan sistem pembayaran cicilan Rp. 50.000/bulan. Periode pengurasan di area II

0 5 10 15 20 25 30 35 40 Tidak Pernah

< 2 tahun 2- 5 tahun Lebih dari 5 tahun Jum la h R e spo nde n (o ra ng )

Periode Pengurasan (tahun)

Area I Area II Area III 0 10 20 30 40 50 Tidak Pernah

< 2 tahun 2- 5 tahun Lebih dari 5 tahun Jum la h R e spo nde n (o ra ng )

Periode Pengurasan (tahun)

Area I Area II

44

mayoritas dilakukan lebih dari 5 tahun sebanyak 52,70 % sisanya yang melakukan pengurasan kurang dari 5 tahun. Sedangkan untuk area III mayoritas periode pengurasan selama 5 tahun dengan presentase 44,11 % dengan jumlah 68 responden.

Dari hasil survey yang di dapatkan periode pengurasan untuk di Kelurahan Karah di bantaran sungai yang tidak pernah melakukan pengurasan dikarenakan warga masyarakat sekitar langsung membuang ke sungai secara langsung. Periode pengurasan di area I mencapai presentase tertinggi berada di periode lebih dari 5 tahun sebanyak 50,61% dengan total keseluruhan 81 responden. Di area II presentase tertinggi berada di periode pengurasan 2-5 tahun sebanyak 45,78% dan periode pengurasan lebih dari 5 tahun sebanyak 38,55%, sedangkan area III mayoritas penduduk melakukan pengurasan dengan periode 5 tahun. Menurut studi EHRA, 2013 ukuran tangki septik apabila belum pernah dikosongkan atau dikuras paling tidak sekali dalam kurun waktu 5 tahun, maka perlu dicurigai bahwa klaim responden sebagai tangki septik sebetulnya adalah cubluk.

Berdasarkan teknologi pengelolahan air limbah pada sistem setempat, terdiri dari tangki septik dan cubluk. Kelurahan Jambangan di area I mayoritas menggunakan cubluk sebesar 73,75% sisanya memakai tangki septik yang menggunakan resapan. Area II responden yang menggunakan cubluk sebesar 51,35% dan sisanya yang menggunakan tangki septik sedangkan di area III mayoritas responden menggunakan tangki septik yang menggunakan sistem resapan dengan h = 1,5 meter, dengan 2 resapan , d = 0,8 meter yang terbuat kedap air sebanyak 55,89%. Kelurahan Karah di area I dan II mayoritas menggunakan cubluk sebesar 54,32 % dan 53,01%. Area III mayoritas menggunakan jenis penampung tinja tangki septik yang sesuai dengan standart yang ada resapannya sebesar 61,72% yang sisanya menggunakan jenis cubluk.

Kesimpulan hasil presentase, mayoritas tertinggi di Kelurahan Jambangan menggunakan jenis cubluk sebesar 57,20 %, mayoritas di area I dan II. Hal ini dikarenakan di area I sangat berdekatan dengan sungai aliran kali Surabaya. Masyarakat langsung membuang hasil limbahnya ke sungai langsung. Di Kelurahan Karah mayoritas responden menggunakan tangki septik sebesar 51,42

45

% yang mayoritas di area II dan area III. Kepemilikan tangki septik dan cubluk ini yang sangat ketergantungan dengan pengurasan yang secara rutin yang dilakukan 2-5 tahun. Hasil komposisi kepemilikan septik tank atau jenis cubluk tiap kelurahan dapat dilihat pada Gambar 4.15 dan 4.16 sebagai berikut.

Gambar 4.15. Jenis Penampung Tinja di Kelurahan Jambangan

Gambar 4.16. Jenis Penampung Tinja di Kelurahan Karah

a) Proses Pencemaran air tanah terbagi menjadi 2 yaitu dari Muka air

tanah dan Permeabilitas

Berdasarkan laporan CAT kota Surabaya (2013) bahwa jenis tanah di wilayah studi berupa alluvial kelabu tua. Jenis tanah tersebut memiliki kemampuan yang rendah dalam meresapkan air sehingga permeabilitas tanah rendah. Menurut laporan CAT Surabaya (2013) bahwa ketinggian muka air tanah di wilayah studi

0 10 20 30 40 50 60 70

Area I Area II Area III

Jum la h R e spo nde n (o ra ng )

Jenis Penampung Tinja

TS Cubluk 0 10 20 30 40 50 60

Area I Area II Area III

Jum la h R e spo nde n (o ra ng )

Jenis Penampung Tinja

TS

46

yang mencapai 1 - 2 meter katagori sedang. Hal ini sangat berpengaruh dengan pencemaran terhadap sumur dangkal terhadap tangki septik yang ada di wilayah sekitar. Hasil survey bahwa kedalaman tangki septik/cubluk di area studi mempunyai kedalaman sekitar 1,5 meter. Bawasannya kedalaman tangki septik mencapai 1,5 meter yang tidak jauh beda dengan tinggi muka air tanah dengan ketinggian 1 – 2 yang mempunyai jarak 0,5 meter maka akan berpotensi mencemari air tanah.

Semakin banyaknya pencemaran maka akan mengubah jenis kualitas dan kuantitas tanah tersebut. Ciri fisik air yang tercemar yaitu air sumur yang berbau, bersifat keruh dan mengandung nilai E.coli yang melibihi 0 ml/air. Kedalaman muka air tanah di area studi dapat dilihat pada Gambar 4.17.

Gambar 4.17. Kedalaman Muka Air Tanah (BLH Kota Surabaya, 2013)

e) Kualitas Air Tanah

Kualitas air tanah adalah kondisi kualitatif air yang diukur atau diuji berdasarkan parameter-paramer tertentu. Hasil kualitas air tanah yang meninjau dari parameter coliform yang bertujuan untuk mengetahui tingkat pencemaran yang bersumber dari penampung tinja yang berjenis tangki septik/cubluk.

Dokumen terkait