DAFTAR ISTILAH
PETA PENELITIAN DI KABUPATEN ACEH JAYA
2 Aspek teknis
Aspek teknis merupakan aspek yang berhubugan dengan pengoperasian alat tangkap ikan, purse seine sebagai unit penangkapan yang paling produktif menangkap ikan dan layak untuk dikembangkan. Keunggulan purse seine pada beberapa kriteria panjang kapal, lebar, GT, bahan kapal, perlengkapan kapal dan alat bantu penangkapan. Haluan dan Nurani (1988) menyatakan unit penangkapan purse seine
adalah unit penangkapan ikan pelagis yang paling produktif. Lebih lanjut Dahuri (2003) mengatakan salah satu ciri teknologi penangkapan ikan modern adalah memiliki produktifitas yang tinggi.
Keunggulan lain pada purse seine adalah karakteristik alat tangkap penangkapan ikan alasan nelayan mengoprasikan alat tangkap, dimana alat tangkap tersebut dapat diopersikan pada siang hari maupun malam hari sehingga nelayan dapat memancing ikan pada malam hari untuk mencari tambahan diluar penghasilan tetap pada alat angkap purse seine. Rendahnya persepsi nelayan terhadap pengembangan alat penangkapan ikan disebabkan karena alat tangkap tersebut membutuhkan biaya investasi yang sangat mahal diantara jenis alat tangkap yang dioperasikan di Kabupaten Aceh Jaya. Investasi yang demikian tinggi berdampak pada terhadap kemampuan dan jumlah kepemilikan alat tangkap dimana hanya pada pengusaha perikanan tertentu yang dapat menjangkau investasi tersebut. Oleh karena itu kepemilikan alat tangkap purse seine tanpa dukungan pemerintah sangat sulit bagi nelayan skala kecil dapat berinvestasi pada usaha penangkapan purse seine.
3 Aspek sosial
Secara umum pada aspek sosial pancing tonda sebagai prioritas unggulan utama pada fokus kriteria tingkat pendidikan, pengalaman kerja sebagai nelayan, kemungkinan kepemilikan dan pendapatan nelayan. Karena pancing tonda merupakan alat tangkap yang paling dominan diterima oleh nelayan di Kabupaten Aceh Jaya secara turun temurun serta secara teknis mudah dioperasikan.
Hal yang terpenting salah satu faktor yang membuat pancing tonda lebih menonjol dari alat tangkap lain yaitu unit penangkapan tersebut dapat digunakan untuk menangkap ikan pelagis besar, tetapi juga dapat dialihkan berbagai jenis alat tangkap yang dapat dioperasikan dengan kapal tersebut seperti tramel net, hand line, rawai dasar, dan gil net sehingga mengakibatkan tingginya angka kepemilikan pada pancing tonda. Disamping hal tersebut kurangnya perhatian pemerintah daerah terhadap pengembangan perikanan tangkap seperti sarana dan prasarana yang mendukung perikanan tangkap di Kabupaten Aceh Jaya, baik bentuk kapal maupun jenis alat tangkap yang lebih efektif dan sesuai dengan alat tangkap yang digunakan, sehingga pemamfaatan sumberdaya ikan di perairan aceh jaya dapat dimanfaatkan secara optimal. Hasil standarisasi fungsi nilai pada kriteria aspek sosial pancing tonda sebagai prioritas utama kriteria kedua pada unit penangkapan gill net dan ketiga pada unit penangkapan purse seine.
4 Aspek Finansial
Fokus utama pada kriteria finansial secara umum meliputi biaya invstasi kapal, alat tangkap, biaya operasional, biaya perawatan, pendapatan per tahun, pendapatan kotor per tenaga kerja. Berdasarkan hasil pada Tabel 28 pancing tonda merupakan unit penangkapan yang paling unggul dan menjadi prioritas utama. Hal ini dapat dipahami karena pancing tonda merupakan unit penangkapan yang paling efektif dari segi biaya-biaya yang dikeluarkan lebih kecil dibandingkan dengan unit penangkapan lainnya.
Pada unit penangkapan gill net kriteria-kriteria yang unggul dari unit penangkapan pancing tonda yaitu hanya kriteria harga BBM dilokasi, selanjutnya kriteria yang lainnya hampir mendekati kriteria yang unggul pada unit penangkapan pacing tonda. Sedangkan pada unit penangkapan purse seine kriteria yang lebih unggul yaitu kriteria pendapatan kotor, pendapatan perjam, dan harga BBM dilokasi.
Berdasarkan hasil standarisasi fungsi nilai pada kriteria aspek finansial pancing tonda sebagai prioritas utama sedangkan pada kriteria kedua pada unit penangkapan
gill net dan prioritas ketiga pada unit penangkapan purse seine. Untuk hasil analisis
skoring secara keseluruhan dapat dilihat pada lampiran 10.
Berdasarkan hasil surplus produksi terhadap ikan pelagis besar yaitu cakalang, madidihang dan tongkol memiliki jumlah effot yang berbeda-beda baik yang tertangkap dengan unit penangkapan purse seine, gill net dan pancing tonda. Pada analisis surplus produksi dengan pendekatan empat model penduga purse seine merupakan unit penangkapan yang standar, selanjutnya terhadap unit penangkapan unggulan pancing tonda merupakan unit penangkapan yang layak untuk dikembangnkan di Kabupaten Aceh Jaya berdasarkan beberapa aspek tersebut diatas. Sedangkan untuk pengembangan unit penangkapan terhadap ikan pelagis besar berdasarkan analisis tersebut dapat dikembangkan pancing tonda sebesar 117 unit, gill net 19 unit dan purse seine 3 unit.
5.4.5 Kelayakan Usaha Unit Penangkapan Ikan
Hasil kelayakan pengembangan setiap usaha perikanan tangkap yang banyak dilakukan di Kabupaten Aceh Jaya setelah dilakukan analisis terhadap beberapa parameter kelayakan disajikan pada Tabel 34 Berdasarkan tiga unit penangkapan dari usaha perikanan tangkap tersebut layak dikembangkan di Kabupaten Aceh jaya. Dari tiga usaha perikanan tangkap yang layak tersebut usaha perikanan gill net dan merupakan usaha perikanan yang sangat bagus kelayakan finansialnya. Ketiga usaha unit penangkapan ikan pelagis besar nilai sebagai berikut pancing tonda yaitu NPV Rp 375,453,615 dan IRR Rp 267,163 % untuk B/C ratio, 1,97, selanjutnya untuk
ROI 48,21, dan RTO 217,880,000 RTL 163,410,000 dengan jumlah ABK 2 orang. Pada analisis NPV nilai yang didapat dari unit penangkapan pancing tonda manfaat investasi > 0 artinya usaha penangkapan pada pancing tonda layak dilanjutkan. Sedangkan pada IRR tingkat suku bunga yang dibebankan 9,5 % pada pancing tonda mampu mengembalikan tingkat suku bunga sebesar 124,142 %.
Pada unit penangkapan pancing tonda B/C ratio yang diterima selama operasi penangkapan sebesar 1,97, hal tersebut layak dan menguntungkan karena nilai B/C ratio tersebut lebih besar dari satu, kondisi ini sangat baik dikembangkan bagi usaha pancing tonda dari pada uang tersebut disimpan di Bank. Ada beberapa kemungkinan besar pancing tonda untuk dimasa akan datang tidak layak untuk dijadikan unit
penangkapan pelagis besar karena bahan bakar yang digunakan pancing tonda menggunakan bahan bakar bensin dan minyak tanah, serta terkait dengan harga BBM semakin tinggi, sedangkan dari sisi teknis unit penangkapan tersebut dalam melakukan penangkapan bahan bakar lebih banyak terserap untuk mencari gerombolan ikan.
Selanjutnya pada analisis ROI tingkat pengembalian dari investasi sebesar 48,21 selama operasi penangkapan berarti usaha pada unit penangkapan tersebut mampu mengembalikan selama lebih kurang 3 bulan. Dan penerimaan pemilik (RTO) yang diterima selama operasi penangkapan memberikan nilai yang baik sebesar 217,880,000 kondisi ini lebih besar nilai yang diterima dari pada nilai yang dikeluarkan. Sedangkan pada penerimaan buruh (RTL) pada unit penangkapan pancing tonda juga memberikan nilai sebesar 163,410,000 nilai tersebut cukup layak diterima oleh buruh selama operasi penangkapan berjalan sebesar 1,945,350 per bulan.
Sedangkan untuk unit penangkapan gill net NPV Rp 505,226,479, IRR 119,974 % , B/C ratio 2,32, selanjutnya untuk ROI 15,86 dan RTO 299,272,000, selanjutnya
RTL 149,636,000 dengan jumlah ABK 2-4 ABK. Sedangkan pada unit penangkapan
gill net B/C ratio sebesar 2,32 kondisi ini lebih tinggi dibandingkan dengan pancing tonda dan purse seine, hal tersebut dipengaruhi oleh kondisi daerah penangkapan dari
gill net lebih dekat dengan fishing base yaitu lebih kurang 8-12 mill laut dengan waktu tempuh 1-1.5 jam, sehingga bahan bakar yang dikeluarkan lebih sedikit. Sedangkan dari metode penangkapan gill net alat tangkap yang sudah di turunkan (setting) dibiarkan sehingga bahan bakar yang digunakan lebih sedikit, dalam operasi penagkapan gill net bahan bakar digunakan lebih besar digunakan untuk menuju ke daerah penangkapan dan kembali ke fishing base, dari sisi lain bahan makanan lebih sedikit karena unit penangkapan tersebut tidak melakukan penangkapan berhari-hari.
Selanjutnya pada unit penangkapan purse seine NPV Rp 4,021,356,705, IRR
124,142 %, B/C ratio 2,00, selanjutnya untuk ROI 17,02 dan RTO 2.353,680,000,
RTL 207,677,647 dengan jumlah ABK 17-20 orang. Ketiga usaha perikanan tangkap ini terandalkan dan sangat menguntungkan di Kabupaten Aceh Jaya. Salah satu faktor tersebut diantaranya adalah fishing ground dari unit penangkapan gill net, pancing tonda yang luas dan tidak jauh dari fishing base. Selanjutnya minimnya alat tangkap