• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

2. ASTM D 1687-92

b. Kromium (Cr) ... 6 c. Kompleks Cr ... 7 d. Pengompleks Diphenylcarbazide ... 8 2. Air Tangki Reaktor (ATR)... 8 3. Metode Analisis Spektrofotometri ... 12

a. Antaraksi Energi Cahaya dengan Molekul ... 12 b. Teori Spektrofotometri... 13 c. Pemakaian Hukum Lambert-Beer... 15 d. Keabsahan Hukum Beer... 16 e. Galat dalam Spektrofotometri ... 16 f. Instrumentasi dalam Spektrofotometri... 20 4. Evaluasi Data Analitik ... 25 a. Kesalahan Analisis Kimia ... 25 b. Validasi Metode ... 26 1. Presisi ... 26 2. Akurasi (persen recovery) ... 26 3. Bias ... 26 4. Batas Deteksi... 27 5. Persen D ... 27 6. Persen RSD ... 27 c. Ketidakpastian Pengukuran... 27 1. Simpangan Baku ... 28 2. Banyaknya Pengukuran... 28 3. Ketidakpastian Baku ... 28 4. Derajat Kebebasan ... 28 5. Koefisien Sensitivitas... 28 6. Ketidakpastian Baku Gabungan... 28 7. Ketidakpastian Terentang... 28 d. Uji Signifikan ... 29

xiii

B. Kerangka Pemikiran... 29 C. Hipotesis... 30 BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 31 A. Metode Penelitian... 31 B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 31 1. Tempat Penelitian... 31 2. Waktu Penelitian ... 31 C. Alat dan Bahan... 32 1. Alat... 32 2. Bahan... 33 D. Prosedur Penelitian... 33 1. Persiapan Analisis ... 33 2. Cara Kerja ... 35 a. Metode APHA 3500-Cr ... 35 1. Prosedur Standar Metode ... 35 a. Pembuatan Kurva Kalibrasi ... 36 b. Persiapan Sampel ... 36 c. Penghilangan Mo, Va, Fe, dan Cu ... 36 d. Oksidasi Kromium ... 36 e. Pembentukan Warna dan Pengukuran ... 37 2. Verifikasi... 37 a. Spektrosol Cr... 37 b. Metode Uji Pungut Ulang ... 37 c. Penentuan Limit Deteksi Metode... 38 1. Penentuan Limit Deteksi Alat ... 38 2. Penentuan Limit Deteksi Metode... 38 3. Penentuan Cr+6 dalam ATR ... 38 b. Metode ASTM D 1687-92 ... 39 1. Pembuatan Kurva Kalibrasi ... 39 2. Verifikasi... 39 a. Spektrosol Cr... 39

b. Metode Uji Pungut Ulang ... 39 c. Penentuan Limit Deteksi Metode... 39 1. Penentuan Limit Deteksi Alat ... 39 2. Penentuan Limit Deteksi Metode... 40 3. Penentuan Cr+6 dalam ATR ... 40 c. Metode APHA 3500-Cr Modifikasi... 40 1. Penentuan Kondisi Optimum ... 40 a. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum ... 40 b. Penentuan Waktu Kestabilan Kompleks... 40 c. Optimasi pH ... 41 d. Optimasi Volume Pengompleks... 41 2. Pembuatan Kurva Kalibrasi ... 41 3. Validasi ... 42 a. Spektrosol Cr... 42 b. Metode Uji Pungut Ulang ... 42 c. Penentuan Limit Deteksi Metode... 42 4. Penentuan Cr+6 dalam ATR ... 42 E. Teknik Pengumpulan dan Analisis Data ... 42 1. Teknik Pengumpulan Data... 42 2. Teknik Analisis Data... 45 a. Optimasi Kondisi Percobaan... 45 1. Optimasi Panjang Gelombang... 45 2. Optimasi Waktu Kestabilan ... 45 3. Optimasi pH ... 45 4. Optimasi Volume Pengompleks... 45 b. Verifikasi dan Validasi Metode ... 45 c. Penggunaan Metode dalam Sampel ATR ... 46 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 47 A. Hasil Penelitian ... 47 1. Optimasi Kondisi Pengukuran ... 47 a. Panjang Gelombang ... 47

xv

b. Waktu Kestabilan Kompleks... 48 c. Optimasi pH ... 49 d. Optimasi Volume Pengompleks... 50 2. Verifikasi dan Validasi Metode ... 51 3. Analisis Cr+6 dalam ATR Kartini... 52 B. Pembahasan... 53 1. Optimasi Kondisi Percobaan... 53 a. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum ... 53 b. Optimasi Waktu Kestabilan ... 53 c. Optimasi pH ... 54 d. Optimasi Volume Pengompleks... 54 2. Verifikasi dan Validasi Metode ... 55 3. Analisis Cr+6 dalam ATR Kartini... 56 BAB V PENUTUP... 58 A. Kesimpulan ... 58 B. Saran... 58 DAFTAR PUSTAKA ... 60 LAMPIRAN... 63

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 1 Persyaratan Kualitas ATR Kartini ... 10 Tabel 2 Persyaratan Air Pendingin Primer dan Pemeriksaannya... 11 Tabel 3 Variabel Bebas dan Terikat pada Teknik Pengumpulan Data ... 43 Tabel 4 Bentuk Tabulasi Data Penentuan Waktu Kestabilan Kompleks ... 43 Tabel 5 Bentuk Tabulasi Data Penentuan pH ... 44 Tabel 6 Bentuk Tabulasi Data Penentuan Volume Pengompleks... 44 Tabel 7 Bentuk Tabulasi Data Konsentrasi Cr Standar ... 44 Tabel 8 Bentuk Tabulasi Data Larutan Blangko... 44 Tabel 9 Bentuk Tabulasi Data Larutan Spike ... 44 Tabel 10 Bentuk Tabulasi Data Konsentrasi Sampel ATR... 44 Tabel 11 Nilai Absorbansi Rata-rata pada Optimasi Waktu Kestabilan... 48 Tabel 12 Penentuan Waktu Kestabilan ... 49 Tabel 13 Nilai Absorbansi Rata-Rata pada Optimasi pH ... 50 Tabel 14 Nilai Absorbansi Rata-rata Optimasi Volume Pengompleks... 51 Tabel 15 Hasil Verifikasi dan Validasi Metode... 51 Tabel 16 Hasil Analisis Cr +6 ATR Kartini... 52 Tabel 17 Hasil Pengukuran Ketidakpastian Konsentrasi Cr+6 ATR ... 52

xvii

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 1 Struktur Diphenylcarbazide... 8 Gambar 2 Struktur Diphenylcarbazone... 8 Gambar 3 Struktur Tangki Reaktor... 10 Gambar 4 Spektrum Serap ... 14 Gambar 5 Kurva Standar... 15 Gambar 6 Hukum Beer ... 16 Gambar 7 Grafik Kesalahan Relatif... 19 Gambar 8 Diagram Sederhana Instrumen Spektrofotometri... 21 Gambar 9 Skema Optik UV ... 23 Gambar 10 Tempat Sel... 24 Gambar 11 Sistem Elektrik UV ... 25 Gambar 12 Spektra Kompleks Krom-Diphenylcarbazide ... 47 Gambar 13 Absorbansi Rata-rata Kompleks Cr vs Waktu ... 48 Gambar 14 Grafik Absorbansi Rata-rata Kompleks

Cr-Dipenylcarbazone vs pH... 49 Gambar 15 Grafik Absorbansi Rata-rata Kompleks

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman Lampiran 1 Lampiran Tabel... 63 Lampiran 2 Lampiran Grafik ... 72 Lampiran 3 Perhitungan Untuk Pembuatan Larutan... 79 Lampiran 4 Verifikasi dan Validasi ... 81 Lampiran 5 Ketidakpastian Pengukuran ... 98 Lampiran 6 Uji Statistik Anova ... 107

xix

TABEL LAMPIRAN

Halaman A. Metode APHA 3500-Cr Modifikasi

1. Optimasi Kondisi Percobaan

Tabel 1 Serapan Kompleks pada 1-35 menit ... 63 Tabel 2 Nilai Absorbansi Rata-rata pada Optimasi Waktu Kestabilan... 63 Tabel 3 Nilai Absorbansi Rata-rata pada Optimasi pH... 64 Tabel 4 Nilai Absorbansi Rata-rata pada Optimasi Volume Pengompleks ... 64 2. Validasi Metode

Penentuan Limit Deteksi

Tabel 5 Nilai Absorbansi Hasil Pengukuran Standar... 64 Tabel 6 Nilai Absorbansi dan Konsentrasi Cr+6 Hasil Interpolasi Blangko... 65 Tabel 7 Nilai Absorbansi dan Konsentrasi Cr+6 Hasil Interpolasi Spike ... 65 Validasi dengan Spektrosol

Tabel 8 Nilai Absorbansi Hasil Pengukuran Standar... 65 Tabel 9 Nilai Absorbansi dan Konsentrasi Cr+6 dalam larutan Spektrosol... 65 Validasi dengan Uji Pungut Ulang

Tabel 10 Nilai Absorbansi Hasil Pengukuran Standar... 66 Tabel 11 Nilai Absorbansi dan Konsentrasi Cr + sampel ... 66 Pengukuran Sampel

Tabel 12 Nilai Absorbansi Hasil Pengukuran Standar... 66 Tabel 13 Nilai Absorbansi dan Konsentrasi sampel ... 67 B. Metode APHA 3500-Cr

Penentuan Limit Deteksi

Tabel 14 Nilai Absorbansi Hasil Pengukuran Standar... 67 Tabel 15 Nilai Absorbansi dan Konsentrasi Cr+6 Hasil Interpolasi Blangko... 67 Tabel 16 Nilai Absorbansi dan Konsentrasi Cr+6 Hasil Interpolasi Spike ... 67 Validasi dengan Spektrosol

Tabel 17 Nilai Absorbansi Hasil Pengukuran Standar... 68 Tabel 18 Nilai Absorbansi dan Konsentrasi Cr+6 dalam larutan Spektrosol... 68

Validasi dengan Uji Pungut Ulang

Tabel 19 Nilai Absorbansi Hasil Pengukuran Standar... 68 Tabel 20 Nilai Absorbansi dan Konsentrasi Cr + sample ... 68 Pengukuran Sampel

Tabel 21 Nilai Absorbansi Hasil Pengukuran Standar... 69 Tabel 22 Nilai Absorbansi dan Konsentrasi sample ... 69 C. Metode ASTM D 1687-92

Penentuan Limit Deteksi

Tabel 23 Nilai Absorbansi Hasil Pengukuran Standar... 69 Tabel 24 Nilai Absorbansi dan Konsentrasi Cr+6 Hasil Interpolasi Blangko... 69 Tabel 25 Nilai Absorbansi dan Konsentrasi Cr+6 Hasil Interpolasi Blangko... 70 Validasi dengan Spektrosol

Tabel 26 Nilai Absorbansi Hasil Pengukuran Standar... 70 Tabel 27 Nilai Absorbansi dan Konsentrasi Cr+6 dalam larutan Spektrosol... 70 Validasi dengan Uji Pungut Ulang

Tabel 28 Nilai Absorbansi Hasil Pengukuran Standar... 70 Tabel 29 Nilai Absorbansi dan Konsentrasi Cr + sampel ... 71 Pengukuran Sampel

Tabel 30 Nilai Absorbansi Hasil Pengukuran Standar... 71 Tabel 31 Nilai Absorbansi dan Konsentrasi sampel ... 71

VERIFIKASI DAN VALIDASI A. METODE APHA 3500-Cr

Tabel 32 Serapan Standar Cr... 81 Tabel 33 Absorbansi dan Konsentrasi Cr+6 Hasil Interpolasi Larutan Blangko .. 81 Tabel 34 Absorbansi dan Konsentrasi Cr+6 Hasil Interpolasi Larutan Spike... 82 Validasi dengan Spektrosol

Tabel 35 Serapan Standar Cr... 82 Tabel 36 Serapan dan Konsentrasi dalam spektrosol... 83 Tabel 37 Konsentrasi Cr Spektrosol Hasil Lab dan nilai sebenarnya ... 83 Validasi dengan Uji Pungut Ulang

xxi

Tabel 38 Serapan Standar Cr... 84 Tabel 39 Serapan dan Konsentrasi Cr + sampel ... 84 Tabel 40 Konsentrasi Cr + sample Hasil Lab dan Sebenarnya... 84 Penentuan Cr+6 dalam ATR

Tabel 41 Absorbansi Kurva Standar ... 85 Tabel 42 Absorbansi dan Konsentrasi Sampel dalam ATR... 86 B. Metode ASTM D 1687-92

Tabel 43 Serapan Standar Cr... 86 Tabel 44 Absorbansi dan Konsentrasi Cr+6 Hasil Interpolasi Larutan Blangko .. 87 Tabel 45 Absorbansi dan Konsentrasi Cr+6 Hasil Interpolasi Larutan Spike... 87 Validasi dengan Spektrosol

Tabel 46 Serapan Standar Cr... 88 Tabel 47 Serapan dan Konsentrasi dalam spektrosol... 88 Tabel 48 Konsentrasi Cr Spektrosol Hasil Lab dan nilai sebenarnya ... 89 Validasi dengan Uji Pungut Ulang

Tabel 49 Serapan Standar Cr... 89 Tabel 50 Serapan dan Konsentrasi Cr + sampel ... 90 Tabel 51 Konsentrasi Cr + sampel Hasil Lab dan Sebenarnya... 90 Penentuan Cr+6 dalam ATR

Tabel 52 Absorbansi Kurva Standar ... 91 Tabel 53 Absorbansi dan Konsentrasi Sampel dalam ATR... 92 C. Metode APHA 3500-Cr Modifikasi

Tabel 54 Serapan Standar Cr... 92 Tabel 55 Absorbansi dan Konsentrasi Cr+6 Hasil Interpolasi Larutan Blangko .. 93 Tabel 56 Absorbansi dan Konsentrasi Cr+6 Hasil Interpolasi Larutan Spike... 93 Validasi dengan Spektrosol

Tabel 57 Serapan Standar Cr... 94 Tabel 58 Serapan dan Konsentrasi dalam spektrosol... 94 Tabel 59 Konsentrasi Cr Spektrosol Hasil Lab dan nilai sebenarnya ... 94 Validasi dengan Uji Pungut Ulang

Tabel 61 Serapan dan Konsentrasi Cr + sampel ... 95 Tabel 62 Konsentrasi Cr + sampel Hasil Lab dan Sebenarnya... 96 Penentuan Cr+6 dalam ATR

Tabel 63 Absorbansi Kurva Standar ... 97 Tabel 64 Absorbansi dan Konsentrasi Sampel dalam ATR... 97

xxiii

GAMBAR LAMPIRAN

Halaman 1. Metode APHA 3500-Cr Modifikasi

a. Penentuan Limit Deteksi

Gambar 1 Kurva Standar Cr... 72 b. Validasi

1. Dengan Spektrosol

Gambar 2 Kurva Standar Cr... 72 Gambar 3 Grafik Sampel ... 72 2. Dengan Uji Pungut Ulang

Gambar 4 Kurva Standar Cr... 73 Gambar 5 Grafik Sampel ... 73 c. Analisis Cr+6 dalam ATR Kartini

Gambar 6 Kurva Standar... 73 Gambar 7 Grafik Sampel ... 74 2. Metode APHA 3500-Cr Modifikasi

a. Penentuan Limit Deteksi

Gambar 8 Kurva Standar Cr... 74 b. Verifikasi

1. Dengan Spektrosol

Gambar 9 Kurva Standar Cr... 74 Gambar 10 Grafik Sampel ... 75 2. Dengan Uji Pungut Ulang

Gambar 11 Kurva Standar Cr... 75 Gambar 12 Grafik Sampel ... 75 c. Analisis Cr+6 dalam ATR Kartini

Gambar 13 Kurva Standar... 76 Gambar 14 Grafik Sampel ... 76 3. Metode ASTM D 1687-92

Gambar 15 Kurva Standar Cr... 76 b. Verifikasi

1. Dengan Spektrosol

Gambar 16 Kurva Standar Cr... 77 Gambar 17 Grafik Sampel ... 77 2. Dengan Uji Pungut Ulang

Gambar 18 Kurva Standar Cr... 77 Gambar 19 Grafik Sampel ... 78 c. Analisis Cr+6 dalam ATR Kartini

Gambar 20 Kurva Standar... 78 Gambar 21 Grafik Sampel ... 78

1

BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Kimia air merupakan komponen penting untuk ditangani, terutama pada reaktor penelitian yang telah dioperasikan dalam jangka waktu lama. Hal ini disebabkan air yang tidak memenuhi persyaratan kualitas akan menjadi substansi yang korosif. Air bebas mineral yang digunakan dalam suatu reaktor penelitian, ditampung dalam suatu tangki. Tangki air reaktor pada reaktor penelitian umumnya terbuat dari baja tahan karat 304 untuk tipe 104 dan Aluminium tipe AA 1050. Komposisi dari baja tahan karat 304 (%) adalah C = 0,08; Si = 0,99; Mn = 1,99; Cr = 19,99; Ni = 11,99; P = 0,04; S = 0,03; dan Fe = 64,89 sedangkan komposisi dari aluminium tipe AA 1050 (%) adalah Si = 1,00; Fe = 1,00; Cu = 0,20; Mn = 0,05; Zn = 0,10 dan Al = 97, 64 (Sutjipto, Lahagu, dan Sardjono, 1991).

Logam-logam yang merupakan komponen penyusun tangki reaktor pada suatu reaktor penelitian, seperti yang di reaktor penelitian Kartini dikondisikan dalam keadaan asam. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya korosi pada bahan reaktor yang terbuat dari aluminium dan logam-logam campuran lainnya. Ion-ion logam hasil dari korosi akan larut dalam Air Tangki Reaktor (ATR) yang mengakibatkan paparan radiasi menjadi meningkat dan jika degradasi struktur material reaktor telah melampui batas keselamatan maka umur operasi reaktor tidak dapat lagi diperpanjang (Sumijanto, 2003). Oleh karena itu keberadaan ion- ion logam dalam ATR harus selalu termonitor. Pada keadaan dioperasikan, kontrol dilakukan tiap bulannya. Khusus untuk logam Cr mempunyai nilai ambang yang relatif kecil. Data reaktor Kartini yang diperoleh setiap bulannya dengan metode spektrofotometri serapan atom (SSA) di laboratorium PTAPB BATAN Yogyakarta tidak dapat terdeteksi kandungan ion Cr dalam ATR, dimana limit deteksi metode spektrofotometri serapan atom reaktor Kartini yang digunakan adalah 0,03 ppm untuk Cr (Sumijanto, 2004) sehingga bisa dikatakan kandungan Cr dalam ATR dibawah 0,03 ppm (30 ppb). Menurut Basuki,

2

Sardjono, Sutjipto, Supriyanto, dan Sukarman (2003) nilai kritis ke tingkat bahaya kandungan Cr dalam ATR Kartini adalah 1 ppm. Sebelum mencapai nilai kritis tersebut, kandungan Cr sekecil apapun harus diwaspadai. Karena bila terdapat konsentrasi yang besar, maka korosi yang terjadi pada dinding tangki reaktorpun besar, sehingga tangki air reaktor perlu diganti. Di lain pihak telah diketahui bahwa metode spektrofotometri UV-VIS menunjukkan unjuk kerja yang lebih teliti dalam penentuan kandungan Al dalam ATR Kartini (Khasanah, 2005) dan penentuan kandungan Si dalam ATR Kartini (Rahmawati, 2005) dibandingkan dengan metode spektrofotometri serapan atom (SSA).

Peneliti mencoba menentukan kandungan Cr dalam ATR pada reaktor penelitian dengan metode spektrofotometri UV-VIS. Metode ini diharapkan dapat menentukan ion Cr yang terdapat dalam ATR yang konsentrasinya sangat kecil dengan nilai kisaran yang lebih pasti.

B. Perumusan Masalah 1. Identifikasi Masalah

Permasalahan yang timbul dalam penelitian ini adalah terletak pada metode penentuan Cr dalam ATR dimana dengan instrumen SSA keberadaan ion Cr tidak terdeteksi. Masalah-masalah yang perlu dikaji:

a. Adanya proses operasi pendingin dalam reaktor yang berbeda-beda antara jenis reaktor dimungkinkan mempunyai perbedaan karakter perubahan kondisi misalnya kasus yang terjadi di reaktor penelitian Kartini di Yogyakarta, reaktor Triga Mark II di Bandung dan reaktor G.A Siwabessy di Serpong.

b. Penggunaan metode spektrofotometri untuk penentuan ion Cr berada dalam Cr total harus melalui tahap yang rumit yaitu melalui tahap penghilangan unsur-unsur pengganggu seperti Mo, Va, Fe dan Cu

3

dan ASTM. Dalam metode standar perlu dilakukan verifikasi sedangkan metode non standar perlu dilakukan validasi.

2. Batasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah yang ada, maka batasan masalah pada penelitian ini adalah:

a. Jenis Air Tangki Reaktor (ATR) yang digunakan untuk penentuan ion logam Cr adalah berasal dari ATR Kartini di Yogyakarta.

b. Karena proses yang rumit, penentuan ion logam Cr dengan metode spektrofotometri hanya ditentukan ion Cr (VI). Metode spektrofotometri UV-VIS yang digunakan untuk menentukan kandungan Cr dalam ATR dari reaktor Kartini adalah metode standar APHA 3500-Cr dan ASTM D 1687-92 serta metode non standar APHA 3500-Cr modifikasi.

c. Metode APHA 3500-Cr modifikasi merupakan metode APHA 3500-Cr yang diubah konsentrasi H3PO4 dan H2SO4 . Hal ini dilakukan untuk memastikan konsentrasi asam yang dalam metode aslinya dinyatakan dalam konsentrasi pekat.

3. Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang ada di penelitian ini adalah:

a. Bagaimana kondisi optimum penentuan Cr+6 ATR Kartini dengan menggunakan metode APHA 3500-Cr modifikasi ?

b. Apakah konsentrasi Cr+6 ATR Kartini dapat ditentukan dengan metode spektrofotometri UV-VIS ?

c. Apakah metode APHA 3500-Cr modifikasi lebih efektif dibandingkan dengan metode standar APHA 3500-Cr dan metode ASTM D 1687-92 ?

4

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah :

a. Mengetahui kondisi optimum penentuan Cr+6 ATR Kartini dengan menggunakan metode APHA 3500-Cr modifikasi.

b. Menentukan konsentrasi Cr+6 ATR Kartini dengan menggunakan metode spektrofotometri UV-VIS.

c. Mengetahui keefektifan metode APHA 3500-Cr dan modifikasinya serta metode ASTM D 1687-92 untuk menentukan konsentrasi Cr+6 ATR Kartini.

2. Manfaat Penelitian

a. Memberikan suatu alternatif penentuan Cr+6 ATR Kartini.

b. Secara teoritis dapat menentukan kondisi yang optimal penentuan Cr+6 ATR Kartini.

5

BAB II

LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka

Pada bagian ini dikemukakan teori-teori atau penelitian yang telah dilakukan sebelumnya yang mendasari penelitian yang dilakukan.

1. Penentuan Cr dalam Air

Cr dalam air dapat ditentukan dengan beberapa metode, salah satunya yaitu dengan metode spektrofotometri UV-VIS. Logam yang ditentukan dengan spektrofotometri UV-VIS harus dalam bentuk kompleks berwarna.

a. Metode Spektrofotometri UV-VIS

Ada beberapa metode untuk penentuan logam dalam air diantaranya metode APHA (American Public Health Association) dan ASTM (American Society for Testing and Materials). Kedua metode ini merupakan metode standar yang sudah diakui secara internasional dan banyak digunakan oleh dunia pendidikan, pemerintahan, dan kalangan industri. Dalam penentuan logam Cr digunakan APHA 3500-Cr dan ASTM D 1687-92.

1). APHA 3500-Cr

Penentuan Cr dalam air dengan APHA 3500-Cr, digunakan Diphenylcarbazide sebagai pengompleks. Prinsip dari metode ini dapat diterangkan sebagai berikut: penentuan Cr dapat dilakukan dengan menambahkan pengompleks diphenylcarbazide pada pH asam sehingga nanti akan memberikan warna ungu violet. Intensitas warna yang terbentuk dipengaruhi oleh konsentrasi Cr, waktu reaksi, pH, dan volume pengompleks. Pengaruh dari ion ion lain tidak dilakukan karena keberadaan Cr yang sangat kecil dalam sampel dan memerlukan cara yang cukup rumit (Clesceri, Greenberg, and Eaton, 1998).

2). ASTM D 1687-92

Identik dengan metode APHA 3500-Cr, dalam metode ASTM D 1687-92 juga digunakan pengompleks Diphenylcarbazide. Prinsip dari metode ini yaitu penentuan Cr dilakukan dalam kondisi asam dengan menambahkan pengompleks

6

diphenyilcarbazide. Pembentukan kompleks ditandai dengan pembentukan warna violet. Intensitas warna juga dipengaruhi oleh waktu kestabilan kompleks, pH, dan volume pengompleks. Metode ini dikhususkan untuk penentuan ion Cr (VI) (Storer, Cornillot, Fazio and Shupak, 1998).

Dokumen terkait