TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum Tentang Bayi Baru Lahir 1. Pengertian Bayi Baru Lahir Normal
5. Asuhan Bayi Baru Lahir a.Pencegahan Infeksi
Bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi yang disebabkan mikroorganisme yang terpapar selama proses persalinan berlangsung ataupun beberapa saat setelah lahir. Pastikan penolong persalinan melakukan pencegahan infeksi sesuai pedoman (Indrayani & Moudy Emma Unaria, 2013).
b. Menilai Bayi Baru Lahir
Segera setelah lahir, letakkan bayi diatas kain yang bersih dan kering yang sudah disiapkan di atas perut ibu. Apabila tali pusat pendek, maka letakkan bayi di antara kedua kaki ibu, pastikan bahwa tempat tersebut dalam keadaan bersih dan kering. Segera lakukan penilaian awal pada bayi baru lahir :
2) Apakah bayi bergerak aktif ?
3) Bagaimana warna kulit, apakah berwarna kemerahan atau ada sianosis ?
Apabila bayi mengalami kesulitan bernafas maka lakukan tindakan resusitasi pada bayi baru lahir (Indrayani & Moudy Emma Unaria, 2013). c. Menjaga Bayi Tetap Hangat
Mekanisme pengaturan suhu tubuh bayi baru lahir belum berfungsi sempurna, untuk itu perlu dilakukan upaya pencegahan kehilangan panas dari tubuh bayi karena bayi berisiko mengalami hipotermi. Bayi dengan hipotermi sangat rentan terhadap kesakitan dan kematian. Hipotermi mudah terjadi pada bayi yang tubuhnya dalam keadaan basah atau tidak segera dikeringkan dan diselimuti walaupun di dalam ruangan yang relatif hangat (Indrayani & Moudy Emma Unaria, 2013).
1) Mekanisme kehilangan panas
Ada empat mekanisme kemungkinan hilangnya panas tubuh dari bayi baru lahir ke lingkungannya :
a) Konduksi
Panas dihantarkan dari tubuh bayi ke benda sekitarnya yang kontak langsung dengan tubuh bayi (pemindahan panas dari tubuh bayi ke objek lain melalui kontak langsung).
Panas hilang dari tubuh bayi ke udara sekitarnya yang sedang bergerak (jumlah panas yang hilang tergantung kepada kecepatan dan suhu udara).
c) Radiasi
Panas dipancarkan dari BBL, keluar tubuhnya ke lingkungan yang lebih dingin (pemindahan panas antara 2 objek yang mempunyai suhu berbeda).
d) Evaporasi
Panas hilang melalui proses penguapan tergantung kepada kecepatan dan kelembaban udara (perpindahan panas dengan cara merubah cairan menjadi uap).
2) Proses adaptasi
Dalam proses adaptasi kehilangan panas, bayi mengalami : a) Stress pada BBL menyebabkan hipotermi
b) BBL mudah kehilangan panas d. Merawat tali pusat
Setelah plasenta lahir dan kondisi ibu dinilai sudah stabil maka lakukan pengikatan tali pusat atau jepit dengan klem plastik tali pusat (bila tersedia).
1) Celupkan tangan yang masih menggunakan sarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5 % untuk membersihkan darah dan sekresi lainnya. 2) Bilas tangan air dtt
3) Keringkan dengan handuk atau kain bersih dan kering. 4) Ikat tali pusat dengan jarak sekitar 1 cm dari pusat bayi.
5) Jika pengikatan dilakukan dengan benang, lingkarkan benang di sekeliling punting tali pusat dan ikat untuk kedua kalinya dengan simpul mati pada bagian yang berlawanan.
6) Lepas semua klem penjepit tali pusat dan rendam dalam larutan klorin 0,5 %.
7) Bungkus tali pusat yang sudah diikat dengan kassa steril. e. Inisiasi Menyusui Dini (IMD)
Rangsangan hisapan bayi pada puting susu ibu akan diteruskan oleh serabut syaraf ke hipofisis anterior untuk mengeluarkan hormone prolactin. Prolactin akan mempengaruhi kelenjar asini untuk memproduksi ASI di alveoli. Semakin sering bayi menghisap putting susu maka akan semakin banyak prolactin dan ASI yang diproduksi. Penerapan inisiasi menyusui dini (IMD) akan memberikan dampak positif bagi bayi, antara lain menjalin/memperkuat ikatan emosional antara ibu dan bayi, memberikan kekebalan pasif yang segera kepada bayi melalui kolostrum, merangsang kontraksi uterus, dan lain sebagainya (Indrayani & Moudy Emma Unaria, 2013).
Pencegahan infeksi mata dapat segera diberikan kepada bayi baru lahir. Pencegahan infeksi tersebut dilakukan dengan menggunakan salep mata tetrasilin 1%. Salep antibiotik tersebut harus diberikan dalam waktu 1 jam setelah kelahiran. Upaya profilaksisi infeksi mata tidak efektif jika diberikan lebih dari satu jam setelah kelahiran (Indrayani & Moudy Emma Unaria, 2013).
g. Pemberian Suntikan Vitamin K1
Semua bayi baru lahir harus diberi suntikan vitamin K1 1mg intramuskuler, di paha kiri anterolateral segera setelah pemberian salep mata. Suntikan vitamin K1 untuk mencegah perdarahan BBL akibat defisiensi vitamin K (Indrayani & Moudy Emma Unaria, 2013).
h. Pemberian Imunisasi Bayi Baru Lahir
Imunisasi HB-0 diberikan 1 jam setelah pemberian vitamin K1 dengan dosis 0,5 ml intramuskuler dipaha kanan anterolateral. Imunisasi HB-0 untuk mencegah infeksi Hepatitis B terhadap bayi
Pelayanan kesehatan bayi baru lahir dilaksanakan minimal 3 kali dan sesuai dengan standar (menggunakan form tatalaksana bayi muda atau form MTBM), yakni :
1) Saat bayi usia 6 jam – 48 jam 2) Saat bayi usia 3 – 7 hari 3) Saat bayi usia 8 – 28 hari 6. Apgar Score
Apgar score dikembangkan pada tahun 1952 oleh Dr. Apgar yang digunakan dalam menilai kesehatan bayi baru lahir, memantau kondisi, keadaan bayi dan meramalkan kemungkinan bayi untuk bertahan hidup.
Uji coba biasanya dilakukan di satu dan lima menit setelah kelahiran, dan akan dilakukan pemantauan ulang jika nilai apgar yang didapatkan rendah. Nilai apgar dihitung dengan mengevaluasi bayi pada skala 0, 1, 2, maka kriteria dari nilai apgar (American Baby & Child Law Centers, 2018) adalah
Tabel 2.2 Apgar Score
(Sumber : American Baby & Child Law Centers, 2018) 7. Ballard Score Skor 0 1 2 NA Apperance (warna kulit) Pucat Badan merah, ekstremitas biru Seluruh badan kemerah-merahan Pulse (frekuensi
nadi) Tidak ada ≤ 100 ≥ 100
Grimance (reaksi
rangsangan) Tidak ada
Sedikit gerakan
mimik Batuk / bersin
Activity (tonus
otot) Tidak ada
Ekstermitas dalam sedikit
fleksi
Gerakan aktif
Respiration
(pernapasan) Tidak ada
Lemah / tidak teratur
Baik / menangis
Ballard score merupakan suatu versi sistem Dubowitz. Pada prosedur ini penggunaan kriteria neurologis tidak tergantung pada keadaan bayi yang tenang dan beristirahat, sehingga lebih dapat diandalkan selama beberapa jam kehidupan.
Ballard adalah dengan menggabungkan hasil penilaian maturitas neuromuskuler dan maturitas fisik.
Kriteria pemeriksaan maturitas neuromuskuler diberi skor, demikian pula kriteria pemeriksaan maturitas fisik. Jumlah skor pemeriksaan maturnitas neuromuskuler dan maturnitas fisik digabungkan, kemudian dengan menggunakan tabel nilai kematangan dicari masa gestasinya (Ira, 2012) :
Tabel 2.3 Maturnitas Neuromuskuler
(Sumber :Adam W. Lowry, dkk. 2014) Tabel 2.4 Maturitas Fisik
(Sumber : Adam W. Lowry, dkk, 2014) 8. Grafik Lubchenco
Hubungan berat badan lahir dengan usia kehamilan dapat dilihat pada grafik berikut :
Gambar 2.1
Grafik Lubchenco B. Tinjauan Umum Tentang Bayi Prematur