• Tidak ada hasil yang ditemukan

ASUMSI DASAR DALAM PENYUSUNAN RAPBD TAHUN 2020

3.1 Asumsi dasar yang digunakan

Global, Prospek perekonomian pada tahun 2019 mendatang akan sangat dipengaruhi oleh dinamika perekonomian global, tantangan ekonomi dan arah kebijakan ekonomi yang ditempuh pemerintah. Menurut perkiraan ekonomi terbaru memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global akan mengalami perlambatan pada 2019 dan 2020 dan hanya akan tumbuh masing-masing sebesar 3,5 persen, lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi 2018 yang sebesar 3,7 persen, juga lebih rendah dari proyeksi tahun 2019.

Kondisi pembiayaan global yang semakin ketat, industri produksi yang moderat, ketegangan perdagangan meningkat dan ekonomi sejumlah negara besar dan berkembang mengalami tekanan pasar keuangan yang signifikan di proyeksi mewarnai ekonomi global tahun ini. Selain itu pemulihan di pasar dan ekonomi berkembang telah kehilangan momentum. Risiko kerugian menjadi lebih akut, termasuk kemungkinan pergerakan pasar keuangan yang tidak menentu dan peningkatan tensi perang dagang. Hutang dipasar negara berkembang dan negara-negara berpenghasilan rendah yang mengikat ikut menjadi indikator.

Kejadian cuaca buruk yang lebih sering kemungkinan akan meningkatkan perubahan besar dalam harga pangan internasional yang bisa memperdalam kemiskinan.

Dalam lingkungan yang sulit ini, sangat penting untuk muncul pasar dan ekonomi berkembang untuk membangun kembali penyangga kebijakan sambil meletakkan fondasi yang lebih kuat untuk pertumbuhan di masa depan. Caranya dengan meningkatkan modal usaha manusia, memperkuat integrasi perdagangan dan mengatasi tantangan yang terkait dengan informalitas.

Ekonomi Nasional, Ekonomi Indonesia tahun 2018 tumbuh 5,17 persen lebih tinggi dibanding capaian tahun 2017 sebesar 5,07 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai lapangan usaha jasa lainnya sebesar 8,99 persen.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh komponen pengeluaran konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (PK-LNPRT) sebesar 9,08 persen.

III-2

Struktur ekonomi Indonesia secara spasial tahun 2018 didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Pulau Jawa memberikan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto, yakni sebesar 58,48 persen, diikuti oleh Pulau Sumatera sebesar 21,58 persen, dan Pulau Kalimantan 8,20 persen.

Untuk menjaga terus membaiknya perekonomian nasional maka dalam rancangan Rencana Kerja Nasional (RKP) tahun 2020 telah dirumuskan kebijakan makronya pada:

A. Meningkatkan pertumbuhan potensial Indonesia, focus pada:

1. Transformasi struktural untuk peningkatan kesejahteraan dengan melakukan revitalisasi industry pengolahan, modernisasi pertanian, hilirisasi pertambangan, transpormasi sector jasa.

2. Penguatan permintaan domestic dan peningkatan kinerja perdagangan international dengan melakukan mendorong investasi sebagai ujung tombak pertumbuhan ekonomi, diversikasi ekspor demi penguatan stabilitas eksternal dan menjaga keberlangsungan fiskal dengan tetap memberikan stimulus terhadap perekonomian.

3. Peningkatan SDM, pembangunan infrastruktur, perbaikan regulasi dan institusi, serta pendalaman pasar keuangan.

B. Menjaga stabilitas makro ekonomi, fokus pada menjaga stabilitas harga, eksternal dan sektor keuangan.

C. Memastikan inklusivitas dan keberlanjutan pembangunan ekonomi, melalui pemerataan antar wilayah dan tingkat pendapatan, mendorong penurunan tingkat kemiskinan, memperluas akses dan kesempatan serta mempertahankan keseimbangan lingkungan.

Dari penerapan kebijakan tersebut, maka ekonomi Indonesia di tahun 2020 diperkirakan akan mampu mencapai sasaran makro sebagai berikut:

Tabel 3.2

Perkiraan Ekonomi Makro Nasional Tahun 2017 (Dalam %)

Uraian 2020

Perkiraan

Pertumbuhan Ekonomi 5,3 - 5,6

Indeks Pembangunan Manusia 72,5

Pengangguran Terbuka 4,8 - 5,1

Tingkat Kemiskinan 8,5 - 9,0

Gini Ratio 0,375 – 0,380

Sumber : Rancangan RKP 2020

Ekonomi Gorontalo, Perekonomian Gorontalo Tahun 2018 tumbuh 6,51 persen, Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang sebesar 12,90 persen, selanjutnya perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 10,06 persen, serta kategori informasi dan komunikasi sebesar 9,82 persen.

Struktur PDRB Gorontalo menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku pada tahun 2018 didominasi oleh ketiga lapangan usaha, yakni kategori pertanian, kehutanan dan perikanan (38,66 persen); kategori perdagangan besar-eceran dan reparasi mobil –sepeda motor (11,83 persen); serta kategori konstruksi (11,12 persen).

Bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi Gorontalo Tahun 2018 kategori pertanian, kehutanan dan perikanan memiliki sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 2,83 persen; selanjutnya kategori perdagangan besar dan eceran, dan reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 1,10 persen; dan kategori jasa pendidikan sebesar 0,39 persen.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi kumulatif terjadi pada semua komponen. Komponen ekspor barang dan jasa merupakan komponen yang mengalami pertumbuhan tertinggi, yaitu sebesar 13,83 persen. Sementara pertumbuhan kumulatif tertinggi selanjutnya adalah komponen pengeluaran konsumsi lembaga non profit yang melayani rumah tangga (PK-LNPRT) yang tumbuh sebesar 8,56 persen; diiikuti oleh komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga (PK-RT) sebesar 6,90 persen.

Laju inflasi tahun kalender sebesar 2,15 persen dan laju inflasi “year on year”

(Desember 2018 terhadap Desember 2017) sebesar 2,15 persen, lebih rendah daripada laju inflasi Kota Gorontalo tahun 2017 sebesar 4,34 persen, dan lebih rendah dari inflasi nasional sebesar 3,13 persen. Kelompok mengalami inflasi tertinggi sepanjang tahun 2018, yaitu kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 8,42 persen, yang kemudian diikuti kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 4,26 persen, kelompok transport, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 3,09 persen, kelompok sandang sebesar 3,02 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 1,68 persen, dan kelompok kesehatan sebesar 0,75 persen. Sedangkan satu kelompok bahan makanan mengalami deflasi sebesar 0,52 persen.

III-4

Perkembangan inflasi nasional dan Gorontalo selama 5 (empat) tahun terakhir masih fluktuatif, namun demikian masih dalam kategori inflasi ringan (kurang dari 10% pertahun). Inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif tergantung parah atau tidaknya inflasi. Inflasi ringan mempunyai pengaruh yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik.

Melihat prospek kedepan, kinerja perekonomian Gorontalo untuk keseluruhan tahun 2020 diperkirakan akan kembali tumbuh. Sumber utama peningkatan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2020 berasal dari masih kuatnya permintaan domestik dan perbaikan ekspor. Juga diprediksi akan mulai dibangunnya Bendung Bolango Hulu dan Rumah Sakit Hasri Ainun Habibie yang dapat meningkatkan pembentukan modal tetap bruto. Sementara itu, tingkat inflasi pada tahun 2020 diperkirakan akan bias ditekan dibawah 5 persen. Berbagai risiko peningkatan tekanan inflasi yang bersumber pada kebijakan pemerintah, harus diredam dengan pengendalian inflasi pada kelompok volatile food melalui kegiatan peningkatan produksi dan pengendalian harga melalui TPID.

Disamping itu, dengan kondisi dan dinamika nasional yang diyakini makin kuat serta mulai membaiknya perekonomian global beberapa tahun terakhir ini, secara makro pada tahun 2020 prospek pertumbuhan ekonomi Provinsi Gorontalo di prediksi masih dalam kondisi baik, berdasarkan hal tersebut, maka pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 6,69.

3.2 Lain-Lain Asumsi (kebijakan yang berkaitan dengan gaji PNS)

Lain-lain asumsi yang berkaitan dengan kebijakan umum anggaran pendapatan dan belanja daerah tahun 2020, yang menjadi dasar dalam perhitungan anggaran pendapatan dan belanja daerah Provinsi Gorontalo adalah jumlah PNSD dan realisasi gaji PNSD sampai dengan bulan Agustus 2018.

Perkembangan PNSD Provinsi Gorontalo dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2019 yang rata-rata naik 21,33%. Perkembangan PNSD Provinsi Gorontalo yang menurun tersebut adalah sebagai dampak dari kebijakan Pemerintah Provinsi Gorontalo untuk moratorium PNSD. Perkembangan PNSD Tahun 2015-2019 dapat dilihat pada tabel 3.5 berikut.

Tabel 3.4

Perkembangan PNSD Tahun 2015-2019

PNSD Provinsi

Gorontalo 2015 2014 2015 2016 2017 Rata2

Jumlah PNSD 3134 3377 5924 5844 5947

Pertumbuhan -21 243 2547 -80 103 716,50

Persentase -0,67 7,75 75,42 -1,35 1,76 21,33

Berdasarkan tabel tersebut kenaikan PNSD tertinggi terjadi pada tahun 2017 yang mengalami kenaikan sebesar 2547 (75,42%) personil sebagai akibat dari beralihnya kewenangan urusan pendidikan menengah, ketenagakerjaan dan kehutanan, sehingga untuk tahun anggaran 2020 diprediksi belum ada penambahan PNSD secara signifikan, kecuali lulusan IPDN maupun kemungkinanan kebijakan Pemerintah pusat untuk kenaikan gaji berkala, gaji 13 dan gaji 14.

IV-1 BAB IV

KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN