• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

2) Asumsi dasar Logoterapi

Pendekatan dan metode psikoterapi yang diciptakan, secara sadar maupun tak sadar adalah cermin dari aliran pemikiran filosofisnya tentang manusia. Begitu juga dengan Viktor Frankl yang mendirikan logoterapi. Ia banyak mendapat pengaruh dari fenomenolog besar tentang konsep keinginan akan makna dan dimensi spiritual. Kemudian konsep kebebasannya dipengaruhi oleh filsafat

24

HD. Bastaman. Logoterapi. Rajawali pers. Jakarta. 2007. hal : 1-12 25

eksistensialisme26. Frankl merupakan salah satu tokoh penting yang menjadi pelopor penerapan eksistensialisme dalam praktek psikoterapi. Seperti halnya kaum eksistensial yang menjadikan eksistensialisme bukan sebagai aliran filsafat, maka para tokoh psikologi elsistensial pun menolak sebutan psikologi eksistensial sebagai aliran psikologi, melainkan psikologi eksistensial adalah suatu pendekatan terhadap manusia dan suatu sikap terhadap psikoterapi27.

Spiritualitas adalah tema sentral dalam logoterapi, bisa dilihat arti “logos” (penggalan kata logoterapi) yang dalam bahasa Yunani berarti “makna” (meaning) dan juga “ruhani” (spirituality), logoterapi dilandasi oleh wawasan mengenai manusia yang mengakui adanya dimensi keruhanian, disamping dimensi ragawi dan kejiwaan (termasuk dimensi sosial). Spiritualitas logoterapi tidak berkonotasi agama tertentu, tetapi hal yang netral yang ada pada semua manusia. Untuk itu Frankl menggunakan istilah noetic sebagai padanan spirituality, supaya tidak disalah pahami sebagai sebagai konsep agama. Menurut Danah Zohar dan Ian Marshal spiritual quotient (SQ) tidak mesti berhubungan dengan agama, orang yang beragama belum tentu SQ tinggi, walaupun agama bisa dijadikan media bagi SQ. Krisis spiritual dizaman modern sekarang membuat agama-agama konvensional harus berjuang untuk memenuhi dahaga spiritualitas28.

SQ sangat penting dalam beragama yang membuat agama lebih bermakna, karena SQ akan membawa kita ke jantung segala sesuatu dan bisa menghubungkan kita dengan makna dan ruh esensial dibalik perbedaan

26

E. Koeswara. Logoterapi. Kanisius. Yogyakarta. 1998. 27

E. Koeswara 1999. Psikologi eksistensial. Kanisius, Yogyakarta.. hal: 4-5. 28

agama. Maka orang yang mempunyai SQ yang tinggi tidak akan fanatik, eksklusif, dan tidak picik dalam memandang agama lain29.

Kemudian citra manusia menurut logoterapi yang notabenenya menjadikan spiritualitas sebagai tema sentral adalah sebagai berikut:

Pertama, manusia merupakan kesatuan utuh dimensi-dimensi ragawi, kejiwaan, dan spiritual. (unitas bio-psiko-spiritual). Dimensi-dimensi ini hanya dapat dibedakan, tetapi tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Artinya, tanpa keterpaduan utuh semua dimensi tersebut manusia tidak dapat disebut “manusia.” Mengintegrasikan fenomena spiritualitas dalam sistem psikofisik dan kepribadian manusia adalah pandangan orisinil Frankl, kemudian memanfaatkannya dalam metode psikoterapi.

Kedua, Viktor Frankl mengajarkan bahwa manusia memiliki dimensi spiritual di samping dimensi ragawi dan kejiwaan (termasuk sosial budaya) yang terintegrasi dan tak terpisahkan. Menurutnya dimensi spiritual demikian penting, yang didalamnya sumber potensi, sifat, kemampuan, dan kualitas khas insani. Daya pikir dan rasa lebih luas dan mendalam dari pada kekuatan raga, tetapi daya rohani jauh lebih tinggi dari pemikiran, perasaan, dan raga. Spiritualitas adalah kemampuan yang istimewa, ia adalah sumber kesehatan (the source of health) yang tidak pernah terkena sakit sekalipun badan dan psikisnya sakit. Kalaupun dimensi noetic ini tidak berfungsi secara optimal biasanya terjadi karena kita sendiri kurang memahami, menyadari, dan mengabaikannya atau terhambat oleh gangguan emosi dan penyakit fisik dan psikis.

29

Ketiga, dengan adanya dimensi noetik ini manusia mampu melakukan pemisahan diri (self-detachment), karena manusia bebas untuk tampil diatas determinan-determinan biologis dan psikologisnya. Dari situ ia bisa memasuki dimensi yang lebih tinggi, yaitu dimensi noetik atau spiritual, suatu dimensi tempat kebebasan manusia terletak. Dengan kemampuan untuk melakukan pemisahan diri secara sadar manusia bisa mengambil jarak terhadap dirinya serta mampu meninjau dan menilai dirinya, misalnya mengenali keunggulan dan kelemahan sendiri serta merencanakan apa yang kemudian akan dilakukannya. Artinya pada saat yang sama ia mampu sekaligus berfungsi sebagai subjek (yang meninjau dan penilai) dan objek (yang ditinjai dan dinilai).

Memungkinkannya manusia untuk melakukan pemisahan diri (self-detachment) atau transendensi diri karena sebagaimana menurut Stuart G. (2001) kehidupan dan eksistensi manusia terjadi pada tingkat: Yang mutlak atau tak sadar yang tak terukur, bawah sadar dan sadar30. Pada tingkat kehidupan dan eksistensi yang mutlak atau tak sadar yang tak terukur itulah ada kekuatan tak terbatas, karena pada tingkat inilah merupakan perjumpaan pribadi dengan kekuatan dan kehadiran yang agung yang kita sebut sebagai tuhan31.

Dalam hal pemisahan diri (self-detachment) Herbert dan William (2003) menggunakan istilah pengalaman puncak yaitu pengalaman transformasi spiritual yang dalam. Dalam pengalaman pada tingkat ini, saat terlintasnya ilham ada perasaan yang luar biasa yang sangat subyektif dan komplek, sehingga sulit sekali

30

Stuart Grayson 2001. Spiritual Healing. Semarang: Dahara Prize. hal: 40 31

dijelaskan dengan kata-kata32. Pada tingkatan ini berada diluar jangkauan indra tubuh dan kemampuan analisis. Seseorang akan memasuki kemungkinan menemukan dunia diluar batas-batas ruang dan waktu yang kita kenal33.

Keempat, manusia adalah makhluq yang terbuka terhadap dunia luar serta senantiasa berinteraksi dengan sesama manusia dalam lingkungan sosial budaya serta mampu mengolah lingkungan fisik sekitarnya. Kemampuan ini hanya dimiliki manusia, jadi manusia tidak hanya didikte oleh lingkungannya, tapi juga bisa merubah lingkungannya34.

Dimensi noetic menempati dalam strata kesadaran (alam sadar dan alam tidak sadar). Dimensi noetic menempati alam tak sadar seperti halnya insting, namun juga bisa disadari seperti halnya insting, mengingat batas yang permeable (dapat ditembus) antara alam sadar dan alam tidak sadar. Namun, antara unsur insting dan unsur noetic berbeda secara hakiki: insting lebih bercorak bio-psikologis, dalam tingkatan perilaku, tindakan instingtif bersumber dari reaksi terhadap dorongan berbagai kebutuhan (need), misalnya kenikmatan, kekuasaan dan aktualisasi diri, tindakan manusia seakan-akan terdorong atau didorong (driven) oleh kebutuhannya. Sedang noetik bercorak psiko-spiritual, dalam tingkatan perilaku tindakan noetic merupakan respon yang benar-benar disadari, misalnya untuk mengambil tanggunga jawab, menerima komitmen, menentukan pilihan pribadi, dan melakukan transendensi diri. Maka sejak berada dalam alam tak sadar sampai dalam alam sadar keduanya tidak bisa bercampur aduk karena berbeda sumber dan karakteristiknya.

32

Herbert B. dan William P. 2003. Inner Power. Bandung: Kaifa. hal: 67 33

Ibid. hal: 222 - 223 34

Logoterapi mempunyai landasan filosofis dalam mengembangkan teknik-tekniknya. Ada 3 landasan filosofisnya antara yang satu dengan yang lainnya saling berhubungan dan saling menunjang :

Pertama, kebebasan berkehendak (freedom of will). Manusia memiliki kebebasan yang luas, tetapi terbatas, karena manusia adalah makhluq yang terbatas. Sekurang-kurangnya ada dua hal yang membatasi kebebasan manusia, pertama. Manusia tidak bisa bebas dari kondisi-kondisi biologis, psikologis, dan sosiologis. Akan tetapi manusia mempunyai kebebasan untuk mengambil sikap terhadap kondisi-kondisi tersebut. Kedua, kebebasan harus disertai dengan tanggung jawab. Tanpa diimbangi rasa tanggung jawab kebebasan hanyalah akan menimbulkan kesewenang-wenangan.

Kebebasan manusia untuk mengambil sikap atas kondisi biologis, psikologis, dan sosiologis memungkinkan individu untuk sanggup mengambil jarak terhadap diri sendiri dan mengambil sikap terhadap situasi yang dihadapi, yang hal itu selanjutnya dikerahkan dan digunakan Frankl untuk tujuan terapeutik melalui dua teknik khusus logoterapi, yakni intense paradosikal dan derefleksi serta melalui suatu pendekatan yang disebut bimbingan rohani.

Kedua, keinginan akan makna (the will to meaning), Frankl mengkritik Freud atas prinsip keinginan akan kesenangan sebagai prinsip yang menempatkan manusia pada posisi mengalahkan dirinya sendiri, padahal menurut Frankl kesenangan itu sesungguhnya merupakan hasil atau efek samping dari pemenuhan dorongan atau pencapaian tujuan kita, yang akan merusak apabila dijadikan tujuan. Semakin seseorang mengarahkan langsung kepada kesenangan, maka dia

akan semakin kehilangan sasaran yang ditujunya itu. Menurut Frankl, itu adalah penyebab yang mendasari hampir semua kasus neurosis seksual. Selanjutnya kritik terhadap Adler atas prinsip keinginan akan kekuasaan. Frankl menekankan bahwa kekuasaan pada dasarnya adalah alat untuk mencapai tujuan. Jadi mengandung kekeliruan karena mempertukarkan alat dengan tujuan. Kemudia prisip kesenangan mengandung kekeliruan karena mempertukarkan hasil atau efek dengan tujuan. Frankl pun menegaskan bahwa, dalam analisis akhir, baik keinginan akan kesenangan maupun keinginan akan kekuasaan bersumber pada keinginan akan makna. Kesenangan adalah efek dari pemenuhan makna, sedangkan kekuasaan merupakan prasyarat bagi pemenhan makna. Jadi hasrat yang paling mendasar dari setiap manusia, yaitu hasrat untuk hidup bermakna. Bila hasrat ini terpenuhi maka kehidupan akan terasa berharga35.

Keinginan untuk “memaknai “ ini adalah sifat yang inhern dalam diri manusia dan merupakan kualitas insani, bukannya mekanisme pertahanan dari konsepnya Freud. Seperti yang diungkapkan oleh Frankl:

Pencarian manusia mengenai makna merupakan kekuatan utama dalam hidupnya dan bukan suatu “rasionalisasi sekunder” dari bentuk-bentuki insting. Makna tersebut adalah unik dan spesifik yang harus dan dapat diisikan oleh dirinya sendiri; hanya dengan itu seseorang akan memperoleh sesuatu yang penting yang yang akan memuaskan keinginannya untuk memaknai36.

Seharusnya perhatian manusia untuk mengisi makna dan mengaktualisasikan nilai-nilai, dari pada sekedar memuaskan insting-insting, atau

35

HD. Bastaman. Logoterapi. Rajawali pers. Jakarta. 2007. hal : 41 - 46 36

menyatukan konflik antara id, ego dan super ego, atau hanya adaptasi atau pembenaran pada lingkungan dan sosial37.

Kesehatan mental justru berdasarkan derajat ketegangan tertentu, ketegangan antara apa yang telah diraih seseorang dan apa yang harus dilakukan seseorang, atau gap antara apa yang ada dan apa yang seharusnya. Ketegangan semacam ini ada secara inhern dalam eksistensi manusia. Maka manusia harus terus mencapai sesuatu yang ideal. Manusia jangan hanya berusaha untuk membuang ketegangan itu, karena yang dibutuhkan manusia bukanlah homeostatis, yakni kondisi tanpa ketegangan, tetapi yang dibutuhkan adalah noodinamik, yakni dinamika spiritual dalam medan ketegangan yang berlawanan dimana satu sisi diwakili oleh makna yang harus diisi dan disisi lain oleh orang yang harus mengisinya38.

Dalam kehidupan nyata kita bisa melihat setiap orang termotivasi untuk melakukan berbagai kegiatan, bekerja, dan berkarya, agar hidupnya lebih bermakna. Didalam kamp-konsentrasi Fankl telah membuktikan kebenaran teorinya mengenai hasrat untuk hidup bermakna sebagai motivasi asasi dalam kehidupan manusia. Frankl mengamati bahwa tahanan-tahanan yang berhasil menemukan dan mengembangkan makna hidup ternyata mampu bertahan dalam penderitaan. Kalaupun menyongsong ajal, akan mati dengan perasaan bermakna dan tabah.

Ketiga, Makna hidup (the Meaning of life), makna hidup adalah hal-hal yang dianggap sangat penting dan berharga serta memberikan nilai khusus bagi

37

Ibid. Hal: 117 38

seseorang, sehingga layak dijadikan tujuan dalam kehidupan. Bila tujuan itu berhasil dipenuhi maka hidupnya akan terasa lebih berarti, yang pada akhirnya akan menjadi bahagia. Dan makna hidup ternyata ada dalam kehidupan itu sendiri, dan dapat ditemukan dalam setiap keadaan yang menyenangkan dan tak menyenangkan, keadaan bahagia, dan penderitaan. Ungkapan seperti “makna dalam derita” atau “hikmah dalam musibah” menunjukkan bahwa dalam penderitaan sekalipun makna hidup tetap dapat ditemukan. Bila hasrat ini dapat dapat dipenuhi maka kita akan menjadi kuat dan tabah dalam menghadapi penderitaan39.

Dalam logoterapi konsep makna hidup bukan dalam term umum, tapi dalam arti khusus. Makna hidup satu orang berbeda dengan yang lainnya dan dari hari kehari. Makna hidup yang ideal untuk seseorang belum belum tentu cocok untuk orang lain dan makna hidup yang ideal untuk saat ini belum tentu cocok untuk waktu yang akan datang40.

Jadi makna hidup sifatnya adalah unik, temporer, dan personal. Artinya apa yang dianggap berarti oleh seseorang belum tentu berarti pula bagi orang lain dan apa yang dianggap penting dan bermakna pada saat sekarang belum tentu sama bermaknanya bagi seseorang pada saat yang lain41.

Selain itu Makna hidup adalah spesifik dan kongkret, dalam artian dapat ditemukan dalam kehidupan dan pengalaman sehari-hari, dan bisa ditemukan dalam setiap bidang kehidupan atau pekerjaan yang digelutinnya, bidang/pekerjaan tersebut tidak harus mempunyai posisi yang tinggi dan besar,

39

HD. Bastaman. Logoterapi. Rajawali pers. Jakarta. 2007. hal : 45-46. 40

Viktor Frankl 2003. Logoterapi. Yogyakarta: Kreasi Wacana. hal: 123 41

tapi didalam bidang/pekerjaan yang rendah dan kecil masih bisa ditemukan makna hidup. Jadi menurut Frankl setiap pekerjaan bisa menghantarkan individu kepada makna asalakan pekerjaan itu merupakan usaha memberikan sesuatu kepada hidup (kehidupan diri dan sesama) yang didekati secara kreatif dan dijalankan sebagai tindakan komitman pribadi yang berakar pada keberadaan totalnya42.

Mengingat sifatnya yang spesifik, temporer, personal, dan unik, makna hidup tak dapat diberikan oleh siapapun, melainkan harus dicari dan ditemukan sendiri. Orang-orang lain -termasuk konselor logoterapi- hanya semata-mata menunjukkan hal-hal yang potensial bermakna, akan tetapi pada akhirnya terpulang pada pasiennya sendiri, apa yang benar-benar bermakna baginya. Sekalipun demikian secara umum logoterapi memberikan tiga cara untuk menemukan makna hidup atau, yakni:

1. Dengan melakukan suatu perbuatan yang menonjolkan nilai-nilai kreatif (creative values). Intinya ialah memberikan sesuatu yang berharga dan berguna pada kehidupan, seperti berkarya, bekerja, mencipta, dan melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi lingkungannya.

2. Dengan mengalami sebuah nilai yang menonjolkan nilai-nilai penghayatan (experiental values). Ini dilakukan dengan mengambil sesuatu yang bermakna dari lingkungan luar dan mendalaminya. Mendalami nilai-nilai penghayatan berarti mencoba memahami, meyakini dan menghayati berbagai nilai yang ada dalam kehidupan, seperti kebajikan, keindahan,

42

cinta kasih, kebenaran, dan keimanan. Menghayati cinta misalnya dapat member kepuasan, ketentraman, perasaan diri bermakna dan bahagia. 3. Dengan mengalami penderitaan, yang menonjolkan nilai-nilai bersikap

(attitudinal values). Jadi yang lebih penting adalah mengambil sikap yang tepat dan benar atas peristiwa-peristiwa tragis yang tak dapat dihindarkan lagi setelah berbagai upaya maksimal dilakukan. Dalam hal ini yang diubah adalah sikap, bukan peristiwa tragisnya43.

Disamping makna hidup yang sifatnya personal, temporer, unik dan spesifik itu, logoterapi mengakui juga adanya makna hidup yang mutlak, universal, dan paripurna sifatnya. Contohnya adalah agama dan pandangan-pandangan filsafat tertentu44.

Menurut Frankl makna itu melampui intelektualitas manusia. Maka dalam logoterapi disebut sebagai supra-makna. Oleh karena itu ia tidak bisa dicapai dengan proses akal atau usaha intelektual. Untuk mencapai makna, individu harus menunjukkan tindakan komitmen yang muncul dari kedalaman dan pusat kepribadiannya, dan karenanya usahanya itu berakar pada keberadaan totalnya (unitas bio-psiko-spiritual)45.

Salah satu konsep utama Frankl adalah hati nurani, yang bisa dijadikan sebagai solusi diatas untuk menemukan makna hidup. Menurut Frankl hati nurani adalah semacam spiritualitas alam bawah sadar, yang sangat berbeda dari insting-insting alam bawah sadar seperti yang dikatakan Freud. Hati nurani bukan hanya

43

Viktor Frankl 2003. Logoterapi. Yogyakarta: Kreasi Wacana. hal: 126 44

HD. Bastaman dkk 2000. Metodologi Psikologi Islami. Pustaka pelajar. Yogyakarta. hal : 73-74 45

sekedar salah satu faktor diantara diantara bermacam-macam faktor. Dia adalah inti dari keberadaan manusia dan merupakan sumber integritas personal kita.

Dengan tegas dia menyatakan, “…menjadi manusia adalah menjadi bertanggung jawab –bertanggung jawab secara eksistensial, bertanggung jawabterhadap keberadaanya sendiri diatas dunia”. Hati nurani adalah sesuatu yang sangat intuitif dan bersifat pribadi. Dia kembali pada seseorang yang riil yang berada pada situasi yang riil dan tidak bisa direduksi menjadi sebatas “hukum universal”. Hati nurani haruslah sesuatu yang hidup.

Frankl mengartikan hati nurani sebagai “pemahaman diri yang bersifat pra-reflektif dan ontologism” atau kearifan hati” atau “sesuatu yang lebih sensitif dibanding kesensitifan rasio”. Hati nurani itulah yang “menghirup udara” dan memberi makna pada hidup yang kita jalani46.

Makna hidup menurut Frankl bisa ditemukan dalam penderitaan, tentu untuk menemukan makna hidup didalam penderitaan tidak cukup hanya menggunakan intelektualitas manusia, tapi juga harus menggunakan hati nurani47. Menurut Donah Zahar dan Ian Marshal pengertian tentang hati nurani sudah tercakup dalam konsep spiritual quotient (SQ). SQ dalam fungsinya sebagai pedoman hakiki, akan memberikan arahan saat kita berada dalam situasi yang kompleks dimana hukum dan nilai-nilai sudah tidak dapat menjangkau lagi. Dalam situasi seperti inilah peran SQ sangat dibutuhkan. SQ akan memberikan

46

Gergree Brury 2003. Personality theories. Yogyakarta: Prisma sophie. hal: 388-389. 47

pemahaman yang mendalam dan intuitif didalam situasi yang kompleks dan tidak menentu48.

SQ sebagai pedoman yang hakiki, lebih dari sekedar mengakui nilai-nilai dan budaya yang ada, tetapi dengan SQ secara kreatif kita dapat menemukan nilai-nilai baru49. Kini, kita harus memanfaatkan SQ bawaan kita yang sebenarnya mampu untuk menemukan jalan-jalan baru dan menemukan beberapa ekspresi makna yang segar, yaitu sesuatu yang menyentuh dan membimbing kita dari dalam50.