• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

B. Asuransi Syariah

1. Pengertian Asuransi Syariah

Secara etimologi bahasa arab, takaful berasal dari akar kata kafala atau tafaa ’ala yang berarti saling menanggung. Sementara ada yang mengartikan dengan makna saling menjamin. Dalam bidang mu’amalah, asuransi syariah (takaful) adalah saling memikul risiko diantara sesama orang sehingga antara satu dengan yang lainnya menjadi penanggung atas risiko lainnya. Saling pikul risiko ini dilakukan atas dasar saling tolong-menolong dalam kebaikan dengan

cara masing-masing mengeluarkan dana ibadah (tabarru) yang ditujukan untuk

menanggung risiko tersebut.7

Dalam asuransi syariah tidak hanya melibatkan dua pihak yang bertakaful yakni orang-orang yang saling mengikatkan dirinya untuk saling menjamin risiko yang diderita masing-masing, melainkan diperlukan pihak ketiga. Pihak ketiga yang dimaksud ini adalah lembaga atau badan hukum atau perusahaan yang menjamin kegiatan kerja sama atau asuransi ini terjamin berjalan dengan baik dan tidak termasuk kegiatan yang dilarang oleh syariat yaitu gharar,

7 Muhammad, Kebijakan Fiskal dan Moneter Dalam Ekonomi Islam, (Jakarta: Salemba Empat, 2002), h. 105-106

maisir, riba. Berkaitan dengan ini, ada unsur-unsur penting yang mesti ada demi terlaksananya takaful, yaitu :8

a. Beberapa pihak yang berasuransi

b. Pengelola asuransi (Perusahaan Asuransi). Dalam hal ini, perusahaan

asuransi hanya bertindak sebagai fasilitator saling menanggung diantara para peserta asuransi.

Produk asuransi syariah ditawarkan kepada seluruh masyarakat, bukan saja muslim tetapi juga non-muslim. Prinsip tolong-menolong (takaful) dalam asuransi syariah bermakna universal, tolong-menolong bukan saja ditujukan kepada sesama muslim tetapi seluruh manusia. Dimana satu diantara lain sebagai sesama manusia mempunyai potensi mendapatkan risiko yang sama dalam hidup ini. Prinsip tolong-menolong inilah yang menjadi kelebihan asuransi syariah dibandingkan asuransi konvensional, hal ini yang menjadikan alasan bagi masyarakat untuk tertarik menjadi bagian dari penyelenggaraan asuransi syariah. Asuransi syariah didasarkan pada prinsip agama tentang saling kerjasama dan solidaritas sebagaimana dinyatakan oleh Allah SWT :

اعت

ِلا يل اِ ن

ِر

: دئاملا ر س) ا ِقتلا

۲

( …

”…dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketaqwaan ”(QS. Al-Maidah :2)

8 Gemala Dewi, Aspek-Aspek Hukum Dalam Perbankan dan Perasuransian Syariah di Indonesia, (Jakarta: Prenada Media, 2004)

Konsekuensi dari perkembangan asuransi syariah dan banyaknya masalah masyarakat yang ditemui, akan berdampak semakin beragam produk yang ditawarkan masyarakat. Produk asuransi syariah merupakan representasi dari kondisi ‘‘permintaan’’ masyarakat akan keberadaan suatu produk. Maka dengan keadaan ini perlu dukungan dari berbagai elemen masyarakat untuk menjadikan posisi asuransi syariah dengan produk-produknya semakin berarti

dalam pembangunan.9

Selain itu, asuransi syariah juga memiliki fungsi yang dapat membantu program pemerintah dalam mensejahterakan kehidupan rakyat. Fungsi ini dapat dilihat segi pembangunan nasional. Maka dari itu kehadiran asuransi syariah memiliki fungsi untuk mensejahterakan dan mententramkan kehidupan

rakyat ketika tertimpa musibah atau bencana.10

Ketika para ulama mengharamkan asuransi berdasarkan dalil-dalil dari

Al-qur’an dan sunnah, maka mereka merumuskan penggantiannya yang

terbebas dari gharar, qimar, riba, dan dari sisi bisnis lebih menguntungkan bagi kedua belah pihak. Hal ini mengingat asuransi merupakan kebutuhan manusia di abad modern agar kehidupan mereka lebih tentram untuk menghadapi risiko hari esok.

9

Heri Sudarsono, Bank & Lembaga Keuangan Syariah:Deskripsi dan Ilustrasi, cet IV, ( Yogyakarta: Ekonisis. Edisi Kedua), h.126

10 Elida Hayati, “Strategi Penge bangan Diri Agen Asuransi Syariah Dala Men apai Produktifitas. Skripsi S1 Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011.

2. Dalil-Dalil Asuransi Syariah

Al-Majma ‘Al Fiqhiy Al Islami(divisi fikih Rabithah Alam Islami) dalam muktamar I, tahun 1978 setelah mengeluarkan fatwa yang mengharamkan

asuransi menyertakannya dengan fatwa asuransi Islami yang berbunyi, “Majlis

Al Majma’ sepakat membolehkan asuransi kooperatif (ta’min ta’awuni) sebagai

ganti dari asuransi komersial yang diharamkan, berdasarkan dalil-dalil berikut:11

a. Asuransi kooperatif (ta’min ta’awuni) merupakan akad hibah yang pada

dasarnya bertujuan untuk saling tolong-menolong meringankan beban kerugian, dan ikut andil menanggung penderitaan saat terjadi musibah. Dengan membayar sejumlah uang tunai yang dikhususkan untuk mengganti kerugian orang yang ditimpa musibah. Maka sekelompok orang tergabung dalam ta’min ta’awuni tidak bertujuan komersial, meraup laba dari harta orang lain. Semata-mata tujuan mereka pemerataan risiko diantara mereka dan saling tolong-menolong dan menanggung sebagian risiko.

b. Asuransi kooperatif (ta’min ta’awuni) terbebas dari riba dengan segala

bentuknya, riba fadhl dan riba nasi’ah. Transaksi para peserta asuransi tidak termasuk akad riba. Dan pengelola tidak akan menggunakan dana yang terhimpun dari para peserta untuk suatu transaksi riba dalam bentuk apapun.

c. Ketidakjelasan besarnya klaim ganti rugi yang akan diterima peserta

asuransi kooperatif (ta’min ta’awuni) pada saat akad dilangsungkan tidak

11 Erwandi Tarmizi, Harta Haram Muamalat Kontemporer ,(Bogor: PT. Berkat Mulia Insani, 2013), h. 245

mempengaruhi keabsahan akad, karena akad ini adalah akad hibah. Dan gharar dalam akad hibah dibolehkan serta tidak termasuk judi. Berbeda dengan asuransi komersial, akad yang terjadi adalah akad tukar-menukar.

3. Akad Dalam Asuransi Syariah

Akad dalam asuransi syariah ada tiga :12

a. Musyarakah. Akad antara sesama para pemegang polis asuransi syariah. b. Wakalah. Akad antara perusahaan yang ditunjuk untuk mengelola dana yang

terhimpun. Jika perusahaan juga dipercayakan untuk mengembangkan dana

maka akadnya adalah mudharabah.

c. Hibah yang bersifat mengikat. Akad antara pemegang polis dan badan dana pada saat awal perjanjian. Dan pada saat klaim ganti rugi diberikan oleh

badan dana maka akadnya adalah Al-iltizam.

4. Prinsip-Prinsip Dasar Asuransi Syariah13

Prinsip dasar yang ada dalam asuransi syariah tidaklah jauh berbeda dengan prinsip dasar yang berlaku pada konsep ekonomika islami secara

komprehensif dan bersifat major. Hal ini disebabkan karena kajian asuransi

syariah merupakan turunan (minor) dari konsep ekonomika Islami.

12

Erwandi Tarmizi, Harta Haram Muamalat Kontemporer, (Bogor: PT. Berkat Mulia Insani, 2013), h.250

13

Dalam hal ini, prinsip dasar asuransi syariah ada sepuluh macam, yaitu:

1. Tauhid

Dalam berasuransi yang harus diperhatikan adalah bagaimana seharusnya menciptakan suasana dan kondisi bermuamalah yang tertuntun oleh nilai-nilai ketuhanan.

2. Keadilan

Keadilan dalam berasuransi adalah terpenuhinya nilai-nilai keadilan antara pihak-pihak yang terikat dengan akad asuransi. Keadilan dalam hal ini menempatkan hak dan kewajiban antara nasabah (anggota) dan perusahaan asuransi.

3. Tolong-menolong

Seseorang yang masuk asuransi, sejak awal harus mempunyai niat dan motivasi untuk membantu dan meringankan beban temannya yang pada suatu ketika mendapatkan musibah atau kerugian.

4. Kerja sama

Kerja sama dalam asuransi dapat berwujud dalam bentuk akad yang dijadikan acuan antara kedua belah pihak yang terlibat, yaitu antara anggota dan perusahaan asuransi.

5. Amanah

Seseorang yang menjadi nasabah asuransi berkewajiban

dana iuran (premi) dan tidak memanipulasi kerugian (peril) yang menimpa dirinya.

6. Kerelaan

Kerelaan dapat diterapkan pada setiap anggota asuransi agar mempunyai motivasi dari awal untuk merelakan sejumlah dana (premi) yang disetorkan ke perusahaan asuransi, yang difungsikan sebagai dana sosial (tabarru).

7. Larangan Riba

Ada beberapa pendapat dalam menjelaskan riba, namun secara umum terdapat yang menegaskan bahwa riba adalah pengambilan tambahan, baik dalam transaksi jual-beli maupun pinjam meminjam secara bathil atau bertentangan dengan prinsip muamalat.

8. Larangan Maisir (Judi)

Unsur maisir dalam asuransi artinya adanya salah satu pihak yang untung namun di lain pihak justru mengalami kerugian. Hal ini tampak jelas apabila pemegang polis dengan sebab-sebab tertentu

membatalkan kontraknya sebelum masa reversing period, biasanya

tahun ketiga maka yang bersangkutan tidak akan menerima kembali uang yang telah dibayarkan kecuali sebagian kecil saja.

9. Larangan gharar (ketidakpastian) Gharar dalam asuransi ada dua bentuk:14

a. Bentuk akad syariah yang melandasi penutupan polis.

b. Sumber dana pembayaran klaim dan keabsahan syar’i penerimaan

uang klaim itu sendiri.

Secara syariah, dalam akad pertukaran harus jelas berapa yang harus dibayarkan dan berapa yang harus diterima. Keadaan ini akan menjadi rancu (gharar) karena kita tahu berapa yang akan diterima (sejumlah uang pertanggungan), tetapi tidak tahu berapa yang akan dibayarkan (jumlah seluruh premi) karena hanya Allah yang tahu kapan seseorang akan meninggal.

10.Kemaslahatan15

Pada kenyataannya dalam praktik muamalah yang Islami di Indonesia, Lembaga Keuangan Syariah masih baru dilingkungan atau negara yang tidak (belum) menerapkan sistem syariah, maka sering menghadapi situasi yang sulit. Dalam situasi seperti ini, Dewan Pengawas Syariah (DPS) sering mengeluarkan fatwa dengan latar

belakang dharurah, yang isinya dalam rangka kemaslahatan.

14Muha ad Syafi’i Antonio, Asuransi dalam Prespektif Islam ,(Jakarta: STI, 1994),h. 1-3.

15

Muhammad Syakir Sula, Asuransi Syariah (Life and General): Konsep dan Sistem Operasional, (Jakarta: Gema Insani Press,2004),h. 743

Dr. Muhammad Muslehuddin mengatakan bahwa keadaan darurat membolehkan hal yang terlarang, adalah sudah menjadi kaidah umum dalam Islam.

Dokumen terkait