Pada masa Yunani Kuno, dua kota mendominasi kancah: Athena dan Sparta. Pada permulaan sejarahnya, pedagang Phoenician dari kota pantai, Accent Palestina, datang untuk mengeksploitasi pasar-pasar di Yunani Kuno. Sparta menolak orang-orang asing tersebut sehingga mereka terpaksa menetap di Athena. Melalui praktik-praktik peminjaman uang, mereka membangun basis ekonomi mereka, menjadikan diri mereka sebagai kelas pedagang terkemuka yang menyaingi aristokrasi Yunani.
Untuk mengarahkan masyarakat sesuai dengan kepentingannya, mereka memanipulasi teater Yunani, aktivitas kebudayaan terpenting di Yunani Kuno, yang senantiasa diselenggarakan di Barat sejak waktu itu. Seperti televisi modern yang digunakan sekarang, teater digunakan untuk menanamkan amoralitas. Praktik umum Yahudi sepanjang sejarah adalah mengambil cadangan uang negara dengan mengganti standar uang mereka dari emas atau logam mulia menjadi kertas atau kayu palsu.
Standar baru ini seperti cek, yang menurut dugaan dapat dipindah-tangankan menjadi emas, disimpan dalam perbendaharaan yang mereka kendalikan. Seperti yang dialami Napoleon ketika dia memasuki ruangan besi Bank Amsterdam, pusat keuangan di era tersebut ternyata kosong sama sekali. Yahudi telah menipu masyarakat sehingga menyerahkan kekayaan kepada mereka. Sparta sadar akan pengaruh merusak dari orang-orang asing ini, dan benar-benar melindungi standar uangnya, menahan penetrasi mereka. Bisa dikatakan, spartan berarti konservatif atau keras, karena Spartan dikenal akan kedisiplinannya, berusaha menjauhkan mereka dari kerusakan moral yang menimpa Athena. Pedagang-pedagang asing ini kemudian ingin mempraktikkannya pada Sparta, yang telah mereka lakukan pada Athena, perbuatan ini menyebabkan perang di antara dua kota tersebut, yang kini dikenal sebagai Perang Peloponnesian.
Socrates, seperti yang tertera dalam Republik Plato, menjelaskan perumpamaan sebuah gua kepada masyarakat Athena untuk menerangkan proses indoktrinasi yang sedang berlangsung di Yunani Kuno. Dia menjelaskan perumpamaan masyarakat yang dirantai dalam sebuah gua, dipaksa untuk memandang bayangan yang dtimbulkan oleh api. Dia mengatakan pada mereka bahwa jika seseorang ingin melepaskan diri dari rantai mereka, mereka harus mampu melihat api dan mengenali bahwa apa yang sebelumnya mereka pikir sebagai kebenaran ternyata adalah bayangan dari obyek palsu belaka. Dengan begitu mereka dapat meninggalkan gua tersebut untuk menemukan cahaya yang sebenarnya. Seperti warga Amerika sekarang yang percaya bahwa pemerintah mereka adalah pemerintah sungguhan. Pemerintah yang mereka maksudkan ternyata adalah bayangan, dan obyek yang terbentuk adalah pemerintah lemah. Seandainya tidak terantai, mereka dapat melihat bahwa itu adalah kepalsuan yang diciptakan oleh kaum Yahudi.
Karena Socrates menentang rencana mereka, ia diadili dan dituduh menebarkan gagasan revolusioner lalu dijatuhi hukuman mati. Dengan cara yang sama, beberapa orang di zaman modern juga dibunuh, seperti Malcolm X atau Martin Luther King Jr.
Sejauh apapun manusia berlari, setinggi apapun manusia berdiri, sebesar apapun manusia berkuasa, dia akan tetap dan selalu menemukan hidupnya sebagai gudang kebosanan yang bersanding ketidakpuasan dalam kekuasaannya. Apa obat yang tepat untuk raja-raja berkuasa yang bosan & terlihat membosankan ini? “Sesungguhnya tidak Aku ciptakan jin dan manusia
melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” Merugi orang yang tak pernah
merasa dibebankan oleh Rabb-nya, mengira dengan melakukan apapun bisa memenuhi apa yang ada dalam dadanya. Takdir & pengetahuan terbaik adalah kesadaran bahwa kepuasan tertinggi seorang manusia adalah menghamba pada Tuannya, ALLAH YANG ESA.
Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.
(QS. Adz-Dzaariyaat [51]: 57)
Anak Adam berkata: “Hartaku... hartaku...”
Nabi SAW bersabda: “Adakah hartamu, hai anak Adam kecuali yang telah kamu belanjakan untuk makan atau
membeli sandang lalu kumal, atau sedekahkan lalu kamu tinggalkan.”
Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulkarnain. Katakanlah: “Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya.” | Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu, | maka diapun menempuh suatu jalan. | Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata: “Hai Dzulkarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka.” | Berkata Dzulkarnain: “Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia kembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tiada taranya. | Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami.” | Kemudian dia menempuh jalan (yang lain). | Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah Timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu, | demikianlah, dan sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya. | Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi). | Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. | Mereka berkata: “Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?” | Dzulkarnain berkata: “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka, | berilah aku potongan-potongan besi.” Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulkarnain: “Tiuplah (api itu).” Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku tuangkan ke atas besi panas itu.” | Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melubanginya. | Dzulkarnain berkata: “Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar.”
Kadang sabar itu memanas seperti api... Kadang amarah itu mengalir seperti air...
“Aku tahu, setiap kali aku membuka sebuah buku, aku akan bisa menguak sepetak langit.
Dan jika aku membaca sebuah kalimat baru,
aku akan sedikit lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya. Dan segala yang kubaca akan membuat dunia
dan diriku menjadi lebih besar dan luas.” (Jostein Gaarder dan Klaus Hagerup)