BAB IV HASIL PENELITIAN
3. Standar Audit
2.3 Atribusi Kualitas Audit
Parasuraman (1985) dalam Widagdo (2002), menyatakan bahwa ada 2 atribut utama yang mempengaruhi kualitas jasa yaitu expected service dan perceived service. Apabila kualitas jasa yang diperoleh sudah sesuai dengan yang diharapkan maka kualitas jasa dikatakan baik. Jika jasa yang diterima melampui harapan pelanggan, maka kualitas jasa dinyatakan sebagai kualitas yang baik. Sebaliknya jika kualitas jasa yang diperoleh tidak sesuai dengan apa yang diharapkan maka kualitas jasa dikatakan kurang baik. Dengan demikian baik
tidaknya kualitas jasa tergantung pada kemampuan penyedia jasa dalam memenuhi harapan pelanggannya secara konsisten.
Penelitian Putri (2010) dengan menggunakan dua belas atribut kualitas audit yang telah dikembangkan oleh Carcello (1992) dan Behn et al. (1997a) ini menumukan Hasil penelitiannya menunjukkan ada 8 atribut kualitas audit dari 12 atribut yang berpengaruh terhadap kepuasan klien, yaitu ppengalaman melakukan audit, memahami industri klien, responsif terhadap kebutuhan klien, taat pada standar umum, sikap hati-hati, komitmen yang kuat terhadap kualitas audit, melakukan pekerjaan lapangan dengan tepat, standar etika yang tinggi, dengan Berikut ini akan diuraikan 12 atribut kualitas jasa audit yang direkomendasikan oleh Putri (2010) yaitu.
2.3.1 Pengalaman Melakukan Audit
Menurut Standar Profesi Akuntan Publik SA Seksi 210 (1994) dalam Widagdo (2002), pengalaman melakukan audit merupakan pencapaian keahlian yang dimulai dengan pendidikan formalnya kemudian diperluas melalui pengalaman- pengalaman selanjutnya dalam praktik audit.
Ikatan Akuntan Indonesia (2012) menyatakan bahwa pengalaman audit diperoleh akuntan publik mereka mengerjakan penugasan auditnya. Pengalaman akan diperoleh jika prosedur penugasan dan supervisi berjalan dengan baik. Menurut Mulyadi (2012:25) sesuai SK Menteri Keuangan No. 43/KMK.017/1997 tanggal 27 Januari 1997, jika seseorang memasuki karir sebagai akuntan publik, ia terlebih dahulu mencari pengalaman profesi di bawah pengawasan akuntan senior yang lebih berpengalaman. Agar akuntan baru selesai menempuh pendidikan formalnya dapat segera menjalani pelatihan teknis dalam profesinya, pemerintah mensyaratkan pengalaman kerja sekurang-kurangnya tiga tahun
18
sebagai akuntan dengan reputasi baik di bidang audit bagi akuntan yang ingin memperoleh izin praktik dalam profesi akuntan publik
Pengalaman audit merupakan atribut yang harus dimiliki oleh auditor, hal ini terbukti dengan banyaknya kesalahan yang dilakukan oleh auditor yang tidak berpengalaman kebih banyak daripada auditor yang berpengalaman (Neni Meidawati, 2001 dalam Widagdo, 2002). Hasil penelitian yang dilakukan Brouwman dan Bradley (1997) dalam Widagdo (2002) menunjukkan bahwa pengalaman melakukan audit sehubungan dengan kualitas audit yang didasarkan pada asumsi bahwa tugas memberikan umpan balik (feedback) yang bermanfaat terhadap sesuatu yang dilakukan dengan baik. Hal ini diperlukan oleh pembuat keputusan untuk memperbaiki kinerjanya. Di sisi lain bahwa auditor yang berpengalaman akan memiliki keunggulan dalam hal.
1. Mendeteksi kesalahan
2. Memahami kesalahan secara akurat 3. Menemukan kesalahan
2.3.2 Memahami Industri Klien
Auditor harus memiliki pengetahuan mengenai hal-hal yang bersifat bisnis, satuan usaha, bentuk organisasi klien, dan karakteristik operasi dari klien. Beberapa hal diantaranya antara tipe bisnis, tipe produk dan jasa, strukturmodal, pihak yang mempunyai hubungan istimewa, lokasi, dan metode produksi, distribusi, serta kompensasi. Selain itu, seorang auditor juga harus mempertimbangkan hal-hal yang mempengaruhi industri tempat operasi usaha berada, seperti kondisi ekonomi, peraturan pemerintah, serta perubahan teknologi, yang membawa pengaruh terhadap proses auditnya. Hal lain juga yang perlu menjadi pertimbangan auditor adalah praktek akuntansi yang berlaku umum dalam
industri, kondisi persaingan, rasio keuangan, serta Standar Profesi Akuntan Publik (Ikatan Akuntansi Indonesia, 2011).
Dalam melaksanakan audit atas laporan keuangan, auditor harus memperoleh pengetahuan tentang bisnis yang cukup untuk memungkinkan auditor mengidentifikasi dan memahami peristiwa, transaksi, dan praktek yang menurut pertimbangan auditor kemungkinan berdampak signifikan atas laporan keuangan atau atas laporan pemeriksaan atau laporan audit. Sebagai contoh, pengetahuan tersebut digunakan oleh auditor dalam menafsir bawaan dan resiko pengendalian dalam menentukan sifat, saat, dan luasnya prosedur audit (Ikatan Akuntansi Indonesia, 2011)
Menurut Eirene (2017) menyatakan bahwa Auditor dapat memperoleh pengetahuan tentang industri dan entitas dari berbagai sumber, antara lain:
1) Pengalaman sebelumnya tentang entitas dan industrinya.
2) Diskusi dengan internal dalam entitas seperti direktur, personel operasi senior.
3) Diskusi dengan personal dari audit intern dan tinjauan terhadap laporan audit intern.
4) Diskusi dengan eksternal entitas, seperti auditor lain, penasihat hukum entitas, atau ahli ekonomi.
Selain dapat membuat audit lebih berkualitas, memahami industri klien juga berguna untuk memberi masukan agar klien beroperasi secara efisien. Keunggulan tersebut akan bermanfaat bagi klien untuk melakukan perbaikan-perbaikan dan akan memberikan kepuasan bagi klien.
20
Responsif atas kebutuhan klien merupakan hal penting dimana klien berharap menerima lebih banyak dari hanya opini audit dan juga ingin mendapatkan keuntungan dari keahlian serta pengetahuan auditor dibidang usaha dan memberikan nasehat tanpa diminta. Ketika Kantor Akuntan Publik melakukan audit terhadap suatu perusahaan, maka opini menjadi sentral perhatian, padahal klien membutuhkan banyak hal lainnya, tidak sekedar opini ( Eirene, 2017).
Pada saat KAP melakukan audit terhadap suatu perusahaan, opini yang dikeluarkan oleh auditor setelah melakukukan proses audit menjadi pusat perhatian dari klien dan para pengguna laporan keuangan. Padahal di lain pihak klien membutuhkan hal lain yang lebih dari sekedar opini. Klien berharap akan menerima keuntungan dari keahlian dan pengetahuan auditor dibidang usaha dan member nasihat tanpa diminta (Media Akuntansi No.25, MAret 1998 dalam Mukhlasin,2004).
2.3.4 Standar Etika yang Tinggi
Seorang auditor harus dapat meningkatkan akuntabilitasnya dengan cara menegakkan etika profesional yang tinggi. Terkadang auditor menghadapi banyak dilema etika dalam menjalankan karier bisnis mereka, misalnya bernegosiasi dengan klien yang mengancam akan mencari auditor baru kalau perusahaannya tidak memperoleh pendapat wajar tanpa pengecualian. Hal ini jelas merupakan dilema etika sebab pendapat seperti itu belum tentu memuasakan. Memutuskan apakah akan menegur supervisor yang membiarkan terjadinya salah saji secara material hanya untuk mendapatkan bonus yang lebih besar, Arens dan Loebbecke (1997) dalam Mukhlasin (2004).
Etika adalah (1) Ilmu mengenai apa yang baik dan apa yang buruk, dan mengenai hak dan kewajiban moral (akhlak), (2) Kumpulan asas atau nilai yang
berkenaan dengan akhlak, (3) Nilai tentang benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat, Neni Meidawati (2001) dalam Widagdo (2002).
Dalam usaha untuk meningkatkan akuntabilitasnya, seorang auditor harus menerapkan etika professional yang tinggi, agar timbul kepercayaan dari masyarakat. Audit yang berkualitas sangat penting untuk menjamin profesi akuntan memenuhi tanggung jawabnya kepada investor, masyarakat umum, dan pemerintah, serta pihak-pihak lain yang mengandalkan kredibilitas laporan keuangan yang telah diaudit (Widagdo, 2002).
Dengan menerapkan etika profesi akuntan yang tinggi, seorang auditor tetap berada pada ”jalur” yang benar sehingga proses audit yang dilakukan dapat memberikan hasil yang memuasan klien sebagai pengguna.
2.3.5 Independensi
Independensi adalah sikap yang diharapkan dari seorang akuntan publik untuk tidak mempunyai kepentingan pribadi dalam melaksanakan tugasnya yang bertentangan dengan prinsip integritas dan objektivitas. Setiap akuntan harus memelihara integritas dan keobjektivan dalam tugas profesional dan setiap auditor harus independen dari semua kepentingan yang bertentangan. Auditor juga harus menghindari situasi yang dapat menimbulkan kesan pasa pihak ketiga bahwa ada pertentangan kepentingan atau keobjektivan sudah tidak dapat dipertahankan.
Menurut Agoes (2013:146) menyatakan bahwa independensi sebagai berikut: “Independensi mencerminkan sikap tidak memihak serta tidak dibawah pengaruh atau tekanan pihak tertentu dalam mengambil tindakan dan keputusan”. Independensi adalah sikap yang diharapkan dari seorang akuntan publik untuk tidak mempunyai kepentingan pribadi dalam melaksanakan tugasnya yang bertentangan dengan prinsip integritas dan objektivitas. Setiap akuntan harus
22
memelihara integritas dan keobjektivan dalam tugas profesional dan setiap auditor harus independen dari semua kepentingan yang bertentangan. Auditor juga harus menghindari situasi yang dapat menimbulkan kesan pasa pihak ketiga bahwa ada pertentangan kepentingan atau keobjektivan sudah tidak dapat dipertahankan.
Menurut Agoes (2013:146) menyatakan bahwa independensi sebagai berikut: “Independensi mencerminkan sikap tidak memihak serta tidak dibawah pengaruh atau tekanan pihak tertentu dalam mengambil tindakan dan keputusan”. Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) dalam Standar Profesional Akuntan Publik (2013) Independensi auditor terdapat dalam standar umum kedua yang berbunyi “Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh auditor”. Standar ini mengharuskan auditor bersikap independen, artinya tidak mudah dipengaruhi, karena ia melaksanakan pekerjaannya untuk kepentingan umum (dibedakan di dalam hal ia berpraktik sebagai auditor intern). Dengan demikian ia tidak dibenarkan memihak kepada kepentingan siapapun sebab bagaimanapun sempurnanya keahlian teknis yang ia miliki, ia akan kehilangan sikap tidak memihak, yang justru sangat penting untuk mempertahankan kebebasan pendapatnya. Namun, independensi dalam hal ini tidak berarti seperti sikap seorang penuntut dalam perkara pengadilan, namun lebih dapat disamakan dengan sikap tidak memihaknya seorang hakim. Auditor mengakui kewajiban untuk jujur tidak hanya kepada manajemen dan pemilik perusahaan, namun juga kepada kreditur dan pihak lain yang meletakkan kepercayaan (paling tidak sebagian) atas laporan auditor independen, seperti calon-calon pemilik dan kreditur.
Standar auditing adalah pedoman umum bagi seorang auditor dalam menjalankan tanggung jawab profesinya. Standar ini mencakup pertimbangan mengenai kualitas professional mereka, seperti kemampuan dan independensi atau kemandirian, persyaratan pelaporan, dan bukti-bukti (Tunggal, 2010:15). Standar auditing yang harus dimiliki auditor yaitu Kualitas profesional mereka, seperti kemampuan dan independensi, persyaratan pelaporan, dan bahan bukti. Standar Umum bersifat pribadi dan berkaitan dengan persyaratan auditor dan kualitas pekerjaannya, dan berbeda dengan standar yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan lapangan sebagai syarat mutu dalam pelaksanaan audit. Ini memberikan kepercayaan klien atas kualitas suatu KAP yang baik.
Falk (1996) dalam Mukhlasin (2004), juga menjelaskan bahwa kredibilitas auditor tergantung pada: 1) kemungkinan auditor mendeteksi kesalahan yang material dan kesalahan penyajian, 2) kemungkinan auditor akan melaporkan apa yang ditemukannya. Kedua hal tersebut mencerminkan terlaksananya Standar Umum. Sebab, seorang auditor harus memiliki keahlian, independensi dan cermat sebagai syarat dari mutu pelaksanaan audit, Standar Profesi Akuntan Publik (, 2011).
2.3.7 Sikap Hati-Hati
Menurut Tunggal (2010:30), due care berarti auditor harus mengamati standar-standar teknis dan etika profesi, berusaha secara continue memperbaiki kompetensi dari mutu jasa-jasa yang diberikan, dan melaksanakan tanggung jawab professional dengan kemampuan yang terbaik.
Penggunaan kemahiran profesional secara cermat dan seksama dalam semua aspek audit mengartikan bahwa auditor wajib melaksanakan tugasnya dengan kesungguhan dan kecermatan, atau keperdulian profesional. Kecermatan
24
dan keseksamaan profesional meliputi ketelitian dalam memeriksa kelengkapan kertas kerja, mengumpulkan bahan bukti audit yang memadai, dan menyusun laporan audit yang lengkap. Sebagai seorang profesional, auditor harus menghindari kelalaian dan ketidakjujuran (Darma, 2017).
2.3.8 Komitmen Yang Kuat Terhadap Kulitas Audit
Komitmen dapat didefinisikan sebagai: (1) Sebuah kepercayaan dan penerimaan terhadap tujuan-tujuan dari nilai-nilai organisasi dan atau profesi, (2) Sebuah kemauan untuk menggunakan usaha yang sungguh-sungguh guna kepentingan organisasi dan atau profesi, (3) Sebuah keinginan untuk memelihara keanggotaan dalam organisasi dan atau profesi ( Darma,2017)
Komitmen dapat didefinisikan sebagai berikut pertama yaitu sebuah kepercayaan pada dan penerimaan terhadap tujuan-tujuan dari nilai-nilai organisasi dan atau profesi, yang Kedua yaitu sebuah kemauan untuk menggunakan usaha yang sungguh-sungguh guna kepentingan organisasi dan atau profesi, dan yang ketiga yaitu sebuah keinginan untuk memelihara keanggotaan dalam organisasi dan atau profesi, Araya et al. (1980) dalam Widagdo (2002).
Dalam melaksanakan tugasnya, seorang auditor harus meningkatkan koordinasi dan hubungannya dengan KAP yang besar dan berskala internasional. Dengan begitu, diharapkan auditor mampu menyajikan informasi yang sedang berkembang di berbagai negara, terutama yang memiliki hubungan dengan bidang usaha klien, sehingga kualitas kerja auditor meningkat selaras dengan peningkatan pengetahuannya yang lintas negara. Ini berkaitan erat dengan komitmen yang kuat seorang auditor terhadap kualitas audit (Behn et al., 1997a dalam Widagdo,2002).
2.3.9 Keterlibatan Pimpinan KAP
Pemimpin yang baik perlu menjadi vocal point yang mampu memberikan perspektif dan visi luas atas kegiatan perbaikan serta mampu memotivasi, mengakui dan menghargai upaya dan prestasi perorangan maupun kelompok ( Negoro, 2011).
Keberhasilan manajemen mutu memerlukan kepemimpinan yang efektif, baik secara formal (berdasarkan hirarki organisasi) maupun yang kurang/tak formal. Pemimpin yang baik perlu menjadi Vocal point yang mampu memberikan prespektif dan visi luas atas kegiatan perbaikan serta mampu memotivasi, mengakui dan menghargai upaya dan prestasi perorangan maupun kelompok (Tatang, 1995) dalam Widagdo (2002). Adapun indikator dari keterlibatan pimpinan KAP terdiri dari 3 pertanyaan seperti dikembangkan Widagdo (2002) : a. Keterlibatan manajemen
b. Memberikan perspektif c. Memotivasi klien
2.3.10 Melakukan Pekerjaan Lapangan Dengan Tepat
Standar pekerjaan lapangan yang pertama menentukan agar program kerja yang akan dilaksanakan direncanakan dengan matang. Dalam perencanaan auditnya, auditor harus mempertimbangkan sifat, luas, dan saat pekerjaan yang harus dilaksanakan dan membuat suatu program audit secara tertulis (Darma, 2017)
Melakukan pekerjaan lapangan dengan tepat dalam perencanaan audit, auditor harus mempertimbangkan sifat, luas, dan saat pekerjaan yang harus dilaksanakan dan membuat suatu program audit secara tertulis, dengan tepat dan matang akan membuat kepuasan bagi klien (Negoro, 2011).
26
2.3.11 Keterlibatan Komite Audit
Komite audit dibutuhkan dalam organisasi bisnis, karena komite ini mengawasi proses audit dan memungkinkan terwujudnya kejujuran pelaporan keuangan. Tetapi, ini dapat dicapai jika komite audit bekerja secara efektif, Menon dan Williams (1994) dalam Mukhlasin (2004). Praktik terbaik yang dapat dilakukan KAP untuk menjaga independensi dan profesionalismenya saat berhadapan dengan ketepatan penggunaan prinsip akuntansi oleh klien adalah dengan melakukan komunikasi dengan dewan direksi atau komite audit, Glazer dan Fabian (1997) dalam Mukhlasin (2004).
Melibatkan komite audit saatmelaksanakan audit akan sangat membantu auditor karena komite audit juga merupakan sebuah badan yang independen dalam perusahaan. Karena itu, banyak KAP yang membantu kliennya saat pembentukan komite audit, Menon dan William (1994) dalam Mukhlasin (2004).
2.3.12 Tidak Mudah Percaya
Auditor tidak boleh menganggap manajemen sebagai orang yang tidak jujur, tetapi juga tidak boleh menganggap bahwa manajer adalah orang yang tidak diragukan lagi kejujurannya, adanya sikap tersebut akan memberikan hasil audit yang bermutu dan akan memberikan kepuasan bagi klien (Negoro,2011). Selain itu, menurut standar etik akuntan publik, menyiratkan auditor perlu bersikap waspada dan skeptis dalam menjalankan tugas audit, Widagdo (2002).
Audit atas laporan keuangan yang berdasarkan Standar Auditing yang telah ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia harus direncanakan dan dilaksanakan dengan sikap skeptis profesional , Standar Profesi Akuntan Publik (Ikatan Akuntansi Indonesia, 2011). Hal ini berarti bahwa auditor tidak boleh menganggap manajemen sebagai orang yang tidak jujur, namun juga tidak boleh
menganggap manajemen sebagai orang yang kejujurannya tidak diragukan lagi. Adanya sikap tersebut akan memberikan hasil audit yang bermutu dan memberikan kepuasan bagi klien.
Selain itu, menurut standar etik akuntan publik, auditor perlu bersikap waspada dan skeptis dalam menjalankan tugas audit. Hal ini tidak terlepas dari pertimbangan risiko yang potensial yang akan dihadapi oleh auditor dan risiko litigasi/risiko tuntutan atas kegagalan audit. Dengan demikian, auditor yang memiliki sikap waspada dan memiliki sikap skeptis dalam melakukan tugasnya dapat mengungkapkan keadaan perusahaan yang diauditnya secara benar.
2.3.13 Kepuasan Klien
Tujuan bisnis adalah untuk menciptakan dan mempertahankan pelanggannya, ini merupakan salah satu sudut pandang perusahaan dalam meningkatkan kinerja yang didasarkan paradigma costumer value, Mulyadi dan Setiawan (2000) dalam Widagdo (2002). Kualitas harus dimulai dari kebutuhan pelanggan dan berakhir pada penilaian pelanggan. Berarti citra kualitas yang baik tidak dilihat dari pihak penyedia jasa, tapi berdasarkan penilaian para pelanggan. Persepsi pelanggan terhadap kualitas merupakan perilaku menyeluruh atas keunggulan suatu jasa.
Hall dan Elliot (1993) dalam Widagdo (2002), menyatakan konstruk kualitas pelayanan sering dilihat memiliki hubungan erat dengan kepuasan konsumen atau klien. Demikian halnya dalam Kantor Akuntan Publik yang bersudut pandang costumer dimana klien sebagai konsumen, patut menyadari kebutuhan klien. Sebagaimana telah disebutkan kuaitas jasa tergantung pada kemampuan penyedia jasa dala memenuhi harapan pelanggannya secara konsisten, Parasuraman (1985) dalam Widagdo (2002), maka audit sebagai produk jasa
28
Kantor Akuntan Publik wajib memiliki kualitas tertentu yang diharapkan mampu untuk memenuhi keinginan pelanggan, dalam hal ini klien.
Dari berbagai pendapat diatas dapat dipahami bahwa terciptanya kepuasan konsumen dapat memberikan beberapa manfaat, diantaranya hubungan antara produsen dan konsumen menjadi harmonis, menjadi dasar yang baik bagi pembelian ulang dan membentuk suatu rekomendasi dari mulut ke mulut yang dapat menguntungkan perusahaan. Kepuasan konsumen ini merupakan modal dasar bagi perusahaan dalam membentuk kepuasan konsumen, dimana konsumen yang puas adalah asset yang paling berharga bagi perusahaan dalam meningkatkan profitabilitas perusahaan. Dengan demikian, secara konseptual kualitas pelayanan mempunyai pengaruh yang positif terhadap kepuasan konsumen.