• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aturan Pengelolaan di Tana ‘Ulen Lalut Birai .1 Aturan pengelolaan di masyarakat .1 Aturan pengelolaan di masyarakat

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.4 Aturan Pengelolaan di Tana ‘Ulen Lalut Birai .1 Aturan pengelolaan di masyarakat .1 Aturan pengelolaan di masyarakat

Masyarakat Desa Long Alango berada dalam wilayah adat Hulu Bahau. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat memiliki aturan tersendiri di aturan adat. Pemanfaatan akan sumberdaya alam masuk kedalam salah satu bab tersendiri di aturan adat. Sedangkan aturan pengelolaan secara khusus tentang Tana „Ulen Lalut Birai tidak terdapat dalam bab ataupun pasal tersendiri di dalam aturan adat.

Aturan adat yang telah dituliskan berawal dari aturan yang belum tertulis di dalam kehidupan masyarakat. Penulisan aturan adat itu selesai dilakukan pada tahun 2004. Seluruh desa dalam wilayah adat Hulu Bahau terlibat dalam penulisan aturan adat, sehingga aturan tersebut berlaku untuk semua desa. Pada awalnya aturan yang diterapkan untuk masing-masing desa berbeda satu dengan lainnya.

Aturan pengelolaan untuk pemanfaatan sumberdaya alam di wilayah adat Hulu Bahau terdapat dalam bab tersendiri yang membahas bagaimana proses pemanfaatan, apa saja yang dapat dimanfaatkan dan siapa saja yang boleh memanfaatkan. Namun hal tersebut tidak dijumpai dalam aturan pengelolaan Tana „Ulen Lalut Birai. Masyarakat mengatakan sudah cukup dengan keberadaan aturan pemanfaatan sumberdaya alam, karena aturan itu dapat pula diterapkan di Tana „Ulen.

Pada umumnya aturan adat mengizinkan pemanfaatan sumberdaya alam yang ada di areal hutan sekitar desa (Tabel 4). Masyarakat desa telah lama menempati kawasan sebelum ditetapkan menjadi taman nasional. Kebutuhan sehari-hari masyarakat peroleh dari dalam hutan, sehingga wajar dalam aturan adat terdapat poin pemanfaatan sumberdaya alam. Akses terbatas dan jarak jauh ke pusat kota menuntut masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya dari area hutan.

Poin pemanfaatan dalam aturan adat tetap memiliki nilai kehati-hatian dalam memanfaatkan sumberdaya hutan. Nilai kehati-hatian yang ada dalam aturan adat secara umum adalah peringatan untuk memanfaatkan secukupnya untuk kebutuhan sehari-hari dalam konsep rumah tangga. Aturan pemanfaatan sumberdaya lainnya adalah pemanfaatan gaharu. Masyarakat dilarang menebang gaharu selama mencari gaharu, terlebih pohon gaharu yang masih kecil.

Aturan adat Pasal 9 dalam Bab I tentang tata cara pembakaran hutan untuk perladangan menyebutkan kegiatan tersebut dapat dilakukan untuk daerah perladangan yang telah ada, yakni perladangan yang telah ditinggalkan cukup lama (10 - 20 tahun) dan bukan ladang baru yang membuka areal hutan primer. Sedangkan jika kegiatan tersebut dilakukan tanpa alasan untuk perladangan dapat dikenakan denda berupa benda-benda berharga dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, seperti Anggong jangin (Gong besar). Kegiatan tersebut sangat tidak diperbolehkan dalam area Tana „Ulen lalut Birai.

Kegiatan lain yang tidak diperkenankan dalam areal Tana „Ulen maupun area hutan lainnya adalah menjaga atau berburu babi di musim babi berenang. Aturan tersebut diatur dalam Bab I Pasal 12 tentang menjaga babi berenang. Kegiatan yang tidak diperkenankan tersebut adalah berburu babi di areal jalur

darat yang dilewati kawanan babi berenang, karena sebagian besar masyarakat berburu di sungai yang dilalui kawanan babi berenang. Musim babi berenang adalah masa ketika babi berpindah lokasi menuju lokasi pepohonan yang banyak berbuah. Selama musim babi berenang, jalur yang digunakan babi akan sama untuk pergi dan kembali ke lokasi asalnya, sehingga masyarakat melarang untuk berburu babi di jalur darat karena sangat mudah untuk mendapatkan babi dibandingkan di sungai.

Pasal 24 dalam Bab I menuliskan aturan pengelolaan penangkapan ikan, baik dalam areal Tana „Ulen maupun hutan di sekitar desa. Masyarakat maupun orang lain dilarang untuk menangkap ikan dengan menggunakan racun dan menyetrum, baik di sungai kecil maupun di sungai besar. Penggunaan alat-alat tradisional diperbolehkan dalam menangkap ikan, seperti sikep, pukat, jala, bubu, obeng, badeng dan pancing. Pelanggaran yang dilakukan oleh masyarakat desa dikenakan denda berupa sejumlah uang dan mesin yang digunakan disita, sedangkan jika masyarakat negara lain dikenakan denda dengan mata uang Malaysia sebesar 10.000.000 Ringgit.

Pasal 25 dalam Bab I mengatur tentang hasil hutan yang diperoleh dalam hutan sekitar desa maupun di Tana „Ulen. Peraturan tersebut berisi tata cara pemanfaatan hasil hutan dan sanksi-sanksi bagi pelanggaran yang terjadi. Proses administrasi, sistem bagi hasil untuk desa dan hanya masyarakat desa yang diperbolehkan masuk kedalam hutan merupakan peraturan mengenai hasil hutan. Proses administrasi tersebut berupa surat ijin bupati dan camat terkaitserta membayar sejumlah biaya masuk kawasan. Bagi hasil yang diperoleh para pengusaha untuk desa adalah 10% dari keuntungan dan 1% dari banyaknya jumlah pembelian. Masyarakat desa merupakan orang yangberhak masuk ke dalam hutan untuk mencari hasil hutan. Hasil hutan yang diperjualbelikan adalah gaharu, rotan, kayu manis dan madu hutan. Hasil hutan yang masih diperjualbelikan saat ini adalah gaharu.

Pasal 38 dalam Bab II mengenai sumberdaya alam mengatur tata cara pemanenan hasil hutan termasuk getah kayu dan racun sumpit. Pemanenan gaharu yang disarankan adalah tidak diperbolehkan menebang pohonnya ketika mengetahui pohon tersebut berisi gaharu dan masih dapat diselamatkan.

Pemanenan rotan boleh dilakukan dengan tidak menghancurkan semua rotan dalam satu rumpun dan hanya rotan yang sudah tua boleh dipanen. Kayu manis yang boleh dipanen adalah pohon yang sudah besar dan kulitnya mudah terkelupas. Pemanfaatan damar hanya boleh dipanjat dan tidak ditebang, sedangkan untuk getah kayu (ketipai) hanya pohon dewasa dan dapat dimanfaatkan semuanya merupakan pohon yang dapat dimanfaatkan. Air asin (sungan) dapat dimanfaatkan dengan tidak menebang pepohonan yang ada disekitarnya, merusak dan meracun daerah tersebut. Racun sumpit (salu‟) dan madu (layok) dapat dimanfaatkan dengan syarat tidak menebang pohonnya.Peninggalan sejarah berupa kubur batu, batu baliu (manusia yang berubah menjadi batu), lubang lumbut (mata air) maupun bentuk bentang alam lainnya seperti gua dan air terjun harus dijaga oleh seluruh warga.

Pasal 39 dalam Bab II tentang satwa berisi tata cara pemanfaatan satwa. Pemanfaatan tersebut dibatasi menurut keperluannya saja dan dilarang untuk berlebihan. Satwa langka dapat pula dimanfaatkan namun sangat terbatas, dan hanya dalam keadaan terdesak. Masyarakat dalam kesehariannya memanfaatkan satwa sebagai sumber protein. Uluk (2001) menyebutkan satwa yang menjadi prioritas dalam berburu adalah Babi hutan (Sus barbatus), Kijang (Muntiacus

muntjak), Rusa sambar (Cervus unicolor), Kancil (Tragulus javanicus) dan

Landak (Hystrix brachyura).

Pasal 41 dalam Bab II berisi pengakuan akan kepemilikan tanah di masyarakat adat. Kepemilikan tanah di masyarakat adat yang diatur dalam pasal tersebut adalah tanah lindung desa (Tana „Ulen), wilayah adat desa dan tanah kas desa. Tana „Ulen Lalut Birai sebagai tanah lindung desa boleh dimanfaatkan oleh masyarakat desa untuk keperluan umum. Orang lain diluar desa setempat dapat memanfaatkan areal tersebut dengan ijin kepala adat maupun kepala desa. Masyarakat diharuskan menjaga area tersebut agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Kegiatan pembukaan lahan untuk pertanian, seperti perladangan, sawah dan kebun tidak diperbolehkan dan dapat dikenakan sanksi adat. Sumberdaya alam yang dapat dimanfaatkan dalam pasal tersebut adalah rotan, gaharu, ikan dan lain sebagainya. Pemanfaatan tersebut dilakukan secara terbatas dan harus mendapatkan ijin dari kepala adat atau kepala desa.

Peraturan desa No 1 tahun 2011 merupakan bentuk pengelolaan Tana „Ulen Lalut Birai lainnya (Tabel 4). Pasal 2 dalam Bab II Perdes berisi tujuan dibentuknya Badan Pengurus Tana „Ulen (BPTU). Tujuan yang ingin dicapai dengan terbentuknya BPTU adalah terdapatnya lembaga yang mengatur, mengelola dan menjaga keseimbangan alam di Tana „Ulen, sehingga mendukung kelangsungan dan mutu hidup masyarakat desa yang selaras dengan alam.BPTU merupakan lembaga yang telah berdiri cukup lama sebelum terbentuknya peraturan desa, yakni pada tahun 1991. Pasal 3 dalam Bab II berisi sasaran yang ingin dicapai dengan terbentuknya BPTU. Sasaran yang ingin dicapai adalah mengatur pola, waktu berburu dan penangkapan ikan di Tana „Ulen. Memelihara dan menjaga aset Lalut Birai dan peninggalan sejarah, Pelarangan berbagai aktivitas yang merusak ekosistem seperti pembukaan lahan untuk perladangan dan perkebunan serta penebangan pohon merupakan sasaran lainnya yang ingin dicapai. Kegiatan lain berupa perlindungan dan penjagaan flora fauna merupakan sasaran berikutnya. Pembudidayaan flora langka dan pengelolaan kegiatan penelitian, pendidikan dan ekowisata merupakan sasaran-sasaran lainnya. Kegiatan pencarian dana untuk berbagai pengelolaan Tana „Ulen merupakan sasaran berikutnya.

Pasal 9 dalam Bab V berisi berbagai kegiatan yang dapat dan tidak dapat dilakukan masyarakat dalam Tana „Ulen. Kegiatan yang dapat dilakukan berupa perburuan satwa untuk konsumsi rumah tangga, penangkapan ikan menggunakan alat-alat tradisional, melakukan kegiatan penelitian, pendidikan lingkungan hidup dengan sekolah-sekolah dan kegiatan ekowisata. Kegiatan yang dilarang di Tana „Ulen Lalut Birai adalah membuang sampah yang tidak dapat hancur oleh proses alami, penebangan pohon, pembukaan lahan untuk ladang dan membawa pulang flora fauna, kecuali untuk konsumsi rumah tangga.

Masyarakat memanfaatkan sumberdaya alam yang ada di hutan sebagai pemenuh kebutuhan hidup sehari-hari. Sehingga dalam aturan adat, aturan pemanfaatan sumberdaya alam merupakan aturan terbanyak kedua setelah berbagai aturan kehidupan bermasyarakat. Aturan tersebut masih ada yang berupa aturan tidak tertulis dan umumnya sudah dipahami masyarakat, khususnya untuk sumberdaya alam di Tana „Ulen Lalut Birai.

Tabel 4 Dokumen Pengelolaan Tana Ulen di tingkat masyarakat

No Dokumen

Pengelolaan Bab Pasal Isi

1 Aturan adat berdasarkan keputusan forum musyawarah masyarakat adat dayak serta kepala desa se wilayah adat hulu bahau Bab I ( Keputusan terhadap pelanggaran adat serta sanksi-sanksi adat )

Pasal 9 Membakar hutan

Pasal 12 Menjaga babi berenang Pasal 24 Menangkap ikan Pasal 25 Hasil hutan Bab II ( Keputusan peraturan adat yang berkaitan dengan pengelolaan / pemanfaatan sumberdaya alam tentang nilai-nilai dasar )

Pasal 38 Sumberdaya alam (Gaharu, rotan, kayu manis, damar, getah kayu, air asin, racun sumpit dll)

Pasal 39 Satwa (Binatang, burung langka, burung enggang dll)

Pasal 41 Pengakuan hak kepemilikan tanah masyarakat adat (Tana ulen, wilayah desa dan tanah kas desa) 2 Pemerintahan Desa

Long Alango Peraturan Desa Long Alango Nomor : 1/PERDES/IV/2011

Bab II (Tujuan dan Sasaran)

Pasal 2 Tujuan dibentuknya BPTU (Badan pengurus Tana „Ulen)

Pasal 3 Sasaran dibentuknya BPTU (Badan pengurus Tana „Ulen)

Bab V (Pengelolaan tana ulen)

Pasal 9 Kegiatan yang dapat dan tidak dapat dilakukan di Tana Ulen

Sumber : Lawing D (2004) dan Pemerintahan Desa Long Alango (2011).

Perbedaan aspek sosial ekonomi yang cukup berbeda saat ini, perlu mendapatkan perhatian. Selain aspek tersebut, kemajuan teknologi dalam transportasi, perburuan dan pemanenan hasil hutan perlu diperhatikan.

Peningkatan jumlah penduduk yang diiringi peningkatan kebutuhan hidup, merupakan perubahan sosial ekonomi yang terjadi saat ini di seluruh desa. Sehingga proses pendampingan sangat diperlukan dalam mengelola bersama kawasan Tana „Ulen dan TNKM.

Tabel 5 Aturan pengelolaan Tana „Ulen yang tidak tertulis di masyarakat

No Jenis-jenis Aturan Tidak Tertulis

1 Pelarangan penanaman kayu keras (pohon) 2 Letak Tana „Ulen dan batasnya

3 Dilarang merusak nama-nama pohon yang ada 4 Penghentian pembukaan hutan untuk perladangan

5 Pohon gaharu yang tidak berisi gaharu, boleh dilukai sedikit agar 1-2 tahun kedepan berisi gaharu

Aturan tertulis maupun tidak tertulis yang ada dimasyarakat memiliki nilai-nilai konservasi seperti perlindungan, pemanfaatan dan pengawetan. Aspek perlindungan yang diterapkan masyarakat seperti menjaga keberadaan pohon gaharu dengan melarang menebang pohon gaharu. Aspek pemanfaatan banyak tertulis di aturan adat, sehingga cukup mudah untuk mengetahui bentuk-bentuk pemanfaatan oleh masyarakat. Aspek pengawetan dapat terlihat dalam aturan tidak tertulis di masyarakat dengan melarang masyarakat menanam tumbuhan keras di Tana „Ulen Lalut Birai (Tabel 5).

Kawasan Tana „Ulen Lalut Birai berupa Sub DAS dan terletak dalam kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang. Kawasan ini memiliki beberapa sungai dan anak-anak sungai yang mengalir kedalam Sungai Kayan. Salah satu pengelolaan sungai yang dituliskan dalam Peraturan Pemerintah No 38 Tahun 2011 tentang sungai adalah perlindungan dan pencegahan pencemaran sungai. Perlindungan sungai yang terdapat dalam aturan adat sangat baik, karena melindungi kawasan dari berbagai bentuk pembukaan lahan seperti perladangan. Dalam peraturan pemerintah tersebut, perlindungan sungai yang dilakukan dengan melindungi bagian-bagian sungai seperti palung sungai, sempadan sungai dan dataran banjir. Pencegahan pencemaran sungai dituliskan dalam peraturan desa dengan melarang masyarakat maupun pengunjung membuang sampah yang sulit hancur oleh proses alami selama berada dalam Tana „Ulen.

Letak Tana „Ulen yang berada dalam Taman Nasional memerlukan pengelolaan yang sesuai dengan pengelolaan kawasan konservasi. Pengelolaan yang dilakukan selama ini sudah cukup baik dengan melakukan pemanfaatan terbatas serta berbagai pengelolaan lainnya seperti perlindungan dan pengawetan. Pengelolaan kawasan konservasi sumberdaya alam hayati yang disarankan dalam UU No. 5 Tahun 1990 adalah pengelolaan sumberdaya alam hayati yang pemanfaatannya menjamin kesinambungan persediaan sumberdaya alam. Tujuan pembentukan Tana „Ulen adalah menetapkan suatu kawasan sebagai area cadangan sumberdaya alam, agar masyarakat dapat memenuhi kebutuhan saat ada kegiatan desa.

Tana „Ulen Lalut Birai terletak dalam tiga zonasi kawasan TNKM (Gambar 24). Zonasi Taman Nasional Kayan Mentarang merupakan bentuk pengelolaan kolaboratif bersama masyarakat dan pemilik kepentingan lainnya seperti pemerintah daerah, PHKA, Perguruan tinggi dan LSM (Ditjen PHKA 2010). Zonasi saat ini terbentuk atas beberapa usulan zonasi berdasarkan Permenhut No. 56 Tahun 2006 dan berdasarkan persepsi masyarakat adat yang tergabung dalam FoMMA. Zonasi tersebut berupa draft dan masih memerlukan pengesahan Dirjen PHKA.

Zonasi TNKM yang terletak dalam Tana „Ulen Lalut Birai adalah zona khusus, zona pemanfaatan dan zona rimba. Zona khusus merupakan areal yang telah terdapat aktivitas masyarakat dan penunjang kehidupan dasar lainnya seperti transportasi dan listrik sebelum ditetapkannya kawasan. Zona pemanfaatan dan zona rimba memberikan kesempatan pemanfaatan kondisi sebagai area penelitian, pendidikan dan wisata terbatas. Aktivitas masyarakat dalam memanfaatkan potensi sumberdaya alam Tana „Ulen Lalut Birai merupakan salah satu kegiatan yang dapat dilakukan dalam zona tradisional. Areal Tana „Ulen Lalut Birai merupakan kawasan yang tidak terdapat pemukiman maupun fasilitas dasar pemukiman lainnya, baik sebelum ditetapkan menjadi kawasan konservasi maupun setelah ditetapkan.

59 Gambar 24 Peta Tana „Ulen Lalut Birai dan zonasi TNKM.

Peraturan desa maupun aturan adat yang ada di masyarakat merupakan bentuk pengelolaan masyarakat terhadap Tana „Ulen Lalut Birai. Pengelolaan tersebut secara garis besar mendukung kawasan konservasi seperti saat ini. Dalam kaitannya dengan manajemen pengelolaan kawasan konservasi seperti taman nasional, bentuk pengelolaan di masyarakat dan sistem zonasi kawasan hendaknya mendukung satu dan lainnya.

5.4.2 Pengelolaan di tingkat BTNKM

Pengelolaan yang dilakukan pihak Taman Nasional Kayan Mentarang terhadap Tana „Ulen Laut Birai tidak dituliskan secara khusus selama beberapa tahun sebelumnya. Peraturan tersebut berupa sistem zonasi untuk pengelolaan kawasan. Namun untuk saat ini peraturan itu sudah dituliskan secara khusus (Tabel 6). Peraturan tersebut dituliskan karena stasiun penelitian dalam Tana „Ulen saat ini telah diserahkan kepada Taman Nasional Kayan Mentarang. Selain itu area ini merupakan pusat penelitian biologi kawasan hingga saat ini.

Tabel 6 Dokuman pengelolaan Tana Ulen Lalut Birai di tingkat BTNKM

No Program Bentuk kegiatan Sub Kegiatan

1 Pengembangan dan pemanfaatan wisata alam

Penyusunan dan pemasangan bahan interpretasi ODTWA

Penyusunan dan pemasangan bahan interpretasi SPHT Lalut Birai Penguatan kelembagaan ekowisata Penguatan kelembagaan SPHT Lalut Birai oleh BPTU

Dukungan operasional SPHT Lalut Birai

Operasional

kelembagaan struktur badan pengelola tana ulen

2 Terjaminnya populasi spesies TN Kayan Mentarang

Terjaminnya populasi spesies SPTN II Long Alango TN Kayan Mentarang Pembuatan transek satwa di SPHT Lalut Birai Sumber : BTNKM (2012)

Pengelolaan yang dilakukan Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (BTNKM) melibatkan pihak BPTU (Badan Pengurus Tana „Ulen) yang ada di masyarakat. Pengelolaan tersebut berupa dukungan materi kepada BPTU seperti biaya administrasi sehari-hari. Selain itu pengelolaan terhadap Tana „Ulen berupa

pengembangan wisata alam. Pengelolaan tersebut merupakan bentuk pengelolaan kolaboratif bersama masyarakat hingga saat ini.

Pengelolaan yang dilakukan oleh BTNKM dan BPTU tidak memiliki perbedaan dalam mendukung konservasi kawasan dan tetap memperhatikan kebutuhan masyarakat. Hal tersebut terdapat dalam arahan pengelolaan zonasi kawasan dan aturan adat yang ada di masyarakat. Aturan pengelolaan tersebut saling mendukung dan melengkapi, namun tetap memerlukan pendampingan dalam menerapkan berbagai aturan tersebut.

Pengelolaan kawasan yang dilakukan oleh masyarakat memiliki sejarah panjang dan dimulai sekitar tahun 1920 pada kepemimpinan kepala adat besar Apuy Njau. Pengelolaan tersebut memiliki beberapa perbedaan dengan saat ini. Pengelolaan saat ini untuk kesejahteraan masyarakat sebesar-besarnya dengan merubah status Tana „Ulen menjadi milik desa, sedangkan dahulu milik individu. Selain itu saat ini kawasan dapat dijadikan area penelitian dan kegiatan ini diawali saat terbangunnya stasiun penelitian dalam kawasan. Terjadi perubahan aturan yang dapat diterapkan dalam kawasan setelah kawasan berubah menjadi milik desa. Perubahan-perubahan tersebut perlu mendapatkan perhatian dengan melakukan pendampingan di masyarakat. Perubahan tersebut secara umum berupa keleluasaan masyarakat desa setempat dalam memanfaatkan sumberdaya alam di Tana „Ulen Lalut Birai, seperti perijinan kepada kepala adat.

Perubahan pengelolaan kawasan ditingkat Balai Taman Nasional Kayan Mentarang tidak terlihat jelas. Pengelolaan tersebut baru dituliskan secara khusus untuk tahun ini. Pada tahun sebelumnya pengelolaan yang dilakukan secara umum dengan menerapkan aturan pengelolaan zonasi di seluruh kawasan, termasuk Tana „Ulen Lalut Birai. Penetapan kawasan menjadi Taman Nasional baru pada tahun 1996 setelah sebelumnya kawasan berupa Cagar Alam pada tahun 1980. Sehingga pengelolaan yang dilakukan belum banyak memiliki perbedaan dengan tahun-tahun sebelumnya.

BAB VI

Dokumen terkait