BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
4.11 Aturan penggunaan pemanfaatan herbal
sebanyak 15 ramuan, dan diparam sebanyak 11 ramuan. Penggunaan ramuan obat tradisional tidak boleh digunakan dalam keadaan kegawatdaruratan dan keadaan potensial yang dapat membahayakan jiwa. Untuk memperoleh efek dari pengobatan yang dilakukan, pasien harus menjalankan aturan penggunaan ramuan yang dibuat oleh informan.
4.2.7 Syarat atau Pantangan Penggunaan Herbal
Dalam praktik pengobatan tradisional terdapat syarat atau pantangan dalam penggunaan ramuan sehingga khasiat dari ramuan dan metode pengobatan yang dilakukan menjadi efektif dan memberikan efek penyembuhan. Syarat dalam pengobatan tradisional diartikan sebagai suatu hal yang harus dilakukan oleh seorang pasien ketika menggunakan ramuan tradisional yang dibuat informan sedangkan pantangan diartikan sebagai suatu hal yang tidak boleh dilakukan oleh pasien selama menjalani pengobatan.
Hasil wawancara dengan informan, sebagian besar ramuan tradisional yang dibuat tidak memiliki syarat atau pantangan. Salah satu pantangan yang dibuat oleh informan yaitu oleh Ibu Y Br Ginting yang memberi syarat pada ramuan untuk pengobatan penyakit jantung yaitu selama masa pengobatan pasien dilarang untuk meminum es, memakan mie, kol, dan sawi putih. Informan yang lain yakni Bapak K Ginting juga memberikan syarat pada ramuan untuk mengatasi maag yaitu
yang menyebabkan peningkatan kadar gula darah (hiperglikemia) yang berkaitan dengan kelainan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein akibat dari perubahan sekresi insulin, sensitivitas insulin maupun keduanya. Klasifikasi diabetes melitus secara garis besar yaitu diabetes tipe 1 (defesiensi insulin absolut) dan diabetes melitus tipe 2 ( defisiensi insulin relatif akibat disfungsi sel β-pankreas dan resistensi insulin). Terapi diabetes melitus bertujuan untuk mengontrol glikemik optimal dan mengurangi onset dan progres komplikasi diabetes (Dipiro, 2020).
Dalam pengobatan diabetes melitus, terdapat berbagai mekanisme dalam penurunan kadar gula darah, mulai dari peningkatan sekresi insulin, penghambatan produksi glukosa internal, penghambatan absorpsi glukosa pada saluran cerna, dan regenerasi sel beta pankreas (Yusuf dkk., 2020)
Terdapat berbagai penelitian terkait efektivitas tanaman herbal sebagai antidiabetes, berkaitan dengan metabolit sekunder yang dikandung oleh tumbuhan tersebut. Metabolit sekunder tersebut antara lain flavonoid, fenol, alkaloid, saponin, dan tanin. Senyawa flavonoid dan fenol bekerja sebagai antioksidan dan melindungi sel pankreas dari radikal bebas, senyawa flavon dapat memodulasi metabolisme dan memperbaiki resistensi insulin, senyawa saponin menghambat enzim α-glukosidase, alkaloid dapat mengurangi kerusakan oksidatif karena induksi H2O2
pada sel beta pankreas dan dapat berfungsi sebagai sensitizer insulin, serta senyawa
93
tanin sebagai peningkat glikogenesis dan pengkhelat sehingga menurunkan penyerapan sari makanan seperti gula (Fadel dan Besan, 2020).
Hasil wawancara dengan informan menunjukkan bahwa terdapat 17 macam tumbuhan obat yang digunakan oleh informan pengobat tradisional di Kecamatan Medan Tuntungan untuk mengobati penyakit diabetes melitus baik ramuan yang terdiri dari satu macam tumbuhan herbal maupun kombinasi beberapa tumbuhan herbal. Cara pengolahan pada umumnya direbus dan diseduh. Terdapat beberapa ramuan yang dibuat oleh informan untuk mengobati penyakit diabetes melitus. Salah satunya adalah minuman dari kombinasi daun loning (Pisonia umbellifera), sirap-rap (Phyllanthus niruri L.), dan juga mentar bunga (Chromolaena odorata) yang diolah dengan cara direbus. Belum terdapat penelitian terkait efektivitas daun loning terhadap penurunan kadar gula darah namun, penelitian Lesmana (2016) menyimpulkan bahwa daun loning mengandung senyawa flavonoid, tanin, terpenoid, dan saponin serta memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat dengan nilai IC50 sebesar 21.67 ppm. Aktivitas antioksidan dengan kategori sangat kuat dari daun loning membuat tanaman berpontensi sebagai obat diabetes.
Penelitian Yusuf dkk.. (2020) menyimpulkan bahwa ekstrak Mentar bunga (Chromolaena odorata) mengandung senyawa fenol, flavonoid, alkaloid, tanin, dan saponin dan mampu menurunkan kadar gula darah dengan cara menstimulasi produksi insulin pada pulau langerhans. Salah satu mekanisme peningkatan sekresi insulin yaitu dengan meningkatkan regenerasi sel beta pankreas. Penelitian Babu dkk. (2021) menyatakan bahwa herba meniran memiliki aktivitas inhibisi terhadap enzim α-amylase. Enzim α-amylase mampu memecahkan molekul polisakarida menjadi bentuk sederhana dengan mengkatalis hidrolisis ikatan alfa-1,4-glikosidik
94
sehingga inhibisi enzim ini dapat menghambat penyerapan glukosa darah sehingga efektik untuk mengontrol kadar gula darah.
Ramuan lainnya yang digunakan yaitu kombinasi daun johar (Senna alata) dan paria hutan (Momordica balsamina) yang diolah dengan cara direbus kemudian air rebusannya diminum. Penelitian Tanty dkk. (2018) menyimpulkan bahwa tanaman Cassia siamea pada dosis 500 mg/kgBB mampu menurunkan kadar glukosa darah pada hewan tikus diabetes yang diinduksi dengan aloksan hampir setara dengan glibenklamid pada dosis 0.65 mg/kgBB. Tanaman paria-ria (Momordica balsamina) seperti yang diteliti oleh Ludidi dkk. (2019) memiliki aktivitas antidiabetes dan meningkatkan sekresi eritropoietin sehingga meningkatkan produksi sel darah merah.. Ekstrak metanol daun Momordica balsamina mampu meningkatkan level antioksidan dan berpotensi memproteksi tubuh dari kerusakan akibat perubahan hematologi yang disebabkan oleh hiperglikemia. Kedua tanaman yang digunakan untuk membuat ramuan ini tidak sulit diperoleh dan sering tumbuh liar disekitaran ladang dan pinggiran hutan.
Selanjutnya ramuan untuk mengatasi diabetes yang dibuat oleh informan yaitu kombinasi rimpang kunyit (Curcuma domestica Val.), daun salagundi (Vitex trifolia), daun sirih (Piper betle), daun Binara (Artemisia vulgaris), daun sirsak (Annona muricata), dan kulit durian (Durio zibethinus). Seluruh bahan ini kemudian dikeringkan dan ditepungkan. Cara menggunakan ramuan obat ini yaitu dengan menyeduhnya dengan air panas kemudian diminum.
Penelitian Sabir dkk. (2020) menyatakan senyawa fenol yang terkandung pada rimpang kunyit memiliki aktivitas inhibisi enzim α-glukosidase dan tinggi antioksidan. Kemudian Penelitian harsha dkk. (2021) menyatakan daun salagundi (Vitex trifolia) dapat memperbaiki fungsi dan struktur pankreas melalui aktivitas
95
antioksidan dari senyawa flavonoid. Selanjutnya Daun sirih dalam penelitian saravambhavan (2018) mampu meningkatkan glikogenesis dengan menginduksi aktivitas insulin dan secara in vitro dapat menginhibisi enzim α-amilase lebih baik dibandingkan akarbose. Daun sirsak pada penelitian Fadel dan Besan (2020) terbukti mampu menurunkan kadar glukosa darah. Penelitian adawiyah (2018) yang menyatakan bahwa kulit durian memiliki aktivitas antidiabetes dari senyawa flavonoid yang terkandung begitupula dengan batang brotowali yang diteliti oleh Anwar (2018). Penelitian efektivitas tanaman Binara (Artemisia vulgaris) sebagai antidiabetes dilakukan oleh Ahmad dkk. (2014) dan menyimpulkan bahwa ekstrak hidrometanolik daun binara secara signifikan mampu menurunkan kadar gula darah pada tikus diabetes yang diinduksi STZ. Seluruh kombinasi herbal ini dapat menurunkan kadar gula darah sehingga variasi takaran menjadi kunci pengobatan yang dilakukan oleh informan. Takaran disesuaikan berdasarkan dengan pasien yang datang dan berdasarkan kepada usia, berat badan dan kebiasaan makan atau minum.
Selain ramuan kombinasi, terdapat juga ramuan yang hanya menggunakan satu jenis tumbuhan saja. Seperti ramuan pegun tanah (Picria fel-terrae) yang diolah dengan cara dikeringkan lalu diseduh. Pengeringan tanaman dimaksudkan agar lebih awet dan tahan lama. Penelitian Sitorus dkk. (2014) menyimpulkan kandungan β-sitosterol pada pegun tanah mampu menurunkan kadar gula darah.
Selain pegun tanah, kayu raru juga digunakan secara empiris untuk mengobati gula.
Kayu raru digunakan masyarakat sebagai campuran pada fermentasi tuak (minuman hasil fermentasi getah tandan aren ataupun kelapa). Penelitian Winahyu dkk. (2019) menyimpulkan kayu raru mengandung flavonoid, tanin, dan saponin dan memiliki aktivitas hipoglikemik.
96
Selanjutnya, ramuan yang hanya terdiri dari satu jenis tanaman yaitu daun kelor. Pemanfaatan daun kelor sebagai herbal sudah sangat sering dilakukan oleh masyarakat. Penelitian Toby dkk. (2020) menyatakan bahwa daun kelor mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, steroid, tanin, saponin, dan terpenoid.
Senyawa flavonoid pada daun kelor berperan dalam mempertahankan sel beta pankreas dari kerusakan akibat radikal bebas juga menstimulasi pengeluaran insulin melalui inhibisi enzim posfodiesterase sehingga kadar cAMP pada sel beta pankreas meningkat. Penutupan kanal K+ ATP pada membran plasma sel beta akibat peningkatan kadar cAMP menyebabkan depolarisasi membran dan terbukanya saluran kanal Ca dan mempercepat masuknya ion Ca kedalam sel sehingga akan menyebabkan sekresi insulin. Selain itu, senyawa kuersetin pada daun kelor merupakan inhibitor kuat terhadap GLUT 2 pada mukosa usus sehingga penyerapan glukosa pada usus menurun. Rumput gajah (Pennisetum purpureum) atau biasa disebut deski oleh masyarakat lokal juga digunakan secara empiris sebagai obat diabetes. Penelitian Brantley dkk. (2015) menyimpulkan ekstrak air deski mengandung flavonoid, alkaloid, antosianin, dan fenol dan mampu menurunkan kadar gula darah. Selanjutnya, brotowali juga digunakan sebagai ramuan tunggal untuk diabetes. Tanaman yang memiliki rasa sangat pahit ini menurut Anwar (2018) mampu menghambat enzim α-glukosidase sehingga absorpsi glukosa dalam saluran cerna akan menurun.
97
Hipertensi primer tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol. Banyak faktor fisiologi yang mengontrol tekanan darah dan kelainan pada faktor berpotensial menyebabkan hipertensi. Faktor yang dimaksud seperti misalnya kelainan humoral (renin-angiotensin-aldosterone system (RAAS)), mekanisme vasodepresor, mekanisme kelainan neuronal, cacat autoregulasi perifer, gangguan natrium, kalsium dan hormon natriuretik (Dipiro, 2020).
Pemanfaatan antihipertensi alami menjadi salah satu pertimbangan dalam mengurangi efek samping penggunaan obat jangka panjang. Pengurangan konsumsi garam juga menjadi salah satu cara dalam mengendalikan hipertensi. Metabolit sekunder yang terkandung dalam tumbuhan dapat berperan sebagai antihipertensi, terutama senyawa flavonoid. Pemberian diet tinggi flavonoid pada pasien hipertensi menunjukkan adanya penurunan tekanan darah dengan memperbaiki fungsi sel endotelial pembuluh darah dengan cara meningkatkan produksi Nitrogen monoksida (NO). Flavonoid dapat mempengaruhi kinerja Angiotensin converting enzyme (ACE) dengan cara mencegahnya merubah angiotensin I menjadi angiotensin II. Jika angiotensin II tidak terbentuk maka resistensi perifer dan tekanan darah akan turun dan terjadi vasodilatasi pembuluh darah (Husna dkk, 2019). Berdasarkan hasil wawancara diperoleh 14 jenis tanaman herbal yang digunakan oleh informan untuk mengatasi hipertensi baik yang digunakan secara kombinasi beberapa tanaman maupun tunggal. Cara pengolahan dengan cara direbus, dihaluskan, dan di seduh dengan cara dengan cara pakai yaitu diminum.
Beberapa penelitian terkait tanaman herbal yang digunakan untuk pengobatan hipertensi juga sudah banyak diteliti efektivitasnya baik secara In-Vivo maupun secara In-Vitro.
98
Salah satu ramuan yang dibuat untuk mengobati hipertensi adalah kombinasi tanaman sirih merah (Piper crocatum), jahe merah (Zingiber officinale var rubrum), temulawak (Curcuma xanthorrhiza), kunyit (Curcuma domestica), dan lada hitam (Piper nigrum). Terdapat beberapa penelitian terkait efektivitas tanaman yang digunakan dalam ramuan ini. Penelitian Hanifah (2019) menyimpulkan bahwa rimpang jahe merah (Zingiber officinale var rubrum) mampu menurunkan tekanan darah dan kadar ACE karena mengandung senyawa gingerol, shagaol, dan flavonoid. Penelitian Hidayatullah (2019) menyimpulkan bahwa ekstrak etanol rimpang kunyit dengan dosis 100 mg/Kg BB mampu menurunkan tekanan darah dengan mekanisme perbaikan elastisitas pembuluh darah. Penelitian Kurniawan (2016) menyimpulkan rimpang temulawak memiliki aktivitas sebagai antihipertensi, dan penelitian Murtaza dkk. (2020) menyimpulkan senyawa piperin dalam lada hitam memiliki aktivitas sebagai antihipertensi.
Selain ramuan kombinasi, ramuan antihipertensi yang digunakan oleh informan cukup banyak. Ramuan pertama yaitu belimbing wuluh. Penelitian pada tanaman belimbing wuluh (Averhhoa bilimbi) yang dilakukan oleh Azyenela dkk (2021) menyimpulkan kandungan flavonoid, senyawa fenolik, saponin, dan terpenoid pada belimbing wuluh mampu menurunkan tekanan darah. Ibu Y Br Ginting mengatakan bahwa ramuan antihipertensi daun belimbing wuluh cukup keras karna dapat menyebabkan penurunan tekanan darah yang cepat sehingga apabila berlebihan dapat membuat pasien menjadi lemas. Namun, jika penggunaan daun belimbing wuluh tidak memberikan efek maksimal maka ramuannya diganti menggunakan daun alpukat. Daun alpukat (Persea americana) secara empiris sudah lama digunakan sebagai bahan alami untuk menurunkan tekanan darah.
99
Kandungan senyawa flavonoid pada daun alpukat dapat memperlancar peredaran, memperbaiki sel endotelium, dan mempengaruhi kerja dari ACE (Elisa dkk, 2021).
Selain alpukat, tanaman labu siam atau yang masyarakat lokal sering menyebutnya dengan nama ropah (Sechium edule) juga banyak dimanfaatkan oleh masyarakat suku Karo bukan hanya sebagai bahan pangan tetapi juga digunakan sebagai antihipertensi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh pratiwi (2018) ekstrak etanol S. edule mengandung senyawa flavonoid, saponin, dan alkaloid yang dapat menginhibisi ACE dan juga sebagai diuretik. Flavonoid pada tanaman daun salam (S. polyanthum) juga berefek terhadap penurunan tekanan darah melalui vasodilatasi pembuluh darah akibat inhibisi Angiotensin Converting Enzyme (ACE).
Selain itu, terdapat tanaman seledri (Apium graveolens) yang secara empiris digunakan masyarakat sejak lama sebagai antihipertensi alami. Senyawa apigenin yang terkandung didalam daun sop (Apium graviolens) menurut penelitian Saputra dan Fitria (2016) bersifat vasodilator dengan cara menghambat kontraksi yang disebabkan oleh pelepasan kalsium, senyawa kalium yang banyak terkandung pada daun sop juga bermanfaat untuk mengubah keseimbangan natrium dalam darah.
Selain tanaman yang disebut diatas. Depuk-depuk (Physalis angulata) atau biasa dikenal sebagai ciplukan menurut Husna dkk. (2019) memiliki aktivitas antihipertensi karena kaya akan kandungan flavonoidnya. Tanaman Oldenlandia corymbosa (Kebal Pusuh) merupakan salah satu tanaman yang digunakan untuk mengobati hipertensi secara empiris tetapi belum terdapat pengkajian secara ilmiah mengenai kandungan senyawa kimia dan aktivitasnya sebagai antihipertensi.
100
4.2.10 Herbal yang Digunakan untuk Pengobatan Penyakit Jantung dan
101
melalui mekanisme antioksidan terhadap perlindungan sel jantung dari toksisitas doxorubicin. Penelitian Naufalza (2021) menyimpulkan bahwa daun sirih memiliki senyawa flavonoid yang tinggi dan memiliki fungsi dalam penurunan kadar kolesterol. Penelitian spesifik mengenai aktivitas kardioprotektif temu ireng masih belum dapat diketahui secara pasti. Namun penggunaan temu ireng pada ramuan ini sebagai bahan jamu lengkap dengan kunyit dan sirih.
Ramuan kombinasi lainnya yaitu temulawak (Curcuma xanthorrhiza), bawang dayak yang biasa dikenal masyarakat lokal dengan sebutan pia-pia (Eleutherine bulbosa), kencur (Kampferia galanga), dan jahe emprit yang dikenal masyrakat suku karo sebagai prakis (Zingiber officinale var amarum). Penelitian yang dilakukan oleh Mauren dkk. (2016) menyimpulkan bahwa kandungan senyawa kurkuminoid pada rimpang temulawak (Curcuma xanthorrhiza) dapat menghambat gen terkait stres oksidatif sehingga memberikan efek hipokolesterolemia dan mencegah aterosklerosis. Pia-pia menurut Jannah dkk.
(2018) mampu menurunkan kadar kolesterol. Kombinasi ramuan ini difokuskan pada penurunan kolesterol dalam darah. Informan meyakini bahwa masalah awal penyakit jantung dan pembuluh darah terjadi karena adanya timbunan lemak yang terdapat didalam pembuluh darah dan secara perlahan-lahan menumpuk sehingga akhinya menyumbat aliran darah.
Hiperkolesterolemia merupakan faktor penyebab penyakit pada jantung dan pembuluh darah, beberapa tanaman herbal mengandung senyawa flavonoid.
Senyawa flavonoid dapat berperan sebagai inhibitor kompetitif dengan HMG Ko-A. Daun sukun merupakan salah satu jenis ramuan yang digunakan secara tunggal dengan cara direbus. Penelitian Dwiantoko (2015) menyimpulkan bahwa daun sukun (Artocarpus altilis) mengandung flavonoid kuersetin, DS-6, dan
Gangguan jiwa merupakan sekelompok gejala yang ditandai dengan perubahan pikiran, perasaan, dan perilaku seseorang yang menimbulkan disfungsi dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Gangguan jiwa yang umum terjadi antara lain adalah depresi, cemas, bipolar, skizofrenia, dan lain-lain. Menurut Yoseph (2011) Penyebab gangguan jiwa dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling mempengaruhi, seperti: faktor somatik atau organobiologis (neroanatomi, nerofisiologi, dan nerokimia), faktor psikologik (interaksi/ hubungan sosial, kehilangan, pola adaptasi, dan perkembangan emosi), dan faktor sosial budaya.
Pada perkembangannya, sangat jarang ditemukan kajian etnofarmakologi pemanfaatan herbal yang digunakan untuk mengatasi gangguan jiwa. Berdasarkan hasil wawancara, para informan yang memiliki pengalaman mengobati pasien gangguan jiwa melakukan terapi melalui berbagai metode dan memberikan
103
perawatan khusus kepada pasien dengan gangguan jiwa.berdasarkan hasil wawancara dengan informan diperoleh 22 tanaman yang dimanfaatkan untuk terapi gangguan jiwa.
Dalam pengobatan gangguan jiwa, Ibu Y Br Ginting berpendapat bahwa orang dengan gangguan jiwa harus dirawat dan diperhatikan secara khusus. Orang dengan gangguan jiwa mengalami guncangan dalam hidupnya sehingga mengalami perubahan perilaku. Dalam pengobatannya orang dengan gangguan jiwa terapinya dilakukan dengan berbagai cara dengan tujuan utama agar hati dan pikiran pasien tenang, nafsu makan meningkat, dan pasien bisa tidur dengan nyenyak. Hal ini serupa dengan pendapat Ibu Ita Berenggit yang mengatakan bahwa pasien dengan gangguan jiwa, stres, dan depresi harus diperhatikan agar dapat melakukan aktivitas seperti manusia normal.
Meskipun kajian empiris terkait pemanfaatan herbal untuk mengatasi gangguan jiwa masih sangat kurang, tetapi penelitian ilmiah yang mempelajari aktivitas neuroprotektif tanaman herbal sudah banyak dilakukan. Penelitian Yuliani dkk. (2018) yang menyimpulkan bahwa senyawa kurkumin pada kunyit (Curcuma domestica) pada dosis 200 mg/KgBB mampu meningkatkan kadar GSH, GPx, SOD, dan aktivitas enzim katalase sehingga mencegah kerusakan neurologis akibat radikal bebas. Dalam praktiknya informan yang memiliki cara untuk mengobati pasien gangguan jiwa dibuat agar tenang dan dapat tidur. Melatonin (hormon tidur) merupakan hormon yang bertanggung jawab memberi sinyal untuk waktu tidur. Melatonin merupakan hasil asetilasi serotonin menjadi N-acetylserotonin, kemudian mengalami O-metilasi oleh hydoxyindole-O-methyl transferase (HIOMT) pada kelenjar pineal. Penelitian platingam dkk. (2017) menyatakan bahwa kandungan minyak atsiri buah pala (Myristica fragrans) dapat
104
meningkatkan kadar serotonin, norepinefrin, dan dopamin hipokampus. Penelitian Agustini (2021) menyatakan kandungan antioksidan sinamaldehid pada kayu manis (Cinnamomum burmannii) dapat meningkatkan kadar serotonin pada hipotalamus.
Berdasarkan pengkajian secara ilmiah, efek neuroprotektif tanaman herbal diperoleh salah satunya melalui mekanisme antioksidan yang melindungi neuron saraf sehingga kondisi persyarafan sehat dan berfungsi secara optimal. Seperti penelitian Ogadinma (2018) yang meneliti bawang merah (Allium cepa), Hazza (2020) yang meneliti bawang putih (Allium sativum) dan Mangrulkar (2019) yang meneliti serai wangi (Cymbopog citratus) menyimpulkan bahwa kandungan antioksidan yang terdapat pada tumbuhan tersebut bertindak sebagai neuroprotektif.
Studi yang dilakukan oleh Keshavarzi dkk. (2019) menyimpulkan bahwa kandungan curdione pada kunyit putih (Curcuma zedoaria) mampu memperbaiki fungsi kognitif dan morfologi kerusakan neuronal.
Penelitian lainnya terhadap efektivitas tanaman herbal untuk mengatasi gangguan jiwa adalah penelitian yang dilakukan oleh Hirano dkk. (2020) yang menyimpulkan bahwa kombinasi diet mburle (Zingiber purpureum) dan neurorehabilitasi mampu menjaga fungsi dan memelihara sistem saraf pusat dan saraf tepi pasien dengan gangguan neurologis. Penelitian lainnya yaitu yang dilakukan oleh Ramadhayani (2021) dan menyimpulkan kandungan kurkumin pada rimpang kuning gajah (Curcuma heyneana) memiliki efek antidepresan dengan cara meningkatkan brain derived neurotrophic factor (BDNF), modulasi sistem monoaminergik dengan cara meningkatkan serotonin, norepinefrin, dan dopamin, serta inhibisi aktivitas enzim oksidase monoamin.
105
Aktivitas neuroprotektif yang dihasilkan oleh berbagai tanaman herbal setidaknya berpotensi menjadikan ramuan herbal sebagai terapi tambahan dalam mengobati gangguan jiwa. Gundera (Allium schoenoprasum) atau biasa dikenal masyarakat sebagai bawang batak merupakan tanaman yang digunakan masyarakat suku batak dan karo dalam membuat arsik ikan yaitu makanan khas suku batak.
Penelitian Singh dkk. (2018) menyimpulkan bahwa antioksidan pada gundera mampu mengurangi ukuran infark serebral dan meningkatkan kadar thibarbituric acid reactive species (TBARS), restorasi GSH, dan aktivitas superoxide dismutase (SOD). Penelitian tanaman herbal lainnya yaitu tanaman terbangun (Coleus amboinicus) yang dilakuan oleh kumari dkk. (2012) yang menyatakan tanaman terbangun memiliki efek anti epilepsi dengan cara menstimulasi Na+/K+ dan Ca2+- ATPase serta meningkatkan level GABA.
4.2.12 Herbal yang Digunakan untuk Pengobatan Batuk dan Gangguan
106
kualitas hidup, gangguan pernafasan diantaranya yaitu: radang tenggorokan, asma, bronkitis, rhinitis alergi, dan Infeksi saluran pernafasan.
Batuk dan gangguan pernafasan merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi pada masyarakat, sehingga pemanfaatan herbal untuk pengobatannya pun sudah banyak dilakukan secara empiris. Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan informan diperoleh sebanyak 16 tanaman yang digunakan sebagai obat batuk dan gangguan pernafasan baik digunakan secara tunggal maupun dengan kombinasi beberapa tanaman herbal. Dalam pengolahannya umumnya dengan air perasan dan rebusan.
Beberapa tanaman yang digunakan oleh informan pengobat tradisional Kecamatan Medan Tuntungan terbukti secara ilmiah memiliki aktivitas untuk pengobatan batuk dan gangguan pernafasan. Jeruk nipis (Citrus aurantifolia) merupakan salah satu herbal yang paling sering digunakan untuk mengatasi batuk dan radang tenggorokan, menurut penelitian Puspita dkk. (2020) jeruk nipis mengandung senyawa aktif alkaloid, flavonoid, sterpod, triterpenoid, saponin, tanin, dan fenolik yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Selain jeruk nipis, tanaman kemangi menurut penelitian Kurniati dkk. (2018) memiliki aktivitas mukolitik sehingga dapat mengencerkan dahak. Studi yang dilakukan oleh Boskabady dkk. (2020) menyimpulkan bahwa kurkumin, senyawa utama pada kunyit mampu mengatasi berbagai gangguan dan masalah pada pernafasan melalui mekanisme inhibisi mediator inflamasi, sebagai antioksidan, dan juga aksi imunomodulator.
Cekala (Etlingera elatior) atau yang dikenal sebagai kecombrang merupakan tanaman yang sangat familiar bagi masyarakat terutama suku Karo.
Dalam pengobatan batuk, bagian dalam batang cekala digunakan sebagai obat
107
batuk. Bagian dalam batang cekala berbentuk seperti batang lunak. Cara pengolahannya yaitu dengan cara dibakar, kemudian bagian batang yang sudah dibakar diperas sampai mengeluarkan air, lalu air perasannya diminum. Studi yang dilakukan oleh Riswanto (2022) menyatakan bahwa cekala mengandung senyawa polifenol, alkaloid, flavonoid, saponin, dan minyak atsiri. Tanaman Jarak (Jatropha curcas) dapat mengobati batuk dan gangguan pernafasan juga melalui aktivitas antibakteri. Penelitian Babahmad (2018) menyimpulkan minyak atsiri daun jarak memiliki aktivitas antibakteri. Terdapat tanaman herbal yang digunakan untuk menekan batuk (antitusif), yaitu lada hitam (Piper nigrum). Penelitian Khawas (2017) menyimpulkan bahwa kandungan piperine dalam lada hitam memiliki aktivitas antitusif.
Pengobatan asma secara empiris sudah dipraktekkan sejak lama dan menjadi tradisi secara turun-temurun. Beberapa tanaman herbal diduga memiliki aktivitas antiasma dan telah diuji secara ilmiah. Penelitian Vaghela dkk. (2020) menyimpulkan rimpang jahe (Zingiber officinale Roscoe) mengandung senyawa 6-Shagaol dan gingerol yang dapat memberikan efek relaksasi otot halus trakea.
Selanjutnya, penelitian menthe (2020) menyatakan tanaman pala (Myristica fragrans) memiliki aktivitas antiasma dan menurunkan biomarker alergi seperti IgE, AEC, dan infiltrasi eosinofil.
4.2.13 Herbal yang Digunakan untuk Pengobatan Nyeri Haid
Nyeri haid (dismenorea) adalah nyeri kram pada daerah perut yang mulai terjadi sebelum mengalami menstruasi dan biasanya dapat bertahan selama 24-36 jam. Nyeri haid mengakibatkan wanita yang mengalaminya menjadi tidak nyaman karena dapat menganggu aktivitas. Pada keadaan tertentu rasa nyeri yang timbul bisa saja hebat dan tidak tertahankan. Mekanisme terjadinya dismenorea terutama
108
yaitu pelepasan prostaglandin dan leukotrien kedalam cairan menstruasi, dan menginisiasi respon inflamasi dan memediasi vasopresin sehingga terjadi vasokonstriksi. Kemungkinan penyebab lainnya yaitu dikarenakan endometriosis dan peradangan pada pelvis (Dipiro, 2020).
Terapi dismenorea menggunakan tanaman herbal sudah sejak lama diterapkan oleh masyarakat, seperti jamu kunyit asem yang merupakan ramuan yang terdiri dari campuran rimpang kunyit (Curcuma domestica) dan asam jawa (Tamarindus indica). Pemanfaatan herbal untuk mengatasi dismenorea dianggap lebih aman dibandingkan dengan penggunaan NSAID.Hasil wawancara dengan informan diperoleh sebanyak 10 tanaman yang digunakan oleh informan untuk mengatasi dismenorea. Ramuan yang dibuat dapat terdiri dari satu macam tanaman maupun kombinasi beberapa tanaman herbal.
Terdapat beberapa penelitian terkait tanaman herbal yang berpotensi untuk mengatasi dismenorea. Penelitian Lisani dan Hudaya (2021) menyimpulkan kandungan antiradang pada kunyit (asam tanat dan antosianin) dan pada asam jawa (asam suksinat, asam sitrat, dan asam tartrat) yang dapat menurunkan tingkat nyeri menstruasi dengan mekanisme blokade pada reseptor nyeri. Penelitian Pasaribu dkk. (2017) menyimpulkan bahwa komponen β-asarone rimpang jeringau (Acorus calamus) memiliki aktivitas sebagai spasmolitik dengan mekanisme blokade kanal kalsium sehingga mampu menurunkan kekakuan otot polos yang biasa terjadi ketika mengalami dismenorea. Penelitian Aprilia (2022) menyimpulkan kandungan kurkuminoid, minyak atsiri, dan alkaloid pada temulawak (Curcuma xanthorrhiza) bertindak sebagai analgetik dan mengurangi prostaglandin. Studi yang dilakukan oleh Silalahi (2020) menyatakan daun senduduk (Melastoma malabathricum)
109
memiliki aktivitas analgesik dengan mekanisme sebagai agonis reseptor opioid non selektif.
4.2.14 Herbal yang Digunakan untuk Pengobatan Diare
Diare merupakan penyakit yang masih banyak dijumpai di masyarakat.
Diare didefinisikan sebagai peningkatan frekuensi buang air besar lebih dari 3 kali dalam sehari dan penurunan konsistensi feses. Diare dihubungkan dengan gangguan spesifik pada usus halus. Pada umumnya diare disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, atau protozoa. Bakteri penyebab diare antara lain: Shigella, Salmonella campylobacter, Staphylococcus, dan Escherichia coli. Bakteri dapat berpindah dan masuk kedalam saluran cerna melalui makanan dan sanitasi yang buruk. Terdapat 4 patofisiologi diare antara lain: perubahan transport aktif yang menyebabkan penurunan absorbsi natrium dan peningkatan sekresi klorida, perubahan motilitas usus, peningkatan osmolaritas luminal, dan peningkatan tekanan hidrostatik jaringan (Dipiro, 2020).
Pada penelitian ini, diperoleh sebanyak 8 tanaman yang digunakan untuk mengatasi diare. Pengolahan ramuan untuk mengatasi diare cukup beragam. Daun jambu biji (Psidium guajava) merupakan tanaman yang sudah sering digunakan untuk mengobati diare, penggunaanya pun sangat mudah karna dapat dikonsumsi langsung. Penelitian yang dilakukan oleh Qonita dkk.. (2019) menyimpulkan bahwa kandungan senyawa tanin pada jambu biji memiliki aktivitas antibakteri melalui mekanisme penonaktifan adhesin bakteri, inhibisi enzim dan transport protein selubung sel bakteri. Tanaman lainnya yang digunakan untuk mengobati diare adalah daun sawo (Manilkara zapota). Penelitian Fajar dan Cahyo (2020) menyimpulkan kandungan tanin pada sawo bersifat astringent dan mampu
Asam urat (Gout) merupakan gangguan yang terjadi akibat peningkatan konsentrasi serum urat (hiperurisemia). Serangan berulang arthritis akut yang berhubungan dengan kristal monosodium dan leukosit didalam cairan sinovial, deposit kristal monosodium urat didalam jaringan dan sekitar sendi. Penyakit asam
111
urat pada umumnya dialami oleh orang yang sudah tua, dan beresiko dialami oleh pria tiga kali lebih tinggi dibandingkan wanita. Pada manusia, produksi asam urat merupakan tahap utama dalam degradasi purin. Manusia memiliki konsentrasi asam urat yang lebih tinggi dibandingkan mamalia lainnya karena tidak mengekspresikan enzim uricase yang dapat mengonversi asam urat menjadi allantoin yang lebih larut (Dipiro, 2020).
Berbagai macam tanaman herbal secara empiris sudah sering digunakan oleh masyarakat. Melalui hasil wawancara diperoleh sebanyak 21 tanaman yang digunakan sebagai ramuan untuk mengobati penyakit asam urat baik terdiri dari satu macam tanaman maupun kombinasi dari beberapa tanaman. Pengolahan ramuan yang dilakukan oleh para informan terdiri dari param, tawar, dan rebusan.
Aturan pakai ramuan yang dibuat ada yang digunakan sebagai obat luar dalam bentuk param atau biasa disebut oleh masyarakata suku Karo dengan istilah kuning dan ramuan yang digunakan sebagai obat dalam yaitu tawar (satu atau berbagai macam tanaman herbal yang dikeringkan kemudian digiling dan diseduh dengan air panas ketika akan dikonsumsi), terapi dengan uap atau biasa disebut oleh masyarakat suku Karo sebagai oukup, dan minuman.
Penelitian terkait pemanfaatan herbal untuk mengobati penyakit gout sudah banyak dilakukan. Kandungan senyawa flavonoid pada tumbuhan bekerja menghambat kerja enzim xantin oksidase sehingga tidak terbentuk asam urat.
Penelitian Ou dkk. (2020) flavonoid dalam kencur (Kaempferia galanga) yaitu kaempferide dan galangal memiliki aktivitas sebagai inhibitor xantin oksidase.
Selain kencur, rimpang jahe merah (Zingiber officinale var rubrum) juga sering digunakan masyarakat sebagai bahan ramuan obat-obatan. Selain dapat menghangatkan tubuh, rimpang jahe merah memiliki aktivitas sebagai inhibitor
112
xantin oksidase karena kandungan senyawa flavonoid (Lallo dkk., 2018). Penelitian laili dkk. (2019) menyatakan bahwa sirih merah (Piper crocatum) mengandung tanin, minyak atsiri, polifenol, dan flavonoid dan memiliki aktivitas sebagai inhibitor xantin oksidase. Selain itu senyawa flavonoid dapat menghambat aktivitas enzim siklooksigenase (COX) dan lipooksigenase yang merupakan mediator inflamasi. Sibagori (Sida rhombifolia) merupakan salah satu tanaman yang secara empiris sering digunakan oleh masyarakat untuk mengatasi nyeri sendi.
Tanaman herbal lainnya yang populer digunakan secara empiris untuk mengatasi asam urat adalah kumis kucing (Orthosiphon stamineus) dan sirih cina (Peperomia pellucida). Penelitian terkait efektivitas herba kumis kucing dilakukan oleh Mokalu dkk. (2021) dan memperoleh hasil bahwa kandungan flavonoid yaitu apigenin dalam kumis kucing memiliki aktivitas sebagai inhibitor xanthin oksidase.
Penelitian mengenai sirih cina dilakukan oleh Hulkiawar dkk. (2022) yang memperoleh hasil bahwa sirih cina mengandung senyawa flavonoid yaitu kuersetin yang mampu menghambat enzim xantin oksidase.
Salah satu kelebihan pengobatan tradisional adalah adanya keterkaitan antara pemanfaatan potensi alam untuk pengobatan dengan tradisi yang menjadi ciri khas dan jati diri suatu etnis. Salah satu teknik pengobatan dalam pengobatan gout adalah terapi uap yang dilakukan oleh Ibu I Br Sembiring. Terapi uap atau biasa disebut oleh masyarakat suku Karo dengan sebutan Oukup merupakan salah satu tradisi masyarakat suku Karo. Pada terapi asam urat ini tanaman herbal yang terdiri dari Sibagori (Sida rhombifolia), Putri malu (Mimosa pudica), dan padang teguh (Eleusine indica) direbus dengan wadah tertutup, setelah mendidih kemudian diangkat dan uapnya diuapkan pada kaki yang mengalami nyeri. Setelah beberapa waktu dan airnya cukup hangat, kemudian kaki direndam lebih kurang selama 20
113
menit. Teknik ini lebih kurang serupa dengan kompres hangat untuk menurunkan intensitas nyeri pada pasien gout. Selain itu, tanaman-tanaman yang digunakan untuk membuat air rebusan jika dikonsumsi pun akan memberikan efek antihiperurisemia.
Hal ini dibukti oleh oleh penelitian Fadilah (2017) menyimpulkan tanaman sibagori mengandung senyawa flavonoid yang dapat berperan sebagai xanthin oksidase inhibitor sehingga menghambat pembentukan asam urat. Hasil ini didukung oleh Penelitian yang dilakukan oleh Barus dkk. (2020) yang menyimpulkan bahwa tanaman sibagori (Sida rhombifolia) mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin dan pada dosis 200 mg/KgBB mampu menurunkan kadar asam urat sebanding dengan allopurinol. Selain sibagoi, penelitian tanaman putri malu dilakukan oleh Hayani (2011) yang menyimpulkan bahwa tanaman putri malu mengandung senyawa flavonoid chysin, apigenin, luteolin, kampferol, galangan, kuersetin, rhamnetin, myrisetin, dan gossypetin dan mampu menurunkan kadar asam urat melalui mekanisme inhibisi xanthin oksidase.
3.2.16 Herbal yang Digunakan untuk Pengobatan Penyakit Kulit dan gatal-gatal
Penyakit kulit dan gatal-gatal merupakan permasalahan yang umum terjadi terutama pada daerah dengan tingkat kebersihan yang rendah. Penyakit kulit adalah peradangan kulit pada area epidermis dan dermis akibat respon terhadap infeksi bakteri, jamur, dan faktor alergi. Penyakit kulit yang sering ditemukan antaranya ruam kulit, bersisik pada area kaki dan tangan, dermatitis kontak atau inflamasi pada kulit dan abrasi pada lapisan epidermis (Isro’in dan Andarmoyo, 2012).
Pemanfaatan herbal dalam mengatasi penyakit kulit dan gatal-gatal sudah sangat lazim dipraktikkan oleh masyarakat. diketahui terdapat 17 tanaman herbal
114
yang digunakan oleh informan pengobat tradisional Kecamatan Medan Tuntungan untuk mengobati penyakit kulit dan gatal-gatal baik tanaman yang digunakan tunggal maupun terdiri dari beberapa tanaman.
Pada praktik pengobatan yang dilakukan oleh informan pengobat tradisional Kecamatan Medan Tuntungan, penggunaan ramuan untuk mengobati penyakit kulit dan gatal-gatal digunakan dengan cara diparamkan pada tubuh. Para informan menggunakan param agar pengobatan lebih efektif karena ramuan langsung digunakan pada area yang sakit dan aplikasi langsung dipercaya mampu mengurangi rasa gatal. Salah satu tanaman herbal yang digunakan untuk membuat param adalah buah kemiri (Aleurithes moluccana). Penelitian Souza dkk. (2021) menyimpulkan kandungan senyawa asam asetil aleurit pada buah kemiri memberikan aktivitas antinosiseptif dan antiinflamasi.
Penelitian terkait pemanfaatan herbal untuk mengatasi penyakit kulit dan gata-gatal sudah banyak dilakukan. kandungan metabolit sekunder dalam tanaman herbal dapat digunakan untuk mengatasi penyebab terjadinya penyakit kulit terutama akibat infeksi bakteri dan jamur. Daun ketepeng cina (Senna alata) merupakan tanaman yang sudah biasa digunakan masyarakat untuk mengobati penyakit kulit karena infeksi jamur. Penelitian Lathifah dkk. (2021) menyimpulkan bahwa kandungan flavonoid, tannin, saponin, fenolik, dan alkaloid pada daun ketepeng cina mampu menghambat pertumbuhan jamur Trichophyton rubrum dan Candida albicans. Pemanfaatan herbal untuk mengobati penyakit kulit dan gatal-gatal yang dilakukan oleh informan pada umumnya digunakan dengan cara dibalurkan langsung ke area kulit yang gatal, hal ini bertujuan untuk memaksimalkan efek penyembuhan.