2.4.3 Fuction Point Analysis
2.4.3.1 Aturan Perhitungan OOmFPWeb
OOmFPWeb merupakan suatu metode yang melakukan mapping antara konsep yang dideskripsikan di metamodel IFPUG (ISO/IEC, 2003a)
dan konsep yang ada di metamodel OOWS (Abrahao & Poels, 2009) (Abrahao, Poels, & Pastor, 2006):
Tabel 2.4. Mapping antara konsep FPA dan konsep OOWS
Fungsi FPA OO-Method
ILF Data logikal yang
diidentifikasi oleh pengguna yang dipelihara di dalam ruang lingkup sistem.
Class yang mengenkapsulasi kumpulan atribut data yang merepresentasikan state dari objek dari setiap class.
EIF Data logikal yang
direferensikan oleh sistem dan dipelihara dalam ruang lingkup sistem.
Legacy view yang didefinisikan sebagai filter yang ditempatkan di class oleh sistem yang sudah ada sebelumnya.
EI Sebuah proses yang memproses data atau informasi kontrol dari luar sistem.
Service yang didefinisikan di dalam class atau legacy view.
EO Sebuah proses untuk mengirim data atau mengontrol informasi ke luar ruang lingkup sistem.
Instance Interaction Unit (IIU), Population Interaction Unit (PIU), dan Master Detail Interaction
Unit (MDIU) yang
didefinisikan di model presentasi.
EQ Sebuah proses yang memberikan informasi ke pengguna melalui penarikan data atau informasi kontrol.
Model di dalam model presentasi, memberikan informasi ke pengguna tanpa mengubah kelakukan sistem.
Kompleksitas dari fungsi transaksional adalah fungsi dari jumlah Data Element Types (DET_Transaction) dan jumlah File Types Referenced (FTR). FTR adalah fungsi data yang direferensikan selama eksekusi dari fungsi transaction (Abrahao, Poels, & Pastor, 2006)
Kompleksitas dari fungsi data adalah fungsi dari jumlah Data Element Type (DET) dan jumlah Record Element Type (RET). DET merupakan suatu field yang unik dan tidak berulang-ulang. RET adalah elemen data yang dikenalin oleh pengguna dalam file logikal (ILF atau EIF) (Abrahao, Poels, & Pastor, 2006)
Aturan perhitungan total DET RET untuk class dan legacy view dapat dilihat pada tabel 2.5 dan tabel 2.6. Sedangkan aturan umum perhitungan total DET dan FTR untuk service pada class dan legacy view, IIU (Instance Interaction Unit), dan PIU (Population Interaction Unit) bisa dilihat pada tabel 2.7, tabel 2.8, tabel 2.9, dan tabel 2.10.
Tabel 2.5. Aturan Pengukuran untuk Kompleksitas Class (Abrahao, Poels, & Pastor, 2006)
Tipe Element Data Record Element Type 1 DET untuk setiap atribut dari class 1 RET untuk class
1 DET untuk setiap atribut di IF dari sebuah class atau legacy direferensikan oleh sebuah hubungan agregasi banyak.
1 RET untuk setiap hubungan multi-valued agregasi (class atau legacy view)
1 DET untuk setiap atribut di IF dari class induk dari sebuah class
Tabel 2.6. Aturan Pengukuran Kompleksitas dari Legacy View (Abrahao, Poels, & Pastor, 2006)
Tipe Element Data Record Element Type 1 DET untuk setiap atribut dari legacy
view.
1 RET untuk legacy view.
1 DET untuk setiap atribut di IF dari class yang berhubungan dengan hubungan agregasi univalued.
1 RET untuk setiap hubungan multi-valued agregasi dengan sebuah class.
Tabel 2.7. Aturan Pengukuran untuk Kompleksitas dari Service (Abrahao, Poels, & Pastor, 2006)
Tipe Element Data File Type Referenced 1 DET untuk setiap argumen nilai data
dari service.
1 FTR untuk class.
1 DET untuk kapasitas sistem untuk mengirim data.
1 FTR untuk setiap class baru yang direferensi dalam argumen nilai objek dari service.
1 DET untuk aksi (terima/batal) dari eksekusi service.
1 FTR untuk setiap class baru yang direferensi dalam formula dari nilai standar.
1 FTR untuk setiap class baru yang direferensi dalam formula dari kejadian destroy.
1 FTR untuk setiap class baru yang direferensi dalam formula transaksi.
1 FTR untuk setiap class baru yang direferensi dalam formula kondisi dari spesialisasi.
Untuk spesialisasi oleh kejadian, hitung 1 FTR untuk setiap class baru yang kejadian adalah carrier dan liberator.
1 FTR untuk setiap class baru direferensi dalam formula batasan integritas.
Tabel 2.8. Aturan Pengukuran untuk Kompleksitas dari Service Legacy View (Abrahao, Poels, & Pastor, 2006)
1 DET untuk setiap argumen nilai data dari service.
1 FTR untuk legacy view.
1 DET untuk kapasitas sistem untuk mengirim pesan.
1 FTR untuk setiap class baru direferensi dalam formula precondition.
1 DET untuk aksi (terima/batal) dari service.
1 FTR untuk setiap class baru direferensi dalam formula eksekusi dari sebuah integrity constraint.
Tabel 2.9. Aturan Pengukuran untuk Instance Interaction Unit Pattern (Abrahao, Poels, & Pastor, 2006)
Tipe Element Data File Type Referenced
1 DET untuk setiap atribut yang unik. 1 FTR untuk setiap class atau legacy view dalam tampilan.
1 DET untuk setiap atribut unik yang ditampilkan (hanya jika atributnya berbeda dari OID).
1 DET untuk setiap aksi yang ditawarkan.
1 DET untuk setiap navigasi yang ditawarkan.
1 DET untuk kapasitas sistem untuk menampilkan pesan.
Tabel 2.10. Aturan Pengukuran untuk Population Interaction Unit Pattern (Abrahao, Poels, & Pastor, 2006)
Tipe Element Data Record Element Type 1 DET untuk setiap variabel nilai data
yang unik dari sebuah filter.
1 FTR untuk setiap class atau legacy view dalam tampilan.
1 DET untuk setiap atribut dalam tampilan (hanya jika atributnya berbeda dari filter).
1 FTR untuk setiap variabel nilai objek yang unik dari filter.
1 DET untuk setiap aksi yang ditawarkan (standarnya service class/legacy view).
1 FTR untuk setiap class baru direferensi dalam kriteria pengurutan.
1 DET untuk setiap navigasi yang ditawarkan.
1 FTR untuk setiap class baru direferensi dalam formula filter.
1 DET untuk kapasitas sistem untuk menampilkan pesan.
Untuk menentukan tingkat kompleksitas dari ILF dan EIF bisa dilihat pada aturan yang disebutkan pada tabel 2.10. untuk menentukan tingkat kompleksitas dari EI bisa dilihat pada aturan yang disebutkan pada tabel 2.11. untuk menentukan tingkat kompleksitas dari EO dan EQ bisa dilihat pada aturan yang disebutkan pada tabel 2.12 (Alexander, 2004).
Tabel 2.11. Level Kompleksitas untuk ILF dan EIF (Alexander, 2004) RET’s Data Element Type (DET’s)
1-19 20-50 51+
1 Low Low Average
2-5 Low Average High
6 or more Average High High
Tabel 2.12. Level Kompleksitas untuk EI (Alexander, 2004) FTR’s Data Element Type (DET’s)
1-4 5-15 16+
0-1 Low Low Average
2 Low Average High
3 or more Average High High
Tabel 2.13. Level Kompleksitas untuk EO dan EQ (Alexander, 2004) FTR’s Data Element Type (DET’s)
1-5 6-19 20+
0-1 Low Low Average
2-3 Low Average High
4 or more Average High High
Untuk setiap fungsi yang ditemukan, diberi bobot sesuai dengan tingkat kompleksitasnya yang bisa dilihat pada tabel 2.13.
Tabel 2.14. Bobot Kompleksitas (Alexander, 2004) Tipe Fungsi Low Average High
ILF 7 10 15 EIF 3 4 6 EI 3 4 6 EO 4 5 7 EQ 3 4 6