• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENGATURAN TENTANG PERTANGGUNGJAWABAN

C. Aturan Pertanggungjawaban Pidana Anak Yang Melakukan

MELAKUKAN PENYALAHGUNAAN INTERNET SEBAGAI MEDIA BULLYING

Berdasasrkan kamus besar bahasa indonesia (KBBI), anak adalah keturunan kedua. Dalam konsideran Undang Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dikatakan bahwa anak adalah amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya. Lebih lanjut dikatakan anak adalah Tunas, Potensi, dan generasi muda penerus cita-cita bangsa.67

67

Menurut Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak didalam Pasal 10 dikatakan:

“Setiap anak berhak menyatakan dan didengar pendapatnya, menerima, mencari, dan memberikan informasi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya demi pengembangan dirinya sesuai dengan nilai nilai kesusilaan dan kepatutan”.

Pada Pasal 10 dikatakan bahwa anak memiliki hak untuk menerima dan mencari informasi untuk pengembangan dirinya. Didalam mencari informasi anak saat ini sering menggunakan media teknologi informasi yaitu internet.

Berdasarkan perkembangannya sehari hari media teknolgi informasi telah melahirkan dunia siberr (cyberspace). Didalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 50/PUU-VI/2008, Mahkamah konstitusi menyatakan bahwa duni cyber

(siber) adalah sebuah konstruksi maya yang diciptakan oleh komputer yang berisi data-data abstrak sebuah konstruksi maya yang diciptakan oleh komputer yang berisi data-data abstrak yang berfungsi sebagai aktualisasi diri, wadah bertukar gagasan, dan sarana penggugatan prinsip demokrasi. Aktivitas pada dunia siber mempunyai karakter, yaitu mudah, penyebarannya sangat cepat dan meluas yang dapat diakses oleh siapapun dan dimanapun, dan dapat bersifat destruktif dari pemuatan materi penghinaan dan/atau pencemaran nama baik dengan menggunakan media elektronik yang sangat luar biasa karena memiliki corak viktimasasi yang tidak terbatas. Melalui pemahaman hakekat dunia siber beserta karakternya, maka diperlukan pengaturan tersendiri untuk mengakomodasi perkembangan dan konvergensi teknologi informasi, yang dapat digunakan sebagai sarana kejahatan.

Pengaruh penggunaan sarana teknologi informasi telah mengubah pola hidup manusia dan anak didalam tatanan kehidupan baru dan mendorong terjadinya perubahan sosial, ekonomi, budaya, pertahanan, kemanaan, dan penegakan hukum. Internet tidak lagi digunakan sebagi media yang positif tetapi internet juga digunakan sebagai media melakukan kejahatan baru (cybercrime).68

Perkembangan kejahatan siber (cybercrime) saat ini lebih bervariasi, tindak pidana cyber yang saat ini antara lain penipuan, hacking, cracking,deface, pencemaran nama baik, prostitusi, pornografi, perjudian, dan lain lain. Tindak pidana tersebut dapat dilakukan melalui jejaring sosial di internet sperti facebook, twitter dan sebagainya ataupun melalui media siber lain yang berhubungan dengan internet.69

Pada saat ini terdapat kasus kejahatan baru dan sering dilakukan oleh anak melalui media internet, yaitu adalah bullying. Bullying merupakan peristilahan atau suatu terminologi, konon istilah bullying ini terkait dengan bull, sapi jantan yang suka mendengus (untuk mengancam, menakut-nakuti, atau memberi tanda). Kamus Marriem Webster menjelaskan bahwa bully itu adalah to treat abusively

(memperlakukan secara tidak sopan) atau to affect by means of force orcoercion

(mempengaruhi denggan paksaan dan kekuatan ). Dan Olweus, seorang pakar yang berkonsentrasi menangani praktek bullying, menyimpulkan, bullying

mencakup penjelasan antara lain :70

68

Siswanto Sunarso Op.cit, Halaman 39

69

Sigid Suseno, Yurisdiksi Tindak Pidana Siber, Refika Aditama, Bandung , 2012, halaman 137

70

a. Upaya yang dilakukan untuk melancarkan permusuhan atau penyerangan terhadap korban bullying.

b. Korban merupakan seseorang atau pihak yang dianggap lebih lemah atau tidak berdaya oleh pelaku

c. Dapat menimbulkan efek yang buruk bagi fisik atau jiwanya.

Bullying dikalangan anak-anak memiliki bentuk yang beragam antara lain:71

a. Penyerangan yang dilakukan secara fisik, yaitu seperti: memukul, menendang, mendorong, dan seterusnya

b. Penyerangan yang dilakukan secara verbal, yaitu seperti: mengejek, menyebarkan isu buruk, atau menjuluki sebutan yang jelek

c. Penyerangan yang dilakukan terhadap emosi, yaitu seperti: menyembunyikan peralatan sekolah, memberikan ancaman, menghina

d. Penyerangan yang dilakukan terhadap rasial, yaitu seperti: mengucilkan anak karena ras, agama, kelompok dan sebagainya. e. Penyerangan yang dilakukan terhadap seksual, yaitu seperti: meraba,

mencium, dan seterusnya

Barbara Coloroso menyebutkan bullying biasanya terjadi karena adanya kerjasama yang bagus dari tiga pihak yang disebut tiga rantai penindasan.72

a. Pertama, bullying terjadi karena ada pihak yang menindas

71

Ibid, halaman 102

72

b. Kedua, ada penonton yang diam atau mendukung , entah karena takut atau kerena merasa satu kelompok .

c. Ketiga, ada pihak yang dianggap lemah dan menganggap dirinya sebagai pihak yang lemah.

Bullying melalui internet sering disebut dengan istilah cyberbullying,

cyberbullying tidak jauh berbeda dengan bullying, hanya saja cyberbullying

umumunya merupakan suatu tindakan bullying yang menggunakan media internet, sehingga tidak dapat terjadi kontak atau hubungan fisik diantara korban dan pelaku bullying.

Menurut Elizabeth Santosa cyberbullying (pelecehan secara online) adalah pengguna media digital untuk mengkomunikasikan informasi yang salah, mempermalukan, dan mengintimidasi orang lain, (umumnya dilakukan antara teman sebaya) yang mengakibatkan gangguan psikis pada korbannya mencakup depresi, gangguan kecemasan atau ketakutan berlebih, mengisolasi diri dari lingkungan, dan yang paling tragis adalah bunuh diri.73

Menurut Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung Republik Indonesia berupa materi materi penyuluhan yang dapat diunduh dari situs kejaksaan.go.id yang berbentuk slide, memaparkan pengertian cyberbullying yaitu tindakan yang dilakukan secara sadar untuk merugikan atau menyakiti orang lain melalui penggunaan komputer (jejaring sosial dunia maya), telepon seluler dan peralatan elektrnik lainnya (Sameer Hinduja dan Justin W.Patchin dari Cyberbullying Research Center). Pada slide tersebut dipaparkan juga pengertian cyberbullying

merupakan segala bentuk kekerasan (diejek, dihina, diintimidasi, atau

73

Elizabeth T. Santosa, Raising Children In Digital Era, PT Elex Media Komputindo, Jakarta, 2015, Halaman 72

dipermalukan) yang dialami anak atau remaja dan dilakukan teman seusia mereka melalui dunia cyber atau internet, teknologi digital atau telepon seluler (wikipedia). Didalam slide tersebut juga dipaparkan beberapa bentuk-bentuk

cyberbullying yang isi nya memiliki kesamaan dengan tujuh identifikasi

cyberbullying yang dipaparkan oleh Australian Federal Police (AFP).74

Menurut Australian Federal Police (AFP) mengindentifikasikan setidaknya ada tujuh bentuk cyberbullying yaitu.

75

a. Flaming (perselisihan yang menyebar)

Flaming adalah ketika suatu perselisihan yang awalnya terjadi antara dua orang atau lebih (dalam skala kecil) dan kemudian menyebar luas sehingga melibatkan banyak orang (dalam skla besar) sehingga menjadi suatu kegaduhan dan permasalahan besar.

b. Harrasment (pelecehan)

Harrasment adalah upaya seseorang untuk melecehkan orang lain dengan mengirim berbagai bentuk pesan baik tulisan maupun gambar yang bersifat menyakiti, Menghina, memalukan, dan mengancam.

c. Denigration (fitnah)

Denigration adalah upaya seseorang menyebarkan kabar bohong yang bertujuan merusak reputasi orang lain.

74

Slide Dampak Teknologi Informasi Terhadap Perilaku Kekerasan Di Kalangan Generasi Muda (Materi penyuluhan/penerangan hukum), diunduh melalui

www.kejaksaan.go.id/infohukum.php?hal=2, diakses pada pukul 18.34 WIB, Pada tanggal 24 Maret 2015

75

M.kompasiana.com/post/read/527409/3/aspek-hukum-dan-pencegahan-cyber-bullying.html, diakses pada pukul 07.00 WIB, pada tanggal 24 Maret 2015

d. Impersonation (meniru)

Impersonation adalah upaya seseorang berpura-pura menjadi orang lain dan mengupayakan pihak ketiga menceritakan hal-hal yang bersifat rahasia.

e. Outing and trickery (penipuan)

Outing adalah upaya seseorang yang berpura-pura menjadi orang lain dan menyebarkan kabar bohong atau rahasia orang lain tersebut atau pihak ketiga.

f. Exclusion (pengucilan)

Exclusion adalah upaya yang bersifat mengucilkan atau mengecualikan seseorang untuk bergabung dalam suatu kelompok atau komunitas atas alasan yang diskriminatif

g. Cyber-stalking (penguntitan didunia maya)

Cyber-stalking adalah upaya seseorang menguntit atau mengikuti orang lain dalam dunia maya dan menimbulkan gangguan bagi orang lain tersebut.

Anak pelaku cyberbullying atau bullying melalui internet dapat dijatuhi atau diberikan sanksi pidana. Terhadap pengaturan perbuatan cyberbulying, terdapat dalam Pasal 27 ayat (1), (3), (4), Pasal 28 ayat (2), dan Pasal 29 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Eletktronik (UU ITE) yaitu:

Pasal 27 ayat (1), (3), (4) :

(1) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.

(3) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.

(4) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan pemerasan dan/atau pengancaman.

Berikut beberapa unsur subjektif Pasal 27 ayat (1), (3), (4) UU ITE: 1. Unsur subjektif dengan sengaja

Unsur dengan sengaja merupakan unsur subjektif tindak pidana. Sengaja mengandung makna mengetahui (knowingly) dan menghendaki (intentionally) dilakukannya suatu perbuatan yang dilarang oleh UU ITE, atau mengetahui dan menghendaki terjadinya suatu akibat yang dilarang UU ITE. Terkait dengan Pasal 27 ayat (1) UU ITE, sengaja yang dimaksud ditujukan terhadap perbuatan mendistribusikan, mentransmisikan, atau membuat dapat diaksesnya informasi atau dokumen elektronik yang memiliki muatan kesusilaan, muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik, muatan pemerasan dan/atau pengancaman. Sengaja juga mengandung makna “sepatutnya mengetahui”, penerapan dan pengertian ini akan dinilai dari kasus per kasus. Pemahaman kesesengajaan dalam UU ITE mengacu kepada teori teori kesengajaan yang berlaku di Indonesia, yaitu:76

a. Kesengajaan sebagai maksud (opzet als oogmerk)

b. Kesengajaan dengan keinsyafan kepastian (opzet bij noodzakelijkheids atau zekerheidsbewustzijn)

c. Kesengajaan dengan keinsyafan kemungkinan (opzet bij mogelijkheids-bewustzijn)

76

Melalui pencantuman kata “dengan sengaja”, maka perlu dibuktikan mengenai kesengajaan dari pelaku dalam hal melakukan delik yang diancamkan. Unsur kesalahan ini sangat penting untuk menjadi bahan pertimbangan hakim dalam hal pemberian pemberatan ataupun peringanan bagi pelaku.77

Unsur tanpa hak telah dijelaskan dalam putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 50/PPU-VI/2008, dimana Mahakamah Konstitusi menyatakan bahwa unsur tanpa hak dalam Pasal 27 UU ITE merupakan sifat melawan hukum (wedderechtelijk sebagai unsur konstitutif dari suatu tindak pidana yang lebih spesifik).

2. Unsur subjektif tanpa hak.

78

Tanpa hak maksudnya tidak memiliki hak baik yang diberikan oleh peraturan perundang-udangan, perjanjian, atau alas hukum lain yang sah (without authorization). Termasuk dalam pengertian melampaui hak atau kewenangan yang diberikan kepada orang yang bersangkutan berdasarkan alas hukum itu (in excess of authorization). Berdasarkan hal tersebut maka, peraturan perundang-undangan, perjanjian, atau alas hukum lain yang sah tersebut adalah patokan atau dasar untuk menilai dan menentukan ada tidaknya hak seseorang, atau dilampaui ada tidaknya hak yang diberikan padanya. Alas hukum yang dimaksud harus memberikan hak kepada seseorang untuk mendistribusikan, mentransmisikan, atau membuat dapat diaksesnya muatan yang memiliki muatan kesusilaan, muatan

77

Budi suhariyanto, Op.cit, Halaman 108-109

78

penghinaan dan/atau pencemaran nama baik dan muatan pemerasan dan/atau pengancaman.79

Pasal 27 UU ITE menyatakan terdapat tiga perbuatan yang dilarang, yaitu mendistribusikan, mentransmisikan, membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik. Hal ini jelas menegaskan hanya tiga perbuatan atau kelakuan tersebut yang dapat dikenakan pidana oleh Pasal 27 UU ITE.

3. Unsur subjektif mendistribusikan, mentransmisikan, membuat dapat diakses.

80

UU ITE tidak memberikan defenisi mengenai mendistribusikan, mentaransmisikan, membuat dapat diaksesnya. Ketiadaan defenisi terhadap ketiga terminologi ini dipermasalahkan dalam Mahkamah Konstitusi (MK) pada perkara Nomor 50/PPU-VI/2008 dan pada perkara Nomor 2/PUU-VII/2009 terkait dengan pasal 27 ayat (3) UU ITE mengenai penghinaan atau pencemaran nama baik di internet. Putusan MK ditujukan untuk Pasal 27 ayat (3) UU ITE, namun pengertian mendistribusikan, mentransmisikan, membuat dapat diaksesnya merupakan unsur yang terdapat dalam perumusan dalam pasal 27 ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4). 81

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 50/PPU-VI/2008 menyatakan bahwa pengertian “mendistribusikan” sebagai “penyalinan”. Pengertian mentransmisikan adalah interaksi sekejap antara pihak pengirim dan penerima dan

79

Josua Sitompul, Op.cit, Halaman 152-153

80

Budi Suhariyanto, Op.cit, Halaman 110

81

interaksi tersebut merupakan bagian dari distribusi. “Membuat dapat diakses” dapat berupa memberikan akses terhadap muatan secara langsung dan memberikan akses berupa alamat tautan.82

Mendistribusikan adalah mengirimkan informasi atau dokumen elektronik kepada beberapa pihak atau tempat melalui atau dengan Sistem Elektronik. Tindakan ini dapat dilakukan dengan mengirimkan email, SMS atau MMS (multimedia messaging service) kepada banyak penerima. Perbuatan membuat informasi dapat dilihat siapa saja, seperti publikasi di blogspot atau wall facebook, atau mengunggah video melalui file-sharing website juga termasuk dalam kategori mendistribusikan.83

Mentransmisikan adalah mengirimkan atau meneruskan informasi atau Dokumen Elektronik dari satu pihak atau tempat ke satu orang atau tempat lain. Mendistribusikan mengandung makna mentransmisikan, tetapi perbedaannya adalah esensi dari mendistribusikan ialah menyebarluaskan informasi atau dokumen elektronik, sedangkan mentransmisikan hanya terbatas dari satu pengirim kepada satu penerima. Tindakan ini dapat dilakukan dengan mengirim pesan kepada seorang penerima, atau meneruskan (forward) pesan kepada penerima lain. “Membuat dapat diaksesnya” memiliki makna membuat informasi atau dokumen elektronik dapat diakses oleh orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan

link/hyperlink yaitu tautan atau referensi yang dapat digunakan oleh pengguna

82

Putusan Mahkamah Agung Nomor 50/PPU-VI/2008

83

internet untuk mengakses lokasi atau dokumen. Membuat dapat diaksesnya juga dapat dilakukan dengan memberikan kode akses (password).84

Pada buku hukum informasi dan transaksi elektronik karangan Siswanto Sunarso bahwa “setiap orang” dalam Pasal 27 UU ITE ditafsirkan sebagai individu juga badan hukum yanga berbadan hukum sesuai ketentuan perundang-undangan.

Berikut beberapa unsur objektif Pasal 27 ayat (1), (3), (4) UU ITE: 1. Unsur objektif setiap orang

Pada Pasal 1 angka (21) UU ITE ditentukan bahwa orang adalah orang perseorangan, baik warga negara Indonesia, warga negara asing, maupun badan hukum.

85

Penerapan setiap Pasal dalam UU ITE , harus memperhatikan Pasal 2 UU ITE yang menegaskan bahwa UU ITE berlaku untuk setiap orang yang melakukan perbuatan hukum yang diatur dalam undang-undang tersebut baik yang berada di wiilayah hukum Indonesia maupun diluar wilayah hukum Indonesia dan/atau diluar wilayah hukum indonesia dan merugikan kepentingan Indonesia.

86

“informasi elektronik” adalah satu atau sekumpulan data elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, 2. Unsur objektif informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik

Menurut Pasal 1 angka (1) UU ITE dinyatakan bahwa:

84

Ibid, Halaman 154

85

Siswanto Sunarso, Op.cit, Halaman 94

86

foto, electronic data interchange (EDI), surat elektronik (electronic mail), telegram, teleks, telecopy, atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, kode akses, simbol, atau perforasi yang telah diolah yang memiliki arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya”.

Menurut Pasal 1 angka (4) UU ITE dinyatakan bahwa:

dokumen elektronik adalah setiap informasi elektronik yang dibuat, diteruskan, dikirimkan, diterima, atau disimpan dalam bentuk analog, digital, elektromagnetik, optikal, atau sejenisnya, yang dapat dilihat, ditampilkan dan/atau didengar melalui komputer atau sistem elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, kode akses, simbol, atau perforasi yang memiliki makna atau arti dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya.

Esensi perbedaan antara informasi elektronik dan dokumen elektronik ialah bahwa informasi elktronik pada esensinya adalah konten, sedangkan dokumen elektronik merupakan media dari konten itu sendiri yang dapat berbentuk analog, digital, elektromagnetik, atau optikal. Sebagai gambaran sederhana, dalam file “.doc”, “.xls”, “.ods”, yang dimaksud dengan informasi elektronik adalah kata-kata, kalimat, paragraf, angka, data, atau font yang terdapat dalam file-file tersebut, sedangkan dokumen elektroniknya adalah “.doc”, “.xls”, “.ods”. Gambar dalam suatu file dengan format .jpg merupakan informasi elektronik sedangkan format .jpg pada gambar adalah merupakan dokumen elektronik. Selain perbedaan tersebut tidak ada perbedaan yang esensi antara informasi elektronik dan dokumen elektronik.87

87

Ibid, Halaman 155

Pada UU ITE tidak dijelaskan mengenai pengertian “muatan yang melanggar kesusilaan”, oleh karena itu, untuk memahami ruang lingkup terminologi ini perlu mengacu pada KUHP.88

1. Barangsiapa dengan sengaja secara terbuka melanggar kesusilaan; Kejahatan dengan sengaja melanggar kesusilaan dirumuskan dalam Pasal 281 KUHP yang rumusan selengkapnya adalah:

Diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak Rp 4500,-:

2. Barangsiapa dengan sengaja dihadapan orang lain yang ada disitu bertentangan dengan kehendaknya, melanggar kesusilaan.

Dalam rumusan Pasal 281, ada dua bentuk kejahatan melanggar kesusilaan umum, yang pertama dirumuskan pada butir satu, dan kejahatan yang kedua dirumuskan pada butir dua, dua bentuk kejahatan tersebut adalah:

1) Kejahatan yang pertama89

Kejahatan yang pertama terdiri dari unsur-unsur, berikut. a. Unsur objektif, terdiri dari:

a) Perbuatan: melanggar kesusilaan b) Secara terbuka b. Unsur subjektif: a) Sengaja (opzettelijk) 88 Ibid, Halaman 156 89

Adami Chazawi, Tindak Pidana Mengenai Kesopanan, Rajagrafindo, Jakarta, 2005, Halaman 11-12

Ada tiga unsur yang membentuk kejahatan kesusilaan pertama menurut Pasal 281, yang merupakan syarat esensial terwujudnya kejahatan, yaitu satu unsur subjektif berupa kesalahan dalam bentuk kesengajaan, satu unsur mengenai tingkah laku atau perbuatan materiil, dan satu unsur keadaan yang menyertai tempat dilakukannya perbuatan materiil, yakni di muka umum.

2) Kejahatan Yang kedua90

Kejahatan yang dirumuskan kedua dalam Pasal 281 ini, pada dasarnya sama dengan kejahatan yang dirumuskan pertama. Hanya pada kejahatan melanggar kesusilaan yang kedua ini, unsur dimuka umum tidak disebutkan, dan sebagai gantinya dirumuskan unsur “didepan orang lain yang ada di situ bertentangan dengan kehendaknya”. Artinya si pembuat melakukan perbuatan melanggar kesusilaan di muka seseorang, di mana kehadirannya di muka orang lain di luar kehendak orang itu. Rasio larangan dalam melakukan perbuatan melanggar kesusilaan ini adalah melindungi kepentingan hukum mengenai rasa kesusilaan bagi orang lain yang melihat perbuatan itu.

Pada perundang undangan konsep kesusilaan diatur secara luas dan secara sempit. KUHP merupakan undang-undang yang mengatur kesusilaan secara luas karena dalam BAB XIV diatur mengenai kejahatan terhadap kesusilaan, dan ruang lingkup kesusilaan yang diatur mencakup penyebarluasan muatan pornografi, perzinahan, percabulan, dan termasuk perjudian, sedangkan Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi (“UU Pornografi”) memberikan

90

gambaran mengenai ruang lingkup konten yang melanggar kesusilaan secara lebih sempit.91

Berdasarkan ruang lingkup kesusilaan yang dimuat dalam KUHP dan dalam UU Pornografi, muatan kesusilaan yang dimaksud dalam UU ITE lebih tepat mengacu kepada kesusilaan dalam arti sempit, yaitu pornografi walaupun masih dimungkinkan interpretasi kesusilaan dalam arti luas. Namun yang ditekankan adalah irisan besar pengaturan pornografi dalam UU ITE dan UU pornografi. Hal yang diatur dalam UU pornografi ialah pornografi dalam lingkup elektronik maupun non-elektronik, sedangkan dalam UU ITE ialah hanya pornografi dalam lingkup elektronik.

Berdasarkan Pasal 1 butir 11 UU Pornografi, Pornografi adalah:

“gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan, atau eksploitas seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat”.

92

Seiring dengan perkembangan teknologi maka kejahatan pun berkembang mengikuti perkembangan teknologi tersebut. Jika dahulu orang hanya bisa melakukan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik lewat tulisan surat atau 4. Unsur objektif muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik

91

Josua Sitompul, Op.cit, Halaman 156

92

perkataan lisan, sekarang dengan adanya internet seseorang juga bisa melakukan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik melalui internet.93

(1) Barangsiapa dengan sengaja menyerang kehormatan atau nama baik orang dengan jalan menuduh ia melakukan suatu perbuatan, dengan maksud yang nyata untuk menyiarkan tuduhan itu supaya diketahui oleh umum, karena bersalah menista orang, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya sembilan bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp.4500,-.

Unsur “muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik” yang diatur dalam Pasal 27 ayat (3) UU ITE juga mengacu pada KUHP, khususnya Pasal 310 dan 311 KUHP memberikan dasar pemahaman atau esensi mengenai penghinaan atau pencemaran nama baik, yaitu tindakan menyerang kehormatan atau nama baik orang lain dengan maksud untuk diketahui oleh umum.

Pasal 310 KUHP:

(2) Kalau hal itu terjadi dengan surat atau gambaran yang disiarkan, dipertunjukkan atau ditempelkan karena bersalah mencemar orang dengan surat, si pembuat dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya satu tahun empat bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp.4.500,-

Pasal 311 KUHP:

(1) Jika yang melakukan kejahatan pencemaran atau pencemaran tertulis dibolehkan untuk membuktikan apa yang dituduhkan itu benar, tidak membuktikannya, dan tuduhan dilakukan bertentangan dengan apa yang diketahui, maka dia diancam melakukan fitnah dengan pidana penjara paling lama empat tahun.

(2) Pencabutan hak-hak berdasarkan pasal 35 No.1-3 dapat dijatuhkan. Berdasarkan hal diatas, perbuatan mendistribusikan, mentransmisikan, membuat dapat diaksesnya dalam pasal ini haruslah dimaksudkan untuk menyerang kehormatan atau nama baik orang lain dengan maksud untuk diketahui oleh umum. Delik penghinaan dalam Pasal 27 ayat (3) UU ITE sama seperti dalam Pasal 310 KUHP, maksudnya perasaan telah terserangnya nama baik atau

93

Dokumen terkait