• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3 Aturan Sinkronisasi

Sebelum melakukan penyusunan model sistem jaringan kereta api di Jawa Timur terlebih dahulu ditentukan aturan sinkronisasi. Hal ini dimaksudkan untuk menjamin penumpang dapat berpindah dari kereta api yang berbeda dan menjamin keamanan dalam satu jalur tidak terdapat dua kereta api secara bersamaan. Berikut aturan sinkronisasi diantara kereta api berdasarkan beberapa jalur diberikan sebagai berikut.

Jalur 1 :

i. Keberangkatan kereta api ke- (π‘˜+ 1) dari MD1 menuju NJK1 harus menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke-(π‘˜ βˆ’1) dari NJK1

menuju MD1.

ii. Keberangkatan kereta api ke- (π‘˜+ 1) dari NJK1 menuju KTS1 harus menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke-π‘˜ dari MD1 menuju NJK1.

iii. Keberangkatan kereta api ke-(π‘˜+ 1) dari KTS1 menuju JG harus menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke-(π‘˜ βˆ’1) dari NJK1 menuju KTS1

dan menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke-(π‘˜ βˆ’2) dari KD menuju KTS2.

iv. Keberangkatan kereta api ke-(π‘˜+ 1) dari JG menuju MR harus menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke-(π‘˜ βˆ’2) dari KTS1 menuju JG. v. Keberangkatan kereta api ke- (π‘˜+ 1) dari MR menuju SGU1 harus

menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke-(π‘˜ βˆ’2) dari JG menuju MR.

vi. Keberangkatan kereta api ke- (π‘˜+ 1) dari SGU1 menuju MR harus menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke-(π‘˜ βˆ’3) dari MR menuju SGU1 dan menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke-π‘˜ dari BG1 menuju SGU2.

vii. Keberangkatan kereta api ke- (π‘˜+ 1) dari MR menuju JG harus menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke- (π‘˜ βˆ’1) dari SGU1 menuju MR.

40

viii. Keberangkatan kereta api ke- (π‘˜+ 1) dari JG menuju KTS1 harus menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke- (π‘˜ βˆ’2) dari MR menuju JG.

ix. Keberangkatan kereta api ke- (π‘˜+ 1) dari KTS1 menuju NJK1 harus menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke- (π‘˜ βˆ’2) dari JG menuju KTS1 dan menunggu kedatangan kereta api yang berangkat (π‘˜ βˆ’1) dari NJK2 menuju KTS2.

x. Keberangkatan kereta api ke- (π‘˜+ 1) dari NJK1 menuju MD1 harus menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke- π‘˜ dari KTS1 menuju NJK1.

Jalur 2 :

i. Keberangkatan kereta api ke- (π‘˜+ 1) dari MD2 menuju NJK2 harus menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke-π‘˜ dari NJK2 menuju MD2.

ii. Keberangkatan kereta api ke-(π‘˜+ 1) dari NJK2 menuju KTS2 harus menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke- (π‘˜ βˆ’1) dari MD2

menuju NJK2.

iii. Keberangkatan kereta api ke- (π‘˜+ 1) dari KTS2 menuju KD harus menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke-(π‘˜ βˆ’1) dari NJK2

menuju KTS2 dan menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke-(π‘˜ βˆ’2) dari JG menuju KTS1.

iv. Keberangkatan kereta api ke-(π‘˜+ 1) dari KD menuju TA harus menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke-(π‘˜ βˆ’2) dari KTS2 menuju KD. v. Keberangkatan kereta api ke-(π‘˜+ 1) dari TA menuju BL harus menunggu

kedatangan kereta api yang berangkat ke-π‘˜ dari KD menuju TA.

vi. Keberangkatan kereta api ke-(π‘˜+ 1) dari BL menuju ML1 harus menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke-π‘˜ dari TA menuju BL.

vii. Keberangkatan kereta api ke-(π‘˜+ 1) dari ML1 menuju BL harus menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke-(π‘˜ βˆ’2) dari BL menuju ML1 dan menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke-π‘˜ dari BG2 menuju ML2.

41

viii. Keberangkatan kereta api ke- (π‘˜+ 1) dari BL menuju TA harus menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke- π‘˜ dari ML1 menuju BL.

ix. Keberangkatan kereta api ke- (π‘˜+ 1) dari TA menuju KD harus menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke- (π‘˜ βˆ’1) dari BL menuju TA. x. Keberangkatan kereta api ke- (π‘˜+ 1) dari KD menuju KTS2 harus

menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke- (π‘˜ βˆ’1) dari TA menuju KD.

xi. Keberangkatan kereta api ke- (π‘˜+ 1) dari KTS2 menuju NJK2 harus menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke- (π‘˜ βˆ’2) dari KD menuju KTS2 dan menunggu kedatangan kereta api yang berangkat (π‘˜ βˆ’1) dari NJK1 menuju KTS2.

xii. Keberangkatan kereta api ke- (π‘˜+ 1) dari NJK2 menuju MD2 harus menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke- (π‘˜ βˆ’1) dari KTS2

menuju NJK2. Jalur 3 :

i. Keberangkatan kereta api ke-(π‘˜+ 1) dari CP menuju BJ harus menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke-π‘˜ dari BJ menuju CP.

ii. Keberangkatan kereta api ke-(π‘˜+ 1) dari BJ menuju BBT harus menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke-(π‘˜ βˆ’2) dari BJ menuju BBT. iii. Keberangkatan kereta api ke-(π‘˜+ 1) dari BBT menuju LMG harus

menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke-(π‘˜ βˆ’2) dari CP menuju LMG.

iv. Keberangkatan kereta api ke- (π‘˜+ 1) dari LMG menuju SBI harus menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke-(π‘˜ βˆ’3) dari BBT menuju LMG.

v. Keberangkatan kereta api ke- (π‘˜+ 1) dari SBI menuju LMG harus menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke-(π‘˜ βˆ’3) dari LMG menuju SBI dan menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke-(π‘˜ βˆ’1) dari BG2 menuju SGU4 ditambah [10,15] menit.

42

vi. Keberangkatan kereta api ke- (π‘˜+ 1) dari LMG menuju BBT harus menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke- π‘˜ dari SBI menuju LMG.

vii. Keberangkatan kereta api ke- (π‘˜+ 1) dari BBT menuju BJ harus menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke- (π‘˜ βˆ’1) dari LMG menuju BBT. viii. Keberangkatan kereta api ke-(π‘˜+ 1) dari BJ menuju CP harus menunggu

kedatangan kereta api yang berangkat ke- (π‘˜ βˆ’1) dari BBT menuju BJ. Jalur 4 :

i. Keberangkatan kereta api ke- (π‘˜+ 1) dari BW menuju JR harus menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke-π‘˜ dari JR menuju BW.

ii. Keberangkatan kereta api ke- (π‘˜+ 1) dari JR menuju PB harus menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke-π‘˜ dari PB menuju BG1.

iii. Keberangkatan kereta api ke- (π‘˜+ 1) dari BG1 menuju SGU2 harus menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke-π‘˜ dari PB menuju BG1

dan menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke- (π‘˜ βˆ’1) dari SGU4

menuju BG2.

iv. Keberangkatan kereta api ke-(π‘˜+ 1) dari SGU2 menuju BG1 harus menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke-π‘˜ dari BG1 menuju SGU2 dan menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke-π‘˜ dari MR menuju SBY1 dan menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke-(π‘˜ βˆ’3) dari MR menuju SGU1.

v. Keberangkatan kereta api ke-(π‘˜+ 1) dari BG1 menuju PB harus menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke- π‘˜ dari SGU2 menuju BG1 dan menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke-(π‘˜ βˆ’1) dari ML2

menuju BG2.

vi. Keberangkatan kereta api ke-(π‘˜+ 1) dari PB menuju JR harus menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke- π‘˜ dari BG1 menuju PB.

vii. Keberangkatan kereta api ke-(π‘˜+ 1) dari JR menuju BW harus menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke- π‘˜ dari PB menuju JR.

43 Jalur 5 :

i. Keberangkatan kereta api ke-(π‘˜+ 1) dari SGU3 menuju BG2 harus menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke-(π‘˜ βˆ’1) dari BG2

menuju SGU3 dan menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke-(π‘˜ βˆ’3) dari LMG menuju SBI ditambah [10,15] menit.

ii. Keberangkatan kereta api ke- (π‘˜+ 1) dari BG2 menuju ML2 harus menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke- (π‘˜ βˆ’1) dari SGU3

menuju BG2 dan menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke-π‘˜ dari PB menuju BG1.

iii. Keberangkatan kereta api ke- (π‘˜+ 1) dari ML2 menuju BG2 harus menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke-π‘˜ dari BG2 menuju ML2

dan menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke-(π‘˜ βˆ’2) dari BG menuju ML1 .

iv. Keberangkatan kereta api ke- (π‘˜+ 1) dari BG2 menuju SGU3 harus menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke- (π‘˜ βˆ’1) dari ML2

menuju BG2 dan menunggu kedatangan kereta api yang berangkat ke-π‘˜ dari SGU2 menuju BG1.

Selanjutnya dari informasi jadwal keberangkatan dan lamanya waktu perjalanan serta aturan sinkronisasi yang telah diberikan dibuat suatu model sistem jaringan kereta api di Jawa Timur. Berikut ini diberikan pendefinisian variabel pada model sistem jaringan kereta api di Jawa Timur.

Tabel 4.6Pendefinisian Variabel

Var. Definisi Keberangkatan

Kereta Api dari :

Var. Definisi Keberangkatan

Kereta Api dari : π‘₯1(π‘˜) 𝑀𝐷1 ke 𝑁𝐽𝐾1 pada saat ke-π‘˜ π‘₯22(π‘˜) 𝑁𝐽𝐾2 ke 𝑀𝐷2 pada saat ke-π‘˜ π‘₯2(π‘˜) 𝑁𝐽𝐾1 ke 𝐾𝑇𝑆1 pada saat ke-π‘˜ π‘₯23(π‘˜) 𝐢𝑃 ke 𝐡𝐽 pada saat ke-π‘˜ π‘₯3(π‘˜) 𝐾𝑇𝑆1 ke 𝐽𝐺 pada saat ke-π‘˜ π‘₯24(π‘˜) 𝐡𝐽 ke 𝐡𝐡𝑇 pada saat ke-π‘˜ π‘₯4(π‘˜) 𝐽𝐺 ke 𝑀𝑅 pada saat ke-π‘˜ π‘₯25(π‘˜) 𝐡𝐡𝑇 ke 𝐿𝑀𝐺 pada saat ke-π‘˜ π‘₯5(π‘˜) 𝑀𝑅 ke π‘†π΅π‘Œ1 pada saat ke-π‘˜ π‘₯26(π‘˜) 𝐿𝑀𝐺 ke 𝑆𝐡𝐼 pada saat ke-π‘˜ π‘₯6(π‘˜) π‘†π΅π‘Œ1 ke 𝑀𝑅 pada saat ke-π‘˜ π‘₯27(π‘˜) 𝑆𝐡𝐼 ke 𝐿𝑀𝐺 pada saat ke-π‘˜ π‘₯7(π‘˜) 𝑀𝑅 ke 𝐽𝐺 pada saat ke-π‘˜ π‘₯28(π‘˜) 𝐿𝑀𝐺 ke 𝐡𝐡𝑇 pada saat ke-π‘˜ π‘₯8(π‘˜) 𝐽𝐺 ke 𝐾𝑇𝑆1 pada saat ke-π‘˜ π‘₯29(π‘˜) 𝐡𝐡𝑇 ke 𝐡𝐽 pada saat ke-π‘˜

Dokumen terkait