• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

A. Kajian Pustaka

6. Autisme

a. Pengertian Autisme

Rujukan pertama tentang “autisme usia kanak” ditulis oleh seorang psikolog anak Leo Kanner pada tahun 1943. Kanner mencatat orang-orang penyendiri di dalam kelompok ini dengan menciptakan istilah “autism” yang terdiri dari kata

“auto” dari bahasa Yunani berarti “diri”. Kanner mengidentifikasi bahwa anak-anak ini biasanya menyendiri dan tidak acuh dengan orang lain serta cenderung mengarah pada rutinitas yang berulang. Kanner mencatat kurangnya interaksi sosial sebagai karakteristik penentu autisme usia kanak dan adanya kebiasaan pada beberapa anak yaitu mengulang kata yang sudah di dengar (Glazzard, 2015:

114).

Atmaja (2018: 195) menjelaskan bahwa autisme adalah gangguan perkembangan yang terjadi pada anak yang mengalami kondisi menutup diri.

Gangguan ini mengakibatkan anak mengalami keterbatasan dari segi komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku. Danuatmaja (dalam Koswara, 2016: 10) menjelaskan bahwa autis merupakan suatu kumpulan sindrom (gejala-gejala) akibat kerusakan syaraf, dan mengganggu perkembangan anak. Budirman (dalam Koswara, 2016: 11) memaparkan bahwa autis adalah gangguan perkembangan pada anak, oleh karena itu diagonis ditegakkan dari gejala-gejala yang nampak dan menunujukkan adanya penyimpangan dari perkembangan yang normal seusianya. Autisme sebagai gangguan perkembangan yang mengombinasikan gangguan komunikasi sosial, gangguan interaksi sosial, dan gangguan imajinasi sosial. Tanpa tiga gangguan tersebut, seseorang tidak akan didiagnosis memiliki autisme. Gangguan-gangguan tersebut cenderung parah dan menyebabkan kesulitan belajar pada anak (Thompson, 2010: 86).

Berdasarkan penjelasan di atas, peneliti menyimpulkan bahwa autisme adalah suatu gangguan perkembangan yang di sebabkan oleh kerusakan syaraf sehingga mengakibatkan seseorang mengalami hambatan dalam berkomunikasi, berinteraksi dan berperilaku.

b. Penyebab Autisme

Autisme atau disebut dengan autistic spectrum disorder (ASD) hingga kini belum diketahui secara pasti penyebabnya. “Beberapa ahli menyebutkan autis disebabkan oleh multifactorial. Beberapa peneliti mengungkapkan terdapat gangguan biokimia. Ahli lain berpendapat autisme disebabkan oleh gangguan kejiwaan. Adapula yang berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh kondisi makanan yang salah atau lingkungan yang terkontaminasi zat-zat beracun mengakibatkan kerusakan pada usus besar yang kemudian berdampak pada tingkah laku dan fisik autisme” (Atmaja, 2018: 203).

Rachmayana (2013: 51) juga mengatakan bahwa penyebab autisme masih terus dicari dan terus diteliti oleh para ahli. Dari hasil penelitian yang sudah dilakukan oleh para ahli menyebutkan berbagai faktor penyebab yaitu gangguan neuro anatomi, faktor genetik, faktor perinatal, kejang, kelainan kromosom X, dan infeksi virus {Siegel, 1996:13; Sunartini, 2000: 3; Handoyo, 2004:14; Hadis, 2006:43 (dalam Rachmayana 2013: 51)}

1) Faktor neurobiologis, yaitu penyebab autisme didasarkan kepada beberapa pengamatan antara lain (1) angka kejadian reterdasi mental yang tinggi (75-80%), (2) adanya rasio yang menetap antara laki-laki dan perempuan, yaitu 4:1, (3) peningkatan kejadian kejang, dan (4) adanya fakta bahwa fenilketonuria dan rubella kongenital dapat berhubungan dengan terjadinya autisme.

2) Faktor neurobiokimia otak, yaitu terjadi terutama gangguan neuro transmitter.

Banyak peneliti yang beranggapan bahwa bila disfungsi neurokemistri yang ditemukan merupakan dasar dari perilaku dan kognitif abnormal.

3) Gangguan neuroanatomi, yaitu gangguan anatomi otak pada autisme yang disebabkan karena kompleksnya berbagai sistem otak yang berinteraksi dan rumit karena mengenai aspek sosial, kognitif, dan linguistic sehingga sangat erat dengan komunikasi dan humanitas.

4) Faktor genetik, faktor keturunan juga berperan dalam perkembangan autisme.

Kesimpulan ini diperoleh dari hasil penelitian pada keluarga dan anak

kembar. Penelitian dalam keluarga ditemukan 2,5-3% autisme pada saudara kandung.

5) Faktor Perinatal, yaitu komplikasi prenatal, perinatal, dan neonatal yang meningkat juga ditemukan pada anak autis. Komplikasi yang terjadi adalah adanya pendarahan setelah trimester pertama dan adanya kotoran janin pada cairan amniom yang merupakan tanda bahaya dari janin. Penggunaan obat-obat tertentu pada ibu yang sedang hamil juga diduga dapat menyebabkan gangguan autisme. Komplikasi gejala pada saat bersalin berupa bayi terlambat menangis, bayi mengalami gangguan pernapasan, dan bayi mengalami kekurangan darah.

6) Kejang, yaitu sindrom Laudau-Klefner merupakan suatu sindrom efilepsi pada anak, banyak dihubungkan dengan autisme.

7) Kelainan kromosom X, yaitu ditemukan adanya kaitan antara autisme dengan sindrom fragile-X, yaitu suatu keadaan abnormal dari kromosom X. Sindrom ini ditemukan kumpulan berbagai gejala, seperti reterdasi mental mulai dari yang ringan sampai berat, kesulitan belajar yang ringan, daya ingat jangka pendek yang buruk, fisik yang abnormal terjadi pada laki-laki dewasa sekitar 80%, serangan kejang, dan hiper refleksi.

8) Infeksi virus, diduga dapat menjadi salah satu faktor penyebab anak menjadi autisme yang disebabkan oleh congenital rubella, herpes simplex, encephalitis, dan cytomegalovirus.

Berdasarkan penjelaskan di atas, dapat disimpulkan bahwa penyebab autisme masih belum diketahui secara pasti. Dari berbagai macam penelitian yang telah dilakukan, ditemukan bahwa gangguan autisme terjadi bukan hanya karena gen/

keturunan saja, melainankan berbagai faktor termasuk lingkungan.

c. Karakteristik Autisme

Koswara (2016: 12) menjelaskan bahwa anak autis memiliki karakteristik yang khas bila dibandingkan dengan anak berkebutuhan khusus lainnya. Secara umum, anak autis memiliki karakteristik sebagai berikut:

1) Tidak memiliki kontak mata dengan orang lain atau lingkungannya. Yang dimaksud kontak mata, anak autis umumnya tidak dapat melakukan kontak

mata dengan guru, orangtua atau lawan bicaranya ketika melakukan komunikasi.

2) Selektif berlebihan terhadap rangsang, anak autis diantaranya sangat selektif terhadap rangsang, seperti tidak suka dipeluk, merasa seperti sakit ketika dibelai guru atau orangtuanya. Beberapa anak ada yang terganggu dengan warna-warna tertentu.

3) Respon stimulasi diri yang mengganggu interaksi sosial. Anak autis seringkali melakukan atau menunjukkan sikap seperti mengepak-ngepakkan tangan, memukul-mukul kepala, menggigit jari tangan ketika merasa kesal atau panik dengan situasi lingkungan yang baru dimasuknya.

4) Ketersediaan yang ekstrim, yaitu anak autis umumnya senang bermain sendiri, hal ini karena anak tidak melakukan interaksi sosial dengan lingkungannya.

5) Melakukan gerakan tubuh yang khas, seperti menggoyang-goyangkan tubuh, jalan berjinjit, menggerakan jari ke meja.

Dalam kemampuan komunikasi dan bahasa, anak autis memiliki karakteristik sebagai berikut (1) ekspresi wajah yang datar, (2) tidak menggunakan bahasa/isyarat tubuh, (3) jarang sekali memulai komunikasi, (4) tidak meniru aksi atau suara, (5) bicara sedikit atau tidak ada, (6) membeo kata-kata, kalimat, atau nyanyian, (7) intonasi ritme vocal yang aneh, (h) tampak tidak mengerti arti kata, (8) mengerti dan menggunakan kata secara terbatas, (9) pemahaman bahasa kurang, (10) tidak melakukan kontak mata saat bicara.

Sedangkan Murtie (2014: 51) memaparkan ciri khas dari anak-anak autis sebagai berikut.

1) Perkembangan sensorik dan motorik halus pada anak autis cenderung kurang.

Saat mereka bayi biasanya sulit untuk membalas tatapan orang tuanya dan tidak merespon jika digenggam tangannya.

2) Hambatan dalam komunikasi dan bahasa yang menyebabkan anak autis sulit untuk berkata-kata sehingga mereka baru bisa bicara di atas usia 2 atau 3 tahun. Perkembangan bahasa yang terhambat ini mempengaruhi komunikasi dengan orang lain dikarenakan minimnya kosakata, pilihan kata yang sering

kurang tepat, dan kurang mampu menjalin komnunikasi dan relasi dengan orang lain.

3) Anak autis sulit mengadakan kontak mata dan membaca bahasa tubuh orang lain sehingga sulit menjalin hubungan sosial denan orang lain.

4) Penyandang autis melakukan permainan yang umumnya berbeda dari aturan permainan yang baku. Misalnya mereka suka menggerakkan permainan maju dan mundur saja tanpa gerakan lain, pandangan lekat pada permainannya saja tanpa memperdulikan orang disekitarnya.

5) Anak autis suka mengulang-ngulang kata yang diucapkan orang lain apabila kata tersebut dianggap menarik.

6) Anak autis suka keteraturan, mereka akan lebih memahami apabila dibiasakan jadwal kesehariannya. Jika ada satu hal yang berubah biasanya anak autis akan menolak. Satu hal yang membedakan anak autis dengan anak lainnya adalah perilaku impulsif, misalnya gerakan mengepak-ngepakkan sayap seperti burung, mengetuk-ngetuk tempat duduknya dan berkata-kata yang sam berulangkali.

7) Anak autis tidak mampu mengendalikan emosi apabila keinginannya tidak terpenuhi atau biasa disebut tantrum.

Dokumen terkait