BAB IV : PERBANDINGAN ANTARA KONSEP PENGILHAMAN BIBLE
C. Perbandingan Konsep Pengilhaman dan Konsep
1. Ayat-Ayat Tentang Ketuhanan
Menurut Norman Geisler & Ron Brooks Bible menggunakan (majas) Antrophomorfisme ketika membicarakan tentang ketuhanan.322
322
Antrophomorfisme adalah majas yang melekatkan sifat manusia pada hal-hal yang bukan manusia seperti benda mati, hewan, objek alam dan juga entitas Tuhan. Dalam Alquran Allah dinyatakan sebagai dzat Tuhan yang sangat berbeda dengan makhlukNya seperti yang termaktub dalam Surah Asy syuura ayat 11
“(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat.”
Sehingga kalaupun Alquran ingin membicarakan Allah dari sudut pandang manusia maka Alquran akan tetap menjaga nilai-nilai transendental Allah sebagai Tuhan yang berbeda dengan makhlukNya (Mukhalafatuhu lil hawaditsi), misalnya: Al-Baqarah ayat 115
“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, Maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha mengetahui.”
Menurut Syekh Muhammad al-Ghazali kata wajhu diatas dapat diartikan sebagai kekuasaan Allah yang meliputi seluruh alam. Oleh sebab itu dimana saja manusia berada maka Allah akan selalu mengetahuinya.323
Al-Maidah ayat 64
“ Orang-orang Yahudi berkata: "Tangan Allah terbelenggu”
Syekh al-Ghazali mengatakan ini merupakan ejekan dari kaum Yahudi ketika itu yang mengatakan Allah sangat kikir dan mengumpamakannya dengan “Tangan Allah terbelenggu”324
Begitulah cara Alquran menggambarkan tentang Allah dari sudut antropomorfisme, masih ada beberapa ayat lainnya yang senada dengan dua ayat diatas. Peneliti mengambil 2 contoh ayat untuk mewakili ayat-ayat lainnya. Lalu kita bandingkan dengan cara Bible menggambarkan Tuhan dari sudut pandang antropomorfisme.
Kejadian 32:24-30
“24
So Jacob was left alone, and a man wrestled with him till day break.
25
When the man saw that he could not overpower him, he touched the socket of
Jacob’s hip so that his hip was wrenched as he wrestled with the man. 26
Then the
man said, ‘Let me go, for it is daybreak.’ But Jacob replied, ‘I will not let you go unlessyou bless me’. 27
The man asked him, ‘What Is your name?’ ‘Jacob’, he answered.
28Then the man said, “Your name will no longer be Jacob, but Israel, because you
have struggledwith God and with men ang have overcome.’ 29Jacob said, “Please tell me your name.’ But he replied,’Why do you ask my name?’ Then he blessed
him there. 30So Jacob called the palce Peniel, saying, “It is because I saw God face to face, and yet my life was spared.”
24
Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing. 25Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak
323
Syekh Muhammad al-Ghazali, Menikmati Jamuan Allah (Serambi; Jakarta, 2007) h. 14
324
dapat mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu. 26Lalu kata orang itu:”Biarkanlah aku pergi, karena fajar telah menyingsing.” Sahut Yakub:”Aku tidak akan membiarkan engkau
pergi, jika engkau tidak memberkati aku.” 27
Bertanyalah orang itu
kepadanya:”Siapakah namamu?” Sahutnya: “Yakub.” 28
Lalu kata orang itu:
“Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah
bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.” 29
Bertanyalah
Yakub:”Katakanlah juga namamu.” Tetapi sahutnya,”Mengapa engkau menanyakan namaku?” Lalu diberkatinyalah Yakub disitu. 30
Yakub menamai
tempat itu Pniel, sebab katanya:”Aku telah melihat Allah berhadapan muka tetapi
nyawaku tertolong!”
Menurut tafsiran yang diberikan oleh Yayasan Lembaga Sabda325 ayat ini termasuk kisah aneh yang berasal dari tradisi Yahwist.326 Salah satu tokoh Kristen yang memberikan penafsiran pada ayat ini adalah Santo Hieronymus.327 Kisah ini menceritakan tentang Yakub dan Allah yang saling beradu kekuatan, pada awalnya pergumulan ini dimenangkan oleh Yakub namun setelah menyadari bahwa lawannya adalah Tuhan maka Yakub menuntut berkat dari-Nya. Seseorang yang telah menulis riwayat ini ingin menceritakan tentang asal usul kata “Pniel” dan juga asal usul nama “Israel”. Tampaknya makna filosofis dari ayat ini adalah tentang pergumulan batin dan berhasilnya doa yang dipanjatkan kepada Allah dengan tekun.
Banyak kalangan Nasrani yang menganggap perkelahian antara Yakub dan Allah ini bukanlah perkelahian yang sesungguhnya tapi hanya kiasan saja. Akan tetapi menurut pribadi peneliti; penulis ayat diatas sepertinya memang bermaksud
325
Yayasan Lembaga Sabda (YLSA) merupakan yayasan non-profit dan non-komersil yang telah berdiri sejak tahun 1994 yang bergerak dibidang penyediaan Alkitab/Bible, alat-alat Biblik serta menyediakan berbagai macam referensi kekristenan yang standard. Produk-produk yang diterbitkan hanya menggunakan media elektronik seperti software Alkitab/Bible dan CD-Audio Alkitab/Bible. YLSA mengelola puluhan situs yang diperuntukkan untuk komunitas Kristen, salah satunya yang peneliti gunakan adalah www.YLSA.org
326
Tradisi tulisan Yahudi yang menyebut Allah dengan nama Yahweh.
327
Santo Hieronymus adalah tokoh Kristen pertama yang menterjemahkan seluruh Bible ke dalam bahasa Latin. Uskup ini hidup di sekitar abad ke-III M.
ingin menggambarkan perkelahian yang sesungguhnya karena ayat penutup pada pasal tersebut yaitu ayat 32 dinyatakan:
“Therefore to this day the Israelites do not eat the tendon attached to the
socket of the hip, because the socket of Jacob’s hip was touched near the
tendon”
“Itulah sebabnya sampai sekarang orang Israel tidak memakan daging yang menutupi sendi pangkal paha, karena Dia telah memukul sendi pamgkal
paha Yakub, pada otot pangkal pahanya.”
Ayat penutup pasal tersebut menggambarkan orang Israel tidak mau memakan lagi daging pangkal paha oleh karena Tuhan telah memukul pangkal paha Yakub. Seandainya perkelahian itu memang kiasan saja maka tentu orang Israel tidak perlu sampai “mengharamkan” daging pangkal paha. Jadi sepertinya penulis ayat tersebut memang ingin meggambarkan perkelahian Yakub dan Tuhan dalam arti yang sebenarnya.
Disinilah letak unsur kemanusiaan dalam konsep ilham Bible dimana Tuhan selalu dipandang dari sudut Antrophomorfisme secara berlebihan bahkan nilai-nilai transendental Tuhan telah dihilangkan (bandingkan dengan ayat Alquran sebelumnya). Hal ini juga membuktikan kebenaran pernyataan para teolog Nasrani sebelumnya yang mengatakan penulis sangat terpengaruh oleh pandangan sosial yang ada di lingkungannya. Jadi apakah mungkin kitab Kejadian ini merupakan firman yang diterima oleh Nabi Musa? Wajar jika beberapa kalangan meragukan otensitas kitab ini.
Selain ayat di atas kita masih bisa menjumpai ayat-ayat Bible yang menggunakan sudut pandang antropomorfisme secara berlebihan, misalnya:
Yesaya 42:13
“For a long Time I have kept silent, I have been quiet and held my self
back. But now, like a woman in childbirth, I cry out, I gasp and pant”
“Aku membisu dari sejak dahulu kala, Aku berdiam diri, Aku menahan
hati-Ku; sekarang Aku mau mengerang seperti perempuan yang melahirkan, aku mau mengah-mengah dan megap-megap”
Ayat diatas menggambarkan kondisi Allah yang sedang risau melihat kekacauan di dunia sehingga Allah diekspresikan seperti seorang wanita yang sedang mengerang-erang karena ingin melahirkan. Mungkin si penulis kitab ini tidak menemukan kondisi lain yang lebih menyakitkan selain kondisi wanita yang akan melahirkan. Oleh karena itu Tuhan diekspresikan sebagai wanita yang akan melahirkan menggambarkan bagaimana risau dan khawatirnya Allah terhadap kehidupan dunia. Tentu saja ayat-ayat seperti ini tidak kita temukan dalam Alquran bahkan tidak pernah kita temukan ayat-ayat Alquran yang menggambarkan kekhawatiran Allah.
Kemudian selanjutnya kita akan menemukan perbedaan yang besar antara Bible dan Alquran dalam menggambarkan sikap Allah dalam menghadapi sifat alami manusia yang cenderung berbuat kerusakan.
Kejadian 6:5-7
“5The Lord saw how great man’s wickedness on the earth had become,
and that every inclination of the thoughts of his heart was only evil all the time.
6
The Lord was grieved that he had made man on the earth, and his heart was filled with pain. 7So the Lord Said, “I wil, wipe mankind, whom I have reated,
from the face of the earth—men and animals and creatures that move along the ground, and birdsof the air—for I am grieved that I have made them.”
“5
Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, 6maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya. 7Berfirmanlah TUHAN:”Aku akan
menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka
Ayat di atas dengan jelas mengungkapkan “Penyesalan” Allah karena telah menciptakan manusia yang penuh dengan kejahatan. Akibat penyesalan-Nya Allah berencana akan memusnahkan manusia dari muka Bumi. Dalam ayat ini Allah menunjukkan sikap “manusiawinya” karena telah menunjukkan sikap
penyesalannya kepada manusia yang telah diciptakannya sendiri. Namun kita akan menemukan sikap dan suasana yang berbeda dari Allah dalam ayat Alquran surah Al-Baqarah ayat 30:
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Jika pada ayat Bible sebelumnya kita menemukan sifat “manusiawinya” Allah maka kebalikannya pada ayat Alquran berikutnya kita menemukan sikap keIlahian Allah dengan mengemukakan pandangan Visioner-Nya ke depan yang tidak diketahui oleh malaikat-malaikat-Nya. Dalam ayat Alquran tersebut Allah tidak terpengaruh dengan argumen malaikat yang mengatakan bahwa manusia cenderung berbuat kerusakan dan pertumpahan darah. Allah malah mengatakan mereka (malaikat) sama sekali tidak mengetahui apa yang diketahui Allah. Di sini Allah menunjukkan pengetahuan keIlahian-Nya yang tidak bisa dipahami oleh para malaikat.
Yayasan Lembaga Sabda (YLSA) menafsirkan kata “penyesalan” pada ayat Bible tersebut dengan amarah yang luar biasa namun pada akhirnya Allah tidak jadi memusnahkan manusia karena sifat kasih sayang-Nya Allah. Namun
menurut pribadi peneliti kalau pun penafsiran YLSA itu tepat akan tetapi tetap menunjukkan ketidakadilan Allah karena pada ayat Bible tersebut disebutkan bahwa Allah akan turut memusnahkan binatang, hewan melata dan burung-burung. Di sini kelihatannya Allah seperti ingin melampiaskan amarah-Nya kepada hewan-hewan yang tak bersalah juga, padahal dalam ayat tersebut yang melakukan kejahatan hanya manusia.