b. Rekonsiliasi Liabilitas yang Timbul dari
Aktivitas Pendanaan
b. Reconciliation of Liabilities Arising from Financing Activities
Tabel dibawah ini menunjukkan rekonsiliasi liabilitas yang timbul dari pendanaan untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2019 dan 2018, sebagai berikut:
The below table sets out a reconciliation of liabilities arising from financing activities for the year ended December 31, 2019 and 2018, as follows:
Saldo Awal/
Beginning Penambahan/ Pembayaran/ Perolehan Aset Selisih Kurs/ Amortisasi/ Saldo Akhir/
Balance Addition Payment Tetap/Acqusition Foreign Exchange Amortization Ending Balance of Fixed Asset
Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp
Dana Syirkah Temporer/
Temporary Syikrah Fund 53,420,612,720 -- (53,420,612,720) -- -- --
--Utang Bank
Bank Loan 238,929,378,014 95,315,875,757 (133,643,559,990) -- 3,856,576,477 3,281,804,218 207,740,074,476 Utang Sewa Pembiayaan
Finance Lease Payab le 327,640,559,478 122,097,898,250 (96,547,877,086) 3,959,000,000 523,872,367 -- 357,673,453,009 Financing Cash Flows
Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan/
2019
Perubahan Transaksi non Kas/
Non-cash Changes
Saldo Awal/
Beginning Penambahan/ Pembayaran/ Perolehan Aset Selisih Kurs/ Amortisasi/ Saldo Akhir/
Balance Addition Payment Tetap/Acqusition Foreign Exchange Amortization Ending Balance of Fixed Asset
Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp
Dana Syirkah Temporer/
Temporary Syikrah Fund 107,583,603,910 -- (54,162,991,190) -- -- -- 53,420,612,720
Utang Bank
Bank Loan 106,897,021,775 154,912,636,955 (21,580,730,359) -- (1,908,423,842) 608,873,485 238,929,378,014 Utang Sewa Pembiayaan
Finance Lease Payab le 304,767,654,679 90,071,422,004 (130,366,190,605) 63,167,673,400 -- -- 327,640,559,478 2018
Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan/ Perubahan Transaksi non Kas/
Financing Cash Flows Non-cash Changes
36. Peristiwa Setelah Periode Pelaporan 36. Event After the Reporting Period
Pada awal tahun 2020 Badan Nasional Penanggulangan Bencana Republik Indonesia mengumumkan berlakunya “Status Keadaan Tertentu Darurat Bencana Wabah Virus Corona” setelah ditemukannya beberapa orang yang teridentifikasi terpapar virus corona.
Kondisi darurat ini, bersamaan dengan situasi perekonomian global yang terdampak pandemi
In early 2020, National Agency for Disaster Management of the Republic of Indonesia announced the enactment of “Status of the Certain Disaster Emergency Conditions Due to Corona Virus Pandemic” after the discovery of several people who were identified as being affected by the corona virus. This emergency condition, together with the global economic
corona, menyebabkan penurunan dalam perekonomian dalam negeri di awal tahun 2020, yang antara lain ditandai dengan melemahnya nilai tukar rupiah dan menurunnya harga-harga sekuritas di pasar modal. Pelemahan nilai tukar rupiah menyebabkan eksposur kewajiban neto dalam valuta asing Perusahaan per 31 Desember 2019 meningkat sebesar Rp41,16 miliar apabila dihitung dengan kurs pada tanggal penerbitan laporan keuangan. Namun untuk penurunan harga-harga sekuritas di pasar modal tidak terdampak kepada Perusahaan karena tidak ada efek-efek yang dimiliki oleh Perusahaan. Lebih lanjut, sebagian besar proyek Perusahaan sampai saat ini masih tetap berjalan. Pembayaran dari pelanggan juga masih normal, tetapi manajemen mengantisipasi dalam beberapa bulan ke depan ada kemungkinan mengalami dampak pengurangan baik dari sisi pemesanan maupun perlambatan dari pembayaran pelanggan.
Manajemen menyatakan bahwa eksposur kewajiban neto dalam valuta asing tidak terdampak signifikan terhadap pembayaran cicilan dalam setahun kedepan karena masih bisa dipenuhi melalui perkiraan pendapatan dan arus kasnya, serta ditambah lagi kondisi kas yang memadai masih dimiliki Perusahaan saat ini. Selain itu, Perusahaan sudah melakukan praktik Work From Home bagi sebagian besar pegawai kantor pusat di Jakarta serta social distancing, suspend lokal dan karantina lokasi kerja di proyek. Meskipun demikian, terdapat suatu ketidakpastian material mengenai dampak dari situasi saat ini terhadap bisnis Perusahaan di masa mendatang.
situation affected by the corona pandemic, caused a downturn in the domestic economy in early 2020, which was characterized by weakening of the rupiah exchange rate and decline in the prices of securities on the capital market. The weakening of the rupiah exchange rate caused the exposure of net liabilities in the Company's foreign exchange as of December 31, 2019 to increase by Rp41.16 billions if calculated at exchange rates on the issuance date the financial statements.
However, a decline in the prices of securities in the capital market is not impacted to the Company since no securities owned by the Company. Furthermore, most of the Company's projects are still ongoing. Payments from customers are also still normal, but management anticipates that in the next few months there is a possibility that there will be a reduction in both the ordering and slowing of customer payments. Management states that the exposure to net liabilities in foreign currencies had no significant impact on installment payments in the coming year because it could still be met through estimates of revenue and its cash flow, and the condition of cash owned by the Company is also still adequate at this time. In addition, the Company has practiced Work From Home for most of the head office employees in Jakarta as well as social distancing, local suspends and quarantine of work locations in the projects. However, there is a material uncertainty about the impact of the current situation on the Company's business in the future.
37. Standar dan Penyesuaian Standar yang 37. Standard and Improvement to Standards Berlaku Efektif Setelah Akhir Periode Effective After Ending Period
DSAK-IAI telah menerbitkan beberapa standar baru, amandemen dan penyesuaian atas standar, serta interpretasi atas standar tetapi belum berlaku efektif untuk periode yang dimulai pada 1 Januari 2019.
DSAK-IAI has issued several new standards, amendments and improvement to standards, and interpretations of the standards but not yet effective for the period beginning on January 1, 2019.
Standar baru dan amandemen atas standar yang berlaku efektif untuk periode yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2020, dengan penerapan dini diperkenankan yaitu:
New standards and amendment to standards which effective for periods beginning on or after January 1, 2020, with early adoption is permitted, are as follows:
• PSAK 71: “Instrumen Keuangan”
• PSAK 72: “Pendapatan dari Kontrak dengan Pelanggan”
• PSAK 73: “Sewa”
• PSAK 62 (Amandemen 2017): “Kontrak Asuransi tentang Menerapkan PSAK 71:
Instrumen Keuangan dengan PSAK 62:
Kontrak Asuransi”
• PSAK 15 (Amandemen 2017): “Investasi pada Entitas Asosiasi dan Ventura Bersama tentang Kepentingan Jangka Panjang pada Entitas Asosiasi dan Ventura Bersama”
• PSAK 71 (Amandemen 2018): “Instrumen Keuangan tentang Fitur Percepatan Pelunasan dengan Kompensasi Negatif”
• PSAK 112: “Akuntansi Wakaf”
• PSAK 1 (Amandemen 2019): “Penyajian Laporan Keuangan” tentang judul laporan keuangan
• PSAK 1 (Penyesuaian 2019): “Penyajian Laporan Keuangan”
• PPSAK 13: “Pencabutan PSAK 45:
Pelaporan Keuangan Entitas Nirlaba”
• PSAK 25 (Amandemen 2019): “Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi dan Kesalahan”
• PSAK 102 (Revisi 2019): “Akuntansi Murabahah”
• ISAK 101: “Pengakuan Pendapatan Murabahah Tangguh Tanpa Risiko Signifikan terkait Kepemilikan Persediaan”
• ISAK 102: “Penurunan Nilai Piutang Murabahah”
• PSAK 71: “Financial Instrument”
• PSAK 72: “Revenue from Contract with Customer”
• PSAK 73: “Lease”
• PSAK 62 (Amendment 2017): “Insurance Contract regarding Applying PSAK 71:
Financial Instruments with PSAK 62:
Insurance Contract”
• PSAK 15 (Amendment 2017): “Investment in Associates and Joint Ventures regarding Long-term Interests in Associates and Joint Ventures”
• PSAK 71 (Amendment 2018): “Financial Instrument regarding Prepayment Features with Negative Compensation”
• PSAK 112: “Accounting for Endowments”
• PSAK 1 (Amendment 2019): “Presentation of Financial Statements” about titles of financial statements
• PSAK 1 (Improvement 2019): “Presentation on Financial Statements”
• PPSAK 13: “Revocation of PSAK 45: Non-profit Entity Financial Reporting”
• PSAK 25 (Amendment 2019): “Accounting Policies, Changes in Accounting Estimates and Errors”
• PSAK 102 (Revised 2019): “Accounting for Murabahah”
• ISAK 101: “Revenue Recognition on Deferred Murabahah without Significant Risk related to Inventories Ownership”
• ISAK 102: “Impairment on Murabahah Receivable”
Standar baru dan amandemen atas standar yang berlaku efektif untuk periode yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2021, dengan penerapan dini diperkenankan yaitu:
• PSAK 112: “Akuntansi Wakaf”
• PSAK 22 (Amandemen 2019): “Kombinasi Bisnis tentang Definisi Bisnis”
New standards and amendment to standards which effective for periods beginning on or after January 1, 2021, with early adoption is permitted, are as follows :
• PSAK 112: “Accounting for Endowments”
• PSAK 22 (Amendment 2019): “Business Combinations regarding Definition of Business”
Sampai dengan tanggal laporan keuangan ini diotorisasi, Perusahaan masih melakukan evaluasi atas dampak potensial dari penerapan standar baru dan amandemen standar tersebut, serta pengaruhnya pada jumlah yang dilaporkan dalam laporan keuangan.
Until the date of financial statements is authorized, the Company is still evaluating the potential impact of the adoption of new standards, amandments to standards and interpretations of these standards, and the effect on the amount reported in the financial statements.
38. Tanggung Jawab Manajemen atas Laporan 38. Management Responsibility on the Financial
Keuangan Statements
Manajemen Perusahaan bertanggung jawab atas penyusunan dan penyajian laporan keuangan yang diotorisasi oleh Direksi Perusahaan untuk diterbitkan pada tanggal 31 Maret 2020.
The management of the Company is responsible for the preparation and presentation of the financial statements which were authorized for issuance by the Company’s Directors to be issued on March 31, 2020.