• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III ASPEK PENINGKATAN PELAYANAN PUBLIK

Dalam dokumen INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN KLUNGKUNG (Halaman 37-89)

3.1. Fokus Pelayanan Dasar

Fokus pelayanan dasar merupakan fokus pembangunan di bidang pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan pelayanan publik lainnya.

3.1.1. Pendidikan Dasar

Pendidikan dasar adalah jenjang pendidikan awal selama 9 (sembilan) tahun pertama masa sekolah anak-anak. Pendidikan dasar menjadi dasar bagi jenjang pendidikan menengah.

3.1.2.1. Angka Partisipasi Sekolah

APS merupakan ukuran daya serap sistem pendidikan terhadap penduduk usia sekolah. Angka tersebut memperhitungkan adanya perubahan penduduk terutama usia muda. Ukuran yang banyak digunakan di sektor pendidikan seperti pertumbuhan jumlah murid lebih menunjukkan perubahan jumlah murid yang mampu ditampung di setiap jenjang sekolah. Sehingga, naiknya persentase jumlah murid tidak dapat diartikan sebagai semakin meningkatnya partisipasi sekolah. Kenaikan tersebut dapat pula dipengaruhi oleh semakin besarnya jumlah penduduk usia sekolah yang tidak diimbangi dengan ditambahnya infrastruktur sekolah serta peningkatan akses masuk sekolah sehingga partisipasi sekolah seharusnya tidak berubah atau malah semakin rendah. APS adalah jumlah murid kelompok usia pendidikan dasar (7-12 tahun dan 13-15 tahun) yang masih menempuh pendidikan dasar per 1.000 jumlah penduduk usia

26

INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN KLUNGKUNG

pendidikan dasar. Untuk menghitung APS dapat menggunakan rumus sebagai berikut :

Angka Partisipasi Sekolah untuk pendidikan dasar di Kabupaten Klungkung disajikan pada Tabel 15.

Tabel 15

Angka Partisipasi Sekolah Pendidikan Dasar Kab. Klungkung, 2014 No Kelompok Umur Laki – Laki Perempuan Jumlah

1. 7-12 99,46 100,00 99,70

2. 13-15 100,00 100,00 100,00

Sumber : BPS Kab. Klungkung

Dari tabel di atas dapat diketahui angka partisipasi sekolah penduduk usia 7-12 tahun yang berjenis kelamin perempuan lebih tinggi daripada penduduk berjenis kelamin laki-laki pada kelompok umur yang sama.

3.1.2.2. Rasio Ketersediaan Sekolah

Rasio ketersediaan sekolah adalah jumlah sekolah tingkat pendidikan dasar per 10.000 jumlah penduduk usia pendidikan dasar. Rasio ini mengindikasikan kemampuan untuk menampung semua penduduk usia pendidikan dasar. Untuk menghitung rasio ketersediaan sekolah dapat menggunakan rumus sebagai berikut:

27

INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN KLUNGKUNG

Tabel 16

Rasio Ketersediaan Sekolah Pendidikan Dasar Kab. Klungkung, 2014

No Uraian Nilai

1. Sekolah SD/MI 139

2. Sekolah SMP/MTs 24

3. Sekolah (pend dasar) 163

4. Penduduk 7-12 tahun 18.826

5. Penduduk 13-15 tahun 8.830

6. Penduduk Usia Pendidikan Dasar 27.656 7. Rasio Ketersediaan Sekolah 58,94

Sumber : Disdikpora Klungkung

Dari Tabel 16 dapat diketahui bahwa rasio ketersediaan sekolah pendidikan dasar di Kabupaten Klungkung pada tahun 2014 adalah sebesar 58,95.

3.1.2.3. Rasio Guru Terhadap Murid

Rasio guru terhadap murid adalah jumlah guru tingkat pendidikan dasar per 1.000 jumlah murid pendidikan dasar. Rasio ini mengindikasikan ketersediaan tenaga pengajar. Di samping itu juga untuk mengukur jumlah ideal murid untuk satu guru agar tercapai mutu pengajaran. Data mengenai rasio guru terhadap murid di Kabupaten Klungkung disajikan pada Tabel 17.

28

INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN KLUNGKUNG

Tabel 17

Rasio Guru Terhadap Murid Pendidikan Dasar di Kab. Klungkung, Tahun 2014/2015

No Uraian Nilai

1 Guru SD/MI 1.551

2 Guru SMP/MTs 718

3 Guru (pendidikan dasar) 2.269

4 Murid SD/MI 18.206

5 Murid SMP/MTs 9.517

6 Murid Pendidikan Dasar 27.732

7 Rasio Guru Terhadap Murid 81,81

Sumber : Disdikpora Klungkung

Dari Tabel 17 dapat diketahui bahwa rasio guru terhadap murid pendidikan dasar di Kabupaten Klungkung pada tahun 2014 adalah sebesar 81,81.

3.1.2.4. Rasio Guru Terhadap Murid Per Kelas Rata – Rata

Rasio guru terhadap murid per kelas rata – rata dapat dihitung menggunakan rumus :

3.1.2. Pendidikan Menengah

Pendidikan menengah (sebelumnya dikenal dengan sebutan sekolah lanjutan tingkat atas atau SLTA) adalah jenjang pendidikan lanjutan pendidikan dasar. Pendidikan menengah umum diselenggarakan oleh sekolah menengah atas (SMA) (sempat dikenal dengan "sekolah menengah umum" atau SMU) atau madrasah aliyah (MA). Pendidikan menengah umum dikelompokkan dalam program studi sesuai dengan kebutuhan untuk belajar lebih lanjut di perguruan tinggi dan hidup di dalam masyarakat. Pendidikan menengah umum terdiri atas 3 (tiga) tingkat. Selain pendidikan menengah umum terdapat pula pendidikan menengah kejuruan. Pendidikan menengah kejuruan diselenggarakan oleh sekolah menengah kejuruan (SMK)

29

INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN KLUNGKUNG

atau madrasah aliyah kejuruan (MAK). Pendidikan menengah kejuruan dikelompokkan dalam bidang kejuruan didasarkan pada perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni, dunia industri/dunia usaha, ketenagakerjaan baik secara nasional, regional maupun global, kecuali untuk program kejuruan yang terkait dengan upaya-upaya pelestarian warisan budaya.

3.1.2.1. Angka Partisipasi Sekolah

APS adalah jumlah murid kelompok usia pendidikan menengah (16-19 tahun) yang masih menempuh pendidikan menengah per 1.000 jumlah penduduk usia pendidikan menengah. Data Angka Partisipasi Sekolah Kabupaten Klungkung disajikan pada Tabel 18.

Tabel 18

Angka Partisipasi Sekolah Pendidikan Menengah Kab. Klungkung, Tahun 2014

Kelompok Umur Laki-Laki Perempuan Jumlah

16-18 91,48 98,24 94,49

Sumber : BPS Kab. Klungkung

Angka Partisipasi Sekolah Pendidikan Menengah Kabupaten Klungkung Tahun 2014 untuk penduduk usia 16-18 tahun perempuan lebih tinggi dari laki-laki, dimana Angka Partisipasi Sekolah Pendidikan Menengah laki-laki sebesar 91,48 sedangkan perempuan sebesar 98,24

3.1.2.2. Rasio Ketersediaan Sekolah

Rasio ketersediaan sekolah adalah jumlah sekolah tingkat pendidikan menengah per 10.000 jumlah penduduk usia pendidikan menengah. Rasio ini mengindikasikan kemampuan untuk menampung semua penduduk usia pendidikan menengah.

30

INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN KLUNGKUNG

Tabel 19

Rasio Ketersediaan Sekolah Pendidikan Menengah Kab. Klungkung, 2014

No Uraian Nilai

1 Sekolah SMA/SMK 18

2 Penduduk 16 - 18 tahun 7.770

3 Rasio Ketersediaan Sekolah 23,16

Sumber : Disdikpora Klungkung

Rasio ketersediaan sekolah untuk pendidikan menengah di Kabupaten Klungkung pada tahun 2014 sebesar 23,16. Hal ini berarti dari 10.000 penduduk usia pendidikan menengah terdapat 23 sekolah yang tersedia untuk menampung seluruh penduduk usia pendidikan menengah tersebut.

3.1.2.3. Rasio Guru Terhadap Murid

Rasio guru terhadap murid adalah jumlah guru tingkat pendidikan menengah per 1.000 jumlah murid pendidikan menengah. Rasio ini mengindikasikan ketersediaan tenaga pengajar. Di samping itu juga untuk mengukur jumlah ideal murid untuk satu guru agar tercapai mutu pengajaran. Data mengenai rasio guru terhadap murid pendidikan menengah di Kabupaten Klungkung disajikan pada Tabel 20.

Tabel 20

Rasio Guru Terhadap Murid Pendidikan Menengah Kab. Klungkung Tahun 2014/2015

No Uraian Nilai

1 Guru SMA/SMK 895

2 Murid SMA/SMK 8.914

3 Rasio Guru Terhadap Murid 100,40

31

INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN KLUNGKUNG

Dari Tabel 20 dapat diketahui bahwa rasio guru terhadap murid pendidikan menengah di Kabupaten Klungkung pada tahun 2014/2015 adalah sebesar 81,81.

3.1.3. Rasio Posyandu Per Satuan Balita

Pengertian Posyandu adalah suatu wadah komunikasi alih teknologi dalam pelayanan kesehatan masyarakat dari Keluarga Berencana dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat dengan dukungan pelayanan serta pembinaan teknis dari petugas kesehatan dan keluarga berencana yang mempunyai nilai strategis untuk pengembangan sumber daya manusia sejak dini. Tujuan penyelenggaraan Posyandu:

a. Menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Ibu ( ibu Hamil, melahirkan dan nifas).

b. Membudayakan NKKBS.

c. Meningkatkan peran serta dan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan kesehatan dan KB serta kegiatan lainnya yang menunjang untuk tercapainya masyarakat sehat sejahtera.

d. Berfungsi sebagai Wahana Gerakan Reproduksi Keluarga Sejahtera, Gerakan Ketahanan Keluarga dan Gerakan Ekonomi Keluarga Sejahtera.

Pemeliharaan dan perawatan kesejahteraan ibu dan anak-anak sejak usia dini, merupakan suatu strategi dalam upaya pemenuhan pelayanan dasar yang meliputi peningkatan derajat kesehatan dan gizi yang baik, lingkungan yang sehat dan aman, pengembangan psikososial/emosi, kemampuan berbahasa dan pengembangan kemampuan kognitif (daya pikir dan daya cipta) serta perlindungan anak. Pengalaman empirik di beberapa tempat menunjukan, bahwa strategi pelayanan kesehatan dasar masyarakat dengan fokus pada ibu dan anak seperti itu, dapat dilakukan pada Posyandu. Karena Posyandu merupakan wadah peran serta masyarakat untuk

32

INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN KLUNGKUNG

menyampaikan dan memperoleh pelayanan kesehatan dasarnya, maka diharapkan pula strategi operasional pemeliharaan dan perawatan kesejahteraan ibu dan anak secara dini dapat dilakukan di setiap posyandu.

Terkait dengan hal tersebut di atas perlu dilakukan analisis rasio posyandu terhadap jumlah balita dalam upaya peningkatan fasilitasi pelayanan pemenuhan kebutuhan tumbuh kembang anak sejak dalam kandungan dan agar status gizi maupun derajat kesehatan ibu dan anak dapat dipertahankan dan atau ditingkatkan. Pembentukan Posyandu sebaiknya tidak terlalu dekat dengan Puskesmas agar pendekatan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat lebih tercapai dan idealnya satu Posyandu melayani 100 balita. Oleh karena itu perlu dihitung rasio ketersediaan posyandu per balita. Kegunaannya untuk mengetahui berapa selayaknya jumlah posyandu yang efektif tersedia sesuai dengan tingkat penyebarannya serta sebagai dasar untuk merevitalisasi fungsi dan peranannya dalam pembangunan daerah. Tabel 21 menyajikan data rasio ketersediaan posyandu per balita di Kabupaten Klungkung.

Tabel 21

Rasio Posyandu Per Balita di Kabupaten Klungkung, 2014-Juni 2015

No Uraian 2014 s.d Juni 2015

1. Posyandu 294 294

2. Balita 12.138 11.993

3. Rasio Posyandu Per Balita 24,22 24,51

Sumber : Dinkes Klungkung

Tabel 21 menyajikan rasio posyandu perbalita di Kabupaten Klungkung pada tahun 2014 dan sampai dengan kondisi Juni 2015. Jika dilakukan perhitungan sebaliknya jumlah balita yang dilayani posyandu pada tahun 2014 adalah 41,29 bayi dan kondisi sampai dengan juni 2015 adalah 40,79 bayi. Artinya setiap

33

INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN KLUNGKUNG

posyandu melayani 41,29 bayi pada tahun 2014 dan setiap posyandu melayani 40,79 bayi pada juni 2015.

3.1.4. Rasio Puskesmas, Poliklinik, Pustu Per Satuan Penduduk

Rasio puskesmas, poliklinik, pustu per satuan penduduk adalah jumlah puskesmas, poliklinik, pustu per 1.000 penduduk. Untuk menghitung rasio puskesmas, poliklinik, pustu per satuan penduduk dapat digunakan rumus sebagai berikut :

3.1.5. Rasio Rumah Sakit Per Satuan Penduduk

Rumah sakit adalah suatu organisasi yang melalui tenaga medis profesional yang terorganisir serta sarana kedokteran yang permanen menyelenggarakan pelayanan kesehatan, asuhan keperawatan yang berkesinambungan, diagnosis serta pengobatan penyakit yang diderita oleh pasien. Rasio rumah sakit per satuan penduduk adalah jumlah rumah sakit per 10.000 penduduk. Rasio ini mengukur ketersediaan fasilitas rumah sakit berdasarkan jumlah penduduk. Untuk menghitung rasio rumah sakit per 10.000 penduduk dapat digunakan rumus sebagai berikut:

Data mengenai rasio rumah sakit per satuan penduduk di Kabupaten Klungkung disajikan pada Tabel 22.

Jumlah Puskesmas, Poliklinik, Pustu Jumlah Penduduk

Jumlah Rumah Sakit Jumlah Penduduk

X 10.000

34

INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN KLUNGKUNG

Tabel 22

Rasio Rumah Sakit Per Satuan Penduduk di Kab. Klungkung, 2014

No Uraian 2014 Sumber Data

1 Rumah Sakit 3 BPS KLK

2 Penduduk 174.800 BPS KLK

Rasio Rumah Sakit Per 10.000 penduduk

0,172 Data Diolah

Dari data jumlah rumah sakit di Kabupaten Klungkung dibandingkan dengan jumlah penduduk di Kabupaten Klungkung, pada Tahun 2014 rasio rumah sakit per 10.000 penduduk Kabupaten Klungkung adalah 0,172.

3.1.6. Rasio Dokter Per Jumlah Penduduk

Indikator rasio dokter per jumlah penduduk menunjukkan tingkat pelayanan yang dapat diberikan oleh dokter dibandingkan jumlah penduduk yang ada. Apabila dikaitkan dengan standar sistem pelayanan kesehatan terpadu, idealnya satu orang dokter melayani 2.500 penduduk. Jumlah dokter dan dokter spesialis di Indonesia belum memenuhi kebutuhan sesuai rasio jumlah penduduk Indonesia. Selain itu distribusi dokter dan dokter spesialis tidak merata serta kualitasnya masih perlu ditingkatkan.

Tabel 23

Rasio Dokter Per Jumlah Penduduk di Kab. Klungkung, 2014

No Uraian Kabupaten Sumber Data

1 Dokter Umum 75 Dinkes KLK

2 Dokter Spesialis 27 Dinkes KLK

3 Dokter Gigi 18 Dinkes KLK

4 Dokter 120 Data diolah

5 Penduduk 174.800 BPS KLK

Rasio Dokter Per 1000 Penduduk

0,686 Data Diolah

35

INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN KLUNGKUNG

Tabel 23 menyajikan rasio dokter per 1000 penduduk, dengan angka rasio dokter per 1000 penduduk pada tahun 2014 adalah sebesar 0.686. Jika dilakukan perhitungan sebaliknya jumlah penduduk di bagi jumlah dokter akan diperoleh angka sebesar 1.456,67 atau jika dibulatkan menjadi 1.457 , artinya setiap dokter melayani 1.457 penduduk Kabupaten Klungkung.

3.1.7. Rasio Tenaga Medis Per Jumlah Penduduk

Rasio tenaga medis per jumlah penduduk menunjukkan seberapa besar ketersediaan tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan kepada penduduk. Data mengenai rasio tenaga medis per jumlah penduduk di Kabupaten Klungkung disajikan pada Tabel 24.

Tabel 24

Rasio Tenaga Medis Per Jumlah Penduduk di Kabupaten Klungkung Tahun 2014

No Uraian 2014

1 Rasio Bidan/100.000 penduduk 462

2 Rasio Perawat/100.000 penduduk 575

3 Rasio Ahli Gizi/100.000 penduduk 51

4 Rasio Ahli Sanitasi/100.000 penduduk 40 5 Rasio Ahli Kesehatan Masyarakat/100.000 penduduk 18

Sumber : Dinkes Klungkung

Rasio bidan per 100.000 penduduk di Kabupaten Klungkung pada tahun 2014 sebesar 462, artinya setiap 100.000 penduduk Kabupaten Klungkung dilayani oleh 462 orang bidan. Rasio perawat per 100.000 penduduk di Kabupaten Klungkung pada tahun 2014 sebesar 575, artinya setiap 100.000 penduduk Kabupaten Klungkung dilayani oleh 575 orang perawat. Rasio ahli gizi per 100.000 penduduk di Kabupaten Klungkung pada tahun 2014 sebesar 51, artinya setiap 100.000 penduduk Kabupaten Klungkung dilayani oleh 51 orang ahli gizi. Rasio ahli sanitasi per 100.000 penduduk di Kabupaten Klungkung pada tahun 2014 sebesar 40, artinya setiap 100.000 penduduk

36

INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN KLUNGKUNG

Kabupaten Klungkung dilayani oleh 40 orang ahli sanitasi. Rasio ahli kesehatan masyarakat per 100.000 penduduk di Kabupaten Klungkung pada tahun 2014 sebesar 18, artinya setiap 100.000 penduduk Kabupaten Klungkung dilayani oleh 18 orang ahli kesehatan masyarakat.

3.1.8. Persentase Penanganan Sampah

Persentase penanganan sampah addalah jumlah produksi sampah dibandingkan dengan sampah yang ditangani dalam satu tahun. Data mengenai persentase penanganan sampah di Kabupaten Klungkung disajikan pada Tabel 25.

Tabel 25

Persentase Penanganan Sampah di Kabupaten Klungkung Tahun 2014

Uraian Kecamatan Kab

Banjarangkan Dawan Klungkung N.P Produksi Sampah (ton) 48.468 42.845 65.067 63.053 219.433 Sampah Yang Ditangani (Ton) - 23.071 41.629 24.400 89.100 Persentase Penanganan Sampah 0 53,85 63,98 38,70 40,60

Sumber : DKP Kab. Klungkung

Tabel 25 menyajikan data persentase penanganan sampah di Kabupaten Klungkung. Secara total produksi sampah di Kabupaten Klungkung selama tahun 2014 adalah 219.433 ton dengan persentase yang ditangani adalah sebesar 40,60 persen saja atau sebanyak 89.100 ton. Sementara jika dilihat per kecamatan penanganan sampah di Banjarangkan sama sekali belum tergarap dan disusul di Kecamatan

37

INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN KLUNGKUNG

Nusa Penida sebesar 38,70%. Program penanganan sampah masih terfokus di Kecamatan Klungkung, padahal jika diamati, produksi sampah di Nusa Penida hampir mendekati produksi sampah di Kecamatan Klungkung.

3.1.9. Persentase Penduduk Berakses Air Minum

Syarat-syarat air minum menurut Kementerian Kesehatan adalah tidak berasa, tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak mengandung logam berat. Walaupun air dari sumber alam dapat diminum oleh manusia, terdapat resiko bahwa air ini telah tercemar oleh bakteri (misalnya Escherichia coli) atau zat-zat berbahaya. Walaupun bakteri dapat dibunuh dengan memasak air hingga 100 °C, banyak zat berbahaya, terutama logam, tidak dapat dihilangkan dengan cara ini. Persentase penduduk berakses air bersih adalah proporsi jumlah penduduk yang mendapatkan akses air minum terhadap jumlah penduduk secara keseluruhan. Yang dimaksud akses air bersih meliputi air minum yang berasal dari air mineral, air leding/PAM, pompa air, sumur, atau mata air yang terlindung dalam jumlah yang cukup sesuai standar kebutuhan minimal, dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Data mengenai penduduk berakses air minum di Kabupaten Klungkung pada Tahun 2014 disajikan pada Tabel 26.

38

INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN KLUNGKUNG

Tabel 26

Persentase Penduduk Berakses Air Minum Tahun 2014

Uraian Kecamatan Kab Sumber

Data Br angkan Dawan Klungkung N.P

Penduduk Berakses Air Minum 38.348 33.799 56.727 36.791 165.665 Dinkes KLK Jumlah Penduduk 38.390 34.030 57.000 45.380 174.800 BPS KLK Persentase Penduduk Berakses Air Minum 99,89 99,32 99,52 81,07 94,77 Data Diolah

Tabel 26 menyajikan data mengenai persentase penduduk berakses air minum di Kabupaten Klungkung pada Tahun 2014, dimana persentase penduduk berakses air minum terendah ada di Kecamatan Nusa Penida yaitu sebanyak 81,07%.

3.1.10. Persentase Luas Permukiman Yang Tertata

Permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik yang berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan. Persentase Luas Permukiman yang Tertata adalah proporsi luas area permukiman yang sesuai dengan peruntukan berdasarkan rencana tata ruang satuan permukiman terhadap luas area permukiman keseluruhan, dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

39

INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN KLUNGKUNG

3.1.11. Proporsi Panjang Jaringan Jalan Dalam Kondisi Baik

Kinerja jaringan berdasarkan kondisi dengan terminologi baik, sedang, sedang rusak, rusak dan rusak berat. Terminologi ini didasarkan pada besarnya persentase tingkat kerusakan dengan penjelasan sebagai berikut:

a. Kondisi Baik (B) adalah semua ruas jalan dimana permukaan perkerasan, bahu jalan dan saluran samping dalam kondisi baik menurut kriteria teknis (tingkat kerusakan ≤ 6%), sehingga arus lalu-lintas dapat berjalan lancar sesuai dengan kecepatan disain dan tidak ada hambatan yang disebabkan oleh kondisi jalan. b. Kondisi Sedang (S) adalah semua ruas jalan dimana permukaan

perkerasan, bahu jalan dan saluran samping dalam kondisi sedang menurut kriteria teknis (tingkat kerusakan 6 s/d 10 %). Kerusakan yang ada belum (atau sedikit saja) menimbulkan gangguan terhadap kelancaran arus pergerakan lalu-lintas. c. Kondisi Sedang Rusak (SR) adalah semua ruas jalan dimana

permukaan perkerasan, bahu jalan dan saluran samping dalam kondisi sedang menuju rusak menurut kriteria teknis (tingkat kerusakan 10 s/d 16 %). Kerusakan yang ada mulai menimbulkan gangguan terhadap kelancaran arus pergerakan lalu-lintas, sehingga kendaraan harus mengurangi kecepatannya.

d. Kondisi Rusak (R) adalah semua ruas jalan dimana permukaan perkerasan, bahu jalan dan saluran samping dalam kondisi rusak menurut kriteria teknis (tingkat kerusakan 16 s/d 20 %). Kerusakan yang ada sudah sangat menghambat kelancaran arus pergerakan lalu-lintas, sehingga kendaraan harus berjalan secara perlahan-lahan, mengurangi kecepatannya, kadangkala harus berhenti akibat adanya kerusakan atau hambatan pada permukaan perkerasan.

e. Kondisi Rusak Berat (RB) adalah semua ruas jalan dimana permukaan perkerasan, bahu jalan dan saluran samping dalam kondisi rusak berat menurut kriteria teknis (tingkat kerusakan > 20 %). Kerusakan yang ada sudah sangat parah dan nyaris tidak

40

INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN KLUNGKUNG

dapat lagi dilewati oleh kendaraan roda 4, atau hanya dapat dilewati dengan kecepatan sangat rendah.

Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik adalah panjang jalan dalam kondisi baik dibagi dengan panjang jalan secara keseluruhan (nasional, provinsi, dan kabupaten/kota). Data Jalan di Kabupaten Klungkung disajikan pada Tabel 27.

Tabel 27

Panjang Jalan di Kabupaten Klungkung (Km) Tahun 2014

No Uraian Panjang Jalan

1. Jalan Nasional 17,40

2. Jalan Provinsi 19,19

3. Jalan Kabupaten 492,92

4. Jalan Desa 303,69

Total 833,20

Sumber : Dinas PU Kab. Klungkung

Panjang jalan di Kabupaten Klungkung pada Tahun 2014 sepanjang 833,20 kilometer, yang terdiri atas jalan nasional sepanjang 17,40 kilometer, jalan provinsi sepanjang 19,19 km, jalan kabupaten sepanjang 492,92 kilometer, dan jalan desa sepanjang 303,69 kilometer.

3.1.12. Rasio Jaringan Irigasi

Pengertian jaringan irigasi adalah saluran, bangunan dan bangunan pelengkapnya yang merupakan satu kesatuan yang diperlukan untuk penyediaan, pembagian, pemberian, penggunaan dan pembuangan air irigasi. Selanjutnya secara operasional dibedakan ke dalam tiga kategori yaitu jaringan irigasi primer, sekunder dan tersier. Dari ketiga kelompok jaringan tersebut, yang langsung berfungsi sebagai prasarana pelayanan air irigasi ke dalam petakan sawah adalah jaringan irigasi tersier yang terdiri dari saluran tersier, saluran kuarter dan saluran pembuang, boks tersier, boks kuarter serta bangunan pelengkapnya. Rasio Jaringan Irigasi adalah perbandingan

41

INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN KLUNGKUNG

panjang jaringan irigasi terhadap luas lahan budidaya. Panjang jaringan irigasi meliputi jaringan primer, sekunder, tersier. Hal ini mengindikasikan ketersediaan saluran irigasi untuk kebutuhan budidaya pertanian, dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

3.1.13. Rasio Tempat Ibadah Per Satuan Penduduk

Tempat ibadah merupakan tempat suci bagi masing-masing umat beragama untuk menjalankan kewajibannya terhadap Tuhan. Keberadaan tempat ibadah dapat dijadikan salah satu indikator pembangunan manusia terutama pembangunan mental spiritual penduduk. Tabel 28 menyajikan data mengenai rasio tempat ibadah per 1000 penduduk Kabupaten Klungkung.

Tabel 28

Rasio Tempat Ibadah Per 1000 penduduk Kabupaten Klungkung Tahun 2014

No Uraian Jumlah Sumber Data

1 Masjid 6 Kemenag KLK

2 Gereja Kristen 1 Kemenag KLK

3 Gereja Katolik 1 Kemenag KLK

4 Pura 646 Kemenag KLK

5 Vihara 1 Kemenag KLK

6 Mushalla 9 Kemenag KLK

7 Cetya 18 Kemenag KLK

8 Jumlah Tempat Ibadah 682 Kemenag KLK

9 Jumlah Penduduk 174.800 BPS KLK

10 Rasio Tempat Ibadah Per 1000 Penduduk

3,90 Data Diolah

Rasio tempat ibadah per 1000 penduduk Kabupaten Klungkung sebesar 3,90 dengan proporsi tempat ibadah terbanyak adalah pura.

42

INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN KLUNGKUNG

3.1.14. Persentase Rumah Tinggal Bersanitasi

Rumah tinggal berakses sanitasi sekurang-kurangnya mempunyai akses untuk memperoleh layanan sanitasi, sebagai berikut:

a. Fasilitas Air bersih b. Pembuangan Tinja

c. Pembuangan air limbah (air bekas) d. Pembuangan sampah

Tabel 29 menyajikan data mengenai persentase rumah tinggal bersanitasi di Kabupaten Klungkung pada tahun 2012-2014.

Tabel 29

Persentase Rumah Tinggal Bersanitasi di Kabupaten Klungkung, 2012-2014

No Uraian 2012 2013 2014

1. Layak 81,76 82,87 83,37

2. Tidak Layak 18,24 17,13 16,63

Sumber : BPS Kabupaten Klungkung

Berdasarkan data pada Tabel 29, persentase rumah tinggal bersanitasi yang layak di Kabupaten Klungkung mencapai 81,76 persen pada tahun 2012, dan meningkat menjadi 82,87 persen pada tahun 2013, kemudian meningkat lagi menjadi 83,37 persen pada tahun 2014.

3.1.15. Rasio Tempat Pemakaman Umum Per Satuan Penduduk

Tempat Pemakaman Umum (TPU) adalah areal tempat pemakaman milik/dikuasai pemerintah daerah yang disediakan untuk umum yang berada di bawah pengawasan, pengurusan dan pengelolaan pemerintah daerah. Tempat Pemakaman Bukan Umum (TPBU) adalah areal tanah yang disediakan untuk keperluan pemakaman mayat yang pengelolaannya dilakukan oleh yayasan/badan sosial/badan keagamaan. Tempat Pemakaman Khusus (TPK) adalah areal tanah yang digunakan untuk pemakaman yang karena faktor sejarah dan faktor kebudayaan mempunyai arti khusus.

43

INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN KLUNGKUNG

3.1.16. Rasio Tempat Pembuangan Sampah Per Satuan Penduduk

Rasio tempat pembuangan sampah (TPS) per satuan penduduk adalah jumlah daya tampung tempat pembuangan sampah per 1.000 jumlah penduduk, data mengenai rasio tempat pembuangan sampah per satuan penduduk disajikan pada Tabel 30.

Tabel 30

Rasio Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Per Satuan Penduduk Tahun 2014

No Uraian 2014 Sumber Data

1 Daya Tampung TPS (Ton) 91 DKP KLK

2 Jumlah Penduduk 174.800 BPS KLK

Rasio TPS Per 1000 Penduduk 0,521 Data Diolah

Rasio Tempat Pembuangan Sampah per 1000 penduduk di Kabupaten Klungkung sebesar 0,521 pada tahun 2014.

3.1.17. Rasio Rumah Layak Huni

Rasio rumah layak huni adalah perbandingan jumlah rumah layak huni dengan jumlah penduduk, dengan menggunakan rumus sebagai

Dalam dokumen INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN KLUNGKUNG (Halaman 37-89)

Dokumen terkait