• Tidak ada hasil yang ditemukan

aSal SeSuatu SPeCIeS

D. AsAl-usul TeRNAK KAMbING

1. Babi Indoensia (asli)

Sebetulnya babi asli Indonesia adalah babi hutan yang sekarang masih berkeliaran di hutan-hutan. Bangsa babi yang terkenal sebagai babi asli Indonesia antara lain : a) Babi Bali Babi Bali merupakan babi yang didatangkan dari Tiongkok. Lama-kelamaan menjadi babi asli, yang asalnya dari babi liar. Babi di Bali terdapat dua tipe yaitu tipe pertama terdapat di bagian timur pulau Bali yang diduga berasal dari Sus vittatus setempat. Babi ini berwarna hitam dan bulunya agak kasar. Punggungnya sedikit melengkung ke bawah namun tidak sampai menyentuh tanah dan cungurnya repatif panjang.

Tipe yang kedua terdapat di utara, barat dan selatan pulau Bali. Babi ini punggungnya sampai melengkung ke bawah (lordosis), perutnya besar dan sering menyentuh tanah dalam keadaan

bunting atau gemuk. Warnanya hitam kecuali digaris perut bagian bawah dan keempat kakinya kadagn-kadang di dahinya berwarna putih. Kepala pendek sekitar 24-28 cm, telinga tegak dan pendek, yakni skitar 10-11 cm. Babi inilah yang umumnya disebut babi Bali.

Tinggi pundaknya adalah sekitar 48-54 cm, panjang tubuhnya sekitar 90 cm, lingkar dada adalah sekitar 81-94 cm dan panjang ekor sekitar 20-22 cm. Puting susu induk 12-14 ac. Rata-rata banyaknya anak adalah 12 ekor per kelahiran. Babi Bali memiliki kelebihan bisa sepenuhnya diberikan pakan limbah dapur. Sementara untuk jenis babi landrace atau saddle back perlu diberikan pakan pabrik untuk penggemuikan. Babi Bali sangat baik untuk babi guling karena karakteristik babi Bali yang banyak berlemak sangat cocok untuk dijadikan babi guling. Ciri-ciri babi Bali meliputi warna kulit mayoritas hitam, perut buncit, postur tubuh pendek dan kecil. Produk daging (karkas) relatif kecil dibandingkan dengan babi jenis landrace atau saddle back.

Induk babi Bali mampu menghasilkan anak sbanyak 8-10 ekor (dalam satu kali melahirkan). Sementara jenis induk landrace atua saddle back mampu menghasilkan 10-12 ekor dalam satu kali kelahiran.

Babi bali yang berumur 1 bulan untuk kebutuhan upacara bisa dihargai Rp. 400.000 per ekor. Babi butuan (sebutan untuk

babi Bali berumur satu bulan) banyak digunakan upacara mecaru termasuk jenis upacara lainnya. Babi Bali yang sudah menginjak usia 6 bulan sudah bisa mencapai berat 80 kg. Karakteristik : • Warna hitam dan bulu agak kasar • Punggung melengkung ke bawah, tidak sampai ke tanah

• Cungurnya relative pendek • Telinganya tegak tinggi

• Panjang tubuh kurang lebih 94 cm

• Puting susu 12-14 buah dengan jumlah anak 12 ekor per kelahiran

Gambar 2.9 Babi Bali b) Babi Krawang

Keturunana dai Tiongkok. Ciri-cirinya : kepala kecil, telinga pendek berdiri tegak, tulang belakang lemah dan agak panjang, perut hampir menyusur ke tanah, kaki pendek, warna belang, atas hitam dab bagian bawah putih.

c) Babi Sumba

Masih dekat hubungannya dengan babi hutan. Ciri-cirinya : kepala tegak panjang, telinga kecil, sedikit tegak, tulang belakang lemah, warna hitam, belang hitam, atau kehitam-hitaman.

d) Babi Nias

Babi Nias masih dekat dengan babi liar. Badannya sedang, ukuran kepalanya lebih pendek dari babi Sumba. Telinganya tegak kecil, mulutnya runcing, bulunya agak tebal, terutama pada leher dan bahu sedang babi ini berwarna putih atau hitam belang hitam.

Ada satu fenomena yang akhir-akhir ini dilakoni oleh masyarakat di Nias barat yaitu beternak babi di pinggir pantai. Hanya dengan memberi pakan daging kelapa sekali sehari sekadarnya saja.

Petrnak babi di pantai ini memelihara ternaknya di pinggir laut dan membatasi arela ternaknya dengan membuat parit selebar 1 meter (ino’o) sehingga ternak babi mereka tidak bisa pergi jauh. Karen dalam beternak ini boleh dikatakan beternak secara missal maka areal yang dibatasi dengan ino’o bisa luas mencapai 3 km persegi dan ini dikerjakan oleh orang satu kampung dan tiap keluarga dapat memelihara babi 10 ekor atau lebih dengan membiarkan berkeliaran di areal yang sudah dibatasi sehingga di areal itu ada ratusan ekor babi dengan berbagai ukuran dan pemiliknya berbeda-beda.

Makanan babi adalah bulu gowinasi/daun ubi jalar laut yang secara otomatis tumbuh dipinggir pantai tanpa dipelihara sehinggga babi tumbuh dengan sendirinya. Namun untuk kesegaran ternak babi ini sekali sehari diberikan makanan variasi berupa kelapa parut sekadarnya saja oleh pemiliknya. Cara memberikan makanan kelapa ini juga sangat unik yaitu pemilik memanggil ternaknya dan menjaga agar hanya ternaknya saja yang memakan kelapa yang diberikan, setelah habis baru pemiliknya pulang. Peternakan yang sangat menguntungkan karena biaya sangat myrah untuk membutuhkan tenaga manusia yang banyak. Ubi jalar laut tumbuh dengan sendirnya dan sangat banyak serta

cepat pertumbuhannya dan buah sangat banyak di Nias dan tidak terlalu banyak dibutuhkan.

Salah satu desa yang telah melaksanakan peternakan massal ini adalah desa Togimbogi kecamatan Sirombu sehingga yang membutuhkan babi selalu datang kesana karena hampir satu kampung memliki ternak babi. Gambar 2.10 Babi Nias e) Babi Batak Tinggi pundak 51-54 cm, panjang 71-95 cm. Telinga tengah warna rata-rata hitam walaupun ada warna bercak-bercak putih. Bulu pada bagian bahu dan leher agak tebal. Rata-rata memiliki puting susu 10 buah.

Pada masyarakat Batak (Karo) babi biasanya digunakan untuk: • Upacara adat perkawinan dimana pria harus mengorbankan/ mempersembahkan satu nyawa yaitu menyembelih seekor hewan (sapi, babi atau kerbau), yang akan diberikan kepada pengantin wanita. • Salah satu perliharaan masyarakat Batak (Karo).

f) Babi Tana Toraja

Babi kecil (minipig). Tinggi pundak 45 cm, panjang 71 cm. warna hitam putih dan ada yang hitam semua.

Pada masyarakat Toraja, babi umumnya digunakan untuk :

• Tongkonan (rumah dan tradisional suku Toraja), yang dimana binatang babi menjadi salah satu persembahan dalam pembangunan rumah adat tersebut.

• Upacara adat kematian, babi menjadi salah satu binatang persembahan

Dokumen terkait