TINJAUAN PUSTAKA
B. Metabolit Sekunder Alga Merah Eucheuma spinosum
2. Bacillus subtilis
Bacillus subtilis adalah salah satu bakteri yang bersifat termofilik fakultatif (Kosim dan Putra, 2010: 1). Bakteri ini merupakan bakteri gram positif berbentuk batang, bersifat aerobik serta dapat menghasilkan endospora (Sopyan, 2009: 1).
Bacillus subtilis adalah bakteri antagonis yang dapat ditemukan di air, tanah, udara dan residu tanaman yang telah membusuk (Abidin dkk, 2015: 2).
Gambar 2.7Bacillus subtilis
Menurut Frankland & Frankland (1887) dalam Prima (2012: 15), klasifikasi
Bacillus subtils ialah sebagai berikut: Kingdom : Bacteria Filum : Firmicutes Kelas : Bacili Famili : Bacillaceae Genus : Bacillus
Spesies : Bacillus subtilis
Bacillus subtilis termasuk bakteri gram positif, berbentuk batang, dapat tumbuh pada kondisi aerob dan anaerob. Bakteri tersebut dapat membentuk endospora dan dapat bertahan hidup dalam waktu yang lama pada kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan untuk pertumbuhannya (Khaeruni dkk, 2013: 144-145).
Bukti-bukti tentang penciptaan alam semesta termasuk di dalamnya seluruh makhluk hidup di muka bumi baik yang dapat dilihat dengan mata maupun yang dapat dilihat dengan mikroskop (mikroorganisme) tercantum dalam Al-Qur’an, sebagaimana Allah berfirman dalam QS Al-Furqan/25: 2.
Terjemahnya:“Yang memiliki kerajaan langit dan bumi, tidak mempunyai anak, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan(-Nya), dan Dia menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuran-ukurannya dengan tepat”.
Menurut Tafsir Al-Misbah, Allah adalah penguasa Tunggal yang telah menciptakan segala sesuatu yang kemudian menetapkan ukuran-ukuran yang sesuai dengan masing-masing ciptaanNya, menetapkan ukuran serapi-rapinya sehingga semua makhluk berpotensi melaksanakan fungsi-fungsi yang harus diembannya dengan teratur dan sistematis. Menurut tafsir Ibnu Katsir, Allah membersihkan diriNya dari memiliki anak dan sekutu. Segala sesuatu selain Dia hanyalah ciptaanNya dan yang diurus olehNya sedangkan Allah Maha Pencipta segala sesuatu, sekaligus Rabb, sesembahan dan raja segala sesuatu. Semua makhluk berada di bawah kekuasaan, kendali, pengaturan dan ketentuanNya.
Ayat di atas dijelaskan bahwa Allah menciptakan sesuatu dengan ukuran tertentu, bentuk, rupa, cara dan substansi tertentu. Sebagai orang yang beriman, harus meyakini akan adanya Allah sebagai sang pencipta, meyakini bahwa seluruh makhluk baik di langit dan di bumi, baik yang berukuran besar maupun kecil bahkan sampai mikroorganisme yang tidak dapat terlihat dengan mata telanjang juga adalah makhluk ciptaan Allah SWT.
E.Antibakteri
Antibakteri adalah zat yang menghambat pertumbuhan bakteri dan digunakan secara khusus untuk mengobati infeksi. Berdasarkan cara kerja antibakteri dibedakan menjadi bakteriosidal dan bakteriostatik. Antibakteri bakteriostatik adalah zat yang
dapat menghambat pertumbuhan bakteri, sedangkan bakteriosidal adalah zat yang bekerja yang mematikan bakteri. (Hudaya dalam Ali, 2014: 25).
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas antimikroba, yaitu: (1). pH lingkungan. Beberapa obat lebih aktif pada pH asam (misalnya nitrofurantoin), obat lainnya lebih aktif pada pH basa (misalnya, aminoglikosida, sulfonamida). (2). Komponen medium. Protein serum mengikat penisilin dalam berbagai derajat, berkisar dari 40% untuk metisilin sampai 98% utnuk dikloksasilin. Penambahan NaCl ke medium meningkatkan deteksi resistensi metisilin pada Staphylococcus aureus. (3). Stabilitas obat. Pada suhu inkubator, beberapa agen antimikroba kehilangan aktivitasnya. Penisilin diinaktivasi secara lambat, sedangkan aminoglikosida dan siprofloksasin sangat stabil untuk jangka waktu lama. (4). Ukuran inokulum. Pada umumnya, semakin besar inokulum bakteri, semakin rendah kerentanan bakteri tersebut. Inhibisi pada populasi bakteri yang besar lebih lambat dan kurang sempurna dibandingkan pada populasi yang kecil. Selain itu, mutan yang resisten lebih mungkin timbul dalam populasi besar. (5). Lama inkubasi. Pada banyak keadaan, mikroorganisme tidak dimatikan tetapi hanya dihambat dengan pajanan singkat ke agen antimikroba. Semakin lama inkubasi berlangsung, semakin besar kemungkinan mutan resisten timbul atau anggota antimikroba yang kurang rentan mulai memperbanyak diri seiring dengan berkurangnya obat. (6). Aktivitas metabolik mikroorganisme. Pada umumnya, organisme yang tumbuh secara aktif dan cepat, lebih rentan terhadap kerja daripada organisme dalam fase istirahat. Organisme tidak aktif secara metabolik yang bertahan terhadap pajanan obat dalam jangka lama dapat mempunyai keturunan yang benar-benar rentan terhadap obat yang sama (Jawets dalam Nuraina, 2015: 20).
Berdasarkan mekanisme kerjanya terhadap bakteri, antibiotik dikelompokkan sebagai berikut: (1). Inhibitor yang merusak membran plasma. Membran plasma bersifat semipermeabel dan mengendalikan transpor berbagai metabolit ke dalam dan ke luar sel. Adanya gangguan atau kerusakan struktur pada membran plasma dapat menghambat atau bahkan merusak kemampuan membran plasma sebagai penghalang osmosis dan mengganggu sejumlah proses biosintesis yang diperlukan dalam membran. Contohnya polimiksin B, amfoterisin B, mikonazol dan ketokonazol (Pratiwi, 2008: 156-157). (2). Inhibitor sintesis protein bakteri, memiliki efek bakterisidal atau bakteriostatik dengan cara menganggu sintesis protein tanpa mengganggu sel-sel normal dan menghambat tahap-tahap sintesis protein (Febiana, 2012: 22). (3). Menghambat sintesa folat, mekanisme kerja ini terdapat pada obat seperti sulfonamida dan trimetoprim. Bakteri tidak dapat mengabsorbsi asam folat, tetapi harus membuat asam folat dari PABA (asam paraaminobenzoat), pteridin, dan glutamat, sedangkan pada manusia, asam folat merupakan vitamin dan tidak dapat mensintesis asam folat. Hal ini menjadi suatu target yang baik dan selektif untuk senyawa-senyawa antimikroba (Febiana, 2012: 23) (4). Mengubah permeabilitas membran sel, memiliki efek bakteriostatik dan bakteriosidal dengan menghilangkan permeabilitas membran dan oleh karena hilangnya substansi seluler menyebabkan sel menjadi lisis. Obat-obat yang memiliki aktivitas ini antara lain polimiksin, amfoterisin B, gramisidin, nistatin dan kolistin (Febiana, 2012: 24). (5) Menghambat sintesis asam nukleat (DNA/RNA), penghambatan pada sintesis asam nukleat berupa penghambatan terhadap transkripsi dan replikasi mikroorganisme. Antibiotik yang termasuk sebagai penghambat sintesis asam nukleat ini adalah antibiotik golongan kuinolon dan rifampin (Pratiwi, 2008: 159).
Amoksisilin merupakan salah satu antibiotik sintetik turunan penisilin yang memiliki spektrum luas dimana aktif terhadap bakteri gram positif maupun gram negatif (Respati, 2010: 26). Amoksisilin merupakan antibiotik yang tahan terhadap asam tetapi tidak tahan terhadap penisilinase. Beberapa keuntungan penggunaan amoksisilin dibanding ampisilin adalah absorpsi obat dalam saluran cerna lebih sempurna, sehingga kadar amoksisilin dalam darah lebih tinggi. Amoksisilin sering digunakan untuk pengobatan infeksi saluran pernafasan, saluran empedu, meningitis dan infeksi karena Salmonella sp, seperti demam tifoid. Efek terhadap Bacillus dysentery lebih rendah dibanding ampisilin karena lebih banyak obat yang diabsorpsi oleh saluran cerna (Soekardjo, 2000 dalam Respati, 2010: 27).