• Tidak ada hasil yang ditemukan

PADA BADAN PENGELOLA PAJAK DAN RETRIBUSI DAERAH PROVINSI SUMATERA UTARA

l. Program Pemanfaatan Otonomi Daerah dan Sistem Administrasi Daerah

PADA BADAN PENGELOLA PAJAK DAN RETRIBUSI DAERAH PROVINSI SUMATERA UTARA

3.1 Pengertian Sistem

Sistem adalah sekumpulan unsur atau elemen yang saling berkaitan dan saling mempengaruhi dalam melakukan kegiatan bersama untuk mencapai suatu tujuan.Berikut pengertian yang dikemukakan para ahli mengenai system yaitu:

1. Menurut Romney (2006;2),Sistem adalah rangkaian dari dua atau lebih komponen-komponen yang saling berhubungan,yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan.sistem selalu terdiri dari beberapa subsitem kecil yang masing-masing melakukan fungsi khusus yang penting dan untuk mendukung bagi system yang lebih besar,tempat mereka berada.

2. Menurut Sutabri (2005;2),suatu system dapat diartikan sebagai suatu kumpulan atau,himpunan dari unsur,komponen,atau variable yang terorganisir,saling berinteraksi,saling bergantung satu sama lain dan terpadu.

Berdasarkan pengertian sistem yang dikemukakan diatas,dapat disimpulkan bahwa sistem adalah kumpulan komponen yang saling berkaitan satu sama lain untuk mencapai suatu tujuan.

3.2 Pengertian Target dan Realisasi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Target adalah sasaran atau batas ketentuan yang telah ditetapkan untuk dicapai.sedangkan menurut Ali hasan (2008;

191) Target “sebagai kegiatan menentukan pasar sasaran,yaitu tindakan memilih satu atau lebih segmen untuk dilayani.

Realisasi adalah tindakan nyata atau adanya pergerakan atau perubahan dari rencana yang sudah dibuat atau dikerjakan Ali hasan (2008:239).berdasarkan pengertian target dan realisasi yang dikemukakan diatas dapat disimpulkan bahwa target adalah sasaran yang telah ditetapkan untuk dicapai dan realisasi adalah tindakan dari rencana yang sudah di tetapkan.

3.3 Pengertian Pajak Kendaraan Bermotor

Pajak Kendaran Bermotor adalah pajak atas kepemilikan dan/atau penguasaan kendaraan bermotor.Kendaraan bermotor adalah semua kendaraan beroda beserta gandengannya yang digunakan di semua jenis jalan darat,dan digerakkan oleh peralatan teknik berupa motor atau peralatan lainnya yang berfungsi untuk mengubah suatu sumber daya energi menjadi tenaga bergerak pada kendaraan bermotor tersebut.

3.4 Dasar Hukum Pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB)

Pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor Indonesia di dasar i oleh landasan hukum yang jelas dan kuat,sehingga harus di patuhi oleh masyarakat dan seluruh pihak yang terkait. Dasar hukum pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) adalah sebagai berikut:

39

1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak dan Retribusi Daerah.

2. Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara Nomor 1 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utaea Nomor 1 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah Provinsi Sumatera Utara.

3.5 Objek,Subjek, dan Wajib Pajak Kendaran Bermotor (PKB) 3.5.1 Objek Pajak Kendaraan Bermotor

Objek Pajak Kendaraan Bermotor adalah kepemilikan dan / atau penguasaan Kendaraan Bermotor. Termasuk dalam pengertian Kendaraan Bermotor yang dimaksud pada angka (1), adalah:

a. kendaraan bermotor beroda beserta gandengannya, yang dioprasikan di semua jenis jalan darat; dan

b. kendaraan bermotor yang dioperasikan di udara dengan ukuran kotor GT 5 (lima Gross Tonnage) sampai dengan GT 7 (tujuh Gross Tonnage).

3.5.2 Tidak Termasuk Objek Pajak Kendaraan Bermotor (PKB)

Dikecualikan dari pengertian Kendaraan Bermotor yang dimaksud pada angka (2), adalah:

a. kereta api;

b. kendaraan bermotor yang semata-mata digunakan untuk keperluan pertahanan dan keamanan negara;

c. kendaraan bermotor yang dimiliki dan / atau dikuasai kedutaan, konsulat, perwakilan negara asing dan lembaga-lembaga internasional yang dapat mengidentifikasi fasilitas pajak dari Pemerintah; dan

d. kendaraan bermotor yang dimiliki dan / atau dikuasai oleh pabrikan atau importir yang semata-mata disediakan untuk keperluan pameran dan tidak untuk dijual.

3.5.3 Subjek Pajak dan Wajib Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) Berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Pasal 4 Subjek Pajak Kendaraan Bermotor adalah orang pribadi atau badan yang memiliki dan/atau menguasai kendaraan bermotor,Wajib Pajak Kendaraan Bermotor adalah orang pribadi atau Badan yang memiliki kendaraan bermotor.Dalam hal Wajib Pajak Badan,kewajiban perpajakannya diwakili oleh pengurus atau kuasa badan tersebut.

3.6 Dasar Pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB)

Dasar Pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor adalah hasil perkalian dari 2(dua) unsur pokok yaitu:

a. Sebuah nilai jual kendaraan bermotor

b. Bobot yang mencerminkan secara relative tingkat kerusakan jalan dan /atau pencemaran lingkungan akibat pengunaan Kendaraan Bermotor.

41

Khusus untuk kendaraan bermotor yang digunakan diluar jalan umum, termasuk alat-alat berat dan alat-alat besar serta kendaraan di air,dasar pengenaan Pajak Kendaraan bermotor adalah Nilai Jual Kendraan Bermotor.

Bobot yang mencerminkan secara relative tingkat kerusakan jalan dan/atau pencemaran lingkungan akibat pengunaan kendaraan bermotor dinyatakan dalam koefisien yang nialinya satu atau lebih besar dari satu,dengan pengertian sebagai berikut:

a. Koefisien sama dengan satu berarti kerusakan jalan dan/atau pencemaran lingkungan oleh penggunaan kendaraan bermotor tersebut di anggap masih dalam batas toleransi.

b. Koefisien lebih besar dari satu berrati penggunaan kendaraan bermotor tersebut dianggap melewati batas toleransi.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Pasal 8 bobot di hitung berdasarkan faktor-faktor berikut:

a. Tekanan gandar yang dibedakan atas dasar jumlah sumbu/as,roda,dan berat kendaraan bermotor.

b. Jenis bahan bakar kendaraan bermotor yang dibedakan menurut solar,bensin,gas,listrik,tenaga surya,atau jenis bahan bakar lainnya.

c. Jenis penggunaan,tahun pembuatan,dan ciri-ciri mesin kendaraan bermotor yang dibedakan berdasarkan jenis mesin 2 takatau 4 tak, da nisi silindris.

Perhitungan dasar pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor dibuat tertulis dalam suatu table yang ditetapkan dengan Peraturan Menteri Negeri setelah mendapat pertimbangan dari menteri keuangan,Perhitungan dasar pengenaan Pajak Kendara Bermotor dapat berubah setiap tahun.

3.7 Tarif Pajak Kendaraan Bermotor (PKB)

Tarif Pajak Kendaaraan Bermotor ditetapkan sebagai berikut:

1. Untuk kepemilikan Kendaraan Bermotor pertama paling rendah sebesar 1% (satu persen dan paling tinggi 2% dua persen.

2. Untuk kepemilikan Kendaraan Bermotor kedua dan seterusnya tariff dapat ditetapkan secara progesif paling rendah sebesar 2% (dua persen) dan paling tinggi sebesar 10 % (sepuluh persen)

3. Tarif Pajak Kendaraan bermotor angkutan umum,ambulans ,pemadam kebakaran.sosial keagamaan,lembaga social dan

keagamaan,Pemerintah/TNI/POLRI,Pemerinntah Daerah dan kendaraan lain yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah,ditetapkan paling rendah sebesar 0.5 % dan paling tinggi sebesar 1%

4. Tarif Pajak Kendaran Bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar ditetapkan paling remdah 0,1% dan paling tinggi 0,2%.

Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara Nomor 1 tentang Pajak Daerah Provinsi Sumatera Utara pasal 8 dan pasal 9 mengatur tarif PKB sebagai berikut:

43

1. 1,75 % kepemilikan pertama untuk Kendaraan Bermotor pribadi.

2. 1% untuk Kendaraan Bermotor angkutan umum.

3. 0,5% untuk kendaraan ambulans,pemadam kebakaran,social keagamaan,Pemerintah TNI/POLRI,dan pemerintah daerah

4. 0,2% untuk Kemdaraan alat-alat besar dan alat-alat besar

5. Kepemilikan kendraan bermotor kedua dan seterusnya untuk kendaraan roda dua atau lebih,tariff pajaknya ditetapkan secara progresif.

6. Kepemilikan Kendaraan Bermotor didasarkan atas nama dan/atau alamat yang sama.

7. Besarnya tariff progresif untuk kepemilikan kedua dan seterusnya adalah sebagai berikut:

a. Kepemilikan kedua 2%

b. Kepemilikan ketiga 2,5%

c. Kepemilikan keempat 3%

d. Kepemilikan kelima dan seterusnya 3,5%

8. Tata cara pelaksanaan pengenaan pajak progresif diatur dengan peraturan gubernur.

3.8 Tata Cara Perhitungan Pajak Kendaraan Bermotor

Cara Perhitungan Pajak Kendaraan Bermotor dilakukan sebagai berikut:

Pajak Terhutang = Tarif Pajak x Dasar Pengenaan Pajak

= Tarif Pajak x (NJKB x Bobot)

3.9 Masa Pajak Kendaraan Bermotor (PKB)

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 masa Pajak Kendaran Bermotor (PKB) adalah 12 bulan berturut-turut terhitung mulai dari saat pendaftaran Kendaraan Bermotor,Pajak Kendaraan Bermotor dibayar sekaligus dimuka,untuk Pajak Kendaraan Bermotor yang karena kedaan kahar ( force majeure) masa Pajaknya tidak sampai 12 bulan dapat dilakukan restitusi atas pajak yang sudah dibayar untuk porsi pajak yang belum dilalui.

3.10 Saat Terhutang Pajak Kendaraan Bermotor

Pajak kendaraan bermotot terhutang mulai saat pendaftaran kendaraan bermotor atau setelah di terbitkannya Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKPD).

45

3.11 Sistem Penyusunan Target Penerimaan PKB

Tabel 2.1

Target dan Realisasi Penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor di Provinsi Sumatera Utara Periode 2016-2019

Tahun Target 2019 1.986.000.000.000 1.918.000.000.000 96,6%

2018 1.750.758.714.765 1.792.118.992.948 102%

2017 1.702.482.587.800 1.786.261.407.885 104,95%

2016 1.580.000.000.000 1.660.000.000.000 105%

Sumber : Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah Provinsi Sumatera 2021

Berdasarkan tabel 2.1 diatas dapat dilihat target penerimaan dan realiasasi penerimaan pajak kendaraan bermotor di Provinsi Sumatera Utara dari tahun 2016- 2019. Pada tahun 2016 target penerimaan sebesar Rp 1.580.000.000.000 dengan realisasi penerimaan Rp 1.660.000.000.000 yang lebih besar dibandingan dengan target penerimaannya dan persentase sebesar 105% .

Pada tahun 2017 target sebesar Rp 1.702.482.587.800 dengan realisasi penerimaan sebesar Rp 1.786.261.407.885 dan persentase sebesar 104,95%. Pada

tahun 2018 target sebesar Rp 1.750.758.714.765 dengan realisasi penerimaan sebesar Rp 1.792.118.992.948, dan persentase sebesar 102%. Pada tahun 2019 target sebesar Rp 1.986.000.000.000 dengan realisasi penerimaan sebesar Rp 1.918.000.000.000, dan persentase sebesar 96,6%.

Berdasarkan tabel tersebut dapat dilihat bahwa persenan penerimaan pajak kendaraan bermotor di Provinsi Sumatera Utara mengalami kenaikan dan penurunan dari tahun 2016-2019 meskipun setiap tahunnya telah mencapai target penerimaan yang telah ditetapkan tiap tahunnya. Kenaikan dan penurunan ini diakibatkan karena kendala yang dihadapi dalam mencapai Target dan Realisasi.

Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah Provinsi Sumatera Utara dalam menentukan metode penetapan target PKB provinsi sumatera utara dilakukan dengan melihat data pencapaian atau realisasi tahun terakhir melalui aplikasi PDOLPD (Pusat Dukungan Operasional Pendapatan Daerah).Beberapa hal yang menjadi dasar pertimbangan dalam penetapan target PKB adalah :

1. Hasil Analisis Trend penerimaan PKB tahun sebelummnya.

2. Menghitung potensi penerimaan PKB berdasarkan data pertumbuhan pajak kendaraan bermotor baru dan kendaraan keluar masuk.

3. Menganalisis masukkan dan saran dari badan pengelola pajak dan retribusi daerah (BPPRD) dan SAMSAT Provinsi sumatera utara.

47

Target Penerimaan PKB adalah salah satu bagian dari rumusan APBD sehingga proses kebijakan penetapan target penerimaan PKB dan secara umum mengikuti alur dalam kebijakan APBD. proses kebijakan penetapan target PKB di Provinsi Sumatera Utara silakukan dengan beberapa tahapan yaitu :

1. Persiapan

Tahapan ini dilakukan dengan cara menganalisis besarnya potensi PKB melalui studi potensi,analisis ini dilakukan oleh badan pengelola pajak dan retribusi daerah (BPPRD) provinsi sumatera utara dengan Badan Keuangan Daerah Provinsi Sumatera Utara.untuk melakukan perhitungan BPPRD dan BKD melihat statistik secara keseluruhan jumlah potensi pkb di provinsi sumatera utara,serta melalukan proyeksi dan kajian ulang oleh Badan Pengelola Pajak dan Retribusi daerah dan Badan Keuangan Daerah.

2. Pembahasan BPPRD dan Badan Keuangan Daerah

Setelah melakukan persiapan,BPPRD dan Badan Keuagan Daerah melihat data-data dari hasil penggabungan mereka, data tersebut digunakan sebagai pembahasan kesepakatan berapa besarnya target rasional yang akan di tentukan dengan mempertimbangkan faktor- faktor yang mungkin terjadi di kemudian hari yang bisa mempengaruhi jumlah target yang di ajukan.Hasil dari pembahasan

BPPRD dan Badan Keuangan Daerah itulah yang menjadi draft pengajuan target Penerimaan pkb.

3. Rumusan Kebijakan oleh tim anggaran pemerintah daerah Setelah BPPRD dan Badan Keuangan Daerah menemukan kesepakatan,BPPRD dan Badan Keuangan Daerah memberikan draft pengajuan kepada tim anggaran pemerintah daerah,oleh TAPD

dilakukan pembahasan kembali mengenai draft yang diajukan.jika ada kemungkinan perubahan akan dikembalikan lagi kepada BPPRD dan Badan Keuangan Daerah namun jika tidak ada perubahan draf pengajuan target penerimaan PKB tersebut akan dituangkan dalam kebijakan umum APBD.

4. Proses Legilasi

Di tahap ini tingkat legislatif melakukan pembahasan di komisi yang membidangi yaitu komisi II dan pembahasan di badan anggaran DPRD tingkat I maupun tingkat II.

5. Pembahasan Tingkat Komisi

Pembahasan ini memfokuskan pada pembahasan dan pemaparan potensi dan usulan dari eksekutif.seteah itu komisi mengevaluasi

49

dan dilakukan diskusi pendapat dengan refensi komisi mengenai besarnya target yang akan di tetapkan.

6. Pembahasan di badan anggaran

Setelah besaran target penerimaan PKB di tuangkan dalam KUA- PPAS yang sudah di bahas oleh komisi II akan dilakukan pembahasan di tingkat badan anggaran DPRD.pembahasan dilakukan terhadap tingkat kelayakan yang akan di tetapkan,jika badan anggaran memiliki refensi sendiri akan dilakukan permintaan data ulang kembali antara badan anggaran dengan TAPD.

7. Keputusan

Setelah di sepakati besaran target PKB, maka keputusan yang di ambil di pembahasan badan anggaran tersebut akan di cantumkan dalam RAPBD dan selanjutnya di serahkan ke Gubernur untuk di evaluasi.Hasil evaluasi Gubenur diserahkan kepada walikota dan bupati,Hasil evaluasi akan di sempurnakan dan di tetapkan dalam keputusan Pimpinan DPRD dan menjadi dasar penetapan peraturan daerah tentang APBD.Keputusan Pimpinan DPRD dilaporkan pada sidang paripurna untuk disahkan menjadi APBD yang di dalamnya termuat target penerimaan PKB.

3.12 Sistem Realisasi PKB

Badan pengelola pajak dan retribusi daerah melakukan sistem realisasi pajak dengan melihat data berapa banyak wajib pajak yang sudah membayarkan pajaknya terhitung dari dikeluarkannya SKPD kepada wajib pajak,melalui aplikasi PDOLPD (Pusat Dukungan Operasional Pendapatan Daerah).Berdasarkan Peraturan Gubernur Sumatera Utara,Adapun mekanisme yang dilakukan dalam pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor adalah sebagai berikut:

1. Pembayaran PKB dapat dilakuksn di Kantor Bersama SAMSAT,SAMSAT Gerai,SAMSAT Drive Thru,SAMSAT Keliling,SAMSAT Elektronik (e- SAMSAT),Samsat Masuk Kampung dan/atau sentra-sentra Pelayanan PKB lainnya yang ditentukan oleh BPPRD Provsu.

2. Pembayaran PKB dapat dilakukan secara tunai atau melalui transaksi elektronik.

3. Pembayaran PKB wajib dilakukan paling lambat pada tanggal jatuh tempo.

4. Besaran Pajak yang harus dibayar yang tercantum dalam NPPKB dan SKPD/dokumen lain yang dipersamakan,harus dilunasi sekaligus.

5. Pembayaran dianggap sah,apabila bukti penerimaan SKPD/dokumen lain yang di persamakan,telah divalidasu sebagai bukti pembayaran atas pajak terhutang.

6. Pembayaran PKB diterima oleh Bendahara Penerimaan Pembantu pada BPPRD Provsu yang ditunjuk oleh Gubernur melalui petugas Bank yang

ditunjuk,selanjutnya ditatausakan dan disetorkan ke Kas Daerah,Paling lambat 1x 24 jam.

51

3.13 Kendala-Kendala dalam melaksanakan sistem target dan realisasi PKB pada Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah:

A. Peraturan Hukum yang berubah-ubah

Peraturan pemerintah yang berubah-ubah cukup menimbulkan kesulitan dalam melaksanakan sistem target dan realisasi PKB di BPPRD ini disebabkan tidak adanya aturan baku yang bisa dijadikan pedoman konsisten.Adapun peraturan hukum yang berubah yaitu Peraturan Daerah Sumatera Utara Nomor 1 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah Provinsi Sumatera Utara menjadi Peraturan Daerah Sumatera Utara Nomor 1 Tahun 2015 tentang Pajak Daerah Provinsi Sumatera Utara pasal yang berubah pasal 9,21, dan 50.

B. Wajib pajak yang belum memenuhi kewajiban membayar Pajak (Tunggakan PKB)

Banyak wajib pajak yang belum memenuhi kewajiban membayar pajak dikarenakan oleh faktor,sibuk,lupa,kendaraan yang masih dalam proses kredit,kendaraan sudah tua atau rusak,dan lain lain.

3.14 Upaya-Upaya yang dilakukan oleh BPPRD dalam meningkatkan realisasi PKB

A. Melakukan sosialisasi kepada masyarakat

Sosialisasi dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat yang belum

Peningkatan pelayanan dilakukan dengan diadakannya samsat keliling dan drive thru seperti di Drive Thru Bank Sumut di Jl Imam Bonjol, Mall Corner Plaza Medan Fair,Mall Corner Sun Plaza, Keliling Medan Utara, Keliling Medan Selatan,Keliling Lubuk Pakam, Keliling Binjai ,Keliling Tebing Tinggi,Keliling Pematang Siantar,Keliling Stabat,Keliling Tanjung Balai,Keliling Kisaran, Keliling Rantau Parapat, Keliling Lima Puluh, Keliling Perdangang, Keliling Sei Rampah, Keliling Aek Kanopan, Keliling Kota Pinang, Keliling KabanJahe , Keliling Sidikalang, Keliling Pangkalan Brandan, Keliling Tarut ung, Keliling Penyabungan, Keliling Sipirok, untuk memudahkan masyarakat membayar pajak PKB

BAB IV

Dokumen terkait