BAB VI
BADAN PERMUSYAWARATAN DESA Bagian Kesatu
Umum
Pasal 64
(1) Anggota Badan Permusyawaratan Desa merupakan wakil dari penduduk Desa berdasarkan keterwakilan wilayah yang pengisiannya dilakukan secara demokratis;
(2) Masa keanggotaan Badan Permusyawaratan Desa selama 6 (enam) tahun terhitung sejak tanggal pengucapan sumpah/janji;
(3) Anggota Badan Permusyawaratan Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dipilih untuk masa keanggotaan paling banyak 3 (tiga) kali secara turut atau tidak secara berturut-turut;
(4) Jumlah anggota Badan Permusyawaratan Desa ditetapkan dengan jumlah gasal, paling sedikit 5 (lima) orang dan paling banyak 9 (sembilan) orang, dengan memperhatikan keterwakilan perempuan dan wilayah;
(5) Kriteria penentuan jumlah anggota BPD sebagai berikut :
a. 2000 jiwa kebawah sebanyak 5 (lima) orang
b. 2000 sampai dengan 4000 jiwa sebanyak 7 (tujuh) orang
c. 4000 jiwa keatas sebanyak 9 (sembilan) orang
Bagian Kedua
Fungsi, Hak, Kewajiban dan Larangan BPD dan Anggota BPD
Paragraf 1
Fungsi dan Hak BPD
Pasal 65
(1) Badan Permusyawaratan Desa mempunyai fungsi: a. Membahas dan menyepakati Rancangan
Peraturan Desa bersama Kepala Desa;
b. Menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat Desa; dan
c. Melakukan pengawasan kinerja Kepala Desa. (2) Badan Permusyawaratan Desa berhak:
a. Mengawasi dan meminta keterangan tentang penyelenggaraan Pemerintahan Desa kepada Pemerintah Desa;
b. Menyatakan pendapat atas penyelenggaraan Pemerintahan Desa, pelaksanaan Pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan Desa, dan pemberdayaan masyarakat Desa;
c. Mendapatkan biaya operasional pelaksanaan tugas dan fungsinya dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa; dan
d. Memperoleh pengembangan kapasitas melalui pendidikan dan pelatihan, sosialisasi, pembimbingan teknis, dan kunjungan lapangan.
Paragraf 2
Hak, Kewajiban dan Larangan Anggota BPD
Pasal 66
(1) Anggota Badan Permusyawaratan Desa berhak: a. Mengajukan usul rancangan Peraturan Desa; b. Mengajukan pertanyaan;
c. Menyampaikan usul dan/atau pendapat; d. Memilih dan dipilih;
e. Mendapat tunjangan pelaksanaan tugas dan fungsi dan tunjangan lain dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa; dan
f. Memperoleh pengembangan kapasitas melalui pendidikan dan pelatihan, sosialisasi, pembimbingan teknis, dan kunjungan lapangan.
(2) Anggota Badan Permusyawaratan Desa wajib:
a. Memegang teguh dan mengamalkan Pancasila, melaksanakan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika;
b. Melaksanakan kehidupan demokrasi yang berkeadilan gender dalam penyelenggaraan Pemerintahan Desa;
c. Menyerap, menampung, menghimpun, dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat Desa;
d. Mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi, kelompok, dan/atau golongan;
e. Menghormati nilai sosial budaya dan adat istiadat masyarakat Desa; dan
f. Menjaga norma dan etika dalam hubungan kerja dengan lembaga kemasyarakatan Desa.
(3) Anggota Badan Permusyawaratan Desa dilarang: a. Merugikan kepentingan umum, meresahkan
sekelompok masyarakat Desa, dan mendiskriminasikan warga atau golongan masyarakat Desa;
b. Melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme, menerima uang, barang, dan/atau jasa dari pihak lain yang dapat memengaruhi keputusan atau tindakan yang akan dilakukannya;
c. Menyalahgunakan wewenang; d. Melanggar sumpah/janji jabatan;
e. Merangkap jabatan sebagai Kepala Desa dan perangkat Desa;
f. Merangkap sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten, dan jabatan lain yang ditentukan dalam peraturan perundangan-undangan;
g. Sebagai pelaksana proyek Desa;
h. Menjadi pengurus partai politik; dan/atau
i. Menjadi anggota dan/atau pengurus organisasi terlarang.
Bagian Ketiga
Pengisian Keanggotaan BPD dan Pimpinan BPD
Paragraf 1
Pengisian Keanggotaan BPD
Pasal 67
(1) Persyaratan calon anggota Badan Permusyawaratan Desa adalah:
a. Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
b. Memegang teguh dan mengamalkan Pancasila, melaksanakan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika;
c. Berusia paling rendah 20 (dua puluh) tahun atau sudah/pernah menikah;
d. Berpendidikan paling rendah tamat sekolah menengah pertama atau sederajat;
e. Bukan sebagai perangkat Pemerintah Desa; f. Bersedia dicalonkan menjadi anggota Badan
Permusyawaratan Desa; dan
g. Wakil penduduk Desa yang dipilih secara demokratis.
(2) Pengisian keanggotaan BPD dilaksanakan secara demokratis melalui proses musyawarah perwakilan dengan menjamin keterwakilan perempuan;
(3) Dalam rangka proses musyawarah perwakilan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Kepala Desa membentuk panitia pengisian keanggotaan BPD dan ditetapkan dengan Keputusan Kepala Desa; (4) Panitia pengisian anggota BPD sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) terdiri atas unsur Perangkat Desa dan unsur masyarakat lainnya dengan jumlah anggota dan komposisi yang proporsional.
Pasal 68
(1) Panitia pengisian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67 Ayat (3) melakukan penjaringan dan penyaringan bakal calon anggota BPD dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sebelum masa keanggotaan BPD berakhir;
(2) Panitia pengisian menetapkan calon anggota BPD yang jumlahnya sama atau lebih dari anggota BPD yang dilaksanakan paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum masa keanggotaan BPD berakhir;
(3) Calon anggota BPD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dipilih dalam proses musyawarah perwakilan oleh unsur masyarakat yang mempunyai hak pilih;
(4) Hasil musyawarah perwakilan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disampaikan oleh panitia pengisian anggota BPD kepada kepala Desa paling lama 7 (tujuh) Hari sejak ditetapkannya hasil musyawarah perwakilan;
(5) Hasil musyawarah perwakilan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) disampaikan oleh kepala Desa kepada Bupati paling lama 7 (tujuh) hari kerja sejak diterimanya hasil pemilihan dari panitia pengisian untuk diresmikan oleh Bupati.
Pasal 69
(1) Peresmian anggota BPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 68 ayat (5) ditetapkan dengan Keputusan Bupati paling lama 30 (tiga puluh) Hari kerja sejak diterimanya laporan hasil pemilihan langsung atau musyawarah perwakilan dari Kepala Desa;
(2) Pengucapan sumpah janji anggota BPD dipandu oleh Bupati atau pejabat yang ditunjuk paling lama 30 (tiga puluh) Hari kerja sejak diterbitkannya Keputusan Bupati mengenai peresmian anggota BPD;
(3) Susunan kata sumpah/janji anggota Badan Permusyawaratan Desa sebagai berikut:
” Demi Allah/Tuhan, saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya selaku anggota Badan Permusyawaratan Desa dengan sebaik-baiknya, sejujur-jujurnya, dan seadil-adilnya; bahwa saya akan selalu taat dalam mengamalkan dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara, dan bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta
perundang-undangan dengan selurus-lurusnya yang berlaku bagi Desa, daerah, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia ”.
Paragraf 2
Pengisian Keanggotaan BPD Antarwaktu
Pasal 70
Pengisian keanggotaan BPD antarwaktu ditetapkan dengan Keputusan Bupati atas usul pimpinan BPD melalui Kepala Desa.
Paragraf 3
Pimpinan BPD
Pasal 71
(1) Pimpinan Badan Permusyawaratan Desa terdiri atas 1 (satu) orang ketua, 1 (satu) orang wakil ketua, dan 1 (satu) orang sekretaris;
(2) Pimpinan Badan Permusyawaratan Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipilih dari dan oleh anggota Badan Permusyawaratan Desa secara langsung dalam rapat Badan Permusyawaratan Desa yang diadakan secara khusus;
(3) Rapat pemilihan pimpinan Badan Permusyawaratan Desa untuk pertama kali dipimpin oleh anggota tertua dan dibantu oleh anggota termuda.
Bagian Keempat
Pemberhentian Anggota BPD
Pasal 72
(1) Anggota Badan Permusyawaratan Desa berhenti karena:
a. Meninggal dunia;
b. Permintaan sendiri; atau c. Diberhentikan.
(2) Anggota BPD diberhentikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c karena:
a. Berakhir masa keanggotaan;
b. Tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau berhalangan tetap secara berturut-turut selama 6 (enam) bulan;
c. Tidak lagi memenuhi syarat sebagai anggota bpd; atau
(3) Pemberhentian anggota BPD diusulkan oleh pimpinan BPD kepada bupati atas dasar hasil musyawarah BPD;
(4) Peresmian pemberhentian anggota bpd sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan dengan keputusan Bupati.
Bagian Kelima
Musyawarah BPD
Pasal 73
Mekanisme musyawarah Badan Permusyawaratan Desa sebagai berikut:
a. Musyawarah Badan Permusyawaratan Desa dipimpin oleh pimpinan Badan Permusyawaratan Desa;
b. Musyawarah Badan Permusyawaratan Desa dinyatakan sah apabila dihadiri oleh paling sedikit 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota Badan Permusyawaratan Desa;
c. Pengambilan keputusan dilakukan dengan cara musyawarah guna mencapai mufakat;
d. Apabila musyawarah mufakat tidak tercapai, pengambilan keputusan dilakukan dengan cara pemungutan suara;
e. Pemungutan suara sebagaimana dimaksud pada huruf d dinyatakan sah apabila disetujui oleh paling sedikit ½ (satu perdua) ditambah 1 (satu) dari jumlah anggota Badan Permusyawaratan Desa yang hadir; dan
f. Hasil musyawarah Badan Permusyawaratan Desa ditetapkan dengan keputusan Badan Permusyawaratan Desa dan dilampiri notulen musyawarah yang dibuat oleh sekretaris Badan Permusyawaratan Desa.
Bagian Keenam
Peraturan Tata Tertib BPD
Pasal 74
(1) Peraturan tata tertib Badan Permusyawaratan Desa paling sedikit memuat:
a. Waktu musyawarah BPD;
b. Pengaturan mengenai pimpinan musyawarah BPD;
c. Tata cara musyawarah BPD;
d. Tata laksana dan hak menyatakan pendapat BPD dan anggota BPD; dan
e. Pembuatan berita acara musyawarah BPD.
(2) Pengaturan mengenai waktu musyawarah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
a. Pelaksanaan jam musyawarah; b. Tempat musyawarah;
c. Jenis musyawarah; dan d. Daftar hadir anggota BPD.
(3) Pengaturan mengenai pimpinan musyawarah Badan Permusyawaratan Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi:
a. Penetapan pimpinan musyawarah apabila pimpinan dan anggota hadir lengkap;
b. Penetapan pimpinan musyawarah apabila ketua badan permusyawaratan desa berhalangan hadir;
c. Penetapan pimpinan musyawarah apabila ketua dan wakil ketua berhalangan hadir; dan
d. Penetapan secara fungsional pimpinan musyawarah sesuai dengan bidang yang ditentukan dan penetapan penggantian anggota badan permusyawaratan Desa antarwaktu.
(4) Pengaturan mengenai tata cara musyawarah Badan Permusyawaratan Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi:
a. Tata cara pembahasan rancangan peraturan Desa;
b. Konsultasi mengenai rencana dan program Pemerintah Desa;
c. Tata cara mengenai pengawasan kinerja kepala Desa; dan
d. Tata cara penampungan atau penyaluran aspirasi masyarakat.
(5) Pengaturan mengenai tata laksana dan hak menyatakan pendapat Badan Permusyawaratan Desa sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf d meliputi:
a. Pemberian pandangan terhadap pelaksanaan Pemerintahan Desa;
b. Penyampaian jawaban atau pendapat kepala Desa atas pandangan Badan Permusyawaratan Desa;
c. Pemberian pandangan akhir atas jawaban atau pendapat kepala Desa; dan
d. Tindak lanjut dan penyampaian pandangan akhir Badan Permusyawaratan Desa kepada Bupati.
(6) Pengaturan mengenai penyusunan berita acara musyawarah Badan Permusyawaratan Desa sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf e meliputi: a. Penyusunan notulen rapat;
b. Penyusunan berita acara; c. Format berita acara;
d. Penandatanganan berita acara; dan e. Penyampaian berita acara.
Bagian Ketujuh
Musyawarah Desa
Pasal 75
(1) Musyawarah Desa diselenggarakan oleh Badan Permusyawaratan Desa yang difasilitasi oleh Pemerintah Desa.
(2) Musyawarah Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diikuti oleh Pemerintah Desa, Badan Permusyawaratan Desa, dan unsur masyarakat. (3) Unsur masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) terdiri atas : a. tokoh adat; b. tokoh agama; c. tokoh masyarakat; d. tokoh pendidikan;
e. perwakilan kelompok tani; f. perwakilan kelompok nelayan; g. perwakilan kelompok perajin; h. perwakilan kelompok perempuan;
i. perwakilan kelompok pemerhati dan pelindungan anak; dan
j. perwakilan kelompok masyarakat miskin.
(4) Selain unsur masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (3), musyawarah Desa dapat melibatkan unsur masyarakat lain sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat.
BAB VII
PEMILIHAN, PENGANGKATAN DAN