• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bagaimana Jadinya Jika Kita Menolak Iman Reformed?

Dalam dokumen publikasi e-reformed (Halaman 75-80)

Menyepelekan Allah adalah Konsekuensi dari Menolak Iman Reformed

"Aku percaya padamu". Siapa yang mengucapkannya? Itulah yang pertama kali terlintas di benak saya saat melewati sebuah gereja yang memasang spanduk bertuliskan kalimat itu. Filsuf, psikologis, humanis, atau ahli manajemen mana yang telah mengatakan sesuatu yang sangat berpusat pada manusia itu? "Apakah filsuf besar Yunani, Socrates, yang mengatakannya?" tanyaku. Ia adalah orang yang

bersikeras bahwa Anda harus "mengenal diri Anda sendiri". Apakah Narcissus, seorang pemikir sombong yang jatuh cinta dengan citra dirinya sendiri dan memuji kebajikannya sebagai manusia dan keterlibatan pribadinya?

Saat saya melihat di bagian bawah tulisan yang dicetak tebal itu untuk mencari

sumbernya, saya benar-benar kaget. Allah yang mengatakannya. Allah? Saya segera membaca cepat seluruh Perjanjian Lama dan Baru untuk mencari firman Allah yang mengatakan, "Aku percaya padamu." Saya tidak bisa menemukannya. Kalimat itu tidak ada dalam Alkitab.

"Sejak kapan Allah menempatkan manusia sebagai objek kepercayaan-Nya," pikirku. Kalimat itu mungkin terlihat keren bagi generasi modern, namun tidak sesuai dengan teologi yang saya tahu di Alkitab.

Alkitab menjelaskan kejatuhan manusia sebagai "maut dalam pelanggaran dan dosa". Alkitab mengatakan kepada kita bahwa "keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah". Alkitab mengatakan bahwa setiap manusia telah berdosa dan kehilangan

kemuliaan Allah. Dan bahkan Alkitab dengan berani mengatakan bahwa kita "diperanakkan dalam kesalahan dan dikandung ibu kita dalam dosa.

Dengan pernyataan-pernyataan tegas tentang keadaan manusia yang tersesat seperti itu, hal baik apa yang membuat manusia yang sudah berdosa dan rusak itu menjadi objek kepercayaan-Nya?

76

Pernyataan itu memang tegas. Seperti kebanyakan tipu muslihat iklan, pernyataan itu ditujukan untuk menarik perhatian masyarakat modern. Dan dalam usahanya menarik massa, bahkan ada juga yang cukup berani menulis ulang pokok-pokok iman Kristen.

Mereka menulis ulang apa yang Injil katakan tentang manusia, dan membuatnya menjadi seseorang dengan bawaan lahir ilahi yang disenangi Allah. Namun, Injil menegaskan bahwa manusia jasmani tidak dapat menyenangkan Allah (Roma 8:6-8). Mengatakan Allah percaya pada manusia berarti menyatakan secara tak langsung bahwa manusia memiliki kebaikan dan keterampilan spiritual yang terhadapnya Allah berkenan. Hal baik apa yang ada dalam manusia berdosa yang dapat membuat Allah mengatakan padanya, "Aku percaya padamu?"

Mungkin Allah terkesan dengan intelegensi kita. Lagipula, kita adalah manusia yang berpendidikan tinggi dan inovatif. Kita telah menghasilkan sarjana-sarjana dan menciptakan sistem yang memiliki kontribusi besar dalam membentuk masyarakat global.

Mungkin Allah terkesan dengan budaya populer kita. Pada 1960-an, kita memiliki Beatles dan kemudian, Bee Gees, dan kini kita punya Westlife dan Britney Spears. Mungkin Allah senang dengan bagaimana kita memakai musik untuk menghilangkan stres dan membuat jiwa kita menari.

Mungkin Allah terkesan dengan bagaimana kita saling mencintai satu sama lain sebagai manusia. Karena kasih adalah hal yang terpenting, mungkin Allah tergerak oleh

bagaimana kita mengasihi tanpa penilaian, pernikahan, etika, dan tanggung jawab. Mungkin Ia terkesan dengan bagaimana kita dapat dengan mudah terlibat dan melakukan pernikahan sesama jenis.

Mungkin Allah terkesan dengan bagaimana kita dapat lebih maju dalam memandang kehidupan. Ada yang bilang kita berasal dari kera. Yang lain berkata bahwa

materialisme dan kesenangan hidup adalah yang terpenting. Namun, yang lain lagi berkata bahwa kita harus memutuskan etika kita berdasarkan perasaan kita -- jika dirasa baik, lakukan. Dan mungkin Allah terkesan dengan bagaimana pandangan- pandangan ini mampu bertahan dalam pasar publik tanpa persaingan.

Atau mungkin terkesan dengan bagaimana kita percaya terhadap diri kita sendiri. Manusia adalah tolok ukur segala sesuatu. Ia adalah kapten dari takdirnya sendiri. Ia memiliki kemampuan untuk membentuk dunia tanpa Allah. Dan karena semua yang dapat dilakukan manusia itu, Allah percaya padanya.

"Aku percaya padamu?" Sebaliknya, saya menemukan di Alkitab kalimat yang jauh lebih menenangkan. Allah mengatakan kepada setiap orang yang memusatkan diri pada manusia bahwa jika Anda hidup dalam daging, Anda akan mati (Roma 8:13).

77

Pernyataan itu mengubah apa yang sudah dituliskan Allah, karena merendahkan kedaulatan Allah dan menjadikan Allah sekadar sebagai penonton, motivator, "Aku percaya padamu, kamu pasti bisa!"

Allah, dalam kepercayaan Protestan tradisional, disembah sebagai Pencipta dan Penebus. Ia memutuskan hidup semua manusia. Ia menentukan bagaimana segala sesuatu akan terjadi. Ia melakukan segala sesuatu menurut kehendak-Nya. Tidak seorang pun dapat menggagalkan rencana-Nya. Tak seorang pun mampu menentang perkataan- Nya. Dan tak seorang pun yang menyarankan-Nya bahwa rencana B jauh lebih baik. Salah satu pernyataan paling indah tentang Allah ada di Yesaya 46.

"... Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku, yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan." (Yesaya 46:9-10)

Allah tidak perlu percaya kepada siapa pun. Ia sendiri adalah Yang Mahakuasa. Tak ada yang seperti-Nya. Tak seorang pun memiliki kuasa membentuk masa depan. Tak seorang pun dapat menebus kejatuhan manusia. Tak seorang pun dapat melakukan sesuatu tanpa Allah. Tanpa Allah, manusia dan segala ciptaan bahkan tidak dapat hidup barang sesaat. Mengapa Allah mengatakan kepada manusia, "Aku percaya padamu?"

"Aku percaya padamu" hanyalah satu dari banyak peryataan yang dapat Anda temukan di www.lovesingapore.org.sg. Pernyataan lain di antaranya: "Aku berpikir akan

membuat dunia hitam dan putih. Lalu Aku berpikir ... naaaah." "Aku benci aturan. Itulah sebabnya mengapa aku hanya membuat sepuluh aturan." Dan semua pernyataan itu dipertautkan dengan Allah.

"Golden rules" seperti itu dimaksudkan untuk menempatkan Allah di jantung kota, untuk membuat-Nya nampak keren, jenaka, tak ketinggalan zaman, dan dapat diterima. Namun sungguh, hal ini merupakan sesuatu yang menjelaskan bagaimana gereja modern sudah melangkah terlalu jauh. Gereja masa kini telah kalah oleh budaya populer. Jika sesuatu tidak modern, maka sesuatu itu tidak relevan. Karena itu gereja yang memakai metode iklan baru ini memutuskan untuk membuat Allah lebih modern.

Namun dengan membuat Allah menjadi lebih relevan, mereka tidak menghormati Allah. Kini, Allah menjadi seperti produk konsumen. Ia harus didikte untuk berkata sesuatu yang tampak keren di budaya populer kita. Jadi, perkataan-Nya harus dinyatakan ulang, status-Nya diposisikan ulang, dan kedaulatan-Nya direndahkan dalam rangka

membuat-Nya lebih relevan dengan keadaan masa kini. Allah harus mengatakan apa yang para pembuat iklan inginkan untuk Dia katakan. Dan orang-orang yang

mendanainya sepertinya tidak merasa bahwa menggunakan nama Allah dengan begitu sembarangan dan tidak menghormati adalah pelanggaran perintah yang ketiga,

78

adalah kemuliaan-Nya, kini direduksikan menjadi label komersial, untuk mempromosikan produk baru Injil masa kini.

Penyepelean Allah ini adalah sesuatu yang serius. Perhatikan komentar Warren Wiersbe, seorang pengkhotbah Kristen yang terkenal, "Kita tidak perlu mengutuk atau bersumpah untuk menyebut nama Allah dengan sembarangan. Kita hanya perlu menggunakan nama-Nya dalam hal- hal sepele, maka kita pun sudah menghina nama Allah. Tak semestinya familiaritas dapat merendahkan nama ilahi layaknya penghinaan nama Allah yang jelas-jelas diucapkan. Mengucapkan hal-hal spiritual yang berharga dengan cara seadanya dan terkesan menyepelekan merupakan sebuah dosa dan sekaligus menyangkal kebenaran-Nya.

Menyepelekan Allah sama dengan menyingkirkan Allah dari kekristenan historis. Pernyataan "Aku percaya padamu" bukanlah pernyataan yang netral dan tak

berbahaya. Pernyataan itu adalah perusakan teisme dan humanisme. Pernyataan itu merupakan sebuah paduan yang jelas antialkitabiah. Pernyataan itu lebih buruk daripada Arminianisme yang membawa masalah bagi gereja pada era Reformasi. Arminianisme bersifat sinergis. Paham ini mengatakan bahwa Allah membutuhkan kerja sama manusia. Namun pernyataan "Aku percaya padamu" nampak seperti sinkretisme, yang membawa suara humanistis yang halus namun tegas. Manusia memiliki masa depan yang dapat ia atur sendiri. Manusia dapat melakukan apapun menurut

kehendaknya untuk menyenangkan Allah. Dan saat manusia itu berhasil, Allah bertepuk tangan untuknya dan berkata, "Benar, kan, kamu pasti bisa melakukannya. Aku selalu percaya padamu." Pernyataan ini menempatkan Allah dan manusia pada derajat yang sama.

Allah yang dipromosikan dalam iklan-iklan itu bukanlah Allah yang ada di dalam Injil. Saya yakin gereja-gereja yang mendukung slogan ini tidak bermaksud untuk

merendahkan dan menyingkirkan Allah dari kekristenan historis. Namun pernyataan itu jelas membuktikannya. Hal ini membawa saya kepada pertanyaan yang perlu diselidiki: "Sudahkah kita menjadi sedemikian acuh secara teologis sampai-sampai kita tidak lagi mampu membedakan dasar kekristenan dari humanisme dan ketidakpercayaan?"

Memasang tulisan-tulisan seperti itu di dalam dan di luar gereja tidak akan membuat kekristenan menjadi keren dan relevan. Pernyataan itu hanya menunjukkan seberapa jauh komunitas Kristen secara teologis sudah sangat tersesat. Fakta banyaknya gereja terkemuka memasang spanduk seperti itu telah mencerminkan tidak adanya

kepemimpinan teologis dalam komunitas Kristen lokal. Warisan Protestan di Singapura telah kalah oleh roh zaman ini. Allah alkitabiah tidak ada lagi dalam

spanduk-spanduknya. Segera, Ia akan hilang dari aula suci kita ... kecuali kita kembali kepada kesehatan rohani alkitabiah dan mulai menghormati Allah serta menyadari kemuliaan-Nya. (t/Dian)

Judul buku : The Readable TULIP Judul asli artikel : 1. Why We are Reformed?

79 Penulis : Cheah Fook Meng

Penerbit : Genesis Books, Singapura 2003 Halaman : 62 -- 71

80

e-Reformed 103/September/2008:

Dalam dokumen publikasi e-reformed (Halaman 75-80)