• Tidak ada hasil yang ditemukan

“BAGAIMANAKAH CARANYA SAYA MENGASIHI ANDA?”

Penatua Jeffrey R. Holland Dari Kuorum Dua Belas Rasul

Brigham Young University 1999–2000 Speeches, 158–162

Pada pagi ini saya ingin berbicara kepada Anda mengenai kasih seperti Kristus dan apa yang seha-rusnya ada dalam persahabatan Anda, kencan Anda, pacaran Anda, dan akhirnya, pernikahan Anda. Saya mendekati pokok ini dengan mengetahui sepe-nuhnya bahwa, seperti seorang wanita muda yang baru bertunangan berkata kepada saya bulan yang lalu, “Tentu ada banyak nasihat di luar sana!” Saya tidak ingin menambah retorika nasihat per-cintaan ini, tetapi saya percaya bahwa hal kedua setelah keanggotaan Anda dalam Gereja, adalah “keanggotaan Anda dalam pernikahan” yang meru-pakan pergaulan paling penting yang Anda miliki dalam hidup fana ini dan kekekalan—dan bagi yang setia apa yang tidak diperoleh dalam hidup fana

akan diperoleh dalam kekekalan. Maka mungkin

ka-lian akan mengampuni saya karena menawarkan, ya, lebih banyak nasihat. Namun saya harap ini na-sihat tulisan suci, nana-sihat Injil. Nana-sihat yang sama asasinya bagi kehidupan adalah cinta—nasihat yang sama-sama dapat diterapkan kepada pria dan wani-ta. Ini tidak ada hubungannya dengan mode atau pendapat popular atau tipu muslihat, tetapi ada hu-bungannya dengan segala kebenaran.

Maka izinkan saya menempatkan persahabatan dan kencan Anda dan akhirnya pernikahan Anda dalam suatu konteks tulisan suci pada pagi ini dan berbica-ra kepada Anda mengenai apa yang akan saya coba jelaskan sebagai cinta sejati.

Setelah amanat yang panjang dan menakjubkan oleh Mormon mengenai kasih, bab tujuh dari kitab Moroni mengatakan kebajikan Kristen yang terting-gi ini, lebih akurat disebut “Kasih Murni Kristus.”

Kasih itu bertahan untuk selamanya; dan barangsiapa kedapatan memiliki kasih itu pada hari terakhir, dia akan selamat.

Oleh karena itu, ... berdoalah kepada Bapa dengan segala kekuatan hati, supaya kamu boleh dipenuhi

dengan kasih ini, yang telah dia limpahkan kepada se-mua orang yang menjadi para pengikut sejati Putra-Nya, Yesus Kristus; supaya kamu boleh menjadi putra-putra Allah, supaya apabila dia memperlihatkan diri, kita akan menjadi seperti Dia, karena kita akan meli-hat-Nya sebagaimana dia adanya, ... supaya kita dapat dimurnikan bahkan seperti dia itu murni adanya

[Moroni 7:47–48].

Kasih sejati, yang mutlak murni, kasih sempurna Kristus, hanya sekali dinikmati dunia ini—dalam bentuk Kristus sendiri, Putra Allah yang hidup. Kasih Kristuslah yang diuraikan Mormon secara panjang lebar bagi kita. Rasul Paulus juga melaku-kannya beberapa tahun sebelumnya, dengan menu-lis surat kepada orang-orang Korintus pada zaman Perjanjian Baru. Sebagaimana dalam segala hal, Kristus adalah satu-satunya yang berhasil dengan baik, melaksanakannya dengan segala kesempurna-an, mengasihi dengan cara yang hendaknya kita ikuti. Namun, meskipun kita tidak mencapai kesem-purnaan, standar ilahi itu ada bagi kita. Itulah cita-cita yang harus terus kita usahakan untuk menca-painya terus-menerus—dan, tentunya, itulah cita-cita yang harus terus dihargai.

Sewaktu kita membicarakan ini, izinkan saya meng-ingatkan Anda, seperti yang diajarkan Mormon se-cara jelas, bahwa kasih ini, kesanggupan ini, kapasi-tas dan balasannya yang kita semua inginkan, adalah sebuah pemberian. Pemberian yang “dilim-pahkan”—menurut kata Mormon. Datangnya bu-kan tanpa usaha dan datangnya pun bubu-kan tanpa kesabaran, tetapi, seperti keselamatan, pada akhir-nya hal itu menjadi pemberian, diberikan Allah ke-pada “pengikut sejati Putra-Nya, Yesus Kristus.” Pemecahan masalah kehidupan selalu adalah peme-cahan Injil. Jawaban tidak hanya ada pada Kristus, tetapi juga pada kuasa, anugerah, pelimpahan, mukjizat memberi dan menerima jawaban tersebut. Dalam urusan kasih itu, tidak ada ajaran yang lebih membesarkan hati daripada itu.

Saya telah mengambil judul untuk ceramah saya ini dari kalimat menakjubkan Ny. Browning, “Bagaimanakah caranya saya mengasihi Anda?” (Elizabeth Barrett Browning, Sonnets from the

Portuguese [1850], no. 43). Saya tidak akan

“menjelas-kan cara demi cara” pagi ini, tetapi saya terkesan oleh pilihan kata keterangan—bukan kapan saya mengasihi Anda, juga bukan di mana saya menga-sihi Anda, juga bukan mengapa saya mengamenga-sihi Anda, juga bukan mengapa Anda tidak mengasihi saya,

CI N T A

tetapi, malah, bagaimana. Bagaimana saya menun-jukkannya, bagaimana caranya menyatakan kasih sejati saya pada Anda? Ny. Browning benar. Cara terbaik menunjukkan kasih sejati ialah dengan “bagaimana,” dan dalam kata bagaimana itulah Mormon dan Paulus paling banyak membantu kita. Unsur pertama kasih ilahi—kasih murni—yang di-ajarkan kedua nabi ini adalah kebaikannya, nilainya yang tidak mementingkan diri, tiada ego dan ke-sombongan dan meniadakan sikap memusatkan perhatian pada diri sendiri. “Kasih yang murni itu panjang sabar dan ramah tamah, dan [kasih] tidak iri hati dan tidak membanggakan diri, tidak menca-ri untuk dimenca-ri sendimenca-ri” (Moroni 7:45). Saya telah mendengar Presiden Hinckley mengajar secara umum dan pribadi yang saya kira telah dikatakan oleh semua pemimpin—bahwa kebanyakan masa-lah dalam cinta dan pernikahan pada akhirnya dimulai dengan sikap mementingkan diri. Dalam menggariskan kasih yang ideal, tidak mengherankan bahwa komentar tulis-an suci dimulai di sini. Untuk kasih ideal itu, Kristus, orang yang paling ti-dak mementingkan diri yang pernah hidup, adalah teladan agung.

Ada banyak sifat yang ingin Anda cari pada diri seorang teman atau teman kencan serius—belum termasuk

pasang-an atau rekpasang-an kekal—tetapi tentu di pasang-antara ypasang-ang pertama dan yang paling asasi dari sifat-sifat tersebut adalah yang peduli dan peka terhadap orang lain, se-sedikit mungkin sifat memusatkan perhatian pada di-ri sendidi-ri yang memungkinkan memperlihatkan rasa belas kasihan dan sopan santun. “Bagian terbaik dari kehidupan seorang yang baik adalah kemurahan ha-tinya,” kata Tn. William Wordsworth (Lines Composed

a Few Miles Above Tintern Abbey [1798], baris 33–35).

Ada banyak keterbatasan pada diri kita semua sehing-ga kita berharap kekasih kita tidak melihatnya. Saya kira tidak seorang pun setampan atau secantik seperti yang dia harapkan, atau secemerlang di seko-lah atau secerdas dalam berkata-kata atau sekaya seperti yang kita harapkan, tetapi di dalam dunia de-ngan ragam bakat dan harta yang tidak selalu dapat kita kuasai, sifat-sifat yang kita dapat kuasai bahkan menjadi semakin menarik—sifat-sifat itu adalah pe-nuh pertimbangan, kesabaran, berkata-kata dengan lembut, dan merasa gembira karena keberhasilan orang lain. Ini semua tidak merugikan kita sama sekali, tetapi dapat berarti segala-galanya bagi orang yang menerimanya.

Saya menyukai bahasa Mormon dan Paulus yang mengatakan bahwa seseorang yang sungguh-sungguh mengasihi “tidak memegahkan diri.” Memegahkan diri! Bukankah itu suatu gambaran yang hebat? Pernahkah Anda bersama seseorang yang sedemikian congkak, sedemikian dipenuhi perasaan mementingkan diri sehingga mereka se-perti balon yang akan meledak? Fred Allen pernah berkata bahwa dia melihat orang seperti itu berja-lan-jalan di taman asmara menggandeng tangannya sendiri. Cinta sejati berkembang kalau kita lebih ba-nyak memerhatikan orang lain daripada memer-hatikan diri sendiri. Itulah teladan Kurban Tebusan besar Kristus bagi kita, itu yang seharusnya lebih ki-ta tunjukkan dalam kemurahan hati kiki-ta, dalam penghargaan kita kepada orang lain, dan sikap tidak mementingkan diri dan sopan santun kita dalam pergaulan pribadi kita.

Kasih itu rapuh, dan beberapa unsur dalam kehidup-an dapat mencoba untuk memecahkkehidup-annya.

Kerusakan hebat dapat terjadi jika kita tidak berada dalam tangan lembut dan penuh perhatian. Memberi diri secara menyeluruh kepada seseorang, sebagai-mana yang dilakukan dalam pernikah-an, adalah langkah yang paling dapat dipercaya dalam hubungan manusia. Itulah tindakan nyata iman—iman yang harus dilaksanakan oleh kita semua dengan rela. Jika kita melakukannya dengan benar, pada akhirnya kita berbagi segalanya—semua harapan ki-ta, semua rasa takut, semua impian, semua kelemah-an, dan semua sukacita kita—bersama orang lain. Tidak ada pacaran atau pertunangan atau pernikah-an ypernikah-ang sungguh-sungguh berharga jika kita tidak sepenuhnya menanamkan semua milik kita dalam hubungan itu dan dengan demikian memercayakan diri kita secara menyeluruh kepada orang yang kita cintai. Anda tidak akan berhasil dalam cinta jika Anda menahan diri Anda sebagian demi keamanan. Sifat cinta itu sendiri mengharuskan Anda berdua saling berpegangan seerat mungkin dan melompat ke kolam bersama. Dengan semangat itu, semangat Mormon membela kasih murni itu, saya ingin menekankan betapa rentan dan gentingnya masa depan rekan Anda ketika kasih itu diserahkan ke tangan Anda untuk dijaga dengan aman—lelaki dan perempuan, itu berlaku bagi keduanya. Sister Holland dan saya telah menikah hampir 37 tahun, hanya kira-kira enam tahun saya tidak ada

CI N T A 177

Pemecahan masa-lah kehidupan

selalu adalah pemecahan Injil.

di sampingnya. Mungkin saya tidak tahu segalanya mengenai dirinya, tetapi saya mengetahui menge-nainya selama 37 tahun yang berharga, dan dia ta-hu sebanyak itu mengenai saya. Saya mengetata-hui apa yang dia sukai dan tidak sukai, dan demikian pula dia tahu mengenai saya. Saya mengetahui sele-ra dan minatnya, hasele-rapan dan impiannya, dan de-mikian pula dia tahu mengenai saya. Sewaktu cinta kami tumbuh dan pertalian kami menjadi matang, kami semakin bebas satu sama lain dari semua hal tersebut.

Hasilnya ialah bahwa sekarang saya jauh lebih tahu cara menolongnya, dan, jika saya mau, saya tahu dengan tepat apa yang akan menyakiti hatinya. Dalam kejujuran cinta kami—cinta tidak akan sepe-nuhnya seperti kasih Kristus tanpa pengabdian me-nyeluruh seperti itu—tentu Allah akan menganggap saya bertanggung jawab untuk setiap lukanya yang saya buat yang dengan sengaja memanfaatkannya atau menyakitinya ketika dia sedemikian memer-cayai saya, setelah sekian lama menanggalkan setiap perisai bela dirinya agar seperti yang dikatakan tu-lisan suci, “menjadi satu daging” (Kejadian 2:24). Menghalangi atau mengganggunya dengan cara apa

pun demi keuntungan atau kesombongan saya atau

secara emosional menguasainya akan langsung membuat saya tidak pantas menjadi suaminya. Memang, hal itu akan mencampakkan jiwa saya yang celaka ini ke dalam penjara kekal, bangunan besar dan luas yang dikatakan Lehi sebagai penjara bagi mereka yang hidup menurut “khayalan sia-sia” dan “kesombongan dunia” (1 Nefi 11:36, 12:18). Tidak mengherankan bangunan itu berada berla-wanan dengan pohon kehidupan yang mewakili ka-sih Allah di padang itu! Kristus memiliki semua sifat itu, Dia tidak pernah iri hati atau menjadi sombong, tidak pernah mementingkan kebutuhan-Nya sendi-ri. Dia tidak pernah sekali pun mencari keuntungan pribadi dengan mengorbankan orang lain. Dia ber-sukacita dalam kebahagiaan orang lain, kebahagia-an ykebahagia-ang dapat diberikkebahagia-an-Nya kepada mereka. Dia selalu murah hati.

Dalam hubungan kencan dan pacaran, saya tidak ingin Anda meluangkan waktu lima menit pun de-ngan seseorang yang meremehkan Anda, yang te-rus-menerus mengkritik Anda, yang semena-mena dan mungkin saja menganggap perilakunya itu se-bagai lelucon. Hidup ini sendiri sudah cukup berat tanpa orang yang seharusnya mengasihi Anda namun justru menyerang harga diri Anda, martabat Anda, rasa percaya diri Anda, dan sukacita Anda.

Dalam pemeliharaan orang ini Anda pantas merasa aman secara fisik dan emosi.

Para anggota Presidensi Utama telah mengajarkan “setiap bentuk perundungan fisik atau mental kepa-da wanita mana saja tikepa-dak layak dilakukan setiap penyandang imamat” dan “pria yang memegang imamat Allah seharusnya tidak memperundung istrinya dengan cara apa pun, atau merendahkan atau melukai atau menarik manfaat secara tidak pantas dari wanita mana pun”—dan itu termasuk teman, teman kencan, kekasih, atau tunangan, be-lum lagi membicarakan tentang istri” (James E. Faust, “The Highest Place of Honor,” Ensign, Mei 1988, 37, dan Gordon B. Hinckley, “Reach Out in Love and Kindness,” Ensign, November 1982, 77). Jika Anda hanya pergi untuk makan Pizza atau bermain tenis satu set, pergilah dengan siapa saja yang dapat memberikan kesenangan yang baik dan bersih. Namun jika Anda serius, atau berencana un-tuk serius, silakan cari seseorang yang dapat mem-bangkitkan hal terbaik dari dalam diri Anda dan yang tidak iri akan keberhasilan Anda. Carilah sese-orang yang dapat ikut merasakan penderitaan dan kebahagiaan Anda.

Segmen kedua mengenai khotbah kasih menurut tulisan suci dalam Moroni 7:45 mengatakan bahwa kasih murni—kasih sejati—“tidak mudah tersing-gung, tidak berpikiran jahat, dan tidak bersukacita dalam kejahatan.” Pikirkan berapa banyak perban-tahan yang dapat dihindari, berapa banyak sakit ha-ti yang dapat dihindari, berapa banyak sikap peno-lakan dan aksi diam dapat diakhiri, dan, dalam skenario terburuk, berapa banyak putus hubungan dan perceraian dapat dihindari jika kita tidak mu-dah tersinggung; jika kita tidak saling berpikiran jahat, dan jika kita tidak hanya tidak bersukacita dalam kejahatan; tetapi tidak bersukacita bahkan dalam kesalahan kecil.

Merajuk tidaklah pantas bahkan pada anak-anak; memalukan sekali jika itu terjadi pada orang dewa-sa, terutama orang-orang dewasa yang seharusnya saling mengasihi. Kita terlalu mudah tersinggung; kita terlalu cenderung mengira bahwa rekan kita bermaksud melukai kita—katakanlah bermaksud ja-hat; dan dalam reaksi mempertahankan diri atau iri hati kita terlalu sering bergembira ketika kita meli-hat mereka berbuat salah dan mereka kedapatan ber-buat suatu kesalahan. Mari kami tunjukkan disiplin untuk urusan ini. Bersikaplah lebih dewasa sedikit. Gigitlah lidah Anda agar diam jika perlu.

CI N T A

“Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota” (Amsal 16:32). Sedikitnya ada sebuah perbedaan antara pernikahan yang dapat ditole-ransi dan sebuah pernikahan agung. Perbedaannya mungkin terletak pada kerelaan pernikahan agung membiarkan hal-hal berlalu tanpa komentar, tanpa tanggapan.

Saya menyebut Shakespeare sebelumnya. Dalam per-cakapan mengenai cinta dan percintaan Anda boleh merujuk pada Romeo dan Juliet. Namun izinkan saya merujuk pada cerita yang tidak begitu terkenal. Dengan Romeo dan Juliet akhir kisahnya adalah aki-bat keadaan tidak salah yang serba salah, menyedih-kan memang, kesalahan yang membuat patah hati antara dua keluarga yang seharusnya lebih saling mengenal. Namun dalam kisah Othello dan Desdemona, duka dan kerusakannya telah diperhi-tungkan—sejak awal sudah secara keji diarahkan. Dari semua kejahatan dalam tulisan Shakespeare, dan mungkin dari semua literature, tidak ada yang sede-mikian saya benci sebagaimana saya membenci Iago. Bahkan namanya pun terdengar jahat bagi saya, atau sedikitnya begitulah yang terjadi. Dan apakah keja-hatannya, dan tragedi Othello, kerentanannya yang hampir tak termaafkan? Mereka menciptakan keja-hatan bila tidak ada yang dilakukan, mereka mencip-takan kedurhakaan bayangan bila perlu. Para penja-hat di sini tidak bersukacita “dalam kebenaran.” Mengenai Desdemona yang tak bersalah, Iago berkata, “Saya mengubah kebajikannya menjadi kejatuhan. Dan dari kebaikannya sendiri saya mem-buat jerat. Itulah yang akan menjerat mereka semua” (William Shakespeare, Othello, babak 2, adegan 3, ba-ris 366–368). Menuai keraguan dan sindiran iblis, memainkan iri hati dan tipu dan akhirnya amukan pembunuhan, Iago menghasut Othello untuk men-cabut nyawa Desdemona—kebajikan berubah menja-di kejatuhan, kebaikan terpelintir menjamenja-di jerat fatal. Syukurlah, di Provo pagi ini kita tidak berbicara mengenai ketidaksucian, nyata atau khayal, atau mengenai pembunuhan; tetapi dengan semangat pendidikan universitas, marilah kita pelajari ajaran yang sedang diajarkan. Pikirkan hal terbaik dari sesa-ma, terutama mereka yang Anda kasihi. Terimalah yang baik dan ragukan yang buruk. Bangkitkan da-lam diri Anda menurut apa yang disebut Abraham Lincoln “sifat malaikat yang lebih baik dalam diri ki-ta” (First Inaugural Address, 4 Maret 1861). Othello dapat diselamatkan bahkan pada saat terakhir ketika

dia mencium Desdemona yang kemurniannya sedemikian nyata. “Ciuman itu hampir membu-juk keadilan untuk mematahkan pedangnya!” katanya (babak 5, adegan 2, baris 16–17). Yah, dia dapat menghindari kematian Desdemona dan ke-mudian juga bunuh dirinya jika dia melanggar apa yang menurut anggapannya adalah keadilan pe-dang. Cerita pada zaman Ratu Elizabeth I yang tragis dan menyedihkan ini dapat mempunyai akhir yang indah dan bahagia seandainya saja satu orang, yang pada waktu itu memengaruhi orang lain, tidak ber-pikiran jahat, tidak bersukacita dalam kejahatan, te-tapi bersukacita dalam kebenaran.

Ketiga dan terakhir, para nabi mengatakan kepada kita bahwa cinta sejati “menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesua-tu, sabar menanggung segala sesuatu” (1 Korintus 13:7). Sekali lagi itulah akhir suatu uraian mengenai kasih Kristus—Dia adalah teladan agung dari sese-orang yang memikul beban kita dan percaya dan mengharap dan bertahan. Kita diajak untuk mela-kukan hal yang sama dalam masa pacaran kita dan dalam pernikahan kita sekuat kesanggupan kita. Bertahanlah dan jadilah kuat. Mengharap dan per-caya. Ada hal-hal dalam kehidupan yang tidak da-pat kita kuasai. Itu harus ditanggung. Beberapa kekecewaan harus dijalani dengan kasih dalam per-nikahan. Itu bukan hal-hal yang diinginkan siapa pun dalam hidup, tetapi kadang-kadang hal itu da-tang. Dan jika hal itu datang, kita harus menang-gungnya; kita harus percaya; kita harus berpengha-rapan akan berakhirnya duka dan susah seperti itu; kita harus bertahan sampai segalanya beres.

Salah satu tujuan agung dari kasih sejati ialah saling membantu pada saat-saat seperti ini. Tidak seorang pun harus menghadapi kesulitan seperti itu sendiri-an. Kita dapat menanggung hampir segala hal jika kita mempunyai seseorang di sisi kita yang setulus-nya mengasihi kita, yang mengurangi tanggungan dan meringankan beban. Mengenai hal ini, seorang teman kami dosen BYU, Profesor Brent Barlow, mengatakan kepada saya beberapa tahun yang lalu mengenai garis batas muatan lambung kapal Pimsoll.

Sebagai remaja di Inggris, Samuel Plimsoll terpesona melihat kapal-kapal menaikkan dan menurunkan muatan. Dia segera melihat bahwa tak peduli sisa ruang yang masih tersedia, setiap kapal mempu-nyai kapasitas maksimum. Jika sebuah kapal mele-bihi batas muatannya, maka ada kemungkinan

tenggelam di lautan. Pada tahun 1868 Plimsoll masuk Parlemen dan mengajukan undang-undang kapal dagang, antara lain, meminta dilakukan per-hitungan daya muat kapal. Akibatnya garis dibuat pada lambung setiap kapal di Inggris. Sewaktu mu-atan dinaikkan ke atas kapal, maka kapal barang itu akan turun sedikit demi sedikit ke dalam air. Ketika permukaan air di sisi kapal mencapai garis Plimsoll, maka kapal dianggap bermuatan penuh, tidak pedu-li seberapa besar ruang tersisa. Akibatnya, kematian orang Inggris di lautan luar biasa berkurang. Seperti kapal, orang-orang mempunyai kapasitas yang berbeda pada waktu yang berbeda dalam kehi-dupannya. Dalam pergaulan, kita perlu menetapkan garis Plimsoll kita sendiri dan membantu menunjuk-kannya pada orang-orang yang kita kasihi. Bersama-sama kita perlu memonitor tingkat tekanan emosi dan dapat membantu dalam mengurangi atau sedi-kitnya menyesuaikan kembali sebagian muatan jika kita melihat kekasih kita sedang tenggelam. Kemudian ketika kapal kasih sudah tidak oleng, kita dapat mencari ancang-ancang untuk jangka panjang, apa yang dapat ditinggalkan sampai saatnya tepat untuk dipungut kembali, dan apa yang dapat diting-galkan untuk selamanya. Kawan-kawan, kekasih, atau pasangan perlu saling memonitor tekanan mental mereka dan membedakan fase-fase perubahan dalam kehidupan. Kita saling berutang untuk menyatakan suatu batas dan kemudian membantu menyingkirkan beberapa hal jika kesehatan dan kekuatan emosi dari hubungan kasih berada dalam bahaya. Ingat, kasih murni “menanggung segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharap segala sesuatu, sabar menang-gung segala sesuatu,” dan membantu orang-orang yang dikasihi melakukan hal yang sama.

Izinkan saya mengakhiri. Dalam kesaksian akhir Mormon dan Paulus, mereka menyatakan “ka-sih (murni) tidak berkesudahan” (Moroni 7:46, 1 Korintus 13:8). Kasih tetap ada selama susah dan senang. Kasih bertahan selama masa cerah dan su-ram, selama duka dan sukacita. Kasih tidak berkesu-dahan. Demikianlah Kristus mengasihi kita, dan demikianlah dia mengharapkan kita untuk saling mengasihi. Dalam perintah terakhir-Nya kepada se-mua murid-Nya yang berlaku selamanya, Dia ber-kata, “Aku memberikan perintah baru kepadamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti