BAB III METODOLOGI PENELITIAN
III.6 Bagan Alir Penelitian
Gambar 3.2 Bagan alir penelitian Akuisisi data
Studi Literatur
Penampang 2D Chargebilitas Penampang 2D Resistivitas
Interpretasi
Hasil dan Kesimpulan Profil 3D Inversi Model
Chargebilitas semu Resistivitas semu
Data geologi
41 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 Lintasan Pengukuran
Gambar 4.I Peta lintasan pengukuran
Lintasan pengukuran dibuat sebanyak 7 lintasan dengan jarak antar lintasan 100 meter dengan panjang lintasan terdiridari 830 meter dan 664 meter dengan spasi elekteroda terkecil 10 meter dan 8 meter. Data yang diperoleh berupa nilai chargebilitas dan Resistivitas serta didukung dengan data geologi daerah penelitian berdasarkan peta geologi lembar bangka utara.
42 IV.2. Hasil dan Pembahasan
Data yang digunakan pada penelitian ini merupakan data primer yang berlokasi di daerah Pemali, Kecamatan Pemali, Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung, yang merupakan daerah ekplorasi PT. Timah (Persero).
Data yang diperoleh berupa nilai resistivitas dan chargebilitas kemudian diinversi pada software Res2Dinv. Selanjutnya dibuat penampang 2D resistivitas dan chergelitas menggunakan software surfer untuk semua lintasan.
Tahap interpretasi dilakukan dengan menggabungkan penampang Resistivitas dan Chargebilitas, yang bertujuan untuk menentukan daerah irisan antara nilai resistivitas tinggi yang diidentifikasi sebagai batuan pembawa timah dengan nilai chargebilitas mineral kasiterit. Pada penelitian terdahulu oleh Pratama pada tahun 2016 dihasilkan table nilai chargebilitas mineral dan batuan (Tabel 2.3) bahwa nilai chargebilitas dari mineral kasiterit berkisar antara ( 3 msec – 12 msec ) yang akan dijadikan acuan dalam penentuan keberadaan mineral kasiterit itu sendiri.
Berdasarkan nilai hasil inversi pada setiap lintasan yang telah dianalisa sebelumnya, berikut penampang 2D dan pembahasan mengenai Overlay antara resistivitas tinggi dan chargebilitas sedang untuk setiap lintasan.
43 IV.2.1. Lintasan 1
Lintasan 1 membentang dari arah barat ke timur sejauh 830 m. Hasil inversi pada lintasan ini berupa penampang 2D seperti pada Gambar 4.2.
Gambar 4.2 a). Hasil inversi resistivitas, b). Hasil inversi chargebilitas Gambar 4.2 menunjukkan dominasi nilai resistivitas tinggi yang diidentifikasikan sebagai batuan pembawa timah. Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya, proses pembentukan timah yang terjadi pada lintasan ini berada pada fase hipotermal-mesotermal yang artinya komponen utama pembawah timah dalam hal ini mineral kasiterit mengisi perangkap yang telah ada berupa kekar serta bidang perlapisan. Dari hasil analisis nilai resistivitas dan nilai chargebilitas dapat diinterpretasikan bahwa terdapat zona lemah yang di tandai dengan kotak hitam dengan garis putus-putus pada Gambar 4.2 yang di indikasikan sebagai intrusi batuan yang menjadi tempat terjadinya proses mineralisasi pada lintasan ini. Zona
44 lemah tersebut berada antara meter ke 360 – 450 dengan kedalaman 0 sampai 160 meter dari permukaan tanah, nilai chargeabilitas pada zona lemah tersebut berada pada nilai chargeabilitas yang bervariasi mulai dari rendah hingga tinggi.
Gambar 4.3 Overlay Lintasan 1
Gambar 4.3 menunjukkan Overlay penampang resistivitas dan chargebilitas. Dari hasil analisa terdapat zona resistivitas yang tinggi ( > 632.64 Ωm ), dan zona chargebilitas mineral kasiterit ( 3 msec – 12 msec ) pada meter ke 150 – 400 dan 510 – 640 , dengan elevasi 0 m sampai -120m. Zona ini ditandai dengan garis hitam berarsir yang diidentifikasi sebagai zona mineralisasi kasiterit pada tipe stockwork dimana mineral timah dalam bentuk urat jejaringan pada batuan granit.
45 IV.2.2. Lintasan 2
Lintasan 2 membentang dari arah barat ke timur sejauh 830 m. Hasil inversi pada lintasan ini berupa penampang 2D seperti pada Gambar 4.4.
Gambar 4.4 a). Hasil inversi resistivitas, b). Hasil inversi chargebilitas Gambar 4.4 menunjukkan dominasi nilai resistivitas tinggi dan nilai chargebilitaspun demikian, dimana didominasi nilai chargebilitas ditandai dengan garis hitam tebal pada Gambar 4.4, yang diindikasikan sebagai batuan pembawa timah. Zona lemah di tandai dengan kotak hitam dengan garis putus-putus terlihat pada gambar diatas, keberadaan zona lemah pada lintasan ini berada pada meter ke 370 – 460 dengan kedalaman sampai 120 meter dari permukaan. Fase pengendapan yang terjadi pada lintasan ini serupa dengan lintasan sebelumnya yang diidentifikasikan sebagai sebab dari letak yang masih berada pada kemenerusan struktur geologinya.
46 Gambar 4.5 Overlay Lintasan 2
Gambar 4.5 menunjukkan Overlay penampang resistivitas dan chargebilitas. Dari hasil analisa terdapat zona resistivitas yang tinggi ( > 632.64 Ωm ), dan zona chargebilitas mineral kasiterit ( 3 msec – 12 msec ) pada meter 0 – 450 dan 450 – 780, dengan elevasi 30 m sampai – 50 m dan 30 sampai – 60 m. Berdasarkan hasil analisis, pada lintasan ini tipe mineralisasi yang terjadi adalah stockwork, dimana mineral pembawa timah berada pada granit dengan asosiasi mineral kasiterit.
47 IV.2.3. Lintasan 3
Lintasan 3 membentang dari arah barat ke timur sejauh 664 m. Hasil inversi pada lintasan ini berupa penampang 2D seperti pada Gambar 4.6.
Gambar 4.6 a). Hasil inversi resistivitas, b). Hasil inversi chargebilitas Gambar 4.6 menunjukkan penampang 2D dengan distribusi nilai resistivitas dan chargebilitas yang bervariasi dari rendah hinggah tinggi. Pada lintasan ini didapatkan zona lemah di tandai dengan kotak hitam dengan garis hitam putus-putus yang memiliki nilai resistivitas rendah, yang diapit oleh nilai resistivitas tinggi serta nilai Chargebilitasdari rendah sampai tinggi. Zona lemah tersebut berada meter ke 300 – 370. kedalaman yang hampir sama yaitu sekitar 120 meter dari permukaan tanah yang dianalisis sebagai zona pembentukan timah pada fase hipotermal – mesotermal.
48 Gambar 4.7 Overlay Lintasan 3
Gambar 4.7 menunjukkan Overlay penampang resistivitas dan chargebilitas. Dari hasil analisa data geologi dan penampang 2D hasil inversi terdapat zona resistivitas yang tinggi ( > 50.4 Ωm ), dan zona chargebilitas mineral kasiterit ( 3 msec – 12 msec ) pada meter ke 180 – 320 dengan elevasi 30 m sampai -100 m yang diidentivikasikan sebagai zona mineralisasi dengan tipe stockwork. Zona ini ditandai dengan garis hitam berarsir yang diidentifikasi sebagai zona mineralisasi kasiterit dengan komposisi batuan granit tipe S sebagai batuan pembawa timah.
49 IV.2.4. Lintasan 4
Lintasan 4 membentang dari arah barat ke timur sejauh 664 m. Hasil inversi pada lintasan ini berupa penampang 2D seperti pada Gambar 4.8.
Gambar 4.8 a). Hasil inversi resistivitas, b). Hasil inversi chargebilitas Pada penampang 2D hasil inversi dapat diidentifikasi struktur geologi bawah permukaan berdasarkan variasi nilai resistivitas sedangkan variasi nilai chargebilitas dapat dijadikan acuan dalam penentuan ditribusi minral. Gambar 4.8 menunjukkan variasi nilai resistivitas antara 0 Ωm - 140320 Ωm dan nilai chargebilitas yang berkisar antara 0 msec – 98.8 msec. Lintasan ini didominasi oleh nilai resistivitas tinggi ( > 632.64 Ωm ) yang ditandai dengan garis hitam tebal pada Gambar 4.8 a, yang diindikasikan sebagai batuan pembawa timah. Sementara untuk nilai chargebilitas juga dibagi menjadi tiga bagian yaitu rendah ( < 3 msec ), sedang ( 3 msec – 12 msec ) yang diindikasikan sebagai keberadaan mineral kasiterit,
50 ditandai dengan garis hitam tebal pada Gambar 4.8 b, dan tinggi ( > 12 msec ). Dari hasil analisis nilai resistivitas dan nilai chargebilitas dapat diinterpretasikan bahwa zona lemah yang ditandai dengan kotak hitam dengan garis hitam putus-putus pada Gambar 4.8 yang diindikasikan sebagai intrusi batuan yang menjadi tempat terjadinya proses mineralisasi pada lintasan ini. Zona lemah ini berada pada meter ke 300 – 380 dengan kedalaman 0 sampai 120 meter dari permukaan tanah.
Gambar 4.9 Overlay lintasan 4
Gambar 4.9 menunjukkan Overlay penampang resistivitas dan chargebilitas. Dari hasil analisa zona mineralisasi kasiterit terdapat pada daerah dengan distribusi nilai resistivitas tinggi ( > 632.64 Ωm ), dan zona chargebilitas mineral kasiterit ( 3 msec – 12 msec ) dengan keterdapatan yang bervariasi sepanjang lintasan, hal ini diperkirakan terjadi akibat ketidakmerataan pengendapan pada saat proses mineralisasi. Zona ini ditandai dengan garis hitam berarsir yang tersebar pada daerah yang diidentifikasi sebagai zona lemah tempat terakumulasinya mineral kasiterit pada saat proses mineralisasi dengan komposisi batuan granit tipe S sebagai batuan pembawa timah.
51 IV.2.5. Lintasan 5
Lintasan 5 membentang dari arah barat ke timur sejauh 830 m. Hasil inversi pada lintasan ini berupa penampang 2D seperti pada Gambar 4.10.
Gambar 4.10 a). Hasil inversi resistivitas, b). Hasil inversi chargebilitas Gambar 4.10 menunjukkan variasi resistivitas yang sama dengan lintasan sebelumnya, dimana didominasi oleh nilai resistivitas tinggi. Sedangkan untuk sebaran nilai chargebilitas didominasi oleh nilai chargebilitas sedang ( 3 msec – 12 msec ), yang diindikasikan sebagai keberadaan mineral kasiterit, ditandai dengan garis hitam tebal pada Gambar 4.10 b. Pada lintasan ini didapatkan zona lemah yang memiliki nilai resistivitas rendah yang diapit oleh nilai resistivitas tinggi serta nilai Chargebilitas dari rendah sampai tingii. Zona lemah tersebut di tandai dengan kotak hitam dengan garis hitam putus-putus yang berada pada titik meter ke 360 – 450
52 dengan kedalaman hingga 160 meter dari permukaan tanah. Zona lemah ini diduga merupakan daerah intrusi batuan tempat terakumalisanya mineral pembawa timah.
Gambar 4.11 Overlay lintasan 5
Gambar 4.11 menunjukkan Overlay penampang resistivitas dan chargebilitas. Tipe mineralisasi yang dapat diidentifikasikan pada lintasan ini berdasarkan sebaran nilai chargebilitas pada penampang overlay di atas ialah tipe graisen, dimana merupakan endapan hasil proses pneumatolitik. Zona ini ditandai dengan garis hitam berarsir dengan komposisi batuan granit tipe S sebagai batuan pembawa timah yang tersebar di sekitar zona intrusi batuan yang sebelumnya diperkirakan sebagai tempat terakumulasinya mineral pembawah timah dalam hal ini mineral kasiterit.
53 IV.2.6. Lintasan 6
Lintasan 6 membentang dari arah barat ke timur sejauh 830 m. Hasil inversi pada lintasan ini berupa penampang 2D seperti pada Gambar 4.12.
Gambar 4.12 a). Hasil inversi resistivitas, b). Hasil inversi chargebilitas Gambar 4.12 menunjukkan resistivitas antara 0 Ωm - 348051 Ωm dan nilai chargebilitas yang berkisar antara 0 msec – 78.01 msec. Nilai resistivitas dibagi tiga bagian yaitu rendah ( < 1.24 Ωm ), sedang ( 1.24 Ωm – 632.64 Ωm ), dan tinggi ( >
632.64 Ωm ) ditandai dengan garis hitam tebal pada Gambar 4.12 a, yang diindikasikan sebagai batuan pembawa timah. Sementara untuk nilai chargebilitas juga dibagi menjadi tiga bagian yaitu rendah ( < 3 msec ), sedang ( 3 msec – 12 msec ) yang diindikasikan sebagai keberadaan mineral kasiterit, ditandai dengan garis hitam tebal pada Gambar 4.12 b, dan tinggi ( > 12 msec ). Dari hasil analisis nilai resistivitas dan nilai chargebilitas dapat diinterpretasikan bahwa terdapat zona
54 lemah yang ditandai dengan kotak hitam dengan garis hitam putus-putus pada Gambar 4.12 yang diindikasikan sebagai intrusi batuan yang menjadi tempat terakumulasinya mineral pembawah timah dalam hal ini mineral kasiterit. Pada lintasan ini zona lemah tersebut berada pada meter ke 380 – 480 dengan kedalaman 0 sampai 150 meter dari permukaan tanah.
Gambar 4.13 Overlay Lintasan 6
Gambar 4.13 menunjukkan Overlay penampang resistivitas dan chargebilitas. Dari hasil analisa terdapat zona resistivitas yang tinggi ( > 632.64 Ωm ) yang diidentifikasi sebagai batuan pembawa timah, dan zona chargebilitas mineral kasiterit ( 3 msec – 12 msec ) pada meter 290 – 550 yang memiliki volume bervariasi, dengan elevasi 20 m sampai -130 m. Zona ini ditandai dengan garis hitam berarsir yang diidentifikasi sebagai zona mineralisasi kasiterit yang berasosiasi dengan batuan granit sebagai batuan pembawa.
55 IV.2.5. Lintasan 7
Lintasan 7 membentang dari arah barat daya ke timur laut sejauh 830 m. Hasil inversi pada lintasan ini berupa penampang 2D seperti pada Gambar 4.14.
Gambar 4.14 a). Hasil inversi resistivitas, b). Hasil inversi chargebilitas Gambar 4.12 menunjukkan variasi nilai resistitas dengan dominasi niali resistivitas tinggi ( > 632.64 Ωm ) dan nilai chargebilitas yang berkisar antara 0 msec – 94.64 msec, ditandai dengan garis hitam tebal pada Gambar 4.14, yang diindikasikan sebagai batuan pembawa timah serta mineral kasiterit. Dari hasil analisis nilai resistivitas dan nilai chargebilitas dapat diinterpretasikan bahwa terdapat zona lemah yang di tandai dengan kotak hitam dengan garis hitam putus-putus pada Gambar 4.14 yang di indikasikan sebagai intrusi batuan yang menjadi tempat terakumulasinya mineral kasiterit. Pada lintasan ini zona lemah berada pada meter ke 360 - 480 dengan kedalaman 0 sampai 150 meter dari permukaan tanah. Model
56 bentangan dari lintasan ini berbeda dengan enam lintasan sebelumnya, dimana lintasan ini dibentangkan menyilang dari Lintasan 5 hingga 1 dengan tujuan membantu proses interpolasi kondisi bawah permukaan daerah sekitar yang tidak dilalui lintasan pengukuran.
Gambar 4.15 Overlay lintasan 7
Gambar 4.15 menunjukkan Overlay penampang resistivitas dan chargebilitas. Dari hasil analisa terdapat zona resistivitas yang tinggi ( > 632.64 Ωm ) yang diidentifikasi sebagai batuan pembawa timah, dan zona chargebilitas mineral kasiterit ( 3 msec – 12 msec ) pada meter 230 – 420 dan 450 – 600 , dengan elevasi 0 m sampai -130 m. Penampang overlay di atas menggambarkan zona mineralisasi kasiterit yang terdistribusi dengan volume yang bervariasi di sepanjang lintasan pengukuran. Zona ini ditandai dengan garis hitam berarsir yang diidentifikasi sebagai zona mineralisasi kasiterit dengan komposisi batuan granit tipe S sebagai batuan pembawa timah.
57 VI.3. Pseudosection 3D Overlay Zona Mineralisasi Kasiterit
Gambar 4.16 Overlay nilai resistivitas dan chargebilitas prospek zona mineralisasi kasiterit pada semua lintasan
Gambar 4.16 menunjukkan overlay sebaran nilai resistivitas dan chargebilitas yang diidentifikasi sebagai zona mineralisasi kasiterit. Nilai resistivitas batuan pembawa mineral timah ditandai dengan nilai resistivitas tinggi ( > 632.64 Ωm) yang ditandai dengan warna merah dan nilai chargebilitas mineral kasiterit sebagai mineral utama yang terkandung dalam bijih timah dengan rentang 3 msec – 12 msec, yang ditandai dengan warna abu-abu pada penampang pseudosection 3D di atas.
58 Gambar 4.17 Penampang hasil irisan nilai resistivitas dan nilai chargebilitas Model 3D pada Gambar 4.17 merupakan hasil identifikasi sebaran zona mineralisasi kasiterit daerah pemali untuk semua lintasan yang dibuat dari hasil irisan nilai resistivitas batuan pembawa mineral kasiterit dan nilai chargebilitas mineral kasiterit, berdasarkan hasil analisis overlay penampang 2D dan 3D dapat diidentifikasikan bahwa zona mineralisasi kasiterit tersebar di keseluruhan lintasan pengukuran dengan kedalaman serta volume yang bervariasi pada setiap lintasan yang ditandai dengan garis hitam putus-putus.
59 BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian ini maka dapat disimpulkan beberapa hal yaitu :
1. Dari penampang 2D data resistivitas dan chargebilitas seluruh lintasan, diidentifikasikan terdapat nilai resistivitas tinggi ( > 632.64 Ωm ) dan chargebilitas sedang ( 3 msec – 12 msec ) yang menunjukkan keterdapatan zona mineralisasi kasiterit.
2. Berdasarkan pemodelan 3D data resistivitas dan chargebilitas terlihat bahwa penyebaran zona mineralisasi kasiterit berada pada semua lintasan yang merupakan kontak batuan granit dengan mineral pembawah timah yaitu mineral kasiterit.
V.2 Saran
1. Perlu adanya studi lebih lanjut untuk mengetahui kemenerusan anomali yang sudah didapatkan, seperti melakukan studi CSMAT dan Geomagnet yang memilki penetrasi yang lebih dalam dibandingkan metode yang dipakai dalam penelitian ini.
2. Perlu adanya tambahan data bor untuk memastikan keterdapatan mineral kasiterit yang sudah diindikasikan pada penelitian ini
DAFTAR PUSTAKA
Budiharyanto, K., Moe'tamar, Mulyana, T., 2015. Penyelidikan REE Dan Mineral Ikutan Di Daerah Usulan WPR Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pusat Sumber Daya Geologi. Bandung
Burhamzah, 2016, Studi bawah permukaan menggunakan metode geolistrik induksi polarisasi (IP) pada zona mineralisasi timah primer di daerah tempilang bangka belitung. Program Studi Geofisika Universitas Hasanuddin.
Makassar.
Darmawansyah, A., 2017, Penentuan potensi sumberdaya hipotetik timah primer di daerah air inas kepulauan bangka belitung. Program Studi Geofisika Universitas Hasanuddin. Makassar.
Hendrajaya, L. dan Arif, I., 1998. Geolistrik Tahanan Jenis. Monograf metoda Eksplorasi. Laboratorium Fisika Bumi. ITB. Bandung
Hosking, 1989, Geology of Tin Deposits, Buletin Persatuan Geologi Malaysia, p.
20, 59, 289, 293.
Kearey, P., Michael, B., Ian, H., 2002. An Introduction to Geophysical Exploration.
Blackwell Science Ltd. London.
Loke, M. H., 1999. Electrical Imaging Surveys For Environmental And Enginering Studies. Malaysia. Penang.
Lowrie, W., 2007. Fundamentals of Geophysics. USA: Cambridge University Press, p 293-320.
Mangga, S. A., dan Djamal, B., 1994, Peta Geologi Lembar Bangka Utara, Pusat Penelitian Pengembangan Geologi, Bandung
Mithchel, A. M. G., 1979. Rift Subduction and Collision Tin Belts, Geol. Soc.
Malaysia. Bull.vol.11
Osberger, R., 1965. On the geology of the indonesian part of the great S.E. Asia tin girdle. Billiton Tin Mining Co., Indonesia.
Peta Administrasi Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung. 2010. Badan Pusat Statistik. Indonesia.
Pratama, A., 2016, Identifikasi potensi sumber daya timah primer dengan menggunakan induksi polarisasi dan resistivitas daerah bukit puyuh kec.tempilang kab. bangka barat, bangka belitung. Program Studi Geofisika Universitas Hasanuddin. Makassar.
Rahmah, S., 2009. Pencitraan Dua Dimensi Data Resistivity dan Induced Polarization untuk Mendelineasi Deposit Emas Sistem Epithermal di Daerah “X”. Geofisika Departemen Fisika Universitas Indonesia Depok.
Reynolds, J. M., 2005. An Introduction to Applied and Environmental Geophysics.
USA: JhonWiley & Sons, p 156-160.
Santoso, J., 2002. Pengantar Teknik Geofisika. Bandung: ITB, p 99-110.
Sudarwono., 2002, Ganesa Endapan Timah, Pusat Penelitian Pengembangan Geologi, Bandung,
Sukandarrumidi, 2007 Geologi Mineral Logam. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta
Suyanto, I. 2013. Analisis Data Resistivitas Dipole-dipole Untuk Identifikasi dan Perhitungan Sumber daya Asbuton Di Daerah Kabungka, Pasarwajo, Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Program Studi Geofisika FMIPA UGM. Yogyakarta.
Telford, M. W., Gerdart, L. P., Sheriff, R. E., Keys, D. A. 1990. Applied Geophysics. USA: Cambrige University Press.
Lampiran
Lampiran 1
Penampang Nilai Rho
Penampang Nilai Chargebility
PENAMPANG NILAI RHO
PENAMPANG NILAI CHARGEBILITY
Lampiran 2
Hasil Pengukuran
Lintasan 1
Lintasan 2
Lintasan 3
Lintasan 4
Lintasan 5
Lintasan 6
Lintasan 7