• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.7 Bagan Alur Penelitian

23

BAB IV

HASIL DAN LUARAN YANG DICAPAI

4.1 Efektivitas Sanksi Pidana Pemenjaraan di Bali (Studi Kasus di Lembaga Pemasyarakatan Wilayah Bali

Mengukur tingkat keefektifitasan tentu tidaklah mudah. Diperlukan tolak ukur atau batasan untuk mengetahui telah efektif atau tidak. Sama halnya dalam menentukan efektifitas sanksi pidana pemenjaraan yang dalam tulisan ini akan ditinjau dari beberapa segi yakni ditinjau dari pencapaian tujuan sanksi pidana penjara atau pemenjaraan yang dilaksanakan melalui sistem pemasyarakatan (hasil dari pidana pemenjaraan). Efektifitas sanksi pidana penjara juga dapat ditinjau dari tujuan pemidanaan yang menurut Barda Nawawi Arief dapat dikaji dari dua aspek yakni aspek perlindungan masyarakat dan aspek perbaikan pelaku.

4.1.1 Pelaksanaan Sanksi Pidana Penjara Dalam Sistem Pemasyarakatan

Sanksi pidana penjara sebagai salah satu jenis sanksi pidana perampasan

kemerdekaan dilaksanakan di dalam penjara yang saat ini disebut dengan Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS) melalui sistem pemasyarakatan. Setelah diundangkannya undang-undang pemasyarakatan sistem pemenjaraan dirubah menjadi sistem pemasyarakatan, sehingga pemenjaraan disebut dengan pemasyarakatan. Pasal 1 angka 1 undang-undang pemasyarakatan menyatakan bahwa, “Pemasyarakatan adalah kegiatan untuk melakukan pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan berdasarkan sistem, kelembagaan, dan cara pembinaan yang merupakan bagian akhir dari sistem pemidanaan dalam tata peradilan pidana”. Berdasarkan hal ini dapat diketahui bahwa terpidana yang telah dijatuhi pidana penjara akan diberikan pembinaan melalui sistem pemasyarakatan.

Sistem Pemasyarakatan adalah suatu tatanan mengenai arah dan batas serta cara pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan berdasarkan Pancasila yang dilaksanakan secara terpadu antara pembina, yang dibina, dan masyarakat untuk meningkatkan kualitas Warga Binaan Pemasyarakatan agar menyadari kesalahan, memperbaiki diri,

24

dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan masyarakat, dapat aktif berperan dalam pembangunan, dan dapat hidup secara wajar sebagai warga yang baik dan bertanggung jawab (Pasal 1 angka 2 undang-undang pemasyarakatan). Hal ini menunjukkan bahwa sistem pemasyarakatan memiliki peran penting untuk mencapai tujuan dari pemasyarakatan.

Lembaga Pemasyarakatan atau disingkat dengan Lapas sebagai tempat pemasyarakatan atau tempat narapidana menjalani hukumannya juga memiliki fungsi. Sidik Sunaryo menyatakan bahwa Lembaga Pemasyarakatan memiliki fungsi yakni untuk:

a. menjalankan putusan pengadilan yang berupa pemenjaraan b. memastikan terlindunginya hak-hak narapidana

c. menjaga kondisi Lembaga Pemasyarakatan agar memadai d. melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki narapidana, dan e. mempersiapkan narapidana kembali ke masyarakat.46

Lembaga Pemasyarakatan melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki narapidana (Warga Binaan Pemasyarakatan) atau tindakan-tindakan hukum dengan harapan agar narapidana (Warga Binaan Pemasyarakatan) setelah menjalani hukumannya di Lembaga Pemasyarakatan atau setelah keluar dari Lembaga Pemasyarakatan menjadi baik, dapat diterima di masyarakat, tidak ditolak oleh masyarakat, memiliki keterampilan hidup yang dibutuhkan narapidana, keseimbangan mental dan fisik pulih seperti orang yang bukan penjahat dengan dihormati segala hak kewajibannya sesuai dengan harkat dan martabat manusia bebas.47

Sebagaimana yang telah diuraikan dalam Penjelasan umum atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan (selanjutnya disebut dengan undang-undang Pemasyarakatan) telah ditegaskan bahwa sejak tahun 1964 sistem pembinaan Narapidana dan Anak Pidana telah mengalami perubahan yang mendasar, yakni dari sistem kepenjaraan menjadi sistem

46Sidik Sunaryo, 2004, Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana, cetakan kedua, Penerbitan Universitas Muhammadiyah Malang, Malang, h. 220.

25

pemasyarakatan. Sama halnya dengan institusi yang melaksanakannya, yang semula disebut dengan rumah penjara dan rumah pendidikan negara berubah menjadi Lembaga Pemasyarakatan berdasarkan Surat Instruksi Kepala Direktorat Pemasyarakatan Nomor J.H.G.8/506 tanggal 17 Juni 1964. Perubahan istilah ini tentu membawa perubahan secara falsafah dan pelaksanaan dari sanksi pidana penjara di Indonesia.

Sebagaimana yang telah diamanatkan dalam penjelasan umum atas undang-undang Pemasyarakatan yakni sejak diundang-undangkannya undang-undang-undang-undang Pemasyarakatan dan sampai saat ini telah berkembang pemikiran-pemikiran dari tujuan dan fungsi pemidanaan yang lebih manusiawi atau lebih humanis. Fungsi pemidanaan tidak lagi sekedar penjeraan tetapi juga merupakan suatu usaha rehabilitasi dan reintegrasi sosial antara narapidana atau Warga Binaan Pemasyarakatan. Hal ini yang hingga saat ini dikenal dan dinamakan sistem pemasyarakatan yang pelaksanaannya berdasarkan undang-undang Pemasyarakatan.

Berbeda dengan pemahaman sebelumnya undang-undang Pemasyarakatan sebagaimana dituangkan dalam Penjelasan umum atas undang-undang Pemasyarakatan memandang bahwa kini narapidana bukan hanya sebagai obyek melainkan juga sebagai subyek yang tidak berbeda dari manusia lainnya yang dapat melakukan kesalahan atau kekhilafan yang dapat dikenakan pidana, sehingga tidak harus diberantas. Bukan narapidana yang harus diberantas, yang diberantas adalah faktor-faktor penyebab narapidana melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hukum, kesusilaan, agama, atau kewajiban-kewajiban sosial lain yang dapat dikenakan pidana. Terkait dengan konsep pemidanaan, Undang-undang Pemasyarakatan memandang bahwa pemidanaan adalah upaya untuk menyadarkan narapidana agar menyesali perbuatannya, dan mengembalikan narapidana menjadi warga masyarakat yang baik, taat kepada hukum, menjunjung tinggi nilai-nilai moral, sosial dan keagamaan, sehingga kehidupan masyarakat yang aman, tertib, dan damai dapat tercapai. Hal inilah yang menjadi sasaran dari Lembaga Pemasyarakatan. Lembaga Pemasyarakatan telah menjadi ujung tombak pelaksanaan asas pengayoman untuk mencapai tujuannya melalui pendidikan, rehabilitasi, dan reintegrasi.

26

Achmad Fatony, dkk menyatakan bahwa apabila dikaji dari berbagai pandangan dapat diketahui bahwa tugas utama dari sistem pemasyarakatan yakni perlakuan tahanan dan narapidana (Warga Binaan Pemasyarakatan) serta klien dalam hal kegiatan pembinaan, perawatan, dan pembimbingan sesuai denan HAM (Hak Asasi Manusia). Sistem pemasyarakatan harus dilaksanakan secara manusiawi sebagai bentuk penghilangan penderitaan dan pemberian kesenangan serta pemanfaatan. Sistem pemasyarakatan dalam hal ini harus memberikan pemenuhan dan perlindungan terhadap HAM (Hak Asasi Manusia). Hal ini dilakukan untuk melindungi proses penghukuman yang tidak manusiawi oleh aparat penegak hukum dan sebagai upaya memperkecil terjadinya prisonisasi atau proses belajar kejahatan dan stigmatisasi masyarakat. 48 Hal ini menunjukkan bahwa tugas Lembaga Pemasyarakatan tidak hanya sebagai pelaksanaan penghukuman bagi terpidana, namun yang utama adalah perlakukan pembinaan, perawatan, dan pembimbingan yang bermanfaat dan dilakukan dengan memperhatikan (Hak Asasi Manusia).

Ketika narapidana menjalankan hukumannya di Lembaga Pemasyarakatan, narapidana atau yang disebut dengan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) akan dilakukan pembinaan agar tidak melakukan kejahatan lagi dan untuk melindungi masyarakat agar keamanan dan ketentraman tercapai. Pembinaan inilah yang menjadi kegiatan utama dalam sistem pemasyarakatan. Pemenjaraan atau yang kini disebut dengan pemasyarakatan sebagai bentuk hukuman yang dijatuhkan kepada narapidana yang telah melakukan pelanggaran terhadap hukum pidana tentu memiliki tujuan. Keberhasilan dalam mencapai tujuan inilah yang menjadi cerminan keefektifan sanksi pidana penjara.

Tujuan dari sanksi pidana penjara atau pemasyarakatan telah tercantum dalam undang-undang pemasyarakatan. Dasar menimbang huruf b undang-undang pemasyarakatan menyatakan bahwa sistem pemasyarakatan bertujuan agar Warga Binaan Pemasyarakatan menyadari kesalahannya, memperbaiki diri, dan tidak

48Achmad Fatony, dkk, Efektivitas Pelaksanaan Hak Warga Binaan Perempuan Dalam Mewujudkan Tujuan Pemasyarakatan: Studi Kasus Rumah Tahanan Klas II A Jakarta Timur, “Jurnal

Hukum dan Pembangunan”, Vol l45.No3.54 (2015), DOI: http://dx.doi.org/10.21143/jhp.vol45.no3.54, h.

27

mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan masyarakat, dapat aktif berperan dalam pembangunan, dan dapat hidup secara wajar sebagai warga yang baik dan bertanggung jawab. Hal ini juga telah ditegaskan dalam pengertian sistem pemasyarakatan bahwa sistem pemasyarakatan dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas Warga Binaan Pemasyarakatan agar menyadari kesalahan, memperbaiki diri, dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan masyarakat, dapat aktif berperan dalam pembangunan, dan dapat hidup secara wajar sebagai warga yang baik dan bertanggung jawab (Pasal 1 angka 2 undang-undang pemasyarakatan).

Pasal 2 undang-undang pemasyarakatan juga menegaskan bahwa sistem pemasyarakatan diselenggarakan dalam rangka membentuk Warga Binaan Pemasyarakatan agar menjadi manusia seutuhnya, menyadari kesalahan, memperbaiki diri, dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan masyarakat, dapat aktif berperan dalam pembangunan, dan dapat hidup secara wajar sebagai warga yang baik dan bertanggung jawab. Terkait dengan fungsi pemasyarakatan telah ditegaskan pula dalam Pasal 3 undang-undang pemasyarakatan yang menyatakan bahwa, “Sistem pemasyarakatan berfungsi menyiapkan Warga Binaan Pemasyarakatan agar dapat berintegrasi secara sehat dengan masyarakat, sehingga dapat berperan kembali sebagai anggota masyarakat yang bebas dan bertanggung jawab”.

Terkait dengan tujuan sistem pemasyarakatan ditegaskan pula dalam penjelasan umum undang-undang pemasyarakatan bahwa sistem pemasyarakatan bertujuan untuk mengembalikan narapidana (Warga Binaan Pemasyarakatan) sebagai warga yang baik. Tidak hanya itu, sistem pemasyarakatan juga bertujuan untuk melindungi masyarakat terhadap kemungkinan adanya recidive atau diulanginya tindak pidana oleh Warga Binaan Pemasyarakatan, serta merupakan penerapan dan bagian yang tak terpisahkan dari nilai-nilai Pancasila.

Sebagaimana yang telah diuraikan dalam dasar menimbang, Pasal 1 angka 2, Pasal 2 dan 3 undang-undang pemasyarakatan, serta penjelasan umum undang-undang pemasyarakatan dapat diketahui bahwa tujuan dari pemasyarakatan sebagai bentuk pelaksanan sanksi pidana penjara (pemenjaraan) yakni untuk meningkatkan kualitas

28

Warga Binaan Pemasyarakatan agar narapidana (Warga Binaan Pemasyarakatan) menyadari kesalahannya, memperbaiki diri, tidak mengulangi tindak pidana (recidive), sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan masyarakat, dapat aktif berperan dalam pembangunan, dan dapat hidup secara wajar sebagai warga yang baik dan bertanggung jawab, membentuk Warga Binaan Pemasyarakatan agar menjadi manusia seutuhnya, mengembalikan narapidana (Warga Binaan Pemasyarakatan) sebagai warga yang baik, melindungi masyarakat terhadap kemungkinan adanya recidive atau diulanginya tindak pidana oleh Warga Binaan Pemasyarakatan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan residivis Bapak Limrayani Ahmad seorang sarjana agama (Narapidana/Warga Binaan Pemasyarakatan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Kerobokan), yang dilakukan pada hari Selasa, tanggal 19 Juli 2019 penulis melakukan kajian terkait hasil pemasyarakatan yang telah dilalui sebelumnya. Bapak Limrayani Ahmad adalah residivis yang telah mengulangi kejahatannya sebanyak 4 (empat) kali dalam kasus yang sama di Bali yakni kasus pencurian. Sebelumnya residivis ini juga telah menjalani pidana penjara di luar Bali yakni dengan kasus pencurian dan kekerasan. Dalam wawancara, Bapak Limrayani Ahmad menyatakan dan menyadari kesalahannya dan berniat untuk memperbaiki diri dan tidak mengulangi kejahatannya lagi. Sama dengan niatnya sebelumnya namun ia tetap mengulangi kejahatannya karena faktor ekonomi, ia tidak bisa bekerja sesuai dengan minat dan bakatnya dan ketika ada kesempatan melakukan kejahatan ia melakukan pencurian. Ia juga menyatakan bahwa ia ketagihan melakukan pencurian karena baginya dengan kejahatan itu ia mudah mendapatkan uang. Hal ini menunjukkan bahwa pemasyarakatan yang telah dilakukan oleh Lembaga Pemasyarakatan terhadap Bapak Limrayani Ahmad tidak berhasil, karena ia tetap mengulangi kejahatannya lagi. Ketika ia mengulangi kejahatannya lagi maka kesadaran bahwa ia menyadari kesalahannya dan niatnya untuk memperbaiki diri tidak berhasil ia lakukan.

Hasil wawancara dengan Bapak Limrayani Ahmad terkait dengan pertanyaan apakah ia dapat diterima kembali oleh lingkungan masyarakat ia menyatakan bahwa di Bali masih banyak orang yang mengucilkan, membenci orang yang telah masuk penjara. Ia mengatakan bahwa sebelumnya kasusnya telah tersiar berita di televisi oleh

29

karena itu banyak yang tahu bahwa ia adalah mantan narapidana, sehingga ia memutuskan untuk membatasi diri berkomunikasi atau berinteraksi dengan masyarakat. Fakta bahwa ia kembali mengulangi kejahatan karena tidak memiliki pekerjaan menunjukkan pula bahwa ia belum aktif berperan dalam pembangunan dan belum dapat hidup secara wajar sebagai warga yang baik dan bertanggung jawab, serta belum menjadi manusia seutuhnya, belum menjadi warga yang baik. Terkait dengan perlindungan masyarakat, munculnya residivis juga menunjukkan bahwa masyarakat belum terlindungi karena dalam kasus ini Bapak Limrayani Ahmad kembali melakukan kejahatan lagi.

Sebagai seorang residivis yang berulangkali masuk ke dalam Lembaga Pemasyarakatan di beberapa wilayah di Indonesia Bapak Limrayani Ahmad menyatakan bahwa Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Kerobokan memiliki sarana dan fasilitas yang sangat baik dibandingkan dengan Lembaga Pemasyarakatan lainnya yang pernah ia huni. Berbagai kegiatan pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Kerobokan menurutnya juga sudah sangat baik, ia juga mengikuti berbagai kegiatan pembinaan salah satunya kegiatan pembinaan pelatihan keterampilan agar setelah narapidana keluar dari Lapas memiliki keterampilan dan keahlian untuk bekerja seperti, bertukang, berkebun, memasak, dll. Bapak Limrayani Ahmad juga mengikuti kegiatan ini namun ia tetap melakukan kejahatan kembali dengan alasan ekonomi, tidak ada pekerjaan, dan menurutnya kegiatan pelatihan keterampilan yang ia lakukan tidak sama dengan minat bakatnya di bidang photografi. Hal ini menunjukkan bahwa Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Kerobokan memiliki berbagai kegiatan pembinaan yang baik meski terbatas dan sarana serta prasarana yang lebih baik jika dibandingkan dengan Lembaga Pemasyarakatan lainnya. Terbatasnya jenis pelatihan ini adalah suatu kendala meskipun kembali lagi ke pribadi narapina masing-masing.

Residivis lainnya yang penulis wawancarai adalah Bapak I Wayan Artawa yang menjalani hukumannya di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Kerobokan karena kasus narkoba. Berdasarkan hasil wawancara dengan residivis Bapak I Wayan Artawa (Narapidana/Warga Binaan Pemasyarakatan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Kerobokan), yang dilakukan pada hari Selasa, tanggal 19 Juli 2019, Bapak I Wayan

30

Artawa menyatakan bahwa ia menyadari kesalahannya, dan berniat untuk memperbaiki diri. Pengalamannya terkena kasus ini ia bertekad untuk tidak mengulangi kesalahannya dan akan berhati-hati, tidak ceroboh lagi agar tidak terkena kasus narkotika lagi. Ia menyatakan bahwa Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Kerobokan memiliki sarana dan fasilitas, pelayanan, pembinaan, perlakuan yang sangat baik apabila dibandingkan dengan Lembaga pemasyarakatan lainnya di Bali.

Bapak I Wayan Artawa menyatakan bahwa sebaik apapun Lembaga Pemasyarakatan tetap saja ia tidak ingin berada di tempat seperti ini. Faktanya ia setelah menjalani hukuman di Lapas Singaraja ia kembali lagi berada di Lembaga Pemasyarakatan yakni di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Kerobokan karena kasus narkotika. Hal ini menunjukkan bahwa Bapak I Wayan Artawa tidak berhasil karena ia harus berada di Lapas lagi untuk menjalani hukuman karena telah melakukan pelanggaran hukum pidana. Bapak I Wayan Artawa meskipun telah menyadari kesalahannya, bertekad memperbaiki diri agar tidak mengulangi tindak pidana (recidive), namun nyatanya ia masih melakukan pelanggaran hukum pidana dan harus kembali menjalani hukumannya di Lembaga Pemasyarakatan.

Salah satu tujuan dari penjatuhan sanksi pidana penjara adalah memberikan efek jera sehingga dapat menekan angka kejahatan, sehingga perlu dikaji terkait jumlah tindak pidana yang terjadi di Bali sebagaimana diuraikan dalam tabel di bawah ini:

Tabel. 1

Jumlah Tindak Pidana di Polda Bali

No. Tahun Jumlah

1 2015 3741

2 2016 3651

3 2017 3257

4 2018 3188

5 2019 (bulan Juni) 1551

31

Tabel 1 menunjukkan bahwa meskipun terjadi penurunan angka kejahatan di Bali dari tahun 2015-2019 namun kejahatan masih terjadi dalam jumlah yang besar, yakni berjumlah rata-rata 3ribuan pertahun.

Munculnya residivis menunjukkan bahwa pemasyarakatan belum berhasil menekan kejahatan. Berdasarkan tabel 1 juga dapat diketahui bahwa angka kejahatan di Bali masih tinggi dari tahun 2015-2019, yakni berkisar 3000an kejahatan pertahun. Perlu dikaji kembali terkait pelaksanaan pemasyarakatan yang berupa berbagai hak-hak dan kewajiban narapidana (Warga Binaan Pemasyarakatan), kegiatan pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan, dan kendala yang dihadapi oleh Lembaga Pemasyarakatan, namun sebelumnya perlu diketahui kondisi di Lembaga Pemasyarakan. Kondisi ini khususnya terkait dengan jumlah penghuni di Lembaga Pemasyarakatan (khususnya terkait dengan over kapasitas di Lapas), jumlah petugas di Lembaga Pemasyarakatan dan jumlah anggaran Lembaga Pemasyarakatan untuk operasional pemasyarakatan narapidana (Warga Binaan Pemasyarakatan), yang akan diuraikan berikut ini:

32

a. Jumlah Penghuni di Lembaga Pemasyarakatan

Tabel 2

Jumlah Tahanan dan Narapidana di Kantor Wilayah Provinsi Bali Pada Tahun 2015

Ket :*Teks merah : jumlah penghuni melebihi kapasitas. *

Sumber : Sistem Database Pemasyarakatan.49

49http://smslap.ditjenpas.go.id/, loc.cit.

TDL : Tahanan Dewasa Laki-Laki TDP : Tahanan Dewasa Perempuan TAL : Tahanan Anak Laki-Laki TAP : Tahanan Anak Perempuan

NDL : Napi Dewasa Laki-Laki NDP : Napi Dewasa Perempuan NAL : Anak Laki-Laki

33

Berdasarkan tabel 2 diatas menunjukkan bahwa, pada tahun 2015 terjadi over kapasitas di Lapas Kelas II A Kerobokan, Lapas Kelas II B Karangasem, Lapas Kelas II B Singaraja, dan Lapas Kelas II B Tabanan. Lapas Kelas II A Kerobokan menampung 669 napi dan 309 tahanan, sehingga jumlah tahanan dan napi pada tahun 2015 berjumlah 978 orang. Kapasitas Lapas Kelas II A Kerobokan adalah sebesar 323 orang, sehingga terjadi over kapasitas sebanyak 655 orang atau sebesar 203%. Lapas Kelas II B Karangasem telah menampung sebanyak 169 napi dan 26 tahanan, sehingga jumlah tahanan dan napi pada tahun 2015 berjumlah 195 orang. Kapasitas Lapas Kelas II B Karangasem adalah 149 orang, sehingga terjadi over kapasitas sebanyak 46 orang atau sebesar 31%.

Pada Lapas Kelas II B Singaraja pada tahun 2015 telah menampung sebanyak 68 orang tahanan dan 62 orang napi, sehingga jumlah tahanan dan napi adalah berjumlah 130 orang. Kapasitas Kelas II B Singaraja adalah 78 orang, sehingga terjadi over kapasitas sebanyak 52 orang atau sebesar 67%. Lapas Kelas II B Tabanan menampung 26 orang tahanan dan 90 orang napi, sehingga jumlah tahanan dan napi pada tahun 2015 adalah berjumlah 116 orang. Kapasitas Lapas Kelas II B Tabanan adalah sebesar 47 orang, sehingga terjadi over kapasitas sebanyak 69 orang atau sebesar 147%.

Lapas Narkotika Kelas II A Bangli dan Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Karangasem tidak mengalami over kapasitas di tahun 2015. Lapas Perempuan Kelas II A Denpasar pada tahun 2015 ini tidak ada data yang terlapor dalam sistem database pemasyarakatan.

34

Tabel 3

Jumlah Tahanan dan Narapidana di Kantor Wilayah Provinsi Bali Pada Tahun 2016

Ket :*Teks merah : jumlah penghuni melebihi kapasitas. *

Sumber : Sistem Database Pemasyarakatan.50

50http://smslap.ditjenpas.go.id/, loc.cit.

TDL : Tahanan Dewasa Laki-Laki TDP : Tahanan Dewasa Perempuan

TAL : Tahanan Anak Laki-Laki TAP : Tahanan Anak Perempuan

NDL : Napi Dewasa Laki-Laki NDP : Napi Dewasa Perempuan NAL : Anak Laki-Laki

35

Berdasarkan tabel 3 diatas menunjukkan bahwa, pada tahun 2016 terjadi over kapasitas di Lapas Kelas II A Kerobokan, Lapas Kelas II B Karangasem, Lapas Kelas II B Singaraja, dan Lapas Kelas II B Tabanan. Lapas Kelas II A Kerobokan menampung 810 napi dan 498 tahanan, sehingga jumlah tahanan dan napi pada tahun 2016 berjumlah 1308 orang. Kapasitas Lapas Kelas II A Kerobokan adalah sebesar 323 orang, sehingga terjadi over kapasitas sebanyak 985 orang atau sebesar 305%. Lapas Kelas II B Karangasem telah menampung sebanyak 144 napi dan 27 tahanan, sehingga jumlah tahanan dan napi pada tahun 2016 berjumlah 171 orang. Kapasitas Lapas Kelas II B Karangasem adalah 149 orang, sehingga terjadi over kapasitas sebanyak 22 orang atau sebesar 15%.

Pada Lapas Kelas II B Singaraja pada tahun 2016 telah menampung sebanyak 75 orang tahanan dan 74 orang napi, sehingga jumlah tahanan dan napi adalah berjumlah 149 orang. Kapasitas Kelas II B Singaraja adalah 78 orang, sehingga terjadi over kapasitas sebanyak 71orang atau sebesar 91%. Lapas Kelas II B Tabanan menampung 35 orang tahanan dan 83 orang napi, sehingga jumlah tahanan dan napi pada tahun 2016 adalah berjumlah 118 orang. Kapasitas Lapas Kelas II B Tabanan adalah sebesar 47 orang, sehingga terjadi over kapasitas sebanyak 71 orang atau sebesar 151%.

Lapas Narkotika Kelas II A Bangli dan Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Karangasem tidak mengalami over kapasitas di tahun 2016. Lapas Perempuan Kelas II A Denpasar pada tahun 2016 ini tidak ada data yang terlapor dalam sistem database pemasyarakatan.

36

Tabel 4

Jumlah Tahanan dan Narapidana di Kantor Wilayah Provinsi Bali Pada Tahun 2017

Ket :

*Teks merah : jumlah penghuni melebihi kapasitas. *

Sumber : Sistem Database Pemasyarakatan.51

51http://smslap.ditjenpas.go.id/, loc.cit.

TDL : Tahanan Dewasa Laki-Laki TDP : Tahanan Dewasa Perempuan TAL : Tahanan Anak Laki-Laki TAP : Tahanan Anak Perempuan

NDL : Napi Dewasa Laki-Laki NDP : Napi Dewasa Perempuan NAL : Anak Laki-Laki

37

Berdasarkan tabel 4 diatas menunjukkan bahwa, pada tahun 2017 terjadi over kapasitas di Lapas Kelas II A Kerobokan, Lapas Kelas II B Karangasem, Lapas Kelas II B Singaraja, Lapas Kelas II B Tabanan, dan Lapas Perempuan Kelas II A Denpasar. Lapas Kelas II A Kerobokan menampung 825 napi dan 653 tahanan, sehingga jumlah tahanan dan napi pada tahun 2017 berjumlah 1478 orang. Kapasitas Lapas Kelas II A Kerobokan adalah sebesar 323 orang, sehingga terjadi over kapasitas sebanyak 1155 orang atau sebesar 358%. Lapas Kelas II B Karangasem telah menampung sebanyak 179 napi dan 33 tahanan, sehingga jumlah tahanan dan napi pada tahun 2017 berjumlah 212 orang. Kapasitas Lapas Kelas II B Karangasem adalah 149 orang, sehingga terjadi over kapasitas sebanyak 63 orang atau sebesar 42%.

Pada Lapas Kelas II B Singaraja pada tahun 2017 telah menampung sebanyak 80 orang tahanan dan 115 orang napi, sehingga jumlah tahanan dan napi adalah berjumlah 195 orang. Kapasitas Lapas Kelas II B Singaraja adalah 78 orang, sehingga terjadi over kapasitas sebanyak 117 orang atau sebesar 150%. Lapas Kelas II B Tabanan pada tahun 2017 menampung 37 orang tahanan dan 97 orang napi, sehingga jumlah tahanan dan napi pada tahun 2017 adalah berjumlah 134 orang. Kapasitas Lapas Kelas II B Tabanan adalah sebesar 47 orang, sehingga terjadi over kapasitas sebanyak 87 orang atau sebesar 185%. Pada Lapas Perempuan Kelas II A Denpasar pada tahun 2017 telah menampung sebanyak 58 orang tahanan dan 142 orang napi, sehingga jumlah tahanan dan napi adalah berjumlah 200 orang. Kapasitas Lapas

Dokumen terkait