BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
C. Saran
3. Bagi komunitas ilmuwan psikologi
Penelitian ini dapat bermanfaat bagi ilmuwan psikologi dan praktisi psikologi karena dapat menyumbangkan ilmu pengetahuan baru mengenai gejala depresi dan perilaku pemujaan selebriti.
17 BAB II
LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI
A. Dinamika Psikologis Remaja Penggemar Idola Korea
Untuk mendapatkan gambaran yang utuh mengenai remaja penggemar idola Korea, pada subbab ini akan membahas remaja penggemar idola Korea dari dua perspektif yaitu perspektif perkembangan dan perspektif sosial.
1. Perspektif Perkembangan
Pertama, akan dilihat dari perkembangan remaja. Remaja sendiri merupakan peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa yang diikuti dengan perubahan fisik, kognitif, dan sosial (Papalia, Olds, & Feldman, 2007a). Berdasarkan usia, individu dapat dikatakan remaja apabila sudah memasuki usia 10 tahun hingga 22 tahun (Santrock, 2007). Dalam rentang usia tersebut, remaja dibagi lagi menjadi remaja awal usia 10 tahun hingga 16 tahun dan remaja akhir usia 17 tahun hingga 22 tahun. Selain itu, guna mendukung tercapainya persiapan menuju kematangan atau memasuki masa dewasa, remaja memiliki tugas perkembangan yang harus dicapai.
Havighurst (1953) sendiri mengajukan sepuluh tugas perkembangan yaitu 1) diharapkan dapat membentuk atau membina hubungan baru dengan lingkungan seperti teman sebaya baik laki-laki maupun perempuan, 2) mencapai peran gender dalam lingkungan masyarakat, 3) mencapai kemandirian emosional, 4) menerima keadaan fisiknya, 5) mencapai
kemandirian dalam ekonomi, 6) mempersiapkan diri untuk memasuki dunia pekerjaan, 7) mempersiapkan diri untuk pernikahan dan kehidupan keluarga baru, 8) membangun keterampilan dan konsep-konsep intelektual yang perlu sebagai warga negara, 9) mencapai tanggung jawab sosial, 10) memperoleh nila-nilai dan sistem etika sebagai penuntun dalam berperilaku.
Selain tugas-tugas perkembangan, salah satu tokoh yaitu Erikson mengunggapkan pada tahap perkembangan masa remaja erat kaitannya dengan masa pencarian jati diri atau pencarian identitas diri. Pada masa ini seorang individu akan mengalami krisis yaitu identitas dan kebingungan identitas. Di mana remaja akan dihadapkan dengan pertanyaan siapa mereka, mereka itu sebenarnya apa, dan ke mana mereka akan menjalankkan hidupnya. Erikson juga mengatakan bahwa orang tua merupakan model yang berpengaruh terhadap proses pencariaan identitas (Santrock, 2007). Remaja yang berhasil mengatasi konflik identitasnya akan tumbuh dengan penghayatan mengenai diri yang baik dan dapat diterima. Sedangkan apabila seorang remaja kurang mampu untuk mengatasi krisis identitasnya maka dirinya akan menderita dan mengalami kebingungan identitas. Di mana mereka akan menarik diri, mengisolasikan diri dari lingkungan dan kehilangan identitasnya sendiri dalam kerumunan tersebut (Santrock, 2007).
Hal ini dapat membuat seseorang menjadi kesepian hingga depresi karena dirinya mengganggap bahwa tidak ada yang bisa menerima dirinya. Ketika seorang remaja mengalami kebingungan identitas secara tidak langsung dirinya akan mencari model untuk ditiru. Terutama bagi para remaja yang
tidak mendapatkan perhatian dari keluarganya, akan rentan untuk mencari model untuk diteladani. Seperti yang diungkapkan Erikson bahwa remaja akan terus berganti-ganti sampai menemukan yang sesuai dalam hal mencari model atau tokoh yang akan dicontoh. Di sini media sangat berperan dalam memberikan selebriti yang cocok dijadikan panutan dalam identitas yang diinginkan oleh remaja. Saat seorang remaja sering menonton televisi atau memainkan media sosial, terkadang mereka akan menyukai salah satu artis atau idola dan hal tersebut kemungkinan bisa menimbulkan interaksi parasosial.
2. Perspektif sosial
Remaja penggemar idola Korea dapat juga dijelaskan dengan perspektif sosial, yakni melalui teori parasosial. Menurut Hoerton dan Wohl (1956, dalam Cohen, 1999) parasosial merupakan sebuah hubungan satu arah antara penggemar dan selebriti yang diidolakan di mana individu dapat merasa memiliki hubungan dengan selebriti yang diidolakan, tetapi hubungan tersebut hanya bersifat satu arah, non dialektikal, dan tidak dapat berkembang yang terbentuk dari media massa.
Hubungan parasosial tidak seperti identifikasi, di mana dalam hubungan parasosial, individu memilih tokoh favoritnya dikarenakan dapat dijadikan teman, pasangan romantis, maupunn sosok lainnya. Hal ini juga memungkinkan individu merasa memiliki hubungan yang dekat dengan karakter atau figur media sehingga individu cenderung menanggapi figur
media atau karaker sebagai sesosok teman, pasangan romantis, maupun sosok apapun sesuai dengan imajinasi individu tersebut (Cohen, 1999). Selain itu, hubungan parasosial akan terus berlanjut bahkan setelah individu selesai menonton. Hal ini didukung dengan pernyataan bahwa hubungan parasosial dapat meningkat karena adanya interaksi tidak langsung seperti melalui telepon dan media sosial (e.g. instagram, twitter, vlive, youtube) (Giles, 2009). Parasosial sendiri merupakan sebuah istilah yang berasal dari ilmu komunikasi namun secara perlahan menarik perhatian para peneliti psikologi sosial (Giles, 2009) di mana penonton disebut sebagai salah satu pengguna media (media user), sedangkan selebriti atau karakter dalam sebuah tayangan disebut sebagai figur media (media figure) (Giles, 2009, p.279).
B. Pemujaan Selebriti
Pada bagian ini, peneliti akan menjabarkan hal-hal yang berkaitan dengan variabel pemujaan selebriti, dimulai dari definisi pemujaan selebriti, aspek-aspek yang terdapat pada pemujaan selebriti, dan faktor-faktor yang mempengaruhi pemujaan selebriti. Bagian terakhir akan membahas mengenai proses yang terdapat dalam pemujaan selebriti dan dampak yang ditimbulkan.
1. Definisi Pemujaan selebriti
Pemujaan selebriti merupakan perilaku obsesi dan adiktif yang dilakukan penggemar untuk selalu terlibat dalam setiap kehidupan selebriti yang diidolakan sehingga terkadang terbawa ke dalam kehidupan sehari-harinya
(Maltby, Giles, Barber, & McCutcheon, 2005). Kebiasaan melihat, mendengar, membaca dan mencari informasi mengenai idola yang disukai yang dapat menimbulkan sifat empati, identifikasi, obsesi, dan asosiasi yang dapat menimbulkan konformitas, hal tersebut dapat mempengaruhi munculnya pemujaan selebriti (Maltby,2003; dalam Widjaja & Ali, 2015).
2. Aspek-aspek dalam pemujaan selebriti
Dalam pemujaan selebriti terdapat tiga aspek yaitu entertainment social, intense personal, dan borderline pathological (John Maltby, 2007; John Maltby, Day, McCutcheon, Martin, & Cayanus, 2004; McCutcheon, Lange, & Houran, 2002; Sheridan et al., 2007).
a. Entertainment Social
Dalam entertainment social, mencerminkan para penggemar tertarik terhadap selebriti favoritnya dikarenakan dapat menghibur dan menarik perhatian kita. Selain itu, pada aspek ini juga penggemar mulai tertarik untuk mencari informasi yang berhubungan dengan idola mereka serta para penggemar juga senang untuk membicarakan idolanya dengan orang lain terutama dengan orang yang memiliki idola sama.
b. Intense Personal
Pada aspek ini mencerminkan perasaan yang lebih intim dan kompulsif terhadap idola kita dan memperlihatkan rasa obsesif
penggemar terhadap segala hal yang berhubungan dengan idolanya. selain itu, pada aspek ini penggemar memiliki empati yang tinggi terhadap idola mereka tersebut. Misalnya, seorang penggemar merasa sedih apabia idola mereka tidak mendapatkan penghargaan atau penggemar ikut merasa bahagia bila idola mereka mendapatkan suatu hal yang baik.
c. Borderline Pathological
Pada aspek ini memperlihatkan perilaku yang tidak terkendali dan cenderung memiliki fantasi yang irasional dan tidak terkontrol tentang idolanya. Hal ini ditambah dengan gambaram kesediaan mereka untuk melakukan apa saja demi idola mereka walaupun hal tersebut melanggar hukum sekalipun. Selain itu, penggemar juga memiliki anggapan bahwa idola mereka akan memberikan bantuan bila mereka berada dalam kesulitan.
3. Faktor yang mempengaruhi pemujaan selebriti
Berikut ini akan dipaparkan faktor yang mempengaruhi pemujaan selebriti seperti usia, keterampilan sosial, dan jenis kelamin (McCutcheon et al., 2002)
a. Usia
Pada masa remaja pemujaan selebriti mencapai puncaknya dan menurun perlahan seiring dengan perekembangan usia yaitu pada masa dewasa. Puncak pengultusan terhadap selebriti berada di antara usia 11
tahun hingga 17 tahun dan akan semakin berkurang setelah melewati usia tersebut (Raviv, Bar-Tal, Raviv, & Ben-Horin, 1996).
b. Keterampilan sosial
Individu dengan keterampilan berkomunikasi atau berinteraksi di sosial buruk mengganggap pemujaan selebriti sebagai pengganti atas tidak terjadinya hubungan sosial yang nyata. Individu dengan keterampilan sosial yang buruk melihat bahwa pemujaan selebriti merupakan pengisi kekosongan yang terjadi dalam hubungan nyata. Orang yang memiliki keterampilan sosial yang buruk akan mengidolakan seseorang selebriti untuk mendapatkan penerimaan dari teman sebayanya dan untuk menghindari komentar negatif dari lingkungannya.
c. Jenis kelamin
Laki-laki dan perempuan dapat menyukai idola dengan konteks yang berbeda (Raviv et al., 1996). Para penggemar laki-laki lebih cenderung mengidolakan dalam bidang olahraga seperti pemain bola, petinju atau jenis olahraga lainnya. Selain itu Frith (dalam Raviv et al., 1996) mengungkapkan bahwa laki-laki juga akan cenderung menyukai penyanyi yang memiliki ekspresi agresif. Hal ini merupakan hasil dari respon laki-laki terhadap stereotype peran yang dimiliki olehnya (Brown dalam Raviv et al., 1996).
Sedangkan perempuan cenderung lebih menyukai selebriti yang berasal dari dunia hiburan, misalnya penyayi, pemain film dan lain
sebagainya. Selain itu, perempuan memiliki ketertarikan dengan seorang selebriti di laki-laki, namun perempuan cenderung tidak melakukan pemujaan selebriti secara intens daripada laki-laki.
4. Proses dan dampak
Pada dasarnya, seorang individu mulai mengenal tokoh idolanya dimulai sejak masa pencarian identitas dalam perkembangan remaja. Seperti pada penelitian Ashe dan McCutcheon (2001) menyebutkan bahwa ketertarikan seseorang terhadap selebriti berlangsung pada tahap masa perkembangan remaja dan berakhir pada masa dewasa. Santrock (2003) mengungkapkan bahwa dalam masa pencarian identitasnya, selain mengidentifikasi peran, seorang remaja juga mencoba-coba atau bereksperimen dengan peran-peran yang berbeda.
Seorang remaja akan cenderung memilih sosok selebriti daripada tokoh lain untuk dijadikan contoh dalam bereksperimen dengan peran-peran yang berbeda tersebut. Hal ini dapat dipegaruhi oleh pesatnya kemajuan teknologi dan munculnya berbagai media sosial seperti Instagram, Youtube, Facebook, Twitter dan lain sebagainya yang membuat remaja jaman sekarang lebih dekat dengan sosok selebriti. Pernyataan ini didukung oleh Greene dan Adams-Price yang menyatakan bahwa anak-anak dan remaja seringkali mengagumi selebriti seperti tokoh olah raga atau penyanyi pop (McCutcheon et al., 2002).
Mulai dari seringnya seorang individu terpapar informasi tentang sang selebriti akan menumbuhkan rasa kagum pada diri individu terhadap seorang
selebriti. Ketika seorang individu mulai mencari semua informasi mengenai idola yang digemarinya demi memenuhi kebutuhannya akan suatu hiburan atau membicarakan idola yang digemarinya dengan orang lain maka individu tersebut telah masuk pada tahap entertainment-social. McCutcheon (2001) menyatakan bahwa seorang individu yang memiliki kekaguman terhadap satu selebriti tertentu akan senantiasa menggunakan berbagai macam cara mencari informasi yang lebih banyak dan mendalam mengenai selebriti yang diidolakan guna meningkatkan pengetahuan mereka tentang sang idola dan meningkatkan rasa kedekatan mereka dengan sang idola ( dalam Sheridan, North, Maltby, & Gillett, 2007).
Seiring berjalannya waktu, rasa kagum tersebut berkembang menjadi perasaan jatuh hati dan perasaan simpati terhadap sang idola. Kebutuhan pencarian informasi bukan lagi semata-mata hanya untuk memenuhi kebutuhan akan hiburan akan tetapi sudah menjadi kebutuhan untuk mengetahui segala informasi mengenai sang idola, mulai dari berita terbaru sampai mencari tahu hal-hal pribadi dari kehidupan sang idola. Ketika rasa simpati terhadap sang idola berubah menjadi perasaan empati yang tinggi, di mana individu tersebut akan merasakan apa yang sedang dialami sang idola dan merasa memiliki ikatan khusus dengan sang idola berarti individu tersebut telah sampai pada tahap intense-personal dalam tahapan Pemujaan selebriti (Maltby et al., 2004).
McCutcheon (dalam Sheridan et al., 2007) mengungkapkan bahwa seorang individu yang memuja selebriti kemungkinan besar dapat terlibat
dalam melakukan perilaku ekstrem yang mencangkup aspek obsesif kompulsif bahkan delusional. Misalnya, pemuja selebriti percaya bahwa mereka terlibat dalam hubungan timbal balik dengan selebriti yang mereka idolakan. Ketika seorang pemuja selebriti sudah mengalami hal-hal yang telah dipaparkan maka mereka telah sampai pada tahap terparah dari pemujaan selebriti yaitu borderline-pathological.
Melalui model Absorption-addiction yang dijelaskan oleh McCutheon (2002) menunjukkan bahwa orang mengejar hubungan parsosial karena deficit dalam kehidupan nyata mereka. Hubungan dengan selebriti dipandang sebagai upaya untuk mengatasi atau melarikan diri dari kenyataan. Orang-orang yang mengikuti selebriti utuk mendapatkan rasa identitas pribadi dan mencapai rasa kepuasan.
Menurut McCutheon, individu yang tingkat pemujaan selebriti cenderung tinggi memiliki struktur identitas yang lemah dan memiliki keterampilan sosial yang lemah juga (Maltby, Day, McCutcheon, et al., 2004). Selain itu dalam surveinya, Cheung dan Yue menemukan bahwa seorang penggemar yang memuja selebriti akan membuat kinerja kerja maupun belajar rendah, memiliki self-esteem rendah, dan kesulitan dalam menemukan identitas diri (Sheridan et al., 2007). Berbeda dengan seseorang yang mengidolakan anggota keluarga, guru atau orang lain selain selebriti, individu tersebut akan memiliki tingkat self-esteem dan pertasi akademik yang lebih tinggi (Sheridan et al., 2007).
Ada beberapa dampak dari pemujaan selebriti terkait kesehatan mental. Sebagai contoh dari penelitian yang di lakukan Maltby et al (2001) menggenai pemujaan selebriti dan kesehatan mental pada dewasa di Amerika Serikat yang menunjukkan bahwa aspek intense personalberhubungan dengan tingkat depresi dan kecemasan yang tinggi. Demikian pula, penelitian Maltby, Day, Mccutcheon, et al ( 2004) ditemukan bahwa aspek intense personal tidak hanya berhubungan dengan tingkat depresi dan kecemasan yang tinggi, namun juga berkaitan dengan tingkat stress, pengaruh negatif, dan laporan penyakit yang lain.
Ashe, Maltby and McCutcheon (2005) mengatakan bahwa pemujaan selebriti memiliki kecenderungan untuk menjadi narsistik. Mereka mengadakan studi kepada 219 orang dari Inggris dan 124 orang dari Amerika. Hasilnya menunjukkan bahwa diantara subjek Inggris dan Amerika menunjukkan hasil yang sama yaitu terdapat hubungan positif antara pemujaan selebriti pada aspek intense personal dan borderline pathological dengan kecenderungan menjadi narsistik. Hubungan antara kedua hal tersebut terjadi karena seorang penggemar akan merasa bahwa dirinya memiliki kemampuan yang luar biasa dan jika bertemu dengan sang idola, idolanya akan menyadari dan mengakui kelebihan yang mereka miliki.
Di sisi lain, pemujaan selebriti juga memiliki dampak positif pada tingakat entertainment social, di mana seseorang akan cenderung lebih optimis, bahagia, dan memiliki kepribadian yang periang. Ada sebuah studi di Kanada yang dilakukan oleh Boon dan Lomore (Sheridan et al., 2007) melakukan
survei kepada 75 mahasiswa. Hasil dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa lebih dari setengah mahasiswa tersebut percaya bahwa idola mereka telah mempengaruhi sikap dan keyakinan mereka, atau telah mengilhami mereka untuk mengejar aktivitas tertentu. Namun para peneliti ini tidak dapat menyimpulkan apakah pengaruh ini sebagian besar bersifat positif atau negatif.
C. Pemujaan selebriti Pada Remaja Penggemar Idola Korea
Seperti yang sudah di jelaskan di atas, pemujaan selebriti merupakan perilaku yang adiktif di mana para penggemar selalu terlibat dalam setiap kehidupam selebriti yang diidolakan sehingga tak jarang terbawa kedalam kehidupan sehari-hari (Maltby, Day, McCutcheon, et al., 2004). Hal ini dapat dilihat dari penelitian yang menyebutkan bahwa selebriti dapat memberi pengaruh terhadap cara pandang atau cara berpikir seorang penggemar.
Menurut Cheung dan Yue (2000), idola adalah orang yang memiliki talenta, prestasi, status, atau penampilan fisiknya dikenali dan dihargai oleh penggemar (Liu, 2013). Semua orang yang hidup di dunia ini pasti memiliki setidaknya satu tokoh idola yang dikaguminya. Seorang individu mulai mengenal tokoh idolanya dimulai sejak masa pencarian identitas dalam perkembangan remaja. Perasaan ingin mengidolakan suatu tokoh pada dasarnya tidak mengenal usia dan tokohnya pun beragam mulai dari mengidolakan anggota keluarga, kakak kelas di sekolah dan senior di kampus atau di tempat kerja, politikus, tokoh agama, para pahlawan,
selebriti atau bahkan tokoh-tokoh nasional dan internasional bisa menjadi idola seorang individu. Akan tetapi, Greene & Adams-Price mengungkapkan bahwa remaja biasanya memilih seorang selebriti seperti tokoh olahraga atau penyanyi pop untuk dijadikan idola atau role model daripada tokoh lainnya (McCutcheon et al., 2002).
Mengidolakan atau menjadikan satu orang atau lebih selebriti sebagai role model adalah suatu hal yang wajar pada masa perkembangan remaja (Gunarsa & Gunarsa, 1981). Hal ini menjadi tidak wajar ketika fenomena pemujaan selebriti ini menjadikan seorang individu menjadi terobsesi pada sang idola dan memunculkan hubungan satu arah dengan sang idola (Maltby et al., 2003). Dalam kegiatan pengidolaan, penggemar idola Korea tampak melakukan perilaku yang termasuk ke dalam kategori pemujaan selebriti. Seorang pemuja selebriti cenderung bersedia melakukan apapun untuk mempertahankan rasa keintiman dengan sang selebriti idola.
Di Korea terdapat satu fenomena yang dapat menggambarkan perilaku seorang individu yang memuja selebriti. Fenomena ini disebut dengan fenomena sasaengfan. Sesaengfan adalah penggemar yang tertarik secara berlebihan dengan kehidupan pribadi sang selebriti idola (Williams, Xiang, & Ho, 2016). Intensitas sasaengfan melebihi kesetiaan, penggemar seperti ini sering dilaporkan menguntit idola Korea, mengganggu kehidupan pribadi sang idola atau mempengaruhi sang idola secara fisik atau emosional. Agar dikenali oleh sang idola, penggemar ini berani mengikuti sang idola kemanapun idolanya pergi seperti saat idolanya pergi untuk rekaman televisi, pertunjukan di outdoor, pergi ke bandara, tempat latihan,
salon rambut atau bahkan mereka berani mengikuti sang idola ke rumah idola mereka. Hal tersebut dilakukan mereka demi menjadi sedekat mungkin dan sesering mungkin dengan sang idola.
Beberapa dari mereka dilaporkan menampar idola Korea hanya untuk menarik perhatian sang bintang, dengan sengaja menyebabkan kecelakaan mobil dengan tujuan untuk mendapat kesempatan berinteraksi dengan sang idola atau yang paling parah dengan sengaja memberikan pakaian dalam mereka atau bahkan darah menstruasi kepada sang idola dengan harapan agar dapat diingat oleh sang idola. Fenomena sasaeng ini awalnya muncul memang hanya di Korea. Akan tetapi dengan adanya gelombang Hallyu, penggemar idola Korea garis keras di negara-negara lain mulai mengadopsi perilaku yang mirip dengan perilaku seorang sasaeng (Williams et al., 2016). Perilaku seperti ini muncul akibat adanya obsesi penggemar terhadap idolanya (Maltby et al., 2003).
D. Depresi
Pada subbab ini, peneliti akan memaparkan definisi depresi, simtom depresi, dan proses serta dampak dari depresi.
1. Definisi Depresi
Depresi terjadi ketika stress yang dialami seseorang tidak kunjung reda atau membaik, dan depresi yang dialami berhubungan dengan kejadian-kejadian dramatis yang baru saja terjadi atau menimpa seseorang. Depresi merupakan sebuah kondisi emosional yang sering kali ditandai oleh kesedihan
yang sangat mendalam, perasaan tidak berarti, perasaan bersalah, menarik diri dari lingkungan sekitar, sulit tidur, kehilangan nafsu makan, dan tidak berminat melakukan aktivitas yang biasanya disukai (Lubis, 2009).
2. Simtom Depresi
Individu yang mengalami depresi, pada umumnya menunjukkan adanya simptom-simptom khas yang mereka alami walaupun pada setiap orang yang satu dengan yang lain akan muncul simptom yang berbeda-beda. Beck (2009) mengkategorikan simptom depresi mejadi empat yaitu
a. Simtom Emosional
Simtom emosional merupakan perubahan perasaan atau tingkah laku akibat dari keadaan emosi. Seseorang yang depresi ringan pada simtom emosi menunjukkan perasaan sedih, perasaan tidak menyenangkan, merasa kecewa pada diri sendiri, individu juga mengeluh hilangnya rasa kesenagan dari kehidupan. Selain itu, adanya penurunan antusiasme dalam suatu kegiatan, serta ada kecenderungan yang meningkat untuk menangis, dan hilangnya rasa humor (Beck & Alford, 2009).
Di sisi lain, seseorang yang depresi berat cenderung menyatakan bahwa mereka merasa putus asa dan menyedihkan. Perasaan tersebut bisa berlanjut ke titik di mana individu membenci dirinya sendiri. Seorang individu yang berada pada depresi berat sudah tidak merasakan kenikmatan dari kegiatan yang dulunya menyenangkan dan
bahkan merasa tidak menyukai kegiatan tersebut lagi. Mereka pun mengeluh bahwa tidak ada lagi yang bisa memberikan mereka kepuasan dan membuat mereka menjadi bersikap apatis terhadap lingkungan. Selain itu, individu yang mencapai tahap berat, cenderung meneteskan air mata. Bahkan ketika mereka ingin menangis, mereka sudah tidak dapat lagi mengeluarkan air matanya (Beck & Alford, 2009).
b. Simptom Kognitif
Dalam simptom kognitif ini, Beck menyebutkan manifestasi kognitifnya antara lain penilaian diri sendiri yang rendah, harapan-harapan yang negatif, menyalahkan serta mengkritik diri sendiri, tidak dapat membuat keputusan, serta distorsi body image. Lebih lanjut Beck menjelaskan manifestasi kognitif dari rendah ke berat.
Seseorang yang depresi ringan pada simtom kognitif menunjukkan reaksi berlebihan terhadap kesalahan atau kesulitan mereka dan cenderung menganggap hal tersebut sebagai ketidakmampuan atau cacat. Mereka juga cenderung membandingkan diri mereka dengan orang lain. Individu yang berada pada depresi ringan cenderung pesimis terhadap suatu hal, cenderung menyalahkan dan mengkritik diri sendiri saat gagal dalam mencapai suatu standar (Beck & Alford, 2009).
Individu yang berada pada depresi berat menilai dirinya tidak berharga, tidak layak dan gagal total sebagai individu. Mereka beranggapan bahwa mereka adalah beban bagi anggota keluarga dan berpikir akan lebih baik tanpa mereka. Bahkan yang lebih ekstrim mereka memiliki anggapan bahwa mereka bertanggung jawab atas semua penderitaan di dunia. Individu dengan deprei berat umumnya percaya bahwa mereka tidak mampu membuat keputusan dan memiliki keraguan tentang semua yang mereka lakukan dan katakan. Selain itu, individu memiliki anggapan bahwa mereka terlihat jelek dan menjijikan (Beck & Alford, 2009).
c. Simtom Motivasional
Pada simtom motivasional, individu yang memiliki depresi ringan cenderung tidak lagi memiliki keinginan untuk melakukan hal-hal spesifik tertentu, terutama yang mereka anggap tidak membawa kepuasan. Mereka juga cenderung untuk menghindar atau menunda melakukan hal-hal tertentu yang di anggap tidak menarik atau