• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bagi mahasiswa dan calon mahasiswa Indonesia Timur

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

B. Saran

2. Bagi mahasiswa dan calon mahasiswa Indonesia Timur

umumnya dan mahasiswa dan calon mahasiswa Ngada pada

khususnya yang telah maupun akan melanjutkan studi.

a. Hasil penelitian menunjukkan mahasiswa Ngada menggunakan strategi akulturasi separasi dalam kehidupan akulturasinya saat ini. Dalam strategi separasi individu cenderung menghindari perjumpaan dengan etnis lain. Akibatnya, kemampuan sosial berhadapan dengan kondisi masyarakat yang multikultural cenderung tidak berkembang. Kelemahan strategi separasi ini perlu menjadi perhatian bagi

mahasiswa Indonesia Timur dan mahasiswa Ngada untuk melihat kembali bagaimana strategi akulturasi yang mereka terapkan selama hidup di Yogyakarta.

b. Bagi calon mahasiswa Indonesia Timur dan Ngada yang akan melanjutkan kuliah di tempat dengan kondisi masyarakat multikultur seperti Yogyakarta, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu bahan pembelajaran untuk menentukan sikap ketika berhadapan dengan kondisi masyarakat yang cenderung multikultur. c. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa Ngada dalam

hidup akulturasinya cenderung nyaman atau cenderung bergantung dengan teman dari komunitas etnis sendiri. Kecenderungan dependensi ini menjadi pola yang terjadi selama ini sehingga kemampuan untuk bersosialisasi atau berinteraksi dengan orang dari etnis lain kurang berkembang. Oleh karena itu, perlu dilakukannya upaya baik dari tokoh adat dan komunitas mahasiswa Ngada di Yogyakarta (KBNY) serta orang tua calon mahasiswa untuk mengantisipasi munculnya kecenderungan dependensi tersebut dengan mempersiapkan mahasiswa baru atau calon mahasiswa dengan pelatihan atau kegiatan yang memperlengkapi mereka dalam menghadapi kehidupan multikultural.

78

DAFTAR PUSTAKA

Adeney, Bernard T. (2000). Etika Sosial Lintas Budaya. Yogyakarta: Kanisius. Berry, J.W., Poortinga, Y.H., Seagall, M.H., dan Dasen, P.R. (1999). Psikologi

Lintas Budaya: Riset dan Aplikasi (Edi Suhardono, Terj.). Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama.

Bolong, Bertholomeus. (2005). Memburu Hak Mengorbankan Persaudaraan : Potret Konflik Pengklaiman Hak Atas Tanah Ulayat di Ngada. Yogyakarta: Bigraf Publishing.

Dayaksini, T. & Yuniardi, S. (2008). Psikologi Lintas Budaya (edisi revisi). Malang : UMM Press

Hidayat, Z. M. (1976). Masyarakat dan Kebudayaan Suku-suku Bangsa di Nusa Tenggara Timur. Bandunga: Tarsito

Liliweri, Alo. (2002). Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta: LKiS

Moleong, Lexy J. (2009). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Muliana, Deddy, dan Rakhmat, Jalaludin (eds.). (1998). Komunikasi Antarbudaya. Bandung: Remaja Rosdakarya

Olivas, M. & Li, C. (2006). Understanding stressors of International students in Higher Education: what college counselor and personnel need to know. Journal of Instructional Psychology 33: 217–222.

Poerwandari, E. Kristi. (1998). Pendekatan Kualitatif Dalam Penelitian Psikologi. Jakarta: Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) UI.

Poyrazli, S., & Grahame, K. M. 2006. Barriers to adjustment: needs of international students within a semi‐urban campus community. Journal of Instructional Pscyhology, 34: 28–45.

Sarwono, S.W, dan Meinarno, E. A. (2009). Psikologi Sosial. Jakarta: Salemba Humanika

Smith, Rachel & Khawaja, Nigar. (2011). A review of the acculturation experiences of international students. International Journal of Intercultural Relations, 35(6), pp. 699-713.

Sullivan. (2008). Exploring the acculturation of Taiwanese student in an Australian University : English self-confidence, wellbeing dan friendships. Griffith Working Papers in Pragmatics and Intercultural Communication 1, 2 (2008), 119‐136

Triandis, H. C. (1994). Culture and Social Behavior. Boston: Mc. Graw-Hill, Inc. Volet, S. E., & Ang, G. 1998. Culturally mixed groups on International campuses:

an opportunity for inner‐cultural learning. Higher Education Research & Development 17: 5‐23.

Ward, Colleen., & Deuba, Arzu Rana. (1999). Acculturation And Adaptation Revisited. Cross-Cultural Psychology, 30(4), 421-442.

81

Interviewer Interviewee Pembakuan Bahasa

Dulu sebelum ke Jogja, coba DN ceritakan bagaimana

DN bisa sampai di Jogja awalnya?

He eh. Ee awalnya saya sebenarnya ke sini pengennya

kuliahnya di Surabaya.

Sebenarnya ingin kuliah di Surabaya

Ohh gitu, terus kenapa kok di Surabaya?

Ee kebetulan kakak saya juga di Surabaya. Ada kakak yang

kuliah di sana terus ada keluarga juga, jadi mungkin orangtua lebih ini kan jadi ada keluarga yang perhatikan

gitu. Ketimbang kalau di Jogja kan sendiri artinya tidak

kenal siapa-siapa di sini. Jadi e tertariknya untuk tinggal di Jogja itu sebenarnya sederhana saya waktu itu. Sempat main ke Jogja antar teman ke sini. Yang dia memang niatnya

mau kuliah di Jogja, terus pas sampai di Jogja rasa bagaimana

ya, kerasan sama it home di sini jadi terasa nyaman.

Kebetulan ada kakak dan keluarga di Surabaya, maksud orang tua ada yang memperhatikan. Daripada kalau di Jogja sendiri, tidak kenal siapa-siapa. Tertarik tinggal di Jogja karena pernah mengunjungi Jogja saat mengantar teman, merasa kerasan dan nyaman.

Kerasan di sini? He em langsung kerasan di sini, sudah saya putuskan kuliah

di Jogja saja. Emm. Karena suasanya menurut saya suasananya lebih bagus buat untuk kuliah ketimbang Surabaya karena waktu itu sudah beberapa lama juga di Surabaya tapi beda suasana antara Surabaya dengan Jogja.

Heem. Kalau menurut penilaian saya, di Jogja lebih baik

buat kita untuk sekolah kuliah gitu. Emm. Ketimbang di

Surabaya makanya saya kemudian ke Jogja.

Langsung merasa kerasan dan memutuskan kuliah di Jogja. Suasana Jogja lebih baik dan lebih bagus untuk kuliah ketimbang Surabaya.

Ouww okey, terus e berarti sudah tau ya e sekilas keadaan Yogjakarta

Sebelum datang dan putuskan untuk kuliah sebenarnya belum ada ini, belum pernah kan belum pernah ke Jogja sama sekali

hanya ketika pertama kesan pertamanya itu yang bikin

Kesan pertama di Jogja membuat langsung nyaman, enak dan merasa cocok.

82

sebelum ke sini, kuliah? bagaimana ya macam langsung enak to, langsung nyaman. Cocok, jadi gitu.

Kalau kondisi budaya, kondisi social di sini? Ee sebelumnya tau tidak sebelum ke Jogja?

Kalau taunya mungkin untuk Jogja itu secara umum tentang

Jawa ya. He em artinya dari sana kita taunya mungkin untuk Jogja ini ada di Jawa jadi mungkin situasinya sama seperti yang ada dipemahaman kita tentang Jawa, orang Jawa itu halus-halus. Terus e ada yang negatif juga tentang misalnya.

,e sering tidak transparan gitu. Menurut saya yang mungkin

agak beda kalau kita dari sana. Kalau ya dari Ngada begitu, orangnya lebih blak-blakan boleh dikatakan keras juga.

Hemm. Haa lebih terbuka kalau untuk pandangan tentang

orang Jawa mungkin mungkin lebih tertutup. Lebih tertutup kemudian halus pasti, e itu saja mungkin menurut

saya yang maksudnya ya sedikit berbeda dari segi budaya jelas

beda sekali antara e apaya mungkin dari segi hidupnya adat istiadatnya kemudian kebiasaan orang-orang di sini. Haa dari banyak hal kalau misalnya mungkin bicara tentang hal sosial itu banyak hal. Mungkin dari sisi agama juga mungkin saya secara pribadi berbeda dengan kebanyakan orang yang di sini. Mayoritas Islam kan?

Jogja itu secara umum (identik) tentang Jawa, orangnya halus-halus. Terus negatifnya sering tidak transparan, berbeda dengan orang kita dari sana. Kalau orang dari Ngada itu lebih blak-blakan dan boleh dikatakan keras. Orang Ngada lebih blak-blakan, lebih terbuka

sedangkan orang Jawa mungkin lebih tertutup dan halus. Dari segi budaya, adat istiadat dan

kebiasan-kebiasaannya jelas beda sekali antara orang Ngada dan orang-orang disini. Dari sisi sosial dan agama pun berbeda dengan kebanyakan orang disini.

Jadi sudah tau sekilas tentang orang Jogja seperti itu? Iya. Okey terus e sebelum ke Jogja juga, emm yang menjadi motivasi DN keluar dari daerah terus datang ke

Motivasi saya itu sebenernya pertama saya punya cita-cita untuk ke Jawa karena kata orang, kata orang-orang yang sudah pernah ke sini bahwa Jawa itu rame terus fasilitasnya

artinya fasilitas yang mendukung kehidupan itu lebih jauh,

jauhlah dari daerah kami gitu dari sarananya kemudian

misalnya contohnya transportasi aja sudah jauh sekali maju di sini itu mungkin di sini nah itu mungkin suasanya, hiburan

Motivasi datang ke Jogja karena kata orang Jogja itu rame, fasilitasnya seperti transportasi, hiburan lebih memadai, berbeda jauh dari daerah asal. Tempat-tempat hiburan disini lebih menarik dan kualitas sekolah lebih bagus. Artinya, orang lebih berpengalaman jika keluar dari daerah sendiri.

83

Jogja? Eemm motivasinya apa?

misalnya. He em. Tempat-tempat hiburan di sini kayaknya

lebih menariklah haaa kemudian e ya sekolah juga karena bilang sekolah yang bagus itu harus artinya bisa jadi orang berpengalaman itu harus keluar dari daerah sendiri.

Terus punya motivasi lain tidak selain?

Emm motivasi setelah selesai studi setelah kuliah...

Dulu di awal ketika sebelum datang ke sini sudah punya bayangan tidak punya motivasi itu juga tidak?

E punya.

Maksudnya habis sekolah terus lulus bagaimana?

Ohh yaa e memang punya keinginan mungkin. Emm. Saya

selesaikan sekolah di Jogja ini. He em. Setelah itu mungkin langsung cari kerja di sini. Emm. Pengennya mungkin pengennya bisa jadi orang yang berhasil di sini dulu. Sebelum kembali ke daerah sendiri e.

Setelah menyelesaikan sekolah di Jogja langasung cari kerja di Jogja. Ingin menjadi orang yang berhasil di Jogja dulu sebelum kembali ke daerah sendiri.

Ohh gitu. Cari pengalaman begitu ya istilahnya?

Yaa cari pengalaman lah istilahnya hemm karena, karena

saya pikir kalau terus cepat-cepat pulang juga e tidak ada hal yang kita dapat to misalnya kita hanya sekolah lalu pulang pengalamannya hanya situasi sekolah tanpa ada pengalaman kerja menurut saya itu masih ada yang minuslah.

Merasa perlu untuk mencari pengalaman dulu, tidak cepat-cepat pulang ke daerah tanpa pengalaman kerja.

Ohh gitu, kurang lengkap gitu?

Kurang lengkap, ya. Okei, terus setelah di Jogja

biasanya dengan etnis mana

E saya secara pribadi saya berinteraksi hampir dengan semua

etnis yang ada di Jogja emm apalagi mungkin poin lebihnya

Berinteraksi dengan semua etnis yang ada di Jogja tetapi intensitasnya lebih banyak dengan orang-orang Timur.

84

saja berinteraksi di Jogja? atau lebih intensitasnya lebih besar ke orang-orang Timur

sendiri.

Orang-orang Timur terutama dengan teman-teman yang berasal dari satu daerah (Ngada). Apalagi ada

perkumpulan (organisasi) yang menyatukan subyek dan teman-teman, perkumpulan yang memperkenalkan teman-teman yang sudah di Jogja dan yang baru datang. Selain itu, berinteraksi juga dengan teman-teman dari organisasi lain dari kabupaten tetangga.

Orang Timor? Hah terutama orang-orang Timor teman-teman yang satu

daerah dari daerah Ngada dari beJawa itu pasti karena kita punya perkumpulan di sini yang istilahnya menyatukan kamilah memperkenalkan kami dengan yang sudah ada dengan ada yang baru datang. Kemudian artinya ada organisasinya kemudian dengan organisasi-organisasi lain misalnya teman-teman yang dari kabupaten tetangga. Yang di flores seperti Ende, Maumere, Manggarai juga.

Nagekeo juga, kabupaten baru ya?

Ya Nagekeo he em, e artinya itu yang intensitasnya lebih

tinggi tapi kalau bergaul dengan semua etnis dengan ambon dengan papua dengan Jawa juga pasti karena tinggal di lingkungan sini kan hampir orang-orang sekitar kita juga orang Jawa. Jadi juga berinteraksi dengan mereka.

Bergaul juga dengan etnis lain yang tinggal di lingkungan sekitar tempat tinggal seperti Ambon, Papua, Jawa.

Di mana biasanya interaksinya?

E kalau dengan teman-teman yang satu daerah hampir pada

kegiatan sehari-hari. Mungkin sering berkunjung bermain.

Kalau dengan teman-teman satu daerah hampir di setiap kegiatan sehari-hari, sering berkunjung dan bermain ke teman satu daerah.

Seperti sekarang ini ya? (Saat itu subyek sedang berkunjung ke kontrakan teman-temannya yang berasal dari Ngada)

Ha ah seperti sekarang ini bermain ditempatnya

teman-teman juga pada saat ada kegiatan-kegiatan.

Seperti sekarang ini bermain di tempatnya teman-teman juga pada saat ada kegiatan-kegiatan.

Kegiatan? Seperti makrab itu. Kegiatan seperti makrab di perkumpulan Ngada. Selain itu juga lebih sering bergaul saat bermain

sepakbola, bahkan kenal akrab dengan teman justru saat Makrab? Ha ah itu malam keakraban.

85

Dari Ngada? Dari Ngada kemudian e juga lebih sering lagi saat bermain bola. Kebetulan saya hobi bermain bola. Jadi e sering berinteraksi bahkan kenal banget orang justru saat bermain bola di lapangan bola.

bermain sepakbola.

Kalau dengan yang lain? Dengan yang lain, etnis yang lain?

Kalau yang lain di kampus. Kalau dengan teman-teman etnis lain interaksinya di kampus.

Di kampus ya? He ehh di kampus pasti kenal dengan banyak teman dari

etnis yang berbeda-beda kemudian di gereja juga. Emm..

emm di gereja karena saya Katholik jadi di gereja juga sering

ketemu banyak orang yang datang. Iya. Dari mana yang dari

macam-macam e itu saja tempat saya berinteraksi.

Kenal dengan teman dari etnis lain di kampus dan gereja. Itu saja tempat-tempat subyek berinteraksi dengan etnis lain.

Terus kemudian e kalau dengan teman-teman yang dari Ngada. Seperti apa saja bentuk interaksinya?

Kalau teman-teman dari Ngada…

Tadi sudah dijelaskan mungkin lebih dijelaskan lagi.!!

E mungkin yang lebih detail itu seperti apa ya interaksi kita

mungkin lebih pada apa ya kegiatan mungkin kegiatan yang kita rencanakan bersama.

Interaksinya lebih pada kegiatan yang kita rencanakan bersama.

E misalnya? Misalnya e contohnya misalnya seperti e makrab tadi. Emm.

Kemudian yang kedua mungkin ada kunjungan dari teman-teman yang satu daerah tapi dari tempat lain tapi dari luar Jogja dari Jakarta seperti yang baru-baru kemarin kami dapat kunjungan dari Malang. Teman-teman dari Malang.

Misalnya seperti makrab. Kemudian yang kedua seperti kunjungan dari teman-teman satu daerah diluar Jogja seperti dari Jakarta dan seperti baru-baru ini kamu dapat kunjungan dari Malang.

Tapi teman-teman yang satu daerah juga?

Yang satu ya Ngada yang Bajawa juga. Tapi kakaknya di

Malang, yang datang berkunjung di sini. Kemudian e

Ya dari Ngada, yang berkunjung dari Malang itu kakaknya teman.

86

mungkin e selain itu yang seperti kegiatan sehari-hari. Hanya

seperti ajak bermain begitu.

Pergaulan dengan teman Ngada dalam kegiatan sehari-hari itu hanya seperti mengajak bermain.

Ohh. He em. Kalau yang makrab itu biasanya acaranya apa saja?

E makrab itu e memang selama ini kegiatannya lebih apa ya

lebih untuk memperkenalkan saja yang sudah lebih dulu dengan yang baru datang.

Selama ini kegiatan makrab lebih untuk

memperkenalkan teman-teman yang datang lebih dulu dengan teman-teman yang baru datang.

Ohh begitu. Dengan mahasiswa baru ya sederhananya diperkenalkan oow ini kakak-kakak kita disini. Hemm. Kemudian kita ada

perkumpulan. Biar mereka tau kalau kita ada organisasi kemudian e hanya acaranya lebih sering dikemas dalam bentuk pesta.

Kemudian juga memperkenalkan perkumpulan kita, supaya mereka tahu bahwa kita memiliki organisasi. Hanya, acaranya lebih sering dikemas dakan bentuk pesta.

Pesta? He eh dalam bentuk pesta. Bagaimana itu kalau pesta

itu biasanya?

E pesta itu kita biasanya kita…

Seperti apa? Kita dahului dengan apa ya biasanya kita kan kebetulan di sana rata-rata seagama semua. Katholik, jadi biasanya didahului dulu dengan misa. Haaa preibadat setelah itu biasanya ada di isi dengan suksesi kepemimpinan, jadi nanti

setelah itu mungkin ada serah terima jabatan lah mungkin. Emm. Serah terima jabatan dari ketua yang lama ke ketua yang baru dan perangkat-perangkatnya kemudian e perkenalan

mahasiswa baru. Mahasiswa baru yang baru datang wajib untuk memperkenalkan diri asal kemudian sekolan dan mungkin ada tambahan-tambahan seperti kenapa pengen kuliah di Jogja. Begitu biasanya sering dipandu oleh yang

memandu acara.

Acaranya kita dahului dengan misa, setelah itu diisi dengan suksesi kepemimpinan, serah terima jabatan, baru perkenalan mahasiswa baru. Mahasiswa baru wajib memperkenalkan diri, asal sekolah, tambahan-tambahan seperti kenap ingin kuliah di Jogja dll.

87

biasa goyang-goyang. joget.

Selain itu, e maksudnya kegiatan selain goyang, pesta itu seperti apa? Terus?

Ee pestanya itu ya biasa happy music, goyang setelah itu apa

pokoknya hepi-hepi lah. He eh tidak macam mana itu saya bisa

jelaskan lebih terperinci maksudnya intinya kita mana ya, makan juga pasti.

Pestanya itu biasanya dengan music dan berjoget, pokoknya senang-senang.

He ehm, ada makanan? Ya ada makanan itu pasti, hanya pestanya begitu soalnya hanya saja kelihatan selama ini lebih banyak e orang melihat

makrab itu sebagai ajang untuk pesta. Haaa lebih ke intinya itu pesta. He eh jadi bukan itu tapi sejak dari 2008 juga di sini

sampai kemana kalau tidak salah itu tahun 2009, tahun 2009 atau 2010 itu. Kita sempat kemas yang kebetulan juga udah jadi senior juga. Sudah dapat calon untuk panitia juga, jadi kita

sempat kemas acara itu isinya itu lebih berisilah jadi kita sempat buat dengan outbond juga.

Selama ini lebih banyak yang melihat acara makrab itu sebagai ajang untuk pesta. Pernah mengemas acara yang lebih berisi, sempat menambahkan outbound juga.

Ohh ada permainannya? Hemm ada permainan-permainan gitu terus kemudian ada

juga apa kayak sosialisasi . emm. Mungkin ada juga latihan-latihan berorganisasi. He em. Itu dibarengi dengan game-game gitu.

Ada permainan-permainan yang dibarengi dengan latihan kepemimpinan dan juga sosialisasi.

Ohh gitu ya. Tapi itu sekali saja. Selama saya diJogja. Sebenarnya kalau di sini memang mempersiapkan adik-adik yang baru datang.

Sebenarnya iya , mempersiapkan.

Tapi acara seperti itu hanya sekali saja. Sebenarnya fokusnya ingin mempersiapkan adik-adik yang baru datang.

Adik-adik yang baru datang?

He eh, mempersiapkan adik-adik yang baru datang Tadi interaksinya makrab

kemudian apalagi? Ee. Kalau kayak

kumpul-E kita kalau kumpul-kumpul paling cerita. Pasti cerita

tentang pengalaman e saling sharing lah. Sharing tentang

pengalaman-pengalaman dulu ada mungkin yang bilang ooww

Kalau kumpul-kumpul biasanya saling cerita pengalaman, saling sharing.

88

kumpul di sini coba ceritakan sedikit saja!

ternyata mungkin ada yang baru kenal jadi oww ternyata kita ni sebenarnya satu daerah hanya selama ini tidak kenal gitu terus saya ini misalnya saya ni saya rumah di sini weww biasanya

kalau panggil kau anda biasanya panggil pa‟e. ouww. Wee pa‟e

rumah di sini kau wew ternyata kita dekat, haa kemudian selain

sharing-sharing cerita mungkin tempat tinggal terus e mungkin juga ini tentang tentang keluarga juga mungkin ada

yang sebenarnya, ada yang bersaudara tapi karena tidak saling kenal terus e kalau dulu-dulu kalau cerita-cerita gitu biasanya

sambilan main-main sambil-sambil ngopi gitu.

tentang keluarga.

Saat cerita dan sharing itu biasanya sambil minum kopi.

Merokok? Rokok juga rata-rata hampir dari sana perokok juga. He em

terus apalagi ya e mungkin satu yang kurang jarang bahas

tentang kuliah sih sebenarnya kalau kumpul di sini.

Sambil merokok juga, rata-rata hampir semua perokok. Jarang membahas kuliah ketika berkumpul.

Mungkin ada diskusi-diskusi?

Iya mungkin ya agak diskusi-diskusi pokoknya apa ya yang

mengarah ke itu kayaknya mungkin bahkan tidak ada sama sekali saat berkumpul.

Saat berkumpul tidak ada diskusi atau pembicaraan mengenai kuliah.

Ohh gitu ya, kayaknya pengen ya DN ya?

Emm saya sebenarnya pengen tapi. He he. Tapi gimana

situasinya sudah seperti itu kan. He eh. Karena mungkin kita

pikir juga itu teman kita ajak untuk ini nanti mungkin dia tidak

suka atau dia. He eh. Dia pikir ahh biarlah urusan yang di kampus di kampus kita kost mau santai. Oww. Sebenarnya

saya pengennya begitu maksudnya mungkin adalah kadang

biasanya kita kayak macam persiapan gitu. Persiapan-persiapan untuk acara seperti makrab biasanya kita adakan diskusi pertemuan lah jadi kita saling hanya mungkin apa intensitasnya kayaknya terlalu minim hanya ketika ada

Sebenarnya ingin membahas kuliah, berdiskusi tentang kuliah ketika berkumpul.Tapi suasananya juga seperti itu (santai) mungkin teman juga tidak suka membahas kuliah. Teman mungkin berpikir urusan kampus ya diurus di kampus, di kos ya bersantai.

Ingin saat berkumpul juga membahas misalnya tentang persiapan makrab karena biasanya ketika akan ada kegiatan baru duduk berdiskusi. Kalau kegiatan

direncanakan secara rutin akan lebih bagus. Hanya saja hal tersebut sulit dilakukan karena setiap orang memiliki

89

kegiatan baru kita duduk berdiskusi berkumpul. Emm. Sebenarnya mungkin kalau direncanakan rutin mungkin bagus, hanya saja susah kan yak an kita setiap orang kan punya-punya kegiatan masing kesibukan masing-masing jadi ya lebih banyak itu hanya sebatas rencana saja.

Dokumen terkait