Bab 6. Kesimpulan dan Saran
6.2 Saran
6.2.3 Bagi Penelitian Selanjutnya
Direkomendasikan pada peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai hubungan kebersihan diri dengan infeksi kecacingan dengan meneliti balita yang positif kecacingan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1Kebersihan Diri
2.1.1 Pengertian Kebersihan Diri
Personal Higiene berasal dari bahasa Yunani, yaitu personal yang artinya perorangan dan higiene berarti sehat. Kebersihan perorangan adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis (Tarwoto dan Wartonah, 2010).
Perawatan diri atau kebersihan diri (personal hygiene) merupakan perawatan diri sendiri yang dilakukan untuk mempertahankan kesehatan, baik secara fisik maupun secara psikologis (Alimul, 2006).
2.1.2 Tujuan Kebersihan Diri
Adapun tujuan dari kebersihan diri adalah : 1) Meningkatkan derajat kesehatan seseorang, 2) Memelihara kebersihan diri seseorang, 3) Memperbaiki kebersihan diri yang kurang, 4) Pencegahan penyakit, 5) Meningkatkan kepercayaan diri seseorang, dan 6) Menciptakan keindahan (Tarwoto dan Wartonah, 2010).
8
2.1.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebersihan Diri
Citra tubuh merupakan gambaran terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan diri. Misalnya, kerana adanya perubahan fisik sehingga individu tidak peduli terhadap kebersihannya.
Praktik sosial pada anak-anak yang selalu dimanjakan dalam hal kebersihan diri, maka kemungkinan akan terjadi perubahan pola kebersihan diri.
Status sosioekonomi yang mempengaruhi kebersihan diri. Kebersihan diri memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi, sikat gigi, sampo dan alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk menyediakannya.
Pengetahuan tentang kebersihan diri sangat penting karena pengetahuan yang baik dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya pada pasien penderita diabetes mellitus yang harus selalu menjaga kebersihan kakinya.
Budaya juga mempengaruhi kebersihan diri. Di sebagian masyarakat, jika individu memiliki penyakit tertentu tidak boleh dimandikan.
Kebiasaan seseorang sangat mempengaruhi keberihan dirinya. Ada kebiasaan orang yang menggunakan produk tertentu dalam perawatan diri, seperti penggunaan sabun, sampo, dan lain-lain.
Kondisi fisik pada keadaan sakit tentu kemampuan merawat diri bekurang dan perlubantuan untuk melakukannya (Tarwoto dan Wartonah, 2010).
2.1.4 Komponen Kebersihan Diri
a. Kebiasaan Mencuci Tangan dengan Sabun
Perilaku cuci tangan pakai sabun bukan merupakan perilaku yang biasa dilakukan sehari-hari oleh masyarakat pada umumnya. Rendahnya perilaku cuci
9
tangan pakai sabun dan tingginya tingkat efektivitas perilaku cuci tangan pakai sabun dalam mencegah penularan penyakit, maka sangat penting adanya upaya promosi kesehatan bermaterikan peningkatan cuci tangan tersebut. Dengan demikian dapat dipahami betapa perilaku ini harus dilakukan, antara lain karena berbagai alas an sebagai berikut : 1) Mencuci tangan pakai sabun dapat mencegah penyakit yang dapat menyebabkan ratusan ribu anak meninggal setiap tahunnya, 2) Mencuci tangan dengan air saja tidak cukup, 3) CTPS (cuci tangan pakai sabun) adalah satu-satunya intervensi kesehatan yang paling “cost-effective” jika dibandingkan dengan hasil yang diperolehnya.
Waktu kritis untuk cuci tangan pakai sabun yang harus diperhatikan, yaitu saat-saat sebagai berikut: 1) Sebelum makan, 2) Sebelum menyiapkan makanan, 3) Setelah buang air besar, 4) Setelah menceboki bayi/anak, 5) Setelah memegang unggas atau hewan.
Beberapa manfaat yang dapat diperoleh setelah seseorang melakukan cuci tangan pakai sabun, yaitu anatara lain : 1) Membunuh kuman penyakit yang ada ditangan, 2) Mencegah penularan penyakit seperti typus, disentri flu, flu burung, flu babi, 3) Tangan menjadi bersih dan bebas kuman. Cara mencuci tangan yang benar adalah sebagai berikut: 1) Cuci tangan dengan air bersih yang mengalir dan memakai sabun seperlunya, 2) Bersihkan telapak tangan menggunakan lap (Rahmani, 2010 dalam Lestari, 2011).
b. Kebiasaan kontak dengan tanah dan penggunaan alas kaki
Tanah merupkan media yang mutlak diperlukan oleh cacing tambang untuk melangsungkan proses perkembangannya.Telur cacing yang keluar bersama feses pejamu (host) mengalami pematangan di tanah. Adanya kontak pejamu
10
dengan larva filariform yang inefektif menyebabkan terjadunya penularan. Pola bermain anak pada umumnya tidak terlepas dari tanah sementara pada saat itu anak bermain seringkali lupa menggunakan alas kaki (Sumanto,2010).
c. Kebersihan kuku
Kuku merupakan lempeng keratin mati yang dibentuk oleh sel-sel epidermis matriks kuku.Matriks kuku terletak dibawah bagian proksimal dilempeng kuku dalam dermis kuku. Bagian ini dapat terlihat sebagai suatu daerah putih yang disebut lunula, yang tertutup oleh lipatan kuku bagian proksimal dan kutikula. Oleh karena rambut maupun kuku merupakan struktur keratin yang mati , maka rambut dan kuku tiak mempunyai ujung saraf dan tidak mempunyai aliran darah. Kuku akan melindungi jari-jari tangan dan kaki dengan menjaga fungsi sensoriknya yang sangat berkembang, serta meningkatkan fungsi-fungsi halus tertentu seperti fungsi mengangkat benda-benda kecil (Muttaqin dan Sari, 2011).
Menjaga kebersihan kuku merupakan salah satu aspek penting dalam mempertahankan perawatan diri karena berbagai kuman sapat masuk ke dalam tubuh melalui kuku. Oleh sebab itu, kukunya seharusnya tetap dalam keadaan sehat dan bersih. Secara anatomis kuku terdiri atas dasar kuku, badan kuku, dinding kuku,kantung kuku, akar kuku, dan lanula. Kondisi normal kukuini dapat terlihat halus, tebal kurang lebih 0,5 mm, trasparan, dasar kuku berwarna meah muda (Alimul, 2009).
11
2.1.5 Dampak yang Sering Timbul pada Masalah Kebersihan Diri a. Dampak Fisik
Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak terpeliharanya kebersihan perorangan yang baik. Gangguan fisik yang sering terjadi adalah gangguan integritas kulit, gangguan membrane mukosa mulut, infeksi pada mata dan telinga, serta gangguan fisik pada kuku.
b. Dampak Psikososial
Masalah sosial yang berhubungan dengan kebersihan diri adalah gangguan kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai, kebutuhan harga diri, aktualisasi diri, dan gangguan interaksi sosial (Tarwoto dan Wartonah, 2010).
2.2 Resiko Kecacingan
2.2.1 Pengertian Infeksi Cacingan
Cacingan (atau sering disebut kecacingan) merupakan penyakit endemic dan kronik diakibatkan oleh cacing parasit dengan prevalensi tinggi, tidak mematikan, tetapi menggerogoti kesehatan tubuh manusia sehingga berakibat menurunnya kondisi gizi dan kesehatan masyarakat (Zulkoni, 2010).
2.2.2 Infeksi Cacing yang Ditularkan Melalui Tanah (Soil-Transmitted
Helminths)
Soil-Transmitted Helmints (STH) adalah cacing yang untuk menyelesaikan siklus hidupnya perlu di tanah yang sesuai untuk berkembang menjadi bentuk yang infektif bagi manusia (Samad, 2009).
12
1. Cacing Gelang (Ascaris lumbricoides) a. Distribusi Geografis
Cacing ini tersebar luas di seluruh dunia, terutama di daerah tropis dan subtropis yang kelembapan udaranya tinggi. Di beberapa daerah di Indonesia infeksi cacing ini dapat dijumpai pada lebih dari 60% dari penduduk yang diperiksa tinjanya.
b. Habitat
Cacing dewasa terdapat didalam usus halus, tetapi kadang-kadang dijumpai mengembara dibagian usus lainnya. Hospes defenitifnya adalah manusia, tetapi diduga dapat merupakan penyakit zoonosis yang hidup pada usus babi (Soedarto, 2008).
c. Siklus Hidup
Manusia merupakan satu-satunya hospes cacing ini. Cacing jantan berukuran 10 – 30 cm, sedangkan cacing betina 22 – 35 cm, pada stadium dewasa hidup di rongga usus halus, cacing betina dapat bertelur sampai 100.000-200.000 butir sehari, terdiri dari telur yang dibuahi dan telur yang tidak dibuahi. Dalam lingkungan yang sesuai, telur yang dibuahi tumbuh menjadi bentuk infektif dalam waktu kurang lebih 3 minggu. Bentuk infektif ini apabila tertelan manusia, akan menetas menjadi larva di usus halus, larva tersebut menembus dinding usus menuju pembuluh darah atau slauran limfa dan dialirkan ke jantung lalu mengikuti aliran darah ke paru-paru menembus dinding pembuluh darah,lalu melalui dinding alveolus masuk rongga alveolus, kemudian naik ke trakea melalui bronkiolus dan bronkus. Dari trakea larva menuju faring, sehingga menimbulkan rangsangan batuk, kemudian tertelan masuk ke dalam esophagus lalu menuju ke
13
usus halus, tumbuh menjadi cacing dewasa. Proses tersebut memerlukan waktu kurang lebih 2 bulan sejak tertelan sampai cacing dewasa (menurut Depkes RI, 2004 yang dikuti oleh Zulkhriadi, 2008).
Gambaran umum siklus hidup cacing Ascaris lumbricoides adalah sebagai berikut : Cacing dewasa hidup di saluran usus halus. Seekor cacing betina mampu menghasilkan telur sampai 240.000 per hari, yang akan keluar bersama feses. Telur yang sudah dibuahi mengandung embrio dan menjadi infektif setelah 18 hari sampai beberapa minggu di tanah. Tergantung pada kondisi lingkungan (kondisi optimum: lembab, hangat, tempat teduh). Telur infektif tertelan. Masuk ke usus halus dan merasa mengeluarkan larva yang kemudian menembus mukosa usus, masuk kelenjar getah bening dan aliran darah dan terbawa sampai ke paru- paru. Larva mengalami pendewasaan di dalam paru-paru (10-14 hari), menembus dinding alveoli, naik ke saluran pernafasan dan akhirnya tertelan kembali. Ketika mencapai usus halus, larva tumbuh menjadi cacing dewasa. Waktu yang diperlukan mulai dari tertelan telur infektif sampai menjadi cacing dewasa sekitar 2 sampai 3 bulan. Cacing dewasa dapat hdup 1 sampai 2 tahun di dalam tubuh (Menurut Albert, 2006 yang dikutip oleh Zulkhriadi 2008).
d. Gejala Klinis
Infeksi biasa yang mengandung 10-20 ekor cacing sering berlau tanpa diketahui penderita dan baru ditemukan pada pemeriksaan tinja rutin atau bila cacing dewasa keluar sendiri bersam tinja (Menurut Brown, 1983 yang dikutip oleh Zulkhriadi, 2008).
Patogenesis Ascariasis berhubungan dengan respon imun hospes, efek migrasi larva, efek mekanis cacing dewasa, dan defisiensi gizi. Larva yang
14
mengalami siklus dalam jumlah besar akan menyebabkan pneumonitis. Apabila larva menembus jaringan masuk alveoli, larva mampu merusak epitel bronkus (Muslim, 2009).
Askariasis juga sering tidak bergejala tetapi jika jumlah cacing ini di dalam perut semakin banyak, maka berbagai macam gejala akan muncul (Zulkoni, 2010).
Gejala infestasi cacing yang masih ringan dapat berupa: 1) Ditemukannya cacing dalam tinja
2) Batuk mengeluarkan cacing 3) Kurang nafsu makan
4) Demam
5) Bunyi mengi pada saat bernapas (wheezing) Gejala infeksi cacing yang berat antara lain adalah: 1) Muntah
2) Napas pendek 3) Perut buncit 4) Usus tersumbat
5) Saluran empedu tersumbat
e. Diagnosis
Diagnosa dapat ditegakkan dengan menemukan telur cacing pada pemeriksaan feses secara langsung. Selain itu, diagnosa dapat juga dilakukan bila cacing dewasa keluar melalui mulut, hidung maupun anus (Menurut Jawertz et al, 1996 dalam Zulkhriadi, 2008).
15
Diagnosis pasti askariasis ditegakkan bila melalui pemeriksaan makroskopis terhadap tinja atau muntahan penderita ditemukan cacing dewasa. Melalui pemeriksaan mikroskopis dapat ditemukan telur cacing yang khas bentuknya di dalam tinja atau cairan empedu penderita.
Untuk membantu menegakkan diagnosis askariasis usus maupun askariasis organ, dapat dilakukan pemeriksaan radiografi dengan barium. Pemeriksaan darah menunjukkan eosinofilia pada awal infeksi, atau dilakukan scratch test pada kulit.
f. Pengobatan
Obat-obat cacing yang baru yang efektif, dan hanya menimbulkansedikit efek samping adalah mebendazol, pirantel pamoat, albendazol dan levamisol. Piperasin dan berbagai obat cacing lain masih dapat digunakan untuk mengobati penderita askariasis.
g. Pencegahan
Melaksanakan prinsip-prinsip kesehatan lingkungan yang baik, misalnya membuat kakus yang baik untuk menghindari pencemaran tanah dengan tinja penderita, mencegah masuknya cacing yang mencemari makanan atau minuman dengan selalu memasak makanan dan minuman sebelum dimakan atau diminum, serta menjaga kebersihan perorangan.
Mengobati penderita serta pengobatan masal dengan obat cacing berspektrum lebar di daerah endemik dapat memutuskan rantai siklus hidu cacing ini dan cacing lainnya.Pendidikan kesehatan pada penduduk perlu dilakukan untuk menunjang upaya pencegahan penyebaran dan pemberantasan askariasis.
16
2. Cacing Cambuk (Trichuris trichiura) a. Distribusi Geografis
Cacing ini tersebar luas di daerah tropis berhawa panas dan lembab. Trichuris trichiura hanya dapatditularkan dari manusia ke manusia sehingga cacing ini bukan parasit zoonosis.
b. Habitat
Cacing dewasa melekat pada mukosa usus penderita, terutama di daerah sekum dan kolon, dengan membenakan kepalanya didalam dinding usus. Kadang-kadang cacing ini ditemukan hidup di apendiks dan ileumbagian distal.
c. Siklus Hidup
Infeksi terjadi jika manusia tertelan telur cacing yang infektif, sesudah telur mengalami pematangan di tanah dalam waktu 3-4 minggu lamanya. Didalam usus halus dinding telur pecah dan larva caing keluar menuju sekum lalu berkembang menjadi caing dewasa. Satu bulan sejak masuknya telur infektif ke dalam mulut, cacing dewasa yang terjadi sudah mulai mampu bertelur. Cacing dewasa dapat hidup beberapa tahun di dalam usus manusia.
d. Gejala Klinis
Cacing dewasa yang menembus dinding usus menimbulkan trauma dan kerusakan pada jaringan usus. Selain itu cacing menghasilkan toksin yang menimbulkan iritasi dan peradangan.
Pada infeksi ringan dengan beberapa ekor cacing, tidak tampak gejala atau keluhan penderita. Tetapi pada infeksi berat, penderita akan mengalami gejala dan keluhan berupa : anemia berat dengan hemoglobin yang dapat kurang dari tiga persen, diare berdarah, nyeri perut, mual dan muntah, berat badan menurun,
17
kadang-kadang terjadi prolaps dari rectum yang melalui pemeriksaan proktoskopidapat dilihat adanya cacaing-cacing dewasa pada kolon atau rectum penderita.
e. Diagnosis
Untuk menegakkan diagnosis pasti, dilakukan pemeriksaan tinja untuk menemukan telur cacing yang khas bentuknya. Pada infeksi yang berat pemeriksaan proktoskopi dapat menunjukkan adanya cacing dewasa pada rektum penderita.
f. Pengobatan
Sebaiknya diberikan kombinasi obat-obat cacing, yaitu : pirantel pamoat (10 mg/kg berat badan) dan oksantel pamoat (10-20 mg/kg berat badan/hari) yang diberikan bersama dalam bentuk dosis tunggal, atau kombinasi Mebendazol dan pirantel pamoat.
Pemberian satu jenis obat dapat diberikan: Mebendazol dengan dosis 2x100 mg/hari sealam 3 hari berturut-turut dan Levanisol dapat diberikan dengan dosis tunggal 2,5 mg/kg berat badan/hari
Bila terdapat anemia, berikan preparat besi disertai dengan perbaikan gizi penderita.
g. Pencegahan
Pencegahan penularan trikuriasis dilakukan melalui pengobatan penderita atau pengobatan masal untuk terapi pencegahan terhadap terjadinya reinfeksi di daerah endemis.
Memperbaiki hygiene sanitasi perorangan dan lingkungan, agar tak terjadi pencemaran lingkungan oleh tinja penderita, misalnya membuat WC atau jamban
18
yang baik di setiap rumah. Memasak makana dan minuman dengan baik dapat membunuh telur infektif cacing.
3. Cacing Tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale)
Pada manusia terdapat beberapa jenis cacing tambang (hookworm) yang dapat menimbulkan penyakit pada manusia. Cacing dewasa Ancylostoma duodenale menimbulkan ankilostomiasis, cacing dewasa Necator americanus menimbulkan nekatoriasis, larva Ancylostoma branziliensis dan larva Ancylostoma caninum. Keduanya menimbulkan dermatitis (creeping eruption).
a. Distrbusi Geografis
Cacing tambang tersebar luas di seluruh dunia (kosmopolit) terutama di daerah tropis dan subtropics, terutama yang bersuhu panas dan mempunyai kelembapan tinggi. Di Eropa, Cina, dan Jepang, infeksi cacing-cacing ini banyak dijumpai pada pekerja tambang, sehingga cacing-cacing ini disebut cacing tambang.
Infeksi cacing tambang di Indonesia disebabkan oleh Necator americanus yang menyebabkan nekatoriasis dan Ancylostoma duodenale yang menimbulkan ankilostomiasis.
b. Habitat
Cacing dewasa hidup di dalam usus halus , terutama di jejunum dan duodenum manusia dengan cara melekatkan diri pada membrane mukosa menggunakan giginya, dan mengisap darah yang keluar dari luka gigitan.
19
c. Siklus Hidup
Manusia merupakan satu-satunya hospes defenitif N. americanus maupun A. duodenale. Telur yang keluar dari usus penderita dalam waktu dua hari akan tumbuh di tanah menjadi larva rabditiform (tidak infektif). Sesudah berganti kulit dua kali, larva rabditiform dalam waktu seminggu berkembang menjadi larva filariform yang infektif.
Lung migration. Larva filariform akan menebus kulit sehat manusia, memasuki pembuluh darah dan limfe, beredar dalam aliran darah, masuk ke jantung kanan, lalu masuk ke dalam kapiler paru. Larva menembus dinding kapiler masuk ke dalam alveoli. Larva cacing kemudian mengadakan migrasi ke bronki, trakea, laring dan faring, akhirnya tertelan masuk ke esophagus.
Di esofagus larva berganti kulit untuk ketiga kalinya. Migrasi larva berlansung sekitar sepuluh hari. Dari esofagus larva masuk ke usus halus, berganti kulit yang keempat kalinya, lalu tumbuh menjadi cacing dewasa. Dalam waktu satu bulan,cacing betina sudah mampu bertelur (Soedarto, 2008).
Ingesti telur infektif dari tanah yang terkontaminasi dengan feses. Tidak ada dari orang ke orang. Tanah yang terinfeksi dapat terbawa oleh kaki atau alas kaki. Siklus hidup memerlukan 4 sampai 8 minggu (Stanhope dan Knollmueller, 2010).
d. Gejala Klinis
Gambaran gejala klinis infeksi cacing tambang yang tampak dapat berupa : anemia hipokromik mikrositer, gambaran umum kekurangan darah yaitu pucat, perut buncit, rambut kering dan mudah lepas, rasa tak enak di epigastrum, sembelit, diare atau steatore, ground-itch (gatal kulit di tempat masuknya larva
20
cacing), serta gejala bronkitis seperti batuk, kadang-kadang dahak berdahak (Soedarto, 2008).
e. Diagnosis
Diagnosis pasti infeksi cacing tambang ditetapkan melalui pemeriksaan mikroskopis tinja untuk menemukan telur cacing. Diagnosis banding untuk infeksi cacing tambang adalah penyakit-penyakit : penyebab lain anemia, tuberculosis, penyebab gangguan perut lainnya. Pemeriksaan darah menunjukkan gambaran hemoglobin menurun <11,5 g/dl (wanita) <13,5 g/dl (pria) dan MCHC (Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration) kurang dari 31-36 g/dl (Soedarto, 2008).
Pemeriksaan mikroskopik terhadap telur terhadap telur dan feses atau observasi terhadap orang dewasa jika cacing keluar dari anus, hidung, atau mulut (Stanhope dan Knollmueller, 2010).
Pemeriksaan sumsusm tulang, menunjukkan gambaran hiperplasi normoblastik. Pada hapusan darah terdapat gambaran : hipokromik mikrositer, terdapat leukopeni dengan limfositosis relatif, jumlah leukosit kurang dari 4.000 /ml, eosinofilia dapat mencapai 30%, anisositosis atau poikilositosis.
f. Pengobatan
Pengobatan ditujukan untuk mengatasi anemia maupun untuk memberantas cacingnya, yaitu : terapi anemia menggunakan preparat besi yang diberikan peroral atau parenteral, Folic acid diberikan bila terjadi anemia megaloblastik, obat cacing yang diberikan per oral yaitu mebendazol dengan dosis dewasa dan anak berumur diatas 2 tahun 2x100 mg/hari selama 3 hari (jika perlu dapat diulang sesudah 3 minngu), albendazol dengan dosis tunggal 400 mg, levanisol dengan dosis terutama jika terjadi infeksi ganda askariasis yaitu
21
dosis tunggal dewasa 120 mg dan dosis tunggal anak 2,5 mg/kg berat badan dan pyrantel dengan dosis tunggal 10 mg/kg berat badan.
g. Pencegahan
Untuk mencegah terjadinya infeksi baru maupun reinfeksi, dilakukan : pengobatan massal dengan perorangan dengan obat cacing, dan pendidikan kesehatan membuat jamban yang baik dan berjalan ditanah selalu menggunakan alas kaki (Soedarto, 2008).
Ajarkan pada masyarakat untuk menggunakan fasilitas toilet. Ajarkan cara membuang feses yang tepat dan cegah kontaminasi tanah di area yang dekat dengan rumah atau tempat bermain anak. Cuci tangan yang benar sebelum makan atau memegang makanan (Stanhope dan Knollmueller, 2010).
2.2.3 Faktor yang Menyebabkan Resiko Kecacingan
Beberapa faktor yang mempengaruhi resiko kecacingan adalah sanitasi lingkungan yang belum memadai, tingkat pendidikan dan sosial ekonomi rendah dan perilaku hidup sehat yang belum memadai (Rampengan, 1997 dalam Baharuddin, 2010).
2.3 Balita
2.3.1 Pengertian Balita
Balita adalah istilah umum bagi anak usia 1-3 tahun (batita) dan anak prasekolah (3-5 tahun). Saat usia batita, anak masih tergantung penuh kepada orang tua untuk melakukan kegiatan penting, seperti mandi, buang air dan makan.
22
Perkembangan berbicara dan berjalan sudah bertambah baik. Namun kemampuan lain masih terbatas. (Desmeswati, 2011).
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kesehatan merupakan suatu keadaan yang didefenisikan seseorang berdasarkan nilai, kepribadian, dan gaya hidupnya. Pender, Murdaugh, dan Parsons (2006) mendefenisikan kesehatan sebagai perwujudan potensi manusia intrinsik dan ekstrinsik melalui tingkah laku yang diharapkan oleh tujuan hidup, perawatan diri yang kompeten, dan hubungan dengan orang lain yang memuaskan, dengan penyesuaian yang dilakukan untuk mempertahankan integritas struktural dan harmoni dengan lingkungan (Potter dan Perry, 2009).
Misi pembangunan kesehatan tersebut diwujudkan dengan menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Perilaku hidup bersih dan sehat adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan atas dasar kesadaran atas hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatandan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakat (Dinkes, 2009 dalam Lestari, 2011).
Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) tersebut harus dimulai dari tatanan rumah tangga, karena rumah tangga yang sehat merupakan asset modal pembangunan di masa depan yang perlu dijaga, ditingkatkan dan dilindungi kesehatannya. Beberapa anggota rumah tangga mempunyai masa rawan terkena penyakit infeksi dan non infeksi, oleh karena itu untuk mencegah anggota rumah
2
tangga perlu diberdayakan untuk melaksanakan Perilaku hidup Bersih dan Sehat (PHBS) (Depkes RI, 2009 dalam Lestari, 2011).
Higiene adalah ilmu pengetahuan tentang kesehatan dan pemeliharaannya. Higiene personal adalah perawatan diri yang dilakukan orang seperti mandi, eliminasi, dan higiene tubuh secara umum, dan berhias. Higiene merupakan masalah yang sangat pribadi dan ditetukan oleh nilai-nilai dan praktik-praktik individu (Kozier, 2010).
Secara teoritis kejadian kecacingan dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan dan higiene perorangan/kebersihan diri perorangan yakni : kebiasaan ibu dan anak mencuci tangan, frekuensi potong kuku anak, kebiasaan bermain ditanah (Endriani dkk, 2010).
Pada prakteknya upaya kebersihan diri yang harus diajarkan pada balita meliputi kebiasaan cuci tangan dengan sabun, kebiasaan kontak dengan tanah dan penggunaan alas kaki, mandi serta kebersihan kuku (Zukriadi, 2008)
Kebiasaan cuci tangan yaitu mencuci tangan dengan air saja tidak cukup, CTPS (Cuci Tangan Pakai Sabun) adalah satu-satunya intervensi kesehatan yang paling “cost-effective” jika dibanding dengan hasil yang diperolehnya (Rahmani, 2010 dalam Lestari). Kebiasaan kontak dengan tanah mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap infeksi kecacingan, apabila kontak dengan tanah dan tidak cuci tangan sebelum makan akan menyebabkan telur cacing yang ada lengket ditangan sebelum makan akan menyebabkan telur cacing yang ada lengket di tangan dan kuku akan ikut tertelan, hal ini sejalan dengan penelitian penelitian Penyebab lain terjadinya infeksi cacing usus adalah seringnya anak-anak diluar tanpa alas kaki dan bermain-main dengan tanah yang terkontaminasi, sehingga
3
telur yang ada di tanah mudah dipindahkan ke mulut melalui tangan dengan kuku tidak higienis. Kuku yang terawat dan bersih juga merupakan cerminan kepribadian seseorang, kuku yang panjang dan tidak terawat akan menjadi tempat