BAB IV. KARAKTERISTIK KOMPOSISI “ALENGKA GOING DOWN”
C. Hasil Analisis Struktur dan Bentuk “Alengka Going Down”
2. Bagian B
a. Intro Birama 43-45
Pada bagian intro birama 43, tonika modulasi ke relatif minor, yaitu e minor. Terdapat dua pengembangan motif m yang menghasilkan motif m9
Gambar 77. Motif m9 double bass
dan motif r1.
Gambar 78. Motif r1 cello
Terdapat pula aksen pada setiap ketukan kuat ostinato.
Gambar 79. Aksen di ketukan kuat ostinato double bass
Selain terdapat aksen, sukatnya berubah dari yang awalnya 4/4 menjadi 6/8. Namun untuk mempermudah penelitian ini, peneliti menghitungnya menjadi 2/4.
b. Periode A Birama 46-56 Ketukan Pertama
Periode A terdiri dari frase tanya birama 46-52 ketukan pertama (a) dan frase jawab birama 52 ketukan kedua sampai birama 56 ketukan pertama (x).
Birama 46-52 ketukan pertama merupakan frase tanya. Melodi utama terletak pada instrumen horn yang dimulai dengan ketukan kedua atau ketukan lemahnya.
Gambar 80. Motif s horn
Instrumen timpani, percussion, piano, dan double bass ostinato nada e dengan motif m9.
Gambar 81. Motif m9 timpani
63
Cello bergerak dengan motif r1.
Gambar 82. Motif r1 cello
Melodi utama birama 49 kalimatnya dilanjutkan oleh bassoon dan saxophone, sedangkan trumpet dan trombone memberikan penegasan dan membentuk akord dengan dinamik sforzando, cresscendo. Birama 52 instrumen horn, trumpet dan trombone berfungsi sebagai filler dan membentuk akord dengan dinamik cresscendo.
Gambar 83. Sforzando dan cresscendo pada instrumen horn, trumpet dan
trombone birama 52
Birama 52 ketukan kedua sampai birama 56 ketukan pertama disebut dengan frase jawab. Melodi utama terletak pada violin I, II dan viola sehingga menghasilkan motif t dengan dinamik forte.
Gambar 84. Motif t violin I
Ostinato pada frase jawab ini tetap berjalan. Birama 56 instrumen marimba dan piano berfungsi sebagai filler.
Gambar 85. Filler yang terdapat pada instrumen piano
Adanya paralel oktaf antara bassoon dan saxophone. Begitu juga paralel oktaf secara beruntun dari instrumen violin I, II, dan viola.
Gambar 86. Paralel oktaf instrumen violin I, II dan viola
65
Perpaduan melodi utama dan ostinato pada frase jawab membuat warna suara yang berbeda.
Gambar 87. Perpaduan melodi utama (violin I, II dan viola) dan ostinato (cello dan double bass)
Dari segi cerita, menurut komposer frase jawab menggambarkan pemanggilan pasukan untuk berperang lagi.
c. Periode A’ Birama 56 Ketukan Kedua sampai birama 69
Periode A’ terdiri dari frase tanya (a’), frase jawab (x’), dan frase jawab
(x’’) sehingga disebut dengan repetition of the consequen. Frase tanya dimulai
dari birama 52 ketukan kedua sampai birama 60 ketukan pertama. Hampir
sama dengan frase tanya bagian A, namun frase ini merupakan pengembangan
motif sehingga dapat disebut dengan motif r1. Dikatakan motif r1 karena
pada birama 59 frase ini menggunakan passing tone dan diminuation of the
value (pemerkecilan nilai nada) dari birama 49.
Gambar 88. Passing tone instrumen horn
Gerakan ostinato masih sama dengan bagian A, namun di birama 60 percussion berfungsi sebagai filler dengan dinamik piano, cresscendo dan aksen diketukan satu dan dua.
Gambar 89. Filler percussion birama 60
Birama 60 ketukan pertama instrumen flute I, II, III, IV, oboe, clarinet I, II, saxophone, bassoon, trumpet, dan trombone menegaskan akhir dari kalimat tanya dengan aksen seperti di bawah ini.
Gambar 90. Contoh penegasan pada
akhir kalimat tanya birama 60
67
Birama 60 ketukan kedua sampai birama 69 merupakan frase jawab dengan rincian birama 60 ketukan kedua sampai birama 64 ketukan pertama disebut frase jawab (x’), birama 64 ketukan kedua sampai birama 69 disebut pengulangan frase jawab (x’’). Melodi utama terletak pada violin I, II, viola, dan choir I.
Gambar 91. Melodi utama violin I
Pada frase jawab ini terjadi penebalan melodi dengan menambahkan choir I.
Birama 61 instrumen saxophone, bassoon, horn, trumpet, dan trombone membentuk akord.
Gambar 92. Saxophone, bassoon, horn, trumpet, dan trombone
membentuk akord
Gerakan ostinato berjalan dengan motif m9 dan dimulai pada birama 61.
Gambar 93. Motif m9 ostinato instrumen double bass
Birama 64 terdapat passing tone pada melodi utama dari nada d’-cis’.
Gambar 94. Passing tone melodi utama instrumen violin I, II dan viola
Birama 64 ketukan kedua gerakan ostinato berlawanan dengan melodi utama.
Gambar 95. Gerakan berlawanan cello,
double bass dengan violin I, viola
69
Birama 64 ketukan kedua terjadi penegasan melodi utama dengan menambahkan instrumen flute I, II, III, IV, oboe, clarinet I dan II, namun pada birama 67 instrumen flute I, II, III, IV, oboe, clarinet I dan II beralih fungsi dengan memainkan teknik trill secara bersamaan (tutti).
Gambar 96. Trill instrumen flute I, II, III, IV, oboe, clarinet I dan II
Birama 68 instrumen timpani dan percussion berfungsi sebagai filler dengan dinamik fortepiano, cresscendo.
Gambar 97. Filler timpani dan percussion birama 68
Birama 68 instrumen bassoon, horn, trumpet, trombone membentuk akord dengan dinamik sforzando, cresscendo dan passing tone.
Gambar 98. Bassoon, horn, trumpet, trombone membentuk akord dan passing tone birama 68
Dilihat dari sudut pandang cerita komposisi ini, menurut komposer, frase jawab tersebut menggambarkan tema dari karakter Anoman.
d. Retransisi Birama 70-84 Ketukan Pertama
Retrantition is a connecting to the passage which leads to return of a
previously-heard part or theme (Stein, 1979: 60). Retransisi ini disebut
dengan anticipatory retrantition karena menggunakan figure atau motif untuk
kembali ke bagian sebelumnya. Terdapat pengembangan motif r1 yang
terletak pada instrumen saxophone, bassoon, marimba, dan violin I, II
sehingga menjadi motif r2 yang sebenarnya motif ini berasal dari cello
birama 43.
71
Gambar 99. Motif r2 violin II
Motif r2 ini bisa disebut dengan ornamen. Perkembangan motif r2 ini yang semula hanya sebagai ostinato, kini bergerak dengan variasi nada yang lebih banyak dibandingkan motif r1. Instrumen cello dan double bass bergerak dengan motif yang sama dengan ostinato dari timpani, percussion dan piano.
Gambar 100. Motif ostinato double bass
Instrumen viola bergerak dengan motif r1 (ostinato). Birama 75-76 brass section sahut-sahutan dengan jarak quart yang bisa disebut dengan istilah parallel circle four yang dimulai dari nada do-fa-si-mi-la-re dengan aksen disetiap nada yang dibunyikannya.
Gambar 101. Parallel circle four pada instrumen horn, trumpet, trombone
Birama 78 terdapat perpindahan ornamentasi ke instrumen flute I, II, III, IV, oboe, clarinet I, II, dan violin I, II. Ostinato terdapat pada instrumen timpani, percussion, viola, cello dan double bass. Sedangkan di birama 83, ornamen bergerak sebagai filler pada ketukan kedua.
Gambar 102. Ornamentasi pada instrumen tiup kayu
Gambar 103. Filler instrumen flute III, IV
Birama 84 ketukan kedua percussion berfungsi sebagai filler dengan dinamik piano, cresscendo.
Gambar 104. Filler percussion birama 84
73
Dari segi harmoni, masih terdapat paralel oktaf pada instrumen saxophone dan bassoon. Sedangkan dari segi cerita, menurut komposer retransisi ini menggambarkan kelanjutan perang di Alengka.
e. Periode Irregular Phrase Birama 84 Ketukan Kedua sampai Birama 92
Birama 84 ketukan kedua sampai birama 92 merupakan pengulangan frase jawab dari birama 60 ketukan kedua sampai birama 69 (x’’) dan menjadi irregular phrase karena tidak adanya frase tanya dan berdiri sendiri. Irregular phrase ini terdiri dari phrase birama 84 ketukan kedua sampai birama 88 ketukan pertama dan phrase birama 88 ketukan kedua sampai birama 92.
f. Periode B Birama 93-96
Birama 93-96 merupakan tema baru dengan teknik aleatorik pada
instrumen violin I, II, viola, flute I, II, III, IV, oboe, clarinet I, II, saxophone,
horn, trumpet, dan trombone. Disebut dengan aleatorik karena notasi grafik
jenis ini tidak memiliki detail pitch dan ketukan sehingga ketika dimainkan
pada event yang berbeda maka akan berbeda pula bunyinya. Teknik
memainkan aleatorik ini perlu adanya kesepakatan antara pemain dan
komposer, karena kesepakatan ini berkaitan dengan range nada dan ketukan
yang dimainkan. Sedangkan dari segi cerita, fungsi aleatorik menurut
komposer ialah untuk menggambarkan kesan chaos (kekacauan) saat adu fisik
di Alengka.
Gambar 105. Teknik aleatorik pada instrumen violin I, II dan viola birama 93-96
Gambar 106. Teknik aleatorik pada instrumen violin I birama 93-94
Di birama 93, dimunculkan kembali motif m pada choir
Gambar 107. Motif m choir II
dan m1 pada instrumen basoon dan tuba.
Gambar 108. Motif m1 tuba
75
Instrumen timpani, percussion, cello dan double bass menggunakan teknik ostinato. Instrumen timpani motifnya diolah menjadi motif r3
Gambar 109. Motif r3 timpani birama 94
dan r4 dengan diminuation of the value (pemerkecilan nilai nada).
Gambar 110. Motif r4 timpani birama 96
g. Repetisi Birama 97-104
Birama 97-104 merupakan pengulangan dari birama 69-76. Namun memiliki perbedaan motif pada ostinato. Pengolahan ostinato disini merupakan motif m10 yang dipadukan dengan motif m1.
Gambar 111. Motif m10 cello
Terdapat filler pada instrumen timpani dan percussion.
Gambar 112 Filler instrumen timpani dan percussion birama 97 h. Periode B’ Birama 105-108
Birama 105-108 merupakan pengulangan dari birama 93 dengan tema aleatorik.
i. Repetisi Birama 109-116 Ketukan Pertama
Birama 109-116 ketukan pertama merupakan pengulangan dari birama 77-84 ketukan pertama.
j. Rekapitulasi Birama 116 Ketukan Kedua sampai Birama 125
Birama 116 ketukan kedua sampai Birama 125 merupakan rekapitulasi.
Rekapitulasi ini merupakan tema pengulangan dari birama 60 ketukan kedua hingga birama 69.
k. Coda Birama 126-132
Di bagian coda ini dimunculkan kembali motif m1 pada instrumen tuba.
77
Gambar 113. Motif m1 instrumen tuba
Selain itu, iringan bagian coda terletak pada choir.
Gambar 114. Iringan pada choir
Ornamentasi terletak pada instrumen flute I, II, III, IV, oboe, clarinet I, II, saxophone, marimba, piano, dan violin I, II yang motifnya imitasi dari motif n1 sehingga menjadi motif n3.
Gambar 115. Motif n3 flute I, II
Selain itu terdapat aksen di ketukan kuat.
Gambar 116. Contoh aksen di ketukan kuat
violin I
Instrumen piano, violin I, II, viola, cello, double bass menggunakan teknik ostinato. Ostinato masih tetap berjalan dengan motif m9. Sedangkan instrumen bassoon, horn, trumpet, dan trombone membentuk akord, namun di birama 129 mengikuti ritmis ostinato.
Gambar 117. Iringan pada instrumen bassoon, horn, trumpet, dan trombone birama 126
Gambar 118. Instrumen bassoon, horn, trumpet, dan trombone
mengikuti ritmis ostinato birama 129
79
Birama 130 ornamentasi terletak pada instrumen flute I, II, III, IV, oboe, clarinet I, II, saxophone, marimba, piano dan violin I, II imitasi dari motif r2.
Gambar 119. Motif r2 flute III, IV
Birama 132 tutti ritmis semua instrumen kecuali choir untuk mengakhiri komposisi ini. Selain itu, dari birama 105 hingga 132 terdapat aksen pada ketukan kuat. Dengan begitu, komposer menggambarkan ketegangan perang di Alengka dengan adanya tutti dan aksen. Menurut komposer, dengan berakhirnya birama, lenyap pula cerita ini bersama musiknya.
Berdasarkan hasil penelitian, komposisi “Alengka Going Down” memiliki 132 jumlah birama dengan bentuk two song forms. Komposisi ini terdiri dari 2 bagian, yaitu bagian A meliputi: intro, periode A, transisi, periode B, periode C, dan transisi. Sedangkan bagian B meliputi: intro, periode A, periode A’, retransisi, irregular phrase, periode B, repetisi, periode B’, repetisi, rekapitulasi, dan coda.
C. Karakteristik Komposisi “Alengka Going Down”
Berdasarkan hasil penelitian, karakteristik yang menonjol dalam komposisi
“Alengka Going Down” karya Bakti Setyaji ialah berupa ide musikal komposer.
Ide ini berbentuk perpaduan cerita pewayangan yang dikemas dalam format
orkestra. Perpaduan budaya timur (cerita pewayangan) dan budaya barat (format orkestra) merupakan media yang baik untuk melestarikan budaya. Adapun mengenai musik program, komposisi “Alengka Going Down” menceritakan tentang kejadian perang di Alengka dan tidak menceritakan secara rinci seperti cerita runtuhnya kerajaan Alengka versi Jawa. Beberapa modulasi aksen di ketukan kuat, dan teknik aleatorik merupakan teknik yang digunakan oleh komposer untuk menggambarkan keadaan perang di Alengka. Selain itu, peneliti memperolah kesan adanya penggunaan modus pentatonic setelah peneliti mendengarkan video rekaman secara berulang-ulang,
Karakter lain dari komposisi “Alengka Going Down” ialah dengan digunakannya teknik komposisi yang menurut peneliti merupakan karakteristik dari komposisi ini. Adapun teknik komposisi yang dimaksud ialah berupa:
1. Teknik warna campuran adalah berbagai kombinasi alat orkes yang dapat
dikaitkan dengan nada-nada yang berbeda, sehingga campuran warna
instrumental diperkaya dengan unsur warna dari nada-nada itu sendiri (Mack,
1995: 54). Di dalam komposisi ini, teknik “warna campuran” ditunjukkan
dengan adanya paralel oktaf. Paralel oktaf bisa terjadi karena adanya
perbedaan register pada instrumen orkes. Paralel oktaf ditunjukkan pada
instrumen double bass, piano, tuba dengan nada EE dan trombone dengan
nada E.
81
Gambar 120. Piano dengan nada EE-BB-E
Gambar 121. Tuba dengan nada EE
Gambar 122. Trombone dengan nada E
2. Kromatisasi horizontal adalah alterasi-alterasi akord dalam sistem tonal (Mack, 1995: 30).
3. Pengulangan frase dasar merupakan pengulangan sebuah frase yang bisa
mengakibatkan terbentuknya irregular phrase. Dengan adanya pengulangan
frase tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak adanya frase tanya dan frase
jawab.
Gambar 123. Irregular phrase (Stein, 1979: 29)
Irregular phrase tersebut terdiri dari 2 phrase, yaitu phrase pertama birama 1 dan 2, sedangkan phrase kedua birama 3 dan 4.
4. Whole tone scale adalah jarak antar nada sama dengan satu. Misalnya dari nada C, C-D-E-Fis-Gis-Ais.
5. Parallel circle four merupakan jarak antar nada sama dengan kuart.
Gambar 124. Parallel circle four pada instrumen horn, trumpet, trombone
6. Dischord terjadi ketika double bass menggunakan nada e tetapi
akord-akordnya tetap berjalan, bahkan motif yang dikembangkan bergerak dengan
teknik kromatis dan tidak berhubungan dengan nada e.
83
Gambar 125. Dischord instrumen double bass birama 13-16
7. Arpeggio broken chord terjadi karena pergerakan nada tidak mengikuti iringan dan terdapatnya alterasi nada.
Gambar 126. Arpeggio broken chord instrumen marimba
8. Aleatorik adalah notasi grafik yang tidak memiliki detail pitch dan ketukan
sehingga ketika dimainkan pada event yang berbeda maka akan berbeda pula
bunyinya. Diperlukan adanya kesepakatan antara pemain dan komposer dalam
memainkan teknik aleatorik, karena kesepakatan ini berkaitan dengan range
nada dan ketukan yang dimainkan.
Gambar 127. Teknik aleatorik pada instrumen violin I, II dan viola birama 93-96
9. Trill (shake) is ornament comprising rapid alternation of main note and note above, normally slurred, and associated with cadences. Occurs instrumentally and vocally (Kennedy, 1985: 1074).
10. Modulasi median chromatic merupakan modulasi dengan jarak terts kecil.
Misalkan dari tonika e minor ke g minor.
11. Tonicization merupakan perpindahan tonika tanpa mengubah tanda mula.
85
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa komposisi
“Alengka Going Down” memiliki karakter pada ide musikal komposer yang berupa cerita pewayangan (budaya timur) dan dikemas dalam format orkestra (budaya barat). P
eneliti memperoleh kesan adanya penggunaan modus pentatonic setelah mendengarkan video rekaman secara berulang-ulang. Komposisi ini menggunakan beberapa teknik komposisi yang menurut peneliti merupakan karakter dari komposisi ini. Adapun teknik tersebut yaitu sebagai berikut: (1) teknik warna campuran; (2) kromatisasi horizontal; (3) pengulangan frase dasar;
(4) whole tone scale; (5) parallel circle four; (6) dischord; (7) arpeggio broken chord; (8) aleatorik; (9) trill; (10) modulasi median chromatic; dan (11) toniqization. Terdapat beberapa modulasi, tonicization, aleatorik, dan perubahan ritmis yang berfungsi untuk menggambarkan perang di Alengka. Sehubungan dengan musik program, komposisi ini menginterpretasi cerita dari kejadian perang di Alengka.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian, komposisi “Alengka Going Down” dapat
dijadikan sebagai media dokumentasi untuk diapresiasi musiknya.
Badudu, J.S. 2003. Kamus Kata Kata Serapan Asing dalam Bahasa Indonesia.
Cetakan 1. Jakarta: Buku Kompas
Banoe, Pono. 2003. Kamus Musik. Yogyakarta: Kanisius
. 2003. Pengantar Pengetahuan Harmoni. Yogyakarta: Kanisius
Blatter, Alfred. 2007. Revisiting Music Theory: A Guide to the Practice. United States of America: Routledge
Creswell, John W. 2012. Research Design diterjemahkan oleh Achmad fawaid. Edisi Ketiga. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Dahlhaus, Carl. 1991. “The Idea of Absolute Music” translated by Roger, http://books.google.co.id/books?id=tlDI6s4R84IC&pg=PP4&hl=id&source=g bs_selected_pages&cad=3#v=onepage&q&f=false, 2. Diunduh pada tanggal 14 Maret 2014
Djohan. 2005. Psikologi Musik. Yogyakarta: Buku Baik
Forney, K., dan J. Machlis. 2011. The Enjoyment of Music: An Introduction to Perceptive Listening. Eleventh Edition. New York: W. W. Norton dan Company
Guralnik, David B. 1961. Webster’s New World Dictionary. Basic School Edition.
United States of America: The World Publishing Company
Hoffer, Charles R. 1985. The Understanding of Music. Fifth Edition. California:
Wadsworth Incorporation
Kamien, Roger. 1996. Music: an Appreciation. Sixth Edition. New York: The McGrawl-Hill Companies Incorporation
Kennedy, Michael. 1985. Oxford Dictionary of Music. New York: Oxford University
Press
Kodijat, Latifah dan Marzoeki. 2004. Istilah-istilah Musik. Edisi Revisi. Yogyakarta:
Djambatan
Kusumawati, Heni. 2013. Komposisi 1. Diktat. Yogyakarta: Jurusan Pendidikan Seni Musik, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta
Lustig. TT. United States of America: The University of Chicago Press Mack, Dieter. 1995. Sejarah Musik. Jilid 3. Yogyakarta: Pusat Musik Liturgi
Miller, Hugh M. TT. Pengantar Musik Apresiasi (Introduction to Music a Guide to Good Listening) diterjemahkan oleh Drs. Triyono Bramantyo PS.
Mudjilah, Hanna Sri. 2010. Teori Musik 1. Diktat. Yogyakarta: Jurusan Pendidikan Seni Musik, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta
Politoske, Daniel T. 1988. Music. New Jersey: Prentice-Hall Incorporation Prier, Karl Edmund. 1996. Ilmu Bentuk Musik. Yogyakarta: Pusat Musik Liturgi Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2001. Kamus Besar Bahasa
Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka
Smith, Gail. 2003. Kunci dan Warna: Adakah Hubungannya?. Staccato
Stein, Leon. 1979. Structure and Style: The study and analysis of musical forms.
Expanded Edition. United State of America: Summy-Birchard Incorporation Sudibyoprono, R. Rio dkk. 1991. Ensiklopedi Wayang Purwa,
http://books.google.co.id/books?id=eGzX9YS4LioC&printsec=frontcover&hl
=id&source=gbs_ge_summary_r&cad=0#v=onepage&q&f=false. Jakarta:
Balai Pustaka. Diunduh pada tanggal 25 Maret 2014
Sugiyono. 2014. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta
Syafiq, Muhammad. 2003. Ensiklopedia Musik Klasik. Edisi Pertama. Yogyakarta:
Adi Cita
Wahyuni, Sri. 2012. Qualitative Research Methods: Theory and Practice. Jakarta:
Salemba Empat
Zoetmulder, P.J. 1994. Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Penerjemah
Dick Hartoko. Cetakan Ketiga. Jakarta: Djambatan
LAMPIRAN
0
BC DEFGHI JKL EFI MKNE
OPQRSTRT
0
0 QTOTVDSDOLWXYZ[\LCDEF
]^_`abcd
QTOTVDSDOLGRIOeDO
fg
0
0
IJDFKLHMNOEHKLPFQEFKRPSNREFKOPMETFUE
VWXYZ[
0
0
0
bcdecfghijkilmn
opqrstuv
wxyz{|}y~y
0
0
EFGHIIJKLMFKNHOLPQKFR
STUVWXYUZWX[\]VW
^_`abcd
0
0 00 00 00 00 00 00 00 00 00 00 02
34567
7
4769
476
!"7#46 $$%%%%%%&
'(()
0 00 00 00 00 00 0 1
2
37*"+ $%%%%%&$ $%%%% $%%%%
,5-!76 .
,-7) .
,5)
$
%%%%&
,-!)
$
%%%%&. $%%%% $%%%%
. $%%%%& .$%%%%& $%%%% $%%%%
. $%%%%& .$%%%%& $%%%% $%%%%
. $%%%%& .$%%%%& $%%%% $%%%%
. $%%%%&
/7*5((0 $%%%%&. $%%%% $%%%% . $%%%%& .$%%%%& $%%%% $%%%%
. $%%%%& .$%%%%& $%%%% $%%%%
. $%%%%& .$%%%%& $%%%% $%%%%
. $%%%%&
0 01 2
1-
2
"3
)
2
/3
)
$
.%%%%& $%%%% $%%%%
. $%%%%& . $$%%%%& %%%% $%%%%
. $%%%%& $%%%%&. $%%%% $%%%%
. $%%%%& . $$%%%%& %%%% $%%%%
. $%%%%&
0 00 00 00 00 00 00 00 1
2
449 .
44 .
445 .
744)
%%
%% %%%% %%%%
$
. 6$ $ %. $%%% %$ $%%% %%%% .$%%%% % $%%% %$ %%%% . $%%% %$ $%%% %%%% $.%%%% % $%%% %$ %%%% . $%%% %$ $%%% %%%% .$%%%% % $%%% %$ %%%% . $%%% %$ $%%% %%%%
7547'(() . 6$%%%% $%%%%
. $%%%%& . $$%%%%& %%%% $%%%%
. $%%%%& $%%%%&. $%%%% $%%%%
. $%%%%& . $$%%%%& %%%% $%%%%
. $%%%%&
CDEFGHIHJKLM
NOPIQHRPSTP
0
0
&&&&&
%%%%%/000000000//) /00000) /000000)) /000000 ))0000000
&&&&&
%%%%%%/000000000//) /00000) /000000)) /000000 ))0000000
&$ &&&&&
&
&
&
& &&&&
% % % %&&&&$ %&&&&
0
QRSRTUVUSWUXYZ[W\[UVRW]US^UW_RSTUSWUXVRS
`abbcdefghdi
jkl
0
PQRRSTUVWXTYV
Z[\]^]_`a[\b]c]_]_`]_d]\]`e[bfgh` id]e]`g[_j]_klmnopqnl
0
0
0
0
0
HIJKLMNOPQRSTUVW
XYZ[\]
^_`
0
0
0
0
0
0
0
0
CDEFGHIJKFLH
MNOPQR
SST
0
0
0
0
Keterangan:
: (Bagian A) intro, periode A irregular phrase, transisi, periode B irregular phrase, periode C, transisi, (bagian B) intro, periode A, periode A’, retransisi, irregular phrase, periode B, repetisi, periode B’, repetisi, rekapitulasi, coda.
: Phrase a, phrase a’, iringan, penebalan iringan, penebalan phrase a’, phrase b, phrase b’, frase tanya, frase jawab, frase jawab x’, frase jawab x’’, phrase.
: motif m, m1, m2, m3, m4, m5, m6, m7, m8, m9, m10, m11, n, n1, n2, n3, p, q, q1, r, r1, r2, r3, r4, s horn, t, imitasi motif n1.
: Trill, dischord, paralel oktaf, arpeggio chromatic,
horn dimulai dengan ketukan lemahnya, sinkop, imitasi motif double bass dari
birama 14, pengembangan motif dari birama 18, sekuens murni dari birama 16,
imitasi marimba birama 21, ornamentasi horizontal, aksentuasi, sekuens naik motif
m2 dari birama 9, sequence by rhythm dari birama 18, imitasi motif trumpet birama
23, filler, sekuens naik motif m4 dari birama 21, membentuk akord, sekuens murni
birama 36, arpeggio broken chord, whole tone scale, aksen diketukan kuat, ostinato,
penegasan akhir kalimat tanya dengan aksen, passing tone, gerakan berlawanan
antara melodi utama dengan ostinato, parallel circle four, aleatorik, iringan.
Wawancara dengan narasumber yang bernama Bakti Setyaji yang berprofesi sebagai Dosen sekaligus Komposer “Alengka Going Down”, dengan mewawancarai narasumber peneliti dapat melakukan member check mengenai hasil analisis bentuk dan struktur “Alengka Going Down”. Sebelum bertemu dengan narasumber, peneliti mengirim pesan untuk meminta izin terlebih dahulu perihal observasi yang akan dilaksanakan untuk mendapatkan partiturnya. Berikut ini pesan sebelum observasi dilakukan,
Saya : Assalamualaikum. Mohon maaf mas aji, ini Ogi Prayuda Perkusi 2010. Mohon maaf mas kalo’ mengganggu, begini mas, skripsi saya kan bahas komposisinya Mas Aji. Mas Aji ada waktu luang nggak?
Saya mau ngopi partitur “Alengka going Down” mas..
Narasumber : Waalaikumsalam. Oh ya, besok bisa. Di HIMA ya, saya tunggu jam setengah dua siang.
Saya : Siap mas. Nuwun mas..
Narasumber : Iya..
Setelah itu dilakukan wawancara yang memiliki rincian di bawah ini:
Tanggal : 20 September 2014 Waktu : Pukul 13.30 WIB
Tempat : HIMA Seni Musik FBS UNY Saya : Assalamualaikum Mas Aji.
Narasumber : Waalaikumsalam. Kamu Ogi ya?
Saya : Iya mas. Gini mas, skripsi saya kan ngambil tema Karakteristik Komposisi “Alengka Going Down”, nah mas aji masih udah bawa partiturnya kan?
Narasumber : Udah gi, tapi soft file e. Kamu bawa flashdisk kan?
125