BAB III : DESKRIPSI NOVEL KAMBING DAN HUJAN
A. Sinopsis Novel Kambing dan Hujan
3. Bagian III
Desas-desus akan adanya jalinan asmara antara Mif dan Zia mulai menyebar di tengah masyarakat Centong. Pada suatu malam bulan Ramadan, selepas tarawih, Pak Suyudi, salah seorang sahabat Pak Iskandar, memastikan kabar itu langsung kepada Mif. Mif pun tidak menutupi bahwa ia memang memiliki hubungan khusus dengan Zia. Hal ini agak disesalkan oleh Pak Suyudi. Menurutnya, lebih baik Mif menikahi perempuan yang satu masjid dengannya. Pak Suyudi pun menawarkan Mif untuk dijodohkan dengan anak perempuannya, Lif. Namun, Mif menolak tawaran itu.
Cerita berlanjut ke penggambaran suasana Ramadan di Centong. Di desa Centong, sebagaimana di desa-desa santri lainnya, masyarakat semakin giat beribadah, masjid-masjid semakin ramai, tak peduli hujan, apalagi hanya gerimis. Namun, yang sedikit membedakan adalah, pada setiap Ramadan, sejarah panjang perbedaan antara jamaah Masjid Utara dan Masjid Selatan terkuak kembali. Pada bulan-bulan lainnya, orang-orang mungkin hanya teringat soal qunut subuh dan dua azan pada salat Jumat. Pada bulan Ramadan, perbedaan-perbedaan lain seperti jumlah rakaat tarawih, pelafalan niat berpuasa, bacaan tarhim sebelum azan subuh, hingga cara penentuan kapan tibanya tanggal 1 Syawal menyeruak kembali. Perbedaan-perbedaan ini seringkali menjadi bahan pembicaraan di beranda masing-masing masjid, menjadi bahan perdebatan, dan oleh anak-anak (dan sebagian orang dewasa) menjadi bahan untuk mengolok-olok satu sama lain.
Tahun itu Idul Fitri dirayakan oleh jamaah Masjid Utara dan Masjid Selatan dalam waktu yang berbeda. Jamaah Masjid Selatan, yang menentukan 1 Syawal dengan metode rukyat, merayakan Idul Fitri lebih dahulu. Hal ini tidak sesuai dengan harapan Fauzia, yang menginginkan Idul Fitri tahun itu dirayakan seluruh masyarakat Centong pada saat yang sama. Karena, jika harapannya terwujud, hal itu akan menjadi sekelumit kesamaan di tengah jubelan perbedaan yang merintangi hubungannya dengan Mif.
Dua bulan sebelumnya, sebelum peristiwa rencana pelarian Zia bersama Mif yang urung dilaksanakan, seorang kawan Fuad (kakak Zia) yang bernama Mahfud berkunjung ke rumah Zia. Ia mengutarakan minatnya untuk meminang Zia. Hal ini menambah kekalutan Zia setelah sebelumnya ia mendapat kabar bahwa Mif diminta menjadi menantu oleh salah seorang keturunan Mbah Guru Mahmud. Kekalutan-kekalutan itulah yang kemudian mendorongnya mengajak Mif untuk minggat bersama. Ketika kemudian rencana minggat itu dibatalkan, Mif mengantar Zia pulang. Di depan rumah, Fuad, yang membenci Mif dan lebih menyukai jika adiknya menikah dengan Mahfud, marah besar begitu melihat Zia pulang dengan dibonceng Mif.
Di tempat lain, Mif juga merasa tidak senang dengan adanya perbedaan penentuan 1 Syawal. Ia tidak senang karena ia ingin berlebaran bersama-sama dengan Fauzia. Rencana-rencana yang telah disusunnya sepanjang puasa ia anggap gagal akibat adanya perbedaan itu. Sebelumnya ia merencanakan untuk berkunjung ke rumah Pak Fauzan pada hari pertama lebaran, saat tamu sedang banyak-banyaknya. Ia berharap
pada kunjungan itu ia bisa menyinggung tentang rencananya bersama Fauzia. Akan tetapi, bayangan itu sirna. Sebab hari pertama hari rayanya adalah hari kedua bagi Pak Fauzan. Orang yang merayakan hari raya lebih dulu punya hak untuk melaksanakan puasa Syawal pada hari pertama hari raya Mif. Lebih dari itu, pada hari kedua, tamu yang datang ke rumah Pak Fauzan akan jauh lebih sedikit, dan Mif akan terlihat sangat mencolok jika memaksakan diri untuk berkunjung.
Di tengah kekalutan Mif, Bu Sri menyarankannya untuk menemui Pakde Anwar yang baru saja pulang dari Brunei Darussalam. Mulanya Mif tidak mengerti maksud ibunya. Baru ketika sang ibu menjelaskan bahwa orang yang ia panggil Pakde Anwar adalah juga paklik dari Fauzia, ia mengerti maksud ibunya. Ia boleh berharap Pakde Anwar akan bisa dimintai bantuan terkait hubungannya dengan Fauzia
Mif berkunjung ke rumah Pakde Anwar pada malam pertama hari raya (dalam hitungan orang Masjid Utara). Di sana, ia diceritai banyak hal mengenai masa lalu Pakde Anwar, terutama yang berkaitan dengan perjuangannya dalam bidang keagamaan di Desa Centong. Begitu Mif mengutarakan maksudnya untuk meminta bantuan terkait hubungannya dengan Zia, Pakde Anwar terkejut. Namun kemudian ia menyanggupi untuk mencoba membantu dengan cara mengajak bicara Pak Iskandar dan Pak Fauzan.
Keesokan hari setelah menemui Pakde Anwar, Mif berkunjung ke rumah Pak Fauzan. Pak Fauzan lumayan terkejut dengan kedatangan Mif. Namun, ia tetap menyambut Mif dengan ramah sebagaimana ia menyambut tamu-tamu lain. Mereka pun berbincang tanpa sedikit pun menyinggung hubungan Mif dengan Zia.
Suatu hari, Zia mendapat kejelasan dari ibunya, bahwa ibunya tidak pernah tidak menyetujui pilihan Zia untuk menikah dengan Mif. Alasannya memilih diam, dan terlihat enggan (bahkan menangis), ketika kali pertama Zia meminta restu adalah karena ia pernah merasa amat kehilangan ketika Hafid, kakak Mif, yang amat ia sayangi meninggal setelah terkena muntaber. Ketika tiba-tiba Zia bercerita tentang Mif, sang ibu teringat akan Hafid dan membuat perasaannya kacau. Selain itu, ibunya juga menunggu tanggapan dari Pak Fauzan. Begitu Zia berhasil meyakinkan ibunya bahwa Pak Fauzan juga tidak keberatan jika Zia menikah dengan Mif, proses pendekatan keluarga Zia dengan keluarga Mif (sesuai tradisi Centong) pun dimulai.
Di tempat lain, Pak Anwar mulai membujuk Pak Iskandar dan Pak Fauzan (secara terpisah) untuk menikahkan anak mereka. Namun, sampai Syawal hampir berakhir, upaya itu belum menunjukkan hasil positif. Pak Anwar ingin mempertemukan Pak Iskandar dengan Pak Fauzan, namun ia tidak tahu bagaimana caranya. Kesempatan itu justru datang setelah peristiwa yang tidak mengenakkan. Suatu hari, Mif dan Fuad bertengkar hebat di balai desa. Pertengkaran itu terjadi pada rapat karang taruna, dipicu oleh tuduhan Fuad kepada Mif di tengah berlangsungnya rapat yang sengit. Fuad menuduh Mif sebagai penganut komunisme. Kemudian, Pak Fauzan dan Pak Iskandar, yang baru saja menyelesaikan pertikaian anak mereka di rumah Pak Kades digelandang oleh Pak Anwar ke rumahnya. Di sana ia mengungkapkan kemarahan dan kekecewaannya pada Pak Iskandar dan Pak Fauzan. Menurut Pak Anwar, akibat sikap Pak Iskandar dan Pak Fauzan yang dingin satu sama lain, Fuad dan Mif jadi kehilangan kesempatan untuk berteman, sehingga tumbuh menjadi dua orang yang saling membenci.
Setelah menerima “omelan” dari Pak Anwar, Pak Iskandar dan Pak Fauzan pergi ke Gumuk Genjik (tempat favorit mereka ketika persahabatan mereka masih hangat). Di sana, mereka berintrospeksi. Pada akhirnya, mereka pun bersepakat untuk menikahkan Mif dengan Zia.
Pernikahan Mif dan Zia berlangsung meriah. Seluruh masyarakat Centong, baik jamaah Masjid Utara maupun Masjid Selatan, terlibat dalam pernikahan itu. Bahkan, pada acara resepsi, hadir pula Cak Ali dan Mas Ali Qomarullaeli (sosok-sosok yang dikagumi oleh Pak Fauzan dan Pak Iskandar).