• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAGIAN KEDUA

Dalam dokumen Novela Dostoevsky - Si Lembut Hati (Halaman 50-85)

Mimpi yang Membanggakan Hati

Lukerya memberitahukan kepada saya sebentar, bahwa dia tidak betah tinggal lebih lama di rumah saya,

dan setelah nyonya selesai dimakamkan, dia akan segera pergi dari sini.

Saya sudah lima menit berlutut sembahyang, sebenarnya saya mau sejam lamnya sembahyang, tetapi saya selalu berpikir, dan saya sebagai dipaksa berpikir, dan di dalam kepala saya yang sakit tidak lain yang ada hanyalah pikiran yang sakit; apakah yang mesti saya sembahyangkan—tentu akan jadi dosa juga. Sungguh aneh, saya tidak ingin tidur, ketika dilanggar oleh dukacita besar, yang terlalu besar ini; sedang orang yang dilanggar kesedihan, biasanya pada guncangan pertama ingin tidur. Kata orang, malahan orang yang besoknya akan digantung, pada malam penghabisannya dia tidur nyenyak sekali. Tidur itu juga perlu, ya, sudah sewajarnya, sebab jika tidak begitu, kekuatannya tidak akan sanggup menahan. Saya pergi berbaring di dipan, tetapi saya tidak juga tertidur…

Selama dia sakit enam minggu, siang dan malam dia kami rawat: saya, Lukerya dan seorang jururawat berpengalaman yang saya sewa dari rumah sakit. Saya tidak sayang mengeluarkan uang, malahan saya ingin membelanjakan uang banyak-banyak asal untuknya. Saya panggil dokter Skhoder, dan setiap kali datang saya bayar sepuluh rubel. Tatkala dia siuman lagi, saya berikhtiar sedapat-dapatnya supaya jangan terlalu kerap melihatnya. Tetapi, sebenarnya, apa perlunya hal itu saya ceritakan? Tatkala dia sudah kuat berjalan lagi, dengan diam dan tidak berkata apa-apa, dia masuk ke kamar saya dan duduk di meja terpisah, yang pada waktu itu sengaja saya beli untuknya.

Benar, kami tidak berbicara sama sekali, artinya, dalam waktu yang akhir kami mulai juga

bercakap-cakap, tetapi tentang hal-ikhwal sehari-hari yang tidak penting. Saya sudah tentu berdaya upaya sekerasnya supaya berbicara sedikit sekali, tetapi saya lihat, dia juga girang apabila dia tidak usah mengatakan yang tidak perlu. Kelakuannya ini memang sewajarnya, saya mengerti. “Dia sangat turkucak, dia baru menderita kekalahan besar,” begitulah pikir saya, “sudah tentu saya harus memberinya kelapangan untuk melupakan, dan membiasakan dirinya kepada keadaan baru.”

Demikianlah kami berdiam diri, tetapi setiap saat saya mengadakan persediaan untuk masa datang. Saya pikir, dia juga bersedia-sedia untuk masa datang, dan soal inilah yang selalu memusingkan saya; saya ingin tahu, apakah yang dipikirkannya pada saat-saat itu.

Sekali lagi saya katakan, bahwa tidak seorang pun dapat menggambarkan dalam pikirannya, betapa pedihnya penderitaan saya, sewaktu duduk merintih-rintih di dekatnya selama dia sakit.

Tetapi begitulah lunak rintihan itu, hingga hanya saya sendiri yang mendengarnya, malahan saya tahan bila Lukerya datang. Saya tidak dapat membayangkan dalam pikiran saya, malahan semenit pun saya tidak percaya, bahwa dia akan meninggal dunia, sebelum dia mendengarkan semuanya. Tatkala bahaya sudah tersingkir, dan dia mulai sembuh, hati saya pun—terang teringat oleh saya—mulai reda. Malahan lebih lagi. Saya mengambil keputusan akan menangguhkan masa datang kami sejauh-jauhnya, dan untuk sementara semuanya akan dibiarkan seperti sediakala. Ya, pada ketika itu terjadilah sesuatu hal yang ganjil dengan diri saya— tidak dapat oleh saya perkatakan lain untuk pernyatakannya—saya merasa mendapat kejayaan, dan

keinsafan sudah mendapat kemenangan ini saja, sudah sangat memuaskan saya.

Demikianlah terus-menerus selama musim dingin. O, saya sangat puas, saya belum pernah sepuas ini, dan musim dingin ini boleh dikatakan musim kepuasan bagi saya.

Tuan tahu, dalam hidup saya ada sesuatu keadaan yang menyengsarakan, datang dari luar, yang sampai waktu terjadi malapetaka dengan isteri saya, setiap hari dan setiap jam menindas saya. Yang saya maksud ialah kesialan, kehilangan nama baik, dan harus meminta berhenti dari resimen. Jika dinyatakan dengan dua perkataan saja, saya sudah menderita “kekejaman sewenang-wenang.”

Benar, bahwa teman-teman saya tidak suka kepada saya, karena perangai-perangai saya yang tengik, ya barangkali juga karena sifat yang patut diejekkan; walaupun kerapkali terjadi, apa yang sangat dihargakan oleh seseorang, yang dipandangnya sangat suci, oleh kebanyakan temannya dianggap layak menjadi bahan ejekkan. O, belum pernah orang suka kepada saya, malahan di sekolah pun murid-murid teman saya, selalu menjauhi saya. Ya, belum pernah orang cinta kepada saya. Bahkan Lukerya tidak tertarik hatinya kepada saya. Bencana yang menimpa saya dalam resimen itu, walaupun suatu suatu akibat dari antipati umum terhadap saya, pastilah kejadian itu berlaku karena kebetulan. Dan ini perlu saya katakan, karena tidak ada sesuatu yang lebih menyakitkan hati dan lebih tak terderitakan daripada dicelakakan oleh sesuatu yang kebetulan, oleh sesuatu yang mungkin terjadi dan mungkin tidak terjadi, oleh sesuatu pertemuan antara dua kejadian yang

mencelakakan, yang dapat melancarkan sesukanya seperti awan di langit.

Dan ini, sangat merendahkan bagi seorang makhluk yang pintar. Peristiwa itu berlaku seperti ini:

Suatu malam saya menonton di gedung opera. Sewaktu beristirahat antara dua babak, saya pergi ke bupet. Sekonyong-konyong datang pula A, seorang opsir kavaleri, yang sedang bercakap keras-keras dengan dua orang huzar yang lain—hingga kedengaran oleh semua opsir dan publik yang ada di situ—ia mengatakan, bahwa kapiten resimen kami, Bezuntsew namanya, sebentar ini melakukan suatu perbuatan aib di koridor, dan “bahwa dia barangkali mabuk.” Percakapannya terputus, sebenarnya ia terkhilaf dalam hal ini. Sebab kapitan Bezuntsew tidak mabuk, dan juga tidak ada keaiban yang terjadi. Huzar yang tiga tadi mulai mempercakapkan hal lain dan habislah perkara itu. Tetapi keesokan harinya tersiarlah cerita peristiwa malam tadi dalam resimen kami, dan orang segera menyalahkan saya, karena dari resimen sayalah satu-satunya yang berdiri di dekat bupet pada ketika huzar A. menghina kapitan. Saya disalahkan karena abai pergi mendapatkan opsir huzar itu, dan mencegahnya menghina kapitan kami selanjutnya.

Mengapa saya mesti berbuat begitu? Kalau ia benci kepada Bezuntsew, itu urusannya sendiri; mengapa saya akan campur tangan? Tetapi semua opsir beranggapan bahwa ini bukan urusan partikulir, tetapi langsung mengenai resimen; dan karena saya satu-satunya opsir dari resimen kami berdiri dekat bupet, saya telah menunjukkan kepada opsir-opsir yang hadir di sana, dan kepada publik, bahwa ada dalam resimen kami

opsir yang tidak mengacuhkan kehormatan teman-teman dan resimennya.

Saya tidak setuju dengan anggapan begitu. Mereka mengatakan kepada saya, bahwa masih ada waktu bagi saya—walaupun sudah terlambat—untuk memperbaiki kesalahan saya, dengan cara resmi memanggil opsir A. untuk bertanggungjawab atas penghinaannya. Tetapi saya tidak mau berbuat begitu, dan saya begitu gusar, sampai cara saya menolak agak kasar terhadap mereka. Tidak lama kemudian saya minta berhenti.

Begitulah sejarahnya. Resimen itu lalu saya tinggalkan dengan sikap gagah, walaupun hati saya hancur. Kemauan dan jiwa saya pecah sebagai kaca jatuh ke batu. Kecelakaan yang menimpa saya ditambah lagi oleh kelakuan ipar saya yang menghabiskan harta orang tua saya di Moskow, tandas sama sekali hingga saya melarat, tidak punya uang lagi. Sebenarnya saya dapat bekerja pada jawatan kereta api, tetapi saya enggan menukar uniform saya yang gilang gemilang dengan pakaian preman. Jika saya akan celaka, hendaklah celaka sebesar-besarnya; jika saya mesti hina, hendaklah hina sekeji-kejinya; jika saya mesti jatuh hendaklah jatuh ke jurang yang sedalam-dalamnya, makin hebat makin baik, jangan tanggung-tanggung demikianlah keinginan saya. Begitulah saya tiga tahun lamanya bergelandangan di jalan-jalan raya, melarat, hina dan berbintang gelap, malahan saya sampai tinggal di rumah penampungan Wyazemski.

Setahun setengah kemudian meninggal dunialah di Moskow seorang perempuan tua yang kaya, bibi angkat saya, yang dengan sekonyong-konyong dalam

surat wasiatnya meninggalkan uang tiga ribu rubel untuk saya. Saya lalu berpikir sebentar dan kemudian saya mengambil tindakan yang tetap. Saya buka sebuah pegadaian, saya tidak usah lagi meminta maaf atau uang kepada orang lain; saya akan hidup berumah sendiri dan memulai hidup baru, jauh dari kenang-kenangan yang lama; itulah niat saya. Tetapi meskipun begitu, tiap jam, tiap menit teringat oleh saya masa dahulu yang gelap, dan saya selalu disiksa oleh perbuatan yang mencemarkan kehormatan dan nama baik saya selama-lamanya.

Pada waktu itu saya kawin—kebetulankah atau tidak—tidak dapat saya pastikan. Tetapi ketika dia saya bimbing masuk rumah saya, saya sangka, saya membawa seorang sahabat, yang betul-betul saya perlukan pada waktu itu. Tetapi kemudian ternyata oleh saya, bahwa pertama-tama saya harus mendidiknya dulu dan menyiapkan, agar nanti cakap menjadi sahabat saya, dan saya harus mengalahkan dia dulu. Sebab, bagaimanakah saya akan dapat menguraikan semuanya kepada gadis berumur enam belas tahun ini, yang penuh dengan purbasangka? Bagaimanakah saya, misalnya dapat membuktikan kepadanya, bahwa saya bukan seorang pengecut, jika tidak terjadi peristiwa dengan pistol itu; dan bahwa tuduhan teman-teman saya dalam resimen dulu, yang mengatkan saya pengecut, tidak beralasan sama sekali?

Tetapi kecelakaan itu terjadi tepat pada waktunya. Dengan sikap tidak mau bergerak, tatkala saya rasa mulut pistol sudah di pelipis, saya sekaligus menghapuskan kegelapan masa yang lampau seluruhnya, dan walaupun orang lain tidak tahu, tetpi dia sedikitnya

tentu tahu. Dan ini sudah cukup bagi saya, sebab dia bagi saya sendiri sudah sebagai dunia ini seluruhnya, dialah yang selalu saya mimpikan dan dialah harapan sepenuh-penuhnya di zaman depan.

Dialah satu-satunya manusia, yang saya didik untuk saya sendiri, saya tidak perlu kepada orang lain, dan sekarang dia tahu semuanya, dia sedikitnya mendapat keyakinan, bahwa curang benar tindakannya, yang mengadakan komplot dengan musuh-musuh saya.

Pikiran ini sangat nikmat bagi saya.

Pada pandangannya saya bukanlah lagi seorang manusia yang kurang harganya, setinggi-tingginya saya dipandangnya sebagai seorang manusia aneh, dan pikiran ini, sangat menyenangkan saya, sebagai balasan atas kecelakaan yang menimpa saya. Menjadi orang aneh bukannya satu keaiban, malahan sebaliknya, menjadi sifat yang kadang-kadang menarik hati perempuan. Pendeknya: dengan sengaja saya tangguhkan lagi waktu untuk menyelesaikan perkara yang sudah terjadi itu, dan untuk sementara cukup waktu beristirahat bagi saya. Banyaklah khayal dan bahan yang boleh saya pakai untuk menggembirakan angan-angan saya. Di sinilah letaknya kelicikan saya, yaitu saya seorang pengelamun, dan bahan-bahan sudah cukup, untuk dilamunkan, sedang isteri saya biarlah menunggu dulu.

Demikianlah keadaan kami selama musim dingin, dengan pengharapan akan terjadi sesuatu keajaiban. Saya senang sekali mengerling kepadanya, kalau dia duduk di dekat meja, sebagaimana biasa. Dia selalu asyik menjahit, atau menambal bajunya, dan malam kadang-kadang dibacanya sebuah buku, yang diambilnya dari lemari saya.

Bila dilihatnya buku-buku di lemari itu, tentu dia kagum, betapa pandainya saya memilih buku, betapa tinggi citarasa saya. Dia hampir tidak pernah lagi pergi ke luar. Setiap hari sebelum matahari terbenam kami pergi berjalan-jalan sebentar, untuk menggerakkan badan, tetapi selama berjalan-jalan itu kami berdiam diri seperti dulu. Saya berdaya-upaya seberapa dapat berlaku seolah-olah kami tidak berdiam diri, tetapi sepakat, walaupun dengan tidak mengucapkan sepatah kata pun; kami seolah-olah tidak mau mengeluarkan kata-kata yang tidak berfaedah.

Seperti saya ceritakan tadi, saya berlaku begini dengan sengaja, dan menurut pendapat saya, perlu untuk “memberinya waktu.” Sungguh aneh, tidak kelihatan oleh saya, malahan sampai ke akhir musim dingin, bahwa sementara saya suka melirik kepadanya, selama waktu itu dia tidak pernah melayangkan pandangnya kepada saya. Saya sangka, dia malu kepada saya. Dan lagi sesudah sakit itu, dia menjadi sangat pemalu, sangat lembut hati, dan sangat lemah badannya. “Ya, barangkali lebih baik engkau tunggu dulu,” kata saya dalam kepala, sendiri, “dia sekonyong-konyong akan datang sendiri kepadamu.”

Pikiran begini terus menerus mengenakan saya. Perlu saya tambah lagi dengan keterangan lain, bahwa yang kadang-kadang dengan sengaja menghasut-hasut diri sendiri, hingga jiwa dan kalbu saya tinggi dan halus sekali, sampai akhirnya saya merasa kehormatan saya dilanggarnya. Perasaan begini lama juga, tetapi tidaklah matang sampai menjadi kebencian, dan tidaklah berurat dalam kalbu saya. Saya merasa sendiri, bahwa hal itu hanya semacam permainan belaka.

Pada waktu itu, —meskipun tali perkawinan kami sudah putus dan saya membeli ranjang dan sampiran—saya belum pernah, dan tidak akan pernah memandangnya sebagai penjahat. Ini bukan karena kejahatannya saya pandang enteng, tetapi karena saya menyimpan maksud akan memberinya ampun sepenuh-penuhnya, saya hendak memaafkannya sejak hari pertama, ya malahan sebelum saya pergi membeli ranjang. Pendek kata, pada diri saya, inilah suatu keanehan, saya berpendirian keras dalam kesusilaan. Sebaliknya, pada pandangan saya, dia jatuh seperti kena pukul, terhina dan sangat sedih, sehingga saya kerapkali merasa kasihan melihat kemalangannya, hingga saya ikut pula bersedih hati, walaupun sebaliknya saya merasa beruntung melihat dia dalam kemalangan. Pikiran yang menunjukkan, bahwa kami tidak dapat disamakan, yang sangat menarik saya…

Selama musim dingin saya sengaja melakukan perbuatan baik. Dua orang penggadai saya bebaskan dari utangnya, dan seorang perempuan tua saya beri uang, dengan tidak usah menggadaikan barangnya. Perbuatan baik ini tidak saya ceritakan kepada isteri saya, dan saya berbuat baik begitu bukan supaya diketahuinya; tetapi perempuan malang yang saya tolong itu datang lagi untuk mengucapkan terima kasih, ya malahan dia hendak berlutut di depan saya. Dengan kejadian ini, tahu juga isteri saya, dan saya mendapat kesan, bahwa pertolongan saya kepada nenek malang itu memuaskan hatinya.

Musim semi sudah dekat, kami sudah di pertengahan April; jendela-jendela untuk musim dingin sudah disingkirkan, dan matahari mulai memancarkan sinarnya yang terang benderang ke dalam kamar kami

yang sunyi. Tetapi masih ada juga selubung di depan mata saya, dan inilah yang masih membutakan rohani saya. Selubung celaka yang mengerikan! Apakah sebabnya, maka selubung itu sekonyong-konyong jatuh, hingga saya melihat semua dan mengerti semua? Apakah ini satu kebetulan, atau memang sudah datang harinya cahaya matahari akan menembusi jiwa saya yang buntu, untuk memperterang pikiran dan memberi jawaban atas teka-teki yang selalu menyiksa saya?

Bukan, ini bukan pikiran yang terang, bukan jawab teka teki, tetapi kini sehelai senar, yang kaku selama ini sekonyong-konyong mulai menggetar dan memukul-mukul, mulai hidup lagi, hingga pecah jiwa saya yang buntu beku, dan kena pukullah ketinggian hati yang saya pusakai dari setan. Saya terkejut dan terlonjak, betul-betul terlonjak dari tempat duduk saya. Ya, sekonyong-konyong terjadinya, tidak saya sangka sedikitpun. Ini terjadi pada suatu petang, hampir pukul lima, sesudah makan siang…

Sekonyong-konyong Cadar Jatuh

Sepatah kata sebelum peristiwa itu. Telah sebulan saya perhatikan, isteri saya itu selalu duduk termenung aneh sekali; dan bukan saja berdiam diri, tetapi memikirkan masalah yang dalam sekali. Untunglah lekas menjadi sasaran perhatian saya. Sekali dia duduk

menekur menghadapi jahitannya, dan tidak tahu bahwa saya memandanginya. Badannya semakin kurus dan kecil kelihatannya, mukanya pucat, bibirnya tidak berdarah; semua itu sangat mengharukan saya.

Sudah lama pula saya dengar dia batuk kering, terutama malam. Mendengar dia batuk kering, saya segera berdiri, dan tidak berkata apa-apa kepadanya saya pergi memanggil dokter Skhroder.

Keesokan harinya baru dokter datang. Isteri saya sangat tercengang: sebentar dia melihat kepada Skhroder, kemudian menengok kepada saya.

“Saya sehat, sungguh!” katanya dengan senyum yang mengandung arti.

Skhroder, lalu memeriksa badan isteri saya, tetapi tidak begitu teliti (para dokter kerapkali kurang hati-hati karena keangkuhannya), dan dikatakannya kepada saya di kamar belakang, bahwa batuknya ini akibat penyakit dulu, dan tidak begitu berbahaya; dan jika tidak mungkin isteri saya pergi ke laut selama musim semi, baiklah dia tinggal beristirahat di udik. Pendek kata, dokter mengatakan penyakit itu tidak lain dari kelemahan atau yang serupa dengan itu.

Tatkala dokter sudah pergi, isteri saya yang tercengang melihat saya, mengulang perkataannya lagi, “Saya sungguh sehat, sama sekali sehat.”

Tetapi ketika dia mengucapkan perkataannya ini, mukanya sekonyong-konyong merah padam. Ini nyata disebabkan oleh malu. Ya, karena dia malu. O, sekarang saya mengerti, dia merasa malu, karena saya masih suaminya yang memeliharanya, dan semua apa untuk kebaikannya saya lakukan, seolah-olah saya masih

belum mengerti, dan saya sangka mukanya merah karena kesayuan. (Cadar itu masih di depan mata saya).

Dan demikianlah halnya sebulan kemudian, pada suatu petang yang cerah dalam bulan April, kira-kira pukul lima saya sedang duduk membuat surat-surat tagihan dekat kassa saya. Tiba-tiba saya dengar, dia yang sedang duduk di kamar kami, di belakang menghadapi jahitannya, mulai bernyanyi… lunak dan perlahan-lahan sekali. Nyanyian yang tidak disangka-sangka ini membingungkan saya, dan mendatangkan kesan dalam kalbu saya, yang sampai saat ini tidak dapat saya kupas.

Dulu hampir belum pernah saya mendengar dia bernyanyi, kecuali pada hari-hari pertama, sesudah dia saya bawa tinggal di rumah saya, ketika kami masih bersukaria, dan ketika kami masih belajar membidik dengan pistol.

Pada waktu itu suaranya masih keras dan nyaring, dan walaupun nyanyiannya tidak sangat merdu, kerongkongannya luar biasa sehat dan menyenangkan. Tetapi nyanyian sekali ini sangat lemah, o, walaupun tidak begitu memilukan (dia menyanyikan salah satu romansa), kedengarannya seolah-olah ada sesuatu yang meletus atau pecah dalam suaranya, seolah-olah suaranya yang kecil itu tidak dapat diperbaiki lagi, seolah-olah lagu itu sendiri yang sakit. Dia bernyanyi dengan suara digumam, tetapi sewaktu dia hendak meninggikan suaranya, suaranya tersekat, ah, suara yang malang, sangat mengibakan sewaktu terhenti.

Dia batuk sebentar, dan kemudian bersenandung perlahan-lahan, lunak sekali hingga hampir tidak kedengaran.

Agaknya orang akan menertawakan kegugupan saya, tetapi tidak seorang juga yang akan mengerti, mengapa saya segugup itu. Bukan, waktu itu saya belum menaruh kasihan kepadanya, ada sesuatu hal lain yang menggugupkan saya.

Pada awalnya, pendeknya pada saat-saat permulaan dalam diri saya, datanglah kegugupan, dan kemudian keheranan. Ya, keheranan yang menakutkan, ganjil, sakit, bahkan keheranan yang bercampur dengan dendam, “dia bernyanyi, dan sewaktu saya ada!” Lupakah dia kepada saya sama sekali?

Saya nanar benar, tidak keruan dan kacau pikiran saya sewaktu duduk mendengarkan dia bernyanyi itu. Saya tiba-tiba berdiri, mengambil topi, lalu pergi; saya sendiri tidak tahu yang saya lakukan. Sedikit pun saya tidak tahu, mengapa saya lari dan ke mana akan pergi. Lukerya mengunjukkan jas saya.

“Dia bernyanyi, he?” tanya saya tidak peduli kepada Lukerya. Dia tidak mengerti apa yang saya maksud. Dia lama menatapi saya dengan tidak tahu apakah yang dilihatnya. Saya sendiri tidak pula dapat dipahamkan orang.

“Baru sekali itu dia bernyanyi?”

“Tidak. Jika tuan tidak ada, dia kerapkali bernyanyi,” jawab Lukerya.

Semua hal itu masih teringat oleh saya. Saya lalu turun tangga, pergi ke jalan raya, dan berjalan ke mana saja dibawa kaki. Saya sampai di ujung sebuah jalan dan melihat ke depan, dengan tidak tahu apa yang akan saya tengok. Banyak orang yang lewat dekat saya, malahan ada yang melanda, tetapi saya tidak peduli. Akhirnya saya panggil seorang kusir, hendak menyewa keretanya,

dan membawa saya ke Jembatan Polisi. Tetapi tidak lama kemudian dia saya suruh berhenti, saya tidak jadi pergi, dan saya beri uang seketip.

“Ini uang untukmu, karena saya telah mengganggumu,” kata saya, dan tertawa kepadanya, gelak yang tiada artinya. Tetapi dalam kalbu saya sekonyong-konyong timbul kenikmatan yang tiada terpahamkan.

Saya pulang ke rumah, dan mempercepat langkah saya. Suara yang pecah, bagaikan menyayat jantung, bunyi yang ke luar dari badan malang itu, sekonyong-konyong bergema lagi dalam jiwa saya. Napas saya sesak. Cadar jatuh, ya jatuh dari mata saya! Jika dia mulai bernyanyi dekat saya, ini disebabkan oleh karena

Dalam dokumen Novela Dostoevsky - Si Lembut Hati (Halaman 50-85)

Dokumen terkait