• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bagian Penggulungan

Dalam dokumen AKADEMI TEKNOLOGI WARGA SURAKARTA (Halaman 30-55)

Sifat-sifat Serat Kapas

3. Bagian Penggulungan

Bagian penggulungan ini terdiri dari :

a. Ekor babi (8) berfungsi agar bentuk balon simetris terhadap spindel, sehingga benang tidak bergesekan dengan ujung spindel.

b. Traveller (11) yang dipasang pada ring (12) dan berfungsi sebagai terkena satu sama lain, sehingga tidak mengakibatkan benang putus.

f. Tin roll (14) sebagai poros utama mesin ring spinning, dan juga untuk memutarkan spindel dengan perantaraan pita (spindel tape) yang ditegangkan oleh peregang jocky pulley.

Prinsip Kerja Mesin Ring Spinning

Bahan baku pada mesin spinning adalah sliver hasil mesin roving yang ditempatkan pada rak bobin. Gulungan roving pada bobin satu persatu dipasang pada tempat penggantung dan diatur supaya isi bobin tidak sama sehingga habisnya tidak bersamaan. Ujung-ujung roving dilakukan pengantar

(3) supaya mudah ditarik dan tidak putus seperti terlihat pada Gambar 2.1.

Pada saat penyuapan roving sedang berlangsung. Gulungan roving pada bobin turut berputar untuk menghindarkan terjadinya regangan palsu. Dari pengantar (3) roving dilalukan pada terompet pengantar (4) yang bergerak ke kiri dan ke kanan. Gerakan ini masih terbatas pada daerah peregangan dengan maksud untuk mengarahkan penyuapan supaya tidak terjadi pengausan setempat pada rol peregang. Dari terompet pengantar (4) roving disuapkan ke daerah peregangan (5) yang diterima oleh pasangan rol belakang. Dari peregangan rol belakang roving ke pegangan rol tengah dengan kecepatan permukaan yang lebih besar, dan roving diregangkan sehingga antihannya terbuka kembali, dan serat seratnya menjadi sejajar.

Gambar 1. Skema mesin ring spinning Keterangan :

1) Rak bobin

2) Penggantung (bobin holder) 3) Pengantar

4) Terompet pengantar 5) Rol peregang

6) Cradle

7) Penghisap (pneumafil) 8) Ekor babi

9) Pengontrol baloning 10) Penyekat (separator)

11) Traveller 12) Ring 13) Spindel 14) Tin Roller

Biasanya pada rol pasangan rol tengah dipasang sepasang apron, dan fungsinya antara lain sebagai pengantar serat-serat dan memperkecil jarak titik jepit terhadap rol depan. Di atas dan di bawah rol peregang ini dipasang pembersih (8), sehingga serat dan debu yang menempel pada rol dapat dicegah. Setelah kapas keluar dari rol peregangan depan akan terhisap oleh pengisap (7). Kapas yang keluar dari rol depan masih sejajar, dan dengan perantaraan pengantar ekor babi (9) terus melewati traveller (10) ring yang terputarkan oleh spindel. Karena adanya putaran traveller pada ring mengelilingi spindel, terbentuklah antihan pada benang dan benang telah cukup kuat untuk digulung pada bobbin. Putaran spindle yang sangat cepat mengakibatkan traveller juga terbawa berputar dengan cepat pada ring mengelilingi spindel yang menimbulkan gaya centrifugal yang besar.

Dibandingkan dengan berat benang antara rol depan sampai bobin, maka gaya centrifugal dapat mengakibatkan timbulnya bayangan benang berputar seperti balon yang biasa disebut baloning.

Untuk menjaga kebersihan dari traveller, pada dekat ring biasanya dipasang baja pelat kecil disebut pisau, gunanya untuk menahan serat-serat yang terbawa dan menyangkut pada traveller. Bilamana bobin yang digunakan panjang (9”), maka baloning yang terjadi sangat besar. Untuk mencegah dan membatasi besarnya baloning biasa dibantu dengan antinode ring. Disamping antinode ring untuk membersihkan pemisahan antara baloning pada spindle satu dengan spindel lainnya juga diberi penyekat (14), sebab apabila baloning bergesekan dengan arah yang berlawanan akan menimbulkan bulu benang atau mungkin akan saling menyangkut dan benang dapat putus.

Setelah benang diberi antihan benang terus digulung pada bobin. Pada awal penggulungan pada pangkal bobin, bentuk gulungan benangnya harus khusus dan untuk ini digunakan suatu peralatan yang disebut Cam Screw. Setelah pembentukan pangkal gulungan selesai, kemudian disusul penggulungan yang sebenarnya sehingga gulungan benang pada bobin menjadi penuh. Pada mesin spinning terjadinya penggulungan benang pada bobin karena traveller berputar lebih lambat dari putaran bobin. Lapisan gulungan roving di mesin flyer sejajar poros bobin, sedang lapisan gulungan benang di mesin Ring Spinning arahnya miring terhadap bobin.

Gerakan naik dari ring rail lebih lambat daripada gerakan turun, dan pada waktu ring rail naik terjadi penggulungan benang yang sebenarnya, sedang pada waktu ring rail turun terjadi gulungan bersilang sebagai pembatas lapisan gulungan yang satu terhadap lapisan gulungan yang berikutnya.

Tinjauan Tentang Peregangan (Drafting)

Peregangan yang terjadi antara pasangan rol peregang belakang dan rol peregang tengah disebut break draft (preliminary draft). Selanjutnya oleh pasangan rol tengah diteruskan ke pasangan rol depan yang mempunyai kecepatan permukaan yang lebih besar daripada rol tengah, sehingga terjadi proses peregangan yang sebenarnya. Peregangan yang terjadi di daerah ini disebut main draft.

Gambar 2. Skema bagian peregangan

Yang dimaksud dengan peregangan adalah proses penghalusan atau pengecilan bahan dalam bentuk berat per satuan panjang, sehingga serat-seratnya dipaksakan mengadakan pengecilansatu dengan yang lainnya sehingga dengan adanya peregangan tersebut akan terjadi :

a. Pelurusan serat (streigtening) b. Pensejajaran serat (parallelizing)

Serat-serat yang cenderung telah lurus dan sejajar sangat membantu kelancaran pada proses berikutnya, terutama untuk pengontrolan serat pada daerah peregangan. Selanjutnya yang dimaksud dengan pensejajaran serat tadi, adalah secara teoritis saja, sebab pada kenyataannya sulit untuk mendapatkan serat yang betul sejajar. Kemudian apabila serat-serat yang diregangkan tersebut tidak sejajar maka didalam proses selanjutnya tidak mengalami kesulitan atau masalah.

Setiap rol yang mempunyai kecepatan keliling lebih besar rol penarik, sedang yang langsung berada dibelakangnya disebut rol pendorong. Pada gambar diatas menunjukkan bahwa kecepatan keliling V1 lebih besar dari V2. Dengan

adanya perbedaan kecepatan maka akan terjadi penarikan dan pengecilan terhadap bahan.

Draft sendiri dibedakan menjadi 2 kategori : a. Actual Draft

Actual draft adalah besarnya pergangan yang dihitung berdasarkan atas perbandingan berat bahan masuk dan keluar dari mesin.

Atau dapat ditulis : AD =

b. Mechanical drarft

Mechanical draft adalah besarnya peregangan yang dihitung berdasarkan perbandingan kecepatan rol pengeluran dengan rol pemasukan.

Atau dapat ditulis : MD =

Ditinjau dari nilai besarnya peregangan pada mesin ring spinning, konstruksi peralatan pergangan dapat dikelompokkan dalam tiga macam, yaitu :

1. Sistem peregangan biasa (ordinary draft system)

Pada sistem ini biasanya terdiri dari tiga pasang rol tengah. Regangan terjadi antara rol belakang (back roll) dan rol tengah (middle roll) merupakan regangan pendahuluan., sedangan regangan utama terjadi antara pasangan rol tengah dengan rol depan (front roll). Besaarnya nilai regangan pada sistem ini menggunakan penyuapan roving tunggal berkisar antara 6 - 8, sedangkan yang menggunakan roving ganda berkisar 9,5 - 12.

2. Sistem regangan tinggi (high draft system)

Susunan peregangan pada sistem ini dielngkapi dengan apron yang terbuat dari kulit atau bahan sintetis. Apron tersebut terpasang pada rol peregang tengah (middle roll), baik rol atas maupun rol bawah (double apron system)

atau hanya pada roll bawah saja ( single apron system). Kegunaan apron disini untuk mengontrol serat serat pendek dengan baik, sehingga menghindari dari peristiwa yang dinamakan Floating Fiber yaitu serat mengambang.

3. Sistem peregangan sangat tinggi (super high draft system)

Pada sistem ini besarnya regangan ynag daapat diberikan melebihi dari 50 penyuapan pada mesin ring spinning yang menggunakan sistem regangan sangat tinggi ada dua macam, yaitu :

a. Penyuapan roving

b. Penyuapan langsung yang berupa sliver drawing

Dari ketiga jenis sistem konstruksi regangan tersebut yang paling banyak digunakan dewasa ini adalah system regangan tinggi (high draft system). Pada sistem regangan ini besarnya sistem peregangan yaitu regangan belakang (prelinetary draft) dan regangan utama (main draft adalah berbeda dan penentuan ari nilai peregangan tersebut akan sangat menentukan mutu benang yang akan dihasilkan. Dibawah ini terdapat tabel yang menunjukkan salah satu contoh nilai regangan yang diguinakan pada mesin ring spinning, yaitu sebagai berikut :

Tabel 2

Nilai Regangan Pada Mesin Ring Spinning

Regangan Total Regangan Belakang Regangan Depan

10 - 20 1.15 – 1.20 8.7 - 17.4

Maksud dari tujuan pembebanan adalah memperbesar tekanan rol peregangan atas terhadap rol regangan bawah sepanjang garis jepit, serta untuk mengontrol serat serat agar tidak terjadi slip pada saat proses peregangan berlangsung. Berat rol sendiri dikatakan belum cukup untuk mendapatkan titik jepit serta tekanan yang sempurna.

Sistem Pembebanan

Sistem-sistem pembebanan pada mesin ring spinning ada tiga macam yaitu:

1. Sistem pembebanan karena berat rolnya sendiri atau self weight system, yaitu sistem pembebanan yang tenaga jepitnya diddaapat dari berat rolnya sendiri (berat rol peregang itu sendiri). Dan pad sistem pembebanan tenaga jepit yang didapat hanya relative kecil saja dan biasanya digunakan pada rol peregang

belakang saja. berikut ini menunjukkan gambar sistem pembebanan karena berat rolnya sendiri.

Gambar 3. Sistem pembebanan karena berat rolnya sendiri Keterangan :

A : Rol peregang atas B : Rol peregang bawah

2. Sistem peregangan bandul atau dead weight system. Pada sistem ini pengaturan tentang besarnya tekanan yang diberikan pada rol peregang dapat dilakukan dengan cara menggeser beban atau bandul yang berada pada tangkai beban tersebut. Pada sistem pembebanan menggunakan bandul ini adalah bahwa dengan beban yang relatif kecil akan diperoleh tenga jepit yang cukup besar. Namun pada sistem pembebanan dengan menggunakan bandul ini m empunyai kelemahan, yaitu tekanan yang diperoleh pada umumnya tidak rata. Berikut dibawah ini yang mengenai pembebanan sistem bandul.

Gambar 4. Sistem pembebanan dengan menggunakan bandul Keterangan :

A : rol atas B : rol bawah C : rol pengait D : beban/bandul

3. Sistem peregangan dengan menggunakan per (pegas) atau spring weight system. Seperti halnya sistem pembabanan pada rol peregang dengan menggunakan bandul, bahwa sistem pembebanan dengan menggunakan per/pegas ini besarnya tekanan pada rol peregang juga dilakukan pengaturan (setting). Untuk merubah besarnya nilai pembebanan tersebut dengan cara merubah kedudukan yang berada pad ujung depan Top Weighthing Arm, dengan cara menggunakan peralaatan khusus (kunci khusus). Karena pada peralatan pembebanan sistem per/pegas ini terdapat peralatan penunjuk pengaturan beban. Pengaturan beban tersebut mempunyai tanda warna untuk setiap besarnya beban yang digunakan. Sehingga dapat dilihat dengan mudah berapa besar beban yang digunakan. Berikut ini gambar mengenai sistem pembebanan dengan menggunakan per/pegas.

Gambar 5. Sistem Pembebanan Dengan Menggunakan Per/Pegas Keterangan :

A = rol atas B = rol bawah C = per/pegas

Pada peralatan penunjuk (pengatur) besarnya nilai pembebanan ada tiga jenis warna, yaitu warna merah, hijau, hitam. Khususnya pada mesin ring spinning TOYODA RY, besarnya nilai-nilai pembebanan tersebut adalah sebagai berikut :

1. Warna merah 18 kg 2. Warna hijau 14 kg 3. Warna hitam 10 kg

Besar kecilnya dari suatu pembebanan rol atas akan memberikan pengaruh terhadap nilai ketidakrataan benang (U%) yang dihasilkan. Makin besar beban yang diberikan maka benang cenderung tidak rata demikian bula dengan sebaliknya. Untuk serat yang lebih besar akan memerlukan beban yang lebih besar pula karena serat-serat yang kasar tersebut lebih sulit untuk dikontrol. Untaian serat yang tebal memerlukan beban yang lebih besar jarak jepitnya sehingga jarak jepit antara kedua pasang rol peregang condong untuk

lebih membesar pula. Sehingga menyulitkan pengontrolan seratnya. Putaran rol yang cepat memerlukan beban yang lebih besar karena cenderung akan terjadi getaran pada rol peregang tersebut, sehingga tekanan pada rol peregang tetap (stabil).

Pada waktu dewasa ini, pembebanan rol peregang pada mesin ring spinning lebih bnayak menggunakan sistem per atau pegas dibanding dengan sistem pembebanan yang lainnya. Penggunakan pembebanan dengan sistem ini lebih mengutungkan bila dibanding dengan sistem bandul, diantaranya : 1. Konstruksinya sederhana sehingga memudahkan pemasangan,

pembongkaran dan pemeliharaanya.

2. Penyetelan besarnya beban dapat disesuaikan dengan nomor roving yang disuapkan.

3. Selain dari itu, dengan menggunakan sistem pegas dapat menghilangkan pengaruh getaran pada kecepatan tinggi.

Berikut ini adalah gambar peralatan pembebanan dengan menggunakan sistem per/pegas (Pendulum Weighthing Arm/Top Weighthing Arm)

Gambar 6. Peralatan pembebanan top weighthing arm a. Pengaruh Pembebanan Terhadap Rol Peregang

Apabila beban yang digunakan lebih kecil maka peregangan (drafting) maupun antihan (twist) benang yang terjadi cenderung tidak sempurna karena terjadi slip antaran gumpalan serat dengan pasasngan rol peregang. Demikian pula apabila beban yang digunakan terlalu besar maka kemungkinan penarikan antara serat-serat akan sukar yang berakibat serat-serat tersebut mudah putus serta pasangan rol peregang akan cepat aus.

Tinjauan Tentang Antihan (Twisting)

Pemberian antihan ini pada prinsipnya dilakukan dengan memutar satu ujung dari untaian serat, sedang ujung yang lainnya tetap diam. Pada proses

pemintalan pemberian antihan dilakukan oleh spindel dan traveller sebagai pemutar ujung untaian serat yang keluar dari rol peregang depan, sedangkan ujung yang lainnya tetap dipegang atau dijepit oleh rol peregang depan.

Banyaknya antihan yang diberikan pada benang tergantung kepada perbandingan banyaknya putaran dari mata pintal dengan panjangnya benang yang dikeluarkan dari rol depan untuk waktu yang sama. Apabila suatu untaian dari serat-serat diputar mengelilingi sumbu panjangnya, maka serat-serat komponennya dapat dianggap akan menempati kedudukan sebagai spiral sempurna atau tidak sempurna. Bentuk spiral yang tidak sempurna tergantung kepada kesamaan (uniformity) serta keteraturan (regularity) dari susunan serat-serat pada untaian serat yang akan diberi twist tersebut.

TPI =

Banyaknya antihan yang diberikan pada benang dirumuskan sebagai berikut : TPI = C x

TPI = Twist per inch

C = Konstanta antihan atau twist multiplier

Ne1 = Nomor dari benang untuk sistem tidak langsung

Apabila untaian tersebut akan mengalami tegangan dan perpanjangan (stretching), seperti halnya kalau suatu per ditarik, sepanjang tidak terjadi pergeseran atau slip antara serat. Apabila tegangan ini menyebabkan adanya perpanjangan atau mulur, maka serat-serat yang menempati kedudukan yang paling luar akan mendesak kedalam, sehingga mengakibatkan penampang dari untaian serat tersebut akan menciut/mengecil.

Jadi, banyaknya antihan yang harus diberikan pada benang merupakan masalah yang harus kita pertimbangkan, baik ditinjau dari segi teknis (operasionil) maupun ekonomi. Arah antihan pada benang ada dua macam tergantung dari arah putaran spindelnya. Kedua arah antihan tersebut disebut arah Z (kanan) atau S (kiri). Seperti pada gambar berikut.

Gambar 7. Prinsip pemberian antihan

Tinjauan Tentang ACP (Active Creadle Pin)

Peralatan ACP ini terletak pada creadle yang merupakan bagian dari weighthing arm pada bagian mesin ring spinning yang terjepit ditengah alat-alat tersebut. Dengan ukuran panjang inchi dan ketebalan tertentu dengan kode warna tertentu pula. ACP ini terpasang pada satu lubang yang sedikit menonjol untuk meletakkan sehingga terjepit pada creadle.

Fungsi ACP ini adalah penahan apron atau apron bawah yang terdapat pada middle rol. Sehingga keduan apron tersebut mempunyai jarak tertentu dan tidak bergeser. Sedang apron yang terpasang tersebut terbuat dari bahan sintetis, adanya apron ini maka serat-serat pendek dapat terkontrol dengan baik. Sehingga dapat menghindari terjadinya serat yang mengambang. Hal ini disebabkan karena ujung depan apron dapat disetel sedekat mungkin pada rol depan, dengan dipasang ACP dimaksudkan untuk mendapatkan jarak apron atas dan bawah dapat disesuaikan.

Dasar-dasar pemilihan ACP dalam penggunaan di mesin Ring Spinning karena ACP sangat menentukan kedudukan dan juga jarak apron, maka pemilihan ACP ini harus sesuai dengan benang yang diproses. Sebenarnya pemakaian ACP ini sama halnya dengan setting kedudukan apron atas dan bawah. Sehingga setting ini tidak boleh terlalu sempit maupun longgar. Berikut gambar Active Creadle Pin (ACP) :

Gambar 8. ACP merah (2.0 mm)

Gambar 9. ACP putih (2.75 mm)

Tinjauan Tentang Mutu/ Kualitas Benang

Dalam dunia perdagangan, mutu dan kualitas produk sangat diutamakan agar dapat memberikan kesan yang memuaskan dan dibutuhkan oleh pemakai atau konsumen yang menggunakan. Demikian pula halnya dengan produk tekstil khusunya benang yang diproduksi oleh suatu pabrik pemintalan, dimana mutu benang pintal yang dihasilkan harus baik agar dapat bersaing dalam pemasarannya dengan produksi yang dihasilkan oleh pabrik pemintalan yang lainnya.

Oleh sebab itu Maka mutu benang yang baik merupakan parameter atau ukuran yang menunjukkan tentang perusahaan suatu pabrik pemintalan benang tersebut. Untuk mendapatkan dan menjaga produksi benang tersebut maka perlu adanya pengendalian mutu yang baik serta rangkaian evaluasi dari produksi benang secara terus menerus yang mesti dilakukan oleh perusahan pemintalan benang tersebut, sehingga akan didapaat mutu yang baik sesuai dengan apa yang disebut dalam Standar Industri Indonesia untuk bahan tekstil yaitu pada SII 0100 -75 yang didefinisikan sebagai berikut :

“ Mutu benang adalah kadar benang yang ditentukan oleh nomor benang, tunggal atau gintir, jumlah antihan/gintiran, kekuatan tarik per helai, kekuatan tarik per untai dan kenampakan benang “

Suatu pabrik pemintalan benang, harus dialakukan pengujian atau evaluasi terhadap benang yang dihasilkan tersebut, yang mana jenis pengujian benang tersebut diantaranya :

1. Pengujian atau evaluasi terhadap kehalusan (nomor) benang.

2. Pengujian atau evaluasi terhadap twist/antihan benang, misalnya pengujian antihan ataau twist benang per inchi yang sering disingkat TPI.

3. Pengujian atau evaluasi terhadap kekuataan tarik benang (strength), misalnya kekuatan tarik benang per helai atau per untai.

4. Pengujian atau evaluasi terhadap ketidakrataan benang (U%) maupun grade dan kenampakan benang.

Berikut mengenai penjelasan diatas, yang menyangkut mutu atau kualitas benang :

a. Kehalusan atau Nomor Benang

Untuk menyatakan kehalusan dari suatu benang hasil pemintalan, dinyatakan dengan peraturan suatu perbandingan antaar panjang benang tersebut dengan beratnya. Adapun cara yang dipakai untuk mementukan nomor benang tersebut pada dasarnya ada dua macam cara atau sistem, yaitu dengan sistem langsung (direct system) dan sistem tidak langsung (indirect system). Sistem penomoran benang langsung ini menunjukkan berat benang dengan panjang benang tertentu. Sedangkan sistem penomoran benang tidak langsung menunjukkan panjang dari benang dengan berat benang tertentu.

Demikian pula seperti yang disebut dalam Standar Industri Indonesia untuk produk tekstil tentang penomoran benang, maka uraian diatasa sesuai dengan sistem penomoran benang pada SII 0096 - 75, yaitu disebut :

Nomor benang cara Tex adalah jumlah gram setiap seribu meter, dan nomor benang cara Ne1 (Inggris) adalah setiap pound. Dari kedua sister penomoran benang tersebut dikenal beberapa macam penomoran benang diantaranya yaitu, cara Ne1 (Inggris), Tex, Denier ( Td atau D), Matriks atau Nm dan cara yang lain.

Tetapi dari cara cara tersebut yang sering dipergunakan adalah cara Ne1 (Inggris) serta Tex. Berikut uraian tentang kedua penomoran benang tersebut, yaitu :

1. Penomoran benang menurut sistem Inggris (Ne1)

Unruk penomoran benang kapas atau benang staple yang diuberi angka 1 (Ne1), yang dimaksud dengan Ne1 adalah angka yang menunjukkan kehalusan benang, dinyakatan dengan jumlah panjang dalam Hank untuk setiap berat satu pound (1 Lb) atau berapa Hank setiap berat satu Lb.

Penggunaan Ne1 tidak terbatas pada benang saja, melainkan seluruh hasil dari alur pemintalan, yaitu dari Blowing sampai Ring Spinning, juga menggunakan pengertian yang tersimpul dalam Ne1.

Satuan yang konstan adalah 1 Lb, sehingga bila dalam 1 Lb benang terdapat panjang 60 Hank maka kehalusan benang tersebut adalah Ne1 60.

2. Penomoran menurut sistem Tex

Yang dimaksud dengan Tex adalah angka yang menunjukkan kehalusan benang, dinyatakan dengan jumlah berat dalam Gram untuk setiap panjang 1000 meter, atau berapa Gram untuk setiap panjang 1000 meter.

Jika panjang benang 1000 meter mempunyai berat 30 gram maka benang mempunyai ukuran tex 30.

Merubah / equivalency / konversi penomoran benang

Untuk merubah nomor benang dari sistem yang satu ke sistem yang lain maka dapat dilakukan dengan menggunakan rumus sbb :

1. Dari sistem berat tetap ke sistem berat tetap yang lain : N 1 x SU1 = N2 x SU2

2. Dari sistem panjang ke sistem panjang tetap yang lain :

3. Dari sistem berat tetap ke sistem panjang tetap sebaliknya :

4. Selain ketiga rumus diatas, untuk merubah angka – angka dari satu system yang lain, maka diperlukan angka – angka konversi penomoran benang ( konstanta konversi penomoran )

Dari rumus – rumus tersebut , dimana : N1 = nomor benang asal

N2 = nomor benang yang dicari SP1 = standart panjang asal

SP2 = standart panjang yang dicari SU1 = standart benang asal

SU2 = standart benang yang dicari

Tabel 3.

Konstanta Konversi Penomoran Benang

Konstanta Dasar Turunan 1 Turunan 2

1 Nm / Ne1= 1,69 Nm = 1,69 Ne1 = 0,59 dimiliki oleh benang tunggal jumlah twist dapat dinyatakan dalam setiap cm (TPC) atau dalam setiap inchi (TP1). Untuk menghitung banyaknya twist pada benang prinsipnya dilakukan dengan cara membuka twist. Alat yang digunakan untuk menghitung jumlah twist atau puntiran ini adalah twist tester.

Banyaknya twist ini dapat mempengaruhi benang terhadap sifat fisik benang. Penambahan twist akan menambah kekuatan tarik benang karena melebihi kapasitas puntiran.

a) Twist yang tinggi akan menambah mulur benang sebelum putus pada waktu penarikan.

b) Twist yang tinggi pegangan yang kaku, begitu sebaliknya twist yang rendah memberikan pegangan yang lembut.

c. Kekuatan Serat

Serat-serat yang mempunyai kekuatan lebih tinggi, akan menghasilkan benang dengan kekuatan yang lebih tinggi. Sebaliknya serat-serat dengan kekuatan rendah, akan menghasilkan benang yang berkekuatan rendah.

Dengan demikian, kekuatan serat mempunyai pengaruh langsung terhadap kekuatan benang. Kekuatan serat kapas diasosiasikan dengan tingginya derajat kristalinitas dan oleh sebab itu serat yang kuat akan lebih kaku daripada serat yang sedang atau kurang kekuatannya. Dalam pengujian atau evaluasi kekuatan serat/ benang ada dua macam, yaitu :

1. Kekuatan Serat per Helai

Penentuan dengan cara ini dimaksudkan untuk mengetahui variasi kekuatan serat, mengetahui hubungan stress dan strain yang selanjutnya dapat diketahui sifat lain yang ada hubungannya dengan stress dan strain tersebut. Tetapi penentuan kekuatan serat per helai memakan waktu yang

Penentuan dengan cara ini dimaksudkan untuk mengetahui variasi kekuatan serat, mengetahui hubungan stress dan strain yang selanjutnya dapat diketahui sifat lain yang ada hubungannya dengan stress dan strain tersebut. Tetapi penentuan kekuatan serat per helai memakan waktu yang

Dalam dokumen AKADEMI TEKNOLOGI WARGA SURAKARTA (Halaman 30-55)

Dokumen terkait