• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dalam pembelajaran mata pelajaran bahasa Indonesia bahan ajar atau sumber belajar memegang peran penting. Suryaman, (2013) mengatakan bahwa bahan ajar atau materi ajar merupakan seperangkat materi pembelajaran

(teaching materials) yang secara sistematis, menampilkan sosok utuh dari

kompetensi yang dikuasai peserta didik dalam kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia. Bahan ajar atau sumber belajar yang berupa buku teks, buku referensi, buku pengayaan merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia yang keberadaannya sangat penting bagi peserta didik maupun guru. Salah satu tugas utama pendidik adalah merencanakan pembelajaran. Di dalam tugas perencanaan pembelajaran itu terdapat bagian berupa bahan ajar. Oleh karena itu, guru dituntut untuk dapat menyiapkan dan membuat bahan ajar. Hal tersebut disebutkan dalam PP Nomor 19 Tahun 2005 Pasal 20 (dalam Suryaman:2013) dinyatakan bahwa pendidik diharapkan mengembangkan materi pembelajaran. Hal itu dipertegas melalui Pemendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang standar proses yang berbunyi perencanaan proses pembelajaran yang mensyaratkan pendidik untuk mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Salah satu komponen RPP adalah materi ajar. Guru hendaknya di dalam menyusun bahan ajar secara runtut, logis, kontekstual dan mutakhir, artinya bahan ajar disusun dari yang sederhana ke yang kompleks, mudah ke yang sulit, keluasaan dan kedalamaan bahan ajar disesuaikan dengan potensi peserta didik. Bahan ajar juga dirancang dengan menggunakan sumber yang bervariasi. Ketersediaanya

sumber belajar berupa media cetak seperti bahan ajar, lembar kerja peserta didik, buku teks yang ideal, buku referensi, dan buku pengayaan serta buku-buku penunjang yang lain perlu mendapat penanganaan yang serius dari berbagai pihak.dengan menyusun bahan ajar buku besar untuk mata pelajaran bahasa Indonesia berdasarkan kurikulum KTSP dan uji produk pada tim ahli pengguna diharapkan, 1) bahan ajar dapat digunakan dan dipahami peserta didik, 2) penggunaan bahan ajar dapat memberi hasil belajar sesuai yang diharapkan, 3) dapat menjadi salah satu alternatif memenuhi kebutuhan guru dan siswa terhadap kebutuhan pengembangan bahan ajar yang sesuai kurikulum.

a. Pengertian Buku Besar

Secara harfiah big book dapat dipadankan dalam bahasa Indonesia dengan buku besar. Makna harfiah ini mendekati makna dan fakta yang sesungguhnya. Menurut hasil-hasil riset sebagaimana disadur oleh The Minirstry Of Education’s Website (tersedia pada: http//www.edu.gov.on.co) pengetahuan dan ketrampilan yang perlu dimiliki anak agar mereka dapat membaca dengan lancar dan pemahaman bacaan yang baik di perlukan hal-hal berikut.

1) Kemampuan bahasa lisan;

2) Pengalaman dan pengetahuian siap; 3) Konsep tentang lambang cetak; 4) Kesadaran fonemik;

6) Kosa kata;

7) Seamntik destruktur; 8) Metakognisi;

9) Ketrampilan berpikir tingkat tinggi.

Konsep-konsep yang dimaksud saling berkaitan, saling mendukung antara satu dengan lainya. Untuk mendukung dan meletakan aspek tersebut, diperlukan stimulus yang berfungsi ganda, selain sebagai bahan ajar juga sekaligus berfungsi sebagai media ajar. Kedua fungsi tersebut tercermin dalam buku besar. Gambar-gambar dan ilustrasi dalam big bookdapat dijadikan stimulus untuk merangsang ketrampilan berbahasa lisan siswa. Melalui kegiatan tanya jawab, guru dapat menggali dan mendorong siswanya untuk mau berkomunikasi. Dengan demikian guru dapat mengekplorasi dan mengelaborasi ketrampilan berbahasa lisan. Siswa melalui rangsang-rangsang gambar dan ilustrasi yang terdapat dalam Big Book. Bagi siswa pemula yang belum dapat melek huruf, kegiatan ini juga dapat dijadikan untuk penanaman. Pemerolehan literasi awal yang berkaitan dengan kesadaran akan adanya hubungan antara lambang-lambang cetak dengan bunyi-bunyi bahasa bermakna. Ketika guru membacakan judul teks pada halaman pertama melalui permodelan baca yang harus diikuti dan ditirukan anak, secara tidak langsung guru tengah menyadarkan anak akan adanya hubungan antara lambang cetak dengan pembunyiannya. Disamping itu anak juga diperkenalkan dengan bentuk-bentuk lambang cetak yang

berbentuk huruf, kumpulan huruf yang membentuk kata dan kumpulan kata yang membentuk kalimat.

Hal lain yang dapat kita petik dari buku besar adalah tersedianya sarana untuk mengekplorasi pengetahuan tiap anak. Kekayaan skemata siswa dapat digali melalui kegiatan tanya jawab yang dipandu guru. Hal ini sesuai dengan teori skemata sebagaimana yang dianut oleh para penyokong model membaca top down (model atas-bawah). Menurut teori skemata ,proses pembaca permulaan itu tidak saja bergantung pada informasi yang dibaca dari teks, melainkan juga bergantung pada struktur mental (kognisi) yang relevan yang telah dimiliki pembaca sebelumnya (Widdowson dalam Grabe 1988-56) Struktur mental yang telah dimiliki pembaca sebelum dia melakukan kegiatan membaca merupakan baik pengetahuan tentang berbagai hal. Pengetahuan siap inilah yang akan dimanfaatkan pembaca pada saat dia membaca untuk membantunya dalam memahami informasi baru yang tersaji dalam teks.

Secara harfiah buku besar dapat dipadankan dalam bahasa Indonesia dengan buku besar. Makna harfiah ini mendekati makna dan fakta yang sesungguhnya. Buku ini memang berukuran besar. Bisa berukuran 45x60 cm atau 35x50 cm.

Buku besar dibuat dan dirancang dengan proyeksi kelas klasikal. Idealnya jumlah siswa dalam satu kelas tidak melebihi 25 orang. Dengan buku besar itu seluruh siswa dapat melihat buku itu dari jarak pandang tempat duduknya di kelas itu. Jika jarak pandang menjadi kendala, guru

dapat mengatur dan menata kelas sesuai dengan keperluan intinya, buku besar harus dapat dilihat oleh seluruh siswa dengan nyaman.

Buku besar pada umumnya dibuat sendiri oleh guru dengan tulisan tangannya sendiri. Buku besar berisi teks sederhana yang dinyatakan dalam kalima-kalimat sederhana dengan dukungan ilustrasi. Proporsi ilustrasi dan lambang cetak, (kata-kata atau kalimat sederhana) lebih banyak gambar/ilustrasinya dari pada lambang cetaknya. Buku besar terdiri atas 7 sampai dengan 8 halaman. Setiap halaman hanya mengandung satu kalimat sederhana. Halaman pertama berisi judul. Misal : “Si Lucu Kucingku“ atau “Bermain Bola“ atau judul lainya.Dalam beragam tema dan beragam cerita. Halaman-halaman berikutnya berisi kalimat-kalimat sederhana yang secara keseluruhan akan membangun teks yang utuh, kohesif dan koherensif.

Bentuk huruf (vokal, konsonan, diftong) mengikuti sistem tulisan yang secara teknis mudah ditiru, sederhana, dan menjadi landasan bagi bentuk-bentuk tulisan berikutnya. Misalnya, untuk fonem /a/ dikenal bermacam-macam bentuk /A/ (Kapital), /a/ (huruf biasa /kecil dengan dua tarikan dan /a/ (huruf biasa/kecil dengan satu tarikan). Huruf kapital digunakan sebagaimana keharusanya menurut kaidah seperti huruf diawal kalimat, nama orang, nama tempat dan lain-lain. Dari dua bentuk huruf kecil dan /@/ dan /a/, untuk buku besar disarankan menggunakan bentuk kedua /a/. Bentuk kedua lebih disarankan,karena secara praktis lebih sederhana, hanya membutuhkan satu tarikan tangan dan bentuk itu akan membekali

anak untuk berkemampuan menulis rangkai. Misalnya ada, bola, mama dan seterusnya.

b. Cara Pembuatan Buku Besar 1) Alat dan Bahan

a) Kertas karton (2 lembar);

b) Gunting, cutter, lem, spidol warna-warni; c) Majalah bekas: majalah anak-anak/bobo;

d) Gambar-gambar edukatif yang full color yang berisi: pemandangan, orang, binatang, tumbuhan, peristiwa dan lain-lain. 2) Cara Membuat Buku Besar

a) Potonglah kertas karton dengan ukuran 45 cm x 60 cm atau 35 cm x 60 cm menjadi 8 lembar.

b) Tentukan tema yang akan diambil pada buku besar tersebut dan berilah judul

c) Tempelilah kertas karton dengan gambar-gambar yang menarik, berwarna-warni yang diambilkan dari majalah bekas dan gambar-gambar edukatif yang telah tersedia.

d) Rangkailah gambar-gambar itu menjadi sebuah cerita yang menarik sesuai tema yang diambil.

e) Buatlah satu atau dua kalimat dirangkai menjadi cerita yang padu sesuai urutan gambar dan tema yang diambil

f) Jilidlah secara sederhana, kertas karton yang telah ditempeli gambar-gambar dan kalimat-kalimat yang telah dibuat cerita, agar

menarik tempelkanlah jilidan dengan kertas warna warni, agar siswa tertarik untuk membacanya.

g) Jadilah sebuah buku besar yang siap digunakan sebagai media pembelajaran.

c. Buku Besar dalam Pembelajaran

Pada saat guru membuka halaman demi halaman bacaan dalam Buku Besar secara tidak langsung si anak juga akan diajarkan akan cara membuka buku. Cara membuka buku itu dilakukan itu juga penting,meskipun tidak diajarkan secara ekplisit, melalui permodelan yang diperagakan guru dengan sendirinya secara inkuiri mereka akan mengetahui cara-cara tersebut dengan sendirinya. Di samping itu konvensi cara membaca tulisan latin juga akan diperoleh anak dengan sendirinya. Melalui contoh ynag diperagakan guru melalui permodelan, siswa akan menyadari jika konvensi membaca tulisan latin itu dilakukan dari kiri ke kanan. Hal ini berbeda dengan konvensi membaca tulisan bahasa Arab, Misalnya Bahasa Arab dibaca dengan konvensi dari kanan ke kiri. Pengetahuan tentang inipun menjadi sesuatau yang penting dalam pengalaman pertama anak sekolah dan pengalaman anak dalam permodelan literasi awal.

Sebagaimana buku besar dapat mengembangkan kosa kata anak. Pengembangan bahasa lisan anak yang digali melalui rangsang gambar dan ilustrasi yang terdapat dalam Buku Besar akan seiring dan sejalan dengan pengembangan kosa kata anak. Satu kata dalam buku besar bisa berkembang menjadi banyak kosa kata pada anak, jika guru pandai

menggalinya. Kekayaan kosa kata merupakan salah satu modal dasar dalam memahami bacaan. Kosa kata lisan mengacu pada kosa kata yang biasa digunakan dalam berbicara atau yang biasa didengar. Kosa kata bacaan mengacu pada kosa kata yang biasa digunakan dalam materi cetak. Pengembangan kosa kata itu meliputi pula pengenalan kosa kata yang tidak dikenali anak (Un familiar). Tentu saja ini merupakan tantangan bagi anak untuk mengembangkan kosa kata siswa, terutama yang tidak dikenalinya, guru harus memodelkanya melalui berbagai cerita variasi pemakaianya dalam konteks kalimat. Pemakaian suatu kosakata bisa melalui pengenalan sinonimnya, antonim, definisi, konteks kalimat dan lain-lain. Apalagi dalam kurikulum 2013 kosakata adalah sangat penting, karena disetiap materi yang ada tergabung dalam tema-tema selalu muncul kosakata dan selalu bertambah, sehingga diperlukan keaktifan dari guru dan siswa untuk bs memperkaya kosakata dalam bahasa Bahasa Indonesia agar pembelajaran yang dilaksanakan sessuai dengan tujuan yang diharapkan.

Masih banyak yang bisa digali dari buku besar dalam sumbangsihnya untuk pembelajaran literasi awal, baik untuk pemula di kelas rendah yang belum melek huruf maupun untuk pembaca yang sudah melek huruf. Meskipun demikian penggunaanya untuk bahan ajar dan media ajar dalam pembelajaran literasi memerlukan kepiawaian guru, terutama yang berkaitan dengan metode dan strategi pembelajaranya. Membaca cerita dengan nyaring melalui Buku Besar adalah penyadaran aspek linguistik dan presepsi visual.

Salah satu yang dapat ditempuh dalam mengembangkan kesadaran linguistik dalam kegiatan membaca adalah membaca cerita dalam buku dengan nyaring. Melaui isi cerita di dalam buku besar anak-anak akan tertarik mendengarkan cerita yang dibacakan, apalagi dengan melihat bentuk buku yang besar dan berwarna warni akan menambah daya tarik anak untuk mendengarkan cerita itu. Seorang guru membacakan cerita dengan nyaring akan membantu anak mengembangkan kemampuan berbahasanya. Banyak anak yang memiliki masalah dalam membacanya karena tidak memiliki pengalaman yang cukup dalam menginterprestasikan bahasa lisan (Jennings, dkk.2006).

Membacakan cerita adalah pengalaman yang sangat penting yang dapat kita atasi pengajar berikan kepada ana-anak. Pada dasarnya dengan membacakan sebuah cerita yang menyenangkan, anak belajar menyelaraskan perolehan bahasa untuk pemenuhan kesenanganya.

Adapun cerita yang akan disampaikan dalam pembuatan buku besar memenuhi syarat-syarat, yaitu.

1) Isi cerita fiksi hendaknya kisah yang disukai anak-anak; 2) Alur cerita mudah diikuti oleh anak-anak;

3) Bahasa yang digunakan dalam teks mudah untuk dituturkan secara lisan;

4) Terdapat kosakata baru yang diulang penyampaianya; 5) Bahasa yang digunakan kaya dengan diksi;

6) Cerita berisi nilai-nilai kebaikan (memuat kompetensi inti 1,2,3,dan 4);

7) Isi cerita membuat anak senang dan menikmatinya;

8) Waktu yang digunakan membaca tidak terlalu lama (Klein ML, 1991). Membaca cerita baik dibacakan oleh guru dan dibaca sendiri oleh siswa merupakan cara pembelajaran natural dan menyenangkan. Dengan cerita anak-anak dapat mengembangkan imajinasinya dan tantasinya. Pada saat guru menbacakan cerita kepada anak-anak akan terjadi suasana intim dan interaksi yang baik secara alamiah. Pembelajaran membaca yang natural akan membuat anak belajar meniru,mengadaptasi dan mengkreasi dari amteri bacaan.

Dari wujudnya, Klain. ML (1991) menyarankan beberapa syarat tekhnis buku besar yaitu sebagai berikut:

1) Buku tidak terlalu besar, anak dapat mudah memegang dan anak bisa membalikan halaman dengan mudah;

2) Letak cetakan huruf dibedakan dari ilustrasi;

3) Tulisan/arahan diletakan pada bagian bawah ilustrasi;

4) Tulisan dengan ilustrasi harus memiliki keterkaitan yang erat;

5) Tulisan cukup besar untuk dilihat oleh anak yang berada di belakang kelompoknya sekalipun;

6) Tulisan mengandung isi yang bernilai;

7) Perekat lembaran buku (binding) cukup kuat untuk menahan kerekatan halaman walaupuin dibaca berulang ulang;

8) Perekat lembaran buku (binding) dapat membuat anak mudah membaca berulang-ulang.

Dokumen terkait