• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PERANCANGAN

3.3 Alat dan Bahan

3.3.2 Bahan

Adapun bahan-bahan yang digunakan selama proses perancangan ini adalah sebagai berikut:

1. Plat aluminium dengan tebal 3 mm (panjang 75 cm , lebar 67 cm ) dan tebal 2 mm (panjang = 75 cm, lebar = 30 cm) untuk membuat kolektor tipe konsentrator pada mesin pendingin adsorpsi

2. Pipa aluminium dengan tebal ¾ inch sepanjang 30 cm 3. Karbon aktif serbuk sebanyak 10 kg

4. Engsel pintu 3 buah

5. Isolasi secukupnya seperti busa hitam, busa biasa (kft), rockwool dan styrofoam

6. Lem red silicon

7. Lem silicon hitam untuk kaca 8. Papan dengan tebal 2 cm

9. Kaca transparan tebal 5 mm 2 lembar dengan bingkai kusen 10. Plat besi siku tebal 2 mm

11. Cat hitam doff

12. Kawat kasa stainless 1×1 dengan ukuran mesh 400 13. Aluminium foil secukupnya

14. Paku ukuran 1-2 inch

3.4 Desain Parameter Kolektor

Permukaan pada kolektor didesain dengan permukaan yang hitam (black body) dengan tujuan agar penyerapan panas lebih besar dari radiasi energi surya, sehingga terjadinya perpindahan panas secara konveksi ke adsorben.

Untuk menghasilkan unjuk kerja yang lebih optimal dari kolektor surya membutuhkan parameter-parameter desain. Salah satu dari parameter-parameter desain yang berkaitan dengan optimasi unjuk kerja kolektor yang dirancang ini adalah letak dan bentuk plat penyerap (tipe parabolik) ,konduktivitas termal plat penyerap (plat aluminium), dan juga adsorben yang digunakan ( karbon aktif serbuk). Pada desain kolektor ini dibuat bersirip sebagai pembatas agar adsorben terbagi rata keseluruh ruang kolektor.

Konfigurasi kolektor seperti ini memberikan efek penyerapan panas radiasi matahari dan efisiensi lebih maksimal.

Table 3.1 Parameter Dimensi

Parameter Desain Aktual

Tebal plat 3 mm 3 mm

Jumlah sirip 9 9

Tebal isolator 2 cm 3 cm

Tebal pipa 1 inch 1 inch

Diameter pipa 19 mm 19 mm

Jarak antar sirip 65 mm 70 mm

Tebal penyangga kawat kasa 2 cm 2 cm

Hasil desain rancangan dengan hasil fabrikasi memiliki sedikit perbedaan dimensi, seperti tebal isolator yang dibuat menjadi lebih tebal karena apabila mengikuti tebal hasil perancangan maka panas lebih banyak keluar atau terbuang . pengaruh dimensi tersebut memiliki pengaruh yang signifikan terhadap efisiensi kolektor surya.

3.5 Langkah Pembuatan Kolektor Pada Mesin Pendingin Adsorpsi 3.5.1. Pembuatan Kolektor

Adapun langkah-langkah pembuatan kolektor adalah sebagai berikut : 1. Plat aluminium dipotong sesuai dengan desain yang telah dibuat.

2. Plat dibentuk menjadi berbentuk parabolik atau setengah lingkaran tanpa tutup atas terlebih dahulu.

Gambar 3.8 Model kolektor

3. Sirip kolektor dilas didalam kotak.

4. Masukkan karbon aktif sebanyak 10 kg secara merata kemudian tutup dengan kawat kasa dengan nomor mesh 400 agar karbon aktif tidak jatuh dari kolektor dan tidak terhisap oleh pompa vakum kemudian beri penyangga mesh agar tidak jatuh.

Gambar 3.9 Kolektor Berisi Karbon Aktif

5. Tutup kotak dengan plat aluminium yang dilengkapi dengan 2 pipa alumunium sebagai saluran adsorpsi dan desorpsi.

6. Seluruh sambungan kotak harus dilas dengan baik agar tidak terjadi kebocoran.

7. Tes kebocoran dengan menggunakan pompa vakum dengan cara memompa kolektor sampai tekanan tertentu lalu matikan pompa dan tutup saluran, bila tekanan vakum tidak menurun maka kolektor sudah tidak bocor.

8. Cat kolektor dengan menggunakan cat warna hitam.

Gambar 3.10 Kolektor Setelah Di Cat Hitam

3.5.2. Pembuatan Kotak Insulasi Dan Penutup Kolektor

Adapun langkah-langkah untuk membuat kotak insulasi dan penutup kolektor adalah sebagai berikut:

1. Siapkan kayu, styrofoam, rockwool,busa kft, busa hitam dan aluminium foil.

2. Bentuk kotak insulasi dengan kayu sesuai dengan desain yang dibuat.

Gambar 3.11 Kotak Insulasi kolektor

3. Masukkan material insulasi kedalam kotak sesuai dengan ukuran yang telah direncanakan.

4. Bungkus material insulasi dengan aluminium foil.

5. Buat lubang untuk dua pipa kolektor.

6. Pasang penutup kolektor yang telah dibuat lalu hubungkan dengan engsel.

Gambar 3.12 Kotak Insulasi berisi isolasi

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Perancangan Kolektor Tipe Parabolik Pada Mesin Pendingin Adsorpsi

Kolektor surya merupakan alat yang dirancang untuk mengumpulkan panas dengan menyerap sinar matahari. Perancangan mesin pendingin adsorpsi telah banyak dilakukan dengan berbagai macam tipe kolektor untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal. Maka perancangan kolektor surya ini didasari oleh hasil dari berbagai rancang bangun sebelumnya.

Berikut adalah perhitungan dimensi kolektor pada perancangan:

Luas penampang kolektor

:

2 ( p.l + p.t + l.t ) = 2(1000 mm × 500 mm + 1000 mm × 70 mm + 500 mm × 70 mm)

= 1,21 m2

Volume kolektor

: p.l.t = 1000 mm × 500 mm × 70 mm

= 0,025 m3

 V = p.l.t = 500 mm × 50 mm × 50 mm

= 0,00125 m3

Jadi total karbon aktif yang dapat di tampung didalam kolektor :

 V = 10 × 0,00125 m3 = 0,0125 m3 = 12,5 kg

4.1.1 Adsorber

Adsorber yaitu tempat atau wadah dari adsorben karbon aktif.adsorber digunakan untuk menangkap panas dari radiasi matahari. Adsorber terbuat dari bahan plat aluminium dengan ketebalan 3 mm.

Gambar 4.1 Desain Kolektor

Gambar 4.2 Ruang Bagian Dalam Kolektor Keterangan gambar:

a. Material : Aluminium

b. Dimensi luar : 780 mm × 650 mm × 70 mm

c. Tebal plat : 3 mm

d. Dimensi sirip kolektor : 774 mm × 50 mm × 2 mm

e. Tebal sirip : 2 mm

f. Jarak antar sirip : 70 mm

g. Jumlah sirip : 9 Buah

h. Diameter pipa kolektor : 19 mm i. Lebar kawat kasa : 0,037 mm j. Tebal penyangga kawat kasa : 3 mm

Pada perancangan 9 buah sirip berisi 10 wadah karbon aktif tiap wadah berisi 1 kg karbon aktif agar tidak terjadi penumpukan dan pembagiannya lebih merata.

4.1.2 Kotak Insulasi Kolektor

Kotak insulasi kolektor adalah lapisan yang tersusun secara seri dari beberapa bahan isolator seperti busa hitam, busa biasa, rockwool, Styrofoam dan juga kayu yang membentuk sesuai dengan bentuk kolektor sehingga panas yang diserap kolektor tidak banyak terbuang.

Plat Aluminium

Penyangga Mesh Sirip

Gambar 4.3 Kotak Insulasi Kolektor

Gambar 4.4 Ruang bagian dalam kotak insulasi Tabel 4.1. Konduktivitas Termal Bahan [ ]

Bahan k (W/m.K)

Aluminium 237

Rockwool 0,045

Styrofoam 0,040

kolektor

kayu

rockwool

styrofoam

Busa kft

Busa Hitam 0,033

Kayu 0,14

Kaca 0,761

4.1.3 Kaca penutup kolektor

Kaca (cover) penutup kolektor memiliki fungsi untuk meneruskan radiasi matahari dan memberikan efek rumah kaca pada kolektor supaya radiasi matahari terperangkap lebih lama dalam kolektor. Kaca penutup kolektor dirancang bisa buka tutupdengan tujuan saat dibuka dapat mempermudah penurunan suhu atau melepaskan kalor ke lingkungan untuk penurunan tekanan kolektor.

Gambar 4.5 Kaca penutup kolektor

4.2. Kekuatan Material

Kekuatan material atau mekanika bahan merupakan perilaku benda akibat tegangan dan regangan. Kekuatan material memprediksi respon struktur akibat beban dan kerentanannya terhadap berbagai mode kegagalan memperhitungkan sifat bahan seperti yield strength, kekuatan maksimum dan modulus young.

Tabel 4.2 Kekuatan Bahan Beberapa Material

Modulus young menjelaskan elastisitas tarik atau kecenderungan suatu benda untuk berubah bentuk sepanjang sumbu ketika stress berlawanan yang diaplikasikan sepanjang sumbu itu. Modulus geser menjelaskan kecenderungan suatu objek untuk bergeser (deformasi bentuk pada volume konstan) ketika diberi kekuatan yang berlawanan.

Beban maksimum pada kolektor sebesar:

3,146 GPa

Diasumsikan faktor keamanan pada kolektor sebesar 0,9.

4.3.1 Intensitas Radiasi Matahari

Grafik intensitas radiasi matahari selama waktu pengujian yang dilakukan ditunjukkan pada gambar 4.6.

Gambar 4.6 Grafik Intensitas Radiasi Matahari Selama Pengujian

Gambar 4.6 menunjukkan intensitas radiasi matahari dari pukul 08:00 WIB sampai pukul 17:00 WIB, dapat dilihat bahwa intensitas radiasi matahari sangat bervariasi, intensitas radiasi matahari yang diperoleh sangat bergantung kepada kondisi cuaca, ketebalan awan, topografi dan musim. Pada saat pengujian ini dilaksanakan kondisi langit cenderung berawan sehingga intensitas radiasi matahari yang diterima tidak maksimal. Pada proses pemanasan awal didapatkan nilai dari intensitas radiasi surya maksimal sebesar 518,1 W/m2K pada pukul 10:00 WIB, pada desorpsi pertama sebesar 488,1 W/m2K pada pukul 11:30 WIB, pada pengujian desorpsi kedua sebesar 680,6 W/m2K dan pada desorpsi ketiga sebesar 399,4 W/m2K. Intensitas radiasi matahari maksimum yang diterima adalah sebesar 680,6 W/m2K pada tanggal 4 November 2019 dan intensitas radiasi matahari maksimum yang paling rendah yaitu sebesar 399,4 W/m2K pada tanggal 5 November 2019.

Berikut ini merupakan grafik perbandingan intensitas radiasi matahari aktual dengan intensitas radiasi teoritis hari pertama pada tanggal 29 Oktober 2019.

0

Gambar 4.7 Grafik Perbandingan Intensitas Radiasi Matahari Aktual dengan Teoritis pada Tanggal 29 Oktober 2019

Gambar 4.7 menunjukkan grafik perbandingan intensitas radiasi matahari aktual dengan teoritis pada tanggal 29 Oktober 2019, perbandingan intensitas radiasi matahari aktual dengan teoritis dimana intensitas radiasi akutual maksimal adalah sebesar 518,1 W/m2K dan teoritis sebesar 900 W/m2K.

Gambar 4.8 Grafik Perbandingan Intensitas Radiasi Matahari Aktual dengan Teoritis pada Tanggal 3 November 2019

Gambar 4.8 menunjukkan grafik perbandingan intensitas radiasi matahari aktual dengan teoritis pada tanggal 3 November 2019, perbandingan intensitas radiasi matahari aktual dengan teoritis dimana intensitas radiasi akutual maksimal adalah sebesar 488,1 W/m2K pada puku 11:30 WIB dan teoritis sebesar 900

W/m2K. Kondisi cuaca pada hari ini cerah namun cukup berawan sehingga ketika awan menghalangi sinar matahari maka intensitas radiasi matahari akan menurun.

Gambar 4.9 Grafik Perbandingan Intensitas Radiasi Matahari Aktual dengan Teoritis pada Tanggal 4 November 2019

Gambar 4.9 menunjukkan grafik perbandingan intensitas radiasi matahari aktual dengan teoritis pada tanggal 4 November 2019, perbandingan intensitas radiasi matahari aktual dengan teoritis dimana intensitas radiasi aktual maksimal adalah sebesar 680,6 W/m2K dan teoritis sebesar 900W/m2K. Kondisi cuaca pada hari ini cukup cerah namun berawan, sehingga ketika awan menutupi sinar matahari radiasi yang diperoleh akan menurun.

0

Gambar 4.10 Grafik Perbandingan Intensitas Radiasi Matahari Aktual dengan Teoritis pada Tanggal 5 November 2019

Gambar 4.10 menunjukkan grafik perbandingan intensitas radiasi matahari aktual dengan teoritis pada tanggal 5 November 2019, perbandingan intensitas radiasi matahari aktual dengan teoritis dimana intensitas radiasi akutual maksimal adalah sebesar 399,4 W/m2K dan teoritis sebesar 900 W/m2K. Kondisi cuaca pada hari ini medung mulai pukul menyebabkan intensitas radiasi yang didapatkan juga rendah.

4.3.2 Temperatur Kolektor

Dari tiga hari pengujian dilakukan diperoleh temperatur kolektor seperti ditunjukkan pada gambar 4.11.

Gambar 4.11 Grafik Temperatur Kolektor Selama Pengujian

Gambar 4.11 menunjukkan temperatur dari komponen kolektor mesin pendingin selama proses pengujian. Temperatur maksimum dari kolektor surya pada proses pemanasan awal adalah sebesar 126,56 oC, desorpsi pertama sebesar 97,79 oC, desorpsi kedua sebesar 112,89 oC, desorpsi ketiga sebesar 93,12 oC.

Temperatur tertinggi diperoleh pada saat proses pemanasan awal sebesar 126,56

oC dan terendah pada desorpsi ketiga sebesar 93,12 oC. Dari hasil yang diperoleh terlihat bahwa kolektor yang digunakan sudah baik karena temperatur yang

0

diperoleh pada kondisi cuaca normal (tidak mendung) dapat mencapai temperatur diatas 100 oC yang mana termperatur tersebut sudah bisa menyebabkan metanol yang berada pada kolektor untuk menguap.

4.4. Panas Radiasi Total Yang Diterima Kolektor

Untuk mengetahui besarnya panas radiasi yang diterima oleh kolektor dapat diketahui dengan menggunakan rumus berikut ini:

= Dimana:

= Intensitas radiasi matahari yang diterima kolektor (J/

A = Luas Permukaan kolektor ( )

Karena luas penampang kolektor yang dirancang 0,5 dan intensitas radiasi matahari diasumsikan sebesar 720 J/ maka diperoleh:

= 720 J/ 0,5

= 360 J

4.5. Energi Panas Radiasi Yang Dapat Diserap Kolektor

Untuk menghitung energi panas radiasi yang dapat diserap kolektor surya dapat diketahui dengan menggunakan rumus berikut:

= . Dimana:

= Energi panas radiasi yang diterima kolektor

= transmisivitas dan absorptivitas rata-rata kaca dan plat kolektor

Nilai tranmisivitas dan absorptivitas rata-rata kaca dan plat kolektor didapat dengan menggunakan rumus berikut:

= 0,96 x

Untuk mencari digunakan rumus berikut ini:

= 1,01 x x x Untuk mencari nilai digunakan rumus berikut ini:

= x

Koefisien transmisivitas refleksi ( ) diperoleh dengan rumus:

= (

Koefisien absorvitas refleksi diperoleh dengan rumus:

= exp(

) Dimana:

K= koefiesien redam 2 lapis kaca = 16 L = Tebal kaca = 5mm = 0,005 m

= absorpsivitas benda hitam (aluminium) sebesar 0,98 Untuk mencari nilai digunakan rumus berikut ini:

= 1- 1,5879 x 𝜃 + 2,7314 x 𝜃 – 2,3026 x 𝜃 + 9,0244 x 𝜃 – 1,8 x 𝜃 + 1,7734 x 𝜃 + 6,9937 x 𝜃

= 1- 1,5879 x ) + 2,7314 x )² – 2,3026 x + 9,0244 x – 1,8 x ( + 1,7734 x + 6,9937 x

= 0,9962

Maka, = 0,86716

Selanjutnya, = 0,96 x 0,86716 = 0,83247

Jadi dari perhitungan diatas diperoleh:

= 360 x 0.86716 = 312,1776 J

4.6. Kerugian Panas Pada kolektor

Untuk menghitung kerugian panas total dari kolektor digunakan rumus berikut ini:

total = atas + bawah + sisi kiri kanan + depan belakang

Dimana:

atas = kerugian panas pada sisi atas kolektor

bawah = kerugian panas pada sisi bawah kolektor

sisi kiri kanan = kerugian panas pada sisi kiri kanan kolektor

sisi depan belakang = kerugian panas pada sisi depan belakang kolektor

4.6.1 Perhitungan kerugian panas pada sisi atas kolektor

Untuk menghitung kerugian panas pada sisi atas kolektor digunakan rumus berikut:

atas =

Dimana:

= koefisien kerugian panas pada sisi atas kolektor (W/ K) A = Luas permukaan kolektor = 0.5

= Temperatur rata-rata lingkungan (K)

= temperatur rata-rata kaca atas (K)

Untuk menghitung koefisien kerugian panas pada sisi atas kolektor digunakan rumus berikut:

= emisivitas plat aluminium = 0,82

= koefisien perpindahan panas oleh angin = 10 W/

Nilai temperatur kaca diasumsikan 54°dan temperatur lingkungan rata-rata diasumsikan 30⁰, maka:

= 54+273 = 327 K dan = 30+273 = 303 K

 Perhitungan nilai e

4.6.2 Perhitungan kerugian panas pada sisi bawah kolektor

Kerugian panas pada sisi bawah kolektor dapat dihitung dengan menggunakan rumus dibawah ini:

=

Maka nilai panas yang hilang dari bagian bawah kolektor adalah:

=

= 21,78 04 W

4.6.3 Kerugian panas pada sisi samping kiri dan kanan kolektor

Menghitung kerugian panas pada sisi samping kiri dan kanan kolektor dapat menggunakan rumus dibawah ini:

=

=

Maka panas yang hilang dari sisi samping kolektor yaitu:

=

= 6,6766 W

Karena jumlah sisi samping ada 2 maka hasil yang diperoleh dikalikan dengan 2, yaitu menjadi:

= 6,6766 x 2 = 13,3532 W

4.6.4 Perhitungan kerugian panas pada sisi samping depan dan belakang kolektor

Menghitung kerugian panas pada sisi samping kiri dan kanan kolektor dapat menggunakan rumus dibawah ini:

=

=

Maka panas yang hilang dari sisi samping kolektor yaitu:

=

= 5,1390 W

Karena jumlah sisi samping ada 2 yaitu depan dan belakang maka hasil yang diperoleh dikalikan dengan 2, yaitu menjadi:

= 5,1390 x 2 = 10,2780 W

4.6.5 Kerugian panas total pada kolektor

Kerugian panas total pada kolektor dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut ini:

total = depan belakang Dengan memasukkan hasil perhitungan kerugian panas sebelumnya didapat:

total = 8,3424 W + 21,7804 W + 13,3532 W + 10,2780W = 53,754 W

4.7. Besar Energi Kalor Yang Digunakan Kolektor

Untuk menentukan besar energi kalor yang digunakan kolektor dapat menggunakan rumus berikut ini:

= ( ˗ )

Dimana:

= faktor efesiensi kolektor diasumsikan 0,9

= kerugian panas total (J)

= energi panas total yang diterima kolektor (J) Perhitungan

Diketahui : = 312,1776 J = 53,754 Penyelesaian :

= 0,9 ( 312,1776 – 53,754 ) = 232,57647 J

4.8. Efisiensi Termal Kolektor Surya

Efisiensi termal kolektor surya dapat diketahui dengan menggunakan persamaan berikut ini:

=

x 100%

Dimana:

= energi panas radiasi yang digunakan kolektor (J)

= energi radiasi yang diterima kolektor (J)

Perhitungan efisiensi termal kolektor surya Dik : = 232,57674 J

= 360 J

=

x 100%

= 64,60 %

Jadi dari perhitungan diatas diperoleh efisiensi termal kolektor surya sebesar 64,60 %.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari hasil rancang bangun kolektor ini adalah sebagai berikut:

1. Kolektor yang dirancang adalah kolektor tipe parabolik dengan bahan plat aluminium dengan luas penampang kolektor 0.5 dan absorber mengunakan karbon aktif serbuk sebanyak 10 kg .

2. Perancangan kolektor tipe parabolik pada mesin pendingin siklus adsorpsi dengan bahan kolektor aluminium dapat menyerap intensitas radiasi matahari sebesar 312,1776 J dan kehilangan panas sebesar 53,754 J.

3. Kolektor tipe parabolik memiliki efisiensi termal sebesar 64.60 %.

5.2 Saran

1. Untuk perancangan kolektor sebaiknya memperhatikan bahan, sambungan dan teknik pengelasan yang baik dan benar untuk memaksimalkan kinerja kolektor.

DAFTAR PUSTAKA

[ ] Austin, Keny. 2016. Rancang Bangun Mesin Pendingin Adsorpsi Tenaga Surya Dengan Adsorben Karbon Aktif Granular Dan Adsorbat Metanol. Skripsi. Fakultas Teknik Departemen Teknik Mesin USU. Medan.

[ ] Treybal, Robert. E. 1980. Mass-Transfer Operations. USA: McGraw-Hill.

[ ] Duffie, J.A dan W.A. Beckman. 1974. Thermal Processes. New York York:Wiley, Inter-Science Publicaions.

[ ] Sitorus, Tulus B., Ambarita, Himsar. 2017. A Study On Adsorption refrigerator Driven by Solar Collector Using Indonesian Activated Carbon. Journal of Engineering and Tecnological Sciences.

Vol.49, No.5.2017, 657-670.

[ ] ThePubCHemProject. 2004. Metanol. USA : National Center for Bioteknology Informations.

[ ] L. Wang, R.Z. Wang, R.G. Oliveira. 2007. A Review on Adsorption Working Pairs for Refrigerant, Renewable, And Sustainable Energy Review.

http://www.sciencedirect.com/science/articiple/pii/S1364032108000038 (diakses)

[ ] Islam, M.Parves, Morimoto, Tetsuo. 2016. Thermodynamic Performance

Of A Solar Driven Adsorption System.

http://www.researchgate.net/publication/309511343_Thermodynamic_perf ormances_of_a_solar_driven_adsorption_system (diakses)

[ ] Auroraris.2014. Adsorpsi Catatan Kuliah .

http://aurorarish.blogspot.com/2014/05/adsorpsi-catatan-kuliah.html (diakses)

[ ] Arso, Tumijan .2013. Air Tanah.

http://tumijanarso.blogspot.com/2013/05/a.html (diakses) [ ] Freehotwater.2010. Flat Plate Solar Collectors.

http://www.freehotwater.com/solar_thermal-101-flat-plate-solar-collectors/ (diakses)

[ ] Inforse. 2018. Solar Energy.

http://www,inforse.org/europe/dieret/Solar/solar.html#TOP (diakses) [ ] Alpha, Ismanto. 2009. Mechanical Engineering Ismanto Alpha’s.

http://ismantoalpha.blogspot.co.id/2009/12/macam-macamkolektor-surya.html (diakses)

[13] Freehotwater. 2010. Flat Plate Solar Colectors.

http://www.freehotwater.com/solar-thermal-101-flat-plate-solar-colectors [14] Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), 2010. Pemanfaatan Energi

Surya di Indonesia. Ditjen LPE-ESDM.

[15] Ginting, Ferdinand, (2008), Pengujian Alat Pendingin Sistem Adsorpsi Dua Adsorber Dengan Menggunakan Metanol 100ml Sebagai Refrigeran, Skripsi Fakultas Teknik Program Teknik Mesin, UI, Depok.

[16] Tulus B. Sitorus, Farel H.Napitupulu, Himsar A, 2016. Experimental Study Of Solar Refrigerator System Using Activated Alumina And Methanol Adsorptiom Pair. International Journal of Technology.

[17] Duffie, J.A., 2006. Solar Engineering of Thermal Processes, 3rd Edition, Wiley, Newyork.

[18] Tulus B. Sitorus. Syahrul Abda. Kinerja Kolektor Tipe Plat Datar Pada Mesin Pendingin Adsorpsi Tenaga Surya Di Kota Medan. Jurnal TeknoSains (2018).

[19] Tatangsma. 2015. Perbedaan Adsorpsi Fisik dan Adsorpsi Kimia http://tatangsma.com/2015/09/perbedaan-adsorpsi-fisik-dan-adsorpsikimia.html (diakses 30 Oktober 2019)

[20] Hendra, Ryan. 2008. Pembuatan Karbon Aktif Berbahan Dasar Batubara Indonesia dengan Metode Aktivasi Fisika dan Karakteristiknya. Skripsi.

Fakultas Teknik Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia. Depok.

[21] Mammoria D. Cita. 2016. Pembuatan Karbon Aktif dari Kulit Durian Sebagai Adsorben Zat Warna dari Limbah cair Tenun Songket dengan

Aktivator NaOH. Karya Tulis Ilmiah. Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Sriwijaya. Palembang.

[22] Incropera, Frank P at al, Fundamentals of Heat and Mass Transfer, Sixth edition, John Wiley & Sons Inc., New York (2007).

[23] Duffie, J.A and Beckman W.A. (2013). Solar Engineering of Thermal Processes.4rd Edition. A Wiley- Interscience Publication, New York:John Wiley and Son, Inc.

[24] Holman.J.P, Heat and Mass Transfer, Second Edition.,McGraw-Hill Series in Mechanical Engineering: New York, (2007).

[25] Ahablogweb. 2017. Kalor: Pengertian, Teori, Rumus, Satuan,Perpindahan.

http://www.ilmudasar.com/2017/10/Penge-Teori-Rumus-Satuan-Perpindahan-Kalor-adalah.html?m=1.

[26] Ecplaza. 2018. Refrigeration Alumunium Finned Evaporator.

http://www.ecplaza.net/offers/refrigeration-alumunium-finned-evaporator_7724407.

LAMPIRAN

DATA PENGUJIAN

Tabel A-1 Proses Pemanasan Awal Kolektor (29 Oktober 2019)

Waktu

Tabel A-2 Proses Adsorpsi Pertama (2 November 2019)

04:30 19,34 18,58 24,32 320 23,16 96,4 0,6

05:00 19,67 18,49 24,12 640 23,18 96,2 0,6

05:30 20,21 19,68 24,78 320 23,20 96,2 0,6

06:00 20,67 19,88 24,42 600 23,16 96,2 0,6

06:30 21,02 20,21 24,32 320 23,28 96,1 11,9

07:00 22,15 20,78 23,53 640 23,44 96 41,9

07:30 22,42 21,32 24,41 320 23,48 95,9 108,1

08:00 28,11 22,56 27,67 620 26,81 96,3 194,4

Tabel A-3 Proses Desorpsi Pertama (3 November 2019)

Tabel A-4 Proses Adsorpsi Kedua (3 November 2019)

05:00 21,78 21,36 24,12 340 24,12 96,3 0,6

05:30 21,65 21,51 24,78 640 24,00 96,4 0,6

06:00 21,58 21,49 24,42 300 23,88 96,7 0,6

06:30 21,69 21,56 24,32 600 23,90 96,9 13,1

07:00 21,87 21,59 23,53 300 24,36 96,9 45,6

07:30 22,34 21,89 24,41 600 24,96 96,3 79,4

08:00 25,05 22,79 25,47 300 25,55 95,5 115,6

Tabel A-5 Proses Desorpsi Kedua (4 November 2019)

Tabel A-6 Proses Adsorpsi Ketiga (4 November 2019)

05:00 23,05 21,36 24,34 320 24,29 96,8 0,6

05:30 22,81 21,51 24,88 640 24,31 96,7 0,6

06:00 22,53 21,49 24,34 340 24,12 96,9 0,6

06:30 22,76 21,56 24,54 620 24,24 97,0 11,9

07:00 22,97 21,59 25,03 300 24,77 96,9 36,9

07:30 23,39 21,89 26,43 600 25,89 96,5 111,9

08:00 26,54 22,79 28,45 320 27,38 95,0 168,1

Tabel A-7 Proses Desorpsi Ketiga (5 November 2019)

Dokumen terkait