• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA

3.2 Bahan dan Alat

Bahan utama berupa potongan kayu Cinnamomum sp. (C. burmanii, C. parthenoxylon, dan C. subavenium masing- masing satu pohon) sepanjang 60 cm dan juga daunnya, yang diperoleh dari kawasan hutan dan hutan rakyat di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Sumatera Barat (Tabel 1). Kayu digunakan untuk pengamatan ciri anatomi (pembuatan preparat sayat dan maserasi) serta uji pengeringan (termasuk KA dan BJ), sementara daun untuk pengecekan identitas botanis. Potongan kayu sampel diambil dari pohon yang masih berdiri pada jarak 30 cm di atas permukaan tanah. Adapun bahan kimia yang digunakan adalah asam asetat glacial, gliserin, alkohol, carboxylol, dan hidrogen peroksida.

Tabel 1 Jenis-jenis pohon sebagai bahan penelitian No. Nama Botanis Nama Daerah

Setempat Asal Tempat Tumbuh Diameter Pohon (cm) Perkiraan Umur Pohon (tahun) 1. Cinnamomum

burmani Blume Kayu manis

Kabupaten Solok, Sumatera Barat 16 10-15 2. Cinnamomum parthenoxylon Meissn Pakanangi Kabupaten Donggala, Sul-Teng 18 15-20 3. Cinnamomum subavenium Miq Aju cening/kayu manis Kabupaten Maros, Sul-Sel 23 20-25

Peralatan terbagi atas peralatan lapangan dan peralatan laboratorium. Peralatan lapangan berupa loupe, gergaji tangan, meteran, kamera, koran, plastik,

51 dan kertas alumunium foil, sementara peralatan laboratorium diantaranya adalah sliding mikrotom merk Reichert, mikroskop cahaya merk Nikon, gergaji tangan, parang, oven, timbangan dan cutter.

3.3 Pelaksanaan Penelitian

3.3.1 Pengambilan Bahan Contoh Uji Penelitian

Contoh uji untuk setiap jenis diambil dari satu buah pohon berdiri dan dicatat perkiraan umur beserta ukuran diameternya. Sepanjang 60 cm batang kayu diambil dari jarak 30 cm di atas pangkal pohon. Daun diambil untuk pengecekan identitas botanis. Pembuatan preparat sayat dan maserasi diambil dari contoh kayu teras. Pada permukaan batang yang baru ditebang segera dilapisi aluminium foil untuk menghindari penguapan. Batang dibagi menjadi 2 buah potongan. Pembuatan preparat sayat dan maserasi guna pengamatan struktur anatomi dibuat dari bagian kayu teras pada potongan pertama. Dari potongan kedua dibuat contoh uji kayu untuk pengukuran BJ, KA kayu segar, dan KA selama pengeringan alami. Proses pengambilan contoh uji dapat dilihat pada Gambar 1, 2, dan 3.

Pengamatan struktur anatomi kayu dilakukan dengan membuat slide mikrotom dan slide maserasi. Contoh uji pengukuran BJ rata dan KA rata-rata baik untuk kayu segar maupun kayu pengeringan dilakukan dengan tiga hingga 4 kali ulangan yang mewakili seluruh bagian batang (teras, peralihan teras ke gubal, dan gubal). Ulangan ini bergantung kepada kondisi bentuk dan diameter penampang lintang batang pohon, namun tetap diupayakan dapat mewakili bagian kayu teras, gubal, dan peralihan keduanya.

Contoh uji untuk pembuatan slide mikrotom berukuran 1 x 1 x 2 (cm), untuk pembuatan slide maserasi dibuat contoh uji sebesar batang korek api. Lembaran papan berukuran 2 x 10 x 50 (cm) dibuat untuk pengambilan contoh uji perhitungan BJ dan KA. Dari papan tersebut dibuat contoh uji KA kayu selama pengeringan berukuran 2 x 10 x 30 (cm) yang diambil pada jarak 7 cm dari masing- masing ujung, dan pada kedua ujungnya dilapisi alumunium foil untuk menghindari besarnya penguapan dari arah longitudinal. Contoh uji BJ serta KA kayu segar juga dibuat dari papan tersebut dengan ukuran 2 x 2 x 2 (cm).

52

Gambar 2 Cara pengambilan contoh uji preparat sayat dan maserasi pada kayu teras (T)

Keterangan: T = Bagian kayu teras

Gambar 3 Cara pengambilan contoh uji BJ dan KA kayu segar (2 x 2 x 2 cm), serta laju keluarnya air selama pengeringan udara (2 x 10 x 30 cm)

Gambar 1 Posisi contoh uji dalam batang pohon

60 cm 30 cm

5 cm

(potongan batang pertama)

55 cm

(potongan batang ke dua)

T dibuat papan 7 cm 30 cm 7 cm 10 cm 2 cm 2 cm dibuang Potongan ke dua Potongan pertama

Contoh uji pengeringan

Herbarium untuk pengecekkan dan penentuan nama botanis

53 Secara sistimatis kegiatan penelitian dapat digambarkan seperti dalam bagan alir berikut (Gambar 4):

INPUT ---PROSES --- OUTPUT OUTPUT

Gambar 4 Bagan alir penelitian Tiga Jenis Kayu Cinnamomum

Pengamatan Ciri Makroskopis dan Mikroskopis Kayu

Pengukuran Sifat Fisis Kayu • Asal tumbuh • Umur/diameter pohon • Ciri Umum • Ciri Anatomi: 1.Ciri diagnostik/kuantitatif melalui preparat sayat 2.Ciri kuantitatif (dimensi

sel) melalui preparat maserasi

• Pengukuran KA kayu segar

• Pengukuran BJ

• Pengukuran TJS

• Pengukuran laju keluarnya air dalam kayu di bawah dan di atas TJS selama pengeringan alami

1.Diperolehnya teknik pemilahan tiga jenis kayu Cinnamomum melalui perbedaan ciri umum dan ciri anatomi

2.Diketahuinya BJ, Titik Jenuh Serat (TJS), KA dan laju penurunan kadar air tiga jenis kayu Cinnamomum di bawah dan di atas TJS selama pengeringan alami

54

3.3.2 Identifikasi Herbarium

Material herbarium diperlukan guna mengecek nama botanis tumbuhan dari contoh sampel yang dikumpulkan. Hasilnya ditetapkan sebagai nama jenis contoh uji penelitian.

3.3.3 Pembuatan Preparat dan Pengamatan Struktur Anatomi

Contoh uji 1 x 1 x 2 (cm) direndam dalam larutan alkohol gliserin 1:1 selama satu minggu. Setelah lunak contoh disayat dengan mikrotom setebal 15- 25 mikron meliputi penampang lintang, radial dan tangensial. Sayatan yang baik dipilih dan dicuci dengan aquades lalu didehidrasi bertingkat dengan alkohol 25, 50, 75, 90%, dan alkohol absolut. Selanjutnya sayatan dibeningkan dengan cara direndam beberapa saat, berturut turut dalam karbolxylol dan toluena. Sesudah itu sayatan direkat dengan entelan (canada balsam) di atas gelas obyek dan siap untuk dilakukan pengamatan. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui ciri diagnostik (susunan dan bentuk) dan kuantitatif (frekuensi maupun dimensi) sel-sel penyusun kayu yang terdapat pada ke tiga bidang pengamatan.

Preparat maserasi dibuat guna pengamatan dimensi serat. Pembuatannya dilakukan menurut petunjuk Tesoro (1989). Contoh kayu sebesar batang korek api dipanaskan secara perlahan dalam tabung reaksi yang berisi larutan hidrogen peroksida dengan asam asetat glasial 1:1. Serat yang sudah terpisah dicuci bersih dengan air keran lalu diwarnai dengan safranin. Serat yang sudah diwarnai dimuat dalam ge las objek yang terlebih dahulu sudah ditetesi gliserin. Seratnya disebarkan merata lalu ditutup dengan gelas penutup. Sampai tahap ini preparat siap untuk diukur. Ciri kuantitatif berupa dimensi yaitu panjang serat, diameter serat dan diameter lumen diukur di bawah mikroskop.

Pengamatan struktur anatomi (diagnostik dan kuantitatif) didasarkan pada ciri mikroskopik untuk identifikasi kayu daun lebar (Wheeler et al., 1989). Klasifikasi kuantitatif sel berdasarkan Den Berger dalam Martawijaya et al, (2005). Ciri kuantitatif diamati 10 sampai 25 kali pengukuran, yaitu diameter pembuluh sebanyak 25 kali pengukuran, frekuensi pembuluh per mm2 sebanyak 10 kali pengukuran, frekuensi jari sebanyak 10 kali pengukuran, tinggi jari-jari sebanyak 25 kali pengukuran, panjang serat sebanyak 25 kali pengukuran,

55 diameter dan tebal dinding serat masing- masing 15 kali pengukuran. Hasil pengamatan dimasukkan pada daftar pengamatan ciri anatomi (Tabel 2).

Tabel 2 Contoh Daftar Pengamatan Ciri

3.3.4 Penetapan BJ Kayu

Contoh uji berukuran 2 x 2 x 2 (cm)diukur dimensi basahnya dengan kaliper untuk memperoleh volume basah (VK), lalu dimasukkan dalam oven suhu (103±2)ºC hingga beratnya konstan (BKT). BJ kayu dihitung dengan rumus:

BJ kayu = ? kayu / ? benda standar

? kayu = BKT / VK (

g/cm3

)

Dimana: ? = kerapatan

Penetapan BJ dilakukan 3-4 kali ulangan yang mewakili seluruh bagian batang (teras, peralihan teras ke gubal, dan gubal).

3.3.5 Penetapan TJS

TJS merupakan perbandingan antara susut volume total (dari basah ke kering tanur) dengan nilai BJ kayunya, sementara besar susut adalah

perbandingan selisih ukuran dimensi yang terjadi terhadap dimensi awalnya dalam persen. Susut volume (SV) dan TJS dihitung dengan rumus:

v 1. Batas lingkar tumbuh jelas 2. Batas l.t. tidak jelas

Porositas

3. Tata- lingkar 4. Semi tata- lingkar v 5. Baur

Sebaran pembuluh

6. Pita tangensial

v 7. Pola diagonal atau radial 8. Pola dendritik

Pengelompokan pembuluh

9. Hampir seluruhnya soliter

v 10. Berganda radial 4 atau lebih biasa dijumpai v 11. Bergerombol biasa dijumpai

56

100%

x

(cm)

VK

(cm)

VKT

(cm)

VK

(%)

SV =

TJS (%) =

BJ SV 3.3.6 Penetapan KA

Contoh uji 2 x 2 x 2 (cm) ditimbang berat basahnya (BB), kemudian dikeringkan dalam oven suhu (103±2)ºC hingga beratnya konstan lalu ditimbang (BKT). KA kayu dihitung dengan rumus:

KA (%) = x 100% (gr) tanur kering Berat (gr) tanur kering Berat -(gr) basah Berat

3.3.7 Penetapan Laju Keluarnya Air selama Pengeringan

Papan contoh 2 x 10 x 30 (cm) diletakkan dalam ruangan beratap dengan ventilasi yang cukup. Setiap hari perubahan suhu dan kelembaban sekitar dicatat dengan hygrometer yang diletakkan di sekitar ruangan, sementara penimbangan papan contoh dilakukan secara periodik yaitu dilakukan setiap hari bila penurunan beratnya masih cukup tinggi (selisih = 5 gr), dan tiap dua hari sekali apabila penurunan beratnya sudah cukup rendah (selisih < 5gr). Penimbangan dihentikan bila contoh uji diketahui telah mencapai KA setimbang dengan lingkungan sekitar yang ditandai dengan berat contoh uji yang tidak lagi menunjukkan penurunan yang berarti (selisih 1 hingga 0 gr). KA selama pengeringan udara dicari dengan rumus: KA (%) = x 100% (gr) tanur kering Berat (gr) tanur kering Berat -(gr) n ke hari pada Berat dimana : n = 0, 1, 2, 3, dst.

BKT dicari dengan cara memasukkan contoh uji (setelah selesai dikeringkan) dalam oven (103±2)ºC hingga beratnya konstan.

57 Laju keluarnya air dihitung dengan rumus:

a) Di atas TJS = n pengeringa Lama TJS KA -awal KA (% per hari) b) Di bawah TJS = n pengeringa Lama KAK -TJS KA (% per hari) 3.4 Analisis data

Data dimensi sel (pembuluh dan serat) yang diperoleh selanjutnya dianalisis secara kuantitatif dengan bantuan program MINITAB 14. Nilai yang diperoleh dinyatakan dalam bentuk selang penduga kepercayaan nilai tengah, yaitu x ± t

(0,025,db=n-1) x SE, dimana x adalah nilai rata-rata, t adalah nilai sebaran t-student pada taraf nyata a =5%, dan SE adalah standar eror rata-rata (Mattjik dan Sumertajaya, 2002).

58

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil identifikasi herbarium yang dilakukan mempertegas bahwa ketiga jenis kayu yang diteliti adalah benar Cinnamomum burmanii Blume, C. parthenoxylon Meissn., dan C. subavenium Miq.

4.1 Struktur Anatomi

4.1.1 Cinnamomum burmanii Blume

Ciri umum

Kayu: Lingkar tahun jelas, warna coklat kekuningan, beda warna antara kayu gubal dan kayu teras tidak jelas, tekstur agak halus dan merata, arah serat lurus, agak mengkilap, kesan raba agak licin, keras, bau harum kayu manis pada kayu yang masih segar. Kulit: Warna kelabu kehijauan, agak halus, ketebalan sekitar 3 mm.

Ciri anatomi

Batas lingkar tumbuh: jelas ditandai dengan perbedaan ketebalan dinding sel pada lapisan serat. Pembuluh: baur dengan frekuensi agak banyak, 16 per mm2, soliter 83% dan lainnya berganda radial 2(-3-4), ditemui bergerombol; bentuk umumnya bulat; panjang 531±41 (490- 572) mikron; ukuran diameter agak kecil, rata-rata 125±7 (118–132) mikron; bidang perforasi sederhana; noktah antar pembuluh selang-seling dengan diameter besar, rata-rata 11 mikron; noktah antar pembuluh dengan jari-jari dengan halaman yang sempit sampai sederhana, noktah bundar atau bersudut; tilosis biasa dijumpai. Trakeida vaskular tidak dijumpai. Parenkim: axial paratrakea sepihak hingga vasisentrik, parenkim axial apotrakea baur jarang; panjang untai 3-4 sel. Jari-jari: heteroseluler; dengan 1 jalur sel tegak dan atau sel bujur sangkar marjinal, terkadang sel baring, sel bujur sangkar dan sel tegak bercampur; sempit (-1)2 seri (29 mikron), pendek (627 mikron), frekuensi sangat banyak, 25 per mm. Serat: bersekat tidak dijumpai; serat dengan noktah sederhana sampai berhalaman sangat kecil, panjang 1455±46,17 (1409-1502) mikron, diameter 27,55±1,34 (26,20-28,89) mikron, tebal dinding 2,19±0,23 (1,95-2,42) mikron, ada penebalan ulir. Sel minyak/lendir: bergabung dengan parenkim aksial dan hadir di antara serat. Saluran interselular: tidak dijumpai. Inklusi mineral: tidak dijumpai.

59

4.1.2 Cinnamomum parthenoxylon Meissn

Ciri umum

Kayu: Lingkar tahun jelas, warna coklat kekuningan, beda warna antara kayu gubal dan kayu teras tidak jelas, textur agak kasar, arah serat lurus, mengkilap, kesan raba agak kesat, agak keras, bau harum pakanangi pada kayu yang masih segar. Kulit: berwarna hijau kelabu, permukaan kasar beralur dengan bintik-bintik (lentisel) yang jelas, ketebalan sekitar 4 – 6 mm

Ciri anatomi

Batas lingkar tumbuh: jelas ditandai perbedaan ketebalan dinding sel pada lapisan serat. Pembuluh: baur dengan frekuensi agak jarang, 7per mm2, soliter 78% dan lainnya berganda radial 2(-3) dan ada yang bergerombol; bentuk bulat; panjang 650±41,12 (609-691) mikron; diameter agak besar, rata-rata 182±11 (171-193) mikron; bidang perforasi sederhana; noktah antar pembuluh selang-seling dengan diameter sedang, rata-rata 9 mikron; noktah antar pembuluh dengan jari-jari dengan halaman yang sempit sampai sederhana; noktah horisontal atau vertikal; tilosis tidak dijumpai. Parenkim: axial paratrakea vasisentrik, parenkim axial apotrakea tersebar jarang; panjang untai 4-7 sel. Jari- jari: heteroseluler; 1 jalur sel tegak dan atau sel bujur sangkar marjinal; agak sempit (1)-2 seri (33 mikron), luar biasa pendek (308 mikron), frekuensi agak banyak, 9 per mm. Serat: bersekat dijumpai; serat tanpa sekat dijumpai; pita serat mirip parenkim selang-seling dengan serat biasa; serat dengan noktah sederhana sampai berhalaman sangat kecil, panjang 1318±30 (1288-1349) mikron, diameter 40±1 (39-41) mikron, tebal dinding 2,5±0,18 (2,68-2,31) mikron. Sel minyak/lendir: bergabung dengan jari-jari; sel minyak/lendir bergabung dengan parenkim aksial. Inklusi mineral: tidak dijumpai.

4.1.3 Cinnamomum subavenium Miq

Ciri umum

Kayu: Lingkar tahun jelas, warna coklat kekuningan, perbedaan antara warna kayu gubal dan kayu teras tidak jelas, tekstur halus, arah serat lurus, keras,

60 mengkilap, bau kayu segar harum kayu manis, kesan raba agak kesat. Kulit: warna kelabu kehijauan, agak halus, ketebalan sekitar 3 mm.

Ciri anatomi

Batas lingkar tumbuh: jelas ditandai dengan adanya perbedaan ketebalan dinding sel pada lapisan serat. Pembuluh:baur dengan frekuensi agak banyak 16 per mm2, soliter 87% dan lainnya berganda radial 2 (-3); bentuk umumnya bulat; panjang 440±26 (414-466) mikron; ukuran diameter agak kecil, rata-rata 128±7 (121-135) mikron; bidang perforasi sederhana; noktah antar pembuluh selang-seling bersegi banyak dengan diameter kecil, rata-rata 7 mikron; noktah antar pembuluh dengan jari-jari dengan halaman yang sempit sampai sederhana; noktah horisontal atau vertikal; tilosis umum dijumpai. Trakeida vaskular tidak dijumpai. Parenkim: axial paratrakea sepihak dan vasisentrik, parenkim axial apotrakea tersebar jarang; panjang untai 4 (-7) sel. Jari-jari: heteroseluler; dengan 1 jalur sel tegak dan atau sel bujur sangkar marjinal; agak lebar 1-3 seri (55 mikron), sangat pendek (610 mikron), frekuensi agak banyak, 9 per mm. Serat: bersekat dijumpai, serat tanpa sekat dijumpai; serat dengan noktah halaman yang jelas, panjang 1242±33 (1208-1274) mikron, diameter 27,12±1,54 (25,57-28,66) mikron, tebal dinding 2,07±0,23 (1,84-2,30) mikron. Sel minyak/lender: bergabung denganjari-jari dan parenkim aksial. Inklusi mineral: tidak dijumpai.

Bentuk pohon dan batang, serta foto mikroskopis pada ketiga bidang sayat masing- masing jenis dapat dilihat pada Gambar 5 hingga 12.

61

a

Gambar 5 Bentuk pohon dan batang C. burmaniiBlume

Keterangan: (a) dan (b) lokasi tumbuh, (c) bentuk batang dan tajuk pohon, (d) kayu segar bagian dalam batang,(e) tumpukan batang yang sudah kering

a b c

d e

Gambar 6 Bentuk pohon dan batang C.parthenoxylon Meissn.

Keterangan: (a) tajuk, (b) batang hasil pertunas an pohon yang tumbang (panah), (c) lentisel pada permukaan kulit, (d) alur pada kulit luar (e) potongan lintang batang, (f) dan (g) potongan akar dan tunggak

a b c

62

Gbr 1 C. burmanii (50 x)

sel pembuluh/pori baur, soliter dan gandaan 2(-3-4), bergerombol ada, parenkim sepihak,

Gambar 8 Penampang lintang

Gambar 7 Bentuk pohon dan batang C. subaveniumMiq (kayu manis/ Aju cening)

Keterangan: (a) tajuk dan batang pohon, (b) daun, (c) tunggak yang mudah bertunas, (d) dan (e) permukaan potongan lintang batang

e

c

a b

d

C. burmanii (50 x) sel pembuluh/pori baur, soliter dan gandaan 2(-3-4), bergerombol ada, parenkim sepihak, vaskisentrik, tersebarjarang

C. parthenoxylon (50 x) sel pembuluh/pori baur, soliter dan gandaan radial 2(-3), parenkim

vaskisentrik dan tersebar

C. subavenium (50 x) sel pembuluh/pori baur, soliter dan gandaan radial 2(-3), parenkim sepihak, vaskisentrik, tersebar jarang

63 Gambar 9 Penampang radial

Gambar 10 Penampang tangensial

C. burmanii (50 x) jari-jari heteroseluler dgn 1 jalur sel tegak/sel bujur sangkar marjinal, terkadang sel baring, sel bjr skr dan/sel tegak bercampur, sel minyak/lendir bergabung dgn parenkim

C. parthenoxylon (50 x) sel jari-jari heteroseluler dgn 1 jalur sel tegak atau sel bujur sangkarmarjinal, sel minyak/lendir

bergabung dgn parenkim aksial

C. subavenium (100 x) sel jari-jari heteroseluler dgn 1 jalur sel tegak dan/sel bujur sangkar marjinal, minyak/lendir bergabung dgn parenkim aksial

C. burmanii (50 x) sel jari-jari dgn lebar (-1)2 seri, parenkim 3-4 untai/utas

C. parthenoxylon (50 x) sel jari-jari dgn lebar (-1)2 seri, parenkim 4-7 untai/utas

C. subavenium (100 x) Sel jari-jari dgn lebar 1-3 seri, parenkim 4(-7) untai/utas

64 Gambar 11 Noktah antar pembuluh dan serat bersekat (pada penampang

tangensial) C. burmanii (100 x) Noktah antar pembuluh selang-seling C. parthenoxylon (100 x) Noktah antar pembuluh selang-seling, dan ada serat bersekat

C. subavenium(200 x) Noktah antar pembuluh selang-seling bersegi banyak, dan ada serat bersekat

Gambar 12 Noktah antar pembuluh dengan jari-jari (pada penampang radial)

C. burmanii (200 x)

Noktah antar pembuluh dengan jari-jari dengan halaman yang sempit sampai sederhana; noktahbundar atau bersudut

C. parthenoxylon (200 x)

Noktah antar pembuluh dengan jari-jari dengan halaman yang sempit sampai sederhana; noktah horisontal atau vertikal

65 Perbandingan ciri anatomi (mikroskopis) dari ketiga jenis kayu Cinnamomum dituangkan dalam Tabel 3.

Tabel 3 Perbandingan ciri anatomi

Ciri anatomi Cinnamomum

burmanii Blume

Cinnamomum

parthenoxylon Meissn

Cinnamomum

subavenium Miq

A. Batas lingkar tumbuh ? ? ?

B. Pembuluh

1. Bentuk bulat bulat bulat

2. Persen soliter (%) 83 78 87

3. Pembuluh gandaan 2(-3-4) 2(-3) 2(-3)

4. Diameter (mikron) agak kecil, 125 ± 7 Agak besar, 182 ± 11 Agak kecil, 128 ± 7 5. Frekuensi per mm 2 Agak banyak, 16 Agak jarang, 7 Agak banyak,16

6. Panjang (mikron) 531 ± 41 625 ± 41 470 ± 26

7. Noktah antar pembuluh a. Susunan

selang-seling selang-seling selang-seling, bersegi banyak b. Diameter (mikron) Besar, 11 sedang, 9 kecil, 7

8. Noktah antar pembuluh

dengan jari-jari dengan halaman yang sempit sampai sederhana;ceruk bundar

atau bersudut

dengan halaman yang sempit sampai sederhana;

noktah horisontal atau vertikal

dengan halaman yang sempit sampai sederhana; noktah horisontal atau vertikal 9. Tilosis biasa + ? + 10. Endapan ? ? ? C. Parenkim

1. Paratrakea paratrakea sepihak,

vaskisentrik paratrakea vaskisentrik

paratrakea sepihak, vaskisentrik

2. Apotrakea baur jarang baur jarang baur jarang

3. Panjang utas sel 3-4 4-7 4(-7)

4. Parenkim

fusiform/gelendong ? ? ?

D. Jari-jari

1. Homoselular ? ? ?

2. Heteroselular + + +

3. Lebar (seri) / (mikron) sempit, (1)-2/29 (1)-2/33 1-3/56 4. Tinggi rata-rata (mikron) sangat pendek, 627 luar biasa pendek, 308 sangat pendek, 610 5. Tinggi maksimum

(mikron) 996

490

810 6. Frekuensi per mm 2 sangat banyak, 25 agak banyak, 9 Agak banyak, 9

E. Serat (Serabut)

1. Bersekat ? + +

2. Tanpa sekat + + +

3. Noktah halaman + + +

4. Tebal dinding (mikron) 2,19 ± 0,23 2,5 ± 0,18 2,07 ± 0,23 5. Diameter (mikron) 27,55 ± 1,34 40 ± 1,17 27,12 ± 1,54

6. Panjang (mikron) 1455 ± 46 1 318 ± 30 1 242 ± 33

F. Sel minyak + + +

G. Inklusi mineral ? ? ?

66 Ketiga jenis ini memiliki persamaan ciri umum berupa warna kayu coklat kekuningan; tidak jelas batas antara kayu teras dan kayu gubal; serat kayu lurus hingga berpadu; tekstur kayu agak halus dan biasanya mengeluarkan bau harum; lingkar tumbuh umumnya jelas.

Persamaan ciri anatomi diantara ketiga jenisnya yaitu pori tersebar, soliter dan ganda radial 2(-3); bidang perforasi sederhana; noktah antar pembuluh susunannya selang-seling; parenkim axial paratrakea sepihak hingga vasisentrik (selubung), parenkim axial apotrakea baur jarang; jari-jari heteroseluler; serat dengan noktah sederhana sampai berhalaman sangat kecil; dan dijumpai sel minyak/lendir. Sebagian besar persamaan ciri mikroskopis tersebut juga terdapat pada diskripsi anatomi jenis C. iners, C. porrectum, C. sintoc dan C. verum dalam Lemmens (1995), disebutkan bahwa jenis-jenis tersebut memiliki ciri mikroskopis batas lingkar tumbuh tidak jelas hingga samar, susunan pembuluh baur, frekuensi pembuluh 20-50-/mm2, pengelompokan pembuluh soliter dan ganda radial 2-3(-4), rata-rata diameter tangensial 80-170 (-200) mikron, bidang perforasi sederhana, noktah antar pembuluh selang-seling, tilosis biasanya ada, parenkim jarang hingga banyak, vaskisentrik hingga aliform; parenkim apotrakeal baur, jari-jari 2-3(-5) seri, heteroseluler dengan 1(-2) jalur sel tegak hingga sel bujur sangkar marjinal. Menurut Kikata et al (2002), pada C. porrectum ditemukan parenkim apotrakea baur, vaskisentrik dan jarang aliform; jarang yang memiliki lingkar tumbuh jelas, memiliki bau harum; serat jarang bersekat dengan noktah sederhana sampai berhalaman sempit; sel minyak/lendir berasosiasi dengan parenkim axial atau jari-jari. Dalam Martawijaya et al (2005) disebutkan bahwa C. parthenoxylon memiliki pori soliter dan bergabung radial 2-4, kadang bergerombol; parenkim jarang hingga banyak, selubung lengkap, terkadang parenkim terminal.

Perbedaan ciri anatomi dapat dilihat melalui susunan noktah antar pembuluh selang-seling yang bersegi banyak, serta rata-rata diameter dan panjang pembuluh masing- masing 131 mikron dan 470 mikron yang hanya ditemui pada C. subavenium. Sedangkan kedua jenis lainnya dapat dibedakan diantaranya melalui bentuk noktah antar pembuluh dengan jari-jari bundar atau bersudut, komposisi jari-jari heteroselular yang terkadang dijumpai sel baring dan sel bujur sangkar/sel tegak bercampur, serta tidak ditemuinya serat bersekat pada C. burmanii, pada C.

67 parthenoxylon ditemukan rata-rata diameter dan panjang pembuluh masing-masing sebesar 172 mikron dan 625 mikron, serta tidak ditemui tylosis. Dari persamaan dan perbedaan ciri struktur anatomi dapat dibuat kunci identifikasi seperti tertera pada Tabel 4.

Tabel 4 Kunci identifikasi tiga jenis Cinnamomum

1

Susunan pori tersebar, soliter dan ganda radial 2(-3); bidang perforasi sederhana; noktah antar pembuluh susunannya selang-seling; parenkim axial paratrakea sepihak hingga vaskisentrik (selubung), parenkim axial apotrakea baur jarang; jari-jari heteroseluler; serat dengan noktah sederhana sampai berhalaman sangat kecil; dijumpai sel minyak/lendir yang bergabung dengan parenkim aksial

2

2A

Diameter rata-rata pembuluh 125 mikron, panjang rata-rata pembuluh 531 mikron, terdapat tilosis biasa; serat tanpa sekat, tebal rata-rata dinding serat 2,19 mikron, panjang rata-rata serat 1455 mikron; komposisi jari-jari heteroseluler dengan 1 jalur sel tegak dan atau sel bujur sangkar marjinal, terkadang sel baring, sel bujur sangkar dan sel tegak bercampur; noktah antar pembuluh dengan jari-jari dengan halaman yang sempit sampai sederhana, noktah bundar atau bersudut

Cinnamomum burmanii Blume

2B

Komposisi jari-jari heteroseluler dengan 1 jalur sel tegak dan atau sel bujur sangkar marjinal; noktah antar pembuluh dengan jari-jari dengan halaman yang sempit sampai sederhana, noktah horisontal atau vertikal

3

3A

Diameter rata-rata pembuluh 182 mikron, panjang rata-rata pembuluh 650 mikron, tilosis tidak ada; serat bersekat, tebal rata-rata dinding serat 2,5 mikron, panjang rata-rata serat 1318 mikron

Cinnamomum parthenoxylon

Meissn

3B

Diameter rata-rata pembuluh 128 mikron, panjang rata-rata pembuluh 440 mikron; tilosis ada; noktah antar pembuluh susunannya selang-seling, bersegi banyak; serat bersekat, tebal rata-rata dinding serat 2,07 mikron, panjang rata-rata serat 1242 mikron

Cinnamomum subavenium Miq

68

4.2 BJ, TJS, KA dan Laju Pengeringan Udara

BJ, KA, TJS dan lamanya waktu pengeringan hingga tercapai KAK dengan lingkungan sekitar pada suhu antara 26-27ºC dan kelembaban antara 79-73%,

Dokumen terkait