• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bahan untuk membuat batik meliputi mori batik, lilin batik, zat warna dan zat pembantu untuk batik.

12.3.1 Kain untuk Batik

Kain sebagai bahan yang akan dibuat batik disebut mori, muslim atau cambric. Kata mori berasal dari “Bombyx mori” yaitu jenis ulat sutera yang menghasilkan sutera putih dan halus, sedang kain putih untuk batik sifat-sifatnya seperti kain sutera tersebut. Muslim berasal dari “muslin” kependekan dari “moussuline” yaitu nama semacam kain yang sangat halus, terbuat dari sutera atau katun. Sedang cambric artinya “fine linnen” atau kain batis, yaitu kain putih yang ringan dan halus.

Berdasarkan kehalusannya mori dibedakan dalam empat golongan yaitu : - Mori primissima merupakan golongan mori yang paling halus.

- Mori prima, merupakan golongan mori yang kedua sesudah primissima, mori golongan ini digunakan untuk batik halus dan batik cap.

- Mori biru, merupakan mori kualitas ketiga, biasanya untuk batik kasar dan sedang.

- Kain grey atau blaco, adalah kategori bahan batik kualitas kasar. - Kain sutera, merupakan bahan kain untuk batik.

Batik dari kain sutera biasanya untuk batik halus dan harganya mahal.

12.3.2 Malam / Lilin

Malam batik adalah bahan yang digunakan untuk menutup permukaan kain menurut desain sehingga permukaan yang tertutup tersebut menolak zat warna yang diberikan pada kain. Malam batik terdiri dari campuran beberapa bahan pokok malam yaitu gondorukem, damar/mata kucing, parafin, microwax, lemak binatang minyak kelapa, malam tawon dan malam lanceng. Jumlah dan perbandingan pemakaiannya bervariasi tergantung tujuan penggunaanya. Pada akhir proses pembuatan batik, seluruh lilin batik dihilangkan dari permukaan kain, dengan cara kain tersebut dimasukkan kedalam bak yang berisi air panas, sehingga seluruh lilin batik lepas. Lilin batik pada bak disaring kemudian didinginkan sehingga akan terbentuk lilin batik yang membeku. Lilin batik sisa lorotan biasanya dipakai untuk menutup batik yang disebut tembokan yaitu menutup kain batik secara keseluruhan.

Sifat-sifat pokok malam batik adalah sebagai berikut. 1. Malam tawon

Disebut juga kote atau malam klanceng berwarna kuning suram, mudah meleleh, titik didihnya rendah 59oC, mudah melekat pada kain, tahan lama, tak berubah oleh iklim, dan mudah dilepaskan, penggunaannya banyak dicampurkan pada lilin klowong.

2. Gondorukem

Berasal dari pinus merkusu yang telah dipisahkan terpentin dan airnya. Gondorukem dalam perdagangan disebut dengan gondo, pabrik pengolahan gondo tersebar di daerah Pekalongan, Pemalang, Ponorogo dan sebagainya. Dalam pembatikan dikenal beberapa jenis gondorukem seperti gondorukem Amerika, Hongkong, Aceh, dan Gondorukem Pekalongan.

Sifat–sifat gondorukem yaitu :

- Titik lelehnya agak tinggi sehingga memerlukan waktu yang lama untuk melelehkannya

- Tidak tahan alkali,

- Mudah menembus kain dalam keadaan encer - Mudah patah setelah dingin dan melekat - Titik lelehnya 70oC - 80oC

Penggunaannya dicampurkan pada malam klowong sehingga menjadi lebih keras dan tidak mudah membeku.

Diambil dari pohon shoria apec, langsung dipecah-pecah menjadi lebih kecil. Sifatnya sukar meleleh, lekas membeku dan tahan alkali, penggunaannya sebagai campuran malam batik agar malam dapat membentuk bekas yang ajam dan melekat dengan baik.

4. Parafin, atau malam BPM

Berwarna putih atau kuning muda, mempunyai daya tolak tembus basah yang baik, mudah encer dan cepat membeku, daya lekat kecil, mudah lepas dan titik lelehnya rendah. Penggunaannya dalam campuran malam batik, agar malam mempunyai daya tahan tembus basah yang baik dan mudah lepas pada waktu dilorod.

5. Microwax, atau malam mikro

Adalah jenis parafin yang lebih halus, warnanya kuning muda, sukar meleleh, mudah lepas dalam rendaman air, sukar menembus kain dan tahan alkali, penggunaannya dalam campuran malam batik sebagai malam tembok atau campuran malam klowong terutama untuk batik halus.

6. Lemak binatang/kendal, atau gajih

Disebut juga lemak, warnanya seperti mentega, mudah menjadi encer, penggunaanya sebagai campuran malam batik dalam jumlah kecil dan berfungsi untuk menurunkan titik leleh, membuat lemas dan mudah lepas pada waktu dilorod.

7. Campuran lilin batik

Lilin batik terdiri dari campuran bahan-bahan pokok lilin batik, dengan perbandingan sedemikian rupa sehingga mencapai sifat – sifat yang dikehendaki seperti daya tahan tembus, kebasahan, lemas dan fleksibel, dan tidak mudah pecah, dapat membuat garis motif yang tidak mudah pecah/tajam, mudah dihilangkan kembali dalam pemanasan.

Cara membuat campuran lilin batik dilakukan dengan memperhatikan hal berikut :

- Bahan batik yang mempunyai titik leleh tinggi, dilelehkan terlebih dahulu, kemudian berturut – turut yang lebih rendah.

- Dalam pengerjaan mencampur ini, setelah semua bahan–bahan pokok dimasukkan dan menjadi cair, diaduk dengan baik dan rata agar campuran benar–benar homogen.

- Campuran lilin yang masih cair disaring, kemudian dicetak sesuai ukuran yang dinginkan.

Contoh – contoh campuran lilin batik antara lain : 1. Lilin tembokan

1 bagian malam lanceng 2 bagian lilin parafin putih 2. Lilin batik klowongan biasa

1 bagian malam lanceng ½ bagian lilin lorotan

2 bagian parafin 3. Lilin batik klowongan

1 bagian malam lanceng 1 bagian lilin lorotan 2 bagian parafin

4. Lilin batik untuk cecek/isen 1 bagian malam lanceng 1 bagian gajih

1 bagian parafin

5. Lilin batik klowongan dari Pekalongan 10 bagian malam lanceng

5 bagian gajih 1 bagian parafin

Campuran diatas tidak baku tergantung daerah dan pengalaman dari pembatik.

12.3.3 Zat Warna Batik

Tidak semua zat warna dapat digunakan untuk mewarnai batik, hal ini disebabkan karena pewarnaan batik dikerjakan tanpa pemanasan karena batik menggunakan lilin dan tidak tahan terhadap pemanasan. Ditinjau dari asalnya terdapat zat warna alam yang berasal dari tumbuhan dan binatang serta zat warna sintetik atau buatan.

1. Zat warna alam dan penggunaannya.

Pewarnaan batik dapat menggunakan zat warna alam. Penggunaan zat warna alam untuk batik sekarang jarang dilakukan karena ada beberapa alasan diantaranya adalah :

- Sulit diperoleh - Kadarnya tidak tetap - Warnanya suram - Jumlah terbatas

- Tidak bisa untuk produksi masal - Ketahanan luntur kurang

Penggunakan zat warna alam biasanya untuk batik yang ekslusif dan tidak dalam produksi masal.

Zat warna alam yang bisa digunakan diperoleh dari

- Bagian tumbuh – tumbuhan seperti akar, batang, kulit, daun , bunga - Dari binatang seperti getah buang.

Contoh zat warna alam tersebut adalah : - Kulit pohon nila

- Kulit pohon saga - Akar mengkudu - Kayu laban - Kunir - Daun the

- Kembang palu - Sari kuning

- Kayu mundu, dsb. 2. Zat warna sintetik

Penggunaan zat warna sintetik untuk batik pemakaiannya cukup luas dibandingkan dengan zat warna alam. Zat warna yang digunakan dipilh yang pemakaiannya dingin sehingga tidak melelehkan lilin batik. Penggunaan zat warna sintetik untuk batik tahapannya sama dengan untuk proses pencelupan. Zat warna sintetik yang dapat digunakan antara lain :

- Zat warna bejana - Zat warna bejana larut - Zat warna naftol - Zat warna rapid

- Zat warna reaktif dingin

Dokumen terkait