• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bahan Bakar

Dalam dokumen BAB II LANDASAN TEORI (Halaman 23-28)

2.4.1. Bahan Bakar Minyak (

Bahan bakar bensin

dilakukan pemasakan pada temperatur tertentu. Dilihat dari asalnya minyak bumi termasuk sumber tenaga yang tidak dapat diperbaharui.

Karena minyak bumi tersebut berasal dari sisa yang telah mati dan tertimbun berjuta

Di dalam minyak mentah terkandung campuran hidrokarbon, sulfur, oksigen, dan nitrogen. Minyak mentah nantinya dilakukan

Komponen Rear Parts (bagian belakang).

Komponen rear parts terletak pada bagian belakang mobil, seperti : tangki LGV, filler valve, dan LGV service line

Gambar 2.15. Komponen rear parts

Bahan Bakar.

Bahan Bakar Minyak (Bensin).

Bahan bakar bensin termasuk golongan minyak bumi yang telah dilakukan pemasakan pada temperatur tertentu. Dilihat dari asalnya minyak bumi termasuk sumber tenaga yang tidak dapat diperbaharui.

Karena minyak bumi tersebut berasal dari sisa-sisa tumbuhan atau fosil mati dan tertimbun berjuta-juta tahun lamanya.

Di dalam minyak mentah terkandung campuran hidrokarbon, sulfur, oksigen, dan nitrogen. Minyak mentah nantinya dilakukan

gian belakang mobil, ine.

rear parts

termasuk golongan minyak bumi yang telah dilakukan pemasakan pada temperatur tertentu. Dilihat dari asalnya minyak bumi termasuk sumber tenaga yang tidak dapat diperbaharui.

sisa tumbuhan atau fosil juta tahun lamanya.

Di dalam minyak mentah terkandung campuran hidrokarbon, sulfur, oksigen, dan nitrogen. Minyak mentah nantinya dilakukan

refining (pemasakan) untuk menghasilkan berbagai produk yang

digunakan sebagai energi. Seperti beberapa contoh yang sering dikenal oleh masyarakat umum, yaitu : Premium (oktan 88), Pertamax (oktan 92), dan Pertamax Plus (oktan 95).

Adapun sifat-sifat dari bahan bakar minyak antara lain adalah : a. Angka oktan.

Adalah suatu angka yang menyatakan kemampuan bahan bakar minyak dalam menahan tekanan kompresi untuk mencegah bensin terbakar sebelum busi menyala (mencegah detonasi) di dalam bensin.

Angka oktan mewakili suatu perbandingan antara normal heptana yang memiliki angka oktan 100. Angka oktan diperlukan karena sangat berhubungan dengan kemajuan teknologi permesinan yang punya kecenderungan menaikkan perbandingan kompresi untuk meningkatkan power output, jadi diperlukan bensin dengan angka oktan yang tinggi.

b. Kemudahan menguap (Volatility).

Volatility menjadi salah satu pertimbangan penting dalam pemilihan bahan bakar karena berkenaan dengan pembentukan campuran antara bahan bakar dan udara di dalam karburator. Mudah tidaknya bahan bakar untuk menguap akan mempengaruhi performa mesin karena volatility menentukan kemudahan starting.

Sifat bahan bakar yang berhubungan erat dengan volatility adalah titik nyala (flash point). Titik nyala didefinisikan sebagai temperatur minimal cairan dimana pada temperatur tersebut cairan

menghasilkan sejumlah uap yang dapat membentuk campuran dengan udara sehingga mampu terbakar. Titik nyala yang tinggi akan menghambat penguapan dan menyebabkan cold starting yang sulit.

c. Spesific Gravity (SG).

Adalah suatu angka yang menyatakan perbandingan berat dari bahan bakar minyak pada temperatur tertentu terhadap air pada volume dan temperatur yang sama.

Penggunaan berat jenis adalah untuk mengukur berat atau massa minyak bila volumenya diketahui. Bahan bakar minyak umumnya memiliki SG antara 0,69 - 0,96.

d. Nilai kalor.

Adalah suatu angka yang menyatakan jumlah panas / kalori yang dihasilkan dari proses pembakaran sejumlah tertentu bahan bakar dengan udara.

Nilai kalor bahan bakar minyak umumnya antara 10.160 - 11.000 Kkal/Kg. Nilai kalor berbanding terbalik dengan SG. Pada volume yang sama, semakin besar berat jenis suatu bahan bakar minyak, semakin rendah nilai kalornya. Nilai kalor diperlukan karena dapat digunakan untuk menghitung jumlah konsumsi bahan bakar minyak yang dibutuhkan mesin dalam suatu periode.

e. Kandungan belerang.

Semua bahan bakar minyak mengandung beleran dalam jumlah yang sangat kecil, walau demikian berhubung belerang ini tak diharapkan karena sifatnya yang merusak, maka pembatasan dari

jumlah belerang dalam bahan bakar minyak adalah sangat penting dalam spesifikasi belerang. Hal ini karena selama proses pembakaran, belerang teroksidasi oleh oksigen menjadi dioksida (SO2) dan belerang trioksida (SO3). Oksida belerang ini bila kontak dengan air dapat menjadi bahan yang merusak / korosif terhadap logam-logam yang ada dalam ruang bakar.

f. Tekanan uap.

Tekanan uap menunjukkan tekanan dimana bahan tersebut akan menguap pada suatu ruang tertutup, pada suatu suhu tertentu. Hal ini penting karena berhubungan dengan :

1. Keamanan transportasi.

2. Kantong-kantong uap pada saluran bahan bakar.

3. Kemampuan untuk mudah dinyalakan pada motor.

Tekanan uap biasanya diukur pada 100°F untuk bahan bakar minyak yang volatil dan tidak kental.

g. Titik didih (boiling point).

Adalah temperatur dimana bahan tersebut mendidih pada tekanan atmosfer.

h. Warna.

Warna dari produk minyak bumi menunjukkan derajat proses pemurniannya, selain itu minyak dengan titik didih yang berbeda akan memberi warna yang berbeda.

i. Getah / gum.

Getah yang terkandung dalam bahan bakar minyak harus diketahui karena deposit getah dapat menyumbat saluran bahan bakar.

2.4.2. Bahan Bakar Gas (LGV).

LGV merupakan pengembangan dari bahan bakar Liquefied Petroleum Gas (LPG) dengan nilai oktan 98, yaitu dengan mengubah komposisi perbandingan antara kadar Propana (C3) dan Butana (C4) dalam LPG. Peningkatan kadar propana (C3) dalam LGV akan dapat memperbaiki nilai kalor pembakaran bawah (LHV) hingga mencapai 46,4 MJ/Kg, sehingga jika dibandingkan dengan bensin (LHV = ± 42,8 MJ/Kg), LGV akan memberikan energi per satuan berat yang lebih besar.

Jika diasumsikan efisiensi thermal yang terjadi tetap, maka daya yang diperoleh akan menjadi lebih tinggi. Atau jika kebutuhan daya sudah tertentu (operasi kendaraan yang identik) maka kebutuhan bahan bakar akan menjadi lebih hemat (dalam satuan massa).

Komposisi C3 dalam LGV akan dibuat lebih banyak daripada C4, maka kemungkinan seluruh atom karbon (C) bereaksi habis dengan oksigen akan lebih besar, sehingga kemungkinan akan sangat sedikit terbentuk unsur CO. Disamping itu dengan sedikitnya atom C dan berlebihnya udara dalam bahan bakar (dimana 20% - nya adalah oksigen), maka kemungkinan terbentuknya senyawa HC juga akan berkurang. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa LGV akan

menghasilkan emisi gas buang CO dan HC yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan bensin (C6+).

Secara garis besar LGV memiliki sifat-sifat sebagai berikut : Berat jenis gas LGV lebih besar dari udara, yaitu :

- Butana mempunyai berat jenis dua kali berat jenis udara.

- Propana mempunyai berat jenis satu setengah kali berat udara.

Tidak mempunyai sifat pelumasan terhadap metal.

Merupakan Solvent yang baik terhadap karet, sehingga perlu diperhatikan terhadap kemasan atau tabung yang digunakan.

Tidak berwarna baik berupa cairan maupun dalam bentuk gas.

Tidak berbau. Sehingga untuk kesalamatan, LGV komersial perlu ditambah zat odor, yaitu Ethyl Mercaptane yang berbau menyengat seperti petai.

Tidak mengandung racun.

Bila menguap di udara bebas akan membentuk lapisan karena kondensasi sehingga adanya aliran gas.

Setiap kilo gram LGV cair dapat berubah menjadi kurang lebih 500 liter gas LGV.

Dalam dokumen BAB II LANDASAN TEORI (Halaman 23-28)

Dokumen terkait