BAB 4. METODE PENELITIAN
A. Bahan dan Alat Penelitian
Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah daun, batang, dan kulit batang Litsea angulata yang diambil dari Hutan Pendidikan Fahutan Unmul Samarinda. Bahan kimia yang digunakan meliputi: natrium sulfat (Na2SO4), air, aquades, n-hexane, etanol 96%, air laut, gallic acid, larva Arthemia salina, 1-naphtol, kloroform, asam sulfat (H2SO4) 85%, asam sulfat (H2SO4) pekat, asam klorida (HCl) pekat, HCl 1%, HCl 2N, natrium hidroksida (NaOH) 1%, asam asetat anhidrid, timbal asetat ((CH3COO)2Pb 1%, bismut (III) nitrat, dan kalium iodida.
2. Peralatan yang Digunakan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah parang, beaker glass, aluminium foil, kantong plastik, tempat menjemur sampel, timbangan digital, botol timbang, oven, tabung reaksi, rak tabung reaksi, timbangan analitik, botol vial, pipet tetes, refraktometer, desikator, alat suling air dan uap, tabung erlenmeyer, corong, sarung tangan, labu pemisah, plastic wrap, tissue, kertas label, gelas ukur, mikropipet, ultrasonic cleaner, spatula, tip kuning, biru dan putih, incubator, kalkulator, alat tulis, dan alat dokumentasi.
8 B. Prosedur Penelitian
Gambar 1. Alur penelitian
1. Pengambilan Sampel
Sampel tumbuhan diambil dari Hutan Pendidikan Fahutan Unmul Samarinda, Kalimantan Timur pada bulan Juni 2017. Sampel daun, batang dan kulit batang diambil minimal 3-5 kg. Sampel dibawa menggunakan kantong plastik menuju Laboratorium Kimia Hasil Hutan untuk dikeringanginkan selama ±24 jam untuk
Uji karakteristik minyak atsiri
- Uji toksisitas - Analisis fitokimia Pengambilan sampel
Perajangan sampel
Pengeringan sampel
Penyulingan sistem kukus
Pengukuran MF
Pemisahan minyak atsiri dan air
Penghitungan rendemen
9 mengurangi kadar air sampel. Pembuatan herbarium tumbuhan dilakukan di Laboratorium Dendrologi dan Ekologi Hutan Fakultas Kehutanan UNMUL.
2. Pengukuran Faktor Kelembaban (MF)
Faktor kelembapan adalah kandungan air di dalam suatu benda. Faktor kelembaban udara diukur menggunakan metode ASTM D442 dengan modifikasi (Reeb et al., 1999). Sampel yang telah kering udara selanjutnya diukur faktor kelembabannya dengan prosedur :
• Ditimbang sampel sebanyak ±2 gram dengan 3 (tiga) kali ulangan kemudian dioven pada suhu 103±2˚C (217˚F) selama 24 jam.
• Sampel dimasukkan ke dalam desikator selama ±15 menit dan ditimbang.
• Untuk mencari nilai faktor kelembaban digunakan rumus : Faktor Kelembaban (MF) = Berat Sampel Kering Tanur
Berat Sampel Awal
3. Ekstraksi dengan Metode Maserasi Tunggal
Metode ekstraksi yang digunakan yaitu maserasi tunggal dengan menggunakan pelarut n-hexane. Maserasi dilakukan dengan merendam masing-masing serbuk daun, batang, dan kulit dengan pelarut n-hexane dan diaduk dengan menggunakan shaker selama 2 x 24 jam kemudian disaring hingga didapatkan filtrat dari pelarut. Filtrat selanjutnya dipekatkan dengan menggunakan rotary vacuum evaporator pada suhu 30-40oC dan di oven vakum hingga diperoleh ekstrak n-hexane. Adapun proses ekstraksi yang dilakukan dapat dilihat pada Gambar berikut.
10
Gambar 2. Proses pembuatan ekstrak tumbuhan
4. Isolasi Minyak Atsiri
Isolasi minyak atsiri dilakukan dengan penyulingan air dan uap. Penyulingan dengan air dan uap menggunakan ketel suling atau kukusan. Dilakukan perajangan pada sampel daun yang besar untuk mempercepat proses keluarnya minyak dari sampel. Setelah itu dicatat waktu penyulingan saat hasil sulingan mulai menetes.
Penyulingan dilakukan selama ± 2 jam.
Daun, Batang, dan Kulit L. angulata
Pemblenderan
Serbuk daun, batang, dan kulit
Filtrat n-hexane
Maserasi n-hexane (2 x 24 jam)
Dipekatkan dengan rotary evaporator
Ekstrak n-hexane
11 Uap hasil penyulingan ditampung dan dipisah menggunakan labu pemisah.
Ditambahkan sedikit serbuk natrium sulfat (Na2SO4) untuk memisahkan air yang masih terikut bersama minyak. Setelah minyak terpisah dari air dan terkumpul keseluruhan, dipindahkan dengan menggunakan pipet tetes ke dalam botol yang teah ditimbang terlebih dahulu. Tutup rapat dan simpan di tempat minim cahaya bersuhu rendah.
5. Pengujian Karakteristik Minyak Atsiri
Minyak atsiri yang diperoleh dari hasil penyulingan diuji karakteristik fisik dan kimianya (warna dan indeks bias) sesuai dengan pengujian standar mutu minyak kayu putih menurut SNI 06-3954-2001 (BSN, 2006).
a. Rendemen
Pengukuran rendemen minyak dilakukan dengan membandingkan minyak atsiri yang dihasilkan dengan bahan baku yang akan digunakan. Botol yang telah diberi label ditimbang, kemudian minyak atsiri dimasukkan ke dalam botol timbang.
Ditimbang kembali dan dihitung rendemen dengan rumus:
Rendemen = Berat Minyak
Berat Sampel X MF X 100%
b. Warna
Metode yang digunakan untuk warna minyak atsiri didasarkan pada pengamatan visual dengan pengamatan langsung.
c. Indeks bias
Analisa indeks bias minyak atsiri dilakukan menggunakan refraktometer Abbe (hand analog). Sampel minyak diteteskan di atas prisma secara merata, lalu ditutup.
Mata melihat hasil pengukuran dari eye pieces, nilai pada garis perbatasan antara biru dan putih adalah nilai indeks bias minyak.
12 Gambar 3. Bagian-bagian Refraktometer (Dok. Pribadi)
6. Analisis Fitokimia
Analisis fitokimia dilakukan terhadap ekstrak n-hexane pada bagian daun, batang, dan kulit. Masing-masing ekstrak ditimbang sebanyak 10 mg dan dilarutkan dalam 12 ml n-hexane. Analisis fitokimia meliputi uji perubahan warna yang mengacu pada Harborne (1987), kokate (2001), dan Senthilmurugan (2013) untuk menguji adanya senyawa aktif, antara lain:
a. Uji alkaloid (Kokate, 2001)
Identifikasi dilakukan dengan menggunakan larutan dragendorff. Tahapan pembuatan larutan dragendorff adalah sebagai berikut:
• Larutan I : 0,5 g bismut (III) nitrat + 6 ml asam asetat dan 24 ml aquades.
• Larutan II : 12 g kalium iodida + 30 ml aquades.
• Larutan I + larutan II (1 ml : 1 ml)
• 1 ml larutan campuran ditambah 2 ml asam asetat dan 10 ml aquades, selanjutnya larutan siap untuk digunakan.
Sebanyak 5 ml ekstrak ditambahkan 2 ml HCl, kemudian dimasukkan 1 ml larutan Dragendorff. Perubahan warna larutan menjadi jingga atau merah mengindikasikan bahwa ekstrak mengandung alkaloid.
b. Uji flavonoid (Kokate, 2001)
Sebanyak 1 ml ekstrak tumbuhan diberikan beberapa tetes natrium hidroksida encer (NaOH 1%). Munculnya warna kuning yang jelas pada larutan ekstrak dan
Eye pieces
Prism a
13 menjadi tidak berwarna setelah penambahan asam encer (HCl 1%) mengindikasi adanya flavonoid.
c. Uji Triterpenoid dan Steroid (Harborne, 1987)
Identifikasi dilakukan dengan menggunakan campuran asam asetat anhidrid dan asam sulfat pekat yang biasa dikenal dengan pereaksi Liebermann-Burchard. Pada pengujian ini 10 tetes asam asetat anhidrid dan 2 tetes asam sulfat pekat ditambahkan secara berurutan ke dalam 1 ml sample uji yang telah dilarutkan dalam aseton.
Selanjutnya sampel uji dikocok dan dibiarkan beberapa menit. Reaksi yang terjadi diikuti dengan perubahan warna, apabila terlihat warna merah dan ungu maka uji dinyatakan positif untuk triterpenoid dan apabila terlihat warna hijau dan biru maka uji dinyatakan positif adanya steroid.
d. Uji tanin (Kokate, 2001)
Pengujian dilakukan dengan memasukkan 10 ml larutan ekstrak ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan larutan timbal asetat (CH3COO)2Pb 1%. Tanin dinyatakan positif apabila pada reaksi terbentuk endapan kuning.
e. Uji saponin (Harborne, 1987)
Pengujian dilakukan dengan memasukkan sebanyak 10 ml air panas ke dalam tabung reaksi yang berisi 1 ml sampel uji yang telah dilarutkan dalam aseton.
Selanjutnya larutan didinginkan dan dikocok selama 10 detik. Terbentuknya buih mantap selama kurang lebih 10 menit dengan ketinggian 1–10 cm dan tidak hilang bila ditambahkan 1 tetes HCl 2N menandakan bahwa ekstrak yang diuji mengandung saponin.
f. Uji karbohidrat (Harborne, 1987)
Identifikasi dilakukan dengan menggunakan pereaksi Molisch dengan tahapan kerja sebagai berikut:
Penyiapan pereaksi Molisch:
Sebanyak 1.25 gr 1-naphtol dilarutkan dalam 25 ml etanol, kemudian ditambahkan 2 tetes asam sulfat pekat.
14 Satu tetes pereaksi Molisch ditambahkan ke dalam1 ml sampel uji yang telah dilarutkan dalam aseton, kemudian dikocok. Selamjutnya melalui dinding tabung ditambahkan 1 ml asam sulfat pekat. Apabila terbentuk cincin ungu di antara 2 lapisan, maka uji dinyatakan positif mengandung karbohidrat.
g. Uji karotenoid (Senthilmurugan, 2013)
Sebanyak 1 ml ekstrak dicampur dengan 5 ml kloroform dalam tabung reaksi, kemudian dikocok lalu disaring kemudian ditambahkan asam sulfat 85%. Jika terbentuk warna biru/hijau di atas permukaan maka menunjukkan adanya karotenoid.
h. Uji Kumarin (Senthilmurugan, 2013)
Sebanyak 1 ml larutan ekstrak dicampur dengan beberapa tetes NaOH kemudian ditambahkan alkohol jika terbentuk warna kuning maka menunjukkan adanya kumarin.
7. Pengujian Toksisitas
Pengujian toksisitas menggunkan metode brine shrimp lethality test (Meyer dalam Devi, 2009) pengujian ini menggunakan udang renik (Artemia salina).
Pengujian dilakukan dengan konsentrasi 1000 ppm, 500 ppm, dan 250 ppm.
a. Persiapan Pengujian (Hari Pertama Pengujian)
• Telur udang renik ditetaskan dalam gelas beaker yang berisi air laut dan dipasang alat gelembung oksigen selama 2×24 jam;
• Dibuat larutan induk, yaitu dengan menimbang 30 mg ekstrak kemudian dilarutkan dengan 3 ml etanol , sehingga konsentrasi larutan induk 10.000 ppm. Diambil 500 µl, 250 µl, dan 125 µl larutan induk kemudian dimasukkan ke dalam masing-masing botol vial dan diuapkan, sehingga nantinya pada saat pengujian ketika sampel ditambahkan air laut sebanyak 5 ml konsentrasi akhir sampel menjadi 1000 ppm, 500 ppm, dan 250 ppm. Pada pengujian kontrol negatif menggunakan etanol dan kontrol positif menggunakan asam galat (Gallic acid);
b. Pengujian Toksisitas (Hari Ketiga dan Keempat Pengujian)
15
• Sampel ekstrak yang telah dikeringkan kemudian dilarutkan dengan air laut sedikit untuk melarutkan sampel yang sukar larut;
• Untuk minyak atsiri, sebanyak 5µl minyak dilarutkan dalam 150 µl DMSO dan 200 µl etanol 40%, kemudian ditambahkan air laut hingga 5 ml dan dianggap sebagai konsentrasi 1000 ppm. 2.5 ml sampel dari konsentrasi 1000 ppm dimasukkan ke dalam botol vial kemudian ditambahkan dengan 2.5 ml air laut sehingga diperoleh konsentrasi 500 ppm. Dari konsentrasi 500 ppm diambil sebanyak 2.5 ml dan ditambahkan dengan 2.5 ml air laut (setelah dimasukkan nauplii) dan diperoleh konsentrasi 250 ppm. Pada pengujian kontrol negatif menggunakan DMSO + etanol 40%.
• Masukkan 10 nauplii Artemia salina yang telah ditetaskan ke masing-masing botol vial;
• Ditambahkan air laut hingga volume 5 ml ke dalam masing-masing botol vial;
• Kemudian botol-botol vial yang berisi sampel dan nauplii disimpan di tempat yang cukup cahaya dan oksigen selama 24 jam;
• Setelah 24 jam, dihitung jumlah nauplii yang mati.
• Persentasi kematian nauplii dihitung dengan rumus:
% Kematian = Nauplii yang mati
nauplii awal
x 100%
16
BAB 5. HASIL DAN LUARAN YANG DICAPAI
Hasil Penyulingan Minyak Atsiri
Penyulingan air dan uap menghasilkan rendemen yang relatif tinggi dibandingkan metode penyulingan air karena dalam penyulingan air komponen minyak yang titik didihnya tinggi dan bersifat larut dalam air tidak dapat menguap atau tidak tersuling secara sempurna (Sihite, 2009). Hasil penyulingan disajikan pada Tabel 1 berikut ini.
Tabel 1. Hasil Penyulingan dengan Air dan Uap (Sistem kukus)
Nama Sampel Berat Sampel (g) MF Berat Minyak (g) Lama Penyulingan
L. angulata 7950 0.41 30.24 ±4 jam
Berdasarkan Tabel di atas, hasil penyulingan dengan air dan uap menunjukkan bahwa minyak atsiri L. angulata memiliki kandungan minyak yang tinggi yaitu sebesar 30.24 gram.
Penyulingan dengan suhu tinggi akan menghasilkan minyak yang bermutu kurang baik. Pengaruh suhu terhadap minyak atsiri sangat penting. Pada awal pemanasan (suhu rendah), persenyawaan dalam minyak yang bertitik didih lebih rendah akan dibebaskan akibat perajangan dan akan naik menguap lebih dahulu, suhu uap akan naik secara bertahap sampai mencapai suhu uap jenuh pada tekanan operasional. Dalam proses penyulingan untuk mendapatkan rendemen yang tinggi dan mutu minyak atsiri yang baik diusahakan agar suhu penyulingan dipertahankan rendah atau juga pada suhu tinggi dengan waktu singkat (Guenther, 1947).
Hasil Maserasi Tunggal
Metode ekstraksi yang digunakan adalah maserasi tunggal (non polar) menggunakan pelarut n-hexane. Hal ini bertujuan agar zat aktif yang ada dalam sampel bisa di ekstraksi secara maksimal. Serbuk daun, batang, dan kulit masing-masing
17 direndam selama 2 x 24 jam kemudian dipekatkan hingga diperoleh ekstrak kasar.
Hasil ekstraksi dengan menggunakan pelarut n-hexane pada tiga bagian tumbuhan L.
angulata disajikan pada Tabel 2 di bawah ini.
Tabel 2. Hasil maserasi tumbuhan L. angulata dengan menggunakan pelarut n-hexane
No Bagian
Tabel 3 di atas menunjukkan hasil ekstraksi dari 3 bagian tumbuhan L. angulata dengan menggunakan pelarut n-heksan. Nilai rendemen tertinggi terdapat pada bagian daun yaitu 0.40%. Sedangkan rendemen terendah terdapat pada bagian batang dengan nilai sebesar 0.16%. Struktur dan tekstur bahan yang digunakan dapat mempengaruhi rendemen. Daun memiliki tekstur lebih halus dibanding batang dan kulit. Menurut Sembiring et al (2006) dalam Gagola dkk (2014), semakin halus bahan yang digunakan semakin tinggi rendemen yang dihasilkan. Rahayu (2014) juga mengatakan bahwa daun mengandung senyawa klorofil yang dapat menambah bobot ekstrak.
Syahbirini dkk (2005) menyatakan pentingnya menghitung nilai rendemen ekstrak untuk mengetahui seberapa besar atau banyaknya sampel yang terekstrak oleh pelarut, dimana rendemen yang dihasilkan merupakan jumlah senyawa yang terekstrak oleh berbagai macam pelarut dengan tingkat kepolaran yang berbeda.
Menurut Guenther (1987), pelarut yang ideal digunakan untuk proses ekstraksi harus memiliki syarat antara lain: 1) dapat melarutkan zat ekstraktif; 2) mempunyai titik didih yang seragam; 3) pelarut harus bersifat inert (tidak bereaksi dengan zat yang akan diekstraksi); 4) mempunyai titik didih yang cukup agar mudah diuapkan tanpa suhu tinggi, namun titik didih pelarut tersebut tidak boleh terlalu rendah karena hal ini akan mengakibatkan hilangnya sebagian pelarut akibat penguapan.
Karakteristik Minyak Atsiri
18 Karakteristik minyak atsiri diuji untuk mengetahui mutu dan kualitas minyak.
Kualitas dan mutu minyak atsiri ditentukan oleh karakteristik alamiah dari masing-masing minyak tersebut dan bahan asing yang tercampur di dalamnya (Hernani dan Marwati, 2006).
Hasil rendemen, warna, dan indeks bias minyak atsiri L. angulata dapat dilihat pada Tabel 3 di bawah ini:
Tabel 3. Karakteristik Minyak Atsiri L. angulata
Nama sampel Rendemen (%) Warna Indeks bias
L. angulata 0.90 Kuning keemasan 1.412
Gambar 4. Minyak Atsiri daun L. angulata
Dari Tabel 3 diketahui bahwa rendemen minyak atsiri dari daun L. angulata memiliki rendemen yang cukup tinggi yaitu 0.90%.
Rendemen merupakan banyaknya minyak yang yang dihasilkan dari penyulingan yang dinyatakan dalam persentasi (%). Faktor-faktor yang mempengaruhi rendemen minyak atsiri adalah perlakuan terhadap bahan baku penghasil minyak atsiri, jenis alat suling, cara penyulingan, perlakuan minyak atsiri setelah penyulingan, iklim, musim kesuburan tanah, umur tanaman dan lingkungan tempat tumbuh, serta waktu pemetikan bahan (Ginting, 2004).
19 Warna minyak atsiri yang diperoleh dari hasil penelitian untuk daun L. angulata berwarna bening (Gambar 4). Warna minyak atsiri ini sesuai dengan warna minyak atsiri pada umumnya yaitu tidak berwarna atau kekuning-kuningan.
Pada beberapa minyak atsiri seperti minyak nilam, akar wangi, kenangan dan daun cengkeh dilakukan pemurnian untuk meningkatkan kualitas minyak terutama dalam hal warna, sifat fisikokimia dan kadar komponen utamanya. Pada proses pemurnian dengan penurunan kadar logam dalam minyak, warna minyak atsiri akan lebih jernih dan terang (Hernani dan Marwati, 2006).
Pada penelitian ini, indeks bias hasil pengukuran refraktometer diperoleh untuk daun L. angulata sebesar 1.412.
Penentuan indeks bias dilakukan untuk mengetahui adanya air dalam kandungan minyak tersebut, semakin banyak kandungan airnya maka semakin kecil nilai indeks biasnya (Abdjul dkk., 2012). Nilai indeks bias minyak atsiri dipengaruhi oleh suhu pemanasan pada saat penyulingan. Pemanasan dengan suhu tekanan yang tinggi akan menyebabkan sejumlah komponen senyawa yang memiliki titik didih tinggi menjadi ikut tersuling bersama minyak, contohnya adalah paraffin, lilin dan senyawa resin (Sebayang, 2011).
Analisis Fitokimia
Analsis fitokimia telah dilakukan terhadap tiga bagian tumbuhan L. angulata pada ekstrak pelarut n-hexane. Hasil pengujian disajikan pada Tabel 4 di bawah ini.
Tabel 4. Hasil Pengujian Fitokimia dari Tumbuhan L. angulata
Bagian
Ket: Alk: Alkaloid; Flav: Flavonoid; Terp: Terpenoid; Sap: Saponin; Ster: Steroid; Krt: Karotenoid; Kum: Kumarin;
Karb: Karbohidrat; + : ada; - : tidak ada.
20 Alkaloid dinyatakan positif terdapat pada sampel uji apabila larutan ekstrak berubah menjadi jingga dengan penambahan larutan HCl dan larutan Dragendorff (Lampiran 3). Harborne (1987) menyatakan bahwa alkaloid sebagai suatu kelompok senyawa yang terdapat pada sebagian besar tumbuhan berbunga dan merupakan salah satu kelompok fitokimia penting yang menjadi salah satu indikasi terdapatnya aktivitas biologis dari suatu jenis tumbuhan sehingga bermanfaat dalam proses pengobatan.
Telah dilaporkan bahwa senyawa alkaloid yang terdapat pada tumbuhan memiliki efek fisiologi yang kuat sehingga bermanfaat dalam proses pengobatan.
Putra (2003) mengatakan bahwa senyawa alkaloid merupakan senyawa organik terbanyak ditemukan di alam. Hampir seluruh alkaloid berasal dari tumbuhan dan tersebar luas dalam berbagai jenis tumbuhan. Selain daun-daunan, senyawa alkaloid dapat ditemukan pada akar, biji, ranting, dan kulit kayu. Menurut Aniszewki (2007), alkaloid merupakan senyawa yang memiliki aktivitas antimikroba, yaitu menghambat esterase dan juga DNA dan RNA polimerase, juga menghambat respirasi sel dan berperan dalam interkalasi DNA. Selain itu, menurut Geyid (2005) senyawa alkaloid merupakan senyawa metabolit sekunder yang dapat digunakan sebagai anti bakteri dan anti jamur.
Hasil pengujian triterpenoid dan steroid ditandai dengan adanya perubahan warna. Apabila terlihat warna merah dan ungu maka uji dinyatakan positif untuk triterpenoid dan apabila terlihat warna hijau dan biru maka uji dinyatakan positif adanya steroid. Pada pengujian triterpenoid, ketiga esktrak n-hexane postif mengandung senyawa triterpenoid. Namun hanya bagian daun yang memiliki senyawa steroid. Senyawa triterpenoid biasanya mudah diisolasi jika terbentuk minyak atsiri.
Hal ini sejalan dengan pendapat Lenny (2006) yang menyebutkan bahwa triterpenoid adalah komponen – komponen tumbuhan yang mempunyai bau dan dapat diisolasi dari bahan nabati dengan penyulingan disebut sebagai minyak atsiri. Dalam Mbadianya et al (2013) melaporkan bahwa steroid adalah senyawa yang memiliki aktivitas antibakteri dan merupakan senyawa yang memiliki peranan penting dalam perkembangan hormon.
21 Pada pengujian kandungan karotenoid, hanya ekstrak daun yang menunjukkan adanya kandungan senyawa karotenoid. Hal ini ditunjukkan dengan adanya warna hijau di atas permukaan pada saat penambahan asam sulfat 85%. Karotenoid bermanfaat bagi kehidupan manusia yaitu sebagai sumber vitamin A, sebagai bahan pewarna alami sejalan dengan pendapat (Ndiha dan Limantara, 2009) karotenoid memberikan kontribusi yang besar bagi berbagai sektor kehidupan terutama sebagai sumber vitamin A yang bermanfaat bagi organ visual, pewarna makanan, bahan aditif pada makanan, penambah sel darah merah, antioksidan, antibakteria, meningkatkan imunitas, serta pengganti sel-sel yang rusak.
Karbohidrat dinyatakan positif apabila pada sampel uji terjadi reaksi yang diikuti dengan terbentuknya cincin ungu diantara dua lapisan, setelah ekstrak ditambah Molisch dan 1ml asam sulfat pekat. Seperti kita ketahui, karbohidrat merupakan bagian yang sangat penting dalam proses kimia kehidupan. Pada tumbuhan, karbohidrat terbentuk melalui proses fotosintesis pada daun dengan menggunakan karbon dioksida dan air untuk menghasilkan gula dan oksigen yang diedarkan ke seluruh bagian tumbuhan sebagai bahan makanan.
Iswari dan Yuniastuti (2006) juga menyatakan bahwa karbohidrat tersebar luas di dalam tumbuhan dan hewan. Dalam tumbuhan, glukosa disintesis dari karbondioksida serta air melalui fotosintesis dan disimpan sebagai pati atau diubah menjadi selulosa yang merupakan kerangka tumbuhan.
Dari hasil analisa fitokimia terlihat bahwa daun, batang, dan kulit dari tumbuhan L. angulata dengan pelarut n-heksan mengandung alkaloid, terpenoid, dan karbohidrat, dan hanya pada bagian daun yang mengandung steroid dan karotenoid.
Hasil Pengujian Toksisitas
Metode yang digunakan untuk menguji toksisitas adalah metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT), dengan menggunakan metode Meyer. Metode ini merupakan salah satu metode awal yang sering dipakai untuk mengamati toksisitas senyawa dan nerupakan metode penapisan untuk aktivitas antikanker senyawa kimia dalam ekstrak
22 tanaman. Metode ini ditujukan terhadap tingkat mortalitas larva udang Artemia salina L. yang disebabkan oleh ekstrak uji. Hasil yang diperoleh dihitung sebagai nilai LC50
(Lethal concentration) ekstrak uji, yaitu jumlah dosis atau konsentrasi ekstrak uji yang dapat menyebabkan kematian larva udang sejumlah 50% setelah masa inkubasi 24 jam.
Senyawa dengan LC50 <1000 ppm dapat dianggap sebagai suatu senyawa aktif yang toksik (Meyer et al., 1982). Hasil pengujian toksisitas ekstrak uji terhadap larva udang Artemia salina L. disajikan pada Tabel 5 di bawah berikut.
Tabel 5. Hasil Pengujian Toksisitas pada Minyak Atsiri dan Ekstrak n-heksan Daun L. angulata
No Sampel Konsentrasi
Rataan
23 Berdasarkan hasil uji toksisitas dengan konsentrasi uji 1000-250 ppm pada Tabel terlihat bahwa ekstrak n-heksan pada daun dan kulit masih memiliki kemampuan toksisitas hingga konsentrasi 250 ppm, dengan nilai LC50 sebesar 414.11 ppm dan 424.25 ppm, sedangkan untuk minyak atsiri dan ekstrak n-heksan pada batang L. angulata sudah tidak memiliki kemampuan toksisitas pada konsentrasi 500 ppm dengan nilai LC50 yaitu 784.24 ppm dan >1000 ppm.
Daya toksik yang tinggi pada ekstrak tumbuhan adalah salah satu acuan aman atau tidaknya tumbuhan tersebut dikonsumsi, oleh karena itu perlu diperhatikan dosis penggunaan suatu ekstrak tumbuhan yang mempunyai potensi sebagai obat namun mempunyai tingkat toksik yang tinggi agar maksimal pemanfaatannya. Namun demikian, pemanfaatan dari tumbuhan yang memiliki tingkat mortalitas tinggi terhadap larva A. salina tetap memiliki peran penting dalam pencarian obat-obatan berbahan alam sebagai obat anti kanker (Devi, 2009).
24
BAB 6. RENCANA TAHAPAN BERIKUTNYA
Laporan akhir ini merupakan hasil pelaporan dari 100% kegiatan di tahun ke-1. Adapun tahapan berikutnya di tahun ke-2 antara lain:
1. Memperoleh fraksi dari isolasi minyak atsiri L. angulata
2. Melakukan pengujian GCMS minyak atsiri dan fraksi minyak L. angulata 3. Penyusunan laporan penelitian di tahun ke-2
4. Publikasi hasil penelitian yang telah dilakukan dalam jurnal nasional/internasional
25
BAB 7. KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di tahun ke-1, maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Daun L. angulata memiliki kandungan minyak atsiri dengan rendemen sebesar 0.90%. Sedangkan daun, kulit, dan batang yang diekstrak dengan pelarut n-heksan menghasilkan rendemen yaitu 0.40%, 0,35%, dan 0.16%.
2. Hasil pengujian toksisitas menunjukkan bahwa ekstrak n-heksan pada daun dan kulit masih memiliki kemampuan toksisitas hingga konsentrasi 250 ppm, dengan nilai LC50 sebesar 414.11 ppm dan 424.25 ppm, sedangkan untuk minyak atsiri dan ekstrak n-heksan pada batang L. angulata sudah tidak memiliki kemampuan toksisitas pada konsentrasi 500 ppm dengan nilai LC50 yaitu 784.24 ppm dan
>1000 ppm.
3. Ketiga bagian dari L. angulata yang diekstrak menggunakan pelarut n-heksan mengandung senyawa alkaloid, triterpenoid, dan karbohidrat, namun hanya daun yang mengandung senyawa steroid dan karotenoid.
3. Ketiga bagian dari L. angulata yang diekstrak menggunakan pelarut n-heksan mengandung senyawa alkaloid, triterpenoid, dan karbohidrat, namun hanya daun yang mengandung senyawa steroid dan karotenoid.