• Tidak ada hasil yang ditemukan

(ASTERACEAE) DI BOGOR, JAWA BARAT

BAHAN DAN METODE

Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian ditentukan berdasarkan metode purposive sampling, yaitu lokasi yang dijumpai C. odorata, dengan pertimbangan tipe habitat dan ketinggian tempat. Dari hasil survei pendahuluan maka ditetapkan daerah yang terpilih sebagai tempat pengambilan sampel: (1) Hutan Tanaman Industri (HTI) Parung Panjang-Jasinga mewakili habitat perkebunan dan tempat pelepasan lalat puru C. connexa, (2) Desa Setu-Jasinga mewakili habitat ladang dataran rendah, (3) Kampus IPB Darmaga mewakili habitat hutan buatan, dan (4) Gunung Bunder mewakili habitat ladang dataran tinggi (Tabel 7). Penelitian dilakukan dari bulan Agustus 2004 hingga Juni 2005.

Pengambilan Contoh Serangga

Pada masing-masing lokasi dibuat 5 jalur transek sepanjang 30 m dengan jarak antara transek 15 m (Gambar 1). Sepanjang jalur transek dibuat petak contoh pengambilan sampel berbentuk bujur sangkar (2 m x 2 m) dengan jarak 15 m, sehingga pada masing-masing transek terdapat 3 petak contoh, jadi ada 15

petak contoh pada setiap lokasi penelitian. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak 3 kali pada setiap lokasi penelitian, yaitu bulan Agustus 2004, Mei 2005, dan Juni 2005.

Tabel 7 Deskripsi lokasi yang dipilih untuk penelitian Lokasi/Desa Koordinat (LS dan BT)1) Ketinggian (mdpl)2) Jarak (km)3) Kondisi Habitat Parung Panjang 060.42 LS 1060.48 BT

128 0 Hutan tanaman industri dengan tanaman utama Acacia mangium

disertai populasi C. odorata

dominan

Setu 060.46 LS

1060.45 BT

128 6 Lahan terbuka dengan dominasi

Melastoma affine dan C. odorata

yang berbatasan dengan lahan tanaman budidaya (kacang tanah, kedelai, dan jagung)

Darmaga 060.55 LS 1060.72 BT

170 30 Tanaman sengon (Albizia falcataria) dengan dominasi

C. odorata dan Widelia trilobata

yang berbatasan dengan jalan raya

Gunung Bunder 060.66 LS 1060.69 BT

650 35 Lahan terbuka dengan dominasi

Ageratum conyzoides dan

Boreria alata yang berbatasan dengan lahan persawahan dan tanaman budidaya (jagung, talas, pisang, kopi, dan singkong) 1)

LS = Lintang selatan, BT = Bujur timur, 2) Meter di atas permukaan laut, 3) Jarak lokasi dari titik pelepasan C. connexa

Pengambilan sampel serangga pada setiap petak contoh menggunakan perangkap jebak (pitfall trap), perangkap nampan kuning (yellow pan trap), dan perangkap malaise (malaise trap) (Gambar 7). Perangkap jebak terbuat dari gelas plastik bekas air mineral volume 220 ml, diameter mulut gelas 7 cm dan tinggi 10 cm. Gelas diisi 110 ml larutan air sabun dan garam secukupnya untuk mengurangi tegangan permukaan, sehingga serangga yang terperangkap tenggelam dan mati Perangkap jebak ditempatkan sebanyak 4 buah pada setiap petak contoh sehingga terdapat 60 buah perangkap jebak yang dipasang selama 24 jam pada setiap lokasi penelitian.

Gambar 7 Perangkap serangga yang digunakan; (a) yellow pan trap (b) pitfall trap (c) malaise trap.

a b c

Nampan kuning yang digunakan adalah wadah plastik berukuran 15 cm x 25 cm x 7 cm. Nampan kuning diisi dengan air sabun dan garam secukupnya untuk mengurangi tegangan permukaan, sehingga serangga yang terperangkap tenggelam dan mati. Selanjutnya nampan kuning diletakkan pada permukaan tanah sebanyak 2 buah dalam setiap petak contoh, sehingga terdapat 30 buah nampan kuning yang dipasang selama 24 jam pada setiap lokasi penelitian.

Perangkap malaise terbuat dari jaring yang berbentuk seperti tenda (berbentuk prisma). Pada bagian puncaknya dipasang botol plastik yang berfungsi sebagai perangkap. Perangkap malaise efektif untuk serangga yang aktif terbang, serangga terbang akan menabrak jaring kemudian serangga akan bergerak ke atas mengikuti pola jaring menuju botol perangkap. Perangkap ditempatkan secara diagonal masing-masing diantara transek 2-3 dan transek 4-5, sehingga terdapat 2 buah perangkap malaise yang dipasang selama 24 jam. Serangga yang tertangkap dengan perangkap jebak, nampan kuning, dan malaise dibersihkan dari kotoran. Selanjutnya disimpan dalam tabung film berisi alkohol 70% untuk diidentifikasi di laboratorium.

Sortasi dan identifikasi sampel serangga yang dikoleksi dari lapangan dilakukan di Laboratorium Bioekologi Parasitoid dan Predator, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Semua serangga yang diperoleh dipisahkan berdasarkan ordonya. Selanjutnya identifikasi dilanjutkan sampai morfospesies tingkat famili (hanya diberi kode). Identifikasi serangga untuk tingkat famili mengacu pada kunci identifikasi yang tersedia.

Analisis Data

Data keseluruhan spesies serangga yang diperoleh pada setiap lokasi dapat diduga dengan menggunakan kurva akumulasi spesies yang dibuat dengan program EstimateS 6.0b1 (Colwell 2000). Jumlah spesies serangga yang diperoleh pada setiap petak contoh diacak sebanyak 50 kali menggunakan program tersebut. Prediksi kekayaan spesies serangga diduga dengan abundance-based coverage estimator (ACE) (Colwell & Coddington 1994).

Indeks keanekaragaman serangga diukur berdasarkan Shannon-Wiener (H’) = -Σ pi ln pi dimana pi = proporsi spesies ke-i terhadap total jumlah spesies, Indeks kemerataan berdasarkan Shannon-Wiener (E) = H’/ln (S) dimana S = total jumlah spesies yang diperoleh. Kemiripan komunitas serangga antar lokasi diukur dengan menggunakan Indeks Sorensen (Cs) = 2j / a+b dimana j adalah jumlah spesies yang ditemukan di daerah a dan b, a = jumlah spesies yang ditemukan di daerah a, b = jumlah spesies yang ditemukan di daerah b (Magurran 1988; Kreb 1998). Indeks tersebut dihitung dengan mengggunakan Biodiv97 yang merupakan perangkat lunak macro pada Microsoft Excel. Matrik yang diperoleh kemudian dianalisis lanjut dengan menggunakan analisis kelompok (cluster analysis) (Krebs 1998). Pengelompokan dalam bentuk dendogram menggunakan Unweighted Pair-Group Average (UPGMA) dan jarak Euclidean yang dibuat dengan perangkat lunak Statistica for Windows 6.0 (StatSoft 1995).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kekayaan Spesies Serangga di Habitat C. odorata

Keanekaragaman spesies serangga pada empat habitat C. odorata berdasarkan perangkap yang digunakan memperlihatkan bahwa kekayaan spesies (species richness) tertinggi diperoleh di Darmaga dan terendah di Parung Panjang (Gambar 8). Keadaan ini mengindikasikan bahwa habitat C. odorata di Darmaga memiliki keanekaragaman serangga yang lebih beragam dibandingkan habitat C. odorata di daerah lain. Berdasarkan nilai penduga ACE, jumlah spesies serangga

yang dikoleksi tertinggi diperoleh di Setu (ACE 77.2%), sedangkan terendah diperoleh di Gunung bunder (ACE 70%) dari total jumlah spesies yang ada.

Gambar 8 Kurva akumulasi spesies serangga pada empat habitat C. odorata. 0 50 100 150 200 250 300 350 400 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45

Jumlah petak contoh

Ju m lah s p e si e s Setu (ACE 77.2%) P. Panjang (ACE 72.4%) Darmaga (ACE 74.9%) Gn. Bunder (ACE 70%)

Dari empat lokasi pengambilan sampel pada habitat C. odorata diperoleh 24.213 individu serangga yang termasuk ke dalam 14 ordo, 132 famili, dan 568 spesies (Tabel 8). Kelimpahan individu (species abundance) serangga terbesar diperoleh dari habitat C. odorata di Setu yaitu sebesar 8.967 individu (37%). Kekayaan spesies tertinggi didapat di Darmaga yaitu 345 spesies. Ordo dan famili terbanyak juga diperoleh di Darmaga yaitu 13 ordo dan 103 famili. Berdasarkan nilai indeks keanekaragaman Shannon dan kemerataan (evenness), spesies serangga tertinggi diperoleh pada habitat C. odorata di Gunung Bunder masing-masing sebesar 4.13 dan 0.73.

Tabel 8 Jumlah ordo (O), famili (F), spesies (S), Individu (N), Indeks Shannon (H’) dan kemerataan (E) serangga pada tiap habitat C. odorata

Lokasi penelitian O F S N H' E Parung Panjang 12 86 262 5.568 3.37 0.61 Setu 12 95 300 8.967 3.41 0.60 Darmaga 13 103 345 5.218 4.05 0.69 Gunung Bunder 11 83 277 4.460 4.13 0.73 Total 14 132 568 24.213 4.16 0.66

Dari hasil sampling yang dilakukan terlihat bahwa kekayaan spesies dan kelimpahan individu terbesar yang dikumpulkan dari empat habitat C. odorata adalah ordo Hymenoptera (Gambar 9). Ordo Diptera merupakan ordo terbesar kedua yang diikuti oleh Ordo Hemiptera yang menempati urutan terbesar ketiga. Ordo Orthoptera, Coleoptera, Blattodea, Dermaptera, Isoptera, Lepidoptera, Mantodea, Neuroptera, Odonata, Psocoptera, dan Thysanoptera merupakan ordo minor yang ditemukan pada masing-masing habitat C. odorata tersebut.

0 20 40 60 80

Keseluruhan serangga yang diperoleh pada empat habitat C. odorata memperlihatkan bahwa ordo Hymenoptera mendominasi pada habitat tersebut. Kelimpahan individu Hymenoptera pada empat habitat C. odorata sebanyak

100 120 200

Hymenoptera Diptera Hemiptera Ordo Lain

Ordo Ju m lah s p e si e s P. Panjang A 180 Setu 160 Darmaga Gn. Bunder 140 0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000

Hymenoptera Diptera Hemiptera Ordo Lain

Ordo Ju m lah i n d ivi d P. Panjang B Setu Darmaga u Gn. Bunder

Gambar 9 Kekayaan spesies (A) dan kelimpahan individu (B) serangga yang diperoleh pada empat habitat C. odorata.

18.044 individu dari 24.213 total individu yang ditemukan. Berdasarkan kelimpahan individu relatif, sekitar 15.451 dari ordo Hymenoptera yang diidentifikasi didominasi oleh famili Formicidae. Keadaan ini menunjukkan bahwa famili Formicidae merupakan salah satu kelompok organisme yang dominan di ekosistem terestrial. Selanjutnya bila Formicidae dikeluarkan dari sampel, kekayaan spesies ordo Hymenoptera tetap mendominasi, namun secara kelimpahan individu ordo Diptera memiliki kelimpahan individu yang paling banyak kecuali pada habitat C. odorata di Gunung Bunder yang didominasi oleh ordo Hymenoptera (Gambar 10).

0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200

Hymenoptera Diptera Hemiptera Ordo Lain

Ordo Ju m lah s p e si e s P. Panjang A Setu Darmaga Gn. Bunder 0 200 400 600 800 1000 1200

Hymenoptera Diptera Hemiptera Ordo Lain

Ordo Ju m lah i n d ivi d u P. Panjang Setu Darmaga Gn. Bunder B

Gambar 10 Kekayaan spesies (A) dan kelimpahan individu (B) serangga tanpa Formicidae yang diperoleh pada empat habitat C. odorata.

Kekayaan Spesies Hymenoptera dan Diptera di Habitat C. odorata

Total jumlah Hymenoptera yang dikumpulkan dari empat habitat C. odorata adalah 18.044 individu yang terdiri dari 43 famili dan 265 morfospesies. Kekayaan spesies tertinggi diperoleh pada habitat C. odorata di Darmaga yang terdiri dari 176 morfospesies, 35 famili, dan 3.318 individu. Sedangkan kekayaan spesies terendah diperoleh pada habitat C. odorata di Parung Panjang dan Gunung Bunder masing-masing terdiri dari 137 morfospesies, 32 famili dan 4.402 individu pada habitat C. odorata di Parung Panjang dan 28 famili serta 3.118 individu pada habitat C. odorata di Gunung Bunder (Tabel 9).

Tabel 9 Jumlah famili, spesies (S), dan individu (N) ordo Hymenoptera pada tiap habitat C. odorata

Lokasi penelitian

P. Parung Setu Darmaga Gn.Bunder Total Famili S N S N S N S N S N Peranan Ampulicidae 5 14 5 18 5 14 2 2 Predator Braconidae 10 25 12 23 9 21 11 37 Parasitoid Eucoilidae 2 3 2 4 3 18 3 8 Parasitoid Eupelmidae 1 1 2 2 3 3 0 0 Parasitoid Ormyridae 1 9 1 11 1 2 0 0 Parasitoid Encrytidae 14 24 16 59 10 39 12 170 Parasitoid Ichneumonidae 9 89 7 31 15 32 6 20 Parasitoid Scelionidae 23 143 24 175 29 157 23 255 Parasitoid Vespidae 4 7 1 1 5 42 3 20 Polinator Famili lain* 68 4.087 81 6.842 96 2.990 77 2.606 Total 137 4.402 151 7.166 176 3.318 137 3.118 265 18.044 Total Famili 32 35 35 28 43

* Anthophoridae, Aphilinidae, Apidae, Bethylidae, Bradynobaenidae, Ceraphronidae, Chalcididae, Chrysididae, Colletidae, Diapriidae, Elasmidae, Eulopidae, Eurytomidae, Evanidae, Fidellidae, Figitidae, Formicidae, Heloridae, Megachilidae, Megasphilidae, Mutillidae, Mymaridae, Mymarommatidae, Platygasteridae, Pompilidae, Proctotrupidae, Pteromalidae, Rhopalosomatidae, Scoliidae, Sierolomorphidae, Signiporidae, Sphecidae, Tiphiidae, Torymidae

Secara umum famili-famili Hymenoptera yang ditemukan terdiri dari kelompok parasitoid, predator dan polinator. Hasil pengamatan secara visual memperlihatkan bahwa kelompok parasitoid yang berasosiasi langsung dengan lalat puru C. connexa berasal dari famili Braconidae, Eucoilidae, Eupelmidae, dan Ormyridae. Menurut Gooulet dan Huber (1993), famili Braconidae dilaporkan bersifat ektoparasit pada larva Lepidoptera dan Coleoptera, pada ordo Diptera bersifat endoparasit, sedangkan famili Ormyridae merupakan parasitoid puru pada

lalat famili Cecidomyiidae dan Tephritidae (Ordo Diptera). Famili Eucoilidae merupakan parasitoid pupa pada ordo Diptera (Boror et al. 1981), sedangkan famili Eupelmidae bersifat parasitoid pada Ordo Diptera (famili Cecidomyiidae) (Nauman 1991). Famili Braconidae dan Eucoilidae masing-masing terdiri dari 22 morfospesies dan 3 morfospesies yang ditemukan pada empat habitat C. odorata. Famili Eupelmidae terdiri dari 3 morfospesies sedangkan famili Ormyridae hanya terdiri dari 1 morfospesies yang dijumpai pada habitat C. odorata di Parung Panjang, Setu, dan Darmaga, sedangkan di Gunung Bunder tidak ditemukan.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Hymenoptera dari kelompok parasitoid memiliki kekayaan spesies dan kelimpahan individu yang lebih tinggi dibandingkan Hymenoptera dari kelompok polinator maupun predator (Tabel 9). Famili Braconidae, Encyrtidae, Ichneumonidae, dan Scelionidae memiliki jumlah spesies dan kelimpahan individu yang paling tinggi pada habitat C. odorata di Parung Panjang, Setu, Darmaga, dan Gunung Bunder.

Tingginya kekayaan spesies dan kelimpahan individu kelompok Hymenoptera parasitoid pada empat habitat C. odorata tidak terlepas dari ketersediaan tumbuhan berbunga pada masing-masing habitat tersebut. Terdapat lima spesies tumbuhan yang diperoleh pada empat habitat C. odorata, yaitu Ageratum conyzoides, Melastoma affine, Mimosa pudica, Phyllanthus urinaria, dan Axonopus compressus (Tabel Lampiran 1 sampai 8). Vegetasi ini merupakan tumbuhan liar yang umum dijumpai di sekitar habitat ladang, sawah, dan perkebunan. Tumbuhan liar merupakan tempat mengungsi, berlindung, dan bertahan hidup bagi Hymenoptera dari kelompok parasitoid. Altieri dan Nicholls (2004) melaporkan bahwa tumbuhan liar dapat berperan sebagai tempat berlindung atau pengungsian musuh alami apabila kondisi pertanaman tidak sesuai seperti ketika tanaman tidak ada (saat panen), pemberaan, dan perlakuan insektisida. Selain itu, hasil penelitian Kartosuwondo (2001) melaporkan bahwa ketersediaan tumbuhan berbunga pada suatu ekosistem tidak hanya mampu meningkatkan lama hidup dan keperidian parasitoid, tetapi juga meningkatkan keanekaragaman spesies parasitoid.

Ordo Diptera yang berhasil dikumpulkan dari empat habitat C. odorata sebanyak 3.015 individu yang terdiri dari 35 famili dan 120 morfospesies. Kekayaan spesies tertinggi diperoleh pada habitat C. odorata di Gunung Bunder yang terdiri dari 71 morfospesies, 25 famili, dan 795 individu. Sedangkan kekayaan spesies terendah diperoleh pada habitat C. odorata di Parung Panjang yang terdiri dari 47 morfospesies, 22 famili dan 627 individu (Tabel 10). Famili-famili Diptera yang ditemukan terdiri dari kelompok herbivor, predator, saprofag, dan polinator.

Tabel 10 Jumlah famili, spesies (S), dan individu (N) ordo Diptera pada tiap habitat C. odorata

Lokasi penelitian

P. Parung Setu Darmaga Gn.Bunder Total Famili S N S N S N S N S N Peranan Cecidomyiidae 2 4 2 46 1 5 2 25 Herbivor Dolicophodidae 6 214 7 273 6 193 8 95 Predator Phoridae 4 123 4 260 8 155 5 229 Saprofag Tabanidae 2 38 2 2 1 3 1 1 Polinator Tephritidae 1 5 2 5 1 2 2 3 Herbivor Famili lain 30 238 32 284 49 360 50 437 Total 47 627 51 872 67 721 71 795 120 3.015 Total Famili* 22 23 29 25 35

* Anthomyiidae, Asteiidae, Calliphoridae, Carnidae, Ceratopogonidae, Chamaemyiidae, Chloropidae, Culicidae, Curtonotidae, Diastatidae, Diopsidae, Drosophilidae, Ephydridae, Lauxanidae, Micropezidae, Muscidae, Mycetophilidae, Otitidae, Pipunculidae, Sarcophagidae, Scathophagidae, Scatopsidae, Sciaridae, Sphaeroceridae, Stratiomyidae, Syrphidae, Tachinidae, Tethinidae, Therevidae, Tipulidae

Kelompok herbivor terdiri dari 2 famili yaitu famili Cecidomyiidae (3 morfospesies) dan Tephritidae (3 morfospesies selain C. connexa). Menurut Boror et al. (1981) famili Cecidomyiidae merupakan kelompok pembentuk puru pada batang dan daun tanaman, sedangkan famili Tephritidae selain menyebabkan terbentuknya puru pada tanaman juga menyebabkan kerusakan pada buah. Keberadaan spesies dari famili Cecidomyiidae dan Tephritidae (selain C. connexa) yang berperan sebagai herbivor pada habitat C. odorata diduga memiliki potensi untuk berkompetisi dengan lalat puru C. connexa. Walalupun belum diketahui secara pasti spesies-spesies tersebut berinteraksi dengan C. odorata, namun spesies tersebut dikhawatirkan berpotensi untuk menyebabkan terbentuknya puru pada tumbuhan eksotik invasif C. odorata. Waterhouse (1994)

melaporkan bahwa di Amerika Selatan ada 8 spesies dari famili Cecidomyiidae dan 2 spesies dari famili Tephritidae yang berpotensi sebagai agens hayati untuk mengendalikan C. odorata.

Famili Dolicophodidae dan Phoridae memiliki kekayaan spesies dan kelimpahan individu tertinggi (Tabel 10). Menurut Boror et al. (1981) Famili Dolicophodidae merupakan kelompok predator yang jumlah individunya berlimpah di hutan dan padang rumput. Melimpahnya kekayaan spesies dan kelimpahan individu Famili Dolicophodidae diduga terkait dengan banyaknya mangsa yang berada disekitar vegetasi pada keempat habitat C. odorata tersebut. Famili Phoridae termasuk dalam kelompok serangga saprofag (Boror et al. 1981). Adanya kotoran dan daun membusuk yang berasal dari vegetasi di sekitar habitat C. odorata merupakan makanan bagi kelompok serangga saprofag, sehingga menyebabkan tingginya kekayaan spesies dan kelimpahan individu serangga dari famili tersebut. Serangga saprofag sangat berguna dalam proses jaring makanan karena membantu menguraikan bahan organik yang ada.

Dari hasil perangkap yang digunakan berupa pitfall trap, yellow pan trap, dan malaise trap tidak banyak imago lalat puru C. connexa yang dijumpai pada habitat C. odorata. Keadaan ini dibuktikan pada habitat C. odorata di Parung Panjang, Setu, dan Darmaga secara berturut-turut hanya ditemukan sebanyak 5, 3, dan 2 individu lalat puru C. connexa, sedangkan di Gunung Bunder tidak dijumpai sama sekali. Untuk mengukur populasi lalat puru C. connexa di lapangan tidak dapat diukur dengan menggunakan metode berupa perangkap pitfaall trap, yellow pan trap, dan malaise trap, tetapi dengan metode koleksi puru langsung dari lapangan atau dengan menggunakan staner trap yang diberi metyl eugenol.

Hubungan Keanekaragaman Serangga dengan Kondisi Habitat

Kondisi masing-masing habitat C. odorata memiliki perbedaan (Tabel 7). Habitat C. odorata di Darmaga (hutan buatan dengan tanaman utama A. falcataria) memiliki kekayaan spesies serangga tertinggi yang terdiri dari 345 spesies diikuti oleh Setu dan Gunung Bunder masing-masing 300 spesies dan 277 spesies. Keadaan ini berbeda dengan Parung Panjang (perkebunan dengan

tanaman utama A. mangium) yang memiliki kekayaan spesies serangga terendah yaitu 262 spesies (Tabel 8). Tingginya kekayaan spesies serangga pada habitat C. odorata di Darmaga diduga karena selain adanya tanaman utama juga terdapat komposisi vegetasi tumbuhan yang lebih beragam sehingga mempengaruhi kekayaan spesies serangga di sekitarnya dibandingkan dengan habitat C. odorata di Parung Panjang, Setu, dan Gunung Bunder yang memiliki komposisi vegetasi tumbuhan yang cenderung lebih sedikit di banding Darmaga.

Kemiripan komposisi spesies serangga yang diperoleh antar lokasi dengan menggunakan indeks kemiripan Sorensen (Cs) memperlihatkan bahwa antara Parung Panjang dan Setu memiliki indeks kemiripan tertinggi yaitu 0.63 atau sekitar 63% dari spesies serangga yang ditemukan adalah sama. Komposisi spesies serangga yang ditemukan di Gunung Bunder dengan Parung Panjang memiliki indeks terendah yaitu 0.49 yang mengindikasikan bahwa spesies serangga yang ditemukan memiliki kemiripan sekitar 49% (Tabel 11).

Tabel 11 Indeks kemiripan Sorensen (Cs) seluruh spesies serangga antar lokasi penelitian pada habitat C. odorata

Lokasi penelitian Parung Panjang Setu Darmaga Gunung Bunder Parung Panjang 1.00

Setu 0.63 1.00

Darmaga 0.54 0.55 1.00

Gunung Bunder 0.49 0.54 0.57 1.00

Habitat C. odorata di Parung Panjang merupakan perkebunan dengan tanaman utama A. mangium, sedangkan Setu merupakan lahan terbuka dengan dominasi M. malabathrichum. Dari tipe penggunaan lahan antara keduanya memiliki perbedaaan, tetapi memiliki komposisi kemiripan spesies serangga yang cukup tinggi. Diduga banyaknya kesamaan ini karena pengaruh faktor vegetasi pada kedua habitat C. odorata tersebut memiliki kesamaan sehingga mempengaruhi keberadaan serangga di sekitarnya. Selain itu, jarak yang dekat (6 km) dengan ketinggian yang sama (128 mdpl) juga merupakan faktor yang

mempengaruhi keberadaan spesies serangga yang ditemukan pada kedua lokasi tersebut. Kondisi habitat C. odorata di Gunung Bunder yang berbatasan langsung dengan lahan persawahan dan tanaman jagung serta berada pada ketinggian 650 mdpl, diduga menjadi penyebab perbedaan komposisi spesies serangga dengan habitat C. odorata di Parung Panjang. Berdasarkan hasil analisis pengelompokan menunjukkan bahwa keanekaragaman serangga pada empat habitat C. odorata masih berada dalam satu kelompok (Gambar 11). Hal ini mengindikasikan bahwa keempat habitat C. odorata di Parung Panjang, Setu, Darmaga, dan Gunung Bunder memiliki komposisi spesies serangga yang relatif masih sama.

Setu Prg. Panjang Gn. Bunder Darmaga 0.36 0.38 0.40 0.42 0.44 0.46 0.48 J a ra k ketida ks a m a a n

Gambar 11 Dendogram pengelompokan seluruh spesies serangga pada empat habitat C. odorata.

Keadaan serupa juga terlihat pada hasil analisis pengelompokan serangga dari kelompok predator dan parasitoid pada keempat habitat C. odorata di Parung Panjang, Setu, Darmaga, dan Gunung Bunder yang memperlihatkan bahwa komposisi komunitas spesies serangga predator dan parasitoid relatif masih sama pada empat habitat C. odorata tersebut (Gambar 12). Namun berbeda dengan hasil analisis pengelompokan serangga dari kelompok herbivor, yang menunjukkan bahwa komunitas serangga herbivor pada habitat C. odorata di

Parung Panjang, Setu, dan Darmaga berada dalam satu kelompok, sedangkan kelompok lainnya adalah komunitas serangga herbivor pada habitat C. odorata di Gunung Bunder (Gambar 13).

Setu Prg. Panjang Gn. Bunder Darmaga 0.35 0.36 0.37 0.38 0.39 0.40 0.41 0.42 0.43 Jar ak ke tidaks amaan

Gambar 12 Dendogram pengelompokan serangga predator dan parasitoid pada empat habitat C. odorata.

Gn. Bunder Prg. Panjang Setu Darmaga

0.25 0.30 0.35 0.40 0.45 0.50 0.55 Jar ak ke tidaks amaan

Gambar 13 Dendogram pengelompokan serangga herbivor pada empat habitat C. odorata.

Asosiasi Serangga Lokal dengan Tumbuhan Eksotik Invasif C. odorata dan Agens Hayatinya C. connexa

Fenomena ekologi introduksi spesies tumbuhan eksotik invasif dapat menyebabkan terjadinya asosiasi dalam struktur komunitas baru. Hasil pengamatan memperlihatkan ada spesies serangga yang berasosiasi dengan tumbuhan eksotik invasif C. odorata yaitu kutu aphid (Hemiptera: Aphididae). Kutu aphid membentuk koloni pada bagian batang dan pucuk C. odorata yang masih muda (Gambar 14). Klingauf (1987) melaporkan bahwa bagian pucuk tanaman yang aktif tumbuh dan berkembang biasanya dipilih oleh kutu aphid karena aktifitas pertumbuhan dan proses metabolismenya tinggi. Kutu aphid menghisap jaringan floem pada lamina daun sehingga jaringan lamina daun mati yang menyebabkan daun berkeriting. Keberadaan kutu aphid pada pucuk muda C. odorata menyebabkan kehadiran koloni semut (Hymenoptera: Formicidae). Asosiasi semut dengan kutu aphid karena adanya eksresi embun madu (honey) kutu aphid yang dimanfaatkan oleh koloni semut. Ditemukan dua spesies semut yang berasosiasi dengan kutu aphid yaitu Anoplolepis gracilipes dan Crematogaster sp.01 (Gambar 14).

Gambar 14 Asosiasi serangga pada tumbuhan eksotik invasif C. odorata.

Keberadaan serangga herbivor eksotik juga akan berasosiasi dengan serangga lokal di habitat baru. Asosiasi serangga lokal terhadap lalat puru C. connexa yang terjadi diantaranya adalah musuh alami. Musuh alami ini terdiri atas predator dan parasitoid dari ordo Hymenoptera, Coleoptera, Hemiptera, dan

Mantodea. Semut merupakan kelompok predator dari ordo Hymenoptera yang banyak dijumpai pada bagian batang dan pucuk C. odorata. Terbentuknya koloni semut yang banyak dijumpai disekitar batang dan pucuk muda C. odorata selain berasosiasi dengan kutu aphid, semut juga memangsa kelompok telur yang diletakkan oleh imago betina C. connexa pada bagian pucuk terminal dan lateral. Selain itu semut mampu menembus puru yang berjendela dan memangsa larva atau pupa yang berada di dalamnya. McFadyen et al. (2003) melaporkan bahwa spesies semut Tetraponera sp. (Pseudomyrmecinae) mampu menembus puru yang telah berjendela dan memangsa larva dan pupa didalamnya.

Kumbah kubah (Coleoptera: Coccinellidae) dijumpai pada pucuk-pucuk C. odorata (Gambar 15). Sebagian besar famili kumbang kubah bersifat predator yang memangsa hama pada fase telur sampai dewasa dan lainnya bertindak sebagai hama tanaman (Boror et al. 1981). Karena sifatnya sebagai predator, kumbang ini diduga selain memangsa kutu aphid juga memangsa telur dan larva C. connexa instar awal yang baru menetas. Belalang sembah (Mantodea: Mantidae) memangsa pupa C. connexa dalam puru yang berjendela. Perilaku makan serangga ini menyebabkan puru menjadi terkoyak (Gambar 15). Predator Sycanus sp. (Hemiptera: Reduviidae) memangsa larva instar akhir atau pupa yang berada di dalam puru. Perilaku memangsanya dengan cara menusukkan stilet ke dalam puru yang berjendela kemudian menghisap cairan larva dan pupa sehingga meninggalkan eksuvianya saja.

Berdasarkan pengamatan secara visual kelompok parasitoid yang dijumpai berasosiasi langsung dengan lalat puru C. connexa berasal dari ordo Hymenoptera famili Braconidae, Eucoilidae, Eupelmidae, dan Ormyridae. Famili Braconidae dilaporkan bersifat ektoparasit pada larva Lepidoptera dan Coleoptera, pada ordo Diptera bersifat endoparasit, sedangkan famili Ormyridae merupakan parasit puru pada lalat famili Cecidomyiidae dan Tephritidae (Ordo Diptera) (Gooulet & Huber 1993). Famili Eucoilidae merupakan parasit pupa pada ordo Diptera (Boror et al. 1981), sedangkan famili Eupelmidae bersifat parasit pada Ordo Diptera (famili Cecidomyiidae) (Nauman 1991).

KESIMPULAN

Komunitas serangga yang diperoleh pada habitat C. odorata di Parung Panjang, Setu, Darmaga, dan Gunung Bunder secara keseluruhan terdiri dari 24.213 individu serangga yang termasuk ke dalam 14 ordo, 132 famili, dan 568 spesies. Ordo Hymenoptera, Diptera, dan Hemiptera merupakan tiga ordo

Dokumen terkait