Lokasi penelitian ditentukan berdasarkan metode purposive sampling, yaitu lokasi yang dijumpai Chromolaena odorata (kirinyuh), dengan pertimbangan tipe lanskap dan ketinggian tempat. Dari hasil survei pendahuluan maka ditetapkan empat lokasi sebagai lokasi pengambilan contoh di Kabupaten Bogor: (1) Hutan Tanaman Industri (HTI) Parung Panjang, Kecamatan Jasinga mewakili lanskap perkebunan; (2) Desa Setu, Kecamatan Jasinga mewakili lanskap ladang; (3) Gunung Bunder, Kecamatan Pamijahan mewakili lanskap pegunungan; dan (4) Kampus IPB, Kecamatan Darmaga mewakili lanskap urban (Tabel 1).
Tabel 1 Deskripsi lokasi yang dipilih untuk penelitian
Lokasi/desa Jarak (km)a) Koordinat (LS dan BT)b) Ketinggian (m dpl)c) Kondisi habitat Parung Panjang 0 060.42 LS 1060.48 BT
128 Hutan tanaman industri, tanaman utamanya Acacia mangium (Fabaceae) disertai populasi kirinyuhdominan Setu 6 060.46 LS
1060.45 BT
128 Lahan terbuka dengan dominasi
Melastoma malabathricum
(Melastomataceae) dan populasi kirinyuh sedikit, berbatasan dengan lahan tanaman budidaya (jagung, kacang tanah, dan kedelai)
Darmaga 30 060.55 LS 1060.72 BT
170 Tanaman sengon dengan dominasi kirinyuhdan Widelia trilobata (Asteraceae)
Gunung Bunder
35 060.66 LS 1060.69 BT
650 Lahan terbuka dengan dominasi
Ageratum conyzoides
(Asteraceae) dan Boreria alata
(Rubiaceae)yang berbatasan dengan lahan tanaman (padi, jagung, talas, pisang, kopi, dan singkong)
a)
Jarak lokasi dari titik pelepasan Cecidochares connexa, b) LS = Lintang Selatan, BT = Bujur Timur, c) m dpl = meter di atas permukaan laut
Penelitian laboratorium berlangsung di laboratorium Biosistematika Serangga dan Bioekologi Parasitoid dan Predator Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian dilakukan dari bulan Agustus 2005 hingga Pebruari 2006.
Pengambilan Contoh Serangga
Pada masing-masing lokasi dibuat 5 jalur transek sepanjang 30 m dengan jarak antara transek 15 m. Sepanjang jalur transek dibuat petak contoh berbentuk bujur sangkar (2 m x 2 m) dengan jarak 15 m antar petak contoh sehingga pada masing-masing transek terdapat 3 petak contoh. Dengan demikian pada setiap lokasi penelitian terdapat 15 petak contoh (Gambar 1).
Keterangan : = petak contoh = perangkap nampan kuning = perangkap malaise
Gambar 1 Skema pengambilan contoh serangga di empat lokasi penelitian
15 m 15 m 15 m Petak contoh (2 x 2 m) 15 m 15 m 15 m (30 m)
13 Perangkap yang digunakan dalam pengambilan contoh serangga pada setiap lokasi penelitian yaitu perangkap nampan kuning (yellow pan trap) dan perangkap malaise (malaise trap) (Dent & Walton 1997). Perangkap nampan kuning yang digunakan adalah wadah plastik berukuran 15 cm x 25 cm x 7 cm (Gambar 2a). Perangkap nampan digunakan untuk mengumpulkan serangga yang aktif terbang dan yang tertarik dengan warna kuning. Perangkap nampan tersebut dapat menangkap wereng (Homoptera), kumbang daun (Coleoptera) dan beberapa serangga parasitoid (Hymenoptera) (Dent & Walton 1997). Nampan kuning diisi dengan air sabun dan garam secukupnya untuk mengurangi tegangan permukaan, sehingga serangga yang terperangkap tenggelam dan mati. Selanjutnya nampan kuning diletakkan pada permukaan tanah sebanyak 2 buah dalam setiap petak contoh, sehingga pada setiap lokasi penelitian terdapat 30 buah nampan kuning yang dipasang selama 24 jam.
Perangkap malaise terbuat dari jaring yang berbentuk seperti tenda (berbentuk prisma). Pada bagian puncaknya dipasang botol plastik yang berfungsi sebagai perangkap (Gambar 2b). Serangga terbang akan menabrak jaring kemudian serangga akan bergerak ke atas mengikuti pola jaring menuju ke botol perangkap. Perangkap malaise efektif untuk menangkap Diptera, Hymenoptera dan Lepidoptera. Coleoptera, Hemiptera dan Homoptera hanya sedikit diperoleh dengan menggunakan perangkap ini (Dent & Walton 1997).
Gambar 2 Perangkap yang dipakai dalam penelitian; a. perangkap nampan kuning (yellow pan trap), b. perangkap malaise (malaise trap)
Perangkap malaise ditempatkan secara diagonal masing-masin0067 di antara transek 2 – 3 dan transek 4 -5, sehingga pada setiap lokasi pengambilan contoh digunakan 2 buah perangkap malaise yang dipasang selama 24 jam.
Serangga yang tertangkap dengan perangkap nampan kuning dan malaise dibersihkan dari kotoran. Selanjutnya serangga disimpan di dalam tabung film berisi alkohol 70% untuk diidentifikasi di laboratorium
Koleksi Hymenoptera Parasitoid pada Chromolaena odorata dari Lapangan Puru yang dikoleksi merupakan puru yang berasal dari empat lokasi penelitian, dan telah berisi pupa lalat Cecidochares connexa dengan ciri sudah terdapat jendela (windowed gall) pada C. odorata (Gambar 3).
Gambar 3 Puru pada Chromolaena odorata dengan jendela pada salah satu sisinya.
Puru yang berjendela memiliki warna jendela kecoklatan, jendela yang berwarna kecoklatan ini diduga telah terparasit. Pada setiap lokasi dilakukan tiga kali pengambilan puru, setiap kali koleksi diambil 10 puru per rumpun untuk tiap lokasi sehingga total pengambilan puru adalah 100 puru. Tangkai kirinyuh yang berpuru dipotong dan dibersihkan kemudian dibawa ke
15 laboratorium. Kemudian setiap puru diletakkan dalam wadah plastik berdiameter 7 cm dan tinggi 10 cm yang bagian atasnya diberi kain kasa
(Gambar 4). Pengamatan dilakukan terhadap kemunculan imago lalat C. connexa dan imago parasitoid. Imago lalat C. connexa dan imago parasitoid
yang muncul diberi kapas yang mengandung larutan madu 10%. Imago lalat C. connexa dan imago parasitoid diamati hingga mati, setelah itu parasitoid dimasukkan kedalam wadah yang telah berisi alkohol 70% dan diberi label untuk di identifikasi.
Gambar 4 Wadah plastik yang dipakai untuk mengamati kemunculan imago Cecidochares connexa dan imago parasitoid dari puru Chromolaena odorata
Sortasi dan Identifikasi Serangga
Sortasi dan identifikasi contoh serangga yang dikoleksi dari lapangan dilakukan di Laboratorium Biosistematika Serangga dan Bioekologi Parasitoid dan Predator, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut
Pertanian Bogor. Serangga ordo Hymenoptera diidentifikasi sampai tingkat famili dan morfospesies (hanya diberi kode). Identifikasi serangga hymenoptera parasitoid untuk tingkat famili dilakukan dengan mengacu buku Goulet dan Huber (1993).
Spesimen serangga hymenoptera parasitoid yang muncul dari koleksi puru pada masing-masing lokasi kemudian diidentifikasi dengan menggunakan kunci identifikasi yang tersedia. Parasitoid yang muncul dari puru diidentifikasi sampai tingkat famili dan identifikasi lanjut dilakukan hingga tingkat genus di LIPI-Cibinong (bantuan identifikasi dari Bapak Rosichon Ubaidillah).
Analisis Data
Indeks keanekaragaman serangga diukur berdasarkan Shannon-Wiener (H’) = -Σ pi ln pi, dimana pi = proporsi spesies ke-i terhadap total jumlah
spesies, sedangkan Indeks kemerataan serangga berdasarkan Shannon-Wiener (E) = H’/ln (S), dimana S = total jumlah spesies yang diperoleh (Magurran 1988; Krebs 1998). Indeks tersebut dihitung dengan mengggunakan Biodiv97 yang merupakan perangkat lunak macro pada Microsoft Excel. Kemiripan komunitas serangga antar lokasi diukur dengan menggunakan Indeks Sorensen (Cs) = 2j / a+b, dimana j adalah jumlah spesies yang ditemukan didaerah a dan b, a = jumlah spesies yang ditemukan di daerah a, b = jumlah spesies yang ditemukan di daerah b (Magurran 1988; Krebs 1998). Indeks tersebut juga dihitung dengan mengggunakan Biodiv97. Matrik yang diperoleh kemudian di analisis lanjut dengan menggunakan analisis kelompok (cluster analysis) (Krebs 1998). Pengelompokan dalam bentuk dendogram menggunakan Unweighted Pair-Group Average (UPGMA) dan jarak Euclidean yang dibuat dengan perangkat lunak Statistica for Windows 6.0 (StatSoft 1995).