Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian Universitas Amir Hamzah, Medan dengan ketinggian ± 25 meter diatas permukaan laut.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih pepaya varietas kalina (IPB 9) atau Calofornia sebagai bahan pengamatan perkecambahan, pasir steril, aquades, air dan bahan yang dibutuhkan lainnya
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah, tray semai, meteran, botol-botol plastik, timbangan analitik, beaker glass, batang pengaduk, oven, kompor, panci, handsprayer, label, ember, ayakan pasir, skop pasir, termometer, kalkulator, kamera, alat tulis dan alat yang dibutuhkan lainnya.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan 3 faktor perlakuan yaitu :
Faktor I : Lama Perendaman (P) dalam air yang terdiri atas 3 taraf, yaitu : P1 : 12 jam perendaman
P2 : 24 jam perendaman P3 : 36 jam perendaman
Faktor II : Suhu Perendaman (S) yang terdiri atas 4 taraf, yaitu:
S0 : Suhu normal air berkisar 25-27OC (kontrol) S1 : Suhu 30O C
S2 : Suhu 50O C S3 : Suhu 70O C
Faktor III : Wadah pra-kecambah 2 taraf, yaitu :
W1 : perkecambahan didalam botol plastik yang terbuka W2 : perkecambahan didalam botol plastik yang tertutup Maka Diperoleh 24 Kombinasi Yaitu :
P1S0W1 P2S0W1 P3S0W1 P1S0W2 P2S0W2 P3S0W2
P1S1W1 P2S1W1 P3S1W1 P1S1W2 P2S1W2 P3S1W2
P1S2W1 P2S2W1 P3S2W1 P1S2W2 P2S2W2 P3S2W2
P1S3W1 P2S3W1 P3S3W1 P1S3W2 P2S3W2 P3S3W2
Jumlah ulangan : 3
Jumlah unit percobaan : 72 unit
Jumlah benih/perlakuan : 50 benih
Jumlah benih tiap ulangan : 1.200 benih Jumlah benih seluruhnya : 3.600 benih
Dari hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan sidik ragam berdasarkan model linier sebagai berikut :
Yijkl = µ + ρi + αj + βk +γl +(αβ)jk+(αγ)jl+(βγ)kl +(αβγ)jkl + εijkl
i = 1,2,3 j = 1,2,3, k =1,2,3,4 l = 1,2
dimana:
Yijkl : Hasil pengamatan pada blok ke-i akibat perlakuan Suhu perendaman biji (S taraf ke-j, Lama perendaman (P) pada taraf ke-k, dan wadah perkecambahan (W) pada taraf ke-l
µ : Nilai tengah ρi : Efek dari blok ke-i
αj : Efek perlakuan suhu perendaman biji pada taraf ke-j
βk : Efek perlakuan lama perendaman biji dengan suhu yang berbeda pada taraf ke-k
γl : Efek perlakuan wadah perkecambahan pada taraf ke-l
(αβ)jk : Interaksi antara suhu perendaman taraf ke-j dan lama perendaman taraf ke-k (αγ)jl : Interaksi antara suhu perendaman biji taraf ke-j, dan wadah perkecambahan
taraf ke l
(βγ)kl : Interaksi antara lama perendaman biji taraf ke-k dan wadah perkecambahan taraf ke l
(αβγ)jkl : Interaksi antara suhu perendaman biji taraf ke-j, konsentrasi hormon giberelin taraf ke-k dan wadah perkecambahan taraf ke l
εijkl : Galat dari blok ke-i, suhu perendaman taraf ke-j, lama perendaman taraf ke-k dan wadah perkecambahan taraf ke l
Data hasil penelitian pada perlakuan yang berpengaruh nyata dilanjutkan dengan uji beda rataan menggunakan uji jarak berganda Duncan dengan taraf 5 % (Sastrosupadi, 2000).
Pelaksanaan Penelitian
Gambar 3.1. Bagan Alur Penelitian
Pemanenan buah
Buah pepaya dipanen pada lahan pratikum SMK Negeri Darul Hasanah di Desa Tanjung Kecamatan Darul Hasanah Kabupaten Aceh Tenggara Provensi Aceh.
Buah yang telah matang dengan ciri buah telah kuning sempurna dengan kematangan yang sama, dengan buah yang berbentuk lonjong atau buah yang dihasilkan dari bunga hermaprodit, yang diambil dari pohon lalu dibawa ke tempat penelitian untuk diambil bijinya.
Persiapan benih
Biji yang akan dijadikan benih diambil dari 1/3 bagian tengah buah, 2/3 bagian pangkal dan ujung buah tidak digunakan. Untuk mendapatkan benih yang baik, terhadap biji-biji ini masih perlu dilakukan pemilihan kembali dengan memasukkan biji pepaya kedalam wadah yang telah berisi air.
Di dalam wadah yang berisi air biji akan terlihat sebagian mengambang dan tenggelam. Maka dilakukan pemisahan kembali, yang mengambang disisihkan atau dibuang karena tidak akan dijadikan bibit. Terhadap yang tenggelam dipindahkan ke sebuah wadah, dimana biji-biji pepaya ini lah nantinya akan dijadikan benih. Langkah selanjutnya adalah membersihkan biji-biji tersebut dari lapisan yang lunak dan berwarna putih bening (Sarkotesta) dengan membiarkan selama 2-3 hari di tempat yang teduh (jangan langsung terkena sinar matahari), kemudian pelepasan sarcotesta dilakukan dengan manual, dan mencuci biji dengan air sampai bersih.
Persiapan media perkecambahan
Media perkecambahan yang digunakan adalah pasir dengan ketebalan ± 4 cm. Sebelum digunakan terlebih dahulu pasir disterilkan dengan cara digongseng selama ± 30 menit untuk menghilangkan kontaminasi dari cendawan dan bakteri.
Pengukuran kadar air
Benih yang telah dibersihkan dari sarcotesta, diukur kadar air awalnya sebelum dilakukan perlakuan dengan cara penggunaan tester biji. Benih pepaya aman disimpan tanpa sarcotesta pada kisaran kadar air 6-12% (Sari et al, 2007).
Aplikasi perlakuan
Benih yang digunakan adalah benih yang tidak rusak atau cacat. Benih yang sudah dipilah akan diberi perlakuan perendaman dengan suhu air normal sebagai kontrol, suhu 30OC, suhu 50OC, dan suhu 70OC dengan lama perendaman 12 jam, 24 jam, 36 jam. Setelah perlakuan perendaman, dilanjutkan dengan perlakuan penempatan benih didalam wadah pra-kecambah didalam botol plastik yang terbuka dan tertutup, lalu benih diamati sampai batas waktu 25 hari setelah perlakuan perendaman, dan diulang sebanyak 3 kali.
Penyemaian benih
Penyemaian benih dilakukan pada bak penyemaian dengan media pasir, benih yang disemaikan ke bak penyemaian yang sudah menunjukkan gejala munculnya radikula dengan retak atau pecahnya kulit biji dan terlihat warna putih (kotiledon) pada biji.
Pemeliharaan
Penyiraman dilakukan pagi dan sore hari (jika dibutuhkan), dengan menggunakan handsprayer hingga media menjadi lembab, dan dalam kondisi kapasitas lapang, sampai 60 hari setelah ditanam pada bak perkecambahan.
Peubah Amatan Kebocoran membran
Pengukuran kebocoran membran dilakukan setelah benih diberi perlakuan, melalui uji konduktivitas listrik pada air rendaman benih. Untuk masing-masing perlakuan digunakan 30 biji. Dari 30 biji yang telah diberi perlakuan dikeluarkan, dan kemudian direndam dalam aquadest selama 24 jam. Air rendaman ini diukur konduktivitas listriknya, dengan menggunakan alat electric conductivity (EC) meter (Milwaukee EC60). Nilai konduktivitas listrik air rendaman merupakan indikator bagi kebocoran membran benih.
Kandungan amonia (%)
Analisa kandungan amonia (NH3+) pada biji pepaya dilakukan tiga hari setelah perlakuan pra-kecambah. Analisa amonia menggunakan metode Kjeldahl, yaitu:
Digunakan dalam penentuan nitrogen khususnya dalam protein. Sampel dicerna dengan asam sulfat panas untuk menguraikan dan mengubah nitrogen menjadi amonium hidrogen sulfat .
CaHbNc + H2SO4 → ɑ CO2↑ + 1/2 b H2O + c NH4HSO4
Larutan didinginkan, kemudian ditambah alkali pekat, amonia yang dilepas didestilasikan. Amonia ditambah dengan asam kuat berlebih, kelebihan asam kuat dititrasi balik dengan basa kuat (Widiarto, 2009).
Gambar 3.2. Susunan alat kjeldahl (sumber: tutorvista.com)
Laju perkecambahan (hari)
Laju perkecambahan diukur dengan menghitung jumlah hari yang diperlukan untuk munculnya radikula dan plumula. Perhitungan laju perkecambahan sebagai berikut : (Sutopo,1985) Keterangan :N : Jumlah benih yang berkecambah pada satuan waktu tertentu
T : Menunjukkan jumlah waktu antara awal pengujian sampai dengan akhir dan interval tertentu suatu pengamatan.
Uji daya kecambah
Analisa daya kecambah atau daya tumbuh dilakukan setelah benih dikecambahkan selama 25 hari dengan kondisi optimum. Persentase perkecambahan terdiri dari beberapa evaluasi diantaranya:
a. Kecambah normal (%)
Persentase kecambah normal menunjukkan jumlah kecambah normal yang dapat dihasilkan oleh benih murni pada kondisi lingkungan tertentu dalam jangka waktu yang telah ditetapkan.
Perhitungan persentase kecambah normal sebagai berikut :
(Sutopo, 1985).
b. Kecambah abnormal (%)
Perhitungan persentase kecambah abnormal sebagai berikut :
(Badan Standarisasi Nasional, 2000).
c. Benih mati (%)
Perhitungan persentase benih mati sebagai berikut :
(Sutopo, 1985).
d. Benih Tidak Berkecambah (%)
Perhitungan persentase benih tidak berkecambah sebagai berikut :
(Sutopo, 1985).
Tinggi tanaman (cm)
Tinggi tanaman diukur dengan cara tunas yang tumbuh pada setiap perlakuan dari leher batang hingga ujung kecambah.
Panjang akar (cm)
Panjang akar diukur dengan cara bibit yang telah selesai pengamatan diangkat dan dibersihkan akarnya dari pasir yang melekat dengan air lalu di ukur mulai dari pangkal hingga ujung akar.
Indeks vigor
Indeks vigor (IV) dihitung berdasarkan rumus dari Abdul-Baki dan Anderson (1973): ( ) ( )
Bobot segar tanaman (g)
Setelah berumur 60 hari kecambah yang segar diambil dan dibersihkan dari pasir yang melekat, yang diambil semua kecambah yang normal pada masing-masing perlakuan kemudian dihitung bobot basah dengan menggunakan timbangan analitik.
Bobot kering tanaman (g)
Setelah berumur 60 hari kecambah yang segar diambil dan dibersihkan dari pasir yang melekat, yang diambil semua kecambah yang normal pada masing-masing perlakuan kemudian dimasukkan kedalam oven 600 C selama 2 x 24 jam setelah itu dihitung bobot keringnya dengan menggunakan timbangan analitik.